<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; Wisata kata</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/category/wisata-kata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Semerbak Harum di Taman Bunga</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/03/semerbak-harum-di-taman-bunga/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/03/semerbak-harum-di-taman-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 15:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Katakanlah dengan bunga. Demikian kata pepatah, yang di masa lalu pernah dipermasalahkan sebagian orang di beberapa kota besar Indonesia. Kala itu ada anjuran agar ucapan selamat tidak lagi disampaikan dengan mengirim karangan bunga, melainkan dengan cara lain, biasanya sumbangan berupa uang. Cara ini dianggap lebih bermanfaat karena bukankah bunga kiriman pada akhirnya dibuang dan menjadi sampah? Tetapi, tentu saja mereka yang mencari nafkah dengan mengandalkan bunga menjadi uring-uringan. Rezeki mereka terpangkas oleh kebijakan yang dilatarbelakangi oleh niat mengurangi sampah itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, sampah bunga yang bersifat organik ini sangat mudah hancur, dan dipastikan tidak mencemari lingkungan. Marilah pembaca, kita berjalan-jalan di taman bunga khayal dan membalik-balik kisah di balik beberapa nama bunga dan tanaman.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Katakanlah  dengan bunga</em>. Demikian kata pepatah, yang di masa lalu pernah  dipermasalahkan sebagian orang di beberapa kota besar Indonesia. Kala itu ada  anjuran agar ucapan selamat tidak lagi disampaikan dengan mengirim karangan  bunga, melainkan dengan cara lain, biasanya sumbangan berupa uang. Cara ini  dianggap lebih bermanfaat karena bukankah bunga kiriman pada akhirnya dibuang  dan menjadi sampah? Tetapi, tentu saja mereka yang mencari nafkah dengan  mengandalkan bunga menjadi <em>uring-uringan</em>. Rezeki mereka terpangkas oleh  kebijakan yang dilatarbelakangi oleh niat mengurangi sampah itu. Padahal, kalau  dipikir-pikir, sampah bunga yang bersifat organik ini sangat mudah hancur, dan  dipastikan tidak mencemari lingkungan. Marilah pembaca, kita berjalan-jalan di  taman bunga khayal dan membalik-balik kisah di balik beberapa nama bunga dan  tanaman.</p>
<p><span id="more-712"></span><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b6/Antigonon_leptopus_(Coral_Vine)_in_Gandipet,_Hyderabad,_AP_W2_IMG_9084.jpg/120px-Antigonon_leptopus_(Coral_Vine)_in_Gandipet,_Hyderabad,_AP_W2_IMG_9084.jpg" alt="" align="right" /> Lebih dari 40 tahun yang silam, ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke  kampus Ganesha sebagai mahasiswa baru, saya disambut dengan bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air_mata_pengantin">Air Mata  Pengantin</a></em>. Nama yang puitis bukan? Sampai sekarang, bunga berwarna merah  muda itu, yang bentuknya bak tetesan air mata, masih tetap setia menyambut warga  dan para tamu ITB di pintu gerbangnya yang khas.</p>
<p>Nama bunga memang banyak yang aneh-aneh. Ada <em>Lidah Api Irian</em> atau  <em>Irian Flame</em> – tanaman merambat yang banyak digunakan sebagai penghias  pergola. Warnanya memang jingga menyala, bergantungan berkelompok-kelompok. Ada  lagi nama tanaman unik yang pasti Anda kenal – apa lagi kalau bukan <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Putri_malu">Si Putri Malu</a></em>. Namanya  sungguh tepat mencerminkan tingkah daun tanaman itu, yang menutup diri begitu  terkena sentuhan. Sungguh bak seorang putri yang pemalu. Bagaimana dengan  <em>Kumis Kucing</em>? Tanaman ini diyakini dapat mengobati berbagai penyakit,  termasuk penyakit kencing manis atau diabetes. Bunganya memang memiliki bagian  panjang yang halus, persis seperti kumis kucing. Saya yakin, masih banyak  tanaman lain yang namanya menarik, khususnya nama khas daerah tertentu, sebutlah  misalnya <em>Eceng Gondok, Ki Acret, Jawer Kotok</em>, <em>Bunga Sepatu</em>,  <em>Mulut Harimau</em> &#8230;</p>
<h3>Bunga Terbesar dan &#8220;Terharum&#8221;</h3>
<p>Bangsa Indonesia boleh berbangga karena begitu banyaknya spesies tanaman  berbunga yang tumbuh di tanah tercinta ini. Bahkan, kabarnya Indonesia memiliki  jenis anggrek terbanyak di dunia, yang masih belum seluruhnya teridentifikasi di  belantara hutan Kalimantan dan Sumatera.</p>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/86/Rafflesia_80_cm.jpg/180px-Rafflesia_80_cm.jpg" alt="" align="right" /> Salah satu kartupos bergambar khas Indonesia yang banyak beredar di toko buku  adalah gambar bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rafflesia_arnoldi">Rafflesia arnoldi</a></em>.  Sebuah buku terbitan Indonesia yang sampulnya menggunakan gambar bunga ini telah  menarik perhatian sejumlah pengunjung Pameran Buku Internasional 1995 di Tokyo.  Saya bersama Ibu Aida Joesoef dari Ikapi yang bertugas saat itu, dengan bangga  menceritakan kekhasan bunga terbesar itu (padahal kami belum pernah melihat  bunga itu dengan mata kepala sendiri!). Nama bunga ini kabarnya berasal dari  <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stamford_Raffles">Stamford  Raffles</a></em> (1781–1826), penguasa berkebangsaan Inggris yang pernah  menduduki Indonesia di masa lalu.</p>
<p>Bunga lain asal Indonesia yang tak kalah menariknya adalah bunga yang konon  amat &#8220;harum&#8221; alias <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_bangkai">bunga  bangkai</a></em>. Tanaman yang berbunga sekali dalam waktu 1-3 tahun ini  ditemukan di Sumatera pada tahun 1868, bernama Latin <em>Amormophallus  titanum</em>.</p>
<h3>Semula Nama Orang</h3>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a6/Camelia_Snowball.jpg/120px-Camelia_Snowball.jpg" alt="" align="right" /> Di kalangan botaniwan atau ahli tanaman, sudah menjadi kebiasaan menamai tanaman  menurut nama penemunya. Kebiasaan yang sama juga berlaku dalam bidang ilmu lain,  misalnya astronomi, yang menamai planet, meteor, dan benda langit menurut nama  para penemunya. Nah, dalam kelompok ini kita bertemu dengan bunga <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Camellia">Camelia</a></em>. Nama romantis ini  pernah sangat populer di akhir tahun 1970-an ketika <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ebiet_G._Ade">Ebiet G. Ade</a> bersenandung  merdu, menggapai-gapai hati sang kekasih yang bernama Camelia. <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Carolus_Linnaeus">Linnaeus</a> (1707-78),  botaniwan Swedia yang terkenal, memberi nama bunga indah itu untuk menghormati  pengelana Jesuit bernama <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Georg_Joseph_Kamel">Georg Joseph  Kamel</a></em>. Dialah orang pertama yang membawa bibit bunga itu dari kawasan  Timur pada abad ke-17. Linnaeus mereka-reka nama <em>camellia</em> yang merupakan  versi Latin dari <em>Kamel</em>.</p>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Begonia"><em>Begonia</em></a> adalah satu  lagi contoh nama bunga yang diambil dari nama orang. Pada abad ke-17, <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Michel_B%C3%A9gon_(1638%E2%80%931710)">Michel  Begon</a></em> (1638-1710) bertugas sebagai gubernur pemerintahan Prancis di  Santo Domingo. Sebagai pejabat pemerintah, dia turut menggalakkan pengkajian  botani. Begonia pertama kali dibawa ke Inggris pada tahun 1777 dan diberi nama  menurut nama sang gubernur yang merangkap botaniwan ulung itu.</p>
<p>Bunga<em> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlia">Dahlia</a></em> mendapatkan namanya dari seorang botaniwan Swedia yang hidup pada abad ke-18,  <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anders_Dahl">Anders Dahl</a></em> (meninggal 1789). Bunga ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Inggris  pertama kali mengenalnya pada tahun 1789 ketika Marchionees of Bute membawa  tanaman itu dari Spanyol.</p>
<p>Tanaman penghasil bunga <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Magnolia">Magnolia</a></em> memiliki kulit  kayu dan, tentu saja, bunga yang harum semerbak. Keharumannya ini pernah  dimanfaatkan bangsa Cina untuk mengharumkan &#8230; nasi! Aneh-aneh saja ya?  Dikabarkan bahwa nama tanaman ini berasal dari nama <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pierre_Magnol">Pierre Magnol</a></em>, guru  besar botani di Montpelier, Prancis.</p>
<h3>Edelweiss, Gladiolus, Anggrek</h3>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c2/Leontopodium_alpinum_detail.jpg/150px-Leontopodium_alpinum_detail.jpg" alt="" align="right" /> Siapa yang tak kenal keluarga <em>Von Trapp</em> dari Austria? Masyarakat dunia  berkenalan dengan keluarga ini melalui film istimewa pemenang hadiah Oscar,  <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/The_Sound_of_Music_(film)">The Sound of  Music</a></em>. Pada tahun 1970-an, ketika film itu diputar di sejumlah bioskop  di kota Bandung, banyak orang yang menontonnya sampai beberapa kali. Sekarang,  video dan DVD-nya merupakan salah satu film yang paling banyak peminatnya di  seluruh dunia. Dalam film berdurasi sekitar 3 jam ini, banyak lagu indah  didendangkan – salah satu di antaranya <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edelweiss">Edelweiss</a></em>. Masih ingatkah  Anda ketika <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Julie_Andrews">Julie  Andrews</a>, si pengasuh anak, berdiri terpesona mengagumi tuannya, Baron Von  Trapp, yang diperankan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Christopher_Plummer">Christopher Plummer</a>,  yang dengan penuh perasaan menyanyikan lagu <em>Edelweiss?</em> Bunga kecil yang  banyak tumbuh di Pegunungan Alpen ini mendapatkan namanya dari gabungan dua kata  Jerman: <em>edel</em> yang berarti <em>mulia</em>, dan <em>weiss</em> yang berarti  <em>putih</em> atau <em>suci</em>. Memang <em>Edelweiss</em> dikenal sebagai lambang  kesucian, khususnya di negara seperti Swiss dan Austria.</p>
<p><em> </em>Tahukah Anda bahwa bunga<em> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gladiolus">Gladiol</a></em> yang ramping  tinggi itu berkaitan dengan &#8230; ya ampun &#8230; para <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gladiator">gladiator</a> Roma! Tanaman ini  dinamai <em>Gladiol</em> karena kelopak bunganya yang lancip dan tampak cemerlang  itu dianggap mirip dengan <em>gladius</em> atau pedang yang digunakan para  gladiator untuk bertarung di medan laga.</p>
<p>Sebuah nama lagi yang &#8220;mengejutkan&#8221; saya ketika membaca riwayatnya adalah  asal-usul nama bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anggrek">anggrek</a></em>. Dalam bahasa  Inggris, bunga anggrek disebut <em><a href="http://en.wiktionary.org/wiki/orchid">orchid</a></em>. Ternyata bunga yang  cantik dan harganya mahal ini mendapatkan namanya dari kata Yunani <em>orchis</em> yang berarti &#8230; buah pelir atau <em>testikel!</em> Bahkan sejak 2000 tahun yang  lalu, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pliny_the_Elder">Pliny the  Elder</a>, pengarang berkebangsaan Romawi, mengatakan bahwa bunga anggrek memang  menakjubkan karena kedua akarnya mirip sekali dengan testikel &#8230;.</p>
<h3>Belladonna Lily</h3>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f8/Amaryllis_belladonna_flowers.jpg/150px-Amaryllis_belladonna_flowers.jpg" alt="" align="right" /><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Amaryllis">Belladonna</a></em> berarti wanita  cantik. Bunga ini dinamai demikian karena kehalusan kelopak bunganya yang mirip  kulit gadis cantik, atau demikianlah menurut kaum cerdik cendekia. Ada juga yang  mengatakan bahwa bunga itu diberi nama demikian karena dara-dara Italia  menggunakannya sebagai ramuan kecantikan. Para gadis ini percaya bahwa sari  bunga itu dapat menghaluskan kulit mereka. Namun, bagi kaum Yunani di masa lalu,  bunga secantik itu bak gadis molek yang biasa disebut <em>Amaryllis</em>, dari  kata <em>amarysso</em> yang berarti &#8220;gemerlap&#8221;. Karena itulah bunga itu bernama  <em>Amar</em><em>yllis</em> sebelum bernama <em>Belladonna Lily</em>.</p>
<h3>Racun Panah, Bintang, dan Si Kering</h3>
<p>Pernahkan Anda mencicipi kue ararut? Kue yang renyah itu dibuat dari tepung  ararut yang diperoleh dari akar tanaman <em>Ararut</em> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arrowroot"><em>Arrowroot</em></a><em> </em>(terjemahan harfiahnya <em>akar panah</em>). Tepung tanaman ini digunakan  oleh suku Indian di Amerika untuk mengobati luka akibat panah beracun. Karena  itulah kemudian tanaman ini dinamakan demikian.</p>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/be/Aster-alpinus.JPG/150px-Aster-alpinus.JPG" alt="" align="right" /> Bunga lain yang banyak disukai kaum wanita adalah bunga <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aster_(genus)">Aster</a></em>. Dahulu, warna  bunga ini terbatas hanya putih, merah muda, dan ungu. Sekarang, dengan kemajuan  dalam bidang teknologi perbungaan, kita dapat memperoleh bunga <em>Aster</em> berwarna kuning dan kuning emas. Bila melihat bentuknya yang cantik itu, Anda  teringat pada apa? Tidak salah kalau Anda menyebut <em>bintang</em> karena dalam  bahasa Latin, <em>aster</em> memang berarti <em>bintang</em>.</p>
<p><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Azalea">Azalea</a></em> adalah nama  bunga yang tanamannya seperti semak. Bunganya berwarna putih, kuning, dan merah  tua keunguan. Dalam bahasa Yunani, <em>azalea</em> berarti <em>kering</em>. Nama  tersebut sungguh tepat karena tanaman ini dapat berbunga subur bila tumbuh di  tanah yang kering dan berpasir.</p>
<h3>Bunga Daging, Bunga Emas, dan Turban</h3>
<p>Memang tak terbayangkan hubungan antara bunga dan daging. Tetapi, ada sebuah  kata Latin yang digunakan sebagai sumber nama bunga. Kata itu adalah <em>caro</em> atau <em>carnis</em> yang berarti <em>daging</em>. Tak dinyana, nama bunga <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Carnation"><em>Carnation</em></a> berasal  dari kata tersebut karena warnanya yang merah muda pucat itu tampak seperti  warna daging.</p>
<p>Dalam perhiasan pengantin wanita dikenal istilah bunga emas, yaitu hiasan  berbentuk bunga yang dibuat dari bahan bersepuh emas. Tetapi, ini tentu berbeda  dengan bunga <em>Krisan</em> atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chrysanthemum"><em>Chrysanthemum</em></a>.  Warnanya yang kuning keemasan, dan juga putih, memang berarti <em>bunga emas</em>,  yang berasal dari kata Yunani <em>chrysos</em> dan <em>anthemon</em>.</p>
<p><img style="margin-left: 10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3e/Floriade_Devmeet_25.jpg/120px-Floriade_Devmeet_25.jpg" alt="" align="right" /> Akhirnya, Anda tentu tahu bahwa Negeri Belanda sangat dikenal dengan impor  bunganya yang bentuknya sangat khas. Tidak salah lagi, bunga khas Belanda ini  adalah bunga <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tulip">Tulip</a></em>.  Kelopak bunganya yang halus bak beludru dan warnanya yang cerah, mengingatkan  orang pada sebuah <em>turba</em><em>n</em>, sejenis tutup kepala. Kata <em>tulip</em> sendiri berasal dari kata Prancis kuno <em>tulipan</em>, dari <em>tulbend</em>, cara  orang Turki melafalkan <em>turban</em>.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Demikianlah pembaca, akhir wisata kita kali ini. Sekarang, bila Anda  mengunjungi kebun bunga yang dewasa ini banyak membuka diri untuk menerima tamu,  Anda memiliki pengetahuan tambahan mengenai nama bunga dan tanaman yang Anda  kagumi itu. Sampai jumpa lagi.</p>
<p><em>Penulis: Sofia Mansoor. Sumber: Funk, Word Origins</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/03/semerbak-harum-di-taman-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mens Sana In Corpore Sano</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 06:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: "Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat". Jagoan catur kita, Utut Adianto, pastilah tahu benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.

Baca lebih lanjut penuturan Sofia Mansoor tentang etimologi beberapa kata di bidang olahraga. Tenis, badminton, arena, boling, senam, maraton, sampai catur dibahas dalam tulisan di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Anda termasuk orang yang berkeberatan menggolongkan permainan <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Catur">catur</a></em> sebagai <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=olahraga">olahraga</a></em>?  Mengapa? Apakah karena Anda berpendapat bahwa <em>catur</em> lebih tepat disebut  <em>olahotak</em>, bukan <em>olahraga</em>, karena otaklah yang lebih berperan  dalam permainan tersebut?</p>
<p>Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di  seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: &#8220;Dalam tubuh  yang sehat terdapat jiwa yang sehat&#8221;. Jagoan catur kita, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Utut_Adianto">Utut Adianto</a>, pastilah tahu  benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus  dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.</p>
<p><span id="more-686"></span>Kata <em>olahraga</em> sendiri adalah padanan kata Inggris <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=sport">sport</a></em>, yang  merupakan singkatan kata <em>disport</em>, yang pada abad ke-14 berarti  &#8220;menyenangkan diri sendiri&#8221;. Nah, jika kita berpegang pada asal-usul kata  <em>sport</em> ini, ternyata bukan hanya pecatur, tetapi semua orang yang  melakukan kegiatan menyenangkan diri sendiri boleh dikatakan tengah berolahraga.  Barangkali, kata Malaysia <em><a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Sukan">sukan</a></em> lebih tepat berpadanan  dengan kata <em>sport</em>, daripada kata Indonesia <em>olahraga</em>, karena  bukankah <em>sukan</em> atau <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=suka">bersukaan</a></em> mencerminkan arti yang disandang kata tersebut?</p>
<h3>Tenis dan badminton</h3>
<p>Marilah kita telusuri sekarang sejumlah kata yang berkaitan dengan olahraga,  misalnya <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=tenis">tenis</a></em>.  Kalau dirunut, kata <em>tenis</em> berasal dari kata Prancis <a href="http://www.etymonline.com/index.php?search=tennis">tenez</a><em></em>,  bentuk imperatif dari kata kerja <em>tenir</em> yang berarti &#8220;mempertahankan&#8221;.  Tampaknya ini ada hubungannya dengan keharusan seorang petenis mempertahankan  servisnya agar tidak dipatahkan lawan. Kata <em>tenir</em> sendiri berasal dari  kata Latin <em>tenere</em>, yang antara lain menurunkan sejumlah kata Inggris  seperti <em>tenure</em>, <em>tennancy</em>, dan <em>tenant</em>, yang semuanya  berhubungan dengan nuansa arti &#8220;bertahan&#8221; atau &#8220;mempertahankan&#8221;. Permainan  <em>tenis</em> yang kita kenal sekarang konon baru mulai dimainkan di luar ruangan  pada tahun 1874.</p>
<p>Kata selanjutnya yang berhubungan dengan olahraga ini – yang membuat penonton  dengan lucunya menoleh bolak-balik secara serempak ke kiri dan ke kanan  mengikuti gerakan bola – adalah kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=raket">raket</a></em>.  Buku <em>Word Origins</em> karangan Wilfred Funk mengatakan bahwa kata ini berasal  dari kata Arab <em>rahat</em>. <em>Dictionary of Word Origins</em> karya John Ayto  menelusurinya mulai dari kata Prancis <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=racquet">raquette</a></em>, yang  berawal dari kata Itali <em>racchetta</em>, yang berinduk lagi ke kata Arab  <em>rahat</em> tadi. Arti semua kata itu sama, yaitu &#8220;telapak tangan&#8221;. Sungguh  tepat, sebab telapak tangan memang merupakan <em>raket</em> pertama seorang  petenis. Sesungguhnyalah, meskipun <em>tenis</em> adalah permainan yang sudah  sangat tua, baru pada abad keduabelaslah orang menggunakan <em>raket</em> yang  kita kenal sekarang.</p>
<p>Demikian pula dengan penggunaan <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=net">net</a></em>,  benda di tengah lapangan yang memisahkan daerah seorang petenis dari daerah  lawannya. Kata <em>net</em> sendiri, kalau ditelusuri, bisa melintasi sekitar enam  bahasa, sebelum akhirnya disimpulkan berkerabat dengan kata Latin <em>nassa</em>,  yang berarti &#8220;anyaman jala ikan&#8221;. <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=net">Net</a></em> yang digunakan  dalam permainan tenis memang mirip jala ikan, bukan?</p>
<p>Sayang, prestasi para petenis Indonesia belum patut dibanggakan, kecuali  prestasi Yayuk Basuki yang sudah mundur pada tahun 1997 karena dilanda cedera.  Bagaimana kalau kita beralih saja pada olahraga nomor satu Indonesia, penyumbang  medali emas kita di Olimpiade? Apa lagi kalau bukan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=badminton">badminton</a><em></em>?  Dikisahkan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Duke_of_Beaufort">Duke of  Beaufort</a> memiliki tanah luas dengan keliling 15 kilometer di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gloucestershire">Glouchestershire</a>,  Inggris. Tanah miliknya ini, yang bernama<em> Badminton</em>, merupakan ajang  berbagai &#8220;inovasi&#8221; Inggris di penghujung abad ke-19. Yang tercatat, sejenis  minuman anggur dan minuman bersoda dinamakan <em>badminton</em> karena berasal  dari daerah tersebut. Permainan <em>badminton</em> sendiri, yang sering dikira  berasal dari Inggris, sebenarnya berasal dari India, dan untuk pertama kalinya  dimainkan di Inggris pada tahun 1873 – di mana lagi kalau bukan di <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Badminton_House">Badminton House</a></em>,  rumah peristirahatan Duke of Beaufort.</p>
<h3>Arena dan bowling</h3>
<p>Di masa Yunani dan Romawi kuno, berbagai jenis olahraga dan pertandingan  dilangsungkan di sebuah <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=arena">arena</a></em>,  dan olahraga yang mereka pertunjukkan sering berakhir sangat mengenaskan dengan  jatuhnya korban. Adat bangsa Romawi adalah menaburkan <em>harena</em> atau pasir  untuk menyerap darah para korban. Kata <em>harena</em> memang tepat untuk  menamakan amfiteater tempat berlangsungnya kegiatan olahraga karena biasanya  tempat itu memang berpasir. Pada abad ke-17, kata <em>harena</em> masuk ke  khazanah bahasa Inggris dengan huruf h-nya melesap, menjadi <em><a href="http://www.etymonline.com/index.php?term=arena">arena</a></em>. Bahasa  Indonesia menyerap langsung kata tersebut dari bahasa Inggris. Bahkan, mengingat  bunyinya yang akrab di telinga kita, banyak yang mengira bahwa kata itu kata  &#8220;asli&#8221; Indonesia.</p>
<p>Jenis olahraga yang banyak digemari orang kota besar (karena di kota kecil  tidak tersedia sarananya) adalah <em>bowling</em> yang diindonesiakan menjadi  <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=boling">boling</a></em> atau <em>bola gelinding</em>. Permainan ini mempunyai riwayat yang memikat,  meskipun sejarah kata <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bowling">bowling</a></em> sendiri cukup  sederhana. Nenek moyangnya adalah kata Latin <em>bulla</em> yang berarti  &#8220;gelembung&#8221;. <em>Bulla</em> akhirnya menjadi <em>bowl</em> yang semula berarti  bolanya itu sendiri atau penggelindingan bola tersebut.</p>
<p>Para peboling mungkin tidak mengira bahwa perangkat lengkap permainan  kegemaran mereka ditemukan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flinders_Petrie">Sir Flinders Petrie</a>,  seorang ahli antropologi Inggris, di &#8230; hiiii &#8230; sebuah makam Mesir yang  dibangun pada tahun 5200 SM, lebih dari 25 abad yang lalu! Para peboling juga  mungkin akan menggeleng-gelengkan kepala keheranan kalau tahu bahwa boling  pernah dilarang dimainkan di Inggris oleh Raja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_III_of_England">Edward III</a> (memerintah tahun 1327–77), <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_II_of_England">Richard II</a> (1377–99), dan beberapa raja lainnya karena dianggap permainan yang &#8220;kurang  jantan&#8221; karena tidak melatih keterampilan berperang, berbeda dengan olahraga  panahan. Raja <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Henry_VIII_of_England">Henry  VIII</a> (1509–47), yang kawin sampai enam kali, juga melarang boling, tetapi  curangnya, dia mempunyai lintasan boling pribadi di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Palace_of_Whitehall">Whitehall</a> (salah  satu gedung pemerintahan di Inggris) untuk menghibur diri di antara kegiatan  kerjanya (mungkin juga di antara pelaksanaan hukuman mati!). Entah apakah  lintasan boling tersebut masih ada sekarang.</p>
<h3>Olahraga telanjang</h3>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah TV swasta kita dikecam pemirsanya karena  dianggap menayangkan olahraga setengah telanjang – para peraganya memang  berpakaian sangat minim. Olahraga tersebut, yaitu <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=senam">senam</a><em></em>,  ternyata memiliki riwayat yang menarik. Kata <em>senam</em> adalah padanan kata  Inggris <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gymnastics">gymnastics</a></em> yang berasal dari kata Yunani <em>gymnazo</em> yang berarti &#8220;berlatih sambil  telanjang&#8221; yang berasal dari kata <em>gymnos</em> yang berarti &#8220;telanjang&#8221;.  Memang, di masa Yunani kuno, kegiatan olahraga sering dilangsungkan sambil  telanjang karena udara yang amat panas membuat orang cenderung ingin berpakaian  seminim mungkin. Bahkan, konon lintasan atletik di lapangan Olimpiade yang  terkenal itu digunakan oleh para atlet yang telanjang. Bangsa Yunani di zaman  itu percaya bahwa telanjang sangat baik bagi kesehatan, sama seperti pendapat  mereka yang gemar mandi matahari atau berjemur diri di zaman sekarang. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hippocrates">Hippocrates</a>, dokter Yunani  yang terkenal itu, mengatakan bahwa sinar matahari sangat menyehatkan.</p>
<h3>Maraton</h3>
<p>Boleh dikatakan semua orang tahu riwayat di balik kata lari jarak jauh ini.  Sekitar dua setengah milenium (2500 tahun) yang lalu, pada tahun 490 SM, secara  menakjubkan pasukan mini bangsa Yunani yang berkekuatan hanya 10.000 orang  berhasil <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Marathon">mengalahkan</a> 100.000  orang Persia dalam perang di dataran <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marathon,_Greece">Marathon</a></em>. Seorang  pelari yang gagah berani, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pheidippides">Pheidippides</a>, ditugasi  membawa berita kemenangan istimewa itu dengan berlari sekencang-kencangnya ke  kota Athena yang jaraknya sekitar 26 mil atau 42 kilometer dari ajang perang.  Setibanya di dinding Acropolis, dia berseru: &#8220;Hore! Kita menang!&#8221;, lalu langsung  tersungkur dan tewas. Pemandangan seperti ini sering kita saksikan ketika para  pelari berhasil mencapai finis lomba <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=maraton">maraton</a></em>,  baik menang maupun kalah. Mereka tersungkur kelelahan atau terpaksa dipapah  karena kekuatan raganya terkuras habis.</p>
<p>Dalam pesta Olimpiade pertama yang dilangsungkan pada tahun 1896, lari  <em>maraton</em> diperlombakan dengan maksud memperingati peristiwa Pheidippides  2400 tahun sebelumnya. Dan, hasilnya sungguh amat pantas &#8230; seorang pelari  Yunani, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spyridon_Louis">Spiros Louis</a>,  memenangkan lomba tersebut. Jarak lari maraton sepanjang 26 mil 385 yard, atau  41,736 km, yang menjadi standar sejak tahun 1924, bermula dari sebuah keputusan  yang dibuat pada Olimpiade 1908 di London. Sebelum itu, jarak lomba adalah tepat  26 mil. Tetapi, agar lomba berakhir tepat di muka podium kehormatan, jarak 385  yard ditambahkan!</p>
<p>Sekarang, selain untuk lomba lari jarak jauh, kata <em>maraton</em> juga  digunakan untuk kegiatan lain yang menguras tenaga, misalnya <em>kerja  maraton</em> yang berarti kerja keras dalam waktu lama. Para penerjemah yang  kebanjiran order tentu amat akrab dengan istilah ini! Dalam kamus Badudu-Zain  terdapat frase <em>sidang maraton</em> yang berarti sidang terus-menerus,  sambung-bersambung, karena banyak hal yang harus dibahas sehingga perlu mengejar  waktu bagi pencapaian hasilnya.</p>
<h3>Skak!</h3>
<p>Marilah kita tutup wisata kita dengan kembali ke masalah di awal tulisan ini,  <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=catur">catur</a></em>.  Bila seorang pecatur menyerukan &#8220;Skak!&#8221;, dia bermaksud memperingatkan lawan  bahwa raja si lawan akan segera mati, atau si lawan akan kalah. Kata <em>skak</em> kita pungut dari kata Belanda <em>schaken</em>, yang berarti permainan catur.  Penutur Inggris menyebut permainan itu <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chess">chess</a></em>, dan mengucapkan  <em>check</em> untuk mengakhiri permainan. Kedua kata tersebut, <em><a href="http://en.wiktionary.org/wiki/chess">chess</a></em> dan <em>check</em>,  berasal dari daerah Timur Jauh, dari kata Persia <em>shah</em> yang berarti  &#8220;raja&#8221;. Istilah<em> shah</em> mengembara melalui bahasa Arab ke masa Old French  menjadi <em>eschequier</em>, kata turunan dari kata <em>eschec</em>, ke Middle  English menjadi <em>chek</em>, dan akhirnya menjadi <em>check</em>. Selain ucapan  <em>check</em>, pecatur berbahasa Inggris juga menggunakan istilah  <em>check-mate</em> untuk memperingatkan lawan. Ini berasal dari kata  <em>shah-mat</em> dalam bahasa Persia, yaitu &#8220;raja sudah tak berdaya.&#8221;</p>
<p>Meskipun demikian, saya tidak akan mengucapkan <em>skak</em> atau <em>check-mate </em>atau<em> shah-mat</em> untuk mengakhiri wisata kita kali ini. Alih-alih, saya  ingin mengucapkan <em>wa&#8217;alaikum salaam</em>, ucapan bahasa Arab yang berarti  &#8220;selamat dan sejahtera bagi Anda yang mendengarkan&#8221;, dalam hal ini tentu saja  bagi Anda yang membaca tulisan ini. Sampai jumpa!</p>
<p><em>Penulis: Sofia Mansoor. Sumber: Word Origins, Webster&#8217;s Word Histories,  Dictionary of Word Origins, dan berbagai kamus. Dimuat di Berita Buku, Mei  1996.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/mens-sana-in-corpore-sano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sexy</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 17:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[sexy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy. Siapakah Bahterawati yang paling sexy?

Simak pembahasan dengan nada santai dan canda dari Pak Setyadi tentang istilah ini di Blog Bahtera. Mungkin cocok untuk sekadar iseng menemani akhir pekan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan <em>sexy</em>”. Kalimat ini bukan suatu  pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin  menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan <em>sexy</em>. Biasanya orang  sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “<em>sexy</em>” meski akan susah  menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun  demikian mereka, terutama <em>cewek</em>, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun  anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan <em>sexy</em>.</p>
<p><span id="more-663"></span>Orang yang tahu tata bahasa bisa saja mengandalkan kamus untuk mencari makna  istilah tersebut. Jawaban singkat memang gampang didapat dari kamus: <em>S</em><em>ex,</em> nomina, organ atau kategori yang membedakan makhluk lelaki dari perempuan,  titik. Namun, untuk adjektiva <em>sexy, </em>jawab kamus akan “ngaco” juga bila  diterjemahkan. Di sana ada <em>amorous</em>, <em>lustful</em>, <em>sensual</em>,  <em>erotic</em>, <em>passionate</em>, dan sebagainya yang semua boleh dikata  mengarah atau mengacu pada gairah, hasrat, minat bercinta, atau, gamblangnya,  nafsu berahi.</p>
<p>Benarkah para cewek kini ingin berpenampilan mengundang nafsu seperti itu?  Inilah persoalan bahasa yang menarik karena istilah itu berasal dari bahasa  asing. Maknanya bisa multitafsir.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> sebenarnya belum terlalu lama masuk khazanah budaya  Indonesia. Istilah yang lebih populer pada awal tahun 50-an adalah <em>sex  appeal</em>, atau daya tarik seks. Bintang film yang hebat daya tarik seksnya  disebut sebagai bom seks.  <em>Icon</em> bom seks yang paling terkenal pada masa  itu adalah Marilyn Monroe. Pada masa itu, istilah <em>sex appeal</em> ataupun bom  seks biasanya lebih mengacu kepada, maaf, ukuran payudara (saja). <em>Cewek</em> yang  ukuran miliknya besar dijuluki sebagai “marilin monru”. Percaya atau tidak, pada  masa itu orang akan merasa malu bila dijuluki (mungkin disindir) sebagai marilin  monru.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> baru muncul dan jadi populer menyusul beredarnya film  serial Amerika berjudul “<em>Sexy</em> <em>Susan”</em>. Kemudian dilatahi film  Indonesia “Inem Pelayan Seksi” di era 1960-an. Dari era itulah kiranya mulai  muncul citra yang tidak semata-mata terpusat pada wilayah dada. Dan orang tak  merasa malu lagi, bahkan bangga, disebut <em>sexy</em>. Benarkah pergeseran citra  kesyahwatan beriringan dengan “dinamika bahasa”?</p>
<p>Pada era tersebut mulai juga proses “pembelajaran” bagi kaum muda tentang  budaya berpacaran ala barat yang direpresentasikan oleh adegan dalam film  Amerika. Ambil contoh misalnya kata cium dengan derivasinya “berciuman”. Dalam  etimologi Indonesia jelas bahwa kegiatan itu dilakukan dengan indra hidung. Dan  memang itulah cara asli orang Indonesia dulu berciuman, hidung menempel pipi  (<em>Kamus Moderen Sutan Zain</em>). Sedangkan padanan bahasa Inggris <em>kiss</em> adalah sentuhan dengan bibir (<em>kamus Webster</em>), bukan hidung. Bahkan pada  masa itu pula mulai terdengar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Onomatope">onomatope</a> “cipok”, bunyi dua pasang bibir  yang berkecupan (KBBI). Bunyi itu tak mungkin dihasilkan oleh sentuhan hidung  pada pipi. Inikah contoh pameo “bahasa menunjukkan bangsa”?</p>
<p><em>Icon</em> klasik yang mewujud sifat <em>sexy</em> juga semakin tidak populer.  Orang sudah hampir lupa simbol-simbol ke-<em>sexy</em>-an tempo dulu yang lebih  santun, misalnya hidung (Cleopatra), senyum (Monalisa), dan betis (Ken Dedes).</p>
<p>Para selebritas layar kaca dan pengasuh <em>infotainment</em> juga pada sewot  mengurai istilah <em>sexy.</em> Julia Perez merasa <em>sexy </em>tapi tidak <em>sensual. </em>Dewi Persik emoh disebut seronok, namun menurut seorang <em>presenter</em>,  dia semakin liar, sangat <em>sexy</em> bahkan boleh dikata <em>vulgar. </em>Konon  ke-<em>sexy</em>-an Cinta Laura ada pada suaranya. Mulan Jameela merasa tidak <em>sexy </em>walau  dibilang bahwa yang mendongkrak namanya adalah ke-<em>sexy</em>-an.</p>
<p>Secara naluriah tentunya kaum lelakilah yang menjadi “sasaran” perempuan yang  ingin berpenampilan <em>sexy. </em>Namun demikian belum banyak kaum Adam bersuara  tentang masalah ini. Paling-paling mereka <em>ngerumpi</em> tentang asyiknya menikmati  bermacam goyang para pesohor layar kaca itu. Selama ini belum banyak terdengar  lelaki yang mendambakan pacar se-<em>sexy</em> Dewi Persik, Inul, atau Sarah Azhari.  Bahkan ada gejala meluas, idola fisik mereka telah bergeser ke citra Happy Salma  atau Diah Permatasari, yang tentu tidak mungkin dibanding dengan Monroe ataupun  Persik.</p>
<p>Siapakah Bahterawati yang paling <em>sexy</em>? Apakah Sang Evangelist bahasa  Indonesia tidak ingin meng-Indonesia-kan istilah ini? Tolonglah!</p>
<p><em>Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lembaran sejarah di balik nama-nama bulan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/lembaran-sejarah-di-balik-nama-nama-bulan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/lembaran-sejarah-di-balik-nama-nama-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 15:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=636</guid>
		<description><![CDATA[Selamat tahun baru 2010. Tahukah Anda bahwa di masa lalu tidak ada bulan Januari yang selalu kita sambut sebagai awal tahun baru? Bangsa Romawi merayakan tahun barunya pada tanggal 1 Maret! Bagaimana bisa begitu? Dan sejak kapan awal tahun baru berganti menjadi Januari? Wisata Kata di awal tahun ini membawa Anda menerawang ke masa lalu dan membuka kembali lembaran sejarah di balik nama-nama bulan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat tahun baru 2010. Tahukah Anda bahwa di masa lalu tidak ada bulan Januari yang selalu kita  sambut sebagai awal tahun baru? Bangsa Romawi merayakan tahun barunya pada  tanggal 1 Maret! Bagaimana bisa begitu? Dan sejak kapan awal tahun baru berganti  menjadi Januari? <em>Wisata Kata</em> di awal tahun ini membawa Anda menerawang ke  masa lalu dan membuka kembali lembaran sejarah di balik nama-nama bulan.</p>
<p><span id="more-636"></span>Kalender Romawi pertama diperkirakan diperkenalkan pada tahun 738 SM oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Romulus_and_Remus">Romulus</a>, pendiri <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ancient_Rome">Kerajaan Romawi</a> yang  legendaris. Satu tahun kalender kuno ini terdiri atas 304 hari yang dibagi  menjadi 10 bulan. Setiap bulan merupakan kurun waktu dari satu bulan purnama ke  bulan purnama berikutnya. Bangsa Romawi tampaknya mengabaikan atau tidak  menghitung dua bulan pada musim dingin.</p>
<p>Tahun baru diawali dengan <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Equinox">vernal equinox</a></em> yang menandai  musim semi. <em>Vernal equinox</em> adalah saat matahari berada di khatulistiwa,  dan ini menyebabkan waktu siang hari sama panjangnya dengan waktu malam hari.  Saat tersebut menurut kalender sekarang terjadi pada setiap tanggal 21 Maret.  Maka, bulan pertama dalam tahun kalender Romulus ini jatuh pada bulan Maret yang  kisahnya dituangkan di sini bersama kisah di balik nama bulan-bulan lainnya.</p>
<p>Kaisar Romawi yang kedua, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Numa_Pompilius">Numa Pompilius</a> (sekitar  715–673 SM) memutuskan untuk menambahkan dua bulan untuk mengisi dua bulan musim  dingin yang tidak dihitung tersebut. Maka, muncullah bulan Januari dan Februari.</p>
<h3><strong>Perubahan Kalender</strong></h3>
<p>Kalender yang lama ditentukan berdasarkan perhitungan bulan dan semakin  dirasakan tidak cocok dengan masa pergantian musim. Untuk mengoreksinya, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar">Julius Caesar</a>, pada tahun  46 SM, mempekerjakan seorang ahli astronomi, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sosigenes_of_Alexandria">Sosigenes</a>, untuk  meninjau kembali kalender tersebut. Sosigenes mengusulkan untuk menggunakan  matahari, bukan bulan, sebagai dasar penetapan kalender. Dia juga mengusulkan  adanya tahun kabisat, dan memindahkan awal tahun dari tanggal 1 Maret ke tanggal  1 Januari. Semua usul ini diterapkan pada kalender Julius yang dimulai pada  tanggal 1 Januari 45 SM. Dengan adanya dua bulan tambahan yang mendahului awal  kalender, maka bulan September, Oktober, November, dan Desember tidak lagi  menjadi bulan ketujuh, kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh sebagaimana yang  disiratkan oleh asal-usul namanya. Meskipun demikian, nama keempat bulan itu  tetap dipakai dan tidak pernah diubah.</p>
<h3><strong>Januari</strong></h3>
<p>Pada saat lonceng berdentang dua belas kali di malam tahun baru, yang  menandai peralihan dari bulan Desember ke bulan Januari, kita mengucapkan  selamat tinggal kepada tahun yang silam dan menyambut kedatangan tahun yang  baru. Sungguh tepat bahwa bulan yang pertama ini disebut Januari – dewa bangsa  Romawi,<em> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Janus">Janus</a></em>, yang  namanya digunakan untuk menamai bulan pertama ini, selalu ditampilkan berwajah  dua; satu menghadap ke masa lalu dan satu lagi ke masa depan. Nama January masuk  ke khazanah bahasa Inggris pada abad ke-14. Sebelumnya, bulan pertama ini  disebut <em>Wulf-Monath</em> atau &#8220;bulan-serigala&#8221; karena pada awal tahun  tersebut, musim salju yang dinginnya sangat menusuk tulang menyebabkan para  serigala mendatangi permukiman manusia untuk mencari makan.</p>
<h3><strong>Februari</strong></h3>
<p>Riwayat nama bulan Februari sangat menarik. Pada setiap tanggal 15 pada bulan  itu, berlangsung sebuah upacara keagamaan Romawi kuno dengan memukuli para  wanita mandul. Peristiwa &#8220;pemurnian&#8221; ini disebut <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lupercalia">festival Lupercalia</a></em> dan  diselenggarakan di dalam gua di tepi Sungai Tiber. Dua orang pemuda remaja  dipilih untuk memainkan peranan utama dalam upacara tersebut. Setelah beberapa  ekor kambing dikorbankan, dari kulit hewan tersebut dibuat alat sejenis pecut.  Pecut ini dinamakan <em>februa</em> atau &#8220;alat pemurnian&#8221;, dan kalau dipukulkan  kepada wanita mandul, kemandulannya diyakini akan sirna. Kedua remaja pilihan  tadi berlari-lari mengelilingi kota sambil membawa pecut masing-masing, lalu  memukuli semua wanita mandul yang mereka jumpai. Entah bagaimana mereka  mengetahui siapa wanita yang mandul, atau mungkin juga wanita mandul sudah  menjadi rahasia umum seisi kampung.</p>
<p>Kesaktian pecut tersebut dalam menyembuhkan kemandulan mungkin berasal dari  <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Juno_(mythology)">Juno</a></em>, dewi  kesuburan yang sering disebut <em>Februaria</em>, dan dari nama sang dewilah kita  memperoleh nama bulan kedua ini. Pada mulanya, Februari memiliki 29 hari, tetapi  Senat Romawi mengambil satu hari untuk diberikan kepada bulan Agustus agar  Agustus tidak merasa kalah oleh bulan Juli.</p>
<h3><strong>Maret</strong></h3>
<p>Seperti telah dikemukakan, bulan ketiga dalam kalender modern kita memegang  peranan penting dalam penentuan awal tahun. Sebelum masa pemerintahan Julius  Caesar, tahun baru Romawi diawali pada bulan Maret. Bulan ini bukan saja  mengawali tahun baru, tetapi merupakan awal musim perang. Nama bulan ini berasal  dari kata Prancis Lama, melalui bahasa Latin <em>Martius</em>, yang secara harfiah  berarti &#8220;bulan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mars_(mythology)">Mars</a>,  sang dewa perang&#8221;.</p>
<p><strong>April</strong></p>
<p>Pada bulan inilah musim semi dimulai, dan bunga-bunga mulai bermekaran atau  terbuka kuncupnya. Cendekiawan Romawi bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Marcus_Terentius_Varro">Varro</a> (116–27 SM)  menyebut bulan ini <em>Aprilis</em>, diambil dari kata Latin <em>aperio</em> yang  berarti &#8220;terbuka&#8221;. Menurut kamus Ayto, nama bulan ini berasal dari kata Yunani  <em>Aphro</em>, kependekan dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aphrodite">Aphrodite</a><em> </em>, nama dewi  Yunani yang melambangkan cinta.</p>
<h3><strong>Mei</strong></h3>
<p>Pada bulan inilah konon &#8220;burung berkicau merdu dan suara kura-kura  bersahut-sahutan&#8221;. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Malory">Sir  Thomas Malory</a> (1400–1471), penulis berkebangsaan Inggris, menyebut bulan ini  &#8220;bulan penuh nafsu&#8221;. Anehnya, bulan Mei yang romantis ini justru dianggap bulan  sial untuk menikah. Bangsa Romawi menolak pernikahan bulan Mei karena pada bulan  inilah berlangsung festival untuk menghormati <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bona_Dea">Bona Dea</a><em> </em>, dewi yang  tidak pernah berhubungan intim atau bersanggama. Festival bagi kematian yang  tidak menyenangkan juga berlangsung pada bulan Mei. Kata Mei berasal dari kata  Latin, <em>Maius</em>, yang diperkirakan berasal dari kata <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Maia_(mythology)">Maia</a><em></em>, ibunda  dewa Hermes, dewa yang dikaitkan dengan perdagangan, penciptaan, dan kelicikan.  Tetapi, menurut kamus Webster, Maia adalah ibu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mercury_(mythology)">Merkurius</a> yang  berayah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jupiter_(mythology)">Jupiter</a>.</p>
<h3>Juni</h3>
<p>Nama bulan ini mungkin berasal dari <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Junius_(gens)">Junius</a></em>, nama keluarga  Latin yang membunuh Julius Caesar. Sejumlah cendekiawan yakin bahwa nama Juni  berasal dari nama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Juno_(mythology)">Juno</a><em></em>, dewi  pelindung kaum wanita, karena sejak awal zaman Romawi bulan ini merupakan bulan  yang paling disukai untuk pernikahan. Dewi Juno adalah saudara perempuan dan  juga istri <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jupiter_(mythology)">Jupiter</a>.</p>
<h3><strong>Juli</strong></h3>
<p>Nama bulan ini diusulkan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mark_Antony">Mark Antony</a>, jenderal bangsa  Romawi dan kekasih <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cleopatra_VII">Cleopatra</a>. Semula bulan  ini disebut <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quintilis">Quintilis</a><em></em> yang berasal  dari kata sifat <em>quintus</em> yang secara harfiah berarti &#8220;kelima&#8221;; bulan ini  memang bulan kelima bila Maret dianggap bulan pertama. Pada tahun 44 SM, Antony  mengusulkan agar bulan kelahiran <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar">Caius Julius Caesar</a> ini  dinamakan <em>Julius</em> sebagai penghormatan kepada sang Caesar. Ironisnya, pada  saat nama tersebut mulai digunakan, pada tahun itu pulalah (44 SM) Julius Caesar  terbunuh. Dalam bahasa Inggris, nama bulan ini mula-mula <em>Julie</em>, kemudian  berubah menjadi <em>July</em>. Orang Malaysia menyebutnya bulan <em>Julai</em>.</p>
<h3><strong>Agustus</strong></h3>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Augustus">Octavian</a>, salah seorang  kaisar Romawi (63 SM–14), adalah keponakan Julius Caesar. Dia mendambakan  memiliki kemasyhuran dan kekuasaan seperti pamannya. Antara lain, dia  menginginkan ada nama bulan yang didasarkan atas namanya sendiri. Hari ulang  tahunnya jatuh pada bulan September, tetapi dia memilih bulan Agustus untuk  menyandang namanya karena bulan ini banyak membawa keberuntungan baginya. Senat  menganugerahkan gelar kebangsawanan <em>Augustus</em> kepadanya pada tahun 27 SM  sebagai pengakuan atas jasa-jasanya bagi negara. Maka, sejak tahun 8 SM, bulan  pilihan Kaisar Octavian ini dinamakan Augustus; yang dalam bahasa Indonesia  disebut <em>Agustus</em>, dan dalam bahasa Malaysia disebut &#8230;<em> Ogos</em>!</p>
<h3><strong>September</strong></h3>
<p>Karena awal tahun bangsa Romawi mula-mula jatuh pada bulan Maret, maka  September adalah bulan yang ketujuh. Nama September diambil dari kata Latin  <em>septem</em> yang berarti &#8220;tujuh&#8221;. Ketika kalender berubah dan September  menjadi bulan kesembilan, namanya tidak berubah.</p>
<h3><strong>Oktober</strong></h3>
<p>Pada musim inilah asap dedaunan yang terbakar memenuhi udara. Bahkan penyair  Romawi, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Martial">Martial</a>, menyebut  Oktober sebagai &#8220;<em>fumosus</em>&#8221; atau &#8220;berasap&#8221; karena masa pembakaran daun  sudah tiba. Nama Oktober itu sendiri berasal dari kata Latin <em>octo</em> yang  berarti &#8220;delapan&#8221; karena bulan ini adalah bulan kedelapan sebelum awal kalender  diubah.</p>
<h3><strong>November</strong></h3>
<p>Karena Kaisar <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Augustus">Augustus</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar">Julius Caesar</a> masing-masing sudah memiliki bulan sendiri-sendiri, kaum politikus Romawi yang  sangat mengagungkan kesopanan berpendapat sudah sewajarnya jika bulan November  diganti namanya sesuai dengan nama Kaisar <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tiberius">Tiberius</a>. Tetapi, Tiberius  menolaknya dan berkomentar dengan nada bercanda: &#8220;Bagaimana kalau kaisarnya ada  sebelas?&#8221; Maksudnya tentulah bahwa kaisar yang ke-11 itu tidak akan kebagian  bulan untuk dinamai sesuai dengan namanya. Maka, nama bulan ini pun tetap  disebut November, dari kata Latin <em>novem</em> yang berarti &#8220;sembilan&#8221;.</p>
<h3><strong>Desember</strong></h3>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Commodus">Lucius Aelius Aurelius  Commodus</a>, Kaisar Romawi menjelang akhir abad kedua, bertanya kepada  gundiknya, apakah dia ingin namanya diabadikan dalam kalender. Sang kaisar  menginginkan nama Amazonius karena kekasihnya itu pernah dilukis sebagai Amazon.  Tetapi, Senat rupanya tidak setuju dan meminta sang kaisar untuk menonton  pertarungan antara para gladiator saja sehingga ia lupa akan niatnya tersebut.  Maka, bulan terakhir itu tetap dinamai Desember, dari kata Latin <em>decem</em> yang berarti &#8220;sepuluh&#8221; karena bulan ini adalah bulan kesepuluh dalam kalender  yang belum diubah.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Dari berbagai kamus yang saya gunakan sebagai acuan, riwayat nama bulan  memang bermiripan dan saling melengkapi. Yang sering membingungkan adalah tahun  yang tercantum sebagai masa pemerintahan para kaisar Romawi. Selain itu,  &#8220;identitas&#8221; para dewa pun simpang siur. Namun, semua kisah dalam tulisan ini  memang bukan dimaksudkan untuk diperiksa satu per satu kebenarannya bukan?  Sampai di sini dahulu, pembaca. Insya Allah kita jumpa lagi nanti.</p>
<p><em>Ditulis oleh Sofia Mansoor. Dimuat pertama kali untuk Berita Buku,  Januari 1997. Sumber: Funk, Word Origins; Webster&#8217;s Word Histories; Ayto,  Dictionary of Word Origins; dan berbagai kamus.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/lembaran-sejarah-di-balik-nama-nama-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencicipi snack sambil menikmati punch</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/12/mencicipi-snack-sambil-menikmati-punch/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/12/mencicipi-snack-sambil-menikmati-punch/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 04:45:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[Dalam acara kuiz yang ditampilkan sebuah TV swasta kita, para peserta kuiz tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang menyangkut asal-usul sebuah kata. Pertanyaannya kira-kira begini: "Apa nama makanan yang sekarang digemari anak muda kota besar, yang berasal dari nama orang? Makanan itu berupa dua iris roti berisi daging dan sayur." Dengan beragak-agak, salah seorang peserta menjawab hamburger, dan peserta lainnya dengan tidak yakin menjawab pizza. Ternyata kedua jawaban itu salah. Ah ... seandainya saja kita sudah mulai berwisata kata bersama Berita Buku, dan mereka ikut bersama kita, tentu hadiah kuiz yang jumlahnya lumayan itu bisa masuk kantong mereka. Anda mau tahu jawabnya? Memang bukan hamburger atau pizza, meskipun kedua makanan tersebut juga digemari remaja kota. Yang benar adalah ... sandwich!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam acara kuiz yang ditampilkan sebuah TV swasta kita, para peserta kuiz  tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang menyangkut asal-usul sebuah kata.  Pertanyaannya kira-kira begini: &#8220;Apa nama makanan yang sekarang digemari anak  muda kota besar, yang berasal dari nama orang? Makanan itu berupa dua iris roti  berisi daging dan sayur.&#8221; Dengan beragak-agak, salah seorang peserta menjawab  hamburger, dan peserta lainnya dengan tidak yakin menjawab pizza. Ternyata kedua  jawaban itu salah. Ah &#8230; seandainya saja kita sudah mulai berwisata kata  bersama<em> Berita Buku</em>, dan mereka ikut bersama kita, tentu hadiah kuiz yang  jumlahnya lumayan itu bisa masuk kantong mereka. Anda mau tahu jawabnya? Memang  bukan hamburger atau pizza, meskipun kedua makanan tersebut juga digemari remaja  kota. Yang benar adalah &#8230; <em>sandwich</em>!</p>
<p><span id="more-618"></span>Ya, <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sandwich">sandwich</a></em>, yang sekarang merupakan salah satu pilihan sarapan orang  kota, berasal dari nama orang, bahkan bukan sembarang orang. Dia adalah seorang  berkebangsaan Inggris bernama asli <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Montagu,_4th_Earl_of_Sandwich">John Montagu</a> dan bergelar <em>Earl of Sandwich IV</em> (1718-92). Montagu adalah pria dengan reputasi buruk; dia bukan saja tidak punya  kemampuan dan sangat korup sebagai <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lords_Commissioners_of_the_Admiralty">First Lord of the Admiralty</a></em>, tetapi  juga dikenal masyarakat sebagai tidak bermoral dalam kehidupan pribadinya.  Berjudi adalah salah satu kegemaran buruknya. Dan sifatnya yang keranjingan judi  inilah yang memberi kita kata <em>sandwich</em>. Konon karena asyik berjudi  nonstop selama 24 jam, dia tidak mau diganggu atau beristirahat sejenak pun.  Untuk mengganjal perut, dia minta dikirimi setangkup roti berisi irisan daging  dan sayur, yang sekarang kita kenal sebagai <em>sandwich</em>. Nah, itulah  sumbangan <em>Earl of Sandwich</em> bagi dunia kuliner kita dewasa ini.</p>
<p>Sekarang, kata <em>sandwich</em> tidak semata-mata digunakan untuk menyebut  makanan khas itu. Di perguruan tinggi, misalnya, dikenal program  <em>sandwich</em>, yaitu program pendidikan (biasanya setingkat S-2 atau S-3) yang  sebagian dilakukan di dalam negeri dan sebagian lagi, biasanya penelitiannya,  dilakukan di luar negeri. Saya tidak tahu mengapa program tersebut dinamakan  program <em>sandwich</em>. Yang pasti, magister atau doktor yang dihasilkan  program itu, juga para remaja penggemar &#8220;roti lalab&#8221;, tentu tidak bermaksud  menghabiskan waktunya di meja judi!</p>
<h3><strong>Keceriaan di sebuah <em>banquet</em></strong></h3>
<p>Pada saat diundang ke sebuah pesta, mungkin sebagian dari kita dengan bangga  mengatakan akan menghadiri sebuah<em><a href="http://dictionary.reference.com/browse/banquet"> banquet</a></em>. Kita berkumpul bersama kerabat  dan mitra kerja dalam sebuah jamuan makan malam di sebuah hotel mewah, padahal  kata <em>banquet</em> itu sendiri, yang berasal dari bahasa Prancis, semula hanya  berarti &#8220;bangku kecil&#8221;. Bila dilacak lebih jauh lagi, asal kata tersebut adalah  <em>bancus</em>, kata Latin yang berarti &#8220;bangku&#8221;. Dan menghadiri <em>banquet</em> di masa lalu mungkin berarti sekadar duduk-duduk di atas bangku kecil.</p>
<p>Sambil mengobrol santai selama jamuan makan itu, mata kita mungkin  &#8220;jelalatan&#8221; memperhatikan pelayan berseragam yang berkeliling sambil membawa  nampan perak berisi <em><a href="http://dictionary.reference.com/browse/snack">snack</a></em>. Dengan sigap tangan kita, para tamu, mencomot  makanan kecil-kecil itu, yang langsung habis sekali suap. Ya &#8230; <em>snack</em> memang sesuatu yang disambar dengan tergesa-gesa karena pada kurun masa <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Middle_Dutch">Middle  Dutch</a></em> (pertengahan abad ke-12 sampai ke-15), <em>snacken</em> berarti mengambil  sesuatu dengan cepat, yang pada masa itu hanya digunakan untuk &#8230; anjing! Tapi,  siapa peduli? Yang penting, kue cokelat atau kue kacang yang kecil-kecil itu  begitu mengundang selera. Lagi pula, di zaman modern ini, tak seekor pun anjing  hadir di ruangan <em>banquet</em> yang serba mewah, bukan?</p>
<p>Aduh, kerongkongan mulai terasa &#8220;seret&#8221; gara-gara tangan terus menyambar kue  kecil-kecil yang lezat itu. Maka, ketika pelayan berkeliling lagi, mungkin kali  ini kita memintanya untuk membawakan secangkir kopi. Ah, sedapnya aroma kopi  yang panas mengepul &#8230; Konon, sekitar tahun 850, lebih dari sebelas abad yang  lalu, seorang penggembala domba bernama Kaldi, terheran-heran melihat ternaknya  mengunyah-ngunyah sejenis buah buni (<em>berries</em>). Karena penasaran, dia pun  mencicipi sendiri buah tersebut. Rasa nyaman akibat mengunyah buah itu  membuatnya bergegas memberitakan kabar tersebut kepada sesama penggembala domba.  Bangsa Arab kemudian mengolah buah tersebut – mengeringkannya dan merebusnya  sampai mendidih, lalu mengambil sarinya yang mereka sebut <em>qahwe</em>.  Dikisahkan bahwa kaum beriman pengikut Nabi Muhammad SAW di masa itu minum  <em>qahwe</em> agar tetap jaga di malam hari kala beribadah, tetapi ada pula yang  berpendapat bahwa <em>qahwe</em> harus dilarang karena membiuskan. Bangsa Turki  memungut langsung kata <em>qahwe</em> untuk menamakan minuman tersebut, bangsa  Prancis menyebutnya <em>cafe</em>, sementara orang Inggris menyerap kata itu  menjadi <em><a href="http://dictionary.reference.com/browse/coffee">coffee</a></em>. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Ternyata tidak jauh  berbeda karena lidah kita menyebutnya <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi">kopi</a></em>, yang semakin nikmat rasanya  bagi penggemar Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, dan Detty Kurnia bila diminum setelah  asyik mendendangkan lagu &#8230; Kopi Dangdut!</p>
<h3>Aneka minuman</h3>
<p>Seusai jamuan makan, sebagian hadirin mungkin merasa belum cukup minum,  apalagi karena dalam pesta tersebut minuman yang dihidangkan hanya kopi dan teh.  Maka, meluncurlah mobil mereka menuju bar, sebuah tempat minum-minum untuk  meneruskan obrolan di malam panjang sampai menjelang pagi.</p>
<p>Ketika salah seorang menghirup <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cognac_(drink)">cognac</a></em>, sebenarnya ia tengah menikmati  minuman yang sudah hadir di bumi ini selama lebih dari 400 tahun. Kata  <em>cognac</em> adalah kependekan dari <em>Eau de Vie de Cognac</em>, atau &#8220;air kehidupan  dari Cognac&#8221;. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cognac">Cognac</a> sendiri adalah sebuah kota di barat daya Prancis yang  merupakan kota industri <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Brandy">brandy</a></em> (pada dasarnya berarti minuman anggur yang  disuling). Konon orang Belanda penemu <em>brandy</em>, seorang pengusaha ulung,  merasa cemas karena kota Cognac menghasilkan minuman anggur dalam jumlah begitu  besar sehingga tidak semuanya dapat dikapalkan. Maka, dia memutuskan untuk  menyuling (mengeluarkan) air dari dalam minuman anggur itu sehingga minuman  tersebut menjadi lebih pekat dan hasil yang diangkut bisa lebih banyak. Pada  mulanya, dia mengira orang akan menuangkan air kembali ke dalam minuman pekat  itu sebelum meminumnya. Maksudnya memang baik, tetapi ternyata tidak demikian  yang terjadi karena banyak orang minum <em>cognac</em> tanpa dicampur air terlebih  dahulu. <em>Brandy</em> yang dikenal sekarang diduga masuk ke Prancis dari Italia  pada masa pemerintahan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Henry_II_of_France">Henry II</a>, yaitu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Duke_of_Orleans">Duke of Orleans</a>, yang menikahi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Catherine_de'_Medici">Catherine  de Medici</a>. Kejadian ini berlangsung pada tahun 1533, dan tidak lama kemudian,  <em>cognac</em> menjadi salah satu <em>brandy</em> Prancis yang terkenal.</p>
<p>Seorang tamu lain memesan <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sherry">sherry</a></em>, juga sejenis minuman anggur. Kata  ini mempunyai riwayat yang cukup unik. Konon, kota <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jerez_de_la_Frontera">Jerez de la Frontera</a> di  Spanyol, yang dahulu dihuni bangsa Roma, di masa lalu bernama Xeres, kata yang  diadaptasi dari nama Latin, Caesar. Jerez, kota pelabuhan yang terletak di  provinsi Cadiz ini, dikelilingi tanah pertanian yang subur dan perkebunan  anggur, di samping terkenal sebagai kota penghasil minuman anggur <em>sherry</em>.  Pada abad ke-16, orang Spanyol melafalkan kata Jerez sebagaimana orang Inggris  melafalkan <em>sherris</em>. Orang Inggris kuno (Briton) mengira  <em>sherris </em>adalah kata bentuk jamak sehingga sampai sekarang minuman anggur  itu dikenal sebagai <em>sherry</em>, yang dikira bentuk tunggal dari kata  <em>sherris</em> itu!</p>
<p>Seorang tamu lainnya, yang belum cukup mengenal nama-nama minuman keras,  dengan sembarangan memesan minuman, pokoknya yang mengandung <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol">alkohol</a></em>,  katanya. Dia tidak sadar bahwa dia memesan sesuatu yang di masa lalu digunakan  oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cleopatra_VII">Ratu Cleopatra</a> dari Mesir untuk menebalkan alis matanya. Sang ratu, yang  pernah diperankan dengan bayaran tertinggi masa itu sebesar satu juta dolar oleh  bintang kondang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_Taylor">Elizabeth Taylor</a>, menggunakan pasta antimon yang dalam bahasa  Arab disebut <em>al-koh&#8217;l</em> – <em>al</em> adalah kata sandang, dan <em>koh&#8217;l</em> berarti serbuk antimon. Kata ini masuk ke dalam bahasa Inggris menjadi  <em>alcool</em>, kata untuk menyebut serbuk atau sari yang halus. Jadi, minuman  anggur yang mengandung <em>alcool</em> adalah sejenis minuman keras. Baru pada  abad kesembilan belaslah kata <em><a href="http://dictionary.reference.com/browse/alcohol">alcohol</a></em> digunakan penutur bahasa Inggris  dengan hanya bermakna minuman.</p>
<p>Tamu yang terakhir merasa ingin tetap sadar alias tidak mabuk. Sebab, siapa  yang akan mengemudikan mobil sewaktu pulang nanti? Tentu bukan salah seorang  teman yang mabuk alkohol bukan? Maka, dengan tenang ia pun <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Punch_(drink)">memesan </a><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Punch_(drink)">punch</a></em>,  sekalipun diiringi derai tawa teman-teman semejanya yang mulai bicara ngawur  ngalor-ngidul. Tapi, tahukah Anda bahwa minuman yang dipesan terakhir itu ada  hubungannya dengan jumlah jari sebelah tangan kita? Ya &#8230; salah satu resep  <em>punch</em> ditemukan dalam minuman yang dinamakan &#8220;<em>The Gentleman&#8217;s Companion</em>&#8221;  yang mengandung lima macam bahan, yaitu arak, jeruk nipis, teh, gula, dan air.  Konon, karena mengandung lima macam bahan itulah minuman tersebut disebut  <em>punch</em>. Konon para pengelana Inggris yang mengunjungi India pada akhir  abad ke-16 menceritakan bahwa kata <em>punch</em> berasal dari kata <em>panch</em> di India Utara, yang berarti lima. Kita di Indonesia tentu mengenal juga kata  <em>panca</em> yang berarti lima, antara lain sebagai nama falsafah negara – Panca  Sila.</p>
<p>Minuman <em>punch</em> ternyata sangat disukai para pelaut. Seorang Inggris,  <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/John_Evelyn">John Evelyn</a>, menulis dalam catatan hariannya di tahun 1667 bahwa dia minum  minuman itu ketika berlayar dengan sebuah kapal. Ia sangat penasaran melihat  betapa minuman itu disukai para anak kapal. Konon pula seorang kapten kapal  Belanda begitu menyukai <em>punch</em> sehingga memesan bergelas-gelas minuman itu  untuk dituangkan di atas makamnya kelak!</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Setelah puas makan <em>sandwich</em> dan <em>snack</em>, serta minum berbagai  jenis minuman, wisata kata kita kali ini saya sudahi sampai di sini. Mungkin  Anda akan teringat pada berbagai kisah di balik kata-kata itu setiap kali Anda  diundang menghadiri <em>banquet</em> atau tatkala menikmati kopi di rumah saat  bersantai di sore hari, atau mungkin saat bercengkerama dengan kawan-kawan di  sebuah bar. Sampai jumpa dalam nomor yang akan datang dengan berwisata ke  wilayah kata yang lain. <em>Adios!</em> (Eh, apa pula artinya?)</p>
<p><em>Ditulis oleh Sofia Mansoor. Pertama kali dimuat di majalah Berita Buku,  Februari 1996. Sumber: Word Origins, Webster&#8217;s Word Histories, dan berbagai  kamus.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/12/mencicipi-snack-sambil-menikmati-punch/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I am going today</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/10/i-am-going-today/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/10/i-am-going-today/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 09:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=606</guid>
		<description><![CDATA["I am going today" (Saya akan pergi hari ini) dan "I am going to die" (Saya akan mati) terdengar mirip bila seorang Australia "totok" yang mengucapkannya. Demikian canda orang untuk mengungkapkan keunikan lafal Inggris orang Australia. Seorang teman yang pernah menuntut ilmu di negeri kanguru itu mengatakan bahwa dia membutuhkan waktu sedikitnya dua bulan untuk bisa benar-benar memahami ucapan orang Australia. Lennie Johanson, pengarang buku Australian Slang, mula-mula merasa heran mengapa penutur bahasa Inggris dari negara lain mengalami kesulitan memahami pembicaraan orang Australia. Barulah setelah mengkajinya lebih dalam, ia menyadari bahwa ternyata cukup banyak kata atau ungkapan Australia yang berbeda artinya dengan yang dipahami oleh penutur bahasa Inggris lain. Mungkin sama dengan yang pernah kita bicarakan dalam Wisata Kata ketika membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>I am going today</em>&#8221; (Saya akan pergi hari ini) dan &#8220;<em>I am going to  die</em>&#8221; (Saya akan mati) terdengar mirip bila seorang Australia &#8220;totok&#8221; yang  mengucapkannya. Demikian canda orang untuk mengungkapkan keunikan lafal Inggris  orang Australia. Seorang teman yang pernah menuntut ilmu di negeri kanguru itu  mengatakan bahwa dia membutuhkan waktu sedikitnya dua bulan untuk bisa  benar-benar memahami ucapan orang Australia. Lennie Johanson, pengarang buku  <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Australian_English_vocabulary">Australian Slang</a></em>, mula-mula merasa heran mengapa penutur bahasa Inggris  dari negara lain mengalami kesulitan memahami pembicaraan orang Australia.  Barulah setelah mengkajinya lebih dalam, ia menyadari bahwa ternyata cukup  banyak kata atau ungkapan Australia yang berbeda artinya dengan yang dipahami  oleh penutur bahasa Inggris lain. Mungkin sama dengan yang pernah kita bicarakan  dalam <em>Wisata Kata</em> ketika membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa  Malaysia.</p>
<p><span id="more-606"></span>Dalam <em>Wisata Kata</em> kali ini, mari kita jelajahi khazanah kata Inggris  yang khas Australia itu. Sengaja saya pilih sejumlah kata yang saya yakin  dikenal baik oleh pembaca <em>Berita Buku</em>, serta kata dan ungkapan yang kocak  dan menarik. Ada juga kata dan ungkapan yang mempunyai arti yang agak berbeda  dengan makna yang kita kenal sehari-hari. Ambillah contohnya ungkapan &#8220;<em>stupid  old bastard</em>&#8220;. Saya yakin Anda akan marah besar jika ungkapan ini ditujukan  kepada Anda, padahal ini dimaksudkan orang Australia justru untuk menyambut Anda  sebagai teman. Menurut Lennie, orang Australia cenderung menyampaikan pujian  justru dengan ungkapan yang sebaliknya. Jika mereka hendak memaki orang dengan  makian sekasar &#8220;<em>bastard</em>&#8220;, mereka cukup menggunakan huruf awalnya saja,  misalnya <em>&#8220;He&#8217;s such a B!&#8221;</em> Cara lain untuk memaki seseorang adalah dengan  menggunakan kata &#8230; <em>basket</em>! Contohnya, <em>&#8220;What&#8217;s that basket doing  here?&#8221;</em></p>
<h3>Academy Award yang Jempolan</h3>
<p>Saya yakin kata <em>academy award</em> mengingatkan Anda pada acara penyerahan  piala Oscar di Hollywood kepada para insan film Amerika Serikat &#8230; kecuali bila  Anda seorang Australia! Sebab, bagi John Howard (Perdana Menteri Australia  sekarang) atau Mark Phillippoussis (petenis putra Australia nomor satu),  <em>academy award</em> tidak lain adalah &#8220;tendangan bebas&#8221; dalam permainan  <em>football</em> Australia.</p>
<p>Anda juga kenal istilah <em>jempolan</em>, bukan? Dalam bahasa Indonesia,  istilah itu ditujukan sebagai pujian kepada seseorang yang berhasil melakukan  sesuatu dengan hebat. Bahkan sebuah bank swasta di Indonesia menggunakan lambang  ibu jari ini sebagai nama salah satu jenis tabungannya. Namun, jangan salah  paham jika seorang Australia membicarakan rekan Anda dengan ungkapan <em>He&#8217;s all  thumbs when it comes to carpentry</em>. Jangan mengira rekan Anda itu dipuji  sebagai jempolan, karena makna di balik ungkapan itu justru ejekan bahwa rekan  Anda itu tidak tahu apa-apa mengenai pertukangan kayu.</p>
<p>Ungkapan yang mirip dengan <em>all thumbs</em> adalah <em>butter fingers</em>.  Jika kita paham arti kata <em>butter</em> (mentega) dan <em>fingers</em> (jemari),  mungkin kita dapat menebak bahwa ungkapan ini ditujukan kepada orang yang  jarinya licin atau orang yang tidak cekatan. Memang orang yang dijuluki si  <em>butter finger</em> sering menjatuhkan apa saja yang sedang dipegangnya &#8230;  jari-jemarinya benar-benar licin seperti mentega! Berbeda dengan ungkapan kita,  <em>licin seperti belut</em>.</p>
<p><strong>Salam xxx dan xox ?</strong></p>
<p>Cara orang mengakhiri surat memang bermacam-macam. Pakar bahasa kita, Prof.  Anton Moeliono, mengakhiri surat beliau dengan &#8220;salam takzim&#8221;. Dan, karena saya  salah seorang pengagumnya, untuk beberapa lama saya meniru beliau, tetapi  kemudian menghentikannya karena merasa salam tersebut terlalu &#8220;santun&#8221;.</p>
<p>Kedua &#8220;kata&#8221; berhuruf tiga yang menjadi judul pasal ini adalah cara orang di  Australia menutup surat mereka. Lambang <em>xxx</em> dalam film memang bisa  berarti film &#8220;biru&#8221;, tetapi sebagai penutup surat, rangkaian tiga huruf tersebut  berarti <em>cium sayang</em>. Bagaimana dengan <em>xox</em>? Yang ini berarti  <em>cium</em> ditambah <em>peluk</em>. Nah, Anda kini memiliki dua lambang untuk  menutup surat Anda, tetapi mungkin perlu Anda jelaskan lebih dahulu kepada  istri, suami, atau kekasih Anda apa arti rangkaian tiga-huruf tersebut. Atau &#8230;  persilakan pasangan hidup atau kekasih Anda itu turut ber-Wisata Kata!</p>
<h3>Tamu dan Aneka Nama</h3>
<p>Mungkin sebagian dari Anda telah mengerti apa yang dimaksud seorang wanita  jika dia mengatakan, &#8220;Saya sedang ada tamu&#8221;. Bahkan, wanita Sunda sering  menambahkan bahwa tamunya itu dari Cibeureum. Ungkapan orang Australia mengenai  keadaan sedang haid ini ternyata mirip – <em>My relatives have arrived</em> atau  <em>My friends have arrived</em>.</p>
<p>Bagaimana jika kita kedatangan tamu yang bernama <em>Richard Cranium</em>?  Dalam bidang kedokteran, <em>cranium</em> berarti tempurung otak. Tetapi, jika  seseorang dijuluki Richard Cranium – nama yang cukup bagus – jangan merasa  senang atau GR dulu. Rekan Australia Anda ternyata sedang bereufemisme – nama  bagus itu ternyata julukan untuk seseorang yang dianggap tolol bukan kepalang.  Dalam bahasa Indonesia mungkin sama dengan <em>Si Otak Udang</em>. Masih ada satu  nama lagi yang harus kita waspadai. Jika seorang Australia meminta <em>Aspro</em>,  jangan dikira dia meminta aspirin untuk obat sakit kepala. Yang dimaksudkannya  adalah seorang wanita panggilan, yang belakangan ini banyak dieufemismekan  wartawan kita menjadi PSK atau Pekerja Seks Komersial.</p>
<p>Contoh lain, kita semua tentu tahu siapa Pangeran Charles, calon Raja Inggris  yang entah kapan akan naik tahta. Nama ini banyak ragamnya di Eropa, sebut saja  misalnya Karl, Carl, Carlos, dan Charlie. Semua mengacu kepada kaum pria bukan?  Tetapi, lain halnya di Australia. Sebutan <em>charlie</em> (dengan huruf c kecil)  justru mengacu kepada wanita, tetapi hati-hati karena <em>charlies</em> (jamak)  mengacu kepada payudara.</p>
<p>Selanjutnya, <em>Cinderella</em> mengingatkan kita kepada gadis cantik yang  beruntung mendapatkan jodoh seorang pangeran. Anda tentu masih ingat film yang  melambungkan nama Julia Roberts, <em>Pretty Woman</em>, yang dipandang banyak  orang seperti kisah Cinderella di zaman modern sekarang ini. Pokoknya, ungkapan  &#8220;seperti Cinderella&#8221; menyiratkan keberuntungan, khususnya bagi seorang wanita.  Namun, jangan salah, di Australia kata Cinderella justru ditujukan kepada orang  yang dibenci atau diremehkan!</p>
<h3>Love Child</h3>
<p>Memang ada sejumlah ungkapan Inggris-Australia yang sama dengan ungkapan  Indonesia, tetapi lebih banyak lagi yang berbeda. Contoh ungkapan yang sama  adalah <em>crocodile tears</em> untuk menyatakan<em>tangis munafik</em>. Entah apa  istilah untuk <em>tangis politik</em> yang pernah menghebohkan masyarakat  Indonesia beberapa tahun yang lalu. Ada lagi ungkapan <em>accident</em> yang  menyatakan “kecelakaan” atau<em>kehamilan yang tak diinginkan</em>, dan <em>all in  the family</em> yang berarti <em>rahasia keluarga</em> atau <em>rahasia  perusahaan</em>, atau <em>ac</em>–<em>dc</em> yang berarti <em>waria, jantina, </em>atau <em>banci</em>. Sementara itu, contoh ungkapan yang maknanya berbeda,  selain <em>all thumbs</em> yang sudah dikemukakan tadi, adalah <em>love child</em>.  Di Indonesia, anak yang lahir di luar nikah sering disebut <em>anak haram</em>,  meskipun belakangan ini istilah kejam tersebut mulai jarang digunakan. Di  Australia, anak di luar nikah justru disebut <em>love child</em>. Apakah  berbedanya cara pengungkapan ini menunjukkan juga berbedanya cara kedua  masyarakat memandang si anak? Entahlah.</p>
<p>Selain ungkapan yang lazim, ada juga ungkapan yang mengejutkan. Contoh  ungkapan yang lazim dan mudah ditebak maknanya adalah <em>cancer stick</em> (batang kanker) dan <em>coffin nail</em> (paku peti-mati) yang tidak lain bermakna  <em>rokok</em> – rokok memang berbentuk batang atau paku yang diperkirakan bisa  menimbulkan kanker dan kematian, bukan? Ada ungkapan yang juga mudah ditebak  maknanya – <em>cake hole</em>(lubang kue) – yang tentu saja berarti <em>mulut</em>.  Tetapi, apakah makna <em>queen, eau de cologne, college, </em>dan<em> abortion?</em> Keempat kata ini kata yang lazim kita kenal dan sudah kita ketahui artinya,  bukan? Tetapi, ternyata kata <em>queen</em> dapat bermakna <em>lelaki homoseks</em>,  <em>eau de cologne</em> berarti <em>telepon</em>, <em>abortion</em> berarti <em>gagal  total</em>, dan <em>college</em> bermakna <em>penjara</em>! Di Melbourne ada bangunan  yang disebut <em>Bluestone College</em> yang tidak lain adalah Pentridge Prison,  penjara di kota itu. Apakah ungkapan tersebut  menyiratkan bahwa bangunan  penjara itu merupakan sekolah tinggi bagi narapidana?</p>
<p>Contoh ungkapan lain yang mencengangkan adalah <em>Darwin pyjamas</em>.  Jika  seseorang mengatakan bahwa dia tidur mengenakan <em>Darwin pyjamas</em>, dia  justru tidur telanjang alias tak mengenakan sehelai benang pun, apalagi  berpiyama. Ungkapan lain yang juga menarik adalah <em>give birth to a  politician</em> – bukan berarti melahirkan seorang politikus ulung – melainkan  <em>buang air besar</em>. Entah bagaimana asal-mulanya sampai politikus yang  biasanya dihormati menjadi bagian ungkapan yang sedemikian ‘tak terhormatnya’.  Nama Bali dan New Delhi pun ternyata memiliki kesamaan, yaitu dalam ungkapan  <em>Bali belly</em> dan <em>Delhi belly</em> yang tidak lain berarti <em>sakit perut; </em>mungkin banyak orang Australia yang sakit perut ketika berlibur di Bali atau  di New Delhi. Ungkapan <em>dance on air</em> yang semula saya duga berarti gembira  bak menari di awang-awang ternyata malah berarti <em>mati di tiang gantungan</em>.  Ada juga sedikitnya tiga dokter yang bukan berfungsi menyembuhkan orang,  melainkan mendatangkan kenyamanan; ketiga dokter itu adalah <em>Albany doctor,  Freemantle doctor, </em>dan<em> Esperance doctor</em>. Ketiganya bukan dokter  sembarang dokter, melainkan sebutan untuk angin sejuk dan segar yang berhembus  di hari yang amat panas!</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Tanpa terasa, telah setahun lamanya kita berwisata menjelajahi dunia kata.  Kebanyakan kata yang diterokai asal-usulnya memang berasal dari bahasa Inggris  karena sumber yang saya gunakan adalah berbagai kamus bahasa tersebut. Sungguh  ironis – sebagai orang Indonesia, pengetahuan saya mengenai asal-usul kata  bahasa saya sendiri sangatlah terbatas; demikian juga informasi dalam berbagai  kamus Indonesia yang saya miliki. Karena itulah saya akan menyambut gembira jika  ada pemandu wisata kata lain yang berkenan menggantikan saya dengan membawa  pembaca <em>Berita Buku</em> menjelajahi khazanah kata Indonesia.</p>
<p>Sebagaimana kata pepatah, tak ada pesta yang tak berakhir. Maka, sudah tiba  saatnya saya pun mohon diri dan mengakhiri wisata kita. Harapan saya semoga para  pecinta rubrik ini telah terhibur dan menikmati perjalanan kita selama setahun  ini. Dan, di akhir wisata kita, ada baiknya kita mengintip makna di balik kata  pengungkap perpisahan seperti <em>ciao</em> dan <em>good bye</em>. Menurut teman  saya di email list Lantra, sebuah kelompok pecinta bahasa (<em>LANguange</em>) dan  terjemahan (<em>TRAnslation</em>) di Internet, <em>ciao</em> berasal dari kata  Venesia <em>schiavo</em> atau <em>sclavus</em>, lalu berkembang menjadi ungkapan  Itali <em>servo suo</em>yang berarti <em>budak Anda</em>! Sementara itu, kata  <em>goodbye</em> berasal dari <em>God be with ye</em> (ungkapan Inggris kuno) yang  berarti <em>Semoga Tuhan menyertaimu</em>. Kalau boleh, saya ingin mengakhiri  wisata kita dengan aneka ucapan perpisahan yang berasal dari berbagai bahasa –  <em>good bye</em> (Inggris), <em>dag</em> (Belanda), <em>auf wieder sehen</em> (Jerman), <em>au revoir</em> (Prancis), <em>arrivederci</em> dan <em>ciao</em> (Italia), <em>sayonara</em> (Jepang), <em>ta-ta</em>(Australia),  <em>wassalamualaikum</em> (Arab), <em>chai-chen</em> (Mandarin), sampai berjumpa  lagi!</p>
<p>(Sumber: Johansen, <em>Australian Slang</em>,<em> A Dinkum Guide to Oz  English</em> dan aneka sumber lain)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/10/i-am-going-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menu Komputer Dan Huruf A Terbalik</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/menu-komputer-dan-huruf-a-terbalik/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/09/menu-komputer-dan-huruf-a-terbalik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman menceritakan keheranan putri remajanya ketika membaca kata menu sebagai judul daftar makanan di sebuah restoran. "Pa, kok daftar makanan disebut menu sih? Ikut-ikutan istilah komputer ya?"

Mula-mula si Papa bingung karena ia berpendapat bahwa logika anaknya terbalik – sebab, bukankah kata menu dalam bidang komputerlah yang justru meniru kata menu yang berarti daftar makanan di restoran? Tapi, dia segera sadar bahwa putrinya itu, sebagaimana mungkin banyak remaja lainnya, memang lebih dahulu mengenal kata menu dari dunia komputer, bukan dari dunia restoran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman menceritakan keheranan putri remajanya ketika membaca kata  <em>menu</em> sebagai judul daftar makanan di sebuah restoran. &#8220;Pa, kok daftar  makanan disebut <em>menu</em> sih? Ikut-ikutan istilah komputer ya?&#8221;</p>
<p>Mula-mula si Papa bingung karena ia berpendapat bahwa logika anaknya terbalik  – sebab, bukankah kata <em>menu</em> dalam bidang komputerlah yang justru meniru  kata <em>menu</em> yang berarti daftar makanan di restoran? Tapi, dia segera sadar  bahwa putrinya itu, sebagaimana mungkin banyak remaja lainnya, memang lebih  dahulu mengenal kata <em>menu</em> dari dunia komputer, bukan dari dunia  restoran.</p>
<p><span id="more-480"></span>Dalam kamus <em>Webster&#8217;s New Collegiate Dictionary</em> yang terbit tahun  1981, kata <em>menu</em> masih hanya berarti daftar makanan di restoran. Mungkin  pada awal tahun 1980-an itu kata <em>menu</em> dalam bidang komputer belum  dikenal. Tetapi, dalam kamus yang terbit belakangan, misalnya <em>Collins  Cobuild</em> yang terbit tahun 1987, kata <em>menu</em> sudah mencantumkan makna  dalam bidang komputer, yakni &#8220;daftar pilihan untuk menangani suatu informasi  dalam komputer&#8221;.</p>
<p>Kata <em>menu</em> (kata benda) sendiri berasal dari kata Prancis <em>menu</em> (kata sifat) yang berarti kecil, ramping, terperinci; arti yang terakhir inilah  rupanya yang dipungut dunia restoran karena bukankah <em>menu</em> berisi daftar  terperinci mengenai nama makanan yang bisa dipesan? Pencipta program komputer  kemudian memungut kata <em>menu</em> itu untuk menamakan daftar pilihan  penangananan informasi yang disediakan komputer.</p>
<p>Kalau ditelusuri lebih jauh, kata Prancis <em>menu</em> semula berasal dari  kata Latin <em>minutus</em>, bentuk femina dari kata <em>minuta</em> yang secara  khusus diartikan &#8220;seperenam puluh derajat&#8221;, yang di masa Medieval Latin  dimaksudkan sebagai &#8220;seperenam puluh bagian dari satu jam&#8221;, alias <em>menit</em> dalam bahasa Indonesia atau <em>minute</em> dalam bahasa Inggris. Selanjutnya,  ungkapan Inggris &#8220;<em>minutes of the meeting</em>&#8221; diambil langsung dari kata  Latin <em>minuta</em> yang tampaknya singkatan <em>minuta scripta</em> yang berarti  &#8220;catatan dengan tulisan ringkas&#8221; &#8212; mungkin untuk membedakan catatan  (<em>draft</em>), yang berupa ringkasan hasil suatu rapat, dengan laporan  lengkapnya.</p>
<h3><em>Dictionary</em> dan <em>dico</em></h3>
<p>Kamus, yang teman akrab para penerjemah dan penyunting, dalam bahasa Inggris  disebut <em>dictionary</em>, yang sesungguhnya berarti rekaman dari apa yang  &#8220;dikatakan&#8221; orang, yaitu yang menyangkut pelafalan, ejaan, dan makna yang  disandang sebuah kata. Asalnya adalah kata Latin <em>dictio</em> dari <em>dico</em> yang berarti &#8220;berkata&#8221;. Dari kata <em>dico</em> ini kemudian muncul sejumlah kata  Inggris, misalnya <em>ditto</em>, yang berarti &#8220;dikatakan lagi&#8221;. Para pecandu film  Demi Moore tentu masih ingat bahwa dalam film <em>Ghost</em> yang sangat tenar  beberapa tahun yang lalu, Demi merajuk karena pacarnya, yang diperankan aktor  Patrick Swayze, tidak pernah mengatakan &#8220;<em>I love you</em>&#8220;, melainkan hanya  men-<em>ditto</em> saja setiap kali Demi mengucapkan ungkapan cinta tersebut.</p>
<p>Kata lain yang kita kenal adalah kata <em>kontradiksi</em>, tentu yang kita  serap dari kata Inggris <em>contradiction</em> yang berarti &#8220;berkata menentang&#8221;  (<em>contra</em> berarti menentang). Lalu, kita juga mengenal <em>diktator</em> dari  kata Inggris <em>dictator</em>, dulu julukan untuk Caesar, yang setelah memberikan  perintah selalu berujar: &#8220;Sudah saya katakan&#8221;.</p>
<p>Pembaca yang berusia remaja pada tahun 1930-an tentu masih ingat bagaimana  dunia diguncangkan oleh pengunduran diri atau <em>abdikasi</em> raja Inggris,  Edward VIII. Ia memilih menikah dengan seorang janda berkebangsaan Amerika yang  dicintainya, Wallis Warfield Simpson, daripada mempertahankan tahtanya. Kata  <em>abdikasi</em> kita serap dari kata Inggris <em>abdication</em> – juga berakar  dari kata <em>dico</em> – yang berarti &#8220;mengumumkan pengunduran diri dari  tahta&#8221;.</p>
<p>Bagaimana pula dengan kata <em>verdict</em>, yang menjadi judul salah satu  tayangan CNN pada bulan Oktober 1995 yang lalu, ketika OJ Simpson (bintang  <em>football</em> Amerika) menerima keputusan juri atas tuduhan membunuh mantan  istri (Nicole Brown) dan teman prianya (Ronald Goldman)? Kata <em>verdict</em> berasal dari kata <em>vere</em> yang berarti &#8220;dengan benar&#8221; dan <em>dico</em>, yang  di atas sudah dikemukakan berarti &#8220;berkata&#8221;. Jadi, <em>verdict</em> lebih kurang  berarti &#8220;perkataan yang benar&#8221;, dalam hal ini tentu saja keputusan yang  dipandang benar oleh juri.</p>
<p>Salah satu kata yang amat dikenal mahasiswa tentulah <em>diktat</em>, yang kita  serap dari kata Belanda <em>dictaat</em>, yang berarti catatan. Memang,  <em>diktat</em> sebenarnya berarti catatan yang dibuat mahasiswa ketika  mendengarkan kuliah dosennya, atau dengan kata lain, catatan kata-kata si dosen.  Meskipun tidak ditemukan riwayatnya, dapat diperkirakan bahwa kata  <em>dictaat</em> pun berakar dari kata Latin <em>dico</em> yang tengah kita orak  ini. Dari sini pula kita kenal kata <em>dikte</em>, yang sekarang berkonotasi agak  negatif dengan munculnya istilah &#8220;mendiktekan kehendak&#8221; yang kira-kira berarti  &#8220;memaksa&#8221;. Padahal, pada awalnya <em>mendikte</em> berarti menyuruh menulis apa  yang dibacakan atau diucapkan, biasanya oleh guru kepada muridnya di kelas.</p>
<h3><strong><em>Alphabet</em></strong></h3>
<p>Bagaimana kalau kita lanjutkan wisata kita kali ini dengan mengorak riwayat  huruf? Kata <em>alphabet</em>, atau dalam bahasa Indonesia disebut abjad atau  urutan huruf, adalah gabungan dua huruf pertama Yunani – <em>alpha</em> dan  <em>beta</em>. Betapa banyaknya orang tua masa kini yang menamai dua anak pertama  mereka dengan rekaan kedua kata tersebut. Nama Alpha dan Alva, misalnya,  menunjukkan pemiliknya adalah anak sulung. Sementara nama Betharia dan Betha  dapat ditebak sebagai nama anak kedua.</p>
<p>Sebenarnya setiap huruf dalam alfabet kita berawal dari gambar. Ambillah  contohnya huruf <em>A</em>, huruf pertama kita. Di masa Phoenicia kuno, sekitar  3000 tahun yang lalu, huruf <em>A</em> disebut <em>aleph</em> yang berarti <em>sapi  jantan</em>. Mereka yang akrab dengan Alquran tentu kenal pula huruf Arab pertama  yang disebut <em>alif</em>, meskipun rupanya berbeda dengan huruf <em>A</em>. Dulu,  huruf <em>A</em> menggambarkan tanduk sapi jantan dengan sebuah garis melintang di  tengahnya. Orang Yunani kemudian menjungkirkan gambar itu sehingga tampak  seperti huruf <em>A</em> yang kita kenal sekarang. Pada masa tersebut, sapi jantan  berperanan besar dalam menunjang kehidupan: dagingnya dimakan, tenaganya  digunakan untuk bekerja, dan kulitnya dijadikan sepatu dan pakaian. Begitu  pentingnya kedudukan sapi jantan tersebut sehingga tidaklah heran bila dia atau  <em>aleph</em> menduduki tempat terhormat sebagai huruf pertama.</p>
<p>Apa yang selanjutnya berperanan penting dalam kehidupan manusia? Tempat  berteduh, bukan? Nah, muncullah huruf kedua, <em>B</em>, yang dalam bahasa  Phoenicia disebut <em>beth</em>, berarti tenda atau rumah. Huruf <em>B</em> mereka  pada mulanya tampak seperti gambar rumah berkamar dua: sebuah kamar untuk kaum  wanita dan sebuah kamar lagi untuk kaum pria. Kata <em>beth</em> di zaman modern  sekarang masih dipertahankan, antara lain pada kota <em>Bethlehem</em>, yang tidak  lain berarti &#8220;rumah makanan&#8221;. Entah, apakah nama penyanyi kondang asal Bogor,  Betharia Sonata, juga ada hubungannya dengan rumah.</p>
<p>Kisah yang menarik terdapat pula di balik riwayat huruf <em>O</em>, <em>K</em>,  dan <em>I</em>. Huruf <em>O</em> menggambarkan mata manusia, yang memang berbentuk  bundar seperti <em>O</em>. Bahkan, pada huruf <em>O</em> kuno, terdapat titik di  tengahnya, melambangkan pupil mata! Sekarang, untuk membedakannya dari angka  <em>nol</em>, mereka yang menekuni angka telah mencoret huruf <em>O</em> untuk  melambangkan angka nol. Tentu saja, dalam tipografi (tata huruf) di percetakan,  terdapat perbedaan yang jelas antara huruf <em>O</em> dan angka 0 sehingga coretan  tidak diperlukan. Sementara itu,<em> kaleph</em> dalam bahasa kaum Phoenicia  adalah nama untuk huruf <em>K</em>, yang berarti telapak tangan. Pada mulanya,  huruf <em>K</em> memang benar-benar gambar sebuah tangan, sementara huruf <em>I</em> menggambarkan jari manusia.</p>
<p>Bagaimana dengan huruf <em>Q</em>? Huruf ini diibaratkan menggambarkan seekor  monyet dengan ekornya yang menggantung. Huruf ini memang jarang terdapat dalam  kosakata sehingga dalam permainan <em>scrabble</em> pun mendapat nilai angka  tinggi, 10. Di dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> hanya terdapat enam –  ya, hanya enam saja – entri yang menggunakan huruf <em>Q</em>, semuanya kata dari  bahasa Arab. Bahkan dua entri di antaranya hanyalah penjelasan huruf <em>Q</em> (huruf ke-17 dalam abjad Indonesia) dan <em>qi</em>, yaitu nama huruf  tersebut.</p>
<p>Kisah huruf<em> M </em>juga cukup menarik. Bangsa Phoenicia adalah para pelaut  tangguh yang tak gentar mengarungi samudera, bahkan sampai ke pantai Spanyol.  Padahal, wilayah Phoenicia sendiri berada jauh di sebelah baratnya, membentang  dari Laut Mediterania sampai ke Pegunungan Lebanon. Mereka menyebut huruf  <em>M</em> dengan<em> mem</em>, yang berarti &#8220;air&#8221;. Dan huruf kuno ini, yang rautnya  mirip dengan huruf <em>M</em> yang kita kenal sekarang, memang menggambarkan ombak  samudera. Sekarang, raut huruf ini semakin mendunia dengan merajalelanya sebuah  restoran hamburger paling terkenal di dunia – McDonald’s.</p>
<p>Selanjutnya, huruf <em>G</em>, yang bagi anak balita sulit menuliskannya, dulu  menggambarkan unta yang berpunuk. Huruf ini dinamakan <em>gimel</em> dalam alfabet  Yahudi, yang merupakan sumber kata <em>gamma</em>, nama Yunani untuk huruf  <em>G</em>. Dan, tentu tidak terlalu sulit menghubungkan kata Inggris <em>camel</em> (yang berarti unta) dengan kata <em>gamma</em> dan <em>gamel</em> bukan?</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Nah pembaca, kita akhiri dulu wisata kita kali ini. Setelah melacak riwayat  kata <em>menu</em> dalam bidang komputer, yang berasal dari kata sehari-hari yang  sudah kita kenal di restoran, mudah-mudahan para ahli komputer kita tidak lagi  ragu menciptakan istilah baru dalam bahasa Indonesia. Para pencipta komputer di  dunia Barat pun tidak ragu menggunakan kata <em>mouse</em> yang berarti tikus  untuk salah satu perlengkapan komputer bukan? Benda tersebut memang mirip tikus  karena mempunyai tali yang panjang seperti ekor tikus. Di Malaysia, mulai  diperkenalkan istilah <em>tetikus</em> untuk benda tersebut, yang menyiratkan  mirip tikus. Dalam kaidah bahasa Indonesia dikenal bentuk kata benda jamak  ditambah akhiran -an untuk menyiratkan &#8220;menyerupai&#8221;, seperti kuda-kudaan,  rumah-rumahan, dan mobil-mobilan. Bagaimana kalau <em>mouse</em> dalam bidang  komputer kita namakan <em>tikus-tikusan</em> saja? Anda setuju? Atau justru sudah  keenakan menyebutnya <em>mouse</em> saja?</p>
<p><em>Sumber: Word Origins, Webster&#8217;s Word Histories, dan sejumlah kamus.  Dimuat di Berita Buku, Maret 1996.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/09/menu-komputer-dan-huruf-a-terbalik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah penggunaan kamus yang asal-asalan: Papaya banyak berserat</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/masalah-penggunaan-kamus-yang-asal-asalan-papaya-banyak-berserat/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/09/masalah-penggunaan-kamus-yang-asal-asalan-papaya-banyak-berserat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 04:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Itulah yang sering dikatakan oleh para ahli nutrisi. Tentu saja pernyataan itu dapat membingungkan orang kebanyakan, sebab yang mereka tahu, serat adalah bahan berbentuk mirip benang, seperti yang terdapat pada batang pohon pisang. Serat yang dimaksud oleh ahli nutrisi sebenanya adalah istilah serapan dari bahasa Inggris fiber yang salah satu padanannya di dalam kamus memang serat. Dari kamus yang bagus dapat ditemukan lebih dari lima makna fiber, yang salah satunya, seperti yang dimaksud ahli nutrisi tersebut, adalah sari zat tumbuhan yang berkhasiat melancarkan pencernaan. Tanpa peduli adanya multi makna itu, ahli nutrisi langsung saja mencomot makna nomor satu, serat, karena tak dapat menemukan atau “mencipta” istilah lain yang tepat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itulah yang sering dikatakan oleh para ahli nutrisi. Tentu saja pernyataan  itu dapat membingungkan orang kebanyakan, sebab yang mereka tahu, serat adalah  bahan berbentuk mirip benang, seperti yang terdapat pada batang pohon pisang.  Serat yang dimaksud oleh ahli nutrisi sebenanya adalah istilah serapan dari  bahasa Inggris <em>fiber</em> yang salah satu padanannya di dalam kamus memang  <strong>serat.</strong> Dari kamus yang bagus dapat ditemukan lebih dari lima makna<em> fiber</em>, <em>yang</em> salah satunya, seperti yang dimaksud ahli nutrisi  tersebut, adalah sari zat tumbuhan yang berkhasiat melancarkan pencernaan. Tanpa  peduli adanya multi makna itu, ahli nutrisi langsung saja <em>mencomot</em> makna  nomor satu, serat, karena tak dapat menemukan atau “mencipta” istilah lain yang  tepat.</p>
<p><span id="more-472"></span>Kasus mirip juga ada pada istilah <em>trauma</em><em>. </em>Seorang reporter TV  melaporkan bahwa ribuan pengungsi tsunami menderita <em>trauma</em> berat, dan  dikabarkan <em>t</em><em>rauma center</em> di rumah sakit dipadati penderita  <em>trauma</em>. Reporter tersebut tidak tahu bahwa <em>trauma </em>yang kedua  berarti luka parah, misalnya pada korban kecelakaan. Jadi, <em>trauma</em> <em>center</em> jelas bukan tempat perawatan penderita trauma, melainkan tempat  merawat penderita luka parah.</p>
<p><strong>Asam urat</strong></p>
<p>Pernah terbaca iklan pengobatan alternatif menawarkan jasa penyembuhan  <em>urat</em> yang mengalami pengasaman. Ternyata istilah <em>asam urat</em> tidak  ada kaitannya dengan urat. Istilah itu adalah padanan <strong><em>uric</em></strong><em> </em>atau <strong><em>urate</em></strong><em> acid. </em>Karena di dalam kamus Indonesia tidak  ada padanan <em>pas</em> untuk <em>urate</em><em>, </em>apa boleh buat, diambil saja  kata urat, walau diketahui sudah ada kata <strong>u</strong><strong>rat </strong>yang bermakna  lain.</p>
<p><strong>Petinju kelas terbang</strong></p>
<p><strong> </strong><em>Flyweight</em>, peringkat petinju berdasarkan berat badan  diindonesiakan menjadi kelas “terbang”, disamping kelas bantam  (<em>bantamweight</em>), dan bulu (<em>featherweight</em>). Susah kita mencari  logika bahasa antara ketiga padanan tersebut dengan peringkat berat badan.  Selidik-punya-selidik, ternyata yang dimaksud dengan <em>fly</em> pada istilah  aslinya bukannya “terbang”, melainkan “lalat” yang bahasa Inggrisnya memang juga  <em>fly. </em>Lagi-lagi, hal ini juga sebagai dampak pemanfaatan kamus yang kurang  peduli dan kurang teliti.</p>
<p><strong>Papan kunci dan manager garis</strong></p>
<p>Semua pengguna komputer pasti mengenal <em>keyboard</em><em>. </em>Sedemikian  lazimnya nama tersebut, sehingga dengan serta merta orang mengindonesiakannya  dengan <strong>papan kunci, </strong>tanpa peduli bahwa pengindonesiaan demikian <em>tidak  nyambung</em> dengan makna sebenarnya. Dalam konsep bahasa Indonesia,  <strong>papan</strong> <strong>kunci</strong> adalah papan tempat  menggantungkan kunci, yang biasa  ditempel di tembok ruang penjaga kantor, bukan bagian komputer.</p>
<p>Pada kasus yang mirip, di dalam sebuah buku ajar manajemen terdapat istilah  <strong>manager garis</strong> yang dimaksudkan sebagai padanan <em>line manager</em>.  Pengindonesiaan model <strong>papan kunci</strong> dan <strong>manager garis</strong> ini,  lagi-lagi, juga dampak penggunaan kamus yang asal-asalan. Dikatakan asal-asalan  karena padanan itu terlalu katawi yang hanya berdasar terjemahan kata tanpa  mempedulikan makna yang terkandung di balik kata itu.</p>
<p><strong>Basis data</strong></p>
<p>“Basis data” dimaksudkan sebagai padanan istilah <em>data base</em>. Sepintas  lalu pemadanan ini bagus, cukup mudah dimengerti karena ejaan dan makna setiap  unsurnya mirip dengan aslinya. Namun demikian, orang yang cermat menyisir kamus  menemukan kata <em>pangkalan data</em> lebih tepat ketimbang <em>basis</em> data.  <strong>Pangkalan, </strong>menurut kamus, merupakan tempat menimbun barang, sedangkan  <strong>basis </strong>lebih cenderung bermakna tumpuan melakukan operasi militer. Namun  demikian, banyak orang menertawakan bentuk ini dan meledeknya dengan  menyejajarkan dengan pangkalan ojek.</p>
<p><strong>Polemik</strong></p>
<p><strong> </strong>Di dalam masyarakat, terutama masyarakat penerjemah, seolah ada dua  “kubu”. Keduanya merasa mengemban misi meningkatkan martabat dan mutu bahasa  nasional lewat pengindonesiaan istilah iptek, namun mereka menggunakan prinsip  yang justru berlawanan. Menurut kubu pertama, penyerapan bahasa asing dengan  sekadar penyesuaian akan memperkaya bahasa nasional dengan cara lebih efektif,  sedangkan kubu kedua berupaya memperkaya bahasa dengan menggali kosakata asli  negeri sendiri.</p>
<p><strong> </strong>Menurut kubu pertama, upaya pengindonesiaan itu mubazir karena  hasilnya justru sering lebih susah dipahami daripada istilah aslinya, dan juga  menggelikan. Biasanya dicontohkan produk Pusat Bahasa sejenis <em>sangkil</em> dan  <em>mangkus</em> yang “tidak laku” di masyarakat. Kenyataan sebenarnya, di  masyarakat telah banyak istilah ciptaan para pendahulu kita yang berterima dan  dianggap bagus. Seandainya istilah-istilah tersebut dicipta masa kini, mungkin  oleh penganut kubu pertama akan dianggap mubazir dan menggelikan, misalnya  <strong>sunting</strong> (<em>edit</em>), <strong>berat jenis</strong> (<em>specific</em><em> gravity</em>), <strong>kelola</strong> (<em>manage</em>), <strong>judul</strong> (<em>title</em>), dan  sebagainya. Dari contoh-contoh di atas, rupa-rupanya kubu apapun yang dianut,  masalah logika bahasa tidak boleh diabaikan.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Tempo, Edisi No. 3701, Maret 2008, halaman 62.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/09/masalah-penggunaan-kamus-yang-asal-asalan-papaya-banyak-berserat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dirgahayu Republik Indonesia: Bahasa Menunjukkan Bangsa</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/dirgahayu-republik-indonesia-bahasa-menunjukkan-bangsa/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/dirgahayu-republik-indonesia-bahasa-menunjukkan-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 18:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[asut]]></category>
		<category><![CDATA[bubuhan]]></category>
		<category><![CDATA[googol]]></category>
		<category><![CDATA[imbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[kinerja]]></category>
		<category><![CDATA[linarut]]></category>
		<category><![CDATA[nasket]]></category>
		<category><![CDATA[sinambung]]></category>
		<category><![CDATA[tikalas]]></category>
		<category><![CDATA[tikatas]]></category>
		<category><![CDATA[tinambah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan kosakata kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: "Bahasa menunjukkan bangsa".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kosakata">kosakata</a> kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: &#8220;<em>Bahasa menunjukkan bangsa</em>&#8220;.</p>
<p><span id="more-186"></span><strong>Asut dan googol</strong></p>
<p>Peristiwa diciptakannya istilah <em>asut </em>dan <em>googol </em>mungkin bisa membuka mata kita bahwa tidak ada salahnya mencipta kata baru. Kata asut diciptakan oleh Prof. TM Soelaeman, guru besar elektroteknik dari ITB, yang diartikan sebagai &#8220;menghidupkan mesin&#8221;. Kabarnya kata itu diciptakan tatkala beliau tengah memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan kepada mahasiswanya tentang proses menghidupkan mesin. Kata gado-gado Indonesia-Inggrisnya memang sudah sering digunakan, yaitu <em>menstarter</em>. Tetapi, Prof. Soelaeman ingin menggunakan kata Indonesia. Yang terpikirkan adalah kata <em>hasut </em>yang berarti &#8220;mempengaruhi orang agar mulai mengerjakan sesuatu&#8221;. Beliau memungut kata tersebut, membuang huruf h-nya, sehingga terciptalah kata <em>asut </em>tadi. Sekarang, meskipun belum masuk KBBI, di dunia keteknikan, kata tersebut semakin populer. Memang, <em>mengasut </em>mobil seakan-akan menyuruh mesin mobil untuk mulai bekerja.</p>
<p>Kata <em>googol </em>mempunyai riwayat yang lebih unik lagi. Sudah lama para matematikawan merasakan betapa praktisnya menggunakan kata atau istilah tertentu untuk menamai bilangan besar. Bayangkan seandainya kita tidak mengenal kata triliun, alih-alih menuliskan 1,3 triliun (kredit macet <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eddy_Tansil">Eddy Tansil</a> di Bank Bapindo), kita terpaksa menuliskan 1.300.000.000.000.</p>
<p>Dikisahkan bahwa pada tahun 1930-an, Profesor <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_Kasner">Edward Kasner</a> (1878–1955), seorang matematikawan Amerika, sedang menangani sebuah bilangan 10 pangkat 100. Dia merasa perlu menamai bilangan tersebut. Secara iseng, dia bertanya kepada keponakannya yang berusia sembilan tahun, Milton Sirrota, nama apa yang cocok untuk bilangan besar itu. Sang profesor berjanji akan menggunakan nama itu, betapapun anehnya. Milton pun asal menjawab: &#8220;<em>Googol</em>!&#8221; Untuk memenuhi janjinya, nama yang aneh itu pun digunakan Prof. Kasner, dan sekarang googol sering digunakan di dunia matematika.</p>
<p><strong>Tikalas dan tikatas</strong></p>
<p>Anda tentu kenal istilah <em>superskrip </em>dan <em>subskrip</em>, yaitu huruf atau angka yang dituliskan agak di atas dan agak di bawah. Contoh superskrip adalah angka 2 pada 10<sup>2</sup>, dan contoh subskrip adalah angka 2 pada H<sub>2</sub>O. Tidak jarang kita lupa mana yang superskrip dan mana yang subskrip, yang di atas atau yang di bawah. Memang kedua kata itu kata serapan dari <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subscript_and_superscript">superscript</a></em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subscript_and_superscript"> dan </a><em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subscript_and_superscript">subscript</a></em>, kata yang bukan milik kita. Tetapi, jika dikatakan &#8220;atas&#8221; dan &#8220;bawah&#8221;, pasti kita tidak akan keliru lagi. Jadi, mengapa tidak kita pakai saja dua kata ciptaan Adjat Sakri, peminat bahasa dari Penerbit ITB, yaitu <em>tikatas </em>untuk superskrip dan <em>tikalas </em>untuk subskrip?</p>
<p>Penggalan kata &#8220;tik&#8221; pada kedua kata itu diambil dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Kawi">kata Kawi</a> <em>tika </em>yang berarti &#8220;huruf&#8221;. Penciptanya ingin memperluas makna tersebut menjadi padanan kata Inggris <em>character</em>, yaitu tidak hanya mencakup huruf, tetapi juga lambang cetak lainnya. Jadi, <em>tikatas </em>adalah karakter yang ditulis di atas, dan <em>tikalas </em>yang ditulis di alas atau di bawah. Mudah diingat, bukan? Sayang, uraian kedua kata ini dalam KBBI kurang tepat karena hanya tertulis &#8220;tika atas&#8221;. Sementara itu, kata <em>tika</em> yang bermakna &#8220;huruf&#8221; sebagai sumber terciptanya kata baru tersebut tidak tercantum.</p>
<p><strong>Manuscript, typescript, discript &#8230;</strong></p>
<p>Penerbit dan pengarang tentu mengenal kata <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manuskrip">manuskrip</a></em>, kata lain untuk <em>naskah</em>. Kata <em>manuskrip </em>sendiri adalah serapan dari kata Inggris <em>manuscript</em>, tentu saja berarti &#8220;tulisan tangan&#8221; dari kata Latin <em>manus </em>yang berarti &#8220;tangan&#8221; dan <em>scriptus </em>yang berarti &#8220;tertulis&#8221;. Selanjutnya, setelah mesin tik ditemukan, pengarang beralih dari penulisan dengan tangan ke mesin tik. Maka, penutur bahasa Inggris menamai naskah yang diketik itu dengan <em>typescript </em>– kata kerja <em>to type</em> berarti &#8220;mengetik&#8221;. Kita di Indonesia tetap saja menyebutnya <em>naskah</em>, baik ditulis tangan maupun diketik.</p>
<p>Sekarang, dengan ditemukannya komputer, dan naskah diserahkan dalam bentuk disket oleh pengarang kepada penerbit, apa nama naskah semacam itu? Secara analogi tampaknya bisa disebut <em>diskscript</em>. Tetapi, saya belum menemukan istilah ini dalam berbagai kamus yang biasa saya gunakan. Yang ada hanya <em>hard copy</em> untuk menyatakan naskah yang diserahkan berupa hasil cetakan komputer. Adjat Sakri mempopulerkan istilah <em>nasket </em>untuk naskah yang diserahkan dalam bentuk disket. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p><strong>Sinambung, kinerja, linarut, tinambah</strong></p>
<p>Kaidah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awalan">awalan</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akhiran">akhiran</a>, dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sisipan">sisipan</a> dalam bahasa Indonesia sebetulnya merupakan kekayaan yang masih belum banyak dimanfaatkan untuk membentuk kata atau istilah baru. Padahal, dengan memanfaatkan kekayaan yang unik ini, kita dapat sangat hemat dalam berbahasa. Misalnya, alih-alih &#8220;<em>melakukan pengejaran</em> terhadap penjahat&#8221;, wartawan bisa memendekkan frase itu menjadi &#8220;<em>mengejar </em>penjahat&#8221;. Terjemahan dialog sinetron di TV seperti &#8220;&#8230; kecantikannya <em>tidak dapat diuraikan dengan kata-kata</em>&#8221; bisa dipersingkat dan dibaca lebih cepat bila dituliskan &#8220;&#8230; kecantikannya <em>tak terkatakan</em>&#8220;.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan keempat kata yang menjadi judul pasal ini? Kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=sinambung">sinambung</a> </em>tentu sudah Anda kenal, bahkan mungkin sering Anda gunakan. Mudah diduga bahwa kata asalnya adalah &#8220;sambung&#8221;, diberi sisipan <em>-in-</em>. Kata <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=kinerja">kinerja</a></em> mungkin baru Anda kenal lewat media massa atau buku terjemahan. Diperkirakan kata ini semakin berterima di masyarakat dengan semakin seringnya muncul di media massa. Asal katanya tentu saja &#8220;kerja&#8221;, diberi sisipan <em>-in-</em>. Setahu saya, kata ini diciptakan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup ITB (PPLH-ITB) sebagai padanan kata <em>performance</em>. Saingan istilah baru ini adalah <em><a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=unjuk%20kerja">unjuk kerja</a></em> dan <em>perikerja</em>. Mana yang akan terus hidup tentu saja sangat bergantung pada pemasyarakatannya, baik melalui media massa maupun tulisan ilmiah.</p>
<p>Bagaimana dengan kata <em>linarut </em>dan <em>tinambah</em>? Mungkin hanya kalangan ilmuwanlah yang sudah mengenalnya. Kedua istilah ini diciptakan Prof. Kosasih Padmawinata, penerjemah produktif dari Jurusan Farmasi ITB. <em>Linarut</em> digunakannya sebagai padanan istilah Inggris <em>solute </em>yang sebelumnya sering diterjemahkan menjadi <em>zat terlarut</em>. Prof. Kosasih menganggap istilah yang terdiri atas dua patah kata itu terlalu panjang. Maka, diciptakannyalah kata <em>linarut</em> yang berasal dari kata &#8220;larut&#8221; dengan sisipan <em>-in-</em>. Istilah <em>tinambah </em>juga diciptakan dari kebutuhan sang profesor ketika menerjemahkan istilah Inggris <em>additives</em>, yaitu zat yang ditambahkan ke dalam sesuatu, misalnya <em>food additives</em>. Alih-alih menggunakan &#8220;zat tambahan&#8221;, Prof. Kosasih memperkenalkan istilah <em>tinambah </em>yang tampaknya juga semakin berterima di dunia yang ditekuninya, dunia kimia farmasi.</p>
<p><strong>Manfaatkan bubuhan</strong></p>
<p>Secara keseluruhan, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Awalan">awalan</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akhiran">akhiran</a>, dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sisipan">sisipan</a> dinamakan &#8220;<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imbuhan">imbuhan</a>&#8220;. Bagi orang awam, dan saya termasuk di dalamnya, istilah awalan dan akhiran memang lebih cepat dipahami daripada kata serapannya, <em>afiks</em> dan <em>sufiks</em>, yang digunakan para ahli linguistik. Contoh awalan adalah <em>me-</em>, <em>ber-</em>, <em>pe-</em>, dan <em>di-</em>; contoh akhiran adalah <em>-an</em>, <em>-kan</em>, <em>-lah</em>, dan <em>-kah</em>; dan contoh sisipan adalah <em>-in-</em>, <em>-el-</em>, dan <em>-em-</em>.</p>
<p>Bagaimana dengan awalan semacam <em>maha-</em>, <em>tuna-</em>, <em>mala-</em>, <em>pasca-</em>, <em>pra-</em>, <em>nir-</em>, dan <em>lir-</em>? Ada yang menamakannya &#8220;bubuhan&#8221;, untuk membedakannya dari &#8220;imbuhan&#8221;. Bubuhan semakin disukai untuk menciptakan istilah baru yang keperluannya terasa semakin mendesak. Dalam bidang ekonomi, misalnya, semakin populer istilah <em>nirlaba</em>, padanan istilah Inggris <em>nonprofit</em>. Ada pula istilah <em>baja nirkarat</em>, padanan <em>stainless steel</em>. Bubuhan <em>nir-</em> memang menyatakan negatif atau tidak ada. Maka, sungguh tepatlah bila penerjemah dari IPB menggunakan istilah <em>semangka nirbiji</em>, meskipun pedagang semangka di tepi jalan lebih kenal istilah <em>semangka nonbiji</em>. Mahasiswa Program D-3 Editing, Unpad menciptakan istilah <em>kain nirjahit</em> sebagai padanan <em>kain ihrom</em> – istilah yang sungguh tepat, dipandang dari wujud fisik kain tersebut.</p>
<p>Masih banyak istilah ciptaan baru lainnya: Dr. Soegito Wonodirekso dari FKUI menciptakan istilah <em>laiksantap </em>untuk padanan <em>edible</em>, dan Dr. Diah Lukman dari IPB menggunakan istilah <em>liragar </em>untuk padanan <em>jellylike</em>. Para pelukis menciptakan istilah <em>mahakarya </em>dan <em>adikarya </em>untuk padanan <em>masterpiece</em>, sedangkan perancang busana menciptakan istilah <em>adibusana </em>untuk <em>haute couture</em> atau <em>high fashion</em>. Anda dapat terus memperpanjang daftar ini dengan istilah ciptaan Anda, tentu saja dengan memperhatikan Pedoman Pembentukan Istilah dari Pusat Bahasa. Ya, mengapa tidak?</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Diam-diam ternyata peristilahan bahasa Indonesia di kalangan ilmuwan dan kalangan terbatas lainnya terus berkembang. Aneka istilah baru terus bermunculan – ada yang megap-megap bertahan hidup karena kurang disukai (<em>mangkus</em>, <em>sangkil</em>), tetapi banyak pula yang terus memasyarakat (<em>nirlaba</em>, <em>kinerja</em>), atau mulai merangkak tumbuh (<em>linarut</em>, <em>liragar</em>).</p>
<p>Sebagai pengguna bahasa dan pencinta buku, kita perlu menyimak perkembangan ini agar kosakata kita juga terus bertambah. Tetapi, biasanya, kita enggan kaya kosakata, tidak seperti kaya harta. <strong>Kita bukannya membuka kamus bila menemukan kata Indonesia &#8220;baru&#8221;, melainkan menggerutu. Sungguh berbeda dengan sikap kita saat menjumpai kata asing yang tidak kita kenal – dengan senang hati kita mencarinya dalam kamus.</strong> Mudah-mudahan sikap menganaktirikan bahasa sendiri seperti ini tidak dianut pembaca Berita Buku, yang dapat dipastikan pencinta buku, sekaligus pencinta bahasa nasional. Mudah-mudahan pula Anda berpendapat Wisata Kata kali ini laikbaca, tidak membingungkan. Dirgahayu Republik Indonesia tercinta!</p>
<p><em>Tulisan Sofia Mansoor. Dimuat di Majalah Berita Buku, Agustus 1996 dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/dirgahayu-republik-indonesia-bahasa-menunjukkan-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Borneo, The Shy Di, dan Pancasila</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/07/borneo-the-shy-di-dan-pancasila/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/07/borneo-the-shy-di-dan-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 15:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai penerjemah, bagaimana Anda menerjemahkan kalimat berikut ini? &#8220;Borneo Island is shared by three countries &#8230;&#8221; Apakah Anda akan tetap menuliskan &#8220;Borneo&#8221; atau menggantinya menjadi &#8220;Kalimantan&#8221;? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin berbeda jika Anda seorang Indonesia atau bukan, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain. Namun, apakah kewarganegaraan seseorang dibenarkan mempengaruhi hasil terjemahan?
Pertanyaan demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai penerjemah, bagaimana Anda menerjemahkan kalimat berikut ini? &#8220;<em>Borneo Island is shared by three countries &#8230;</em>&#8221; Apakah Anda akan tetap menuliskan &#8220;Borneo&#8221; atau menggantinya menjadi &#8220;Kalimantan&#8221;? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin berbeda jika Anda seorang Indonesia atau bukan, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain. Namun, apakah kewarganegaraan seseorang dibenarkan mempengaruhi hasil terjemahan?</p>
<p>Pertanyaan demikian muncul dalam pertemuan para penerjemah dari seluruh dunia di Melbourne pada Februari 1996. Rosemary Glaser dari Leipzig University mengupas penerjemahan nama diri dan nama jenis ini. Pokok bahasannya yang tampak &#8220;sepele&#8221; dibandingkan dengan makalah lain yang mengupas mesin penerjemah, Internet, CD-ROM, maupun berbagai pangkalan data, ternyata berhasil mengundang banyak peminat. Acara tanya jawab berubah menjadi ajang diskusi yang menarik karena setiap peserta tampaknya pernah menghadapi masalah serupa.</p>
<p><span id="more-66"></span></p>
<p><strong><em>The Shy Di</em></strong></p>
<p>Pada tahun 1981, sebuah nama tiba-tiba mencuat di Inggris, dan terus menjadi berita di seluruh dunia sampai sekarang, juga setelah tuntasnya proses perceraian sang empunya nama. Lady Di memang wanita yang paling sering ditulis media massa, melebihi artis Hollywood macam Sharon Stone ataupun politikus hebat macam Margaret Thatcher. Di Indonesia, terjemahan namanya yang paling sering digunakan adalah &#8220;Putri Diana&#8221;. Sementara itu, julukan &#8220;The Shy Di&#8221; yang terasa manis berirama, sulit diterjemahkan &#8212; bagaimana kalau &#8220;Diana si Pemalu&#8221;? Kepuitisan sajak ai-ai sama sekali tidak tercermin dalam terjemahan itu.</p>
<p>Selain &#8220;The Shy Di&#8221;, nama para tokoh dunia pun ternyata sering diterjemahkan, dan terjemahannya berlain-lainan menurut kebiasaan setempat. Nama &#8220;Pope John Paul&#8221; tidak dikenal masyarakat Indonesia karena &#8220;diterjemahkan&#8221; menjadi &#8220;Paus Johanes Paulus&#8221;. Nama raja Inggris seperti &#8220;Henry&#8221;, &#8220;Charles&#8221;, &#8220;James&#8221;, dan &#8220;George&#8221; di-indonesia-Kan tanpa berubah, padahal orang Jerman menyebut mereka &#8220;Heinrich&#8221;, &#8220;Karl&#8221;, &#8220;Jakob&#8221;, dan &#8220;Georg&#8221;. Mengapa nama paus kita ubah, sementara nama raja tidak?</p>
<p><strong>Menteri vs Sekretaris</strong></p>
<p>Nama jabatan merupakan salah satu yang sulit diterjemahkan. Tidak selalu mudah mencarikan padanan yang tepat untuk &#8220;executive officer&#8221;, &#8220;general manager&#8221;, &#8220;managing director&#8221;, &#8220;superintendent&#8221;, dan juga &#8220;commissioning editor&#8221;. Penerjemah yang belum banyak makan asam-garam mungkin menerjemahkan &#8220;Secretary of State&#8221; sebagai &#8220;Sekretaris Negara&#8221;, apalagi karena jabatan yang terakhir ini ada di Indonesia; padahal di Amerika Serikat, ini adalah jabatan yang di negara kita disebut &#8220;Menteri Luar Negeri&#8221;. Saya sendiri pernah salah menerjemahkan &#8220;Speaker of the House&#8221; menjadi &#8220;Juru Bicara Parlemen&#8221;, padahal lebih tepat&#8221; Ketua Parlemen&#8221;, karena &#8220;speaker&#8221; di situ berarti pejabat yang mengepalai suatu lembaga.</p>
<p>Nama gelar di perguruan tinggi juga menimbulkan debat –  diterjemahkan atau tidak. Bagaimana menerjemahkan &#8220;Associate Professor&#8221;, &#8220;Assistant Professor&#8221;, &#8220;Adjunct Professor&#8221;, &#8220;Professional Fellow&#8221;, &#8220;Senior Principal Scientific Officer&#8221;, dan aneka nama gelar lainnya? Nama jabatan ini sering muncul mengiringi nama pengarang buku ajar dan cukup memusingkan para penerjemah.</p>
<p><strong>Kalimantan atau Borneo?</strong></p>
<p>Jika penerjemahnya orang Indonesia, besar kemungkinan &#8220;Borneo&#8221; diterjemahkan menjadi &#8220;Kalimantan&#8221;, apalagi jika terjemahan itu diperuntukkan bagi pembaca Indonesia. Tetapi, apakah ini tidak mengubah pesan si penulis naskah aslinya? Pertanyaan sejenis muncul dari seorang Argentina yang mempermasalahkan nama &#8220;Malvinas&#8221; yang di Inggris disebut &#8220;Falkland&#8221;. Orang Inggris mempertahankan pendapatnya bahwa &#8220;Falkland&#8221;-lah yang harus digunakan karena nama itu &#8220;lebih mendunia&#8221;. Namun, sekiranya dia berada di lingkungan negara-negara nonblok, pendapatnya itu besar kemungkinan ditertawakan. Tampaknya, hal ini paling baik diselesaikan melalui kompromi dengan pengarang aslinya, karena bagaimana pun, seorang penerjemah &#8220;hanya&#8221; bertugas mengalihkan pesan yang ditulis si pengarang asli; pandangan politiknya seharusnya tidak ikut ambil bagian.</p>
<p>Penerjemahan nama kota dan negara tidak kalah rumitnya. Bagaimana menuliskan nama negara Corry Aquino? &#8220;Filipina&#8221;, &#8220;Philippina&#8221;, atau &#8220;Pilipina&#8221;? Kalau kita mengacu kepada bahasa Inggris, pilihannya &#8220;Philippina&#8221;, atau &#8220;Filipina&#8221; jika menganut EYD; tetapi, bila kita mengutamakan negara yang punya nama, pilihannya &#8220;Pilipina&#8221; karena begitulah nama negara itu dituliskan dalam bahasa Tagalog. Bagaimana pula kita menuliskan nama ibukota negara &#8220;Meksiko &#8220;– &#8221; &#8220;dibiarkan Inggrisnya,&#8221; Mexico City&#8221;, atau diterjemahkan menjadi &#8220;Kota Meksiko&#8221;? (Perhatikan penyesuaian huruf &#8220;x&#8221; dan &#8220;c&#8221; menjadi &#8220;ks&#8221; dan &#8220;k&#8221;). Jika &#8220;Kota Meksiko&#8221; yang dipilih, bagaimana nasib &#8220;New Delhi&#8221; dan &#8220;New York&#8221;?</p>
<p>Ketika menerjemahkan sebuah tulisan mengenai &#8220;Departemen Pertanian Inggris&#8221;, pemberi kerja mempertanyakan mengapa nama negaranya, &#8220;United Kingdom&#8221;, diterjemahkan menjadi &#8220;Inggris&#8221;. Dia bertanya, bukankah &#8220;Inggris&#8221; adalah terjemahan &#8220;England&#8221;? Terpaksalah dijelaskan bahwa negaranya itu disebut &#8220;Inggris&#8221; di Indonesia, sementara nama negara bagian (?) &#8220;England&#8221; jarang dijumpai; dan sekiranya pun dijumpai, mungkin tetap dibiarkan &#8220;England&#8221;. Atau &#8220;Englandia&#8221;? Bukankah &#8220;Scotland&#8221; kita padankan dengan &#8220;Skotlandia&#8221; dan &#8220;Ireland&#8221; menjadi &#8220;Irlandia&#8221;? Saya jelaskan bahwa sangatlah tidak lazim memadankan nama negaranya itu dengan &#8220;Inggris Raya&#8221; (terjemahan &#8220;Great Britain&#8221;) atau &#8220;Kerajaan Inggris&#8221; (terjemahan &#8220;United Kingdom&#8221;). Apalagi dalam bahan yang diterjemahkan itu ada &#8220;UK ducks&#8221;; apakah harus diterjemahkan menjadi &#8220;bebek Kerajaan Inggris?&#8221; Jangan-jangan dikira bebek peliharaan Ratu Elizabeth di Istana Buckingham! Akhirnya, si pemberi kerja setuju UK diterjemahkan menjadi &#8220;Inggris&#8221; karena memang terjemahan itu ditujukan untuk orang Indonesia.</p>
<p><strong>PBB atau UN?</strong></p>
<p>Nama lembaga juga sering menjadi masalah, terutama nama lembaga terkenal di dunia. Kita sudah terbiasa menuliskan singkatan &#8220;PBB&#8221; untuk &#8220;Perserikatan Bangsa-Bangsa&#8221;, tetapi tetap menggunakan &#8220;WHO, FAO, ILO, Unesco&#8221;, dsb. untuk nama beberapa lembaga di bawah naungannya. Mengapa? Selanjutnya, ada yang menerjemahkan &#8220;Club of Rome&#8221; menjadi &#8220;Klub Roma&#8221;. Jadi, apakah &#8220;l&#8217;Academie Francaise&#8221; akan diterjemahkan menjadi &#8220;Akademi Prancis&#8221;, padahal kata &#8220;akademi&#8221; menyandang makna tertentu dalam khazanah bahasa Indonesia, yang tidak sesuai dengan makna yang dikandung &#8220;l&#8217;Academie Francaise&#8221;?</p>
<p>Selain nama jabatan yang telah dikemukakan di atas, nama universitas pun menjadi persoalan dalam penerjemahan buku perguruan tinggi karena sering muncul sebagai identitas tambahan si pengarang. Bagaimana nama lembaga harus ditangani? Yang paling aman adalah membiarkan nama itu seperti aslinya; kita tidak perlu bingung memilih antara &#8220;Sekolah Tinggi Kedokteran&#8221; atau &#8220;Fakultas Kedokteran&#8221; untuk menerjemahkan &#8220;School of Medicine&#8221;. Apalagi kalau nama negara bagian menjadi bagian dari nama universitas, misalnya &#8220;North Carolina State University&#8221;, yang berbeda dengan &#8220;University of North Carolina&#8221;. Selanjutnya, bagaimana pula menerjemahkan &#8220;Trinity College&#8221; di Cambridge, Inggris? Apakah menjadi &#8220;Kolese Trinitas&#8221;? Terdengar sangat janggal bukan? Sama janggalnya jika singkatan &#8220;ITB&#8221; yang sudah begitu terkenal di Indonesia diubah menjadi &#8220;BIT&#8221; (&#8220;Bandung Institute of Technology&#8221;), atau &#8220;MIT&#8221; (&#8221; Massachusetts&#8221; &#8220;Institute of Technology&#8221;) menjadi &#8220;Institut Teknologi Massachusetts&#8221; dan disingkat &#8220;ITM&#8221;. Jangan-jangan malah keliru dengan ITM di Malaysia, milik &#8220;Institut Teknologi Mara&#8221;.</p>
<p><strong>Pancasila</strong></p>
<p>Penerjemahan nama dokumen juga bisa dipermasalahkan. Setahu saya, nama &#8220;Pancasila&#8221; tidak pernah diterjemahkan menjadi &#8220;Five Principles&#8221; saja, tetapi biasanya ditulis cukup panjang menjadi &#8220;the five principles of Pancasila&#8221;. Tetapi, mengapa&#8221; Piagam Jakarta&#8221; diterjemahkan menjadi &#8220;Jakarta Charter&#8221;? Belakangan ini kita cenderung semakin jarang mengindonesiakan nama dokumen; kita semakin terbiasa menggunakan singkatan seperti &#8220;GATT &#8220;dan&#8221; NAFTA&#8221;, kependekan dari &#8220;General Agreement on Tariffs and Trade&#8221; dan &#8220;North American Free Trade Agreement&#8221;. Tampaknya era globalisasi sudah merasuk begitu dalam sehingga tidak lagi dipandang praktis meng-Indonesia-kan semua dokumen, apalagi yang bersifat internasional.</p>
<p><strong>Balsam Peruvian</strong></p>
<p>Ketika masih mahasiswa di Jurusan Farmasi ITB, saya belajar tentang &#8220;balsam Peruvian&#8221;. Sebagai mahasiswa yang belum banyak tahu, saya mengira memang begitulah nama bahan farmasi tersebut. Setelah pengetahuan saya meluas, barulah saya tahu bahwa yang dimaksud adalah &#8220;balsam Peru&#8221;. Kaidah bahasa Inggris memang menyebabkan nama &#8220;Peru&#8221; berubah menjadi &#8220;Peruvian&#8221; jika nama itu berfungsi sebagai kata sifat. Sama seperti &#8220;Indonesian language&#8221; sebagai padanan &#8220;bahasa Indonesia&#8221;. Bahkan para penerbit mancanegara sering mengira nama bahasa kita adalah &#8220;Bahasa&#8221;! Saya sering menerima surat izin penerjemahan ke dalam Bahasa, padahal maksudnya tentulah ke dalam bahasa Indonesia!</p>
<p>Bagaimana pula dengan nama ilmuwan yang dikaitkan dengan kaidah, hukum, atau aturan? Ada penerjemah yang menuliskan &#8220;Hukum Newtonian&#8221;, padahal nama ilmuwan penemu hukum tersebut adalah &#8220;Newton&#8221;. Dalam buku matematika berbahasa Indonesia ditemukan &#8220;koordinat Cartesius, koordinat Cartesian&#8221;, dan &#8220;koordinat Cartesis&#8221;, padahal ketiganya sama. Ada yang mengusulkan agar koordinat itu dinamakan &#8220;koordinat Descartes&#8221; saja, sesuai dengan nama penemunya yang orang Prancis. Tetapi, usul tersebut tidak pernah bersambut. Ini semua menunjukkan bahwa penerjemahan nama diri memang harus ditangani dengan lebih baik sehingga kesimpangsiuran bisa dicegah, atau sekurang-kurangnya dibatasi.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Penerjemahan nama diri ternyata tidak sesederhana seperti yang diduga orang. Setiap negara sepatutnya menentukan aturan yang dapat dijadikan pegangan oleh para penerjemah. Akankah kita &#8220;mengekor&#8221; saja nama Inggris seperti WHO, ILO, dan Unesco, ataukah semua itu akan kita ganti, seperti singkatan PBB yang kita gunakan sebagai padanan UN? Nama negara dan nama kota pun perlu dicarikan aturannya sehingga tidak timbul pertanyaan mengapa ada &#8220;Selandia Baru&#8221; di samping &#8220;New York&#8221; dan &#8220;New Delhi&#8221;; mengapa ada &#8220;Universitas Wina&#8221; di samping &#8220;Trinity College&#8221;; mengapa ada &#8220;Laut Merah&#8221; dan &#8220;Laut Mati&#8221; di samping &#8220;Pegunungan Rocky&#8221;, dan seterusnya &#8230;.</p>
<p><em>Tulisan ini diilhami makalah Rosemary Glaser, Leipzig University, yang disampaikan pada Kongres ke-14 FIT, Melbourne, 12-16 Februari 1996</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/07/borneo-the-shy-di-dan-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
