<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lokalisasi dan Penerjemah</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[lokalisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Lokalisasi (localization) akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Rosetta_Stone.JPG"><img class="   " title="Batu Rosetta" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/23/Rosetta_Stone.JPG/150px-Rosetta_Stone.JPG" alt="" width="150" /></a><p class="wp-caption-text">Batu Rosetta, lambang alat bantu penerjemah.</p></div>
<p>Lokalisasi (<em>localization) </em>akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup  sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin  populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui  dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam  proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada  kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat  yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan  terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya,  tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan  bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana  peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.</p>
<p><span id="more-720"></span>Dalam <em><a href="http://www.lisa.org/Primers.600.0.html">The Globalization  Industry Primer</a></em>, LISA, <em><a href="http://www.lisa.org/">Localization  Industry Standards Association</a></em>, mendefinisikan lokalisasi  (<em>localization</em>) sebagai proses mengubah produk atau layanan untuk dapat  memenuhi kebutuhan yang berbeda di pasar yang berbeda (Arle, 2007:11). Definisi  ini menunjukkan bahwa proses lokalisasi tidak melulu tentang penerjemahan; namun  juga tentang beberapa faktor lainnya yang juga sama pentingnya dengan  penerjemahan. Tidak seperti penerjemahan pada umumnya yang mengubah teks dalam  sebuah bahasa ke bahasa yang lain; proses lokalisasi mengubah sebuah produk atau  layanan keseluruhan yang ditujukan untuk sebuah pasar menjadi produk atau  layanan yang dapat terima untuk pasar yang lain. Dalam terbitan yang sama,  disebutkan bahwa lokalisasi selain mencakup masalah linguistik juga mencakup  masalah fisik, masalah bisnis dan budaya, dan masalah teknis.</p>
<p>Lokalisasi sebuah produk telepon seluler, misalnya, kurang lebih akan melalui  tahapan-tahapan sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Perusahaan produsen telepon seluler menghubungi perusahaan lokalisasi untuk  melokalkan produk telepon selulernya.</li>
<li>Perusahaan lokalisasi membentuk tim untuk menangani proyek tersebut. Tim ini  akan menyiapkan sumber daya dan mengkoordinir proyek lokalisasi secara  keseluruhan.</li>
<li>Tim menerima produk telepon seluler dari perusahaan produsen telepon seluler  beserta kemasan, pedoman penggunaan, atau dokumentasi lainnya, termasuk catatan  mengenai penyesuaian-penyesuaian fisik yang telah atau akan dilakukan pada  produk tersebut.</li>
<li>Sumber daya teknis tim tersebut mengekstrak semua teks yang akan  diterjemahkan, baik  dari perangkat telepon seluler tersebut maupun dari  dokumentasi lainnya.</li>
<li>Sumber daya penerjemahan melakukan proses penerjemahan, termasuk  penyuntingan, pada teks tersebut dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan  teknis tertentu, dan catatan khusus dari perusahaan klien terkait dengan aspek  bisnis dan budaya pasar yang dituju.</li>
<li>Teknisi menerima hasil terjemahan dan mengembalikan hasil terjemahan ke  dalam bentuk    asalnya, baik dalam perangkat telepon seluler maupun dalam  dokumentasi lainnya.</li>
<li>Penerjemah menerima produk telepon seluler dan dokumentasinya dalam bentuk  akhir untuk diujicoba dan diperiksa apakah ada kesalahan dalam penerjemahannya.</li>
<li>Teknisi melakukan uji coba dan pemeriksaan secara fungsional untuk  memastikan produk telah siap digunakan dalam bentuk akhirnya.</li>
<li>Perusahaan klien menerima hasil lokalisasi yang berupa produk telepon  seluler dalam bahasa yang diinginkan dan telah disesuaikan dengan pasar yang  dituju, bebas dari kesalahan fungsional.</li>
</ol>
<p>Contoh proses lokalisasi di atas dapat memberikan gambaran ringkas bahwa  proses lokalisasi tidak hanya melibatkan penerjemahan saja. Proses lokalisasi  melibatkan banyak orang dari bidang profesi yang berbeda. Sebaliknya,  penerjemahan merupakan bagian dari proses lokalisasi secara keseluruhan.  Penerjemahan dalam proses lokalisasi sendiri tidak banyak berbeda dengan  penerjemahan pada umumnya: &#8220;mengganti bahan teks dalam bahasa sumber dengan  bahan teks yang sepadan dalam bahasa sasaran&#8221; (Catford dalam Machali,  2009:25).</p>
<p>Terlepas dari kenyataan ini, banyak pendapat yang berusaha membedakan  penerjemahan dalam proses lokalisasi dari penerjemahan pada umumnya.  Penerjemahan pada proses lokalisasi bahkan sering dikatakan dapat menghasilkan  terjemahan yang lebih baik. Beberapa contoh pendapat yang sering dikemukakan  misalnya (1) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi bukan sekadar menerjemahkan  biasa, tapi lebih ke pelokalan, menyesuaikan isi ke sistem linguistik dan budaya  wilayah yang menjadi tujuan lokalisasi; (2) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi  tidak menerjemahkan secara harfiah teks bahasa sumber tapi disesuaikan dengan  pasar sasaran atau pengguna sasaran; serta (3) bahwa penerjemahan dalam  lokalisasi tidak memindahkan mentah-mentah suatu konsep dalam budaya bahasa  sumber ke bahasa target; dan sebagainya.</p>
<p>Dari beberapa pendapat tersebut, menarik untuk dicatat bahwa semua yang  disebutkan sebagai pembeda penerjemahan dalam proses lokalisasi dari  penerjemahan pada umumnya sebenarnya juga sudah tercakup dalam pembahasan studi  penerjemahan sejak puluhan tahun yang lalu. Contoh yang pertama misalnya dalam  studi penerjemahan dikenal sebagai <em>strategi domestikasi</em>. Dalam strategi  ini, penerjemahan dilakukan dengan gaya yang transparan, lancar, &#8220;tembus  pandang&#8221; untuk meminimalisir kenampakan unsur-unsur asing dari teks sumber dalam  teks sasaran (Munday, 2001:146). Strategi ini sendiri sudah digunakan semenjak  zaman Romawi Kuno (Baker, 2001:241). Contoh yang kedua, yang berbicara tentang  menyesuaikan terjemahan dengan pasar atau pengguna sasaran, erat sekali  hubungannya dengan <em>teori Skopos</em> dalam studi penerjemahan. Teori ini  merupakan salah satu pendekatan dalam penerjemahan yang dikembangkan di Jerman  pada tahun 1970-an. Teori ini memandang bahwa proses penerjemahan, seperti  kegiatan manusia lainnya, memiliki tujuan tertentu.  Tujuan inilah yang  menentukan jalannya proses penerjemahan, bukan teks sumber (Baker, 2001:235).  Contoh pendapat yang ketiga pada paragraf di atas dalam konteks studi  penerjemahan akan mengacu pada konsep <em>ekuivalensi dinamis</em>. Penerjemahan  ekuivalensi dinamis bertujuan untuk mencapai kealamiahan ekspresi yang utuh dan  mencoba untuk mengaitkan pembaca dengan sesuatu yang relevan dengan konteks  budayanya sendiri (Hatim, 2005:167).</p>
<p>Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan penerjemahan dalam proses lokalisasi lebih baik daripada penerjemahan pada umumnya tidaklah tepat karena sejatinya keduanya adalah sama. Hingga saat ini, belum ada ciri khusus penerjemahan dalam proses lokalisasi yang dapat secara nyata menjadi pembeda, baik dalam hal kualitas hasil atau pun metode, dari penerjemahan pada umumnya. Pendapat tersebut kemungkinan muncul karena kurangnya pengetahuan teoritis penerjemah terkait dengan studi penerjemahan.</p>
<blockquote><p><em>Penerjemah harusnya lebih dapat memanfaatkan berbagai teori penerjemahan yang telah ada dalam bahasan studi penerjemahan saat terlibat dalam proses lokalisasi.</em></p></blockquote>
<p>Dengan berbekal hasil penelitian dalam studi penerjemahan yang telah berlangsung sangat lama, penerjemah juga dapat menawarkan perspektif atau pertimbangan-pertimbangan yang biasanya tidak ditemukan dalam proses lokalisasi (Pym, 2004:5).</p>
<blockquote><p><em>Namun demikian, sebaliknya, tidak dapat dimungkiri, dengan adanya  faktor-faktor lain yang terlibat dalam lokalisasi (faktor teknis, fisik, bisnis,  dan budaya), praktik penerjemahan dalam proses lokalisasi pasti juga terpengaruh  oleh proses lokalisasi secara keseluruhan.</em></p></blockquote>
<p>Keterbatasan ruang dalam penerjemahan  teks perangkat lunak, misalnya, akan memaksa penerjemah untuk membatasi panjang  terjemahannya dengan memilih kata-kata bahasa sasaran yang lebih pendek. Dalam  memilih istilah yang akan digunakan dalam terjemahannya, penerjemah juga akan  mempertimbangkan faktor bisnis. Penggunaan kata dalam bahasa sasaran yang kurang  populer mungkin terpaksa akan dihindari karena akan menurunkan tingkat  keterbacaan dan penerimaan pengguna terhadap produk yang dilokalkan tersebut.  Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, penerjemah tidak lagi hanya  mempertimbangkan aspek-aspek linguistik dan penerjemahan saja.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Lokalisasi melibatkan banyak tahapan proses. Penerjemahan sendiri adalah  salah satu tahapan di dalamnya. Dalam kaitannya dengan peran penerjemah dalam  lokalisasi, kerja penerjemahan dalam lokalisasi tidak banyak berbeda dengan  penerjemahan secara umum. Penerjemah dapat, dan memang sudah seharusnya,  memanfaatkan teori-teori penerjemahan yang telah ada saat terlibat dalam proses  lokalisasi. Hanya saja, mengingat adanya faktor-faktor teknis non-penerjemahan  yang terlibat,  praktik penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah dalam proses  lokalisasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Pada akhirnya nanti,  atau bahkan telah dan sedang terjadi, proses lokalisasi akan turut membentuk  teori-teori penerjemahan baru yang dapat mengembangkan studi penerjemahan secara  umum.</p>
<h3><strong>Da</strong><strong>f</strong><strong>tar Pustaka</strong></h3>
<ul>
<li>Baker, Mona. 2001. <em>Routledge Encyclopedia of Translation Studies</em>. New  York: Routledge.</li>
<li>Hatim, Basil., dan Munday, Jeremy. 2005. <em>Translation: An Advanced  Resource Book</em>. New York: Routledge.</li>
<li>Lommel, Arle. 2007. <em><a href="http://www.lisa.org/Primers.600.0.html">The  Globalization Industry Primer</a></em>.</li>
<li>Machali, Rochayah. 2009. <em>Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi  Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional</em>. Bandung: Kaifa.</li>
<li>Munday, Jeremy. 2001. <em>Introducing Translation Studies: Theories and  Applications</em>. New York: Routledge.</li>
<li>Pym, Anthony. 2004<em>. <a href="http://www.elda.org/en/proj/scalla/SCALLA2004/Pymv2.pdf">Localization from  the Perspective of Translation Studies: Overlaps in the Digital Divide?</a></em> (Paper presented to the SCALLA conference, Kathmandu).</li>
</ul>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com/">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Back Translation</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 22:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717</guid>
		<description><![CDATA["Back translation" adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan "Terjemahan balik." Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Back translation</em>&#8221; adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang  mungkin tepat untuk dipadankan dengan &#8220;Terjemahan balik.&#8221; Istilah ini bermakna  menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa  B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat  berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk  memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh  penulisnya.</p>
<p><span id="more-717"></span>Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang  belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya,  tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan  semacam itu saya namakan &#8220;terjemahan instan.&#8221;</p>
<p>Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin  jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.</p>
<p>Contohnya, kalimat sederhana seperti</p>
<blockquote><p><strong>DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.</strong></p></blockquote>
<p>dengan serta-merta, secara &#8220;instan,&#8221; cenderung langsung saja diterjemahkan  menjadi</p>
<blockquote><p><strong>DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.</strong></p></blockquote>
<p>Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut  dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan  yang berbeda, misalnya:</p>
<blockquote><p><strong>David loves his wife, and me too.</strong></p></blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p>0. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<p>1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<p>2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.</p>
<p>3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<p>4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga  mencintai isteri Peter.</p>
<p>5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<p>6. dst … dst…</p>
<h3><strong>Proses Terjemahan Balik</strong></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian  diterjemahkan <strong>balik</strong> oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris.  Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima  terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan  lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari  konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula. <ins datetime="2010-04-06T20:59" cite="mailto:Microsoft"></ins></p>
<p>0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and me too.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>b. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and David (also) loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and David loves me too.</strong></p></blockquote>
<p>2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I (also) love mine.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, I love mine too.</strong></p></blockquote>
<p>3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I also love David’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and I love David’s wife too.</strong></p>
<p><strong>c. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, David also loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, he loves me too. </strong></p></blockquote>
<p>6.A.. dst … dst…</p>
<h3><strong>Lessons Learnt</strong></h3>
<ol>
<li>Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita  tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus &#8220;curiga&#8221; kalau  menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks  materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita  terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa &#8220;populer&#8221; atau  bahasa &#8220;gaul.&#8221;</li>
<li>Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat,  mintalah tolong kepada rekan lain untuk <strong>menerjemahkan</strong> <strong>balik</strong> terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada  bertanya tentang &#8220;arti&#8221; atau maksud kalimat aslinya.</li>
<li>Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki  kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik)  kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita  yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini  kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga  merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan  (<em>readability</em>) tulisan kita.</li>
<li>Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang  mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya  (<em>translatability</em>). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah  menghasilkan karya yang berprinsip &#8220;terjemahan berdasar makna,&#8221;  (<em>meaning-based</em> <em>translation</em>) alih-alih &#8220;berdasar bentuk.&#8221;  (<em>form-based translation</em>).</li>
<li>Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur  <em>back translation </em>dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan  &#8220;gaya selingkung&#8221; produknya. <em> </em></li>
</ol>
<p><em>Malang, 7 April 2010. Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semerbak Harum di Taman Bunga</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/03/semerbak-harum-di-taman-bunga/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/03/semerbak-harum-di-taman-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 15:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Katakanlah dengan bunga. Demikian kata pepatah, yang di masa lalu pernah dipermasalahkan sebagian orang di beberapa kota besar Indonesia. Kala itu ada anjuran agar ucapan selamat tidak lagi disampaikan dengan mengirim karangan bunga, melainkan dengan cara lain, biasanya sumbangan berupa uang. Cara ini dianggap lebih bermanfaat karena bukankah bunga kiriman pada akhirnya dibuang dan menjadi sampah? Tetapi, tentu saja mereka yang mencari nafkah dengan mengandalkan bunga menjadi uring-uringan. Rezeki mereka terpangkas oleh kebijakan yang dilatarbelakangi oleh niat mengurangi sampah itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, sampah bunga yang bersifat organik ini sangat mudah hancur, dan dipastikan tidak mencemari lingkungan. Marilah pembaca, kita berjalan-jalan di taman bunga khayal dan membalik-balik kisah di balik beberapa nama bunga dan tanaman.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Katakanlah  dengan bunga</em>. Demikian kata pepatah, yang di masa lalu pernah  dipermasalahkan sebagian orang di beberapa kota besar Indonesia. Kala itu ada  anjuran agar ucapan selamat tidak lagi disampaikan dengan mengirim karangan  bunga, melainkan dengan cara lain, biasanya sumbangan berupa uang. Cara ini  dianggap lebih bermanfaat karena bukankah bunga kiriman pada akhirnya dibuang  dan menjadi sampah? Tetapi, tentu saja mereka yang mencari nafkah dengan  mengandalkan bunga menjadi <em>uring-uringan</em>. Rezeki mereka terpangkas oleh  kebijakan yang dilatarbelakangi oleh niat mengurangi sampah itu. Padahal, kalau  dipikir-pikir, sampah bunga yang bersifat organik ini sangat mudah hancur, dan  dipastikan tidak mencemari lingkungan. Marilah pembaca, kita berjalan-jalan di  taman bunga khayal dan membalik-balik kisah di balik beberapa nama bunga dan  tanaman.</p>
<p><span id="more-712"></span><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b6/Antigonon_leptopus_(Coral_Vine)_in_Gandipet,_Hyderabad,_AP_W2_IMG_9084.jpg/120px-Antigonon_leptopus_(Coral_Vine)_in_Gandipet,_Hyderabad,_AP_W2_IMG_9084.jpg" alt="" align="right" /> Lebih dari 40 tahun yang silam, ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke  kampus Ganesha sebagai mahasiswa baru, saya disambut dengan bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air_mata_pengantin">Air Mata  Pengantin</a></em>. Nama yang puitis bukan? Sampai sekarang, bunga berwarna merah  muda itu, yang bentuknya bak tetesan air mata, masih tetap setia menyambut warga  dan para tamu ITB di pintu gerbangnya yang khas.</p>
<p>Nama bunga memang banyak yang aneh-aneh. Ada <em>Lidah Api Irian</em> atau  <em>Irian Flame</em> – tanaman merambat yang banyak digunakan sebagai penghias  pergola. Warnanya memang jingga menyala, bergantungan berkelompok-kelompok. Ada  lagi nama tanaman unik yang pasti Anda kenal – apa lagi kalau bukan <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Putri_malu">Si Putri Malu</a></em>. Namanya  sungguh tepat mencerminkan tingkah daun tanaman itu, yang menutup diri begitu  terkena sentuhan. Sungguh bak seorang putri yang pemalu. Bagaimana dengan  <em>Kumis Kucing</em>? Tanaman ini diyakini dapat mengobati berbagai penyakit,  termasuk penyakit kencing manis atau diabetes. Bunganya memang memiliki bagian  panjang yang halus, persis seperti kumis kucing. Saya yakin, masih banyak  tanaman lain yang namanya menarik, khususnya nama khas daerah tertentu, sebutlah  misalnya <em>Eceng Gondok, Ki Acret, Jawer Kotok</em>, <em>Bunga Sepatu</em>,  <em>Mulut Harimau</em> &#8230;</p>
<h3>Bunga Terbesar dan &#8220;Terharum&#8221;</h3>
<p>Bangsa Indonesia boleh berbangga karena begitu banyaknya spesies tanaman  berbunga yang tumbuh di tanah tercinta ini. Bahkan, kabarnya Indonesia memiliki  jenis anggrek terbanyak di dunia, yang masih belum seluruhnya teridentifikasi di  belantara hutan Kalimantan dan Sumatera.</p>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/86/Rafflesia_80_cm.jpg/180px-Rafflesia_80_cm.jpg" alt="" align="right" /> Salah satu kartupos bergambar khas Indonesia yang banyak beredar di toko buku  adalah gambar bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rafflesia_arnoldi">Rafflesia arnoldi</a></em>.  Sebuah buku terbitan Indonesia yang sampulnya menggunakan gambar bunga ini telah  menarik perhatian sejumlah pengunjung Pameran Buku Internasional 1995 di Tokyo.  Saya bersama Ibu Aida Joesoef dari Ikapi yang bertugas saat itu, dengan bangga  menceritakan kekhasan bunga terbesar itu (padahal kami belum pernah melihat  bunga itu dengan mata kepala sendiri!). Nama bunga ini kabarnya berasal dari  <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stamford_Raffles">Stamford  Raffles</a></em> (1781–1826), penguasa berkebangsaan Inggris yang pernah  menduduki Indonesia di masa lalu.</p>
<p>Bunga lain asal Indonesia yang tak kalah menariknya adalah bunga yang konon  amat &#8220;harum&#8221; alias <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_bangkai">bunga  bangkai</a></em>. Tanaman yang berbunga sekali dalam waktu 1-3 tahun ini  ditemukan di Sumatera pada tahun 1868, bernama Latin <em>Amormophallus  titanum</em>.</p>
<h3>Semula Nama Orang</h3>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a6/Camelia_Snowball.jpg/120px-Camelia_Snowball.jpg" alt="" align="right" /> Di kalangan botaniwan atau ahli tanaman, sudah menjadi kebiasaan menamai tanaman  menurut nama penemunya. Kebiasaan yang sama juga berlaku dalam bidang ilmu lain,  misalnya astronomi, yang menamai planet, meteor, dan benda langit menurut nama  para penemunya. Nah, dalam kelompok ini kita bertemu dengan bunga <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Camellia">Camelia</a></em>. Nama romantis ini  pernah sangat populer di akhir tahun 1970-an ketika <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ebiet_G._Ade">Ebiet G. Ade</a> bersenandung  merdu, menggapai-gapai hati sang kekasih yang bernama Camelia. <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Carolus_Linnaeus">Linnaeus</a> (1707-78),  botaniwan Swedia yang terkenal, memberi nama bunga indah itu untuk menghormati  pengelana Jesuit bernama <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Georg_Joseph_Kamel">Georg Joseph  Kamel</a></em>. Dialah orang pertama yang membawa bibit bunga itu dari kawasan  Timur pada abad ke-17. Linnaeus mereka-reka nama <em>camellia</em> yang merupakan  versi Latin dari <em>Kamel</em>.</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Begonia"><em>Begonia</em></a> adalah satu  lagi contoh nama bunga yang diambil dari nama orang. Pada abad ke-17, <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Michel_B%C3%A9gon_(1638%E2%80%931710)">Michel  Begon</a></em> (1638-1710) bertugas sebagai gubernur pemerintahan Prancis di  Santo Domingo. Sebagai pejabat pemerintah, dia turut menggalakkan pengkajian  botani. Begonia pertama kali dibawa ke Inggris pada tahun 1777 dan diberi nama  menurut nama sang gubernur yang merangkap botaniwan ulung itu.</p>
<p>Bunga<em> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlia">Dahlia</a></em> mendapatkan namanya dari seorang botaniwan Swedia yang hidup pada abad ke-18,  <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anders_Dahl">Anders Dahl</a></em> (meninggal 1789). Bunga ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Inggris  pertama kali mengenalnya pada tahun 1789 ketika Marchionees of Bute membawa  tanaman itu dari Spanyol.</p>
<p>Tanaman penghasil bunga <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Magnolia">Magnolia</a></em> memiliki kulit  kayu dan, tentu saja, bunga yang harum semerbak. Keharumannya ini pernah  dimanfaatkan bangsa Cina untuk mengharumkan &#8230; nasi! Aneh-aneh saja ya?  Dikabarkan bahwa nama tanaman ini berasal dari nama <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pierre_Magnol">Pierre Magnol</a></em>, guru  besar botani di Montpelier, Prancis.</p>
<h3>Edelweiss, Gladiolus, Anggrek</h3>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c2/Leontopodium_alpinum_detail.jpg/150px-Leontopodium_alpinum_detail.jpg" alt="" align="right" /> Siapa yang tak kenal keluarga <em>Von Trapp</em> dari Austria? Masyarakat dunia  berkenalan dengan keluarga ini melalui film istimewa pemenang hadiah Oscar,  <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/The_Sound_of_Music_(film)">The Sound of  Music</a></em>. Pada tahun 1970-an, ketika film itu diputar di sejumlah bioskop  di kota Bandung, banyak orang yang menontonnya sampai beberapa kali. Sekarang,  video dan DVD-nya merupakan salah satu film yang paling banyak peminatnya di  seluruh dunia. Dalam film berdurasi sekitar 3 jam ini, banyak lagu indah  didendangkan – salah satu di antaranya <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edelweiss">Edelweiss</a></em>. Masih ingatkah  Anda ketika <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Julie_Andrews">Julie  Andrews</a>, si pengasuh anak, berdiri terpesona mengagumi tuannya, Baron Von  Trapp, yang diperankan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Christopher_Plummer">Christopher Plummer</a>,  yang dengan penuh perasaan menyanyikan lagu <em>Edelweiss?</em> Bunga kecil yang  banyak tumbuh di Pegunungan Alpen ini mendapatkan namanya dari gabungan dua kata  Jerman: <em>edel</em> yang berarti <em>mulia</em>, dan <em>weiss</em> yang berarti  <em>putih</em> atau <em>suci</em>. Memang <em>Edelweiss</em> dikenal sebagai lambang  kesucian, khususnya di negara seperti Swiss dan Austria.</p>
<p><em> </em>Tahukah Anda bahwa bunga<em> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gladiolus">Gladiol</a></em> yang ramping  tinggi itu berkaitan dengan &#8230; ya ampun &#8230; para <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gladiator">gladiator</a> Roma! Tanaman ini  dinamai <em>Gladiol</em> karena kelopak bunganya yang lancip dan tampak cemerlang  itu dianggap mirip dengan <em>gladius</em> atau pedang yang digunakan para  gladiator untuk bertarung di medan laga.</p>
<p>Sebuah nama lagi yang &#8220;mengejutkan&#8221; saya ketika membaca riwayatnya adalah  asal-usul nama bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anggrek">anggrek</a></em>. Dalam bahasa  Inggris, bunga anggrek disebut <em><a href="http://en.wiktionary.org/wiki/orchid">orchid</a></em>. Ternyata bunga yang  cantik dan harganya mahal ini mendapatkan namanya dari kata Yunani <em>orchis</em> yang berarti &#8230; buah pelir atau <em>testikel!</em> Bahkan sejak 2000 tahun yang  lalu, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pliny_the_Elder">Pliny the  Elder</a>, pengarang berkebangsaan Romawi, mengatakan bahwa bunga anggrek memang  menakjubkan karena kedua akarnya mirip sekali dengan testikel &#8230;.</p>
<h3>Belladonna Lily</h3>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f8/Amaryllis_belladonna_flowers.jpg/150px-Amaryllis_belladonna_flowers.jpg" alt="" align="right" /><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Amaryllis">Belladonna</a></em> berarti wanita  cantik. Bunga ini dinamai demikian karena kehalusan kelopak bunganya yang mirip  kulit gadis cantik, atau demikianlah menurut kaum cerdik cendekia. Ada juga yang  mengatakan bahwa bunga itu diberi nama demikian karena dara-dara Italia  menggunakannya sebagai ramuan kecantikan. Para gadis ini percaya bahwa sari  bunga itu dapat menghaluskan kulit mereka. Namun, bagi kaum Yunani di masa lalu,  bunga secantik itu bak gadis molek yang biasa disebut <em>Amaryllis</em>, dari  kata <em>amarysso</em> yang berarti &#8220;gemerlap&#8221;. Karena itulah bunga itu bernama  <em>Amar</em><em>yllis</em> sebelum bernama <em>Belladonna Lily</em>.</p>
<h3>Racun Panah, Bintang, dan Si Kering</h3>
<p>Pernahkan Anda mencicipi kue ararut? Kue yang renyah itu dibuat dari tepung  ararut yang diperoleh dari akar tanaman <em>Ararut</em> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arrowroot"><em>Arrowroot</em></a><em> </em>(terjemahan harfiahnya <em>akar panah</em>). Tepung tanaman ini digunakan  oleh suku Indian di Amerika untuk mengobati luka akibat panah beracun. Karena  itulah kemudian tanaman ini dinamakan demikian.</p>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/be/Aster-alpinus.JPG/150px-Aster-alpinus.JPG" alt="" align="right" /> Bunga lain yang banyak disukai kaum wanita adalah bunga <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aster_(genus)">Aster</a></em>. Dahulu, warna  bunga ini terbatas hanya putih, merah muda, dan ungu. Sekarang, dengan kemajuan  dalam bidang teknologi perbungaan, kita dapat memperoleh bunga <em>Aster</em> berwarna kuning dan kuning emas. Bila melihat bentuknya yang cantik itu, Anda  teringat pada apa? Tidak salah kalau Anda menyebut <em>bintang</em> karena dalam  bahasa Latin, <em>aster</em> memang berarti <em>bintang</em>.</p>
<p><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Azalea">Azalea</a></em> adalah nama  bunga yang tanamannya seperti semak. Bunganya berwarna putih, kuning, dan merah  tua keunguan. Dalam bahasa Yunani, <em>azalea</em> berarti <em>kering</em>. Nama  tersebut sungguh tepat karena tanaman ini dapat berbunga subur bila tumbuh di  tanah yang kering dan berpasir.</p>
<h3>Bunga Daging, Bunga Emas, dan Turban</h3>
<p>Memang tak terbayangkan hubungan antara bunga dan daging. Tetapi, ada sebuah  kata Latin yang digunakan sebagai sumber nama bunga. Kata itu adalah <em>caro</em> atau <em>carnis</em> yang berarti <em>daging</em>. Tak dinyana, nama bunga <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Carnation"><em>Carnation</em></a> berasal  dari kata tersebut karena warnanya yang merah muda pucat itu tampak seperti  warna daging.</p>
<p>Dalam perhiasan pengantin wanita dikenal istilah bunga emas, yaitu hiasan  berbentuk bunga yang dibuat dari bahan bersepuh emas. Tetapi, ini tentu berbeda  dengan bunga <em>Krisan</em> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chrysanthemum"><em>Chrysanthemum</em></a>.  Warnanya yang kuning keemasan, dan juga putih, memang berarti <em>bunga emas</em>,  yang berasal dari kata Yunani <em>chrysos</em> dan <em>anthemon</em>.</p>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3e/Floriade_Devmeet_25.jpg/120px-Floriade_Devmeet_25.jpg" alt="" align="right" /> Akhirnya, Anda tentu tahu bahwa Negeri Belanda sangat dikenal dengan impor  bunganya yang bentuknya sangat khas. Tidak salah lagi, bunga khas Belanda ini  adalah bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tulip">Tulip</a></em>.  Kelopak bunganya yang halus bak beludru dan warnanya yang cerah, mengingatkan  orang pada sebuah <em>turba</em><em>n</em>, sejenis tutup kepala. Kata <em>tulip</em> sendiri berasal dari kata Prancis kuno <em>tulipan</em>, dari <em>tulbend</em>, cara  orang Turki melafalkan <em>turban</em>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Demikianlah pembaca, akhir wisata kita kali ini. Sekarang, bila Anda  mengunjungi kebun bunga yang dewasa ini banyak membuka diri untuk menerima tamu,  Anda memiliki pengetahuan tambahan mengenai nama bunga dan tanaman yang Anda  kagumi itu. Sampai jumpa lagi.</p>
<p><em>Penulis: Sofia Mansoor. Sumber: Funk, Word Origins</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/03/semerbak-harum-di-taman-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Bahasa Saja Tak Cukup</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/dua-bahasa-saja-tak-cukup/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/dua-bahasa-saja-tak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 10:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=705</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang mengira menguasai dua bahasa adalah cukup untuk menjadi modal penerjemah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk menjadi penerjemah ada beberapa modal yang perlu dimiliki oleh seseorang, dan penguasaan dua bahasa hanyalah beberapa di antaranya.

Keterampilan apa lagi yang dibutuhkan oleh penerjemah? Baca selengkapnya tulisan Ade Indarta ini di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang mengira menguasai dua bahasa adalah cukup untuk menjadi modal penerjemah. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk menjadi penerjemah ada beberapa modal yang perlu dimiliki oleh seseorang, dan penguasaan dua bahasa hanyalah beberapa di antaranya.</p>
<p><span id="more-705"></span><strong>Penguasaan bahasa asing</strong> tentunya menjadi salah satu syarat utama menjadi penerjemah. Penguasaan ini tentu saja bukan hanya berupa kemampuan untuk menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari saja. Seorang penerjemah harus juga menguasai berbagai aturan tata bahasa dan konvensi yang ada. Ini penting karena untuk memahami arti sebuah teks, tidak cukup hanya dengan mengetahui arti kata dalam teks tersebut. Penerjemah yang tidak menguasai tata bahasa dan konvensi bahasa asing yang menjadi bahasa sumber biasanya akan banyak menghasilkan terjemahan yang keliru, tanpa sengaja menghilangkan makna tertentu pada teks sumber, atau juga menambah makna baru pada teks terjemahannya.</p>
<p>Sebaliknya, <strong>penguasaan bahasa sasaran</strong>, dalam hal ini biasanya bahasa Indonesia, juga tak kalah penting. Penguasaan bahasa asing membuat penerjemah dapat memahami dan mengerti isi teks yang akan diterjemahkan. Namun, jika penerjemah tersebut tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik, hasil terjemahannya akan sulit dibaca. Penggunaan kata yang salah eja atau penggunaan kata yang tidak baku akan membuat pembaca tidak mampu menangkap makna pada teks terjemahan kita.</p>
<p>Dengan hanya menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran seperti di atas, kita tidak serta-merta menjadi dapat menerjemahkan dengan baik. Penerjemahan tidak hanya sekadar menggantikan teks bahasa sumber menjadi teks bahasa asal. Proses penerjemahan seperti ini dapat kita lihat hasilnya pada penerjemahan mesin (<em>machine translation</em>) yang berbasis tata bahasa. Hasil penerjemahan mesin ini biasanya memiliki tingkat keterbacaan yang rendah dan sulit dipahami karena hanya menukar kata dan kalimat dalam bahasa sumber dengan bahasa sasaran, tanpa memperhatikan konteks dan hanya mengandalkan makna kamus. Untuk bisa menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah setidaknya perlu memiliki dua modal lainnya, yaitu keterampilan membaca dan keterampilan menulis.</p>
<p>Modal yang pertama, <strong>keterampilan membaca</strong>, dalam hal ini tentunya bukan membaca dalam arti sempit. Keterampilan membaca ini mencakup keterampilan untuk memahami teks secara keseluruhan, mengenali konteks, menangkap makna baik yang tersurat maupun tersirat, mengenali gaya tulisan yang digunakan, dan sebagainya. Penerjemah yang tidak memiliki keterampilan membaca, meskipun sangat menguasai bahasa sumber, akan menghasilkan terjemahan yang maknanya secara kontekstual tidak tepat. Penerjemah seperti ini biasanya akan terpaku pada setiap kata dan kalimat teks yang diterjemahkannya sehingga tidak mampu memahami teks secara keseluruhan. Hasil terjemahan akan menjadi terbata-bata, sulit dipahami secara utuh.</p>
<p>Modal berikutnya yang seharusnya dimiliki oleh penerjemah adalah <strong>keterampilan menulis</strong>. Terjemahan, karena bentuknya yang berupa tulisan, menuntut penerjemahnya untuk menguasai keterampilan menulis. Orang yang menguasai dua bahasa dan memiliki keterampilan membaca tapi tidak memiliki keterampilan menulis akan menghasilkan terjemahan yang kaku dan literal. Hasil terjemahan biasanya akan mudah dikenali sebagai teks terjemahan. Meskipun secara tata bahasa tidak ada yang salah, terjemahan yang dihasilkan akan dapat dirasakan memiliki unsur-unsur bahasa asing yang kental. Sebaliknya, penerjemah yang memiliki keterampilan menulis biasanya mampu menghasilkan terjemahan yang luwes dan mudah dibaca. Keluwesan ini sebenarnya tercipta dari kemampuan penerjemah tersebut untuk dapat memanfaatkan berbagai teknik penulisan di dalam terjemahannya.</p>
<p>Kedua keterampilan di atas ditambah dengan penguasaan dua bahasa dapat menjadi modal seorang penerjemah untuk menghasilkan terjemahan yang baik: <strong>Penguasaan dua bahasa saja tidaklah cukup</strong>. Untuk menghasilkan terjemahan yang baik, seorang penerjemah hendaknya tidak hanya mempelajari bahasa sumber dan bahasa sasaran yang menjadi bahasa kerjanya, tapi juga mempelajari keterampilan membaca dan menulis. Pelatihan dan lokakarya kedua keterampilan tersebut dapat menjadi upaya penerjemah untuk meningkatkan keterampilannya dalam menerjemahkan.</p>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/dua-bahasa-saja-tak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kateglo: Pemanfaatan internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 13:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perangkat lunak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bahasa adalah kekayaan kosakatanya dan kemampuan kosakata tersebut untuk memerikan berbagai konsep baru seiring dengan perkembangan pengetahuan. Pembentukan istilah bahasa Indonesia selama ini menjadi tugas Pusat Bahasa (Pusba) dengan bantuan para ahli bidang yang bersangkutan. Meskipun tak dapat dimungkiri bahwa upaya Pusba untuk memodernkan terminologi ini cukup berhasil memperkaya kosakata bahasa Indonesia, sering kali neologisme yang dibentuk kurang berterima di masyarakat karena kurangnya pelibatan publik dalam pembentukannya serta terbatasnya sosialisasi penggunaan terminologi tersebut. Internet sebagai medium yang dapat diakses publik tanpa batasan lokasi adalah sarana yang tepat untuk mengatasi masalah kolaborasi dan sosialisasi dalam bidang peristilahan ini. Kateglo dirancang sebagai sistem yang memanfaatkan internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia dengan memberdayakan kebijakan khalayak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bahasa adalah kekayaan kosakatanya dan  kemampuan kosakata tersebut untuk memerikan berbagai konsep baru seiring dengan  perkembangan pengetahuan. Pembentukan istilah bahasa Indonesia selama ini  menjadi tugas Pusat Bahasa (Pusba) dengan bantuan para ahli bidang yang  bersangkutan. Meskipun tak dapat dimungkiri bahwa upaya Pusba untuk memodernkan  terminologi ini cukup berhasil memperkaya kosakata bahasa Indonesia, sering kali  neologisme yang dibentuk kurang berterima di masyarakat karena kurangnya  pelibatan publik dalam pembentukannya serta terbatasnya sosialisasi penggunaan  terminologi tersebut. Internet sebagai medium yang dapat diakses publik tanpa  batasan lokasi adalah sarana yang tepat untuk mengatasi masalah kolaborasi dan  sosialisasi dalam bidang peristilahan ini. <a href="http://kateglo.com/">Kateglo</a> dirancang sebagai sistem yang memanfaatkan  internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia dengan memberdayakan kebijakan  khalayak.<br />
<span id="more-696"></span></p>
<h3>Latar belakang</h3>
<p>Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong  bermunculannya banyak istilah baru yang digunakan untuk memerikan aneka konsep  yang diciptakan atau ditemukan manusia. Bahasa Inggris yang merupakan <em>lingua  franca</em> dunia diperkirakan menerima tambahan 90.000 lema baru sepanjang abad  ke-20. Jumlah yang kurang lebih setara dengan jumlah lema pada Kamus Besar  Bahasa Indonesia Edisi Keempat yang diterbitkan Pusat Bahasa.</p>
<p>Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang relatif baru juga tidak luput dari  tuntutan modernisasi kosakata. Sebagai bahasa yang cukup terencana, kegiatan  pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah dilakukan dengan  cukup terkoordinasi di bawah Pusat Bahasa. Pertambahan jumlah lema di Kamus  Besar Bahasa Indonesia dari sekitar 68 ribu pada edisi pertama (1988) hingga  mencapai 90 ribu pada edisi keempat (2008) menggambarkan perkembangan kosakata  bahasa Indonesia tersebut. Ini pun masih ditambah dengan sekitar 120 ribu  padanan yang diterbitkan dalam bentuk glosarium Pusba dalam beberapa bidang  ilmu.</p>
<p>Dalam pembentukan istilah, Pusba menggabungkan kepakaran ahli bahasa dan ahli  bidang ilmu tertentu yang diundangnya. Proses ini bukan proses yang mudah dan  cepat untuk dilakukan karena selain melibatkan pemahaman yang mendalam mengenai  konsep suatu istilah, pembentukan istilah juga melibatkan rasa bahasa. Setelah  tercipta pun, masih ada pekerjaan besar yang menunggu, yaitu sosialisasi istilah  tersebut ke masyarakat, terutama kepada para pemangku kepentingan terkait.</p>
<p>Pemangku kepentingan dalam peristilahan dapat dibagi menjadi beberapa  kelompok.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pemangku-kepentingan-peristilahan1.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-698" title="Pemangku-kepentingan-peristilahan" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pemangku-kepentingan-peristilahan1-300x300.png" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<ol>
<li><strong>Ahli bahasa</strong>. Terlibat dalam memastikan bahwa istilah yang terbentuk  sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan memiliki makna yang tepat.</li>
<li><strong>Ahli atau praktisi bidang ilmu</strong>. Terlibat dalam mendefinisikan konsep  yang akan diperikan oleh istilah yang dibentuk.</li>
<li><strong>Media massa</strong>. Terlibat dalam upaya sosialisasi istilah dan menjaring  istilah baru dari masyarakat.</li>
<li><strong>Penulis</strong>. Sama seperti media massa, terlibat dalam sosialisasi dan  penjaringan istilah.</li>
<li><strong>Penerjemah</strong>. Terlibat dalam upaya menangkap istilah baru yang belum  ada padanannya dalam bahan terjemahan.</li>
<li><strong>Masyarakat umum</strong>. Terlibat dalam memberikan umpan balik secara umum  mengenai keberterimaan suatu istilah.</li>
</ol>
<p>Sementara itu, proses pembentukan istilah telah dijabarkan dalam <em><a href="http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Pembentukan_Istilah">Pedoman  Umum Pembentukan Istilah</a></em> (PUPI) terbitan Pusba seperti dalam gambar berikut ini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pembentukan-istilah1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-701" title="Pembentukan-istilah" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2010/02/Pembentukan-istilah1.png" alt="" width="450" height="220" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Pertanyaan yang harus dijawab adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Bagaimana menyatukan para pemangku kepentingan di bidang peristilahan untuk  dapat bekerja sama dalam upaya pengayaan istilah bahasa Indonesia?</li>
<li>Bagaimana melakukan sosialisasi istilah yang dibentuk, termasuk memberikan  pemahaman etimologi dan maknanya?</li>
</ol>
<p>Salah satu hambatan terbesar dalam kerja sama dan sosialisasi ini adalah  komunikasi. Semakin meluasnya penggunaan media internet di Indonesia tampaknya  dapat menjadi jawaban atas kedua masalah ini. Internet dapat digunakan sebagai  tempat berembuk pemangku kepentingan, sekaligus sarana sosialisasi dan rujukan  yang dapat diakses oleh banyak orang.</p>
<h3>Kateglo</h3>
<p>Kateglo, akronim dari kamus, tesaurus, dan glosarium, adalah situs yang lahir  dari keperluan dua kelompok pemangku kepentingan yang sudah dikemukakan di atas:  penulis dan penerjemah. Kateglo menyediakan hal-hal yang diperlukan sebagai  pendukung kerja mereka, yaitu: (1) memeriksa ejaan dan makna baku suatu lema,  (2) memperoleh sinonim suatu lema untuk meningkatkan ragam pilihan kata dalam  suatu wacana, serta (3) mencari padanan istilah asing dalam bidang tertentu,  sekaligus memeriksa apakah istilah tersebut telah dibakukan di kamus, memiliki  ejaan dan makna yang tepat, dan sesuai dengan pedoman pembentukan istilah.</p>
<p>Kateglo mulai dioperasikan untuk publik pada 12 Mei 2009 dengan mengambil  data awal dari KBBI Daring, Glosarium Pusba, serta glosarium pribadi milik  beberapa anggota milis Bahtera, yakni milis yang beranggotakan lebih dari 2000  orang penerjemah berbahasa Indonesia. Lisensi yang diterapkan adalah lisensi  terbuka yang membebaskan semua orang untuk menggunakan, menyalin, menyebarkan,  dan mengadaptasi isi Kateglo, asalkan menyebutkan sumbernya dan bukan untuk  tujuan komersial.</p>
<p>Dari laman <a href="http://bahtera.org/kateglo">beranda Kateglo</a>,  pengunjung dapat (1) melakukan pencarian di kamus, glosarium, maupun peribahasa,  (2) membaca beberapa lema acak untuk meningkatkan kosakata, serta (3) memperoleh  pengetahuan tentang beberapa kesalahan eja yang sering ditemukan.</p>
<p>Laman detail suatu lema menyajikan antara lain definisi, kelas kata, sumber,  sinonim, kata turunan, peribahasa, serta entri glosarium yang terkait dengan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=ucap">kata  tersebut</a>.</p>
<p><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=glossary">Glosarium Kateglo</a> menyediakan daftar padanan istilah bidang ilmu tertentu, sekaligus tautan ke  Wikipedia jika artikel terkaitnya telah ada di sana. Dari glosarium dibuat juga  tautan ke masing-masing lema pembentuknya untuk menguji kesesuaian makna.</p>
<h3>Pengembangan</h3>
<p>Kateglo saat ini telah dimanfaatkan sebagai salah satu sumber rujukan utama  bagi komunitas penerjemah Bahtera dengan jumlah kunjungan halaman rata-rata 20  ribu per hari. Pengembangan lanjutan Kateglo dirancang dengan sejumlah fitur  yang diharapkan dapat menjawab dua pertanyaan yang diajukan di awal tadi seperti  dijabarkan berikut ini.</p>
<ol>
<li><strong>Pengusulan dan pemilihan padanan istilah</strong>. Di masa lalu, proses ini  dijalankan sendiri-sendiri oleh setiap pemangku kepentingan. Kateglo diharapkan  dapat menjadi sarana tempat semua pihak dapat mengajukan padanan istilah,  dilengkapi dengan dasar pembentukannya, serta bermufakat untuk memilih yang  terbaik dari semua usulan yang diajukan.</li>
<li><strong>Penjaringan istilah baru</strong>. Kateglo diharapkan dapat digunakan untuk  menangkap berbagai istilah baru yang terus tumbuh dan berkembang di masyarakat,  baik melalui pemasukan secara manual maupun dengan robot yang merayapi situs web  media massa, blog, dan lain-lain untuk mendapatkan istilah baru yang sering  digunakan.</li>
<li><strong>Pemeriksaan pola dan ejaan</strong>. Bahasa adalah sistem yang berpola.  Pembentukan istilah juga memiliki pola. Berdasarkan pengamatan, banyak istilah  yang dibuat di Glosarium Pusba yang tidak taat pada pola seperti yang digariskan  pada PUPI atau mengandung kesalahan ejaan. Kateglo diharapkan dapat mengoreksi  hal ini.</li>
<li><strong>Basis data etimologi</strong>. Sedikit sekali ditemukan rujukan tentang  etimologi suatu kata, bahkan juga di dalam KBBI. Padahal, pengetahuan tentang  asal-usul suatu kata sangat bermanfaat untuk memahami secara mendalam makna kata  tersebut serta mengapa dieja seperti itu. Kateglo diharapkan dapat sedikit demi  sedikit mengumpulkan informasi ini.</li>
<li><strong>Kamus kiasan, singkatan, dan akronim</strong>.</li>
<li><strong>Dokumentasi bahasa daerah</strong>.</li>
</ol>
<p>Satu fitur lagi yang masih menjadi mimpi dan belum berani dimasukkan ke dalam  daftar pengembangan yang ingin dilakukan adalah <strong>pengusulan padanan istilah  otomatis</strong>. Jika basis data Kateglo sudah cukup besar, hal ini tidak mustahil  dilakukan.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Komputer, seperti halnya semua teknologi lain, hanyalah alat untuk mencapai  keinginan orang yang mengoperasikannya. Kateglo sangat bergantung pada para  enggunanya, yang diharapkan ikut berperan membangunnya. Sejarah telah  mengajarkan kepada kita bahwa urusan peristilahan sering tak dapat dilepaskan  dari masalah politis dan ego. Tapi, jika banyak orang dapat mengesampingkan  semua hal tersebut dan bersama-sama mengumpulkan kebijakan khalayak, upaya untuk  mempercepat pengayaan bahasa Indonesia akan dapat terbantu dengan adanya  Kateglo. <strong>Bahasa Indonesia pun dapat masuk ke dalam jajaran elite  bahasa-bahasa di dunia</strong>.</p>
<h3>Rujukan</h3>
<ul>
<li>Chamber-Loir, Henri, ed. (2009). <em>Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia  dan Malaysia</em>. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.</li>
<li>Jones, Russell, ed. (2007). <em>Loan-Words in Indonesian and Malay</em>.  Jakarta: KITLV Press.</li>
<li>Pusat Bahasa (2000). <em>Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang  Disempurnakan</em>. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional  Republik Indonesia.</li>
<li>Pusat Bahasa (2007). <em>Pedoman Umum Pembentukan Istilah</em>, Edisi Ketiga.  Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.</li>
<li>Samuel, Jerome (2008). <em>Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata  dan Politik Peristilahan</em>. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.</li>
</ul>
<p><em>Penulis: <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/">Ivan Lanin</a>. Makalah  pada <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/2010/01/13/seminar-dalam-rangka-hari-bahasa-ibu-internasional-2010/">Seminar  Hari Bahasa Ibu Internasional 2010</a>. Bandung, 19–20 Februari 2010. Salindia  presentasi dapat <a href="http://www.slideshare.net/ivanlanin/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia">dilihat  di SlideShare</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/kateglo-pemanfaatan-internet-untuk-pengayaan-istilah-bahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lomba Bahtera Februari 2010</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/lomba-bahtera-februari-2010/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/lomba-bahtera-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 18:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lomba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Bahterawan budiman,

Sudah agak lama juga Bahtera tidak mengadakan lomba ya? Yang terakhir adalah Lomba Penerjemahan Puisi "Di Atas Kertas" yang berlangsung pada Agustus 2009 yang berhasil memikat 22 orang Bahterawan untuk ikut "mengasah pena" dan memeriahkan acara tersebut.

Kali ini, sambil menunggu bahan lomba berbentuk lain selain puisi, Bahtera kembali menyelenggarakan lomba penerjemahan puisi. Bahan lomba diusulkan oleh John Gare, Bahterawan Australia, yang menemukan puisi lama ini dalam sebuah majalah terbitan tujuh tahun yang lalu di meja ruang tunggu juru bahasa di Refugee Review Tribunal, Melbourne.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bahterawan budiman,</p>
<p>Sudah agak lama juga Bahtera tidak mengadakan lomba ya? Yang terakhir adalah <a href="http://blog.bahtera.org/2009/08/lomba-bahtera-agustus-2009/">Lomba Penerjemahan Puisi</a> &#8220;<em><a href="http://blog.bahtera.org/2009/07/di-atas-kertas/">Di Atas Kertas</a></em>&#8221; yang berlangsung pada Agustus 2009 yang berhasil memikat 22 orang Bahterawan untuk ikut &#8220;mengasah pena&#8221; dan memeriahkan acara tersebut.</p>
<p>Kali ini, sambil menunggu bahan lomba berbentuk lain selain puisi, Bahtera kembali menyelenggarakan lomba penerjemahan puisi. Bahan lomba diusulkan oleh John Gare, Bahterawan Australia, yang menemukan puisi lama ini dalam sebuah majalah terbitan tujuh tahun yang lalu di meja ruang tunggu juru bahasa di <em>Refugee Review Tribunal</em>, Melbourne.</p>
<p><span id="more-692"></span>Ketentuan lomba adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Puisi yang dilombakan adalah <em><a href="http://blog.bahtera.org/lomba-bahtera-februari-2010/"><strong>Yellow Daffodil</strong></a></em> karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Horace_Smith">Horace Smith</a>. Naskah puisi dapat <a href="http://blog.bahtera.org/lomba-bahtera-februari-2010/">dibaca di sini</a>.</li>
<li>Puisi boleh diterjemahkan secara bebas ke bahasa apa pun yang Anda inginkan. Berdasarkan masukan dari penyair kondang SDD (Sapardi Djoko Damono), puisi terjemahan tidak perlu persis sama dengan puisi aslinya, tetapi pesan penyair aslinya tetap harus tersampaikan. Sebagai pedoman lain, silakan pula baca tulisan Setyadi Setyapranata, <em><a href=" di http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/">Pilih sing ayu apa sing setya? Pilih yang cantik atau yang setia?</a></em></li>
<li>Semua puisi terjemahan harus sudah diterima Panitia Lomba selambat-lambatnya Sabtu <strong>27 Februari 2010</strong> dan dikirimkan ke <a href="mailto:lomba@bahtera.org">lomba at bahtera dot org</a>. Hanya anggota milis Bahtera, baik yang lama maupun baru, yang diperkenankan mengikuti lomba.</li>
<li>Semua puisi terjemahan akan ditayangkan secara anonim dan secara serentak pada Senin <strong>1 Maret 2010</strong> di Blog Bahtera. URL lamannya akan diumumkan pada waktunya melalui milis.</li>
<li>Semua anggota Bahtera, baik anggota lama maupun anggota baru, termasuk para moderator dan para pendiri Bahtera, dipersilakan masing-masing memilih MAKSIMUM DUA karya puisi terjemahan favoritnya. Caranya akan diumumkan pada waktunya melalui milis. Voting dimulai pada Senin 1 Maret 2010, dan ditutup pada pada Senin <strong>8 Maret 2010</strong>. Pengumuman agar Bahterawan menggunakan hak pilihnya akan ditayangkan di milis Bahtera secara berkala pada kurun waktu ini.</li>
<li>Puisi yang terbanyak pemilihnya akan dinyatakan sebagai pemenang, dan berhak atas hadiah dari Bahtera berupa Kamus Lengkap Indonesia-Inggris susunan Alan Stevens &amp; A.Ed.Schmidgall-Tellings. Kalau pemenang sudah memiliki kamus ini, hadiah akan diganti dengan hadiah lain, yakni flashdisk 8 GB.</li>
<li>Nama pemenang lomba akan diumumkan secepat-cepatnya pada pada Kamis <strong>11 Maret 2010</strong>.</li>
<li>Tidak ada surat-menyurat pribadi, dan keputusan Panitia Lomba tidak dapat diganggu gugat.</li>
</ol>
<p>Selamat mengikuti Lomba Bahtera &#8211; Februari 2010.</p>
<p>Sofia Mansoor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/lomba-bahtera-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mens Sana In Corpore Sano</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 06:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: "Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat". Jagoan catur kita, Utut Adianto, pastilah tahu benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.

Baca lebih lanjut penuturan Sofia Mansoor tentang etimologi beberapa kata di bidang olahraga. Tenis, badminton, arena, boling, senam, maraton, sampai catur dibahas dalam tulisan di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Anda termasuk orang yang berkeberatan menggolongkan permainan <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Catur">catur</a></em> sebagai <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=olahraga">olahraga</a></em>?  Mengapa? Apakah karena Anda berpendapat bahwa <em>catur</em> lebih tepat disebut  <em>olahotak</em>, bukan <em>olahraga</em>, karena otaklah yang lebih berperan  dalam permainan tersebut?</p>
<p>Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di  seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: &#8220;Dalam tubuh  yang sehat terdapat jiwa yang sehat&#8221;. Jagoan catur kita, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Utut_Adianto">Utut Adianto</a>, pastilah tahu  benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus  dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.</p>
<p><span id="more-686"></span>Kata <em>olahraga</em> sendiri adalah padanan kata Inggris <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=sport">sport</a></em>, yang  merupakan singkatan kata <em>disport</em>, yang pada abad ke-14 berarti  &#8220;menyenangkan diri sendiri&#8221;. Nah, jika kita berpegang pada asal-usul kata  <em>sport</em> ini, ternyata bukan hanya pecatur, tetapi semua orang yang  melakukan kegiatan menyenangkan diri sendiri boleh dikatakan tengah berolahraga.  Barangkali, kata Malaysia <em><a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Sukan">sukan</a></em> lebih tepat berpadanan  dengan kata <em>sport</em>, daripada kata Indonesia <em>olahraga</em>, karena  bukankah <em>sukan</em> atau <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=suka">bersukaan</a></em> mencerminkan arti yang disandang kata tersebut?</p>
<h3>Tenis dan badminton</h3>
<p>Marilah kita telusuri sekarang sejumlah kata yang berkaitan dengan olahraga,  misalnya <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=tenis">tenis</a></em>.  Kalau dirunut, kata <em>tenis</em> berasal dari kata Prancis <a href="http://www.etymonline.com/index.php?search=tennis">tenez</a><em></em>,  bentuk imperatif dari kata kerja <em>tenir</em> yang berarti &#8220;mempertahankan&#8221;.  Tampaknya ini ada hubungannya dengan keharusan seorang petenis mempertahankan  servisnya agar tidak dipatahkan lawan. Kata <em>tenir</em> sendiri berasal dari  kata Latin <em>tenere</em>, yang antara lain menurunkan sejumlah kata Inggris  seperti <em>tenure</em>, <em>tennancy</em>, dan <em>tenant</em>, yang semuanya  berhubungan dengan nuansa arti &#8220;bertahan&#8221; atau &#8220;mempertahankan&#8221;. Permainan  <em>tenis</em> yang kita kenal sekarang konon baru mulai dimainkan di luar ruangan  pada tahun 1874.</p>
<p>Kata selanjutnya yang berhubungan dengan olahraga ini – yang membuat penonton  dengan lucunya menoleh bolak-balik secara serempak ke kiri dan ke kanan  mengikuti gerakan bola – adalah kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=raket">raket</a></em>.  Buku <em>Word Origins</em> karangan Wilfred Funk mengatakan bahwa kata ini berasal  dari kata Arab <em>rahat</em>. <em>Dictionary of Word Origins</em> karya John Ayto  menelusurinya mulai dari kata Prancis <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=racquet">raquette</a></em>, yang  berawal dari kata Itali <em>racchetta</em>, yang berinduk lagi ke kata Arab  <em>rahat</em> tadi. Arti semua kata itu sama, yaitu &#8220;telapak tangan&#8221;. Sungguh  tepat, sebab telapak tangan memang merupakan <em>raket</em> pertama seorang  petenis. Sesungguhnyalah, meskipun <em>tenis</em> adalah permainan yang sudah  sangat tua, baru pada abad keduabelaslah orang menggunakan <em>raket</em> yang  kita kenal sekarang.</p>
<p>Demikian pula dengan penggunaan <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=net">net</a></em>,  benda di tengah lapangan yang memisahkan daerah seorang petenis dari daerah  lawannya. Kata <em>net</em> sendiri, kalau ditelusuri, bisa melintasi sekitar enam  bahasa, sebelum akhirnya disimpulkan berkerabat dengan kata Latin <em>nassa</em>,  yang berarti &#8220;anyaman jala ikan&#8221;. <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=net">Net</a></em> yang digunakan  dalam permainan tenis memang mirip jala ikan, bukan?</p>
<p>Sayang, prestasi para petenis Indonesia belum patut dibanggakan, kecuali  prestasi Yayuk Basuki yang sudah mundur pada tahun 1997 karena dilanda cedera.  Bagaimana kalau kita beralih saja pada olahraga nomor satu Indonesia, penyumbang  medali emas kita di Olimpiade? Apa lagi kalau bukan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=badminton">badminton</a><em></em>?  Dikisahkan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Duke_of_Beaufort">Duke of  Beaufort</a> memiliki tanah luas dengan keliling 15 kilometer di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gloucestershire">Glouchestershire</a>,  Inggris. Tanah miliknya ini, yang bernama<em> Badminton</em>, merupakan ajang  berbagai &#8220;inovasi&#8221; Inggris di penghujung abad ke-19. Yang tercatat, sejenis  minuman anggur dan minuman bersoda dinamakan <em>badminton</em> karena berasal  dari daerah tersebut. Permainan <em>badminton</em> sendiri, yang sering dikira  berasal dari Inggris, sebenarnya berasal dari India, dan untuk pertama kalinya  dimainkan di Inggris pada tahun 1873 – di mana lagi kalau bukan di <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Badminton_House">Badminton House</a></em>,  rumah peristirahatan Duke of Beaufort.</p>
<h3>Arena dan bowling</h3>
<p>Di masa Yunani dan Romawi kuno, berbagai jenis olahraga dan pertandingan  dilangsungkan di sebuah <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=arena">arena</a></em>,  dan olahraga yang mereka pertunjukkan sering berakhir sangat mengenaskan dengan  jatuhnya korban. Adat bangsa Romawi adalah menaburkan <em>harena</em> atau pasir  untuk menyerap darah para korban. Kata <em>harena</em> memang tepat untuk  menamakan amfiteater tempat berlangsungnya kegiatan olahraga karena biasanya  tempat itu memang berpasir. Pada abad ke-17, kata <em>harena</em> masuk ke  khazanah bahasa Inggris dengan huruf h-nya melesap, menjadi <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=arena">arena</a></em>. Bahasa  Indonesia menyerap langsung kata tersebut dari bahasa Inggris. Bahkan, mengingat  bunyinya yang akrab di telinga kita, banyak yang mengira bahwa kata itu kata  &#8220;asli&#8221; Indonesia.</p>
<p>Jenis olahraga yang banyak digemari orang kota besar (karena di kota kecil  tidak tersedia sarananya) adalah <em>bowling</em> yang diindonesiakan menjadi  <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=boling">boling</a></em> atau <em>bola gelinding</em>. Permainan ini mempunyai riwayat yang memikat,  meskipun sejarah kata <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bowling">bowling</a></em> sendiri cukup  sederhana. Nenek moyangnya adalah kata Latin <em>bulla</em> yang berarti  &#8220;gelembung&#8221;. <em>Bulla</em> akhirnya menjadi <em>bowl</em> yang semula berarti  bolanya itu sendiri atau penggelindingan bola tersebut.</p>
<p>Para peboling mungkin tidak mengira bahwa perangkat lengkap permainan  kegemaran mereka ditemukan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flinders_Petrie">Sir Flinders Petrie</a>,  seorang ahli antropologi Inggris, di &#8230; hiiii &#8230; sebuah makam Mesir yang  dibangun pada tahun 5200 SM, lebih dari 25 abad yang lalu! Para peboling juga  mungkin akan menggeleng-gelengkan kepala keheranan kalau tahu bahwa boling  pernah dilarang dimainkan di Inggris oleh Raja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_III_of_England">Edward III</a> (memerintah tahun 1327–77), <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_II_of_England">Richard II</a> (1377–99), dan beberapa raja lainnya karena dianggap permainan yang &#8220;kurang  jantan&#8221; karena tidak melatih keterampilan berperang, berbeda dengan olahraga  panahan. Raja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Henry_VIII_of_England">Henry  VIII</a> (1509–47), yang kawin sampai enam kali, juga melarang boling, tetapi  curangnya, dia mempunyai lintasan boling pribadi di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Palace_of_Whitehall">Whitehall</a> (salah  satu gedung pemerintahan di Inggris) untuk menghibur diri di antara kegiatan  kerjanya (mungkin juga di antara pelaksanaan hukuman mati!). Entah apakah  lintasan boling tersebut masih ada sekarang.</p>
<h3>Olahraga telanjang</h3>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah TV swasta kita dikecam pemirsanya karena  dianggap menayangkan olahraga setengah telanjang – para peraganya memang  berpakaian sangat minim. Olahraga tersebut, yaitu <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=senam">senam</a><em></em>,  ternyata memiliki riwayat yang menarik. Kata <em>senam</em> adalah padanan kata  Inggris <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gymnastics">gymnastics</a></em> yang berasal dari kata Yunani <em>gymnazo</em> yang berarti &#8220;berlatih sambil  telanjang&#8221; yang berasal dari kata <em>gymnos</em> yang berarti &#8220;telanjang&#8221;.  Memang, di masa Yunani kuno, kegiatan olahraga sering dilangsungkan sambil  telanjang karena udara yang amat panas membuat orang cenderung ingin berpakaian  seminim mungkin. Bahkan, konon lintasan atletik di lapangan Olimpiade yang  terkenal itu digunakan oleh para atlet yang telanjang. Bangsa Yunani di zaman  itu percaya bahwa telanjang sangat baik bagi kesehatan, sama seperti pendapat  mereka yang gemar mandi matahari atau berjemur diri di zaman sekarang. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hippocrates">Hippocrates</a>, dokter Yunani  yang terkenal itu, mengatakan bahwa sinar matahari sangat menyehatkan.</p>
<h3>Maraton</h3>
<p>Boleh dikatakan semua orang tahu riwayat di balik kata lari jarak jauh ini.  Sekitar dua setengah milenium (2500 tahun) yang lalu, pada tahun 490 SM, secara  menakjubkan pasukan mini bangsa Yunani yang berkekuatan hanya 10.000 orang  berhasil <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Marathon">mengalahkan</a> 100.000  orang Persia dalam perang di dataran <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marathon,_Greece">Marathon</a></em>. Seorang  pelari yang gagah berani, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pheidippides">Pheidippides</a>, ditugasi  membawa berita kemenangan istimewa itu dengan berlari sekencang-kencangnya ke  kota Athena yang jaraknya sekitar 26 mil atau 42 kilometer dari ajang perang.  Setibanya di dinding Acropolis, dia berseru: &#8220;Hore! Kita menang!&#8221;, lalu langsung  tersungkur dan tewas. Pemandangan seperti ini sering kita saksikan ketika para  pelari berhasil mencapai finis lomba <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=maraton">maraton</a></em>,  baik menang maupun kalah. Mereka tersungkur kelelahan atau terpaksa dipapah  karena kekuatan raganya terkuras habis.</p>
<p>Dalam pesta Olimpiade pertama yang dilangsungkan pada tahun 1896, lari  <em>maraton</em> diperlombakan dengan maksud memperingati peristiwa Pheidippides  2400 tahun sebelumnya. Dan, hasilnya sungguh amat pantas &#8230; seorang pelari  Yunani, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spyridon_Louis">Spiros Louis</a>,  memenangkan lomba tersebut. Jarak lari maraton sepanjang 26 mil 385 yard, atau  41,736 km, yang menjadi standar sejak tahun 1924, bermula dari sebuah keputusan  yang dibuat pada Olimpiade 1908 di London. Sebelum itu, jarak lomba adalah tepat  26 mil. Tetapi, agar lomba berakhir tepat di muka podium kehormatan, jarak 385  yard ditambahkan!</p>
<p>Sekarang, selain untuk lomba lari jarak jauh, kata <em>maraton</em> juga  digunakan untuk kegiatan lain yang menguras tenaga, misalnya <em>kerja  maraton</em> yang berarti kerja keras dalam waktu lama. Para penerjemah yang  kebanjiran order tentu amat akrab dengan istilah ini! Dalam kamus Badudu-Zain  terdapat frase <em>sidang maraton</em> yang berarti sidang terus-menerus,  sambung-bersambung, karena banyak hal yang harus dibahas sehingga perlu mengejar  waktu bagi pencapaian hasilnya.</p>
<h3>Skak!</h3>
<p>Marilah kita tutup wisata kita dengan kembali ke masalah di awal tulisan ini,  <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=catur">catur</a></em>.  Bila seorang pecatur menyerukan &#8220;Skak!&#8221;, dia bermaksud memperingatkan lawan  bahwa raja si lawan akan segera mati, atau si lawan akan kalah. Kata <em>skak</em> kita pungut dari kata Belanda <em>schaken</em>, yang berarti permainan catur.  Penutur Inggris menyebut permainan itu <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chess">chess</a></em>, dan mengucapkan  <em>check</em> untuk mengakhiri permainan. Kedua kata tersebut, <em><a href="http://en.wiktionary.org/wiki/chess">chess</a></em> dan <em>check</em>,  berasal dari daerah Timur Jauh, dari kata Persia <em>shah</em> yang berarti  &#8220;raja&#8221;. Istilah<em> shah</em> mengembara melalui bahasa Arab ke masa Old French  menjadi <em>eschequier</em>, kata turunan dari kata <em>eschec</em>, ke Middle  English menjadi <em>chek</em>, dan akhirnya menjadi <em>check</em>. Selain ucapan  <em>check</em>, pecatur berbahasa Inggris juga menggunakan istilah  <em>check-mate</em> untuk memperingatkan lawan. Ini berasal dari kata  <em>shah-mat</em> dalam bahasa Persia, yaitu &#8220;raja sudah tak berdaya.&#8221;</p>
<p>Meskipun demikian, saya tidak akan mengucapkan <em>skak</em> atau <em>check-mate </em>atau<em> shah-mat</em> untuk mengakhiri wisata kita kali ini. Alih-alih, saya  ingin mengucapkan <em>wa&#8217;alaikum salaam</em>, ucapan bahasa Arab yang berarti  &#8220;selamat dan sejahtera bagi Anda yang mendengarkan&#8221;, dalam hal ini tentu saja  bagi Anda yang membaca tulisan ini. Sampai jumpa!</p>
<p><em>Penulis: Sofia Mansoor. Sumber: Word Origins, Webster&#8217;s Word Histories,  Dictionary of Word Origins, dan berbagai kamus. Dimuat di Berita Buku, Mei  1996.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kualitas Terjemahan Melalui Evaluasi Mandiri</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 09:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien. Karenanya, penerjemah lepas perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.

Bagaimanakah langkah-langkah untuk melakukan evaluasi mandiri ini? Baca uraian lebih lanjut dari Ade Indarta di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien.</p>
<p>Padahal sering kali klien sendiri tidak bisa langsung menilai hasil terjemahan saat menerimanya. Ini terutama jika klien Anda adalah perusahaan luar negeri yang tidak mengerti bahasa yang kita terjemahkan. Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Karena itu, ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan. Mereka akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Kalau Anda mempunyai klien yang tidak pernah mengeluhkan kualitas terjemahan Anda dan tiba-tiba saja berhenti mengirimkan pekerjaan ke Anda, bisa jadi ini pertanda ada masalah dengan kualitas terjemahan Anda.</p>
<p><span id="more-678"></span>Untuk menghindari masalah seperti itu, sebagai penerjemah lepas, kita perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.</p>
<p>Ada enam langkah yang dapat Anda lakukan untuk melaksanakan evaluasi mandiri, yaitu:</p>
<ol>
<li>menentukan kualitas terjemahan,</li>
<li>menentukan pengevaluasi,</li>
<li>memverifikasi hasil evaluasi,</li>
<li>mengenali kelemahan,</li>
<li>menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan, serta</li>
<li>melakukan evaluasi secara berkala,</li>
</ol>
<p>Berikut ini akan dijabarkan masing-masing langkah evaluasi tersebut.</p>
<h3>1. Menentukan Kualitas Terjemahan</h3>
<p><strong>A. Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Untuk bisa meningkatkan kualitas terjemahan kita, pertama-tama kita perlu menentukan terlebih dahulu apa yang kita anggap sebagai terjemahan berkualitas. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengukur peningkatan kualitas terjemahan kita.</p>
<p>Kualitas terjemahan dapat kita jabarkan ke beberapa kategori yang bisa kita jadikan acuan. Kategori ini bisa Anda buat sendiri atau mengacu pada model yang sudah ada. Jika Anda mengacu pada model Penjaminan Mutu dari <a href="http://www.lisa.org/">LISA</a> misalnya, beberapa kategori yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas antara lain Keakuratan, Terminologi, Bahasa, Gaya, Aturan Negara, Konsistensi, dsb. Dengan kategori ini, kita dapat memilah-milah kesalahan terjemahan pada terjemahan kita agar lebih mudah mengevaluasinya. Berdasarkan kategori di atas, nantinya kita dapat membuat tabel sederhana seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Keakuratan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Konsistensi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Terminologi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bahasa</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>“Not many” diterjemahkan sebagai “Sedikit sekali”</td>
<td></td>
<td></td>
<td>Awalan di- dipisah pada kata “di cari”</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>“Anda” ditulis dengan huruf kecil (“anda”)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 1. Kategori Kualitas Terjemahan</em></p>
<p><strong>B. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Perlu diingat bahwa jenis terjemahan yang berbeda biasanya juga akan mempengaruhi bobot kategori kualitas yang ada. Misalnya, untuk terjemahan karya fiksi, kesalahan dalam hal penggunaan bahasa target dan gaya bahasa mungkin akan jauh lebih mempengaruhi kualitas daripada kesalahan pada konsistensi dan keakuratan. Sebaliknya, pada terjemahan manual elektronik misalnya, kesalahan pada konsistensi dan terminologi akan berpengaruh lebih besar pada kualitas daripada kesalahan pada gaya dan aturan bahasa.</p>
<p>Untuk memfasilitasi adanya perbedaan seperti ini, kita perlu memberikan bobot untuk masing-masing kategori yang disesuaikan dengan kebutuhan kita akan terjemahan yang berkualitas. Jika Anda ingin mengukur kualitas terjemahan novel yang Anda kerjakan, berilah bobot 2 untuk gaya dan bahasa misalnya. Dengan demikian, setiap kali ada kesalahan yang ditemukan untuk kategori ini, jumlahnya akan dikalikan dua sementara kesalahan pada kategori yang lain nilainya hanya 1. Jika Anda sudah melengkapi tabel di atas, Anda bisa memasukkan jumlah kesalahan yang ada ke dalam tabel seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Kategori</strong></td>
<td width="25%"><strong>Kesalahan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bobot</strong></td>
<td width="25%"><strong>Total</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Bahasa</strong></td>
<td>1</td>
<td>2</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Terminologi</strong></td>
<td>0</td>
<td>1</td>
<td>0</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Keakuratan</strong></td>
<td>1</td>
<td>1</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Gaya</strong></td>
<td>4</td>
<td>2</td>
<td>8</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Jumlah</strong></td>
<td>6</td>
<td>-</td>
<td>10</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 2. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</em></p>
<p><strong>C. Standar Kualitas Terjemahan</strong></p>
<p>Ingat bahwa jumlah kesalahan wajarnya akan dipengaruhi oleh besarnya terjemahan yang Anda evaluasi. Semakin besar teks yang Anda evaluasi semakin besar kemungkinan ditemukannya lebih banyak kesalahan. Oleh karena itu, jumlah total dalam tabel di atas akan tidak dapat dibandingkan jika besar teks yang Anda evaluasi berbeda.</p>
<p>Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat menyamakan besar teks yang Anda evaluasi, misalnya 500 kata. Jadi setiap kali Anda akan melakukan evaluasi, teks harus Anda potong terlebih dahulu agar besarnya sesuai dengan standar yang Anda tentukan, 500 kata. Cara lain yang dapat dilakukan, dan yang lebih mudah, adalah dengan menghitung nilai untuk setiap sekian kata. Misal jika Anda ingin mengetahui nilai Anda dalam setiap 500 kata yang terjemahkan dari teks yang besarnya 1250 kata, dari tabel di atas Anda dapat menghitungnya seperti berikut:</p>
<p style="text-align: center;">Nilai per 500 kata = (Total Kesalahan x 500) / Jumlah kata</p>
<p style="text-align: center;">= (10 x 500) / 2500 = 4</p>
<p>Dengan menggunakan nilai yang sudah Anda hitung seperti di atas, Anda dapat menentukan berapa standar yang ingin Anda gunakan untuk menilai kualitas terjemahan Anda. Ingat, semakin besar nilai Anda, itu berarti semakin banyak kesalahan yang Anda lakukan. Semakin baik terjemahan, nilainya akan semakin mendekati nol.</p>
<h3>2. Menentukan pengevaluasi</h3>
<p>Untuk menjaga keobjektifan evaluasi, kita memerlukan bantuan pihak kedua untuk mengevaluasi terjemahan kita. Pengevaluasi ini bisa merupakan teman penerjemah Anda yang bersedia membantu, atau pun penerjemah lain yang bisa Anda bayar untuk melakukan evaluasi. Menentukan penerjemah yang akan mengevaluasi kita biasanya tidak mudah. Ke depannya, penilaian kualitas terjemahan kita akan bergantung pada pengevaluasi ini. Karena itu, kita perlu mencari penerjemah yang tepat untuk mengevaluasi hasil terjemahan kita.</p>
<p>Dengan menggunakan sistem evaluasi yang telah kita buat untuk diri kita, kita bisa melakukan evaluasi pada penerjemah yang akan mengevaluasi kita tersebut. Dengan standar yang telah kita tetapkan, jika penerjemah lolos evaluasi tersebut kita dapat menggunakannya untuk mengevaluasi terjemahan kita. Setelah itu, Anda bisa mengirimkan hasil terjemahan Anda ke penerjemah tersebut untuk dievaluasi &#8212; pastikan terjemahan yang Anda pilih untuk dievaluasi tersebut tidak terikat oleh perjanjian kerahasiaan dengan klien.</p>
<h3>3. Memverifikasi hasil evaluasi</h3>
<p>Setelah terjemahan Anda selesai dievaluasi dan Anda menerima hasil evaluasi, kita perlu melakukan verifikasi atas hasil tersebut. Verifikasi perlu dilakukan agar hasil evaluasi benar-benar valid sesuai dengan yang Anda harapkan dan pengevaluasi telah melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan sistem yang telah kita buat.</p>
<p>Verifikasi ini tidak dimaksudkan agar kita dapat membohongi diri sendiri dengan mencari pembenaran untuk kesalahan valid yang telah ditemukan pengevaluasi. Oleh karena itu, kita harus berusaha seobjektif mungkin dalam melakukan verifikasi. Dalam proses ini, yang harus Anda lakukan adalah menganalisis setiap kesalahan dan kategori yang telah ditemukan. Ada kalanya pengevaluasi akan keliru dalam menetapkan kategori pada kesalahan terjemahan Anda. Dengan cara ini, pengukuran kualitas terjemahan Anda akan lebih akurat.</p>
<p>Sering juga pengevaluasi akan bersikap subjektif dan mencatat perbedaan gaya sebagai kesalahan terjemahan. Misalnya saja, Anda lebih memilih menggunakan kata “bisa” sedang menurut penerjemah tersebut kata “dapat” dirasa lebih tepat. Dengan mempertimbangkan konteksnya, sering kali perbedaan gaya seperti ini tidak cukup kuat argumennya untuk dipertimbangkan sebagai kesalahan terjemahan. Oleh karena itu, Anda perlu menyingkirkan kesalahan-kesalahan seperti ini dalam hasil evaluasi.</p>
<h3>4. Mengenali kelemahan</h3>
<p>Setelah tabel <em>Kategori Kesalahan Terjemahan</em> Anda dilengkapi dengan kesalahan-kesalahan yang ditemukan oleh pengevaluasi dan telah Anda verifikasi, Anda dapat melanjutkan dengan melakukan penghitungan pada tabel Bobot Kategori Kualitas terjemahan. Setelah selesai, Anda akan mendapatkan total nilai Anda untuk evaluasi tersebut. Berdasarkan standar kualitas yang telah Anda tetapkan, Anda dapat mengetahui apakah terjemahan yang kirim untuk evaluasi tersebut memiliki kualitas yang Anda harapkan atau tidak.</p>
<p>Selanjutnya, Anda dapat menganalisis lebih jauh wilayah kekurangan atau kelebihan Anda dengan melihat kesalahan yang ada berdasarkan kategorinya. Anda mungkin baru menyadari bahwa Anda sering kali melakukan kesalahan pengetikan; Anda mungkin tidak pernah tahu bahwa selama ini Anda selalu tidak sengaja menambahkan arti baru ke sebuah kalimat dan sebagainya. Semakin Anda melakukan evaluasi ini, Anda mungkin akan semakin melihat banyak kesalahan yang secara logika mungkin tidak akan mungkin Anda lakukan. Semakin dalam Anda melakukan analisis, semakin banyak kelemahan yang dapat Anda simpulkan dari kualitas terjemahan Anda.</p>
<h3>5. Menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan</h3>
<p>Meskipun tentu saja tidak ada strategi mutlak yang bisa untuk mengatasi suatu masalah, Anda paling tidak dapat merancang strategi yang sesuai dengan kelemahan yang telah Anda temukan dan peningkatan kualitas yang Anda harapkan. Misal, ternyata Anda baru menyadari bahwa Anda lemah di kategori bahasa. Anda dapat merancang proses terjemahan Anda agar lebih menekankan pada deteksi kesalahan pada kategori ini.</p>
<p>Umpamanya Anda sering melakukan kesalahan ketik. Mungkin Anda bisa menambahkan langkah pemeriksaan ejaan dengan perangkat lunak pemeriksa ejaan setelah Anda selesai menerjemahkan dan menyunting agar apabila ada kesalahan ketik yang terlewatkan pada tahap pemeriksaan Anda, Anda masih dapat menangkapnya sebelum diserahkan ke klien. Jika kelemahan Anda adalah gaya terjemahan Anda sangat kaku dan tingkat keterbacaannya rendah, Anda bisa mulai menambahkan waktu tunggu 1 hari ke dalam proses terjemahan Anda. Ini agar Anda mempunyai waktu tambahan untuk memisahkan diri dari terjemahan Anda dan dapat membacanya secara objektif untuk melakukan perbaikan jika perlu.</p>
<h3>6. Melakukan evaluasi secara berkala</h3>
<p>Untuk mengetahui peningkatan (atau penurunan) kualitas terjemahan kita, kita perlu melakukan evaluasi terjemahan secara berkala. Dengan cara ini, kita bisa terus mengetahui kualitas terjemahan kita. Anda bisa merancang waktunya sesuai dengan kebutuhan Anda dan pekerjaan Anda. Misalkan Anda hanya menerima pekerjaan terjemahan misalnya satu bulan sekali, tentunya secara finansial tidak akan sehat jika Anda harus melakukan evaluasi ini setiap bulan, 6-12 bulan sekali mungkin cukup. Sebaliknya jika Anda setiap hari menerjemahkan puluhan halaman, mungkin melakukan evaluasi setiap 3 bulan sekali pun tidak lah mencukupi. Anda bisa membuat sebuah tabel sederhana untuk memonitor hasil evaluasi Anda seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="20%"><strong>Tanggal</strong></td>
<td width="20%"><strong>Pengevaluasi </strong></td>
<td width="20%"><strong>Nama berkas</strong></td>
<td width="20%"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="20%"><strong>Catatan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 3. Hasil Evaluasi Berkala</em></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, biasanya sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan dan akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Karena itu, tidak adanya keluhan dari klien seharusnya tidak dijadikan ukuran bahwa kualitas terjemahan kita sudah sempurna. Sebagai penerjemah lepas kita perlu mawas diri dan menciptakan sistem evaluasi kualitas sendiri untuk dapat terus memonitor dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Metode yang dipaparkan di atas hendaknya tidak dilihat sebagai panduan lengkap untuk melakukan evaluasi terjemahan mandiri; melainkan sebagai inspirasi dan awalan untuk menciptakan sistem evaluasi kualitas terjemahan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing penerjemah lepas.</p>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pedoman bagi Penerjemah</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/pedoman-bagi-penerjemah/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/pedoman-bagi-penerjemah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 17:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional adalah buku berbahasa Indonesia pertama yang saya temukan yang memberikan pedoman teoritis sekaligus praktis untuk melakukan penerjemahan. Buku ini adalah buah karya Rochayah Machali (Rochie) yang telah berkecimpung, baik sebagai teoritisi maupun praktisi, dalam bidang penerjemahan sejak awal 1990-an. Saat ini beliau menjadi pengajar di School of Languages and Linguistics, University of New South Wales, Sydney, Australia.

Buku terbitan Penerbit Kaifa (Mizan) setebal 252 halaman ini sangat bermanfaat bagi para penerjemah; bekal bagi penerjemah pemula dan pengingat bagi penerjemah kawakan. Hampir semua aspek penerjemahan dimuat secara terstruktur dengan bahasa yang cukup mudah untuk dipahami. Harga eceran Rp39.500 yang ditetapkan untuk buku ini adalah investasi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan penerjemah dan memperbaiki kualitas terjemahannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display: inline; margin-left: 10px; margin-right: 0px;" src="http://photo.goodreads.com/books/1262745249m/7501805.jpg" alt="" align="right" /><em>Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional</em> adalah buku berbahasa Indonesia pertama yang saya temukan yang memberikan pedoman teoritis sekaligus praktis untuk melakukan penerjemahan. Buku ini adalah buah karya Rochayah Machali (Rochie) yang telah berkecimpung, baik sebagai teoritisi maupun praktisi, dalam bidang penerjemahan sejak awal 1990-an. Saat ini beliau menjadi pengajar di School of Languages and Linguistics, University of New South Wales, Sydney, Australia.<br />
<span id="more-668"></span></p>
<h3>Tinjauan</h3>
<p>Buku ini terdiri dari 11 bab, 5 lampiran, dan suatu daftar pustaka yang mencantumkan banyak rujukan. Meskipun pembahasan dalam setiap bab cukup mendalam, adanya uraian tentang cara pembahasan pada bagian awal serta kesimpulan pada bagian akhir masing-masing bab sangat memudahkan pemahaman isi. Setiap bab pun dilengkapi dengan contoh-contoh dan latihan sebagai sarana pemantapan pemahaman pembaca.</p>
<p>Bab-bab yang terdapat dalam buku ini adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Penerjemahan dan penerjemah.</li>
<li>Konsep dasar mengenai bahasa, fungsi, dan ragam.</li>
<li>Proses dan tahap penerjemahan.</li>
<li>Metode penerjemahan.</li>
<li>Prosedur penerjemahan.</li>
<li>Teknik penerjemahan.</li>
<li>Pergeseran makna umum, perubahan maksud, ketaksaan, dan pemadanan.</li>
<li>Penilaian terjemahan.</li>
<li>Topik khusus 1: Seksisme bahasa dan penerjemahan.</li>
<li>Topik khusus 2: Perspektif wacana dan penerjemahan.</li>
<li>Pendidikan dan pelatihan penerjemahan.</li>
</ol>
<p>Lampirannya antara lain memuat daftar organisasi dan tempat pendidikan penerjemah serta terjemahan bahasa Indonesia dari <em>Translator&#8217;s Charter</em> FIT.</p>
<h3>Ringkasan</h3>
<p>Berikut adalah ringkasan dari isi buku yang disajikan dalam bentuk padat: satu alinea untuk masing-masing bab.</p>
<p><strong>Penerjemahan</strong> bukanlah semata kegiatan menggantikan teks bahasa sumber (TSu) ke dalam teks bahasa sasaran (TSa) melainkan perlu dipandang sebagai suatu tindak komunikasi, bukan sekadar kumpulan kata dan kalimat. Penerjemah perlu melihat penerjemahan dari dua pendekatan, yaitu <em>proses</em> dan <em>produk</em>, serta perlu dibekali dengan perangkat <em>intelektual</em> (kemampuan dalam bahasa sumber dan sasaran, pengetahuan tentang topik terjemahan, penerapan pengetahuan pribadi, serta keterampilan) dan <em>praktis</em> (penggunaan sumber rujukan serta pengenalan konteks langsung maupun tak langsung).</p>
<p><strong>Bahasa</strong> merupakan (1) sistem yang terstruktur, (2) sistem bunyi yang bersifat manasuka, serta (3) sarana komunikasi antarpribadi. Aspek kebahasaan yang harus dipahami dan diperhatikan oleh penerjemah antara lain adalah bentuk (bunyi, tulisan, dan struktur), makna, fungsi, dan ragam bahasa. Hierarki <em>satuan bahasa</em> adalah kalimat, klausa, frase, kata, dan morfem. <em>Makna</em> dapat dilihat dari segi hubungan dengan kata lain (leksikal, gramatikal, kontekstual, dan sosiokultural) serta dari segi asalnya (primer atau referensial dan sekunder atau konotatif). <em>Fungsi bahasa</em> dapat digolongkan menjadi (1) ekspresif, (2) informatif, (3) vokatif, (4) estetik, (5) fatis, serta (6) metalingual. <em>Ragam bahasa</em> adalah perbedaan yang ada dalam penggunaan suatu bahasa yang bisa bersumber dari variasi internal maupun eksternal. Ada empat istilah untuk menunjukkan keragaman bahasa, yaitu (1) dialek, (2) laras, (3) gaya, dan (4) idiolek. Gaya bahasa dapat dibagi menjadi lima, yaitu ragam beku, resmi, operasional, santai, dan akrab. Pembagian ragam juga dapat dilakukan menurut ragam baku (dengan ciri kemantapan dinamis dan kecendikiaan) dan tak baku.</p>
<p><strong>Proses</strong> penerjemahan terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) analisis, (2) pengalihan, dan (3) penyerasian, yang masing-masing dapat diulangi untuk lebih memahami isi teks. <em>Analisis</em> dilakukan untuk memahami (1) maksud penulisan, (2) cara atau gaya penyampaian, serta (3) pemilihan satuan bahasa. <em>Pengalihan</em> dilakukan untuk menggantikan unsur TSu dengan TSa yang sepadan baik bentuk maupun isinya dengan mengingat bahwa kesepadanan bukanlah kesamaan. <em>Penyerasian</em> dilakukan untuk penyesuaian hasil terjemahan dengan kaidah dan peristilahan dalam bahasa sasaran. Dalam analisis dan pengalihan, dapat dimanfaatkan konstruk konteksi situasi yang terdiri dari tiga unsur: bidang (<em>field</em>), suasana atau nada (<em>tenor</em>), dan cara (<em>mode</em>). Setelah analisis, seorang penerjemah harus memilih orientasi ke bahasa sumber (BSu) atau bahasa sasaran (BSa) dengan mempertimbangkan (1) maksud penerjemahan, (2) pembaca, (3) jenis teks, serta (4) kesenjangan waktu.</p>
<p><strong>Metode</strong> penerjemahan adalah cara melakukan penerjemahan menurut suatu rencana tertentu. Ada delapan metode penerjemahan, yaitu (1) kata-demi-kata, (2) harfiah, (3) setia, (4) semantis, (5) adaptasi, (6) bebas, (7) idiomatik, (8) komunikatif. Metode semantis dan komunikatif sering dianggap paling memenuhi tujuan ketepatan dan efisiensi dalam penerjemahan.</p>
<p><strong>Prosedur</strong> dan metode penerjemahan dibedakan menurut satuan penerapannya: Metode pada keseluruhan teks sedangkan prosedur pada satuan bahasa seperti kalimat, klausa, frase, dan kata. Lima prosedur penerjemahan terpenting adalah (1) transposisi, (2) modulasi, (3) adaptasi, (4) pemadanan berkonteks, dan (5) pemadanan bercatatan. <em>Transposisi atau pergeseran bentuk</em> adalah pengubahan bentuk gramatikal dari BSu ke BSa yang dibagi menjadi empat jenis, yaitu (1) wajib dan otomatis, (2) penyesuaian struktur gramatika, (3) pewajaran ungkapan, serta (4) pengisian kesenjangan leksikal. <em>Modulasi atau pergeseran makna</em> adalah pergeseran struktur yang juga menyebabkan perubahan perspektif, sudut pandang, atau segi maknawi lain yang dibagi menjadi (1) wajib, yang dilakukan apabila suatu kata, frase, atau struktur tidak ada padanannya dalam BSa, serta (2) bebas, yang dilakukan karena alasan nonlinguistik. <em>Adaptasi</em> adalah pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu. <em>Pemadanan berkonteks</em> adalah pemberian suatu informasi dalam konteks sehingga maknanya jelas. <em>Pemadanan bercatatan</em> adalah pemberian catatan untuk hal yang tak bisa ditangani oleh prosedur-prosedur lain.</p>
<p><strong>Teknik</strong> penerjemahan adalah hal-hal praktis, berbeda dengan metode dan prosedur yang kurang lebih normatif, yang langsung berkaitan dengan langkah praktis dan pemecahan masalah dalam penerjemahan. Masalah praktis ini terkait dengan berbagai masalah kebahasaan antara lain (1) fungsi teks, (2) gaya bahasa, (3) ragam fungsional, (4) dialek, serta (5) masalah khusus yang perlu penanganan praktis seperti idiom dan metafora.</p>
<p><strong>Kesepadanan</strong> adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam penerjemahan. Pergeseran yang terjadi dalam proses penerjemahan karena metode, prosedur, dan/atau teknik yang diterapkan harus menjamin (1) fungsi dan maksud umum teks tidak berubah, serta (2) makna referensial TSu dipertahankan dalam TSa. Ketaksaan, teks yang tidak runtut, serta unsur yang meragukan harus dikenali dengan jeli dan diputuskan oleh penerjemah.</p>
<p><strong>Penilaian</strong> terjemahan dilakukan terhadap produk dan bukan proses. Dalam penilaian terjemahan, yang perlu dipahami adalah (1) segi dan aspek penilaian, (2) kriteria penilaian, serta (3) cara penilaian. <em>Segi dan aspek penilaian</em> bisa dilihat antara lain dari (1) ketepatan (linguistik, semantik, pragmatik), (2) kewajaran ungkapan, (3) peristilahan, dan (4) ejaan. <em>Kriteria penilaian</em> ditetapkan terhadap masing-masing segi atau aspek penilaian baik secara positif maupun secara negatif. <em>Cara penilaian</em> terbagi dua, yaitu cara umum (relatif dapat diterapkan pada segala jenis terjemahan) dan cara khusus (untuk jenis teks khusus seperti teks bidang hukum atau puisi). Pada akhirnya, penilaian terjemahan dilakukan terhadap ada tidaknya serta besarnya penyimpangan makna referensial yang terjadi.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Buku terbitan Penerbit Kaifa (Mizan) setebal 252 halaman ini sangat bermanfaat bagi para penerjemah; bekal bagi penerjemah pemula dan pengingat bagi penerjemah kawakan. Hampir semua aspek penerjemahan dimuat secara terstruktur dengan bahasa yang cukup mudah untuk dipahami. Harga eceran Rp39.500 yang ditetapkan untuk buku ini adalah investasi yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan penerjemah dan memperbaiki kualitas terjemahannya.</p>
<p><em>Penulis: </em><a href="http://ivanlanin.wordpress.com"><em>Ivan Lanin</em></a><em>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/pedoman-bagi-penerjemah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sexy</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 17:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[sexy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy. Siapakah Bahterawati yang paling sexy?

Simak pembahasan dengan nada santai dan canda dari Pak Setyadi tentang istilah ini di Blog Bahtera. Mungkin cocok untuk sekadar iseng menemani akhir pekan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan <em>sexy</em>”. Kalimat ini bukan suatu  pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin  menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan <em>sexy</em>. Biasanya orang  sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “<em>sexy</em>” meski akan susah  menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun  demikian mereka, terutama <em>cewek</em>, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun  anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan <em>sexy</em>.</p>
<p><span id="more-663"></span>Orang yang tahu tata bahasa bisa saja mengandalkan kamus untuk mencari makna  istilah tersebut. Jawaban singkat memang gampang didapat dari kamus: <em>S</em><em>ex,</em> nomina, organ atau kategori yang membedakan makhluk lelaki dari perempuan,  titik. Namun, untuk adjektiva <em>sexy, </em>jawab kamus akan “ngaco” juga bila  diterjemahkan. Di sana ada <em>amorous</em>, <em>lustful</em>, <em>sensual</em>,  <em>erotic</em>, <em>passionate</em>, dan sebagainya yang semua boleh dikata  mengarah atau mengacu pada gairah, hasrat, minat bercinta, atau, gamblangnya,  nafsu berahi.</p>
<p>Benarkah para cewek kini ingin berpenampilan mengundang nafsu seperti itu?  Inilah persoalan bahasa yang menarik karena istilah itu berasal dari bahasa  asing. Maknanya bisa multitafsir.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> sebenarnya belum terlalu lama masuk khazanah budaya  Indonesia. Istilah yang lebih populer pada awal tahun 50-an adalah <em>sex  appeal</em>, atau daya tarik seks. Bintang film yang hebat daya tarik seksnya  disebut sebagai bom seks.  <em>Icon</em> bom seks yang paling terkenal pada masa  itu adalah Marilyn Monroe. Pada masa itu, istilah <em>sex appeal</em> ataupun bom  seks biasanya lebih mengacu kepada, maaf, ukuran payudara (saja). <em>Cewek</em> yang  ukuran miliknya besar dijuluki sebagai “marilin monru”. Percaya atau tidak, pada  masa itu orang akan merasa malu bila dijuluki (mungkin disindir) sebagai marilin  monru.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> baru muncul dan jadi populer menyusul beredarnya film  serial Amerika berjudul “<em>Sexy</em> <em>Susan”</em>. Kemudian dilatahi film  Indonesia “Inem Pelayan Seksi” di era 1960-an. Dari era itulah kiranya mulai  muncul citra yang tidak semata-mata terpusat pada wilayah dada. Dan orang tak  merasa malu lagi, bahkan bangga, disebut <em>sexy</em>. Benarkah pergeseran citra  kesyahwatan beriringan dengan “dinamika bahasa”?</p>
<p>Pada era tersebut mulai juga proses “pembelajaran” bagi kaum muda tentang  budaya berpacaran ala barat yang direpresentasikan oleh adegan dalam film  Amerika. Ambil contoh misalnya kata cium dengan derivasinya “berciuman”. Dalam  etimologi Indonesia jelas bahwa kegiatan itu dilakukan dengan indra hidung. Dan  memang itulah cara asli orang Indonesia dulu berciuman, hidung menempel pipi  (<em>Kamus Moderen Sutan Zain</em>). Sedangkan padanan bahasa Inggris <em>kiss</em> adalah sentuhan dengan bibir (<em>kamus Webster</em>), bukan hidung. Bahkan pada  masa itu pula mulai terdengar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Onomatope">onomatope</a> “cipok”, bunyi dua pasang bibir  yang berkecupan (KBBI). Bunyi itu tak mungkin dihasilkan oleh sentuhan hidung  pada pipi. Inikah contoh pameo “bahasa menunjukkan bangsa”?</p>
<p><em>Icon</em> klasik yang mewujud sifat <em>sexy</em> juga semakin tidak populer.  Orang sudah hampir lupa simbol-simbol ke-<em>sexy</em>-an tempo dulu yang lebih  santun, misalnya hidung (Cleopatra), senyum (Monalisa), dan betis (Ken Dedes).</p>
<p>Para selebritas layar kaca dan pengasuh <em>infotainment</em> juga pada sewot  mengurai istilah <em>sexy.</em> Julia Perez merasa <em>sexy </em>tapi tidak <em>sensual. </em>Dewi Persik emoh disebut seronok, namun menurut seorang <em>presenter</em>,  dia semakin liar, sangat <em>sexy</em> bahkan boleh dikata <em>vulgar. </em>Konon  ke-<em>sexy</em>-an Cinta Laura ada pada suaranya. Mulan Jameela merasa tidak <em>sexy </em>walau  dibilang bahwa yang mendongkrak namanya adalah ke-<em>sexy</em>-an.</p>
<p>Secara naluriah tentunya kaum lelakilah yang menjadi “sasaran” perempuan yang  ingin berpenampilan <em>sexy. </em>Namun demikian belum banyak kaum Adam bersuara  tentang masalah ini. Paling-paling mereka <em>ngerumpi</em> tentang asyiknya menikmati  bermacam goyang para pesohor layar kaca itu. Selama ini belum banyak terdengar  lelaki yang mendambakan pacar se-<em>sexy</em> Dewi Persik, Inul, atau Sarah Azhari.  Bahkan ada gejala meluas, idola fisik mereka telah bergeser ke citra Happy Salma  atau Diah Permatasari, yang tentu tidak mungkin dibanding dengan Monroe ataupun  Persik.</p>
<p>Siapakah Bahterawati yang paling <em>sexy</em>? Apakah Sang Evangelist bahasa  Indonesia tidak ingin meng-Indonesia-kan istilah ini? Tolonglah!</p>
<p><em>Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
