Oleh Anung Ariwibowo

Sebuah dokumen resmi atau karya ilmiah biasanya mencantumkan kutipan untuk mendukung ide dan argumentasi yang disusun oleh penulisnya. Pencantuman kutipan diikuti juga dengan sebuah daftar pustaka (reference) dan/atau bibliografi pada bagian akhir dokumen. Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang mencantumkan semua dokumen yang dikutip di dalam karya ilmiah. Sedangkan bibliografi adalah daftar yang mencantumkan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Bibliografi mungkin lebih panjang daripada daftar pustaka, karena entri-entri di dalam bibliografi tidak harus dikutip di dalam tubuh tulisan karya ilmiah.

Pencantuman kutipan dan daftar pustaka dilakukan antara lain dengan tujuan memberikan apresiasi kepada penulis asli. Pemberian apresiasi ini menunjukkan bahwa gagasan ide tersebut dilakukan oleh penulis asli sehingga penulis dokumen terhindar dari plagiarisme karya ilmiah. Pencantuman kutipan dan daftar pustaka juga bertujuan untuk menyampaikan ide-ide yang terkait dan saling mendukung untuk membangun sebuah pemikiran baru. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran.

Read the rest of this entry

Oleh Imam Mustaqim

Kadang (atau seringkali?), klien datang ke kita dengan langsung menyodorkan pertanyaan:  “Ada job nich review 3000 kata, tenggat 1 hari, biaya USD20 per jam, mau?”

Kesalahan penerjemah umumnya: tanpa men-download dan membaca file-nya dulu, penerjemah langsung  “ho-oh” saja. Penerjemah mungkin berpikir paling cuma perlu 1-2 jam buat membaca 3000 kata. Masalah baru kelihatan jika ternyata penerjemah juga diminta mengisi formulir untuk mencatat berbagai kesalahan yang  ditemui dalam review tersebut. Belum lagi kalau ternyata klien minta kesalahan tersebut dimasukkan ke laporan online dengan koneksi yang lelet. Puncaknya bila terjemahan tersebut ternyata kualitasnya amburadul. Jadilah alih-alih sekadar membaca hasil terjemahan selama 1-2 jam, penerjemah harus menerjemahkan ulang sampai 50% , memberi keterangan, mengisi sampai lima kolom dalam formulir review, dst.

Read the rest of this entry

Oleh Sofia Mansoor

TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan Unika Atma Jaya pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Konferensi penerjemahan internasional pertama yang saya hadiri berlangsung 20 tahun yang lalu di Kuala Lumpur pada tahun 1991. Sejak itu, saya menghadiri beberapa kali lagi konferensi penerjemahan mancanegara (istilah ini yang digunakan Malaysia) di negeri jiran itu, antara lain di Melaka, Pulau Langkawi, dan Pulau Pinang. Selain itu, saya juga pernah menghadiri konferensi sejenis di bidang penerbitan akademis di New Delhi (1986), konferensi EASE (Perhimpunan Penyunting Sains Eropa) di Helsinki (1997), kongres FIT di Melbourne (1996) dan Macau (2010), dan terpaksa batal menghadiri acara yang sama di Shanghai (2008) karena mengalami musibah kecelakaan hingga patah tangan hanya dua minggu menjelang keberangkatan. Selain TransCon kemarin itu, satu-satunya konferensi internasional yang saya hadiri di dalam negeri adalah Kongres ATF 2007 di Bogor yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).

Read the rest of this entry

Oleh Wiyanto Suroso

Saya heran dengan adanya kecenderungan belakangan ini dari sebagian penerjemah yang “selalu membalik susunan” dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”.

Sepengetahuan saya, “hukum D-M” berlaku untuk sebuah subjek/objek, yang menurut jenis katanya berupa kata benda yang harus selalu mendahului kata sifat/keterangan. Kita semua tahu bahwa ini kebalikan dari aturan dalam bahasa Inggris, yang menerapkan “hukum M-D” untuk hal yang sama.

Read the rest of this entry

Buku Alih Bahasa: Menatah Makna merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya dari seri yang sama, Tersesat Membawa Nikmat, yang menghimpun tulisan karya penerjemah dan juru bahasa yang tergabung dalam milis Bahtera (BAHasa dan TERjemahan IndonesiA).

Memang tidak terasa, lebih dari setahun telah berlalu sejak diluncurkannya buku Bahtera pertama, Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat pada Juli 2009 di Malang, saat dilangsungkannya acara perayaan hari ulang tahun ke-12 Bahtera, milis para penerjemah Indonesia.

Kali ini kami datang kembali menyapa pembaca dengan membawa aneka kisah lain tentang kehidupan para penerjemah dan juru bahasa dalam menekuni keseharian mereka, diawali dengan dengan laporan pandangan mata dan kesan tentang penyelenggaraan konferensi Asian Translators Forum, ajang temu penerjemah dan juru bahasa internasional di Macau yang berlangsung tanggal 6–8 November 2010. Laporan ini ditulis dengan semangat beragih yang merupakan perwujudan moto milis Bahtera, ’asah, asih, asuh.’

Read the rest of this entry

Oleh Ade Indarta

Setelah sebelumnya artikel “Ragam Profesi dalam Bidang Penerjemahan” membahas tentang jenis profesi terkait dengan bidang penerjemahan, tulisan ini berusaha memberikan contoh pekerjaan yang bisa diperoleh oleh penerjemah lepas dari agensi penerjemahan. Pekerjaan yang umum ditawarkan oleh agensi luar negeri antara lain adalah style guide creation, glossary creation, translation memory creation (alignment), translation, editing/review, proofreading, post-editing, back translation, quality assurance evaluation, dan project coordination.

Read the rest of this entry

Oleh Ivan Lanin

Dua profesi dalam bidang penerjemahan yang telah dikenal luas oleh masyarakat dan diakui secara resmi oleh pemerintah di Indonesia adalah penerjemah dan juru bahasa. Seiring dengan berjalannya waktu, kebutuhan pengguna jasa di bidang penerjemahan semakin bervariasi dan profesi di bidang ini pun semakin beragam. Dalam siaran pers untuk menyambut Hari Penerjemahan Internasional 2010 pada tanggal 30 September yang lalu, Federasi Penerjemah Internasional (FIT, Fédération Internationale des Traducteurs) pun menyebut satu profesi lain di bidang penerjemahan: juru istilah (terminologist). Selain itu, di milis penerjemah Bahtera pun sudah sering dibahas tentang berbagai aspek dari profesi penerjemah film dan editor terjemahan. Jadi, sebenarnya apa saja ragam profesi dalam bidang penerjemahan itu?

Dari berbagai sumber yang tersedia di internet, Language Resource Center Wake Forest University (LRS WFU) memberikan daftar profesi dalam bidang penerjemahan yang paling komprehensif dan deskriptif. Mereka mencantumkan 11 kategori yang terdiri dari translator, interpreter, terminologist, editor/proofreader, subtitler, transcriptionist, localizor, lexicographer, linguist, project manager, dan language engineer. Berikut jabaran dari masing-masing profesi tersebut menurut LRS WFU.

Read the rest of this entry

Oleh Setyadi Setyapranata

Ketika membicarakan masalah hasil terjemahan, biasanya kita mempertimbangkan antara “bentuk” (form), dan “makna” (meaning). Kemudian orang membincangkan antara hasil terjemahan dalam hal tingkat “kesetiaan pada bentuk” dan “kesetiaan pada makna”. Rekan-rekan penerjemah tentu sudah paham benar apa yang dimaksud dengan dua macam kesetiaan (faithfulness) itu. Kemudian ada golongan penerjemah yang berkecenderungan mempertahankan yang nomor 1 dan ada yang nomor 2, dan tentu saja banyak yang berupaya mempertahankan dua-duanya.

Secara teori ada tingkat kesetiaan paling rendah dan paling tinggi, atau paling setia dan paling tidak setia alias paling bebas. Di antara dua titik ekstrem itu ada rentang yang cukup lebar yang sering menimbulkan polemik, bahkan pertentangan, karena biasanya para penerjemah terpancang hanya pada dua istilah, yaitu terjemahan letterljik (literal) dan terjemahan bebas. Mereka tidak terlalu tertarik adanya bentangan rentang di antaranya.

Read the rest of this entry

Batu Rosetta, lambang alat bantu penerjemah.

Lokalisasi (localization) akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.

Read the rest of this entry

,

Back translation” adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan “Terjemahan balik.” Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.

Read the rest of this entry