<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; sexy</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/tag/sexy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sexy</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 17:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[sexy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy. Siapakah Bahterawati yang paling sexy?

Simak pembahasan dengan nada santai dan canda dari Pak Setyadi tentang istilah ini di Blog Bahtera. Mungkin cocok untuk sekadar iseng menemani akhir pekan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan <em>sexy</em>”. Kalimat ini bukan suatu  pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin  menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan <em>sexy</em>. Biasanya orang  sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “<em>sexy</em>” meski akan susah  menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun  demikian mereka, terutama <em>cewek</em>, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun  anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan <em>sexy</em>.</p>
<p><span id="more-663"></span>Orang yang tahu tata bahasa bisa saja mengandalkan kamus untuk mencari makna  istilah tersebut. Jawaban singkat memang gampang didapat dari kamus: <em>S</em><em>ex,</em> nomina, organ atau kategori yang membedakan makhluk lelaki dari perempuan,  titik. Namun, untuk adjektiva <em>sexy, </em>jawab kamus akan “ngaco” juga bila  diterjemahkan. Di sana ada <em>amorous</em>, <em>lustful</em>, <em>sensual</em>,  <em>erotic</em>, <em>passionate</em>, dan sebagainya yang semua boleh dikata  mengarah atau mengacu pada gairah, hasrat, minat bercinta, atau, gamblangnya,  nafsu berahi.</p>
<p>Benarkah para cewek kini ingin berpenampilan mengundang nafsu seperti itu?  Inilah persoalan bahasa yang menarik karena istilah itu berasal dari bahasa  asing. Maknanya bisa multitafsir.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> sebenarnya belum terlalu lama masuk khazanah budaya  Indonesia. Istilah yang lebih populer pada awal tahun 50-an adalah <em>sex  appeal</em>, atau daya tarik seks. Bintang film yang hebat daya tarik seksnya  disebut sebagai bom seks.  <em>Icon</em> bom seks yang paling terkenal pada masa  itu adalah Marilyn Monroe. Pada masa itu, istilah <em>sex appeal</em> ataupun bom  seks biasanya lebih mengacu kepada, maaf, ukuran payudara (saja). <em>Cewek</em> yang  ukuran miliknya besar dijuluki sebagai “marilin monru”. Percaya atau tidak, pada  masa itu orang akan merasa malu bila dijuluki (mungkin disindir) sebagai marilin  monru.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> baru muncul dan jadi populer menyusul beredarnya film  serial Amerika berjudul “<em>Sexy</em> <em>Susan”</em>. Kemudian dilatahi film  Indonesia “Inem Pelayan Seksi” di era 1960-an. Dari era itulah kiranya mulai  muncul citra yang tidak semata-mata terpusat pada wilayah dada. Dan orang tak  merasa malu lagi, bahkan bangga, disebut <em>sexy</em>. Benarkah pergeseran citra  kesyahwatan beriringan dengan “dinamika bahasa”?</p>
<p>Pada era tersebut mulai juga proses “pembelajaran” bagi kaum muda tentang  budaya berpacaran ala barat yang direpresentasikan oleh adegan dalam film  Amerika. Ambil contoh misalnya kata cium dengan derivasinya “berciuman”. Dalam  etimologi Indonesia jelas bahwa kegiatan itu dilakukan dengan indra hidung. Dan  memang itulah cara asli orang Indonesia dulu berciuman, hidung menempel pipi  (<em>Kamus Moderen Sutan Zain</em>). Sedangkan padanan bahasa Inggris <em>kiss</em> adalah sentuhan dengan bibir (<em>kamus Webster</em>), bukan hidung. Bahkan pada  masa itu pula mulai terdengar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Onomatope">onomatope</a> “cipok”, bunyi dua pasang bibir  yang berkecupan (KBBI). Bunyi itu tak mungkin dihasilkan oleh sentuhan hidung  pada pipi. Inikah contoh pameo “bahasa menunjukkan bangsa”?</p>
<p><em>Icon</em> klasik yang mewujud sifat <em>sexy</em> juga semakin tidak populer.  Orang sudah hampir lupa simbol-simbol ke-<em>sexy</em>-an tempo dulu yang lebih  santun, misalnya hidung (Cleopatra), senyum (Monalisa), dan betis (Ken Dedes).</p>
<p>Para selebritas layar kaca dan pengasuh <em>infotainment</em> juga pada sewot  mengurai istilah <em>sexy.</em> Julia Perez merasa <em>sexy </em>tapi tidak <em>sensual. </em>Dewi Persik emoh disebut seronok, namun menurut seorang <em>presenter</em>,  dia semakin liar, sangat <em>sexy</em> bahkan boleh dikata <em>vulgar. </em>Konon  ke-<em>sexy</em>-an Cinta Laura ada pada suaranya. Mulan Jameela merasa tidak <em>sexy </em>walau  dibilang bahwa yang mendongkrak namanya adalah ke-<em>sexy</em>-an.</p>
<p>Secara naluriah tentunya kaum lelakilah yang menjadi “sasaran” perempuan yang  ingin berpenampilan <em>sexy. </em>Namun demikian belum banyak kaum Adam bersuara  tentang masalah ini. Paling-paling mereka <em>ngerumpi</em> tentang asyiknya menikmati  bermacam goyang para pesohor layar kaca itu. Selama ini belum banyak terdengar  lelaki yang mendambakan pacar se-<em>sexy</em> Dewi Persik, Inul, atau Sarah Azhari.  Bahkan ada gejala meluas, idola fisik mereka telah bergeser ke citra Happy Salma  atau Diah Permatasari, yang tentu tidak mungkin dibanding dengan Monroe ataupun  Persik.</p>
<p>Siapakah Bahterawati yang paling <em>sexy</em>? Apakah Sang Evangelist bahasa  Indonesia tidak ingin meng-Indonesia-kan istilah ini? Tolonglah!</p>
<p><em>Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
