<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; asut</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/tag/asut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Sep 2011 13:11:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Dirgahayu Republik Indonesia: Bahasa Menunjukkan Bangsa</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/dirgahayu-republik-indonesia-bahasa-menunjukkan-bangsa/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/dirgahayu-republik-indonesia-bahasa-menunjukkan-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 18:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[asut]]></category>
		<category><![CDATA[bubuhan]]></category>
		<category><![CDATA[googol]]></category>
		<category><![CDATA[imbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[kinerja]]></category>
		<category><![CDATA[linarut]]></category>
		<category><![CDATA[nasket]]></category>
		<category><![CDATA[sinambung]]></category>
		<category><![CDATA[tikalas]]></category>
		<category><![CDATA[tikatas]]></category>
		<category><![CDATA[tinambah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan kosakata kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: "Bahasa menunjukkan bangsa".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kosakata">kosakata</a> kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: &#8220;<em>Bahasa menunjukkan bangsa</em>&#8220;.</p>
<p><span id="more-186"></span><strong>Asut dan googol</strong></p>
<p>Peristiwa diciptakannya istilah <em>asut </em>dan <em>googol </em>mungkin bisa membuka mata kita bahwa tidak ada salahnya mencipta kata baru. Kata asut diciptakan oleh Prof. TM Soelaeman, guru besar elektroteknik dari ITB, yang diartikan sebagai &#8220;menghidupkan mesin&#8221;. Kabarnya kata itu diciptakan tatkala beliau tengah memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan kepada mahasiswanya tentang proses menghidupkan mesin. Kata gado-gado Indonesia-Inggrisnya memang sudah sering digunakan, yaitu <em>menstarter</em>. Tetapi, Prof. Soelaeman ingin menggunakan kata Indonesia. Yang terpikirkan adalah kata <em>hasut </em>yang berarti &#8220;mempengaruhi orang agar mulai mengerjakan sesuatu&#8221;. Beliau memungut kata tersebut, membuang huruf h-nya, sehingga terciptalah kata <em>asut </em>tadi. Sekarang, meskipun belum masuk KBBI, di dunia keteknikan, kata tersebut semakin populer. Memang, <em>mengasut </em>mobil seakan-akan menyuruh mesin mobil untuk mulai bekerja.</p>
<p>Kata <em>googol </em>mempunyai riwayat yang lebih unik lagi. Sudah lama para matematikawan merasakan betapa praktisnya menggunakan kata atau istilah tertentu untuk menamai bilangan besar. Bayangkan seandainya kita tidak mengenal kata triliun, alih-alih menuliskan 1,3 triliun (kredit macet <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eddy_Tansil">Eddy Tansil</a> di Bank Bapindo), kita terpaksa menuliskan 1.300.000.000.000.</p>
<p>Dikisahkan bahwa pada tahun 1930-an, Profesor <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_Kasner">Edward Kasner</a> (1878–1955), seorang matematikawan Amerika, sedang menangani sebuah bilangan 10 pangkat 100. Dia merasa perlu menamai bilangan tersebut. Secara iseng, dia bertanya kepada keponakannya yang berusia sembilan tahun, Milton Sirrota, nama apa yang cocok untuk bilangan besar itu. Sang profesor berjanji akan menggunakan nama itu, betapapun anehnya. Milton pun asal menjawab: &#8220;<em>Googol</em>!&#8221; Untuk memenuhi janjinya, nama yang aneh itu pun digunakan Prof. Kasner, dan sekarang googol sering digunakan di dunia matematika.</p>
<p><strong>Tikalas dan tikatas</strong></p>
<p>Anda tentu kenal istilah <em>superskrip </em>dan <em>subskrip</em>, yaitu huruf atau angka yang dituliskan agak di atas dan agak di bawah. Contoh superskrip adalah angka 2 pada 10<sup>2</sup>, dan contoh subskrip adalah angka 2 pada H<sub>2</sub>O. Tidak jarang kita lupa mana yang superskrip dan mana yang subskrip, yang di atas atau yang di bawah. Memang kedua kata itu kata serapan dari <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subscript_and_superscript">superscript</a></em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subscript_and_superscript"> dan </a><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subscript_and_superscript">subscript</a></em>, kata yang bukan milik kita. Tetapi, jika dikatakan &#8220;atas&#8221; dan &#8220;bawah&#8221;, pasti kita tidak akan keliru lagi. Jadi, mengapa tidak kita pakai saja dua kata ciptaan Adjat Sakri, peminat bahasa dari Penerbit ITB, yaitu <em>tikatas </em>untuk superskrip dan <em>tikalas </em>untuk subskrip?</p>
<p>Penggalan kata &#8220;tik&#8221; pada kedua kata itu diambil dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Kawi">kata Kawi</a> <em>tika </em>yang berarti &#8220;huruf&#8221;. Penciptanya ingin memperluas makna tersebut menjadi padanan kata Inggris <em>character</em>, yaitu tidak hanya mencakup huruf, tetapi juga lambang cetak lainnya. Jadi, <em>tikatas </em>adalah karakter yang ditulis di atas, dan <em>tikalas </em>yang ditulis di alas atau di bawah. Mudah diingat, bukan? Sayang, uraian kedua kata ini dalam KBBI kurang tepat karena hanya tertulis &#8220;tika atas&#8221;. Sementara itu, kata <em>tika</em> yang bermakna &#8220;huruf&#8221; sebagai sumber terciptanya kata baru tersebut tidak tercantum.</p>
<p><strong>Manuscript, typescript, discript &#8230;</strong></p>
<p>Penerbit dan pengarang tentu mengenal kata <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manuskrip">manuskrip</a></em>, kata lain untuk <em>naskah</em>. Kata <em>manuskrip </em>sendiri adalah serapan dari kata Inggris <em>manuscript</em>, tentu saja berarti &#8220;tulisan tangan&#8221; dari kata Latin <em>manus </em>yang berarti &#8220;tangan&#8221; dan <em>scriptus </em>yang berarti &#8220;tertulis&#8221;. Selanjutnya, setelah mesin tik ditemukan, pengarang beralih dari penulisan dengan tangan ke mesin tik. Maka, penutur bahasa Inggris menamai naskah yang diketik itu dengan <em>typescript </em>– kata kerja <em>to type</em> berarti &#8220;mengetik&#8221;. Kita di Indonesia tetap saja menyebutnya <em>naskah</em>, baik ditulis tangan maupun diketik.</p>
<p>Sekarang, dengan ditemukannya komputer, dan naskah diserahkan dalam bentuk disket oleh pengarang kepada penerbit, apa nama naskah semacam itu? Secara analogi tampaknya bisa disebut <em>diskscript</em>. Tetapi, saya belum menemukan istilah ini dalam berbagai kamus yang biasa saya gunakan. Yang ada hanya <em>hard copy</em> untuk menyatakan naskah yang diserahkan berupa hasil cetakan komputer. Adjat Sakri mempopulerkan istilah <em>nasket </em>untuk naskah yang diserahkan dalam bentuk disket. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p><strong>Sinambung, kinerja, linarut, tinambah</strong></p>
<p>Kaidah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awalan">awalan</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akhiran">akhiran</a>, dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sisipan">sisipan</a> dalam bahasa Indonesia sebetulnya merupakan kekayaan yang masih belum banyak dimanfaatkan untuk membentuk kata atau istilah baru. Padahal, dengan memanfaatkan kekayaan yang unik ini, kita dapat sangat hemat dalam berbahasa. Misalnya, alih-alih &#8220;<em>melakukan pengejaran</em> terhadap penjahat&#8221;, wartawan bisa memendekkan frase itu menjadi &#8220;<em>mengejar </em>penjahat&#8221;. Terjemahan dialog sinetron di TV seperti &#8220;&#8230; kecantikannya <em>tidak dapat diuraikan dengan kata-kata</em>&#8221; bisa dipersingkat dan dibaca lebih cepat bila dituliskan &#8220;&#8230; kecantikannya <em>tak terkatakan</em>&#8220;.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan keempat kata yang menjadi judul pasal ini? Kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=sinambung">sinambung</a> </em>tentu sudah Anda kenal, bahkan mungkin sering Anda gunakan. Mudah diduga bahwa kata asalnya adalah &#8220;sambung&#8221;, diberi sisipan <em>-in-</em>. Kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=kinerja">kinerja</a></em> mungkin baru Anda kenal lewat media massa atau buku terjemahan. Diperkirakan kata ini semakin berterima di masyarakat dengan semakin seringnya muncul di media massa. Asal katanya tentu saja &#8220;kerja&#8221;, diberi sisipan <em>-in-</em>. Setahu saya, kata ini diciptakan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup ITB (PPLH-ITB) sebagai padanan kata <em>performance</em>. Saingan istilah baru ini adalah <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=unjuk%20kerja">unjuk kerja</a></em> dan <em>perikerja</em>. Mana yang akan terus hidup tentu saja sangat bergantung pada pemasyarakatannya, baik melalui media massa maupun tulisan ilmiah.</p>
<p>Bagaimana dengan kata <em>linarut </em>dan <em>tinambah</em>? Mungkin hanya kalangan ilmuwanlah yang sudah mengenalnya. Kedua istilah ini diciptakan Prof. Kosasih Padmawinata, penerjemah produktif dari Jurusan Farmasi ITB. <em>Linarut</em> digunakannya sebagai padanan istilah Inggris <em>solute </em>yang sebelumnya sering diterjemahkan menjadi <em>zat terlarut</em>. Prof. Kosasih menganggap istilah yang terdiri atas dua patah kata itu terlalu panjang. Maka, diciptakannyalah kata <em>linarut</em> yang berasal dari kata &#8220;larut&#8221; dengan sisipan <em>-in-</em>. Istilah <em>tinambah </em>juga diciptakan dari kebutuhan sang profesor ketika menerjemahkan istilah Inggris <em>additives</em>, yaitu zat yang ditambahkan ke dalam sesuatu, misalnya <em>food additives</em>. Alih-alih menggunakan &#8220;zat tambahan&#8221;, Prof. Kosasih memperkenalkan istilah <em>tinambah </em>yang tampaknya juga semakin berterima di dunia yang ditekuninya, dunia kimia farmasi.</p>
<p><strong>Manfaatkan bubuhan</strong></p>
<p>Secara keseluruhan, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awalan">awalan</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akhiran">akhiran</a>, dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sisipan">sisipan</a> dinamakan &#8220;<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imbuhan">imbuhan</a>&#8220;. Bagi orang awam, dan saya termasuk di dalamnya, istilah awalan dan akhiran memang lebih cepat dipahami daripada kata serapannya, <em>afiks</em> dan <em>sufiks</em>, yang digunakan para ahli linguistik. Contoh awalan adalah <em>me-</em>, <em>ber-</em>, <em>pe-</em>, dan <em>di-</em>; contoh akhiran adalah <em>-an</em>, <em>-kan</em>, <em>-lah</em>, dan <em>-kah</em>; dan contoh sisipan adalah <em>-in-</em>, <em>-el-</em>, dan <em>-em-</em>.</p>
<p>Bagaimana dengan awalan semacam <em>maha-</em>, <em>tuna-</em>, <em>mala-</em>, <em>pasca-</em>, <em>pra-</em>, <em>nir-</em>, dan <em>lir-</em>? Ada yang menamakannya &#8220;bubuhan&#8221;, untuk membedakannya dari &#8220;imbuhan&#8221;. Bubuhan semakin disukai untuk menciptakan istilah baru yang keperluannya terasa semakin mendesak. Dalam bidang ekonomi, misalnya, semakin populer istilah <em>nirlaba</em>, padanan istilah Inggris <em>nonprofit</em>. Ada pula istilah <em>baja nirkarat</em>, padanan <em>stainless steel</em>. Bubuhan <em>nir-</em> memang menyatakan negatif atau tidak ada. Maka, sungguh tepatlah bila penerjemah dari IPB menggunakan istilah <em>semangka nirbiji</em>, meskipun pedagang semangka di tepi jalan lebih kenal istilah <em>semangka nonbiji</em>. Mahasiswa Program D-3 Editing, Unpad menciptakan istilah <em>kain nirjahit</em> sebagai padanan <em>kain ihrom</em> – istilah yang sungguh tepat, dipandang dari wujud fisik kain tersebut.</p>
<p>Masih banyak istilah ciptaan baru lainnya: Dr. Soegito Wonodirekso dari FKUI menciptakan istilah <em>laiksantap </em>untuk padanan <em>edible</em>, dan Dr. Diah Lukman dari IPB menggunakan istilah <em>liragar </em>untuk padanan <em>jellylike</em>. Para pelukis menciptakan istilah <em>mahakarya </em>dan <em>adikarya </em>untuk padanan <em>masterpiece</em>, sedangkan perancang busana menciptakan istilah <em>adibusana </em>untuk <em>haute couture</em> atau <em>high fashion</em>. Anda dapat terus memperpanjang daftar ini dengan istilah ciptaan Anda, tentu saja dengan memperhatikan Pedoman Pembentukan Istilah dari Pusat Bahasa. Ya, mengapa tidak?</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Diam-diam ternyata peristilahan bahasa Indonesia di kalangan ilmuwan dan kalangan terbatas lainnya terus berkembang. Aneka istilah baru terus bermunculan – ada yang megap-megap bertahan hidup karena kurang disukai (<em>mangkus</em>, <em>sangkil</em>), tetapi banyak pula yang terus memasyarakat (<em>nirlaba</em>, <em>kinerja</em>), atau mulai merangkak tumbuh (<em>linarut</em>, <em>liragar</em>).</p>
<p>Sebagai pengguna bahasa dan pencinta buku, kita perlu menyimak perkembangan ini agar kosakata kita juga terus bertambah. Tetapi, biasanya, kita enggan kaya kosakata, tidak seperti kaya harta. <strong>Kita bukannya membuka kamus bila menemukan kata Indonesia &#8220;baru&#8221;, melainkan menggerutu. Sungguh berbeda dengan sikap kita saat menjumpai kata asing yang tidak kita kenal – dengan senang hati kita mencarinya dalam kamus.</strong> Mudah-mudahan sikap menganaktirikan bahasa sendiri seperti ini tidak dianut pembaca Berita Buku, yang dapat dipastikan pencinta buku, sekaligus pencinta bahasa nasional. Mudah-mudahan pula Anda berpendapat Wisata Kata kali ini laikbaca, tidak membingungkan. Dirgahayu Republik Indonesia tercinta!</p>
<p><em>Tulisan Sofia Mansoor. Dimuat di Majalah Berita Buku, Agustus 1996 dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/dirgahayu-republik-indonesia-bahasa-menunjukkan-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

