Ing kalangan para penerjemah wis suwe ana pasemon mitos sing kira-kira ngene unine: “Jarwan (terjemahan) sing becik lan ideal iku jarwan sing setya lan endah nyengsemake”. Banjur ana sing ngumpamaake mitos iku karo sipate pacar: “Sipate jarwan iku kaya dene pacar, pacar sing ayu rupane biasane ora setya, lan sing setya biasane ora ayu”. Sing dikarepake jarwan sing setya yaiku sing wujud (bentuk linguistik), isi (makna), lan ancase (tujuan) ora mlenceng seka tulisan asline. Dene jarwan sing endah nyengsemake iku sing basane becik, surasane apik, lan paramasastra sarta pandungkapane luwes lan layak (idiomatis).

Di kalangan para penerjemah sudah lama ada perumpamaan mitos yang kira-kira demikian bunyinya: “Terjemahan yang bagus dan ideal itu penerjemahan yang setia dan indah menarik hati.” Selanjutnya ada yang mengumpamakan mitos tersebut dengan sifat pacar: “Sifat terjemahan itu dapat diumpamakan pacar; pacar yang cantik wajahnya biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.” Yang dimaksud terjemahan yang setia adalah terjemahan yang wujud (bentuk linguistik), isi (makna) dan tujuannya tidak mlenceng dari tulisan aslinya. Sedangkan terjemahan yang indah menarik hati itu bahasanya indah, bunyinya bagus, dan nilai sastra serta pengungkapannya luwes dan idiomatis.

Read the rest of this entry

Dalam sebuah novel, kadang-kadang kita menemukan nursery rhymes, atau puisi-puisi yang disisipkan pengarang agar karangannya menjadi lebih hidup. Meskipun hanya tempelan, tentu saja lagu-lagu dan puisi tersebut tetap harus kita terjemahkan, karena merupakan bagian tak terpisahkan dari novel tersebut.

Read the rest of this entry

Untuk bisa menerjemahkan novel dengan baik, yang lebih dulu harus dikuasi adalah cara-cara menerjemahkan buku dengan baik, antara lain: 1) menguasai bahasa sumber, 2) menguasai bahasa sasaran, 3) menguasai materi yang diterjemahkan, 4) akrab dengan segala jenis kamus, 5) mudah dan terbiasa melihat “gambaran keseluruhan” buku, serta 6) membaca sebanyak-banyaknya buku lain yang setipe.

Setelah mampu menerjemahkan buku (umum) dengan baik, seorang penerjemah novel harus membekali diri dengan keterampilan menulis yang prima. Menerjemahkan novel bisa dikatakan “setengah mengarang.” Lebih dari penerjemah buku biasa, penerjemah novel harus pandai mengolah kata-kata agar pembaca bisa terhanyut menikmati novel yang dibacanya. Biasanya, bahasa yang digunakan pengarang novel itu khas, berbeda antara satu pengarang dan pengarang lainnya. Penerjemah novel harus bisa mengikuti gaya bahasa pengarang asli. Dengan begitu barulah pembaca bisa menangkap keunikan dari karya tersebut.

Read the rest of this entry