Dalam acara kuiz yang ditampilkan sebuah TV swasta kita, para peserta kuiz tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang menyangkut asal-usul sebuah kata. Pertanyaannya kira-kira begini: “Apa nama makanan yang sekarang digemari anak muda kota besar, yang berasal dari nama orang? Makanan itu berupa dua iris roti berisi daging dan sayur.” Dengan beragak-agak, salah seorang peserta menjawab hamburger, dan peserta lainnya dengan tidak yakin menjawab pizza. Ternyata kedua jawaban itu salah. Ah … seandainya saja kita sudah mulai berwisata kata bersama Berita Buku, dan mereka ikut bersama kita, tentu hadiah kuiz yang jumlahnya lumayan itu bisa masuk kantong mereka. Anda mau tahu jawabnya? Memang bukan hamburger atau pizza, meskipun kedua makanan tersebut juga digemari remaja kota. Yang benar adalah … sandwich!

Read the rest of this entry

I am going today” (Saya akan pergi hari ini) dan “I am going to die” (Saya akan mati) terdengar mirip bila seorang Australia “totok” yang mengucapkannya. Demikian canda orang untuk mengungkapkan keunikan lafal Inggris orang Australia. Seorang teman yang pernah menuntut ilmu di negeri kanguru itu mengatakan bahwa dia membutuhkan waktu sedikitnya dua bulan untuk bisa benar-benar memahami ucapan orang Australia. Lennie Johanson, pengarang buku Australian Slang, mula-mula merasa heran mengapa penutur bahasa Inggris dari negara lain mengalami kesulitan memahami pembicaraan orang Australia. Barulah setelah mengkajinya lebih dalam, ia menyadari bahwa ternyata cukup banyak kata atau ungkapan Australia yang berbeda artinya dengan yang dipahami oleh penutur bahasa Inggris lain. Mungkin sama dengan yang pernah kita bicarakan dalam Wisata Kata ketika membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia.

Read the rest of this entry

Siang tanggal 16 Oktober 2009 pukul 12.00-14.30 sejumlah Narabahtera yang bermukim di Bandung/Cimahi ngumpul di rumah makan Gudeg Yu Nam, di Jl Trunojoyo 38, Bandung. Saya tiba paling dulu, sebelum jam 12. Koq sepi dan tutupan? Apa gak salah tempat ya? Jadi saya tanya sama seorang pria di situ, “katanya ada janjian di sini jam 12?” “Oh ya”, katanya. Barulah rumah makan ini buka deh, dan diserbu oleh pengunjung-pengunjung lain yang non-Narabahtera, yang kelaparan pas jam makan siang.

Read the rest of this entry

Pada mulanya adalah Slamet Djabarudi, wartawan Tempo yang bahasawan, yang penasaran dengan apa sebetulnya kata dasar “memerinci“. Pada awal dasawarsa delapan puluhan saya kira. Jadi, belum ada KBBI. Pusat Bahasa masih mengandalkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Mas Poer.

Slamet memang menemukan lema PERINCI di kamus itu. Turunannya: PERINCIAN yang setali tiga uang dengan PERINCISAN. Namun, di sana tersua petunjuk bahwa bentuk baku PERINCI adalah RINCI. Pada lema RINCI ada MERINCI: (1) ‘memecahkan (membagi-bagi, menguraikan) kecil-kecil’; (2) ‘menerangkan (merancang dsb.) yang menyebutkan bagian-bagiannya yang kecil-kecil’. Ada pula turunan PERINCIAN: (1) ‘pembagian yang kecil-kecil’; (2) ‘uraian (suatu) perancangan’.

Read the rest of this entry

Dari manakah asal kata “Anda”? Menurut Ajip Rosidi dalam tulisannya, Kegagalan “Anda”, di rubrik Stilistika di Pikiran Rakyat, kata ini tercipta pada tahun 1958 ketika Rosihan Anwar, pimpinan koran Pedoman saat itu, mengundang para pembacanya untuk urun usul kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata “you” dalam bahasa Inggris. Dari banyak usul yang masuk, menurut Ajip, akhirnya dipilih kata “anda” yang diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang.

Dalam tulisannya, menurut Ajip, setelah lewat setengah abad, keinginan Rosihan Anwar untuk menemukan satu kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata “you” dalam bahasa Inggris ini tidak berhasil tercapai.

Benarkah? Sebagai orang yang mengenal Rosihan Anwar secara pribadi, di milis Bahtera, Akhmad Bukhari Saleh (ABS) menjabarkan sedikit cerita di balik layar tentang peristiwa ini: alasan pencarian, alternatif kata, serta mengapa “Anda” ditulis dengan diawali huruf kapital. Sebelum menyimak tulisan ini, jangan lupa untuk membaca dulu tulisan Ajip Rosidi, Kegagalan “Anda”.

Read the rest of this entry

Jika supir punya risiko pekerjaan mengalami kecelakaan, maka penerjemah yang menjalani harinya di depan komputer lebih dari 10 jam sehari berisiko mengalami Repetitive Strain Injury (RSI). Namanya risiko, jadi tidak pasti semua penerjemah mengalaminya. Namun saya termasuk yang tidak beruntung dan terkena RSI.

Read the rest of this entry

,

Mungkin Anda pikir penguasaan bahasa dan materi adalah hal yang paling penting dalam interpreting. Saya bilang TIDAK! Justru kesehatan kuping yang paling penting. Tidak setiap pembicara punya kebiasaan bicara yang “bersahabat” dengan kuping kita. Kadang, bicaranya terlalu halus atau terlalu cepat.

Belum lagi dialek dan aksen yang menambah ruwet. Pernah, dalam suatu seminar, ada seorang pembicara asal India. Meski ia bicara bahasa Inggris, kayaknya, saya tidak mengerti satu patah kata pun yang diucapkannya. Saya curiga jangan-jangan ia merapalkan mantra dalam bahasa Sanskrit, dan bukan bicara tentang teknologi informasi dalam bahasa Inggris.

Read the rest of this entry

Dalam menjalankan pekerjaannya, penerjemah penuh waktu di kantor swasta kadang menghadapi kesulitan, antara lain dalam menghadapi permintaan atau tuntutan pihak pemesan jasanya, terutama jika mereka tidak memahami sepenuhnya mengenai hakikat penerjemahan. Berbeda dari penerjemah lepas yang dapat menolak pekerjaan yang tidak disukainya, penerjemah ‘kantoran’ wajib menerima semua jenis pekerjaan penerjemahan yang ditugaskan kepadanya.

Menurut pengakuan beberapa rekan yang sama-sama bekerja sebagai penerjemah tetap di kantor swasta, ada kalanya atasan atau pihak pemesan jasanya mengharapkan diterjemahkannya dokumen dengan jumlah halaman yang cukup banyak, dan dalam batas waktu yang mustahil.

Read the rest of this entry

Penerjemah selalu bekerja paruh waktu atau sebagai tenaga lepas

Ucapan ini sempat terlontar di sebuah ajang temu penerjemah se-Indonesia. Memang tidak banyak diketahui tentang penerjemah yang bekerja tetap di kantor (‘penerjemah kantoran’) dan ditugaskan semata-mata untuk mengerjakan penerjemahan sepanjang hari dan setiap hari. Hal ini cukup dapat dimengerti, karena dilihat dari jumlahnya memang lebih banyak kita dapati penerjemah yang bekerja secara paruh waktu (part-time) atau bahkan sebagai tenaga lepas (freelancer). Di antara penerjemah yang bergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), jumlah penerjemah kantoran ini hanya meliputi sekitar seperlimanya saja.

Read the rest of this entry

Mana yang lebih enak? Mana yang lebih menyenangkan? Sosok penerjemah penuh waktu yang kita bicarakan di sini, sama halnya dengan karyawan tetap lain di kantor-kantor swasta, bekerja mulai sekitar jam 8 pagi hingga jam 5 sore, dengan 1 jam istirahat di tengah hari. Setiap hari ia duduk di hadapan layar komputer. Lebih baikkah kehidupannya dibandingkan dengan rekan-rekannya, penerjemah lepas yang dapat bekerja di rumah atau di kafe, atau di mana saja dan kapan saja mereka mau?

Read the rest of this entry