Sifi difiafa mafasifih afadafa difi safanafa?

Hush, jafangafan difilifihafat sefekafarafang!

Nafantifi difiafa tafahufu!

Anda mungkin kebingungan membaca kalimat di atas.

Tetapi, tanyakanlah kepada mereka yang berusia remaja pada tahun 1960-an, mereka pasti tahu arti kalimat aneh itu. Ya, hilangkan saja semua fa, fi, dan fe, maka kalimat itu berbunyi: “Dia masih ada di sana? Hush, jangan dilihat sekarang! Nanti dia tahu!”

Pada kurun waktu yang sama, kata seperti “asoi”, “ajojing”, dan “gengsot” sangat populer di kalangan remaja. Tetapi, ke mana sekarang kata-kata itu? Hampir tidak pernah terdengar lagi, bukan? Nah, kata yang populer di tahun 1990-an pun, seperti “ngelaba”, “nyokap”, dan “doski”, besar kemungkinan akan lenyap pula pada satu generasi yang akan datang.

Read the rest of this entry