<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Feb 2010 09:15:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dua Bahasa Saja Tak Cukup</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/dua-bahasa-saja-tak-cukup/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/dua-bahasa-saja-tak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 10:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang mengira menguasai dua bahasa adalah cukup untuk menjadi modal penerjemah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk menjadi penerjemah ada beberapa modal yang perlu dimiliki oleh seseorang, dan penguasaan dua bahasa hanyalah beberapa di antaranya.

Keterampilan apa lagi yang dibutuhkan oleh penerjemah? Baca selengkapnya tulisan Ade Indarta ini di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang mengira menguasai dua bahasa adalah cukup untuk menjadi modal penerjemah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk menjadi penerjemah ada beberapa modal yang perlu dimiliki oleh seseorang, dan penguasaan dua bahasa hanyalah beberapa di antaranya.</p>
<p><span id="more-705"></span><strong>Penguasaan bahasa asing</strong> tentunya menjadi salah satu syarat utama menjadi penerjemah. Penguasaan ini tentu saja bukan hanya berupa kemampuan untuk menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari saja. Seorang penerjemah harus juga menguasai berbagai aturan tata bahasa dan konvensi yang ada. Ini penting karena untuk memahami arti sebuah teks, tidak cukup hanya dengan mengetahui arti kata dalam teks tersebut. Penerjemah yang tidak menguasai tata bahasa dan konvensi bahasa asing yang menjadi bahasa sumber biasanya akan banyak menghasilkan terjemahan yang keliru, tanpa sengaja menghilangkan makna tertentu pada teks sumber, atau juga menambah makna baru pada teks terjemahannya.</p>
<p>Sebaliknya, <strong>penguasaan bahasa sasaran</strong>, dalam hal ini biasanya bahasa Indonesia, juga tak kalah penting. Penguasaan bahasa asing membuat penerjemah dapat memahami dan mengerti isi teks yang akan diterjemahkan. Namun, jika penerjemah tersebut tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, hasil terjemahannya akan sulit dibaca. Penggunaan kata yang salah eja atau penggunaan kata yang tidak baku akan membuat pembaca tidak mampu menangkap makna pada teks terjemahan kita.</p>
<p>Dengan hanya menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran seperti di atas, kita tidak serta-merta menjadi dapat menerjemahkan dengan baik. Penerjemahan tidak hanya sekadar menggantikan teks bahasa sumber menjadi teks bahasa asal. Proses penerjemahan seperti ini dapat kita lihat hasilnya pada penerjemahan mesin (<em>machine translation</em>) yang berbasis tata bahasa. Hasil penerjemahan mesin ini biasanya memiliki tingkat keterbacaan yang rendah dan sulit dipahami karena hanya menukar kata dan kalimat dalam bahasa sumber dengan bahasa sasaran, tanpa memperhatikan konteks dan hanya mengandalkan makna kamus. Untuk bisa menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah setidaknya perlu memiliki dua modal lainnya, yaitu keterampilan membaca dan keterampilan menulis.</p>
<p>Modal yang pertama, <strong>keterampilan membaca</strong>, dalam hal ini tentunya bukan membaca dalam arti sempit. Keterampilan membaca ini mencakup keterampilan untuk memahami teks secara keseluruhan, mengenali konteks, menangkap makna baik yang tersurat maupun tersirat, mengenali gaya tulisan yang digunakan, dan sebagainya. Penerjemah yang tidak memiliki keterampilan membaca, meskipun sangat menguasai bahasa sumber, akan menghasilkan terjemahan yang maknanya secara kontekstual tidak tepat. Penerjemah seperti ini biasanya akan terpaku pada setiap kata dan kalimat teks yang diterjemahkannya sehingga tidak mampu memahami teks secara keseluruhan. Hasil terjemahan akan menjadi terbata-bata, sulit dipahami secara utuh.</p>
<p>Modal berikutnya yang seharusnya dimiliki oleh penerjemah adalah <strong>keterampilan menulis</strong>. Terjemahan, karena bentuknya yang berupa tulisan, menuntut penerjemahnya untuk menguasai keterampilan menulis. Orang yang menguasai dua bahasa dan memiliki keterampilan membaca tapi tidak memiliki keterampilan menulis akan menghasilkan terjemahan yang kaku dan literal. Hasil terjemahan biasanya akan mudah dikenali sebagai teks terjemahan. Meskipun secara tata bahasa tidak ada yang salah, terjemahan yang dihasilkan akan dapat dirasakan memiliki unsur-unsur bahasa asing yang kental. Sebaliknya, penerjemah yang memiliki keterampilan menulis biasanya mampu menghasilkan terjemahan yang luwes dan mudah dibaca. Keluwesan ini sebenarnya tercipta dari kemampuan penerjemah tersebut untuk dapat memanfaatkan berbagai teknik penulisan di dalam terjemahannya.</p>
<p>Kedua keterampilan di atas ditambah dengan penguasaan dua bahasa dapat menjadi modal seorang penerjemah untuk menghasilkan terjemahan yang baik: <strong>Penguasaan dua bahasa saja tidaklah cukup</strong>. Untuk menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah hendaknya tidak hanya mempelajari bahasa sumber dan bahasa sasaran yang menjadi bahasa kerjanya, tapi juga mempelajari keterampilan membaca dan menulis. Pelatihan dan lokakarya kedua keterampilan tersebut dapat menjadi upaya penerjemah untuk meningkatkan keterampilannya dalam menerjemahkan.</p>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/dua-bahasa-saja-tak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kateglo: Pemanfaatan internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 13:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perangkat lunak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bahasa adalah kekayaan kosakatanya dan kemampuan kosakata tersebut untuk memerikan berbagai konsep baru seiring dengan perkembangan pengetahuan. Pembentukan istilah bahasa Indonesia selama ini menjadi tugas Pusat Bahasa (Pusba) dengan bantuan para ahli bidang yang bersangkutan. Meskipun tak dapat dimungkiri bahwa upaya Pusba untuk memodernkan terminologi ini cukup berhasil memperkaya kosakata bahasa Indonesia, sering kali neologisme yang dibentuk kurang berterima di masyarakat karena kurangnya pelibatan publik dalam pembentukannya serta terbatasnya sosialisasi penggunaan terminologi tersebut. Internet sebagai medium yang dapat diakses publik tanpa batasan lokasi adalah sarana yang tepat untuk mengatasi masalah kolaborasi dan sosialisasi dalam bidang peristilahan ini. Kateglo dirancang sebagai sistem yang memanfaatkan internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia dengan memberdayakan kebijakan khalayak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bahasa adalah kekayaan kosakatanya dan  kemampuan kosakata tersebut untuk memerikan berbagai konsep baru seiring dengan  perkembangan pengetahuan. Pembentukan istilah bahasa Indonesia selama ini  menjadi tugas Pusat Bahasa (Pusba) dengan bantuan para ahli bidang yang  bersangkutan. Meskipun tak dapat dimungkiri bahwa upaya Pusba untuk memodernkan  terminologi ini cukup berhasil memperkaya kosakata bahasa Indonesia, sering kali  neologisme yang dibentuk kurang berterima di masyarakat karena kurangnya  pelibatan publik dalam pembentukannya serta terbatasnya sosialisasi penggunaan  terminologi tersebut. Internet sebagai medium yang dapat diakses publik tanpa  batasan lokasi adalah sarana yang tepat untuk mengatasi masalah kolaborasi dan  sosialisasi dalam bidang peristilahan ini. <a href="http://kateglo.com/">Kateglo</a> dirancang sebagai sistem yang memanfaatkan  internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia dengan memberdayakan kebijakan  khalayak.<br />
<span id="more-696"></span></p>
<h3>Latar belakang</h3>
<p>Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong  bermunculannya banyak istilah baru yang digunakan untuk memerikan aneka konsep  yang diciptakan atau ditemukan manusia. Bahasa Inggris yang merupakan <em>lingua  franca</em> dunia diperkirakan menerima tambahan 90.000 lema baru sepanjang abad  ke-20. Jumlah yang kurang lebih setara dengan jumlah lema pada Kamus Besar  Bahasa Indonesia Edisi Keempat yang diterbitkan Pusat Bahasa.</p>
<p>Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang relatif baru juga tidak luput dari  tuntutan modernisasi kosakata. Sebagai bahasa yang cukup terencana, kegiatan  pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah dilakukan dengan  cukup terkoordinasi di bawah Pusat Bahasa. Pertambahan jumlah lema di Kamus  Besar Bahasa Indonesia dari sekitar 68 ribu pada edisi pertama (1988) hingga  mencapai 90 ribu pada edisi keempat (2008) menggambarkan perkembangan kosakata  bahasa Indonesia tersebut. Ini pun masih ditambah dengan sekitar 120 ribu  padanan yang diterbitkan dalam bentuk glosarium Pusba dalam beberapa bidang  ilmu.</p>
<p>Dalam pembentukan istilah, Pusba menggabungkan kepakaran ahli bahasa dan ahli  bidang ilmu tertentu yang diundangnya. Proses ini bukan proses yang mudah dan  cepat untuk dilakukan karena selain melibatkan pemahaman yang mendalam mengenai  konsep suatu istilah, pembentukan istilah juga melibatkan rasa bahasa. Setelah  tercipta pun, masih ada pekerjaan besar yang menunggu, yaitu sosialisasi istilah  tersebut ke masyarakat, terutama kepada para pemangku kepentingan terkait.</p>
<p>Pemangku kepentingan dalam peristilahan dapat dibagi menjadi beberapa  kelompok.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pemangku-kepentingan-peristilahan1.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-698" title="Pemangku-kepentingan-peristilahan" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pemangku-kepentingan-peristilahan1-300x300.png" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<ol>
<li><strong>Ahli bahasa</strong>. Terlibat dalam memastikan bahwa istilah yang terbentuk  sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan memiliki makna yang tepat.</li>
<li><strong>Ahli atau praktisi bidang ilmu</strong>. Terlibat dalam mendefinisikan konsep  yang akan diperikan oleh istilah yang dibentuk.</li>
<li><strong>Media massa</strong>. Terlibat dalam upaya sosialisasi istilah dan menjaring  istilah baru dari masyarakat.</li>
<li><strong>Penulis</strong>. Sama seperti media massa, terlibat dalam sosialisasi dan  penjaringan istilah.</li>
<li><strong>Penerjemah</strong>. Terlibat dalam upaya menangkap istilah baru yang belum  ada padanannya dalam bahan terjemahan.</li>
<li><strong>Masyarakat umum</strong>. Terlibat dalam memberikan umpan balik secara umum  mengenai keberterimaan suatu istilah.</li>
</ol>
<p>Sementara itu, proses pembentukan istilah telah dijabarkan dalam <em><a href="http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Pembentukan_Istilah">Pedoman  Umum Pembentukan Istilah</a></em> (PUPI) terbitan Pusba seperti dalam gambar berikut ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pembentukan-istilah1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-701" title="Pembentukan-istilah" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pembentukan-istilah1.png" alt="" width="450" height="220" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Pertanyaan yang harus dijawab adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Bagaimana menyatukan para pemangku kepentingan di bidang peristilahan untuk  dapat bekerja sama dalam upaya pengayaan istilah bahasa Indonesia?</li>
<li>Bagaimana melakukan sosialisasi istilah yang dibentuk, termasuk memberikan  pemahaman etimologi dan maknanya?</li>
</ol>
<p>Salah satu hambatan terbesar dalam kerja sama dan sosialisasi ini adalah  komunikasi. Semakin meluasnya penggunaan media internet di Indonesia tampaknya  dapat menjadi jawaban atas kedua masalah ini. Internet dapat digunakan sebagai  tempat berembuk pemangku kepentingan, sekaligus sarana sosialisasi dan rujukan  yang dapat diakses oleh banyak orang.</p>
<h3>Kateglo</h3>
<p>Kateglo, akronim dari kamus, tesaurus, dan glosarium, adalah situs yang lahir  dari keperluan dua kelompok pemangku kepentingan yang sudah dikemukakan di atas:  penulis dan penerjemah. Kateglo menyediakan hal-hal yang diperlukan sebagai  pendukung kerja mereka, yaitu: (1) memeriksa ejaan dan makna baku suatu lema,  (2) memperoleh sinonim suatu lema untuk meningkatkan ragam pilihan kata dalam  suatu wacana, serta (3) mencari padanan istilah asing dalam bidang tertentu,  sekaligus memeriksa apakah istilah tersebut telah dibakukan di kamus, memiliki  ejaan dan makna yang tepat, dan sesuai dengan pedoman pembentukan istilah.</p>
<p>Kateglo mulai dioperasikan untuk publik pada 12 Mei 2009 dengan mengambil  data awal dari KBBI Daring, Glosarium Pusba, serta glosarium pribadi milik  beberapa anggota milis Bahtera, yakni milis yang beranggotakan lebih dari 2000  orang penerjemah berbahasa Indonesia. Lisensi yang diterapkan adalah lisensi  terbuka yang membebaskan semua orang untuk menggunakan, menyalin, menyebarkan,  dan mengadaptasi isi Kateglo, asalkan menyebutkan sumbernya dan bukan untuk  tujuan komersial.</p>
<p>Dari laman <a href="http://bahtera.org/kateglo">beranda Kateglo</a>,  pengunjung dapat (1) melakukan pencarian di kamus, glosarium, maupun peribahasa,  (2) membaca beberapa lema acak untuk meningkatkan kosakata, serta (3) memperoleh  pengetahuan tentang beberapa kesalahan eja yang sering ditemukan.</p>
<p>Laman detail suatu lema menyajikan antara lain definisi, kelas kata, sumber,  sinonim, kata turunan, peribahasa, serta entri glosarium yang terkait dengan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=ucap">kata  tersebut</a>.</p>
<p><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=glossary">Glosarium Kateglo</a> menyediakan daftar padanan istilah bidang ilmu tertentu, sekaligus tautan ke  Wikipedia jika artikel terkaitnya telah ada di sana. Dari glosarium dibuat juga  tautan ke masing-masing lema pembentuknya untuk menguji kesesuaian makna.</p>
<h3>Pengembangan</h3>
<p>Kateglo saat ini telah dimanfaatkan sebagai salah satu sumber rujukan utama  bagi komunitas penerjemah Bahtera dengan jumlah kunjungan halaman rata-rata 20  ribu per hari. Pengembangan lanjutan Kateglo dirancang dengan sejumlah fitur  yang diharapkan dapat menjawab dua pertanyaan yang diajukan di awal tadi seperti  dijabarkan berikut ini.</p>
<ol>
<li><strong>Pengusulan dan pemilihan padanan istilah</strong>. Di masa lalu, proses ini  dijalankan sendiri-sendiri oleh setiap pemangku kepentingan. Kateglo diharapkan  dapat menjadi sarana tempat semua pihak dapat mengajukan padanan istilah,  dilengkapi dengan dasar pembentukannya, serta bermufakat untuk memilih yang  terbaik dari semua usulan yang diajukan.</li>
<li><strong>Penjaringan istilah baru</strong>. Kateglo diharapkan dapat digunakan untuk  menangkap berbagai istilah baru yang terus tumbuh dan berkembang di masyarakat,  baik melalui pemasukan secara manual maupun dengan robot yang merayapi situs web  media massa, blog, dan lain-lain untuk mendapatkan istilah baru yang sering  digunakan.</li>
<li><strong>Pemeriksaan pola dan ejaan</strong>. Bahasa adalah sistem yang berpola.  Pembentukan istilah juga memiliki pola. Berdasarkan pengamatan, banyak istilah  yang dibuat di Glosarium Pusba yang tidak taat pada pola seperti yang digariskan  pada PUPI atau mengandung kesalahan ejaan. Kateglo diharapkan dapat mengoreksi  hal ini.</li>
<li><strong>Basis data etimologi</strong>. Sedikit sekali ditemukan rujukan tentang  etimologi suatu kata, bahkan juga di dalam KBBI. Padahal, pengetahuan tentang  asal-usul suatu kata sangat bermanfaat untuk memahami secara mendalam makna kata  tersebut serta mengapa dieja seperti itu. Kateglo diharapkan dapat sedikit demi  sedikit mengumpulkan informasi ini.</li>
<li><strong>Kamus kiasan, singkatan, dan akronim</strong>.</li>
<li><strong>Dokumentasi bahasa daerah</strong>.</li>
</ol>
<p>Satu fitur lagi yang masih menjadi mimpi dan belum berani dimasukkan ke dalam  daftar pengembangan yang ingin dilakukan adalah <strong>pengusulan padanan istilah  otomatis</strong>. Jika basis data Kateglo sudah cukup besar, hal ini tidak mustahil  dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Komputer, seperti halnya semua teknologi lain, hanyalah alat untuk mencapai  keinginan orang yang mengoperasikannya. Kateglo sangat bergantung pada para  enggunanya, yang diharapkan ikut berperan membangunnya. Sejarah telah  mengajarkan kepada kita bahwa urusan peristilahan sering tak dapat dilepaskan  dari masalah politis dan ego. Tapi, jika banyak orang dapat mengesampingkan  semua hal tersebut dan bersama-sama mengumpulkan kebijakan khalayak, upaya untuk  mempercepat pengayaan bahasa Indonesia akan dapat terbantu dengan adanya  Kateglo. <strong>Bahasa Indonesia pun dapat masuk ke dalam jajaran elite  bahasa-bahasa di dunia</strong>.</p>
<h3>Rujukan</h3>
<ul>
<li>Chamber-Loir, Henri, ed. (2009). <em>Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia  dan Malaysia</em>. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.</li>
<li>Jones, Russell, ed. (2007). <em>Loan-Words in Indonesian and Malay</em>.  Jakarta: KITLV Press.</li>
<li>Pusat Bahasa (2000). <em>Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang  Disempurnakan</em>. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional  Republik Indonesia.</li>
<li>Pusat Bahasa (2007). <em>Pedoman Umum Pembentukan Istilah</em>, Edisi Ketiga.  Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.</li>
<li>Samuel, Jerome (2008). <em>Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata  dan Politik Peristilahan</em>. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.</li>
</ul>
<p><em>Penulis: <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/">Ivan Lanin</a>. Makalah  pada <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/2010/01/13/seminar-dalam-rangka-hari-bahasa-ibu-internasional-2010/">Seminar  Hari Bahasa Ibu Internasional 2010</a>. Bandung, 19–20 Februari 2010. Salindia  presentasi dapat <a href="http://www.slideshare.net/ivanlanin/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia">dilihat  di SlideShare</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba Bahtera Februari 2010</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/lomba-bahtera-februari-2010/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/lomba-bahtera-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 18:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Bahterawan budiman,

Sudah agak lama juga Bahtera tidak mengadakan lomba ya? Yang terakhir adalah Lomba Penerjemahan Puisi "Di Atas Kertas" yang berlangsung pada Agustus 2009 yang berhasil memikat 22 orang Bahterawan untuk ikut "mengasah pena" dan memeriahkan acara tersebut.

Kali ini, sambil menunggu bahan lomba berbentuk lain selain puisi, Bahtera kembali menyelenggarakan lomba penerjemahan puisi. Bahan lomba diusulkan oleh John Gare, Bahterawan Australia, yang menemukan puisi lama ini dalam sebuah majalah terbitan tujuh tahun yang lalu di meja ruang tunggu juru bahasa di Refugee Review Tribunal, Melbourne.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahterawan budiman,</p>
<p>Sudah agak lama juga Bahtera tidak mengadakan lomba ya? Yang terakhir adalah <a href="http://blog.bahtera.org/2009/08/lomba-bahtera-agustus-2009/">Lomba Penerjemahan Puisi</a> &#8220;<em><a href="http://blog.bahtera.org/2009/07/di-atas-kertas/">Di Atas Kertas</a></em>&#8221; yang berlangsung pada Agustus 2009 yang berhasil memikat 22 orang Bahterawan untuk ikut &#8220;mengasah pena&#8221; dan memeriahkan acara tersebut.</p>
<p>Kali ini, sambil menunggu bahan lomba berbentuk lain selain puisi, Bahtera kembali menyelenggarakan lomba penerjemahan puisi. Bahan lomba diusulkan oleh John Gare, Bahterawan Australia, yang menemukan puisi lama ini dalam sebuah majalah terbitan tujuh tahun yang lalu di meja ruang tunggu juru bahasa di <em>Refugee Review Tribunal</em>, Melbourne.</p>
<p><span id="more-692"></span>Ketentuan lomba adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Puisi yang dilombakan adalah <em><a href="http://blog.bahtera.org/lomba-bahtera-februari-2010/"><strong>Yellow Daffodil</strong></a></em> karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Horace_Smith">Horace Smith</a>. Naskah puisi dapat <a href="http://blog.bahtera.org/lomba-bahtera-februari-2010/">dibaca di sini</a>.</li>
<li>Puisi boleh diterjemahkan secara bebas ke bahasa apa pun yang Anda inginkan. Berdasarkan masukan dari penyair kondang SDD (Sapardi Djoko Damono), puisi terjemahan tidak perlu persis sama dengan puisi aslinya, tetapi pesan penyair aslinya tetap harus tersampaikan. Sebagai pedoman lain, silakan pula baca tulisan Setyadi Setyapranata, <em><a href=" di http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/">Pilih sing ayu apa sing setya? Pilih yang cantik atau yang setia?</a></em></li>
<li>Semua puisi terjemahan harus sudah diterima Panitia Lomba selambat-lambatnya Sabtu <strong>27 Februari 2010</strong> dan dikirimkan ke <a href="mailto:lomba@bahtera.org">lomba at bahtera dot org</a>. Hanya anggota milis Bahtera, baik yang lama maupun baru, yang diperkenankan mengikuti lomba.</li>
<li>Semua puisi terjemahan akan ditayangkan secara anonim dan secara serentak pada Senin <strong>1 Maret 2010</strong> di Blog Bahtera. URL lamannya akan diumumkan pada waktunya melalui milis.</li>
<li>Semua anggota Bahtera, baik anggota lama maupun anggota baru, termasuk para moderator dan para pendiri Bahtera, dipersilakan masing-masing memilih MAKSIMUM DUA karya puisi terjemahan favoritnya. Caranya akan diumumkan pada waktunya melalui milis. Voting dimulai pada Senin 1 Maret 2010, dan ditutup pada pada Senin <strong>8 Maret 2010</strong>. Pengumuman agar Bahterawan menggunakan hak pilihnya akan ditayangkan di milis Bahtera secara berkala pada kurun waktu ini.</li>
<li>Puisi yang terbanyak pemilihnya akan dinyatakan sebagai pemenang, dan berhak atas hadiah dari Bahtera berupa Kamus Lengkap Indonesia-Inggris susunan Alan Stevens &amp; A.Ed.Schmidgall-Tellings. Kalau pemenang sudah memiliki kamus ini, hadiah akan diganti dengan hadiah lain, yakni flashdisk 8 GB.</li>
<li>Nama pemenang lomba akan diumumkan secepat-cepatnya pada pada Kamis <strong>11 Maret 2010</strong>.</li>
<li>Tidak ada surat-menyurat pribadi, dan keputusan Panitia Lomba tidak dapat diganggu gugat.</li>
</ol>
<p>Selamat mengikuti Lomba Bahtera &#8211; Februari 2010.</p>
<p>Sofia Mansoor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/lomba-bahtera-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mens Sana In Corpore Sano</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 06:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: "Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat". Jagoan catur kita, Utut Adianto, pastilah tahu benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.

Baca lebih lanjut penuturan Sofia Mansoor tentang etimologi beberapa kata di bidang olahraga. Tenis, badminton, arena, boling, senam, maraton, sampai catur dibahas dalam tulisan di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Anda termasuk orang yang berkeberatan menggolongkan permainan <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Catur">catur</a></em> sebagai <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=olahraga">olahraga</a></em>?  Mengapa? Apakah karena Anda berpendapat bahwa <em>catur</em> lebih tepat disebut  <em>olahotak</em>, bukan <em>olahraga</em>, karena otaklah yang lebih berperan  dalam permainan tersebut?</p>
<p>Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di  seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: &#8220;Dalam tubuh  yang sehat terdapat jiwa yang sehat&#8221;. Jagoan catur kita, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Utut_Adianto">Utut Adianto</a>, pastilah tahu  benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus  dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.</p>
<p><span id="more-686"></span>Kata <em>olahraga</em> sendiri adalah padanan kata Inggris <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=sport">sport</a></em>, yang  merupakan singkatan kata <em>disport</em>, yang pada abad ke-14 berarti  &#8220;menyenangkan diri sendiri&#8221;. Nah, jika kita berpegang pada asal-usul kata  <em>sport</em> ini, ternyata bukan hanya pecatur, tetapi semua orang yang  melakukan kegiatan menyenangkan diri sendiri boleh dikatakan tengah berolahraga.  Barangkali, kata Malaysia <em><a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Sukan">sukan</a></em> lebih tepat berpadanan  dengan kata <em>sport</em>, daripada kata Indonesia <em>olahraga</em>, karena  bukankah <em>sukan</em> atau <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=suka">bersukaan</a></em> mencerminkan arti yang disandang kata tersebut?</p>
<h3>Tenis dan badminton</h3>
<p>Marilah kita telusuri sekarang sejumlah kata yang berkaitan dengan olahraga,  misalnya <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=tenis">tenis</a></em>.  Kalau dirunut, kata <em>tenis</em> berasal dari kata Prancis <a href="http://www.etymonline.com/index.php?search=tennis">tenez</a><em></em>,  bentuk imperatif dari kata kerja <em>tenir</em> yang berarti &#8220;mempertahankan&#8221;.  Tampaknya ini ada hubungannya dengan keharusan seorang petenis mempertahankan  servisnya agar tidak dipatahkan lawan. Kata <em>tenir</em> sendiri berasal dari  kata Latin <em>tenere</em>, yang antara lain menurunkan sejumlah kata Inggris  seperti <em>tenure</em>, <em>tennancy</em>, dan <em>tenant</em>, yang semuanya  berhubungan dengan nuansa arti &#8220;bertahan&#8221; atau &#8220;mempertahankan&#8221;. Permainan  <em>tenis</em> yang kita kenal sekarang konon baru mulai dimainkan di luar ruangan  pada tahun 1874.</p>
<p>Kata selanjutnya yang berhubungan dengan olahraga ini – yang membuat penonton  dengan lucunya menoleh bolak-balik secara serempak ke kiri dan ke kanan  mengikuti gerakan bola – adalah kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=raket">raket</a></em>.  Buku <em>Word Origins</em> karangan Wilfred Funk mengatakan bahwa kata ini berasal  dari kata Arab <em>rahat</em>. <em>Dictionary of Word Origins</em> karya John Ayto  menelusurinya mulai dari kata Prancis <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=racquet">raquette</a></em>, yang  berawal dari kata Itali <em>racchetta</em>, yang berinduk lagi ke kata Arab  <em>rahat</em> tadi. Arti semua kata itu sama, yaitu &#8220;telapak tangan&#8221;. Sungguh  tepat, sebab telapak tangan memang merupakan <em>raket</em> pertama seorang  petenis. Sesungguhnyalah, meskipun <em>tenis</em> adalah permainan yang sudah  sangat tua, baru pada abad keduabelaslah orang menggunakan <em>raket</em> yang  kita kenal sekarang.</p>
<p>Demikian pula dengan penggunaan <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=net">net</a></em>,  benda di tengah lapangan yang memisahkan daerah seorang petenis dari daerah  lawannya. Kata <em>net</em> sendiri, kalau ditelusuri, bisa melintasi sekitar enam  bahasa, sebelum akhirnya disimpulkan berkerabat dengan kata Latin <em>nassa</em>,  yang berarti &#8220;anyaman jala ikan&#8221;. <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=net">Net</a></em> yang digunakan  dalam permainan tenis memang mirip jala ikan, bukan?</p>
<p>Sayang, prestasi para petenis Indonesia belum patut dibanggakan, kecuali  prestasi Yayuk Basuki yang sudah mundur pada tahun 1997 karena dilanda cedera.  Bagaimana kalau kita beralih saja pada olahraga nomor satu Indonesia, penyumbang  medali emas kita di Olimpiade? Apa lagi kalau bukan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=badminton">badminton</a><em></em>?  Dikisahkan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Duke_of_Beaufort">Duke of  Beaufort</a> memiliki tanah luas dengan keliling 15 kilometer di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gloucestershire">Glouchestershire</a>,  Inggris. Tanah miliknya ini, yang bernama<em> Badminton</em>, merupakan ajang  berbagai &#8220;inovasi&#8221; Inggris di penghujung abad ke-19. Yang tercatat, sejenis  minuman anggur dan minuman bersoda dinamakan <em>badminton</em> karena berasal  dari daerah tersebut. Permainan <em>badminton</em> sendiri, yang sering dikira  berasal dari Inggris, sebenarnya berasal dari India, dan untuk pertama kalinya  dimainkan di Inggris pada tahun 1873 – di mana lagi kalau bukan di <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Badminton_House">Badminton House</a></em>,  rumah peristirahatan Duke of Beaufort.</p>
<h3>Arena dan bowling</h3>
<p>Di masa Yunani dan Romawi kuno, berbagai jenis olahraga dan pertandingan  dilangsungkan di sebuah <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=arena">arena</a></em>,  dan olahraga yang mereka pertunjukkan sering berakhir sangat mengenaskan dengan  jatuhnya korban. Adat bangsa Romawi adalah menaburkan <em>harena</em> atau pasir  untuk menyerap darah para korban. Kata <em>harena</em> memang tepat untuk  menamakan amfiteater tempat berlangsungnya kegiatan olahraga karena biasanya  tempat itu memang berpasir. Pada abad ke-17, kata <em>harena</em> masuk ke  khazanah bahasa Inggris dengan huruf h-nya melesap, menjadi <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=arena">arena</a></em>. Bahasa  Indonesia menyerap langsung kata tersebut dari bahasa Inggris. Bahkan, mengingat  bunyinya yang akrab di telinga kita, banyak yang mengira bahwa kata itu kata  &#8220;asli&#8221; Indonesia.</p>
<p>Jenis olahraga yang banyak digemari orang kota besar (karena di kota kecil  tidak tersedia sarananya) adalah <em>bowling</em> yang diindonesiakan menjadi  <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=boling">boling</a></em> atau <em>bola gelinding</em>. Permainan ini mempunyai riwayat yang memikat,  meskipun sejarah kata <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bowling">bowling</a></em> sendiri cukup  sederhana. Nenek moyangnya adalah kata Latin <em>bulla</em> yang berarti  &#8220;gelembung&#8221;. <em>Bulla</em> akhirnya menjadi <em>bowl</em> yang semula berarti  bolanya itu sendiri atau penggelindingan bola tersebut.</p>
<p>Para peboling mungkin tidak mengira bahwa perangkat lengkap permainan  kegemaran mereka ditemukan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flinders_Petrie">Sir Flinders Petrie</a>,  seorang ahli antropologi Inggris, di &#8230; hiiii &#8230; sebuah makam Mesir yang  dibangun pada tahun 5200 SM, lebih dari 25 abad yang lalu! Para peboling juga  mungkin akan menggeleng-gelengkan kepala keheranan kalau tahu bahwa boling  pernah dilarang dimainkan di Inggris oleh Raja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_III_of_England">Edward III</a> (memerintah tahun 1327–77), <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_II_of_England">Richard II</a> (1377–99), dan beberapa raja lainnya karena dianggap permainan yang &#8220;kurang  jantan&#8221; karena tidak melatih keterampilan berperang, berbeda dengan olahraga  panahan. Raja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Henry_VIII_of_England">Henry  VIII</a> (1509–47), yang kawin sampai enam kali, juga melarang boling, tetapi  curangnya, dia mempunyai lintasan boling pribadi di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Palace_of_Whitehall">Whitehall</a> (salah  satu gedung pemerintahan di Inggris) untuk menghibur diri di antara kegiatan  kerjanya (mungkin juga di antara pelaksanaan hukuman mati!). Entah apakah  lintasan boling tersebut masih ada sekarang.</p>
<h3>Olahraga telanjang</h3>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah TV swasta kita dikecam pemirsanya karena  dianggap menayangkan olahraga setengah telanjang – para peraganya memang  berpakaian sangat minim. Olahraga tersebut, yaitu <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=senam">senam</a><em></em>,  ternyata memiliki riwayat yang menarik. Kata <em>senam</em> adalah padanan kata  Inggris <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gymnastics">gymnastics</a></em> yang berasal dari kata Yunani <em>gymnazo</em> yang berarti &#8220;berlatih sambil  telanjang&#8221; yang berasal dari kata <em>gymnos</em> yang berarti &#8220;telanjang&#8221;.  Memang, di masa Yunani kuno, kegiatan olahraga sering dilangsungkan sambil  telanjang karena udara yang amat panas membuat orang cenderung ingin berpakaian  seminim mungkin. Bahkan, konon lintasan atletik di lapangan Olimpiade yang  terkenal itu digunakan oleh para atlet yang telanjang. Bangsa Yunani di zaman  itu percaya bahwa telanjang sangat baik bagi kesehatan, sama seperti pendapat  mereka yang gemar mandi matahari atau berjemur diri di zaman sekarang. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hippocrates">Hippocrates</a>, dokter Yunani  yang terkenal itu, mengatakan bahwa sinar matahari sangat menyehatkan.</p>
<h3>Maraton</h3>
<p>Boleh dikatakan semua orang tahu riwayat di balik kata lari jarak jauh ini.  Sekitar dua setengah milenium (2500 tahun) yang lalu, pada tahun 490 SM, secara  menakjubkan pasukan mini bangsa Yunani yang berkekuatan hanya 10.000 orang  berhasil <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Marathon">mengalahkan</a> 100.000  orang Persia dalam perang di dataran <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marathon,_Greece">Marathon</a></em>. Seorang  pelari yang gagah berani, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pheidippides">Pheidippides</a>, ditugasi  membawa berita kemenangan istimewa itu dengan berlari sekencang-kencangnya ke  kota Athena yang jaraknya sekitar 26 mil atau 42 kilometer dari ajang perang.  Setibanya di dinding Acropolis, dia berseru: &#8220;Hore! Kita menang!&#8221;, lalu langsung  tersungkur dan tewas. Pemandangan seperti ini sering kita saksikan ketika para  pelari berhasil mencapai finis lomba <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=maraton">maraton</a></em>,  baik menang maupun kalah. Mereka tersungkur kelelahan atau terpaksa dipapah  karena kekuatan raganya terkuras habis.</p>
<p>Dalam pesta Olimpiade pertama yang dilangsungkan pada tahun 1896, lari  <em>maraton</em> diperlombakan dengan maksud memperingati peristiwa Pheidippides  2400 tahun sebelumnya. Dan, hasilnya sungguh amat pantas &#8230; seorang pelari  Yunani, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spyridon_Louis">Spiros Louis</a>,  memenangkan lomba tersebut. Jarak lari maraton sepanjang 26 mil 385 yard, atau  41,736 km, yang menjadi standar sejak tahun 1924, bermula dari sebuah keputusan  yang dibuat pada Olimpiade 1908 di London. Sebelum itu, jarak lomba adalah tepat  26 mil. Tetapi, agar lomba berakhir tepat di muka podium kehormatan, jarak 385  yard ditambahkan!</p>
<p>Sekarang, selain untuk lomba lari jarak jauh, kata <em>maraton</em> juga  digunakan untuk kegiatan lain yang menguras tenaga, misalnya <em>kerja  maraton</em> yang berarti kerja keras dalam waktu lama. Para penerjemah yang  kebanjiran order tentu amat akrab dengan istilah ini! Dalam kamus Badudu-Zain  terdapat frase <em>sidang maraton</em> yang berarti sidang terus-menerus,  sambung-bersambung, karena banyak hal yang harus dibahas sehingga perlu mengejar  waktu bagi pencapaian hasilnya.</p>
<h3>Skak!</h3>
<p>Marilah kita tutup wisata kita dengan kembali ke masalah di awal tulisan ini,  <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=catur">catur</a></em>.  Bila seorang pecatur menyerukan &#8220;Skak!&#8221;, dia bermaksud memperingatkan lawan  bahwa raja si lawan akan segera mati, atau si lawan akan kalah. Kata <em>skak</em> kita pungut dari kata Belanda <em>schaken</em>, yang berarti permainan catur.  Penutur Inggris menyebut permainan itu <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chess">chess</a></em>, dan mengucapkan  <em>check</em> untuk mengakhiri permainan. Kedua kata tersebut, <em><a href="http://en.wiktionary.org/wiki/chess">chess</a></em> dan <em>check</em>,  berasal dari daerah Timur Jauh, dari kata Persia <em>shah</em> yang berarti  &#8220;raja&#8221;. Istilah<em> shah</em> mengembara melalui bahasa Arab ke masa Old French  menjadi <em>eschequier</em>, kata turunan dari kata <em>eschec</em>, ke Middle  English menjadi <em>chek</em>, dan akhirnya menjadi <em>check</em>. Selain ucapan  <em>check</em>, pecatur berbahasa Inggris juga menggunakan istilah  <em>check-mate</em> untuk memperingatkan lawan. Ini berasal dari kata  <em>shah-mat</em> dalam bahasa Persia, yaitu &#8220;raja sudah tak berdaya.&#8221;</p>
<p>Meskipun demikian, saya tidak akan mengucapkan <em>skak</em> atau <em>check-mate </em>atau<em> shah-mat</em> untuk mengakhiri wisata kita kali ini. Alih-alih, saya  ingin mengucapkan <em>wa&#8217;alaikum salaam</em>, ucapan bahasa Arab yang berarti  &#8220;selamat dan sejahtera bagi Anda yang mendengarkan&#8221;, dalam hal ini tentu saja  bagi Anda yang membaca tulisan ini. Sampai jumpa!</p>
<p><em>Penulis: Sofia Mansoor. Sumber: Word Origins, Webster&#8217;s Word Histories,  Dictionary of Word Origins, dan berbagai kamus. Dimuat di Berita Buku, Mei  1996.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kualitas Terjemahan Melalui Evaluasi Mandiri</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 09:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien. Karenanya, penerjemah lepas perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.

Bagaimanakah langkah-langkah untuk melakukan evaluasi mandiri ini? Baca uraian lebih lanjut dari Ade Indarta di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien.</p>
<p>Padahal sering kali klien sendiri tidak bisa langsung menilai hasil terjemahan saat menerimanya. Ini terutama jika klien Anda adalah perusahaan luar negeri yang tidak mengerti bahasa yang kita terjemahkan. Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Karena itu, ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan. Mereka akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Kalau Anda mempunyai klien yang tidak pernah mengeluhkan kualitas terjemahan Anda dan tiba-tiba saja berhenti mengirimkan pekerjaan ke Anda, bisa jadi ini pertanda ada masalah dengan kualitas terjemahan Anda.</p>
<p><span id="more-678"></span>Untuk menghindari masalah seperti itu, sebagai penerjemah lepas, kita perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.</p>
<p>Ada enam langkah yang dapat Anda lakukan untuk melaksanakan evaluasi mandiri, yaitu:</p>
<ol>
<li>menentukan kualitas terjemahan,</li>
<li>menentukan pengevaluasi,</li>
<li>memverifikasi hasil evaluasi,</li>
<li>mengenali kelemahan,</li>
<li>menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan, serta</li>
<li>melakukan evaluasi secara berkala,</li>
</ol>
<p>Berikut ini akan dijabarkan masing-masing langkah evaluasi tersebut.</p>
<h3>1. Menentukan Kualitas Terjemahan</h3>
<p><strong>A. Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Untuk bisa meningkatkan kualitas terjemahan kita, pertama-tama kita perlu menentukan terlebih dahulu apa yang kita anggap sebagai terjemahan berkualitas. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengukur peningkatan kualitas terjemahan kita.</p>
<p>Kualitas terjemahan dapat kita jabarkan ke beberapa kategori yang bisa kita jadikan acuan. Kategori ini bisa Anda buat sendiri atau mengacu pada model yang sudah ada. Jika Anda mengacu pada model Penjaminan Mutu dari <a href="http://www.lisa.org/">LISA</a> misalnya, beberapa kategori yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas antara lain Keakuratan, Terminologi, Bahasa, Gaya, Aturan Negara, Konsistensi, dsb. Dengan kategori ini, kita dapat memilah-milah kesalahan terjemahan pada terjemahan kita agar lebih mudah mengevaluasinya. Berdasarkan kategori di atas, nantinya kita dapat membuat tabel sederhana seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Keakuratan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Konsistensi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Terminologi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bahasa</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>“Not many” diterjemahkan sebagai “Sedikit sekali”</td>
<td></td>
<td></td>
<td>Awalan di- dipisah pada kata “di cari”</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>“Anda” ditulis dengan huruf kecil (“anda”)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 1. Kategori Kualitas Terjemahan</em></p>
<p><strong>B. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Perlu diingat bahwa jenis terjemahan yang berbeda biasanya juga akan mempengaruhi bobot kategori kualitas yang ada. Misalnya, untuk terjemahan karya fiksi, kesalahan dalam hal penggunaan bahasa target dan gaya bahasa mungkin akan jauh lebih mempengaruhi kualitas daripada kesalahan pada konsistensi dan keakuratan. Sebaliknya, pada terjemahan manual elektronik misalnya, kesalahan pada konsistensi dan terminologi akan berpengaruh lebih besar pada kualitas daripada kesalahan pada gaya dan aturan bahasa.</p>
<p>Untuk memfasilitasi adanya perbedaan seperti ini, kita perlu memberikan bobot untuk masing-masing kategori yang disesuaikan dengan kebutuhan kita akan terjemahan yang berkualitas. Jika Anda ingin mengukur kualitas terjemahan novel yang Anda kerjakan, berilah bobot 2 untuk gaya dan bahasa misalnya. Dengan demikian, setiap kali ada kesalahan yang ditemukan untuk kategori ini, jumlahnya akan dikalikan dua sementara kesalahan pada kategori yang lain nilainya hanya 1. Jika Anda sudah melengkapi tabel di atas, Anda bisa memasukkan jumlah kesalahan yang ada ke dalam tabel seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Kategori</strong></td>
<td width="25%"><strong>Kesalahan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bobot</strong></td>
<td width="25%"><strong>Total</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Bahasa</strong></td>
<td>1</td>
<td>2</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Terminologi</strong></td>
<td>0</td>
<td>1</td>
<td>0</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Keakuratan</strong></td>
<td>1</td>
<td>1</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Gaya</strong></td>
<td>4</td>
<td>2</td>
<td>8</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Jumlah</strong></td>
<td>6</td>
<td>-</td>
<td>10</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 2. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</em></p>
<p><strong>C. Standar Kualitas Terjemahan</strong></p>
<p>Ingat bahwa jumlah kesalahan wajarnya akan dipengaruhi oleh besarnya terjemahan yang Anda evaluasi. Semakin besar teks yang Anda evaluasi semakin besar kemungkinan ditemukannya lebih banyak kesalahan. Oleh karena itu, jumlah total dalam tabel di atas akan tidak dapat dibandingkan jika besar teks yang Anda evaluasi berbeda.</p>
<p>Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat menyamakan besar teks yang Anda evaluasi, misalnya 500 kata. Jadi setiap kali Anda akan melakukan evaluasi, teks harus Anda potong terlebih dahulu agar besarnya sesuai dengan standar yang Anda tentukan, 500 kata. Cara lain yang dapat dilakukan, dan yang lebih mudah, adalah dengan menghitung nilai untuk setiap sekian kata. Misal jika Anda ingin mengetahui nilai Anda dalam setiap 500 kata yang terjemahkan dari teks yang besarnya 1250 kata, dari tabel di atas Anda dapat menghitungnya seperti berikut:</p>
<p style="text-align: center;">Nilai per 500 kata = (Total Kesalahan x 500) / Jumlah kata</p>
<p style="text-align: center;">= (10 x 500) / 2500 = 4</p>
<p>Dengan menggunakan nilai yang sudah Anda hitung seperti di atas, Anda dapat menentukan berapa standar yang ingin Anda gunakan untuk menilai kualitas terjemahan Anda. Ingat, semakin besar nilai Anda, itu berarti semakin banyak kesalahan yang Anda lakukan. Semakin baik terjemahan, nilainya akan semakin mendekati nol.</p>
<h3>2. Menentukan pengevaluasi</h3>
<p>Untuk menjaga keobjektifan evaluasi, kita memerlukan bantuan pihak kedua untuk mengevaluasi terjemahan kita. Pengevaluasi ini bisa merupakan teman penerjemah Anda yang bersedia membantu, atau pun penerjemah lain yang bisa Anda bayar untuk melakukan evaluasi. Menentukan penerjemah yang akan mengevaluasi kita biasanya tidak mudah. Ke depannya, penilaian kualitas terjemahan kita akan bergantung pada pengevaluasi ini. Karena itu, kita perlu mencari penerjemah yang tepat untuk mengevaluasi hasil terjemahan kita.</p>
<p>Dengan menggunakan sistem evaluasi yang telah kita buat untuk diri kita, kita bisa melakukan evaluasi pada penerjemah yang akan mengevaluasi kita tersebut. Dengan standar yang telah kita tetapkan, jika penerjemah lolos evaluasi tersebut kita dapat menggunakannya untuk mengevaluasi terjemahan kita. Setelah itu, Anda bisa mengirimkan hasil terjemahan Anda ke penerjemah tersebut untuk dievaluasi &#8212; pastikan terjemahan yang Anda pilih untuk dievaluasi tersebut tidak terikat oleh perjanjian kerahasiaan dengan klien.</p>
<h3>3. Memverifikasi hasil evaluasi</h3>
<p>Setelah terjemahan Anda selesai dievaluasi dan Anda menerima hasil evaluasi, kita perlu melakukan verifikasi atas hasil tersebut. Verifikasi perlu dilakukan agar hasil evaluasi benar-benar valid sesuai dengan yang Anda harapkan dan pengevaluasi telah melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan sistem yang telah kita buat.</p>
<p>Verifikasi ini tidak dimaksudkan agar kita dapat membohongi diri sendiri dengan mencari pembenaran untuk kesalahan valid yang telah ditemukan pengevaluasi. Oleh karena itu, kita harus berusaha seobjektif mungkin dalam melakukan verifikasi. Dalam proses ini, yang harus Anda lakukan adalah menganalisis setiap kesalahan dan kategori yang telah ditemukan. Ada kalanya pengevaluasi akan keliru dalam menetapkan kategori pada kesalahan terjemahan Anda. Dengan cara ini, pengukuran kualitas terjemahan Anda akan lebih akurat.</p>
<p>Sering juga pengevaluasi akan bersikap subjektif dan mencatat perbedaan gaya sebagai kesalahan terjemahan. Misalnya saja, Anda lebih memilih menggunakan kata “bisa” sedang menurut penerjemah tersebut kata “dapat” dirasa lebih tepat. Dengan mempertimbangkan konteksnya, sering kali perbedaan gaya seperti ini tidak cukup kuat argumennya untuk dipertimbangkan sebagai kesalahan terjemahan. Oleh karena itu, Anda perlu menyingkirkan kesalahan-kesalahan seperti ini dalam hasil evaluasi.</p>
<h3>4. Mengenali kelemahan</h3>
<p>Setelah tabel <em>Kategori Kesalahan Terjemahan</em> Anda dilengkapi dengan kesalahan-kesalahan yang ditemukan oleh pengevaluasi dan telah Anda verifikasi, Anda dapat melanjutkan dengan melakukan penghitungan pada tabel Bobot Kategori Kualitas terjemahan. Setelah selesai, Anda akan mendapatkan total nilai Anda untuk evaluasi tersebut. Berdasarkan standar kualitas yang telah Anda tetapkan, Anda dapat mengetahui apakah terjemahan yang kirim untuk evaluasi tersebut memiliki kualitas yang Anda harapkan atau tidak.</p>
<p>Selanjutnya, Anda dapat menganalisis lebih jauh wilayah kekurangan atau kelebihan Anda dengan melihat kesalahan yang ada berdasarkan kategorinya. Anda mungkin baru menyadari bahwa Anda sering kali melakukan kesalahan pengetikan; Anda mungkin tidak pernah tahu bahwa selama ini Anda selalu tidak sengaja menambahkan arti baru ke sebuah kalimat dan sebagainya. Semakin Anda melakukan evaluasi ini, Anda mungkin akan semakin melihat banyak kesalahan yang secara logika mungkin tidak akan mungkin Anda lakukan. Semakin dalam Anda melakukan analisis, semakin banyak kelemahan yang dapat Anda simpulkan dari kualitas terjemahan Anda.</p>
<h3>5. Menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan</h3>
<p>Meskipun tentu saja tidak ada strategi mutlak yang bisa untuk mengatasi suatu masalah, Anda paling tidak dapat merancang strategi yang sesuai dengan kelemahan yang telah Anda temukan dan peningkatan kualitas yang Anda harapkan. Misal, ternyata Anda baru menyadari bahwa Anda lemah di kategori bahasa. Anda dapat merancang proses terjemahan Anda agar lebih menekankan pada deteksi kesalahan pada kategori ini.</p>
<p>Umpamanya Anda sering melakukan kesalahan ketik. Mungkin Anda bisa menambahkan langkah pemeriksaan ejaan dengan perangkat lunak pemeriksa ejaan setelah Anda selesai menerjemahkan dan menyunting agar apabila ada kesalahan ketik yang terlewatkan pada tahap pemeriksaan Anda, Anda masih dapat menangkapnya sebelum diserahkan ke klien. Jika kelemahan Anda adalah gaya terjemahan Anda sangat kaku dan tingkat keterbacaannya rendah, Anda bisa mulai menambahkan waktu tunggu 1 hari ke dalam proses terjemahan Anda. Ini agar Anda mempunyai waktu tambahan untuk memisahkan diri dari terjemahan Anda dan dapat membacanya secara objektif untuk melakukan perbaikan jika perlu.</p>
<h3>6. Melakukan evaluasi secara berkala</h3>
<p>Untuk mengetahui peningkatan (atau penurunan) kualitas terjemahan kita, kita perlu melakukan evaluasi terjemahan secara berkala. Dengan cara ini, kita bisa terus mengetahui kualitas terjemahan kita. Anda bisa merancang waktunya sesuai dengan kebutuhan Anda dan pekerjaan Anda. Misalkan Anda hanya menerima pekerjaan terjemahan misalnya satu bulan sekali, tentunya secara finansial tidak akan sehat jika Anda harus melakukan evaluasi ini setiap bulan, 6-12 bulan sekali mungkin cukup. Sebaliknya jika Anda setiap hari menerjemahkan puluhan halaman, mungkin melakukan evaluasi setiap 3 bulan sekali pun tidak lah mencukupi. Anda bisa membuat sebuah tabel sederhana untuk memonitor hasil evaluasi Anda seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="20%"><strong>Tanggal</strong></td>
<td width="20%"><strong>Pengevaluasi </strong></td>
<td width="20%"><strong>Nama berkas</strong></td>
<td width="20%"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="20%"><strong>Catatan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 3. Hasil Evaluasi Berkala</em></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, biasanya sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan dan akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Karena itu, tidak adanya keluhan dari klien seharusnya tidak dijadikan ukuran bahwa kualitas terjemahan kita sudah sempurna. Sebagai penerjemah lepas kita perlu mawas diri dan menciptakan sistem evaluasi kualitas sendiri untuk dapat terus memonitor dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Metode yang dipaparkan di atas hendaknya tidak dilihat sebagai panduan lengkap untuk melakukan evaluasi terjemahan mandiri; melainkan sebagai inspirasi dan awalan untuk menciptakan sistem evaluasi kualitas terjemahan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing penerjemah lepas.</p>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pedoman bagi Penerjemah</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/pedoman-bagi-penerjemah/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/pedoman-bagi-penerjemah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 17:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional adalah buku berbahasa Indonesia pertama yang saya temukan yang memberikan pedoman teoritis sekaligus praktis untuk melakukan penerjemahan. Buku ini adalah buah karya Rochayah Machali (Rochie) yang telah berkecimpung, baik sebagai teoritisi maupun praktisi, dalam bidang penerjemahan sejak awal 1990-an. Saat ini beliau menjadi pengajar di School of Languages and Linguistics, University of New South Wales, Sydney, Australia.

Buku terbitan Penerbit Kaifa (Mizan) setebal 252 halaman ini sangat bermanfaat bagi para penerjemah; bekal bagi penerjemah pemula dan pengingat bagi penerjemah kawakan. Hampir semua aspek penerjemahan dimuat secara terstruktur dengan bahasa yang cukup mudah untuk dipahami. Harga eceran Rp39.500 yang ditetapkan untuk buku ini adalah investasi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan penerjemah dan memperbaiki kualitas terjemahannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display: inline; margin-left: 10px; margin-right: 0px;" src="http://photo.goodreads.com/books/1262745249m/7501805.jpg" alt="" align="right" /><em>Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional</em> adalah buku berbahasa Indonesia pertama yang saya temukan yang memberikan pedoman teoritis sekaligus praktis untuk melakukan penerjemahan. Buku ini adalah buah karya Rochayah Machali (Rochie) yang telah berkecimpung, baik sebagai teoritisi maupun praktisi, dalam bidang penerjemahan sejak awal 1990-an. Saat ini beliau menjadi pengajar di School of Languages and Linguistics, University of New South Wales, Sydney, Australia.<br />
<span id="more-668"></span></p>
<h3>Tinjauan</h3>
<p>Buku ini terdiri dari 11 bab, 5 lampiran, dan suatu daftar pustaka yang mencantumkan banyak rujukan. Meskipun pembahasan dalam setiap bab cukup mendalam, adanya uraian tentang cara pembahasan pada bagian awal serta kesimpulan pada bagian akhir masing-masing bab sangat memudahkan pemahaman isi. Setiap bab pun dilengkapi dengan contoh-contoh dan latihan sebagai sarana pemantapan pemahaman pembaca.</p>
<p>Bab-bab yang terdapat dalam buku ini adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Penerjemahan dan penerjemah.</li>
<li>Konsep dasar mengenai bahasa, fungsi, dan ragam.</li>
<li>Proses dan tahap penerjemahan.</li>
<li>Metode penerjemahan.</li>
<li>Prosedur penerjemahan.</li>
<li>Teknik penerjemahan.</li>
<li>Pergeseran makna umum, perubahan maksud, ketaksaan, dan pemadanan.</li>
<li>Penilaian terjemahan.</li>
<li>Topik khusus 1: Seksisme bahasa dan penerjemahan.</li>
<li>Topik khusus 2: Perspektif wacana dan penerjemahan.</li>
<li>Pendidikan dan pelatihan penerjemahan.</li>
</ol>
<p>Lampirannya antara lain memuat daftar organisasi dan tempat pendidikan penerjemah serta terjemahan bahasa Indonesia dari <em>Translator&#8217;s Charter</em> FIT.</p>
<h3>Ringkasan</h3>
<p>Berikut adalah ringkasan dari isi buku yang disajikan dalam bentuk padat: satu alinea untuk masing-masing bab.</p>
<p><strong>Penerjemahan</strong> bukanlah semata kegiatan menggantikan teks bahasa sumber (TSu) ke dalam teks bahasa sasaran (TSa) melainkan perlu dipandang sebagai suatu tindak komunikasi, bukan sekadar kumpulan kata dan kalimat. Penerjemah perlu melihat penerjemahan dari dua pendekatan, yaitu <em>proses</em> dan <em>produk</em>, serta perlu dibekali dengan perangkat <em>intelektual</em> (kemampuan dalam bahasa sumber dan sasaran, pengetahuan tentang topik terjemahan, penerapan pengetahuan pribadi, serta keterampilan) dan <em>praktis</em> (penggunaan sumber rujukan serta pengenalan konteks langsung maupun tak langsung).</p>
<p><strong>Bahasa</strong> merupakan (1) sistem yang terstruktur, (2) sistem bunyi yang bersifat manasuka, serta (3) sarana komunikasi antarpribadi. Aspek kebahasaan yang harus dipahami dan diperhatikan oleh penerjemah antara lain adalah bentuk (bunyi, tulisan, dan struktur), makna, fungsi, dan ragam bahasa. Hierarki <em>satuan bahasa</em> adalah kalimat, klausa, frase, kata, dan morfem. <em>Makna</em> dapat dilihat dari segi hubungan dengan kata lain (leksikal, gramatikal, kontekstual, dan sosiokultural) serta dari segi asalnya (primer atau referensial dan sekunder atau konotatif). <em>Fungsi bahasa</em> dapat digolongkan menjadi (1) ekspresif, (2) informatif, (3) vokatif, (4) estetik, (5) fatis, serta (6) metalingual. <em>Ragam bahasa</em> adalah perbedaan yang ada dalam penggunaan suatu bahasa yang bisa bersumber dari variasi internal maupun eksternal. Ada empat istilah untuk menunjukkan keragaman bahasa, yaitu (1) dialek, (2) laras, (3) gaya, dan (4) idiolek. Gaya bahasa dapat dibagi menjadi lima, yaitu ragam beku, resmi, operasional, santai, dan akrab. Pembagian ragam juga dapat dilakukan menurut ragam baku (dengan ciri kemantapan dinamis dan kecendikiaan) dan tak baku.</p>
<p><strong>Proses</strong> penerjemahan terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) analisis, (2) pengalihan, dan (3) penyerasian, yang masing-masing dapat diulangi untuk lebih memahami isi teks. <em>Analisis</em> dilakukan untuk memahami (1) maksud penulisan, (2) cara atau gaya penyampaian, serta (3) pemilihan satuan bahasa. <em>Pengalihan</em> dilakukan untuk menggantikan unsur TSu dengan TSa yang sepadan baik bentuk maupun isinya dengan mengingat bahwa kesepadanan bukanlah kesamaan. <em>Penyerasian</em> dilakukan untuk penyesuaian hasil terjemahan dengan kaidah dan peristilahan dalam bahasa sasaran. Dalam analisis dan pengalihan, dapat dimanfaatkan konstruk konteksi situasi yang terdiri dari tiga unsur: bidang (<em>field</em>), suasana atau nada (<em>tenor</em>), dan cara (<em>mode</em>). Setelah analisis, seorang penerjemah harus memilih orientasi ke bahasa sumber (BSu) atau bahasa sasaran (BSa) dengan mempertimbangkan (1) maksud penerjemahan, (2) pembaca, (3) jenis teks, serta (4) kesenjangan waktu.</p>
<p><strong>Metode</strong> penerjemahan adalah cara melakukan penerjemahan menurut suatu rencana tertentu. Ada delapan metode penerjemahan, yaitu (1) kata-demi-kata, (2) harfiah, (3) setia, (4) semantis, (5) adaptasi, (6) bebas, (7) idiomatik, (8) komunikatif. Metode semantis dan komunikatif sering dianggap paling memenuhi tujuan ketepatan dan efisiensi dalam penerjemahan.</p>
<p><strong>Prosedur</strong> dan metode penerjemahan dibedakan menurut satuan penerapannya: Metode pada keseluruhan teks sedangkan prosedur pada satuan bahasa seperti kalimat, klausa, frase, dan kata. Lima prosedur penerjemahan terpenting adalah (1) transposisi, (2) modulasi, (3) adaptasi, (4) pemadanan berkonteks, dan (5) pemadanan bercatatan. <em>Transposisi atau pergeseran bentuk</em> adalah pengubahan bentuk gramatikal dari BSu ke BSa yang dibagi menjadi empat jenis, yaitu (1) wajib dan otomatis, (2) penyesuaian struktur gramatika, (3) pewajaran ungkapan, serta (4) pengisian kesenjangan leksikal. <em>Modulasi atau pergeseran makna</em> adalah pergeseran struktur yang juga menyebabkan perubahan perspektif, sudut pandang, atau segi maknawi lain yang dibagi menjadi (1) wajib, yang dilakukan apabila suatu kata, frase, atau struktur tidak ada padanannya dalam BSa, serta (2) bebas, yang dilakukan karena alasan nonlinguistik. <em>Adaptasi</em> adalah pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu. <em>Pemadanan berkonteks</em> adalah pemberian suatu informasi dalam konteks sehingga maknanya jelas. <em>Pemadanan bercatatan</em> adalah pemberian catatan untuk hal yang tak bisa ditangani oleh prosedur-prosedur lain.</p>
<p><strong>Teknik</strong> penerjemahan adalah hal-hal praktis, berbeda dengan metode dan prosedur yang kurang lebih normatif, yang langsung berkaitan dengan langkah praktis dan pemecahan masalah dalam penerjemahan. Masalah praktis ini terkait dengan berbagai masalah kebahasaan antara lain (1) fungsi teks, (2) gaya bahasa, (3) ragam fungsional, (4) dialek, serta (5) masalah khusus yang perlu penanganan praktis seperti idiom dan metafora.</p>
<p><strong>Kesepadanan</strong> adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam penerjemahan. Pergeseran yang terjadi dalam proses penerjemahan karena metode, prosedur, dan/atau teknik yang diterapkan harus menjamin (1) fungsi dan maksud umum teks tidak berubah, serta (2) makna referensial TSu dipertahankan dalam TSa. Ketaksaan, teks yang tidak runtut, serta unsur yang meragukan harus dikenali dengan jeli dan diputuskan oleh penerjemah.</p>
<p><strong>Penilaian</strong> terjemahan dilakukan terhadap produk dan bukan proses. Dalam penilaian terjemahan, yang perlu dipahami adalah (1) segi dan aspek penilaian, (2) kriteria penilaian, serta (3) cara penilaian. <em>Segi dan aspek penilaian</em> bisa dilihat antara lain dari (1) ketepatan (linguistik, semantik, pragmatik), (2) kewajaran ungkapan, (3) peristilahan, dan (4) ejaan. <em>Kriteria penilaian</em> ditetapkan terhadap masing-masing segi atau aspek penilaian baik secara positif maupun secara negatif. <em>Cara penilaian</em> terbagi dua, yaitu cara umum (relatif dapat diterapkan pada segala jenis terjemahan) dan cara khusus (untuk jenis teks khusus seperti teks bidang hukum atau puisi). Pada akhirnya, penilaian terjemahan dilakukan terhadap ada tidaknya serta besarnya penyimpangan makna referensial yang terjadi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Buku terbitan Penerbit Kaifa (Mizan) setebal 252 halaman ini sangat bermanfaat bagi para penerjemah; bekal bagi penerjemah pemula dan pengingat bagi penerjemah kawakan. Hampir semua aspek penerjemahan dimuat secara terstruktur dengan bahasa yang cukup mudah untuk dipahami. Harga eceran Rp39.500 yang ditetapkan untuk buku ini adalah investasi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan penerjemah dan memperbaiki kualitas terjemahannya.</p>
<p><em>Penulis: </em><a href="http://ivanlanin.wordpress.com"><em>Ivan Lanin</em></a><em>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/pedoman-bagi-penerjemah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sexy</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 17:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[sexy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy. Siapakah Bahterawati yang paling sexy?

Simak pembahasan dengan nada santai dan canda dari Pak Setyadi tentang istilah ini di Blog Bahtera. Mungkin cocok untuk sekadar iseng menemani akhir pekan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan <em>sexy</em>”. Kalimat ini bukan suatu  pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin  menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan <em>sexy</em>. Biasanya orang  sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “<em>sexy</em>” meski akan susah  menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun  demikian mereka, terutama <em>cewek</em>, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun  anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan <em>sexy</em>.</p>
<p><span id="more-663"></span>Orang yang tahu tata bahasa bisa saja mengandalkan kamus untuk mencari makna  istilah tersebut. Jawaban singkat memang gampang didapat dari kamus: <em>S</em><em>ex,</em> nomina, organ atau kategori yang membedakan makhluk lelaki dari perempuan,  titik. Namun, untuk adjektiva <em>sexy, </em>jawab kamus akan “ngaco” juga bila  diterjemahkan. Di sana ada <em>amorous</em>, <em>lustful</em>, <em>sensual</em>,  <em>erotic</em>, <em>passionate</em>, dan sebagainya yang semua boleh dikata  mengarah atau mengacu pada gairah, hasrat, minat bercinta, atau, gamblangnya,  nafsu berahi.</p>
<p>Benarkah para cewek kini ingin berpenampilan mengundang nafsu seperti itu?  Inilah persoalan bahasa yang menarik karena istilah itu berasal dari bahasa  asing. Maknanya bisa multitafsir.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> sebenarnya belum terlalu lama masuk khazanah budaya  Indonesia. Istilah yang lebih populer pada awal tahun 50-an adalah <em>sex  appeal</em>, atau daya tarik seks. Bintang film yang hebat daya tarik seksnya  disebut sebagai bom seks.  <em>Icon</em> bom seks yang paling terkenal pada masa  itu adalah Marilyn Monroe. Pada masa itu, istilah <em>sex appeal</em> ataupun bom  seks biasanya lebih mengacu kepada, maaf, ukuran payudara (saja). <em>Cewek</em> yang  ukuran miliknya besar dijuluki sebagai “marilin monru”. Percaya atau tidak, pada  masa itu orang akan merasa malu bila dijuluki (mungkin disindir) sebagai marilin  monru.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> baru muncul dan jadi populer menyusul beredarnya film  serial Amerika berjudul “<em>Sexy</em> <em>Susan”</em>. Kemudian dilatahi film  Indonesia “Inem Pelayan Seksi” di era 1960-an. Dari era itulah kiranya mulai  muncul citra yang tidak semata-mata terpusat pada wilayah dada. Dan orang tak  merasa malu lagi, bahkan bangga, disebut <em>sexy</em>. Benarkah pergeseran citra  kesyahwatan beriringan dengan “dinamika bahasa”?</p>
<p>Pada era tersebut mulai juga proses “pembelajaran” bagi kaum muda tentang  budaya berpacaran ala barat yang direpresentasikan oleh adegan dalam film  Amerika. Ambil contoh misalnya kata cium dengan derivasinya “berciuman”. Dalam  etimologi Indonesia jelas bahwa kegiatan itu dilakukan dengan indra hidung. Dan  memang itulah cara asli orang Indonesia dulu berciuman, hidung menempel pipi  (<em>Kamus Moderen Sutan Zain</em>). Sedangkan padanan bahasa Inggris <em>kiss</em> adalah sentuhan dengan bibir (<em>kamus Webster</em>), bukan hidung. Bahkan pada  masa itu pula mulai terdengar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Onomatope">onomatope</a> “cipok”, bunyi dua pasang bibir  yang berkecupan (KBBI). Bunyi itu tak mungkin dihasilkan oleh sentuhan hidung  pada pipi. Inikah contoh pameo “bahasa menunjukkan bangsa”?</p>
<p><em>Icon</em> klasik yang mewujud sifat <em>sexy</em> juga semakin tidak populer.  Orang sudah hampir lupa simbol-simbol ke-<em>sexy</em>-an tempo dulu yang lebih  santun, misalnya hidung (Cleopatra), senyum (Monalisa), dan betis (Ken Dedes).</p>
<p>Para selebritas layar kaca dan pengasuh <em>infotainment</em> juga pada sewot  mengurai istilah <em>sexy.</em> Julia Perez merasa <em>sexy </em>tapi tidak <em>sensual. </em>Dewi Persik emoh disebut seronok, namun menurut seorang <em>presenter</em>,  dia semakin liar, sangat <em>sexy</em> bahkan boleh dikata <em>vulgar. </em>Konon  ke-<em>sexy</em>-an Cinta Laura ada pada suaranya. Mulan Jameela merasa tidak <em>sexy </em>walau  dibilang bahwa yang mendongkrak namanya adalah ke-<em>sexy</em>-an.</p>
<p>Secara naluriah tentunya kaum lelakilah yang menjadi “sasaran” perempuan yang  ingin berpenampilan <em>sexy. </em>Namun demikian belum banyak kaum Adam bersuara  tentang masalah ini. Paling-paling mereka <em>ngerumpi</em> tentang asyiknya menikmati  bermacam goyang para pesohor layar kaca itu. Selama ini belum banyak terdengar  lelaki yang mendambakan pacar se-<em>sexy</em> Dewi Persik, Inul, atau Sarah Azhari.  Bahkan ada gejala meluas, idola fisik mereka telah bergeser ke citra Happy Salma  atau Diah Permatasari, yang tentu tidak mungkin dibanding dengan Monroe ataupun  Persik.</p>
<p>Siapakah Bahterawati yang paling <em>sexy</em>? Apakah Sang Evangelist bahasa  Indonesia tidak ingin meng-Indonesia-kan istilah ini? Tolonglah!</p>
<p><em>Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akan Terbit: Tersesat Membawa Nikmat Versi Braille</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 07:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mila Kartina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Januari 2010 ini, moderator milis Bahtera (diwakili oleh Sofia Mansoor serta Maria E. Sundah) dan Yayasan Mitra Netra (YMN) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama  penerbitan buku Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat (TMN) dalam versi Braille.  Kerja sama penerbitan TMN dalam format Braille ini adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh 45 orang penulis TMN, termasuk pendiri dan anggota tim moderator milis Bahtera, kepada Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang diselenggarakan oleh YMN.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Januari 2010 ini, moderator milis Bahtera (diwakili oleh Sofia Mansoor serta Maria E. Sundah) dan Yayasan Mitra Netra (YMN) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama  penerbitan buku <a href="http://bahtera.org/blog/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/">Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat</a> (TMN) dalam versi Braille.  Kerja sama penerbitan TMN dalam format Braille ini adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh 45 orang penulis TMN, termasuk pendiri dan anggota tim moderator milis Bahtera, kepada Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang diselenggarakan oleh YMN.</p>
<p><span id="more-660"></span>Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat (TMN), buku perdana milis Bahtera yang mengupas seluk-beluk dunia penerjemahan dan kejurubahasaan di Indonesia ini diterbitkan untuk menyambut ulang tahun ke-12 Bahtera pada tahun 2009, di samping sebagai upaya untuk memperkenalkan profesi penerjemah dan dunia penerjemahan yang tampaknya belum begitu populer di Indonesia. Dalam buku ini, 45 orang Bahterawan &#8212; sebutan “resmi” anggota milis Bahtera &#8212; menceritakan aneka pengalaman pribadi dan profesional mereka yang begitu unik sebagai penerjemah dan jurubahasa dalam 61 tulisan dengan bahasa yang ringan dan lugas.</p>
<p>Gerakan Seribu Buku Tunanetra merupakan salah satu program yang dicanangkan YMN sejak tanggal 30 Januari 2006 dan terus berlangsung hingga kini dengan semakin banyak pengarang, penerbit, maupun relawan dari kalangan masyarakat yang berpartisipasi.</p>
<p>Dalam proses konversi buku biasa menjadi buku Braille, pengarang atau penerbit meminjamkan soft file dari buku yang mereka terbitkan kepada YMN. Sementara itu, masyarakat luas yang berminat menjadi relawan membantu proses ini dengan cara mengetik ulang isi buku pada file MS Word dan mengirimkan file MS Word tersebut ke YMN. Selanjutnya, semua file buku, baik dari penerbit, penulis, maupun relawan, diolah menjadi file berformat Braille oleh YMN dengan menggunakan perangkat lunak Mitranetra Braille Converter (MBC), untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. Agar buku tersebut dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia, YMN kemudian mendistribusikannya melalui layanan perpustakaan Braille online yang dikelolanya, <a href="http://www.kebi.or.id/" target="_blank">www.kebi.or.id</a> (KEBI singkatan dari Komunitas E-Braille Indonesia), yang beranggotakan para produser buku Braille di Indonesia.</p>
<p>Penerbitan buku TMN versi Braille diharapkan dapat membawa angin segar bagi hubungan kerja sama jangka panjang yang saling mendukung antara milis Bahtera dan Yayasan Mitra Netra, antara lain mengingat profesi penerjemah dan juru bahasa adalah profesi yang memungkinkan untuk dijalani oleh tunanetra. Beberapa tunanetra yang berprofesi sebagai penerjemah dan juru bahasa antara lain adalah DR. Didi Tarsidi, Ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia), dan Ir. Nyantoso Sukirno seorang penerjemah bersumpah. Mudah-mudahan TMN versi Braille dapat membantu memberi masukan kepada generasi muda tunanetra yang ingin menjalani profesi sebagai penerjemah atau juru bahasa.</p>
<p>Jakarta, 23 Januari 2010<br />
Mila Kartina Kamil<br />
(salah seorang kontributor buku TMN, relawan pembaca buku bicara untuk tunanetra di YMN)</p>
<p><strong>Tentang Milis Bahtera</strong></p>
<p><a href="http://bahtera.org">Bahtera</a> (BAHasa dan TERjemahan indonesiA) adalah milis untuk para penerjemah Indonesia yang didirikan pada 3 Juli 1997 oleh Bashir Basalamah, Wiwit Margawiati, dan Sofia Mansoor. Saat ini Bahtera beranggotakan lebih dari 2.000 orang yang berasal dari sejumlah kota besar dan kecil di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Selain itu, ada juga anggota yang berdomisili di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.</p>
<p><strong>Tentang Yayasan Mitra Netra (YMN)</strong></p>
<p><a href="http://www.mitranetra.or.id/">Yayasan Mitra Netra</a> adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan tunanetra yang didirikan di Jakarta pada tanggal 14 Mei 1991. YMN sebagai sebuah organisasi nirlaba yang memusatkan kegiatannya pada peningkatan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja adalah satu dari sangat sedikit &#8220;penerbit&#8221; buku untuk tunanetra di negeri ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UU 24/2009, penerjemah, dan juru bahasa</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/uu-242009-penerjemah-dan-juru-bahasa/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/uu-242009-penerjemah-dan-juru-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 18:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[Peraturan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari Sabtu, 16 Jan 2010, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) mengadakan suatu diskusi yang membahas topik "UU 24/2009: Peluang Kerja untuk Penerjemah dan Juru Bahasa" di Pusat Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur. Diskusi dipandu oleh Kukuh Sanyoto (Wakil Ketua II HPI) sebagai moderator dan menghadirkan dua pembicara: Sugiyono Shinutama (Kabid Pengembangan Bahasa dan Sastra Pusat Bahasa) dan Junaiyah H. Matanggui (Konsultan dan Praktisi Bahasa Indonesia).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/01/UU-24-2009-BBLNLK-15-Jan-2010-Sugiyono-Pusat-Bahasa.jpg"></a>Pada hari Sabtu, 16 Jan 2010, <a href="http://www.hpi-net.org/">Himpunan  Penerjemah Indonesia</a> (HPI) mengadakan suatu diskusi yang membahas topik  &#8220;<em>UU 24/2009: Peluang Kerja untuk Penerjemah dan Juru Bahasa</em>&#8221; di <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/">Pusat Bahasa</a>, Rawamangun, Jakarta  Timur. Diskusi ini dipandu oleh Kukuh Sanyoto (Wakil Ketua II HPI) sebagai moderator  dan menghadirkan dua pembicara: Sugiyono Shinutama (Kabid Pengembangan Bahasa  dan Sastra Pusat Bahasa) dan Junaiyah H. Matanggui (Konsultan dan Praktisi  Bahasa Indonesia).</p>
<p><span id="more-655"></span>Dalam acara yang dihadiri oleh lebih kurang 40  orang dan berlangsung antara pukul 10.00&#8211;12.30 ini, Sugiyono, sebagai orang  yang terlibat langsung dalam proses penyusunan UU 24/2009, <a href="http://bit.ly/5Bvo6f">menjabarkan</a> isi undang-undang ini. Sedangkan  Junaiyah, sebagai ahli bahasa yang sering dilibatkan dalam pembahasan  RUU, membahas beberapa kesalahan umum yang banyak ditemukan dalam naskah RUU.</p>
<p>Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera,  Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan atau disingkat BBLNLK disahkan  pada tanggal 9 Juli 2009. Sesuai dengan namanya, salah satu topik yang diatur  pada undang-undang (UU) ini adalah tentang bahasa negara.</p>
<p><strong>Isi undang-undang bahasa negara</strong></p>
<p>Masalah bahasa negara secara spesifik dijelaskan dalam 21 pasal  (pasal 25  sampai 45) dari total 74 pasal yang ada dalam UU ini. Sedangkan tiga pasal (1,  72, dan 73), meskipun tidak spesifik, juga membahas bahasa negara.</p>
<p>Diagram berikut menggambarkan struktur pasal-pasal tentang bahasa di dalam UU  24/2009.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/01/UU-24-2009-BBLNLK-15-Jan-2010-Sugiyono-Pusat-Bahasa.jpg"><img class="aligncenter" title="UU 24 2009 BBLNLK - 15 Jan 2010 - Sugiyono - Pusat Bahasa" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/01/UU-24-2009-BBLNLK-15-Jan-2010-Sugiyono-Pusat-Bahasa-1024x640.jpg" alt="" width="450" height="281" /></a></p>
<p>Pasal 1 menjelaskan tentang definisi bahasa Indonesia (bahasa resmi  nasional), bahasa daerah (bahasa yang digunakan secara turun-temurun di daerah  di Indonesia), dan bahasa asing (bahasa selain bahasa Indonesia dan bahasa  daerah).</p>
<p>Pasal 25 menjelaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara dan  bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa.  Fungsinya adalah sebagai (1) jati diri bangsa, (2) kebanggaan nasional, (3)  sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta (4) sarana komunikasi antardaerah  dan antarbudaya daerah.</p>
<p>Pasal 26 sampai 39 menjelaskan kewajiban menggunakan bahasa Indonesia dalam  hal-hal berikut.</p>
<ol>
<li><strong>Peraturan perundang-undangan</strong>.</li>
<li><strong>Dokumen resmi negara</strong>, misalnya surat keputusan, surat  berharga, ijazah, surat keterangan, surat identitas diri, akta jual beli, surat  perjanjian, putusan pengadilan.</li>
<li><strong>Pidato resmi</strong>, yaitu pidato yang disampaikan dalam forum  resmi oleh pejabat negara atau pemerintahan, kecuali forum resmi internasional  di luar negeri yang menetapkan penggunaan bahasa tertentu. Pejabat negara yang  dimaksud adalah semua pejabat dari tingkat tertinggi sampai dan termasuk tingkat  kepala daerah tingkat II (kabupaten/kota).</li>
<li><strong>Bahasa pengantar pendidikan</strong>. Bahasa asing dapat digunakan  untuk tujuan yang mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik. Tidak  berlaku untuk satuan pendidikan asing atau satuan pendidikan khusus yang  mendidik warga negara asing.</li>
<li><strong>Layanan administrasi publik</strong>.</li>
<li><strong>Nota kesepahaman/perjanjian</strong>. Perjanjian internasional  ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa negara lain, dan/atau bahasa Inggris dan  semua naskah itu sama aslinya. Khusus untuk perjanjian dengan organisasi  internasional, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang dipilih organisasi  tersebut.</li>
<li><strong>Forum resmi nasional/internasional</strong>. Bahasa asing dapat  digunakan dalam forum yang bersifat internasional di luar negeri.</li>
<li><strong>Komunikasi resmi lingkungan kerja</strong>. Berlaku baik untuk  lingkungan kerja pemerintah maupun swasta (perusahaan yang berbadan hukum  Indonesia dan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia). Pegawai yang belum  mampu berbahasa Indonesia wajib mengikuti atau diikutsertakan dalam pembelajaran  untuk meraih kemampuan berbahasa Indonesia</li>
<li><strong>Laporan kepada instansi pemerintahan</strong>.</li>
<li><strong>Karya ilmiah</strong>. Untuk tujuan atau bidang kajian khusus, dapat  digunakan bahasa daerah atau bahasa asing.</li>
<li><strong>Nama resmi geografi dan nama diri</strong>. Termasuk di dalamnya  adalah nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran,  kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, serta  organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan  hukum Indonesia. Bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah,  budaya, adat istiadat, dan/atau keagamaan.</li>
<li><strong>Informasi produk atau jasa</strong>. Bahasa daerah atau bahasa asing  dapat disertakan jika dikeperluan.</li>
<li><strong>Rambu, penunjuk, dan informasi layanan umum</strong>. Bahasa daerah  atau bahasa asing dapat disertakan jika dikeperluan.</li>
<li><strong>Media massa</strong>. Bahasa daerah atau bahasa asing dapat  digunakan pada media massa yang mempunyai tujuan atau sasaran khusus.</li>
</ol>
<p>Pasal 40 menyebutkan bahwa keterangan lebih lanjut tentang penggunaan seperti  butir-butir di atas akan diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres).</p>
<p>Pasal 41 sampai 45 menjabarkan tentang pengembangan, pembinaan, dan  pelindungan Bahasa Indonesia, serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi  bahasa internasional.</p>
<ol>
<li>Pemerintah melalui lembaga kebahasaan mengembangkan, membina, dan melindungi  bahasa dan sastra Indonesia agar sesuai dengan perkembangan zaman</li>
<li>Pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan mengembangkan,  membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar sesuai dengan perkembangan  zaman dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.</li>
<li>Pemerintah dapat memfasilitasi warga negara Indonesia yang ingin memiliki  kompetensi berbahasa asing dalam rangka peningkatan daya saing bangsa.</li>
<li>Pemerintah dikoordinasi oleh lembaga kebahasaan meningkatkan fungsi Bahasa  Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan  berkelanjutan.</li>
<li>Lembaga kebahasaan dibentuk sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan  dan bertanggung jawab kepada Menteri.</li>
</ol>
<p>Pasal 72 tentang ketentuan peralihan menjelaskan UU ini tidak berlaku surut  terhadap peraturan yang sudah ada dan belum diganti. Pasal 73 tentang ketentuan  penutup menetapkan waktu dua tahun untuk membuat peraturan pelaksanaan UU ini  (misalnya PerPres).</p>
<h3>Kesalahan umum naskah RUU</h3>
<p>Dalam proses pembuatan rancangan undang-undang (RUU), ternyata cukup banyak  kesalahan-kesalahan yang dibuat. Konsultan atau ahli bahasa berperan penting  dalam memberikan masukan untuk perbaikan kesalahan-kesalahan tersebut. Beberapa  kesalahan yang sering ditemukan adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Huruf kapital yang diberikan bukan berdasarkan kaidah melainkan karena  kebiasaan atau rasa hormat. Huruf kapital seharusnya hanya diberikan untuk nama  diri sedangkan nama jenis tidak diberi huruf kapital. Singkatan ditulis  seluruhnya dalam huruf kapital sedangkan akronim hanya diberikan huruf kapital  pada huruf pertama. Misalnya POLRI, padahal seharusnya Polri.</li>
<li>Tanda koma yang seharusnya diberikan sebelum kata &#8220;dan&#8221; pada butir terakhir.  Misalnya &#8220;…a, b dan c peraturan itu&#8221; padahal seharusnya &#8220;…a, b, dan c peraturan  itu&#8221;.</li>
<li>Tanda titik dua. Daftar yang diawali dengan titik dua selalu dibuat seolah  sebagai serangkaian kalimat: setiap butir bernomor diawali dengan huruf kecil  (kecuali jika diawali dengan nama diri) dan diakhiri dengan tanda koma. Tiap  baris yang merupakan kalimat yang berdiri sendiri harus diawali dengan huruf  kapital dan diakhiri dengan tanda titik.</li>
<li>Definisi yang tidak berimbang, misalnya kata benda harus didefinisikan  dengan kata benda yang setara.</li>
<li>Kesalahan penggunaan kata karena tidak mengerti urutan pembentukan kata,  kaitan bentuk dan makna, perbedaan pemakaian kata yang mirip, serta penulisan  kata yang baku.</li>
</ol>
<h3>Diskusi dan tanya jawab</h3>
<p>Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, ada beberapa isu yang dibahas. Berikut  penjabaran beberapa masalah yang sempat dibicarakan.</p>
<p><strong>Sanksi</strong></p>
<p><em>Mengapa tidak ada sanksi bagi pelanggar UU bahasa negara?</em></p>
<p>Tim Pusba sudah berusaha keras untuk memasukkan ini. Tapi perdebatan mengenai  hal ini memang sangat alot karena baik di KUHP maupun KUHAP sulit ditemukan  pasal yang cocok untuk pelanggaran bahasa ini.</p>
<p>Sebagai penghibur, mungkin bisa dilihat UUD 1945. UUD sama sekali tidak  memuat sanksi tapi tetap dianggap mengikat dan dijadikan dasar bagi hampir semua  peraturan lain. Sanksi juga nanti bisa dimasukkan dalam peraturan  pelaksanaan.</p>
<p><strong>Masalah di lapangan</strong></p>
<p><em>Dalam komunikasi yang melibatkan pihak asing, penggunaan bahasa Indonesia  dapat membuat tidak lancarnya komunikasi.</em></p>
<p>Hal ini sebenarnya adalah karena orang Indonesia sendiri yang tidak  membiasakan menggunakan bahasa Indonesia. Sebenarnya beberapa masalah yang  diajukan dapat ditanggulangi seperti pada butir-butir berikut.</p>
<ol>
<li>Perjanjian dengan pihak asing yang mengikuti hukum Indonesia. Suatu  perjanjian baru berkekuatan hukum jika dibuat dalam bahasa Indonesia. Jika ini  dipahami dan ditekankan, pihak asing pasti bisa mengerti dan bukan juga suatu  masalah besar untuk kemudian menerjemahkan dokumen tersebut ke dalam bahasa yang  lebih dipahami oleh pihak-pihak terkait.</li>
<li>Forum resmi yang dilaksanakan di Indonesia. Tidak sulit untuk menambahkan  judul dalam bahasa lain di samping judul resmi bahasa Indonesia atau membuat  terjemahan terhadap dokumen-dokumen asli yang dibuat dalam bahasa Indonesia.  Lebih baik juga untuk menyediakan juru bahasa (interpreter) bagi peserta yang  tidak mengerti bahasa Indonesia&#8211;yang biasanya jumlahnya lebih  sedikit&#8211;dibandingkan harus memaksa peserta berbahasa ibu bahasa Indonesia&#8211;yang  biasanya jumlahnya lebih banyak&#8211;untuk mengikuti atau menyampaikan penuturan  dalam bahasa asing.</li>
<li>Layanan administrasi publik dan komunikasi resmi lingkungan kerja. Orang  asing yang tidak mengerti bahasa Indonesia pasti berupaya untuk mendapat bantuan  jika merasa membutuhkan.</li>
<li>Laporan resmi, karya ilmiah, dan media massa. Sama seperti forum resmi, jika  sasaran utamanya adalah penutur jati (<em>native speaker</em>) bahasa Indonesia  maka lebih baik menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa asing atau bahasa daerah  dapat digunakan untuk keperluan-keperluan khusus.</li>
<li>Nama geografi, nama diri, informasi produk, rambu, penunjuk, dan informasi  layanan umum. Alasan kenapa harus menggunakan bahasa Indonesia juga sama: Karena  sasaran utamanya adalah untuk orang Indonesia. Bahasa asing atau bahasa daerah  dapat digunakan sebagai tambahan.</li>
</ol>
<p><strong>Hubungan dengan aturan internasional</strong></p>
<p><em>Dalam suatu perjanjian internasional, biasanya pihak-pihak yang terlibat  dapat bersepakat untuk memilih bahasa mana yang digunakan sebagai naskah asli  atau perjanjian yang mengikat. Jadi tidak harus bahasa Indonesia.</em></p>
<p>UU 24/2009 sudah memfasilitasi itu dengan menyatakan dalam penjelasan pasal  31:</p>
<blockquote><p>Perjanjian internasional ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa negara lain,  dan/atau bahasa Inggris.</p>
<p>Khusus dalam perjanjian dengan organisasi internasional yang digunakan adalah  bahasa-bahasa organisasi internasional.</p></blockquote>
<p>Adanya UU ini, yang mengharuskan adanya bahasa Indonesia, malah dapat  berdampak bagus karena selama ini cukup banyak perjanjian yang hanya ditulis  dalam bahasa asing (terutama Inggris) dan tidak dalam bahasa Indonesia.</p>
<p><strong>Bahasa daerah</strong></p>
<p><em>Dengan adanya UU ini, negara tampaknya tidak mendorong kemajuan bahasa  daerah.</em></p>
<p>Bahasa Indonesia adalah <em>lingua franca</em> bagi rakyat Indonesia yang  memungkinkan semua orang dapat berkomunikasi satu sama lain dengan tak memandang  bahasa ibunya. Semakin mudahnya transportasi memudahkan orang untuk berpindah  dari satu daerah ke daerah lain. Tidak bisa lagi diasumsikan bahwa semua orang  di suatu daerah pasti mengerti bahasa lokal di daerah tersebut.</p>
<p>Bayangkan kalau layanan informasi publik atau komunikasi di lingkungan kerja  di daerah Yogya misalnya harus dilakukan dalam bahasa Jawa, misalnya. Orang  Indonesia yang berasal dari daerah lain dan tidak paham bahasa Jawa pasti  kerepotan untuk berkomunikasi, padahal ia pun berhak mendapatkan layanan yang  sama sebagai rakyat Indonesia.</p>
<p>Negara mendorong kemajuan bahasa daerah di sektor-sektor lain di luar  batasan-batasan yang melibatkan kepentingan publik. Karya ilmiah, media massa,  nama geografi, nama diri, informasi produk, serta rambu, penunjuk, dan informasi  layanan umum bisa menggunakan atau disertai dengan bahasa daerah.</p>
<p><strong>Glosarium Pusat Bahasa</strong></p>
<p><em>Apakah glosarium selalu diperbarui? Apakah bersumber dari bahasa yang  hidup di masyarakat dan memang lazim dipakai di dunia akademis? Apakah para ahli  mengetahui perkembangan peristilahan yang berkembang di masyarakat dan akademis  saat itu?</em></p>
<p>Menurut Sugiyono, glosarium daring belum diperbarui lagi. Para ahli yang  menyusun berasal dari bidang yang terkait dan seharusnya mengerti paling tidak  perkembangan istilah yang digunakan oleh kalangan akademisi.</p>
<p><em>Kesan penulis: Tidak ada penjelasan yang pasti tentang apakah istilah  tersebut memang bersumber dari masyarakat serta juga tidak ada pemastian dari  Pusba bahwa pemutakhiran glosarium memiliki jadwal yang rutin.</em></p>
<h3>Peluang dan tantangan</h3>
<p>Jika diterapkan, UU 24/2009 ini jelas sangat membuka peluang besar bagi  penerjemah dan juru bahasa. Banyak kebutuhan baru terhadap jasa dua profesi ini  yang muncul yang tadinya tidak diharuskan.</p>
<p>Tantangan yang harus dihadapi adalah, siapkah penerjemah dan juru bahasa  menerima luapan permintaan dari segi kualitas dan kuantitas ini?</p>
<p><em>Ditulis oleh <a href="http://ivanlanin.wordpress.com">Ivan Lanin</a>. Salindia presentasi dapat </em><a href="http://bit.ly/5Bvo6f"><em>diunduh di sini</em></a><em>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/uu-242009-penerjemah-dan-juru-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awalan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/awalan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/awalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 04:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[awalan]]></category>
		<category><![CDATA[prefiks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu alasan mengapa bahasa Indonesia itu keren adalah karena pembentukan kata dalam bahasa Indonesia cukup mudah dan berpola. Imbuhan atau afiks adalah alat bantu penting dalam proses tersebut yang dapat mengubah fungsi, bentuk, serta makna suatu kata. Ada tiga jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), dan akhiran (sufiks). Di antara ketiga jenis imbuhan tersebut, awalan adalah yang paling kompleks aturannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu alasan mengapa <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/2009/12/03/bahasa-indonesia-itu-keren/">bahasa Indonesia itu keren</a> adalah karena <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/2009/06/25/pembentukan-kata/">pembentukan kata</a> dalam bahasa Indonesia cukup mudah dan berpola. Imbuhan atau afiks adalah alat bantu penting dalam proses tersebut yang dapat mengubah fungsi, bentuk, serta makna suatu kata. Ada tiga jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), dan akhiran (sufiks). Di antara ketiga jenis imbuhan tersebut, awalan adalah yang paling kompleks aturannya.</p>
<p><span id="more-646"></span>Saya belum berhasil menemukan rujukan daring yang ringkas dan sederhana dalam satu halaman tentang awalan dalam bahasa Indonesia. Tulisan ini berupaya melakukan itu dengan menjabarkan delapan awalan utama pembentuk kata dalam bahasa Indonesia: <em>ber-</em>, <em>meng-</em>, <em>di-</em>, <em>ke-</em>, <em>per-,</em> <em>peng-</em>, <em>se-</em>, dan <em>ter-</em>. Setiap awalan akan dibahas dari sudut fungsi, bentuk, dan maknanya.</p>
<p>Tabel berikut memberikan ringkasan fungsi dan perubahan bentuk pada setiap awalan.</p>
<table style="cursor: default; border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="100%">
<tbody>
<tr style="border-collapse: collapse; background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: #cccccc; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<th style="cursor: text; border: 1px dashed #bbbbbb;" width="20%"><strong>Awalan</strong></th>
<th style="cursor: text; border: 1px dashed #bbbbbb;" width="40%"><strong>Fungsi (pembentuk)</strong></th>
<th style="cursor: text; border: 1px dashed #bbbbbb;" width="20%"><strong>Perubahan bentuk</strong></th>
<th style="cursor: text; border: 1px dashed #bbbbbb;" width="20%"><strong>Kaitan</strong></th>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>ber-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">verba</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; text-align: left; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>be-; bel-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>per-</em></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>meng-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">verba (aktif)</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; text-align: left; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>me-; men-; mem-; meny-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>di-; peng-</em></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>di-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">verba (pasif)</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>meng-</em></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>ke-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">nomina; numeralia; verba (percakapan)</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>ter-</em></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>per-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">verba; nomina</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; text-align: left; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>pe-; pel-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>ber-</em></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>peng-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">nomina</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; text-align: left; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>pe-; pen-; pem-; peny-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>meng-</em></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>se-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">klitika; adverbia</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"></td>
</tr>
<tr style="border-collapse: collapse; border: 1px solid #666666;" valign="top">
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>ter-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;">verba; adjektiva</td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>te-; tel-</em></td>
<td style="color: #000000; font-size: 11px; cursor: text; margin: 8px; border: 1px dashed #bbbbbb;"><em>ke-</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>ber-</em></h3>
<p>Awalan <em>ber-</em> berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (verba). Kalimat yang berpredikat kata kerja ini tidak memiliki objek, tapi dapat memiliki pelengkap atau keterangan. Kata kerja berawalan <em>ber-</em> tidak dapat dipasifkan dengan awalan <em>di-</em>.</p>
<p>Awalan <em>ber-</em> akan berubah bentuk menjadi:</p>
<ol>
<li><em>be-</em> jika suku awal mengandung <em>-er-</em> atau kata dasarnya diawali huruf r: <em>bekerja; beternak; berumput; beracun</em></li>
<li><em>bel-</em> untuk kasus khusus: <em>belajar; belunjur</em></li>
</ol>
<p>Awalan <em>ber-</em> memiliki makna:</p>
<ol>
<li>mempunyai: <em>beratap; bercita-cita; beristri</em></li>
<li>menggunakan atau memakai: <em>berlayar; bermobil; berbaju</em></li>
<li>menghasilkan: <em>bertelur; berkokok</em></li>
<li>dalam jumlah atau kelipatan: <em>bertiga; berjuta-juta</em></li>
<li>mengakui atau memanggil sebagai: <em>beradik; berbapak; bertuan</em></li>
<li>bertindak atau bekerja sebagai: <em>bertani; bertinju; bertukang</em></li>
<li>berada dalam keadaan: <em>bergembira; bersedih</em></li>
<li>menyatakan perbuatan timbal-balik: <em>bergulat; bertinju</em></li>
<li>menyatakan perbuatan mengenai diri sendiri: <em>berhias; bercukur</em></li>
</ol>
<p>Awalan <em>ber-</em> memiliki keterkaitan dengan awalan <em>per-</em>, misalnya <em>bersegi</em> dan <em>persegi</em>.</p>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>meng-</em></h3>
<p>Awalan <em>meng-</em> berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (verba) aktif, baik transitif (memerlukan objek) maupun taktransitif (tidak memerlukan objek).</p>
<p>Awalan <em>meng-</em> tetap berupa <em>meng-</em> jika diikuti kata dasar yang diawali salah satu dari lima vokal (a, e, i, o, u) atau lima huruf lain: g, h, k*, q, dan x. Tetapi, awalan <em>meng-</em> akan berubah bentuk menjadi:</p>
<ol>
<li><em>me-</em> jika diikuti kata dasar berawalan l, m, n, r, w, y</li>
<li><em>men-</em> jika diikuti kata dasar berawalan c, d, j, t*, z</li>
<li><em>mem-</em> jika diikuti kata dasar berawalan b, f, p*, v</li>
<li><em>meny-</em> jika diikuti kata dasar berawalan s*</li>
</ol>
<p>Kata dasar yang diawali dengan konsonan k, p, s, dan t (ditandai dengan bintang pada daftar di atas) akan mengalami peluluhan atau penghilangan huruf tersebut jika diberi awalan <em>meng-</em>, misalnya <em>mengaitkan</em>, <em>menarikan</em>, <em>memaku</em>, dan <em>menyapu</em>. Peluluhan ini tidak terjadi jika huruf pertama k, p, s, atau t pada kata dasar tersebut diikuti oleh konsonan juga (konsonan ganda), misalnya <em>mengkristal</em>, <em>mempromosikan</em>, <em>mensyaratkan</em>, dan <em>mentransmisikan</em>. Peluluhan juga tidak dilakukan terhadap kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang dianggap belum diserap sempurna juga tidak mengalami peluluhan ini.</p>
<p>Awalan <em>meng-</em> yang diikuti kata dasar yang terdiri dari hanya satu suku kata (ekasuku) diberi tambahan huruf e sehingga mengalami perubahan bentuk menjadi <em>menge-</em>, misalnya <em>mengebom</em>, <em>mengecat</em>, <em>mengelas</em>, <em>mengerem</em>.</p>
<p>Awalan <em>meng-</em> memiliki makna</p>
<ol>
<li>menjadi: <em>mencair; menguning; mengkristal</em></li>
<li>berfungsi sebagai/menyerupai: <em>menyupir; menggunung</em></li>
<li>makan atau minum: <em>menyatai; mengopi; mengeteh</em></li>
<li>menuju: <em>mengutara; melaut; menepi</em></li>
<li>mencari atau mengumpulkan: <em>mendamar; merumput</em></li>
<li>mengeluarkan bunyi: <em>mengeong; mengaum; mencicit</em></li>
<li>
<div>menimbulkan kesan seperti seseorang atau sesuatu yang: <em>membisu; membatu; merendah hati</em></div>
</li>
<li>dasar verba: <em>membaca; menulis; membajak</em></li>
<li>membuat atau menghasilkan: <em>menyambal; menggulai; membatik</em></li>
<li>menyatakan: <em>mengaku</em></li>
</ol>
<p>Awalan <em>meng-</em> memiliki pertalian makna dengan awalan <em>di-</em> sebagai bentuk pasifnya (<em>memukul</em> dan <em>dipukul</em>) serta awalan <em>peng-</em> sebagai bentuk nominanya (<em>mengemis</em> dan <em>pengemis</em>).</p>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>di-</em></h3>
<p>Awalan <em>di-</em> berfungsi sebagai pembentuk kata kerja (verba) pasif dan berkaitan dengan bentuk aktifnya yang dibentuk dengan awalan <em>meng-</em>, misalnya <em>dipukul</em> dan <em>memukul</em>.</p>
<p>Awalan <em>di-</em> tidak mengalami perubahan bentuk seperti bentuk <em>meng-</em> pasangannya. Awalan <em>di-</em> tidak mengalami peluluhan jika diikuti oleh kata yang diawali oleh huruf k, p, s, atau t (mis. <em>dikaitkan</em>,<em>ditarikan</em>, <em>dipaku</em>, dan <em>disapu</em>) dan juga tidak mendapatkan tambahan huruf e jika kata dasarnya hanya terdiri dari satu suku kata (mis. <em>dibom</em>, <em>dicat</em>, <em>dilas</em>, <em>direm</em>).</p>
<p>Kesalahan yang sering terjadi adalah kekeliruan penulisan <em>di-</em> sebagai awalan yang harus ditulis serangkai dan penulisan <em>di</em> sebagai kata depan (preposisi) penunjuk tempat yang harus ditulis terpisah. Contohnya <em>dijual</em> bukan <em>di jual</em> (karena sebagai awalan kata jual) dan <em><a href="http://ivanlanin.wordpress.com/2009/12/15/di-mana/">di mana</a></em> bukan <em><a href="http://oase.kompas.com/read/2009/10/22/01270574/maaf.saya.agak.sulit.bicara.bahasa.indonesia....">dimana</a></em> (karena merupakan kata depan). Cara mudah untuk memisahkan fungsi keduanya adalah dengan melihat jenis kata yang terbentuk: Jika menjadi kata kerja pasif, itu berarti harus ditulis serangkai dan jika menjadi penunjuk tempat atau lokasi, itu berarti harus ditulis terpisah.</p>
<p>Awalan <em>di-</em> memiliki makna:</p>
<ol>
<li>dikenai tindakan: <em>dibeli; dipukul; dites</em></li>
<li>dikenai dengan: <em>diparang; digunting; digergaji</em></li>
<li>dibuat atau dijadikan: <em>digulai</em>; <em>disambal</em>; <em>dipepes</em></li>
<li>diberi atau dilengkapi dengan: <em>dicat; ditugasi; dipagari</em></li>
</ol>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>ke-</em></h3>
<p>Awalan <em>ke-</em> memiliki 3 fungsi, yaitu pembentuk (1) kata benda (nomina), (2) kata bilangan (numeralia), dan (3) kata kerja (verba). Awalan <em>ke-</em> sebagai pembentuk kata kerja hanya digunakan pada ragam percakapan atau tidak resmi dan memiliki kesamaan makna dengan awalan <em>ter-</em>, misalnya <em>ketawa</em> (<em>tertawa</em>) dan <em>kepergok</em> (<em>terpergok</em>).</p>
<p>Awalan <em>ke-</em> tidak mengalami perubahan bentuk ketika dilekatkan pada kata dasar. Sama seperti <em>di-</em> yang memiliki kemiripan dengan kata depan <em>di</em>, <em>ke-</em> juga memiliki kemiripan dengan preposisi <em>ke</em> yang penulisannya juga harus dipisah, misalnya <em>ke sana</em>, bukan <em>kesana</em>.</p>
<p>Awalan <em>ke-</em> memiliki makna sesuai dengan kata yang dibentuknya:</p>
<ol>
<li>kata benda
<ol>
<li>yang mempunyai sifat atau ciri: <em>ketua</em></li>
<li>yang dituju dengan: <em>kekasih; kehendak</em></li>
</ol>
</li>
<li>kata bilangan
<ol>
<li>tingkat atau urutan: <em>ketiga; kelima; kesebelas</em></li>
<li>kumpulan: <em>kedua (buku); ketiga (orang)</em></li>
</ol>
</li>
<li>kata kerja (ragam percakapan)
<ol>
<li>telah mengalami; menderita keadaan; menderita kejadian (dengan tidak sengaja atau dengan tiba-tiba): <em>ketabrak; kepergok; ketemu</em></li>
<li>dapat atau sanggup: <em>kebaca; keangkat</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>per-</em></h3>
<p>Awalan <em>per-</em> memiliki 2 fungsi, yaitu pembentuk (1) kata kerja (verba), dan (2) kata benda (nomina). Sebagai pembentuk nomina, awalan ini berkaitan dengan awalan <em>ber-</em>, misalnya <em>persegi</em> (<em>bersegi</em>).</p>
<p>Awalan <em>per-</em> hanya mengalami perubahan bentuk jika berfungsi sebagai pembentuk kata benda karena kaitannya dengan awalan <em>ber-</em>. Perubahannya sama dengan perubahan pada awalan <em>ber-</em>, yaitu menjadi:</p>
<ol>
<li><em>pe-</em> jika suku awal mengandung <em>-er-</em> atau kata dasarnya diawali huruf r: <em>pekerja; peternak</em></li>
<li><em>pel-</em> untuk kasus khusus: <em>pelajar</em>; <em>pelunjur</em></li>
</ol>
<p>Awalan <em>per-</em> memiliki makna sesuai dengan kata yang dibentuknya:</p>
<ol>
<li>kata kerja
<ol>
<li>menjadikan atau membuat menjadi: <em>perindah; perjelas</em></li>
<li>membagi menjadi: <em>perdua; pertiga</em></li>
<li>melakukan: <em>perbuat</em></li>
<li>memanggil atau menganggap: <em>perbudak; pertuan</em></li>
</ol>
</li>
<li>kata benda (berkaitan dengan awalan <em>ber-</em>)
<ol>
<li>yang memiliki: <em>persegi; pemalu</em></li>
<li>yang menghasilkan: <em>pedaging; petelur</em></li>
<li>yang biasa melakukan (sebagai profesi, kegemaran, kebiasaan): <em>pertapa; petinju; pelajar</em></li>
<li>yang melakukan pekerjaan mengenai diri: <em>peubah</em></li>
<li>yang dikenai tindakan: <em>pesuruh; petatar</em></li>
<li>yang biasa bekerja di: <em>pelaut; peladang</em></li>
<li>yang gemar: <em>perokok; pendaki gunung</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Bentuk kata turunan dengan pengimbuhan <em>per-</em> terhadap satu dasar mencerminkan perbedaan makna dan sumber penurunannya, misalnya:</p>
<ul>
<li><em>pejabat</em> adalah orang yang <em>berjabatan</em> (memiliki jabatan) sedangkan <em>penjabat</em> adalah orang yang <em>menjabat</em> (tapi tidak memiliki)</li>
<li><em>petinju</em> adalah orang yang <em>bertinju</em> (olahragawan) sedangkan <em>peninju</em> adalah orang yang <em>meninju</em></li>
</ul>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>peng-</em></h3>
<p>Awalan <em>peng-</em> berfungsi sebagai pembentuk kata benda (nomina) yang bertalian maknanya bentuk dan maknanya dengan awalan <em>meng-</em>. Misalnya <em>pengemis</em> (orang yang <em>mengemis</em>), <em>pengarang</em> (orang yang <em>mengarang</em>), dll. Pertalian makna ini merupakan alasan pembedaan awalan <em>peng-</em> dengan awalan <em>per-</em>.</p>
<p>Karena pertaliannya dengan awalan <em>meng-</em> itu, maka awalan <em>peng-</em> pun mengalami perubahan bentuk yang serupa dengan perubahan pada awalan <em>meng-</em>, yaitu:</p>
<ol>
<li>tetap <em>peng-</em> jika diikuti kata dasar berawalan a, e, i, o, u, g, h, k*, q, x</li>
<li><em>pe-</em> jika diikuti kata dasar berawalan l, m, n, r, w, y</li>
<li><em>pen-</em> jika diikuti kata dasar berawalan c, d, j, t*, z</li>
<li><em>pem-</em> jika diikuti kata dasar berawalan b, f, p*, v</li>
<li><em>peny-</em> jika diikuti kata dasar berawalan s*</li>
</ol>
<p>Juga sama dengan awalan <em>meng-</em>, terjadi peluluhan/penghilangan huruf pada kata dasar berawalan konsonan k, p, s, dan t (ditandai dengan bintang pada daftar di atas) tapi tidak berkonsonan ganda, misalnya <em>pengaitan</em>, <em>penarikan</em>, <em>pemalsuan</em>, dan <em>penyapuan</em>. Kata dasar ekasuku pun diberi tambahan huruf e jika diberi awalan <em>peng-</em>, misalnya <em>pengeboman</em>, <em>pengecatan</em>, <em>pengelasan</em>, <em>pengereman</em>.</p>
<p>Awalan <em>peng-</em> memiliki makna:</p>
<ol>
<li>yang melakukan perbuatan: <em>pembeli; pengirim</em></li>
<li>orang yang berprofesi sebagai: <em>pengarang; penyiar; penulis</em></li>
<li>orang yang memiliki sifat: <em>pemarah; pemalas; penakut</em></li>
<li>alat yang dipakai untuk: <em>penggali; pengetes; penopang</em></li>
</ol>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>se-</em></h3>
<p>Awalan <em>se-</em> memiliki dua fungsi yaitu (1) menjadi <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=klitik">klitika</a> dari kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=esa">esa</a></em> seperti <em>sekampung</em> dan (2) sebagai pembentuk kata keterangan (adverbia) seperti <em>secepatnya</em>.</p>
<p>Awalan <em>se-</em> tidak mengalami perubahan bentuk jika dirangkaikan dengan kata yang lain.</p>
<p>Awalan <em>se-</em> memiliki makna sesuai fungsinya:</p>
<ol>
<li>sebagai klitika
<ol>
<li>satu: <em>sekamar; serumah; sekampung</em></li>
<li>seluruh: <em>se-Indonesia</em></li>
<li>sama atau sampai: <em>setinggi; sepandai; sedepa; segalah</em></li>
</ol>
</li>
<li>sebagai pembentuk kata keterangan
<ol>
<li>dengan; <em>seizinku</em></li>
<li>menurut atau sesuai; <em>setahuku; seingatku; semaunya</em></li>
<li>setelah: <em>sepergimu; sesampai</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Awalan <em>ter-</em></h3>
<p>Awalan ter- memiliki dua fungsi, yaitu sebagai pembentuk (1) kata kerja (verba) dan (2) kata sifat (adjektiva).</p>
<p>Awalan <em>ter-</em> akan berubah bentuk menjadi:</p>
<ol>
<li><em>te-</em> jika suku awal mengandung <em>-er-</em> atau kata dasarnya diawali huruf r: <em>teperdaya; tepercaya; </em><em>terasa; terawat</em></li>
<li><em>tel-</em> untuk kasus khusus: <em>telanjur</em></li>
</ol>
<p>Awalan <em>ter-</em> memiliki makna sesuai dengan kata yang dibentuknya:</p>
<ol>
<li>kata kerja
<ol>
<li>telah dilakukan atau dalam keadaan: <em>terbuka</em>; <em>terjangkau</em></li>
<li>telah mengalami atau menderita keadaan atau kejadian (dengan sengaja atau dengan tiba-tiba): <em>terkencing-kencing; terbangun; teringat; terbawa</em></li>
<li>dapat (biasanya didahului oleh kata tidak atau dilengkapi dengan akhiran <em>-kan</em>): <em>terperikan; terkirakan; terangkat; terserap</em></li>
</ol>
</li>
<li>kata sifat
<ol>
<li>paling: <em>terpandai; tercantik</em></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Dalam ragam percakapan, awalan <em>ter-</em> sebagai pembentuk kata kerja memiliki kesamaan makna dengan awalan <em>ke-</em>, misalnya <em>tertawa</em> (<em>ketawa</em>) dan <em>terpergok</em> (<em>kepergok</em>).</p>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Penutup</h3>
<p>Bahasa adalah suatu hal yang kompleks dan dinamis. Satu tulisan ringkas ini tentu saja tidak akan cukup untuk menjabarkan secara lengkap tentang awalan dalam bahasa Indonesia. Mungkin sekali ada hal-hal yang terlewatkan dan tidak sempat dibahas di sini.</p>
<p>Lain kali mudah-mudahan saya sempat (dan niat) menulis tentang akhiran, sisipan, dan aspek lain dari pengimbuhan kata seperti <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=konfiks">konfiks</a> dan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=simulfiks">simulfiks</a>.</p>
<h3 style="font-size: 1.17em;">Rujukan</h3>
<ol>
<li>Hasan Alwi, dkk. (2002). <em>Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia</em>. Edisi ke-3.</li>
<li>Pusat Bahasa (2008). <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia IV</em>.</li>
<li>Zaenal Arifin dan Junaiyah H. Matanggui (2007). <em>Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi</em>.</li>
</ol>
<p><em>Ditulis oleh <a href="http://ivanlanin.wordpress.com">Ivan Lanin</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/awalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
