Katakanlah dengan bunga. Demikian kata pepatah, yang di masa lalu pernah dipermasalahkan sebagian orang di beberapa kota besar Indonesia. Kala itu ada anjuran agar ucapan selamat tidak lagi disampaikan dengan mengirim karangan bunga, melainkan dengan cara lain, biasanya sumbangan berupa uang. Cara ini dianggap lebih bermanfaat karena bukankah bunga kiriman pada akhirnya dibuang dan menjadi sampah? Tetapi, tentu saja mereka yang mencari nafkah dengan mengandalkan bunga menjadi uring-uringan. Rezeki mereka terpangkas oleh kebijakan yang dilatarbelakangi oleh niat mengurangi sampah itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, sampah bunga yang bersifat organik ini sangat mudah hancur, dan dipastikan tidak mencemari lingkungan. Marilah pembaca, kita berjalan-jalan di taman bunga khayal dan membalik-balik kisah di balik beberapa nama bunga dan tanaman.

Read the rest of this entry

Apakah Anda termasuk orang yang berkeberatan menggolongkan permainan catur sebagai olahraga? Mengapa? Apakah karena Anda berpendapat bahwa catur lebih tepat disebut olahotak, bukan olahraga, karena otaklah yang lebih berperan dalam permainan tersebut?

Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Jagoan catur kita, Utut Adianto, pastilah tahu benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.

Read the rest of this entry

Sexy

“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy.

Read the rest of this entry

Foto: months.ca

Selamat tahun baru 2010. Tahukah Anda bahwa di masa lalu tidak ada bulan Januari yang selalu kita sambut sebagai awal tahun baru? Bangsa Romawi merayakan tahun barunya pada tanggal 1 Maret! Bagaimana bisa begitu? Dan sejak kapan awal tahun baru berganti menjadi Januari? Wisata Kata di awal tahun ini membawa Anda menerawang ke masa lalu dan membuka kembali lembaran sejarah di balik nama-nama bulan.

Read the rest of this entry

Dalam acara kuiz yang ditampilkan sebuah TV swasta kita, para peserta kuiz tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang menyangkut asal-usul sebuah kata. Pertanyaannya kira-kira begini: “Apa nama makanan yang sekarang digemari anak muda kota besar, yang berasal dari nama orang? Makanan itu berupa dua iris roti berisi daging dan sayur.” Dengan beragak-agak, salah seorang peserta menjawab hamburger, dan peserta lainnya dengan tidak yakin menjawab pizza. Ternyata kedua jawaban itu salah. Ah … seandainya saja kita sudah mulai berwisata kata bersama Berita Buku, dan mereka ikut bersama kita, tentu hadiah kuiz yang jumlahnya lumayan itu bisa masuk kantong mereka. Anda mau tahu jawabnya? Memang bukan hamburger atau pizza, meskipun kedua makanan tersebut juga digemari remaja kota. Yang benar adalah … sandwich!

Read the rest of this entry

I am going today” (Saya akan pergi hari ini) dan “I am going to die” (Saya akan mati) terdengar mirip bila seorang Australia “totok” yang mengucapkannya. Demikian canda orang untuk mengungkapkan keunikan lafal Inggris orang Australia. Seorang teman yang pernah menuntut ilmu di negeri kanguru itu mengatakan bahwa dia membutuhkan waktu sedikitnya dua bulan untuk bisa benar-benar memahami ucapan orang Australia. Lennie Johanson, pengarang buku Australian Slang, mula-mula merasa heran mengapa penutur bahasa Inggris dari negara lain mengalami kesulitan memahami pembicaraan orang Australia. Barulah setelah mengkajinya lebih dalam, ia menyadari bahwa ternyata cukup banyak kata atau ungkapan Australia yang berbeda artinya dengan yang dipahami oleh penutur bahasa Inggris lain. Mungkin sama dengan yang pernah kita bicarakan dalam Wisata Kata ketika membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia.

Read the rest of this entry

Seorang teman menceritakan keheranan putri remajanya ketika membaca kata menu sebagai judul daftar makanan di sebuah restoran.

“Pa, kok daftar makanan disebut menu sih? Ikut-ikutan istilah komputer ya?”

Mula-mula si Papa bingung karena ia berpendapat bahwa logika anaknya terbalik – sebab, bukankah kata menu dalam bidang komputerlah yang justru meniru kata menu yang berarti daftar makanan di restoran? Tapi, dia segera sadar bahwa putrinya itu, sebagaimana mungkin banyak remaja lainnya, memang lebih dahulu mengenal kata menu dari dunia komputer, bukan dari dunia restoran.

Read the rest of this entry

Itulah yang sering dikatakan oleh para ahli nutrisi. Tentu saja pernyataan itu dapat membingungkan orang kebanyakan, sebab yang mereka tahu, serat adalah bahan berbentuk mirip benang, seperti yang terdapat pada batang pohon pisang. Serat yang dimaksud oleh ahli nutrisi sebenanya adalah istilah serapan dari bahasa Inggris fiber yang salah satu padanannya di dalam kamus memang serat. Dari kamus yang bagus dapat ditemukan lebih dari lima makna fiber, yang salah satunya, seperti yang dimaksud ahli nutrisi tersebut, adalah sari zat tumbuhan yang berkhasiat melancarkan pencernaan. Tanpa peduli adanya multi makna itu, ahli nutrisi langsung saja mencomot makna nomor satu, serat, karena tak dapat menemukan atau “mencipta” istilah lain yang tepat.

Read the rest of this entry

Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan kosakata kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: “Bahasa menunjukkan bangsa“.

Read the rest of this entry

, , , , , , , , , ,

Sebagai penerjemah, bagaimana Anda menerjemahkan kalimat berikut ini? “Borneo Island is shared by three countries …” Apakah Anda akan tetap menuliskan “Borneo” atau menggantinya menjadi “Kalimantan”? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin berbeda jika Anda seorang Indonesia atau bukan, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain. Namun, apakah kewarganegaraan seseorang dibenarkan mempengaruhi hasil terjemahan?

Pertanyaan demikian muncul dalam pertemuan para penerjemah dari seluruh dunia di Melbourne pada Februari 1996. Rosemary Glaser dari Leipzig University mengupas penerjemahan nama diri dan nama jenis ini. Pokok bahasannya yang tampak “sepele” dibandingkan dengan makalah lain yang mengupas mesin penerjemah, Internet, CD-ROM, maupun berbagai pangkalan data, ternyata berhasil mengundang banyak peminat. Acara tanya jawab berubah menjadi ajang diskusi yang menarik karena setiap peserta tampaknya pernah menghadapi masalah serupa.

Read the rest of this entry