<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Sep 2011 13:11:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Juru istilah</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/08/juru-istilah/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/08/juru-istilah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 16:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[anton moeliono]]></category>
		<category><![CDATA[juru istilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=844</guid>
		<description><![CDATA[Di antara berbagai keterampilan bahasa yang dimiliki oleh Pak Ton, "juru istilah" merupakan salah satu kepiawaian beliau yang tidak banyak dimiliki oleh bahasawan Indonesia lain. Juru istilah, atau terminologist dalam bahasa Inggris, adalah ahli dalam penelitian terminologi yang meliputi pengumpulan, analisis, pencatatan informasi, serta penciptaan hubungan antara istilah dan definisi sesuai konteks istilah tersebut. Dalam bahasa (yang terlalu) sederhana, juru istilah adalah pencipta dan pencatat istilah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 25 Juli 2011 yang lalu saya berduka. Mbak Mia (Lauder) mengirim pesan melalui BB: Pak <a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/07/26/07123021/Anton.Moeliono.Telah.Berpulang">Anton Moeliono telah wafat</a> pada pukul 23.27. Pereksa Bahasa yang sering dijuluki &#8220;<a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/10/28/anton-m-moeliono-the-walking-dictionary.html">Kamus Berjalan</a>&#8221; ini tidak lagi bisa dijadikan narasumber untuk mencipta istilah-istilah bahasa Indonesia yang tepat makna dan sedap didengar. Padahal, selama ini beliau sangat berperan besar dalam pembentukan berbagai padanan istilah asing seperti tenggat (<em>deadline</em>), canggih (<em>sophisticated</em>), kudapan (<em>snack</em>), penyelia (<em>supervisor</em>), dan, yang terakhir, <a href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/07/07/outsource-dan-sumberluar/">sumberluar</a> (<em>outsource</em>). Meskipun mungkin tidak terlalu terlihat, selama satu minggu saya menghitamkan foto profil saya pada berbagai jejaring sosial sebagai wujud duka atas kepergian beliau.</p>
<p><span id="more-844"></span>Di antara berbagai keterampilan bahasa yang dimiliki oleh <a href="http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/07/31/pak-ton/">Pak Ton</a>, &#8220;juru istilah&#8221; merupakan salah satu kepiawaian beliau yang tidak banyak dimiliki oleh bahasawan Indonesia lain. Juru istilah, atau <em>terminologist</em> dalam bahasa Inggris, adalah ahli dalam penelitian terminologi yang meliputi pengumpulan, analisis, pencatatan informasi, serta penciptaan hubungan antara istilah dan definisi sesuai konteks istilah tersebut. Dalam bahasa (yang terlalu) sederhana, juru istilah adalah pencipta dan pencatat istilah.</p>
<p>Juru istilah merupakan salah satu dari tiga profesi yang dinaungi oleh Fédération Internationale des Traducteurs (FIT, Federasi Internasional Penerjemah)&#8211;selain penerjemah (<em>translator</em>) dan juru bahasa (<em>interpreter</em>). Penyebutan profesi ini secara khusus oleh FIT bukan tanpa alasan. Juru istilah adalah suatu profesi khusus yang membutuhkan keahlian khusus pula. Profesi ini kiranya sulit untuk disambi oleh penerjemah atau juru bahasa, namun memegang peranan vital untuk mendukung kedua profesi dalam bidang penerjemahan tersebut.</p>
<p>Satu hal yang menjadi alasan utama untuk memisahkan tugas juru istilah dari penerjemah maupun juru bahasa adalah waktu. Juru istilah memerlukan waktu untuk menelaah suatu konsep dan menciptakan istilah yang cocok untuk mewakili konsep tersebut. Kelewahan ini tidak dimiliki oleh penerjemah dan juru bahasa yang hampir selalu dihadapi dengan tenggat yang ketat. Sayang, tampaknya pasar belum menyadari hal ini.</p>
<p>Selamat jalan, Pak Ton. Semoga segera lahir para juru istilah baru yang paling tidak dapat sedikit menutupi kerumpangan karena ketiadaan Bapak.</p>
<p>Rujukan:</p>
<ol>
<li>Association of Translators and Interpreters of Ontario. <em><a href="http://www.atio.on.ca/professions/terminologist.php">What is a terminologist</a></em>. Diakses pada 14 Agu 2011.</li>
<li>Fédération Internationale des Traducteurs. <em><a href="http://fit-ift.org/index.php?frontend_action=display_compound_text_content&amp;item_id=3576">What is FIT</a></em>. Diakses pada 14 Agu 2011.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/08/juru-istilah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengantar kepergian begawan bahasa, Prof. Anton M. Moeliono</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/07/mengantar-kepergian-begawan-bahasa-prof-anton-m-moeliono/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/07/mengantar-kepergian-begawan-bahasa-prof-anton-m-moeliono/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 07:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[Tak pelak lagi, seluruh masyarakat pencinta Bahasa Indonesia hari ini berduka. Mereka yang tidak mengetahui perjalanan penyakitnya mungkin terperangah mendengar atau membaca berita kepulangan beliau, termasuk kita, anggota milis Bahtera -- Bahasa dan Terjemahan Indonesia.

Pak Anton memang tidak pernah secara resmi menjadi anggota milis Bahtera, namun bagi para pendiri Bahtera, Pak Anton adalah salah satu narasumber yang sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bahterawan, khususnya di masa-masa awal berdirinya milis tercinta ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_840" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-840" title="Anton Moeliono" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/07/Anton-Moeliono-300x168.jpg" alt="Anton Moeliono" width="300" height="168" /><p class="wp-caption-text">Sumber gambar: Pikiran Rakyat (Imam JP)</p></div>
<p>Tak pelak lagi, seluruh masyarakat pencinta Bahasa Indonesia hari ini berduka. Mereka yang tidak mengetahui perjalanan penyakitnya mungkin terperangah mendengar atau membaca berita kepulangan beliau, termasuk kita, anggota milis Bahtera &#8212; Bahasa dan Terjemahan Indonesia.</p>
<p>Pak Anton memang tidak pernah secara resmi menjadi anggota milis Bahtera, namun bagi para pendiri Bahtera, Pak Anton adalah salah satu narasumber yang sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bahterawan, khususnya di masa-masa awal berdirinya milis tercinta ini.</p>
<p><span id="more-839"></span>Banyak ucapan beliau yang diingat orang, banyak pula istilah yang melekat di hati para pemerhati bahasa, namun yang paling melekat kuat dalam benak saya adalah frasa &#8220;salam takzim&#8221; yang hampir selalu menutup surat-surat beliau. Pak Anton memang sosok yang amat santun, baik saat bertutur maupun menulis. Namun, pendiriannya dan kecintaannya kepada bahasa Indonesia sangat kokoh dan patut mendapat acungan jempol. Kalau orang lain mencampurkan bahasa asing ke dalam ucapannya yang berbahasa Indonesia untuk menunjukkan kemampuannya berbahasa asing, Pak Anton justru dengan teguh menggunakan bahasa Indonesia dengan taat asas. Namun, kemampuannya berbahasa asing tetap tampak tanpa beliau harus berbahasa gado-gado.</p>
<p>Kini sosok santun itu telah tiada&#8230; Kita boleh saja berduka, tetapi sajak Jalaluddin Rumi berikut ini mungkin bisa mengobati kehilangan kita&#8230;</p>
<p>Selamat jalan, Pak Anton&#8230; Bahterawan di balik layar&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>When I die</strong><br />
<em>Jalaluddin Rumi</em></p>
<p style="text-align: center;">when my coffin<br />
is being taken out<br />
you must never think<br />
I am missing this world</p>
<p style="text-align: center;">don’t shed any tears<br />
don’t lament or feel sorry<br />
I’m not falling<br />
into a monster’s abyss</p>
<p style="text-align: center;">when you see<br />
my corpse is being carried<br />
don’t cry for my leaving<br />
I’m not leaving<br />
I’m arriving at eternal love</p>
<p style="text-align: center;">when you leave me<br />
in the grave<br />
don’t say goodbye</p>
<p style="text-align: center;">remember a grave is<br />
only a curtain<br />
for the paradise behind</p>
<p style="text-align: center;">you’ll only see me<br />
descending into a grave<br />
now watch me rise</p>
<p style="text-align: center;">how can there be an end<br />
when the sun sets or<br />
the moon goes down<br />
it looks like the end<br />
it seems like a sunset<br />
but in reality it is a dawn</p>
<p style="text-align: center;">when the grave locks you up<br />
that is when your soul is freed</p>
<p style="text-align: center;">have you ever seen<br />
a seed fallen to earth<br />
not rise with a new life<br />
why should you doubt the rise<br />
of a seed named human</p>
<p style="text-align: center;">have you ever seen<br />
a bucket lowered into a well<br />
coming back empty</p>
<p style="text-align: center;">why lament for a soul<br />
when it can come back<br />
like Joseph from the well</p>
<p style="text-align: center;">when for the last time<br />
you close your mouth<br />
your words and soul<br />
will belong to the world of<br />
no place<br />
no time</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/07/mengantar-kepergian-begawan-bahasa-prof-anton-m-moeliono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu itu berharga demi profesionalisme penerjemahan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/07/waktu-itu-berharga-demi-profesionalisme-penerjemahan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/07/waktu-itu-berharga-demi-profesionalisme-penerjemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 03:16:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harry Hermawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahtera]]></category>
		<category><![CDATA[lan Stevens]]></category>
		<category><![CDATA[menerjemahkan perlu waktu cukup]]></category>
		<category><![CDATA[milis Bahtera]]></category>
		<category><![CDATA[pelokalan]]></category>
		<category><![CDATA[penggalangan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu untuk riset bagi penerjemah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Harry Hermawan Di milis Bahtera, Pak Alan Stevens, memaparkan kesulitannya menerjemahkan atau melokalkan satu kata: &#8220;penggalangan&#8220;. Anda bisa menyaksikan proses serta solusi ini di milis tersebut. Tapi yang ingin saya kritik bukan terhadap proses atau apapun yang terjadi di milis tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah waktu. Bagi penerjemah mendapatkan waktu yang agak longgar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <a href="http://www.linkedin.com/in/penerjemah">Harry Hermawan</a></p>
<p>Di milis <a href="http://groups.yahoo.com/group/Bahtera/" target="_blank">Bahtera</a>, Pak <a href="http://books.google.com/books?id=cF97F--suNAC&amp;printsec=frontcover&amp;dq=inauthor:%22Alan+M.+Stevens%22&amp;hl=en&amp;ei=XuAoTsOuA8r4rQeCk5i_Bg&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=1&amp;ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&amp;q&amp;f=false" target="_blank">Alan Stevens</a>, memaparkan kesulitannya menerjemahkan atau melokalkan satu kata: &#8220;<a href="http://groups.yahoo.com/group/Bahtera/message/116436" target="_blank">penggalangan</a>&#8220;.</p>
<p>Anda bisa menyaksikan proses serta <a href="http://serbasejarah.wordpress.com/2009/06/19/penggalangan-sebagai-fungsi-intelijen-tinjauan-ilmu/" target="_blank">solusi </a>ini di milis tersebut.</p>
<p>Tapi yang ingin saya kritik bukan terhadap proses atau apapun yang terjadi di milis tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah waktu. Bagi penerjemah mendapatkan waktu yang agak longgar untuk <a href="http://www.btb.gc.ca/btb.php?lang=eng&amp;cont=697" target="_blank">riset sebuah istilah</a> atau kata adalah kemewahan. Sementara bagi klien penerjemah hal ini mungkin bukan masuk wilayah tanggung jawabnya. Setidaknya dari pengalaman saya, ada klien yang sungguh tidak dapat memahami mengapa harus berlama-lama menerjemahkan toh hanya mengganti kata bahasa target.</p>
<p>Nah, di sinilah saya ingin membangun sebuah kritik positif bagi mereka yang menggunakan jasa kita. Berikan kita kehormatan untuk berlonggar waktu untuk memberikan hasil yang terbaik selain tentunya kompensasi yang memadai. Tapi masalah kompensasi bukan isu yang ingin diangkat di sini.</p>
<p>Waktu berharga bagi penerjemah, berilah kami waktu yang mencukupi.</p>
<p>Semoga kritik membangun atau masukan positif ini kepada target pembaca cukup diterima dengan pandangan yang&#8230;&#8221;O, begitu ya&#8221;.</p>
<p>Ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/07/waktu-itu-berharga-demi-profesionalisme-penerjemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bankdraft, MB, PP, WU, atau Transfer Antarbank?</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/07/bankdraft-mb-pp-wu-atau-transfer-antarbank/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/07/bankdraft-mb-pp-wu-atau-transfer-antarbank/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 04:46:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=820</guid>
		<description><![CDATA[Tidak terasa sudah tiga dasawarsa saya menekuni dunia penerjemahan, dan berbagai cara pembayaran honor terjemahan pernah saya alami. Pada awal karier pada tahun 1980-an, ketika bahan yang saya terjemahkan dan sunting kebanyakan berupa buku, pembayaran honor sangat sederhana. Setelah pekerjaan selesai, jumlah halaman hasil terjemahan dihitung, dikalikan tarif per halaman, dan honor pun langsung dikirim oleh penerbit ke rekening bank saya. Kini, ada banyak cara lain untuk pembayaran honor penerjemah. Apa saja itu? Baca tulisan selengkapnya di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <a href="http://www.facebook.com/notes/sofia-mansoor/bankdraft-mb-pp-wu-atau-transfer-antarbank/10150302792616228">Sofia Mansoor</a></em></p>
<p><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/07/money-transfer.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-821" title="Transfer uang" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/07/money-transfer.jpg" alt="" width="180" /></a>Tidak terasa sudah tiga dasawarsa saya menekuni dunia penerjemahan, dan berbagai cara pembayaran honor terjemahan pernah saya alami. Pada awal karier pada tahun 1980-an, ketika bahan yang saya terjemahkan dan sunting kebanyakan berupa buku, pembayaran honor sangat sederhana. Setelah pekerjaan selesai, jumlah halaman hasil terjemahan dihitung, dikalikan tarif per halaman, dan honor pun langsung dikirim oleh penerbit ke rekening bank saya. Sampai sekarang cara ini tentu tetap dianut oleh klien domestik, termasuk para penerbit buku. Yang berbeda hanyalah cara penghitungan honor yang belakangan ini dihitung berdasarkan jumlah karakter hasil terjemahan, alih-alih jumlah halaman terjemahan.</p>
<p><span id="more-820"></span>Pada awal 1990-an, setelah saya berkenalan dengan Bashir Basalamah, warga Singapura yang juga salah seorang pendiri <a href="http://bahtera.org">milis Bahtera</a>, kegiatan penerjemahan dan penyuntingan yang saya jalani mulai mengalami perubahan. Saat itu internet belum dikenal sehingga komunikasi Bandung–Singapura masih dilakukan melalui mesin faksimili. Honor masih tetap dikirimkan ke rekening bank, tetapi kali ini dolar Singapura dikonversi menjadi mata uang rupiah.</p>
<p>Keadaan berubah lagi setelah saya mengenal internet pada pertengahan tahun 1990-an, tepatnya tahun 1994. Sebuah perusahaan penyedia layanan internet mulai membuka usahanya di Bandung, dan saya pun segera memasang koneksi internet di rumah. Secara bertahap saya belajar menulis surel dan mengirimkan hasil terjemahan ke Singapura berupa lampiran. Semakin lama pekerjaan ini terasa semakin menyenangkan&#8230; dan menyibukkan!</p>
<p>Pekerjaan dari Singapura kemudian bertambah dengan pekerjaan dari negeri Paman Sam ketika Bashir mulai mengalihkan kepada saya sejumlah proyek penerjemahan ke bahasa Indonesia, dan saya diminta langsung berhubungan dengan klien dari negeri Obama itu, padahal sebelumnya semua urusan ditangani Bashir dan saya tahu beres, bahkan tidak tahu berapa tarif saya!</p>
<p><strong><em>Bankdraft</em></strong></p>
<p>Setelah berjalan sendiri, saya terpaksa belajar dari nol, mulai dari belajar membaca PO (<em>Purchase Order</em>), bernegosiasi dengan klien soal tarif, menghitung honor, membuat <em>invoice</em>, sampai menerima honornya. Saya pun mulai merasa perlu membuka rekening dalam USD di salah satu bank nasional, sebut saja Bank X. Saya memilih bank tersebut dengan alasan sederhana–ada ATM USD-nya! Selama sekitar 5 tahun saya menjadi nasabah setianya sampai tiba saat ketika perbankan Indonesia gonjang-ganjing menjelang milenium ke-3. Saya tidak berani mengambil risiko; saya tutup rekening USD saya di Bank X, lalu membuka rekening USD di salah satu bank internasional, sebut saja Bank Y, yang menurut saya yang awam ini pastilah tahan banting…</p>
<p>Nah, pada pertengahan dasawarsa 1990-an itu, hampir setiap bulan saya menerima cek atau <em>bankdraft</em> dari luar negeri dan mencairkannya melalui Bank X dan kemudian Bank Y. Lama-kelamaan para <em>teller</em> mengenal saya sehingga ketika saya muncul di meja pelayanan, mereka sudah langsung menyediakan formulir yang harus diisi. Biaya pencairan sebesar Rp100.000 juga sudah tidak pernah lagi dimintakan persetujuannya kepada saya, melainkan langsung saja dipotong dari rekening IDR saya di bank tersebut.</p>
<p><strong><em>Moneybookers (MB)</em></strong></p>
<p>Tahun demi tahun kegiatan ini terus berlangsung sampai kemudian seorang klien meminta saya membuka rekening di Moneybookers.com (disingkat MB), yakni sistem pembayaran daring (<em>online</em>) yang bermarkas di Inggris. Ternyata pembayaran honor melalui MB jauh lebih praktis dan murah daripada mencairkan cek. Coba saja simak–cek dari AS membutuhkan waktu dua minggu untuk tiba di Bandung lewat pos, dan empat minggu lagi untuk dicairkan lewat bank. Bandingkan dengan MB yang hanya membutuhkan waktu 1–2 hari untuk memindahkan dana dari MB ke rekening USD. Biayanya juga kecil, hanya sekitar $2,50 per penarikan, sementara biaya pencairan cek lewat bank minimal Rp100.000.</p>
<p>Membuka rekening di MB juga mudah sekali. Tinggal buka situsnya, mendaftar, lalu ikuti semua petunjuknya. Pada saat pertama, kita diminta hanya menarik $10,00 dari rekening di MB ke rekening USD kita di bank. Pada saat dana itu sudah masuk ke rekening bank kita, tercantum kode verifikasi berupa rangkaian angka. Nah, kode ini harus SEGERA dilaporkan ke MB agar bank kita terverifikasi. Saya sendiri agak lalai waktu itu karena dana di MB jumlahnya hanya tersisa $30.00. Barulah ketika mendapat kiriman lagi, saya baru tahu ada kode verifikasi yang harus saya laporkan ke MB. Untunglah staf CS MB sangat ramah dan dengan cepat membantu verifikasi bank saya itu. Selanjutnya, segalanya menjadi lancar. Sayangnya MB lebih disukai oleh agensi asal Eropa, sementara klien saya kebanyakan dari negeri Paman Sam.</p>
<p><strong><em>PayPal (PP)</em></strong></p>
<p>Namun, tidak lama setelah saya membuka rekening MB, PayPal (disingkat PP) tersedia bagi penduduk Indonesia, dan saya pun segera membuka rekening di situ. PP adalah sistem pembayaran daring  lainnya yang jauh lebih populer daripada MB dan bermarkas di AS. Cara membuka rekening di PP juga sangat mudah. Ikuti saja petunjuk di situsnya dan siapkan kode bank yang terdiri atas 4 angka. Kalau tidak tahu kode ini, tanyakan ke CS bank atau tanyakan ke teman–cara termudah!</p>
<p>Nah, setelah saya membuka rekening PP, semakin banyak klien saya dari AS yang beralih ke sistem pembayaran ini. Sayangnya, potongan yang dilakukan PP amat “menyakitkan hati.” Dana hanya bisa ditarik ke rekening rupiah atau ke rekening kartu kredit, dan nilai tukarnya sangat rendah, berbeda sekitar Rp250 per dolar dengan nilai tukar di <em>money changer</em>. Apalagi sejak tahun 2009 PP memberlakukan pemotongan sekitar 4% atas jumlah dana yang ditarik.</p>
<p>Saya beruntung karena boleh dikatakan semua klien saya baik hati. Salah satu di antaranya, yang hanya bisa membayar lewat PP dan tidak lewat cara lain, mengizinkan saya menaikkan tarif sebesar 1 sen per kata untuk menutup potongan yang dilakukan PP. Klien lain menyiasatinya dengan mengirimkan dana lewat e-check karena dana yang diterima PP lewat cara ini hanya dikenai biaya $5 untuk setiap e-check.</p>
<p><em><strong>Western Union (WU)</strong></em></p>
<p>Selain dengan MB dan PP, ada lagi sistem pembayaran lain yang mirip dengan cek, yaitu Western Union (WU). Mekanismenya sebagai berikut: klien mengirimkan dana untuk kita melalui WU, lalu memberitahukan sandi pengiriman WU lewat surel. Dengan informasi itu kita datangi bank atau lembaga keuangan mana saja (kantor pos, kantor pegadaian) yang melayani pencairan WU. Dengan memberitahukan sandi pengiriman WU serta nama pengirimnya, dana bisa langsung dicairkan dengan nilai tukar yang berlaku saat itu. Sangat praktis!</p>
<p><em><strong>Cara paling asyik</strong></em></p>
<p>Tetapi, tentu tidak ada yang lebih menyenangkan daripada dibayar melalui transfer langsung ke rekening bank kita. Apalagi jika klien yang menanggung biaya pengirimannya! Klien seperti ini harus kita jaga baik-baik! Lain kali akan saya obrolkan kiat saya menjalin komunikasi akrab dengan klien, yang membuat surel kami sering diwarnai canda ceria… yang selanjutnya membuat mereka betah memberi saya pekerjaan dan tidak tergiur untuk pindah ke lain hati… eh ke lain penerjemah  :-)</p>
<p><em>Sumber gambar: <a href="http://triwahyudi.com/uncategorized/transfer/beda-layanan-transfer-llg-dengan-rtgs.html">Triwahyudi.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/07/bankdraft-mb-pp-wu-atau-transfer-antarbank/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syukuran Ulang Tahun ke-14 Bahtera</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/06/syukuran-ulang-tahun-ke-14-bahtera/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/06/syukuran-ulang-tahun-ke-14-bahtera/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 06:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blog Bahtera</dc:creator>
				<category><![CDATA[Temu Bahtera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Panitia HUT ke-14 Bahtera mengharapkan kehadiran para pengayuh Bahtera untuk turut memeriahkan acara "Syukuran Ulang Tahun ke-14 Bahtera" yang akan diselenggarakan di Resto Omah Sendok, Jl. Taman Mpu Sendok no. 45, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada hari Sabtu, 16 Juli 2011 pukul 17.00 – 21.00. Jangan lewatkan kesempatan bertatap muka dengan para awak Bahtera yang mungkin selama ini hanya dikenal namanya saja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>mengayuh Bahtera ke mancanegara<br />
empat belas tahun sudah berlayar di Bumi Pertiwi<br />
dipandu para nakhoda kawakan<br />
mengarungi pasang surut samudra bahasa<br />
kini saatnya kita bersyukur untuk kebersamaan ini</p></blockquote>
<p>Panitia HUT ke-14 Bahtera mengharapkan kehadiran para pengayuh Bahtera untuk turut memeriahkan acara &#8220;Syukuran Ulang Tahun ke-14 Bahtera&#8221;.</p>
<p><span id="more-816"></span></p>
<ul>
<li>Dermaga: Resto Omah Sendok, Jl. Taman Mpu Sendok no. 45, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan</li>
<li>Waktu: Sabtu, 16 Juli 2011, 17.00–21.00</li>
<li>Busana: baju bernuansa nusantara atau batik</li>
</ul>
<p>Menangkan aneka hadiah menarik yang disediakan dalam acara:</p>
<ul>
<li>Pemilihan Bahtera Idol yang beradu suara diiringi organ tunggal</li>
<li>Lomba mengarang berantai dalam tim</li>
<li>Pemilihan Bahterawan berbusana terbaik</li>
</ul>
<p>Nikmati:</p>
<ul>
<li>Makan malam serba lezat</li>
<li>Rujak serut legendaris ala Daisy Subakti</li>
<li>Slurrrrpy iced lemon tea ala Anneke Notowidigdo</li>
<li>Aneka camilan sebelum dan sesudah makan malam</li>
<li>Berdoalah untuk mendapatkan hadiah pintu menarik pada malam istimewa ini!</li>
</ul>
<p>Jangan lewatkan kesempatan bertatap muka dengan para awak Bahtera yang mungkin selama ini hanya dikenal namanya saja.</p>
<p>Mengingat tempat terbatas, segera daftarkan diri Anda ke Evina Utami: evina.utami (at) yahoo.co.id.</p>
<p>Biaya pengganti makan malam:  Rp100.000,00. Silakan ditransfer selambat-lambatnya tanggal 10 Juli 2011 ke rekening: Farah Rachmat. BCA No. 3011 362 972. Jangan lupa untuk mengirimkan bukti transfer kepada Farah melalui surel ke alamat farah.rachmat (at) gmail.com.</p>
<p>Sampai jumpa di perayaan HUT ke-14 Bahtera.</p>
<p>Salam ASAH ASIH ASUH</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/06/syukuran-ulang-tahun-ke-14-bahtera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penulisan Daftar Pustaka dan Kutipan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/06/penulisan-daftar-pustaka-dan-kutipan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/06/penulisan-daftar-pustaka-dan-kutipan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anung Ariwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[Secara garis besar, pencantuman kutipan dan daftar pustaka pada sebuah karya ilmiah bertujuan antara lain untuk menyampaikan ide-ide dari berbagai sumber dan mengomunikasikan ide yang disusun oleh penulis karya ilmiah. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran. Proses penerjemahan kutipan dan daftar pustaka dapat dilakukan selama pesan yang dikomunikasikan dalam karya ilmiah dapat diterima dengan baik oleh pembaca.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <a href="http://bahasaku.blogspot.com">Anung Ariwibowo</a></em></p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-813" title="Bibliografi" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/06/Bibliografi.jpg" alt="" width="200" height="200" />Sebuah dokumen resmi atau karya ilmiah biasanya mencantumkan kutipan untuk mendukung ide dan argumentasi yang disusun oleh penulisnya. Pencantuman kutipan diikuti juga dengan sebuah <em>daftar pustaka</em> (<em>reference</em>) dan/atau <em>bibliografi</em> pada bagian akhir dokumen. Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang mencantumkan semua dokumen yang dikutip di dalam karya ilmiah. Sedangkan bibliografi adalah daftar yang mencantumkan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Bibliografi mungkin lebih panjang daripada daftar pustaka, karena entri-entri di dalam bibliografi tidak harus dikutip di dalam tubuh tulisan karya ilmiah.</p>
<p>Pencantuman kutipan dan daftar pustaka dilakukan antara lain dengan tujuan memberikan apresiasi kepada penulis asli. Pemberian apresiasi ini menunjukkan bahwa gagasan ide tersebut dilakukan oleh penulis asli sehingga penulis dokumen terhindar dari plagiarisme karya ilmiah. Pencantuman kutipan dan daftar pustaka juga bertujuan untuk menyampaikan ide-ide yang terkait dan saling mendukung untuk membangun sebuah pemikiran baru. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran.</p>
<p><span id="more-811"></span>Dokumen yang diacu dan dituliskan kutipannya dalam tubuh karya ilmiah serta dicantumkan sebagai rujukan dalam daftar pustaka mungkin ditulis dalam bahasa asing. Untuk menghindari kesalahpahaman yang muncul di benak pembaca, proses penerjemahan mungkin perlu dilakukan. Pencantuman kutipan di dalam karya ilmiah dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kepada posisi di mana kutipan itu dituliskan di dalam dokumen.</p>
<h3>Parafrasa</h3>
<p>Parafrasa adalah menuliskan ide asli yang ditulis oleh orang lain dalam dokumen sumber menggunakan susunan kata dan kalimat penulis dokumen. Penulisan kutipan melalui parafrasa tentunya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah, karena itu dilakukan penerjemahan.</p>
<h3>Kutipan</h3>
<p>Sebuah kutipan biasanya ditulis menggunakan indentasi dengan menggunakan ukuran huruf/fon yang lebih kecil. Kutipan bisa dituliskan dalam bahasa asli. Hal ini dilakukan misalnya dengan alasan jika dilakukan penerjemahan, ide asli dari penulis yang karyanya dikutip akan mengalami distorsi. Jika hal ini dilakukan, tentunya penulis karya ilmiah akan memberikan paparan yang lebih terperinci tentang ide yang dikutip, dalam bentuk kalimat-kalimatnya sendiri berupa parafrasa. Dengan demikian sebuah kutipan lazimnya diterjemahkan.</p>
<p>Dengan alasan menghindari distorsi ide, penulisan kutipan yang diterjemahkan sebaiknya juga disertai dengan keterangan, pada bagian akhir kutipan, dari bahasa apa kutipan tersebut diterjemahkan. Keterangan penerjemahan dituliskan di antara tanda kurung misalnya “(Terjemahan dari bahasa [apa].)”</p>
<h3>Daftar pustaka</h3>
<p>Untuk memudahkan pembaca menelusuri karya asli dari penulis yang dikutip di dalam karya ilmiah, entri daftar pustaka dituliskan dalam bahasa aslinya. Jika entri daftar pustaka diterjemahkan, dikhawatirkan akan menyulitkan pembaca menelusuri karya asli yang dimaksud.</p>
<h3>Daftar pustaka berupa hasil terjemahan</h3>
<p>Sebuah entri daftar pustaka dapat berupa sebuah karya hasil terjemahan dari dokumen lain. Ketika merujuk kepada hasil karya yang sudah diterjemahkan, bisa ditambahkan keterangan “Diterjemahkan dari bahasa [apa] oleh [siapa]. Kota: Penerbit.” Dalam penulisan dengan format ini, nama kota yang dicantumkan di bagian akhir adalah nama kota tempat penerbitan versi terjemahan.</p>
<p>Secara garis besar, pencantuman kutipan dan daftar pustaka pada sebuah karya ilmiah bertujuan antara lain untuk menyampaikan ide-ide dari berbagai sumber dan mengomunikasikan ide yang disusun oleh penulis karya ilmiah. Berdasarkan hal ini, proses penerjemahan kutipan dan daftar pustaka dapat dilakukan selama pesan yang dikomunikasikan dalam karya ilmiah dapat diterima dengan baik oleh pembaca.</p>
<p>Format penulisan rujukan di dalam karya ilmiah dan penulisan daftar pustaka tentu saja mengacu pada gaya kutipan yang digunakan, misalnya mengacu pada rujukan APA, MLA, Chicago Style, dan sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/06/penulisan-daftar-pustaka-dan-kutipan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menimbang proyek terjemahan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/06/menimbang-proyek-terjemahan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/06/menimbang-proyek-terjemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 04:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Imam Mustaqim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=792</guid>
		<description><![CDATA[Kadang (atau seringkali?), klien datang ke kita dengan langsung menyodorkan pertanyaan:  "Ada job nich review 3000 kata, tenggat 1 hari, biaya USD20 per jam, mau?" Kesalahan penerjemah umumnya: tanpa men-download dan membaca file-nya dulu, penerjemah langsung  "ho-oh" saja. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menerima proyek terjemahan? Baca tulisan selengkapnya di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Imam Mustaqim</em></p>
<p>Kadang (atau seringkali?), klien datang ke kita dengan langsung menyodorkan pertanyaan:  &#8220;Ada job nich review 3000 kata, tenggat 1 hari, biaya USD20 per jam, mau?&#8221;</p>
<p>Kesalahan penerjemah umumnya: tanpa men-<em>download</em> dan membaca <em>file</em>-nya dulu,  penerjemah langsung  &#8220;ho-oh&#8221; saja. Penerjemah mungkin berpikir paling cuma perlu 1-2 jam buat membaca 3000 kata. Masalah baru kelihatan jika ternyata penerjemah juga diminta mengisi formulir untuk mencatat berbagai kesalahan yang  ditemui dalam review tersebut. Belum lagi kalau ternyata klien minta kesalahan tersebut dimasukkan ke laporan online dengan koneksi yang lelet. Puncaknya bila terjemahan tersebut ternyata kualitasnya amburadul. Jadilah alih-alih sekadar membaca hasil terjemahan selama 1-2 jam, penerjemah harus menerjemahkan ulang sampai 50% , memberi keterangan, mengisi sampai lima kolom dalam formulir review, dst.</p>
<p><span id="more-792"></span>Agar tidak terjadi seperti itu, pastikan kita mengkomunikasikan hal-hal berikut saat menerima proyek terjemahan:</p>
<ul>
<li> Saat ditawari pekerjaan dengan tarif tertentu dengan menggunakan <em>TM tool</em>, pastikan Anda sudah punya perincian tarif untuk <em>fuzzy match</em>, 100% <em>match, repetition</em>, dsb. Pastikan semua kata dihitung. Yang sering terabaikan ongkos penerjemahan untuk <em>repetition</em> dan 100% <em>match</em>.</li>
<li>Periksa instruksi sebelum mengiyakan tawaran pekerjaan: apakah ada pembatasan jumlah karakter untuk terjemahan, atau perlakuan khusus atau pekerjaan tambahan lain, di luar pekerjaan <em>Read-and-Translate</em>. Jangan sampai kerepotan tersebut dihargai nol dolar oleh klien. Sisihkan waktu memahami penawaran sebelum terlanjur menyetujui.</li>
<li>Pastikan Anda punya semua <em>tool</em> yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut. Jangan sampai di tengah jalan Anda terpaksa mengalihdayakannya gara-gara lisensi trial habis</li>
<li>Simpan dan arsipkan semua file pekerjaan dengan cermat dan rapi agar mudah mencarinya lagi bila sewaktu-waktu klien kembali dengan keluhan atau revisi</li>
<li>Bila menerima pekerjaan untuk review/edit/proofread, perhitungkan benar-benar apakah pekerjaan tersebut berupa: Read-and-Edit, Read-Edit-Documented, Read-Edit-Documented-Argued, atau Read-Edit-Documented-Debat Kusir Berkepanjangan.  Jangan sampai Anda dibayar satu jam untuk menerjemahkan kemudian harus disibukkan melayani permintaan ekstra dan berdebat dengan penerjemah/editor lain berhari-hari.</li>
<li>Jangan menghapus email/chat yang berhubungan dengan instruksi karena sewaktu-waktu Anda mungkin perlu merujuknya bila klien berulah, ingkar-janji, atau lupa akan perintahnya sendiri.</li>
<li>Jangan pasang tarif Satu-Untuk-Semua <em>Tool</em>, Bedakan tarif menerjemahkan dengan Trados, Wordfast, apalagi LocStudio. Kalau Anda pasang tarif 0,05 USD untuk SDLX,  Jangan mau berlakukan tarif yang sama untuk LocStudio. Kalau sampai terjadi, pasti menyesal&#8230;dijamin!</li>
</ul>
<p>Sekadar berbagi. Semoga rekan-rekan lain tidak mengulangi kesalahan saya saat berkomunikasi dengan klien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/06/menimbang-proyek-terjemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lapanta TransCon Atma Jaya, 15 Juni 2011</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/06/lapanta-transcon-atma-jaya-15-juni-2011/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/06/lapanta-transcon-atma-jaya-15-juni-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 12:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan Unika Atma Jaya pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Saya merasa sangat menikmati acara tersebut, meskipun terdapat “cegukan” di sana-sini. Bertemu teman lama, menimba ilmu, belajar memetik pengalaman untuk diterapkan dalam acara serupa yang sudah ada dalam agenda HPI … ah, pokoknya kagak rugi deh mengeluarkan Rp200.000 untuk pengalaman ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Sofia Mansoor</em></p>
<p><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/06/TransCon-2011.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-787" title="TransCon 2011" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/06/TransCon-2011-300x139.jpg" alt="" width="180" /></a>TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan <a href="http://ltbiatmajaya.blogspot.com/">Unika Atma Jaya</a> pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Konferensi penerjemahan internasional pertama yang saya hadiri berlangsung 20 tahun yang lalu di Kuala Lumpur pada tahun 1991. Sejak itu, saya menghadiri beberapa kali lagi konferensi penerjemahan mancanegara (istilah ini yang digunakan Malaysia) di negeri jiran itu, antara lain di Melaka, Pulau Langkawi, dan Pulau Pinang. Selain itu, saya juga pernah menghadiri konferensi sejenis di bidang penerbitan akademis di New Delhi (1986), konferensi EASE (Perhimpunan Penyunting Sains Eropa) di Helsinki (1997), kongres FIT di Melbourne (1996) dan Macau (2010), dan terpaksa batal menghadiri acara yang sama di Shanghai (2008) karena mengalami musibah kecelakaan hingga patah tangan hanya dua minggu menjelang keberangkatan. Selain TransCon kemarin itu, satu-satunya konferensi internasional yang saya hadiri di dalam negeri adalah Kongres ATF 2007 di Bogor yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).</p>
<p><span id="more-785"></span>Saya selalu menikmati setiap acara seperti ini–perjalanan pulang-perginya, wisata pasca-acaranya, kehebohan memilih-milih sidang yang menarik untuk dihadiri, interaksi antarpeserta dan dengan pembicara, kepusingan menangkap maksud pembicara bukan penutur asli bahasa Inggris dalam bahasa Inggris dengan berbagai aksen yang sulit dipahami, dan “keberuntungan” karena memilih sidang yang menarik sehingga bisa diceritakan kepada teman-teman lain, baik melalui tulisan di koran, di milis, maupun di FB sekarang ini.</p>
<p>Kami berlima–saya, Adhi Ramdhan, Vina (istri Adhi), Lanny Utojo, Betty Sihombing–memang tiba terlambat sekitar satu jam karena harus berjuang menempuh kemacetan Jakarta dengan pengalaman minim, dan berjuang keras pula menemukan rute ke tempat konferensi. Karena pembicara utama juga terlambat tiba di tempat dengan alasan yang sama dengan kami orang Bandung, acara beliau justru dimulai tepat setelah kami tiba karena ada pertukaran waktu penyajian. Namun, karena masih “mengumpulkan nyawa”, saya sendiri agak kurang berkonsentrasi mendengarkan paparan beliau, kecuali tersenyum simpul menyaksikan kegaptekan sang doktor dalam menangani tayangannya di layar lebar… Kita sama-sama gaptek, ya, Mbak Rochie!</p>
<p>Selain makalah utama yang disampaikan di awal dan makalah sejenis di akhir rangkaian acara, tidak kurang dari 33 makalah disajikan secara serempak di tiga ruangan dalam tiga slot waktu, dengan jadwal semuanya akan selesai pada pukul 15.00. Namun, kekurangtegasan moderator dalam memimpin sidang menyebabkan jadwal ini tidak bisa ditepati. Pada saat kami meninggalkan acara pada pukul 15.30, acara terakhir masih berlangsung.</p>
<p><strong>Pengalaman berbeda dalam sidang yang berbeda</strong></p>
<p>Ada seorang teman menyampaikan keluhan bahwa kebanyakan makalah yang disampaikan terlalu teoretis, terlalu mengawang-awang, dan pembicaranya tidak memenuhi harapannya. Keluhan ini diamini oleh beberapa teman yang lain karena memang ada sejumlah pembicara yang jelas masih harus dibenahi kemampuan bahasa Inggrisnya, bahasa yang dipilih panitia untuk menjadi bahasa pengantar dalam konferensi ini. Memang jangan main-main berbicara di ajang internasional yang hadirinnya para penerjemah kawakan dari milis Bahtera! Tidak kurang dari 20-an peserta berasal dari milis Bahtera, dan beberapa di antara kami mengenakan kaos kebanggaan, kaos Bahtera. Bahkan ada dua orang yang datang jauh-jauh dari Mataram, yakni Ahmad Rivai dan Hudi Ertanto, para penerjemah Newmont, yang langsung saja bergabung dengan penerjemah Newmont lainnya, Indra Listyo. Hadir pula mantan moderator Bahtera yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum HPI, Pak Eddie Notowidigdo.</p>
<p>Namun, saya sendiri lebih beruntung karena hampir semua sidang yang saya hadiri bersifat praktis. Hahaha, pengalaman menghadiri berbagai konferensi serupa rupanya berhasil menempa keterampilan saya memilih sidang. Beberapa di antara sidang pilihan saya malah amat sangat menarik, seperti “Indonesian menu translation: a study on the translation techniques and the cultural bound” yang disampaikan dengan sangat memikat oleh Dyah Ayu Nila Khrisna, penyaji cantik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam paparannya, Dyah Ayu bukan saja menyajikan beberapa contoh menu dalam bahasa Indonesia–lemper, sop buntut, ayam goreng renyah ala Sunda, tempe bacem, pepes ikan patikoli bakar, daging empal gepuk–namun juga mengajak hadirin untuk mengusulkan terjemahannya. Akibatnya, suasana sidang menjadi sangat meriah disertai derai tawa karena banyak usulan yang menggelikan. Di akhir paparannya, Dyah Ayu memberikan kesimpulan bahwa penerjemahan menu dapat dilakukan dengan mencari padanannya yang setara (sop buntut – <em>oxtail soup</em>), prosesnya (dibacem - <em>marinated</em>), racikannya, cara memasaknya (dibungkus – <em>wrapped</em>), rasanya (asam manis), dan yang terakhir, menggunakan nama aslinya yang dipinjam (lemper). Dua jempol untuk makalah ini!</p>
<p>Segera setelah Dyah Ayu, tampil Andrew Thren, penutur asli bahasa Inggris dari Unika Satya Wacana dengan makalah berjudul “Discourse in translating Indonesian news stories into the English language”. Bahannya sangat menarik, yakni mencari terjemahan yang pas untuk sejumlah kata dan frasa dalam bahasa Indonesia. Contoh yang dikemukakannya antara lain kata &#8220;berkah” yang dalam konteks yang disampaikannya akan menjadi sangat janggal jika dipadankan dengan “blessings”, tetapi lebih tepat jika digunakan “gift” atau “free food”. Contoh lain yang mirip adalah frasa “Berkat bersin …” yang lebih pas jika diterjemahkan menjadi “Thanks to sneezing”. Sebanyak 12 kiat disampaikannya tentang berbagai aspek yang perlu diperhatikan ketika menerjemahkan teks berita berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Saya merasa sangat beruntung menghadiri sidang ini–ibarat mendapat pelajaran “gratis” kilat dengan bekal yang sangat mantap. Terima kasih, Andrew! <em>Too bad, you talked so fast and didn’t always mention which text you were referring to. But all in all I really learned a lot from your session</em>.</p>
<p>Sesi lain yang menarik bagi saya adalah sesi Mas Sugeng Hariyanto dari Universitas Negeri Malang dengan makalah berjudul “Adaptation in website translation”. Meskipun sudah pernah mendengar paparannya, saya tidak pernah bosan mendengar Mas Sugeng menyampaikan makalahnya. Pembawaannya yang kocak dan berbagai contoh jenaka yang ditampilkannya selalu mengembuskan angin segar setiap kali Bahterawan senior ini berbicara. Sayang, karena tayangan sejumlah contohnya disajikan begitu cepat dan sebagian huruf teksnya kecil-kecil untuk mata seorang nini seperti saya, tidak ada contoh yang dapat saya ceritakan di sini.</p>
<p>Dua sesi lain yang saya hadiri kurang memikat hati saya. Yang pertama adalah sesi yang diisi oleh paparan tentang penerjemahan berdaya cipta buku panduan Kraton Surakarta dan yang kedua tentang penerjemahan selipat (<em>leaflet</em>) komersial. Sesi yang disebutkan terakhir ini sebetulnya cukup menarik, tetapi menyiratkan kekurangsempurnaan para pembicara makalah yang mungkin disebabkan oleh belum banyaknya jam terbang mereka berdua di dunia penerjemahan. Dengan sedikit pengetahuan tentang penerjemahan iklan yang sudah beberapa kali dibahas di Bahtera, dan tentang <em>transcreation</em> yang saya peroleh dua hari sebelumnya dari paparan Mas Sugeng di blog Ade Indarta, saya berani menyampaikan bahwa yang diperlukan dalam penerjemahan selipat komersial bukanlah sekadar “translation”, melainkan lebih menjurus kepada “transcreation”. Mudah-mudahan saja masukan saya tersebut tidak mengecilkan hati kedua pembicara, tetapi justru memperluas wawasan mereka.</p>
<p>Satu makalah terakhir yang menarik hati saya adalah paparan berjudul &#8220;‘Fixed’ expressions and their variation: a challenge in translation&#8221;. Pembicaranya, dugaan saya, dosen senior Unika Atma Jaya, Ibu Nany S. Kurnia. Saya membayangkan betapa senangnya jika saya menjadi mahasiswanya atau menjadi teman diskusinya dan menggali begitu banyak pengalaman beliau. Tutur katanya halus dan tertib, artikulasi bahasa Inggrisnya sedap didengar dan mudah dipahami, paparannya juga menarik, yakni ungkapan pendek-pendek dalam balon gambar komik. Terjemahan keliru yang menarik dalam tayangan contohnya juga mengundang tawa renyah hadirin. Frasa &#8220;Beats me!&#8221; yang menurut konteks berarti &#8220;Meneketehe!&#8221; atau &#8220;Mana kutahu!&#8221; diterjemahkan menjadi &#8220;Pukuli saya!&#8221; (kalau tidak salah).</p>
<p>Sayang sekali, karena datang terlambat dan jadwalnya ditukar, saya tidak sempat menghadiri sesi Prof. Yayuk Hidayat dari Universitas Indonesia yang ternyata menulis makalah bersama keponakan saya, Alvanov, dosen Seni Rupa ITB. Padahal, paparan Bu Yayuk dipastikan selalu menarik, sebagaimana yang pernah saya saksikan dalam <a href="http://www.hpi.or.id/lang/en/kompak-april-2011">acara Komp@k HPI</a> beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Nah, begitulah teman-teman, cerita yang dapat saya bagi dari acara TransCon Atma Jaya 2011 kemarin. Saya merasa sangat menikmati acara tersebut, meskipun terdapat “cegukan” di sana-sini. Bertemu teman lama, menimba ilmu, belajar memetik pengalaman untuk diterapkan dalam acara serupa yang sudah ada dalam agenda HPI … ah, pokoknya <em>kagak rugi deh</em> mengeluarkan Rp200.000 untuk pengalaman ini. Bravo Unika Atma Jaya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/06/lapanta-transcon-atma-jaya-15-juni-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua kata setara</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/05/dua-kata-setara/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/05/dua-kata-setara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 12:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wiyanto Suroso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Secara ringkas, kaidah untuk menerjemahkan urutan dua kata yang dihubungkan dengan kata penghubung setara (dan, atau, dll.) bukan "manasuka", melainkan susunan tetap sebagaimana dalam bahasa Inggris. Ada "perkecualian" atau "terpaksa dibalik susunannya" apabila: (1) pengertiannya menjadi rancu/taksa, (2) telah ada padanan istilah baku/resmi/lazim dalam bahasa kita ataupun kelaziman cara penggunaan dalam bahasa kita, dan (3) dianggap perlu menurut rasa bahasa penerjemah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <a href="http://wsuroso-translation.webs.com/">Wiyanto Suroso</a></em></p>
<p>Saya heran dengan adanya kecenderungan belakangan ini dari sebagian penerjemah yang &#8220;selalu membalik susunan&#8221; dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung &#8220;dan&#8221;. Sepengetahuan saya, &#8220;<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_D-M">hukum D-M</a>&#8221; berlaku untuk sebuah subjek/objek, yang menurut jenis katanya berupa kata benda yang harus selalu mendahului kata sifat/keterangan. Kita semua tahu bahwa ini kebalikan dari aturan dalam bahasa Inggris, yang menerapkan &#8220;hukum M-D&#8221; untuk hal yang sama. <span id="more-764"></span>Hukum D-M “bukan” untuk dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”, yang jenis katanya setara. Saya belum menemukan rujukan yang “mengharuskan” membalik susunan dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”. Sebagai contoh, “scientific and technical information” diterjemahkan sesuai dengan urutan, yaitu “informasi ilmiah dan teknis”. Demikian juga, “protection and production forests” yang dipadankan dengan “hutan lindung dan produksi”.</p>
<p>Adakalanya dua kata/frasa “terpaksa dibalik susunannya” apabila pengertiannya boleh jadi menjadikannya rancu/taksa. Misalnya, ”investment and personal finance” semestinya diterjemahkan dengan “investasi dan keuangan pribadi”. Namun, apabila terjemahan dikhawatirkan bermakna lain karena hanya “keuangan” yang bersifat “pribadi” sedangkan “investasi” bermakna “umum”, maka dapat (atau bahkan sebaiknya) dibalik susunannya menjadi “keuangan pribadi dan investasi”.</p>
<p>Demikian pula, apabila telah ada padanan istilah baku/resmi/lazim dalam bahasa kita ataupun kelaziman cara penggunaan dalam bahasa kita, semestinya digunakan istilah/cara kita tersebut walaupun susunannya terbalik. Sebagai contoh, “back and forth” telah memiliki padanan yang telah lazim, yaitu “maju mundur”; bukan “mundur dan maju”. “Roger and I” diterjemahkan dengan “saya dan Roger” karena kebiasaan kita mendahulukan kata ganti orang “saya/aku” sebelum menyebutkan orang lain.</p>
<p>Adakalanya pula, rasa bahasa penerjemah, misalnya agar runtut ataupun agar menjadi lebih sesuai dengan nalar, membuatnya “membalik susunan”dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”. Misalnya, “the implemented and designed programs” boleh saja diterjemahkan dengan dibalik susunannya menjadi “program yang telah dirancang dan dilaksanakan” apabila penerjemah menganggap bahwa urutan logisnya ialah “dirancang” terlebih dahulu untuk kemudian “dilaksanakan”.</p>
<p>Secara ringkas, kaidah untuk menerjemahkan urutan dua kata yang dihubungkan dengan kata penghubung setara (dan, atau, dan semacamnya) bukan “manasuka”, melainkan susunan tetap sebagaimana dalam bahasa Inggris. Ada “perkecualian” atau “terpaksa dibalik susunannya” apabila: (1) pengertiannya menjadi rancu/taksa, (2) telah ada padanan istilah baku/resmi/lazim dalam bahasa kita ataupun kelaziman cara penggunaan dalam bahasa kita, dan (3) dianggap perlu menurut rasa bahasa penerjemah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/05/dua-kata-setara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menatah Makna</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/02/menatah-makna/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/02/menatah-makna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 16:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=745</guid>
		<description><![CDATA[Buku Alih Bahasa: Menatah Makna merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya dari seri yang sama, Tersesat Membawa Nikmat, yang menghimpun tulisan karya penerjemah dan juru bahasa yang tergabung dalam milis Bahtera (BAHasa dan TERjemahan IndonesiA). Memang tidak terasa, lebih dari setahun telah berlalu sejak diluncurkannya buku Bahtera pertama, Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat pada Juli 2009 di Malang, saat dilangsungkannya acara perayaan hari ulang tahun ke-12 Bahtera, milis para penerjemah Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/02/Menatah-Makna.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-746" style="margin-left: 5px;" title="Menatah-Makna" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/02/Menatah-Makna-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Buku Alih Bahasa:<em> Menatah Makna </em>merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya dari seri yang sama<em>, <a href="http://blog.bahtera.org/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/">Tersesat Membawa Nikmat</a></em>, yang menghimpun tulisan karya penerjemah dan juru bahasa yang tergabung dalam milis Bahtera (BAHasa dan TERjemahan IndonesiA).</p>
<p>Memang tidak terasa, lebih dari setahun telah berlalu sejak diluncurkannya buku Bahtera pertama, Alih Bahasa: <em>Tersesat Membawa Nikmat</em> pada Juli 2009 di Malang, saat dilangsungkannya acara perayaan hari ulang tahun ke-12 Bahtera, milis para penerjemah Indonesia.</p>
<p>Kali ini kami datang kembali menyapa pembaca dengan membawa aneka kisah lain tentang kehidupan para penerjemah dan juru bahasa dalam menekuni keseharian mereka, diawali dengan dengan laporan pandangan mata dan kesan tentang penyelenggaraan konferensi Asian Translators Forum, ajang temu penerjemah dan juru bahasa internasional di Macau yang berlangsung tanggal 6–8 November 2010. Laporan ini ditulis dengan semangat beragih yang merupakan perwujudan moto milis Bahtera, ’asah, asih, asuh.’</p>
<p><strong><span id="more-745"></span>Mengapa <em>Menatah Makna</em>?</strong></p>
<p>Mengapa buku Bahtera ke-2 ini diberi judul Menatah Makna?</p>
<p>Tugas yang dipikul praktisi profesi penerjemah dan juru bahasa layaknya tugas para empu yang menatah batu menjadi prasasti atau menatah logam menjadi keris dan berbagai peralatan untuk kegiatan hidup manusia. Dalam melaksanakan pekerjaannya, penerjemah atau juru bahasa dapat dikiaskan menatah makna untuk menyampaikan pesan dan memberi solusi komunikasi.</p>
<p>Dalam <em>Menatah Makna</em> ini, kami persembahkan 58 kisah yang ditulis oleh 45 orang Bahterawan, anggota milis Bahtera. Dan, seperti juga pada buku Bahtera yang pertama, pada buku kedua ini pun kami mengelompokkan semua naskah tersebut ke dalam beberapa bagian yang memiliki benang merah yang sama. Memang pengelompokan ini tidak selalu mudah, tetapi kami merasa perlu melakukannya agar Anda, pembaca, dapat menikmati aneka kisah itu dengan lebih nyaman, tanpa perlu mengerutkan dahi dan kehilangan arah.</p>
<p>Dalam bagian pertama, <strong>Sebermula</strong>, kami tampilkan delapan kisah yang bercerita tentang pengalaman pertama dalam dunia penerjemahan atau alasan yang memutuskan para penulisnya menekuni dunia penerjemahan. Contohnya, dalam tulisan berjudul <em>Profesi Impian</em>, Bahterawan Desak Nyoman Pusparini dari Bali menceritakan pengalamannya mewujudkan cita-cita menjadi penerjemah dengan mengikuti kuliah di Jurusan Bahasa Inggris, Bidang Minat Penerjemahan, Universitas Terbuka.</p>
<p><strong>Waduuh…!!</strong> yang menjadi judul bagian kedua diisi oleh tujuh naskah yang, sesuai dengan benang merahnya berkisah tentang pengalaman para penulisnya berkutat dengan berbagai kesulitan saat menangani penerjemahan. Naskah berjudul <em>CAT Tools</em> yang ditulis oleh Bahterawan D. Rahadi (Eddie) Notowidigdo dari Jakarta sebetulnya tidak terlalu waduuh…, namun kami masukkan ke bagian ini karena banyak pemula melontarkan ucapan itu saat pertama kali berkenalan dengan perangkat lunak yang dijuluki si meong ini.</p>
<p>Pada <strong>Seputar Profesi</strong> dikelompokkan tidak kurang dari 12 naskah yang bercerita tentang aneka jenis pekerjaan “lain” yang ditekuni para pelakunya, namun yang masih sangat erat kaitannya dengan kegiatan penerjemahan. Salah satu yang menarik adalah <em>Remote Working vs. Koneksi Internet Siputlike</em> yang dengan memikatnya ditulis oleh Vina Andriyani dari Bandung. Seperti apakah menjadi pegawai perusahaan di negeri Obama, menggunakan peralatan mereka, bekerja dalam zona waktu mereka, tetapi semuanya dilakukan di rumahnya di Bandung? Apa yang dimaksudkannya dengan koneksi siputlike? Para pendahulu kita mungkin tidak bisa membayangkan ada jenis pekerjaan seperti itu di abad ke-21 ini.</p>
<p>Ah, adakah yang belum mengenal singkatan UUD di zaman sekarang ini? Bukan, bukan Undang Undang Dasar, melainkan&#8230; <strong>Ujung Ujungnya Duit!</strong> Ini salah satu unsur yang teramat penting untuk mengukur kesuksesan seorang penerjemah. Kembali D. Rahadi Notowidigdo menceritakan pengalamannya menempa diri menjadi penerjemah sukses dengan memasarkan jasanya lewat internet dalam tulisannya <em>Memanfaatkan Internet untuk Memasarkan Jasa Terjemahan</em>. Pengalamannya pastilah sangat bermanfaat bagi para penerjemah pemula yang ingin merintis karier di dunia yang sangat kami cintai ini.</p>
<p>Seperti pada buku Bahtera 1, pastilah ada bagian yang menampung tulisan tentang pengalaman para penulisnya sebagai anggota milis Bahtera, yang kali ini kami namai <strong>Aku dan Bahtera</strong>, yang memuat lima tulisan. Dengan judul tanpa basa-basi, <em>Manfaat Menjadi Anggota Bahtera</em>, Tarie Soetarto dari Jakarta menceritakan pengalamannya menjadi anggota Bahtera setelah membaca artikel di <em>The Jakarta Post</em> pada Agustus 2007 yang memuat reportase tentang perayaan ulang tahun ke-10 Bahtera. Judul tulisannya sudah berbicara dengan sendirinya sehingga tidak lagi diperlukan komentar dalam Prakata ini.</p>
<p>Penerjemahan tidak dapat dipisahkan dari bahasa, bukan? Maka dalam bagian <strong>Cinta Bahasa</strong> kami tampilkan lima naskah dengan benang merah ini. Dengan judul <em>29 Tahun Bersama PPIT</em>, Bahterawan Katsujiro Ueno dari Jepang berkisah tentang pengalamannya selama 29 tahun membina hubungan baik antara masyarakat Jepang dan Indonesia.</p>
<p>Bagian selajutnya, <strong>Tutur</strong>, menampilkan sembilan naskah yang dengan jenaka menceritakan pengalaman para penulisnya saat berkiprah sebagai juru bahasa atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan <em>interpreter </em>atau penerjemah lisan. Tulisan <em>More Than Higher, More Than Smaller</em> yang ditulis Indra Blanquita asal Jakarta, menjabarkan informasi serius dengan cara yang  jenaka tentang sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh seorang juru bahasa.</p>
<p>Bagian terakhir sengaja diberi judul <strong>Curhat</strong> karena di sini tujuh orang Bahterawan mencurahkan <em>uneg-uneg </em>mereka selama mengarungi pahit manisnya dunia penerjemahan. Pengalaman Ingrid Nimpoeno yang harus berakrobat menyelesaikan penerjemahan novel sambil sekaligus berperan sebagai ibu rumah tangga tentu amat menarik untuk disimak. Nah, Anda tentu penasaran untuk mengetahui apa yang dimaksudkannya dengan istilah norak dalam tulisannya yang berjudul <em>Noraknya Menjadi Penerjemah Novel</em>.</p>
<p>Membaca pengalaman seseorang sambil mengenalnya, setidaknya mengenal wajah dan sekelumit penggalan kehidupannya, pastilah lebih mengesankan. Karena itulah, di setiap awal halaman naskah, kami ajak Anda berkenalan dengan penulisnya, sekaligus kami cantumkan biodata singkatnya sebagai catatan kaki.</p>
<p>Demikian pula, di halaman 201-208 sengaja kami tampilkan sejumlah foto yang merekam kegiatan Bahtera dalam berbagai acara serius seperti seminar dan pelatihan di berbagai kota, serta acara santai seperti wisata bersama dan perayaan hari ulang tahunnya yang ke-12 di Malang dan yang ke-13 di Jakarta.</p>
<p>Selain itu, beberapa gambar juga ikut meramaikan tampilan buku ini yang melukiskan ungkapan khas seloroh penerjemah, seperti <em>singa mati</em> yang berasal dari <em>dead line </em>yang berarti tenggat<em> </em>(atau jika dibaca dengan cara tertentu mirip bunyinya dengan <em>dead lion</em>)<em>.</em> Ada pula gambar yang mewakili masalah yang dihadapi penerjemah, seperti misalnya tenggat yang ketat dan tuntutan klien yang kadang melampaui batas kemampuan manusiawi.</p>
<p>Akhirul kata, dengan segala kerendahan hati, kami ucapkan selamat membaca! Semoga ke-58 naskah ini semakin membuka wawasan Anda tentang lika-liku profesi  penerjemah dan juru bahasa.</p>
<p>Jakarta, Desember 2010</p>
<p>Sofia F. Mansoor dan Maria E. Sundah</p>
<p><em>Untuk memesan buku ini, silakan kirimkan surel ke sofiamansoor at gmail.com.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/02/menatah-makna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

