<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; Penerjemahan</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/category/penerjemahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lokalisasi dan Penerjemah</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[lokalisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Lokalisasi (localization) akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Rosetta_Stone.JPG"><img class="   " title="Batu Rosetta" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/23/Rosetta_Stone.JPG/150px-Rosetta_Stone.JPG" alt="" width="150" /></a><p class="wp-caption-text">Batu Rosetta, lambang alat bantu penerjemah.</p></div>
<p>Lokalisasi (<em>localization) </em>akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup  sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin  populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui  dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam  proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada  kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat  yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan  terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya,  tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan  bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana  peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.</p>
<p><span id="more-720"></span>Dalam <em><a href="http://www.lisa.org/Primers.600.0.html">The Globalization  Industry Primer</a></em>, LISA, <em><a href="http://www.lisa.org/">Localization  Industry Standards Association</a></em>, mendefinisikan lokalisasi  (<em>localization</em>) sebagai proses mengubah produk atau layanan untuk dapat  memenuhi kebutuhan yang berbeda di pasar yang berbeda (Arle, 2007:11). Definisi  ini menunjukkan bahwa proses lokalisasi tidak melulu tentang penerjemahan; namun  juga tentang beberapa faktor lainnya yang juga sama pentingnya dengan  penerjemahan. Tidak seperti penerjemahan pada umumnya yang mengubah teks dalam  sebuah bahasa ke bahasa yang lain; proses lokalisasi mengubah sebuah produk atau  layanan keseluruhan yang ditujukan untuk sebuah pasar menjadi produk atau  layanan yang dapat terima untuk pasar yang lain. Dalam terbitan yang sama,  disebutkan bahwa lokalisasi selain mencakup masalah linguistik juga mencakup  masalah fisik, masalah bisnis dan budaya, dan masalah teknis.</p>
<p>Lokalisasi sebuah produk telepon seluler, misalnya, kurang lebih akan melalui  tahapan-tahapan sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Perusahaan produsen telepon seluler menghubungi perusahaan lokalisasi untuk  melokalkan produk telepon selulernya.</li>
<li>Perusahaan lokalisasi membentuk tim untuk menangani proyek tersebut. Tim ini  akan menyiapkan sumber daya dan mengkoordinir proyek lokalisasi secara  keseluruhan.</li>
<li>Tim menerima produk telepon seluler dari perusahaan produsen telepon seluler  beserta kemasan, pedoman penggunaan, atau dokumentasi lainnya, termasuk catatan  mengenai penyesuaian-penyesuaian fisik yang telah atau akan dilakukan pada  produk tersebut.</li>
<li>Sumber daya teknis tim tersebut mengekstrak semua teks yang akan  diterjemahkan, baik  dari perangkat telepon seluler tersebut maupun dari  dokumentasi lainnya.</li>
<li>Sumber daya penerjemahan melakukan proses penerjemahan, termasuk  penyuntingan, pada teks tersebut dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan  teknis tertentu, dan catatan khusus dari perusahaan klien terkait dengan aspek  bisnis dan budaya pasar yang dituju.</li>
<li>Teknisi menerima hasil terjemahan dan mengembalikan hasil terjemahan ke  dalam bentuk    asalnya, baik dalam perangkat telepon seluler maupun dalam  dokumentasi lainnya.</li>
<li>Penerjemah menerima produk telepon seluler dan dokumentasinya dalam bentuk  akhir untuk diujicoba dan diperiksa apakah ada kesalahan dalam penerjemahannya.</li>
<li>Teknisi melakukan uji coba dan pemeriksaan secara fungsional untuk  memastikan produk telah siap digunakan dalam bentuk akhirnya.</li>
<li>Perusahaan klien menerima hasil lokalisasi yang berupa produk telepon  seluler dalam bahasa yang diinginkan dan telah disesuaikan dengan pasar yang  dituju, bebas dari kesalahan fungsional.</li>
</ol>
<p>Contoh proses lokalisasi di atas dapat memberikan gambaran ringkas bahwa  proses lokalisasi tidak hanya melibatkan penerjemahan saja. Proses lokalisasi  melibatkan banyak orang dari bidang profesi yang berbeda. Sebaliknya,  penerjemahan merupakan bagian dari proses lokalisasi secara keseluruhan.  Penerjemahan dalam proses lokalisasi sendiri tidak banyak berbeda dengan  penerjemahan pada umumnya: &#8220;mengganti bahan teks dalam bahasa sumber dengan  bahan teks yang sepadan dalam bahasa sasaran&#8221; (Catford dalam Machali,  2009:25).</p>
<p>Terlepas dari kenyataan ini, banyak pendapat yang berusaha membedakan  penerjemahan dalam proses lokalisasi dari penerjemahan pada umumnya.  Penerjemahan pada proses lokalisasi bahkan sering dikatakan dapat menghasilkan  terjemahan yang lebih baik. Beberapa contoh pendapat yang sering dikemukakan  misalnya (1) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi bukan sekadar menerjemahkan  biasa, tapi lebih ke pelokalan, menyesuaikan isi ke sistem linguistik dan budaya  wilayah yang menjadi tujuan lokalisasi; (2) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi  tidak menerjemahkan secara harfiah teks bahasa sumber tapi disesuaikan dengan  pasar sasaran atau pengguna sasaran; serta (3) bahwa penerjemahan dalam  lokalisasi tidak memindahkan mentah-mentah suatu konsep dalam budaya bahasa  sumber ke bahasa target; dan sebagainya.</p>
<p>Dari beberapa pendapat tersebut, menarik untuk dicatat bahwa semua yang  disebutkan sebagai pembeda penerjemahan dalam proses lokalisasi dari  penerjemahan pada umumnya sebenarnya juga sudah tercakup dalam pembahasan studi  penerjemahan sejak puluhan tahun yang lalu. Contoh yang pertama misalnya dalam  studi penerjemahan dikenal sebagai <em>strategi domestikasi</em>. Dalam strategi  ini, penerjemahan dilakukan dengan gaya yang transparan, lancar, &#8220;tembus  pandang&#8221; untuk meminimalisir kenampakan unsur-unsur asing dari teks sumber dalam  teks sasaran (Munday, 2001:146). Strategi ini sendiri sudah digunakan semenjak  zaman Romawi Kuno (Baker, 2001:241). Contoh yang kedua, yang berbicara tentang  menyesuaikan terjemahan dengan pasar atau pengguna sasaran, erat sekali  hubungannya dengan <em>teori Skopos</em> dalam studi penerjemahan. Teori ini  merupakan salah satu pendekatan dalam penerjemahan yang dikembangkan di Jerman  pada tahun 1970-an. Teori ini memandang bahwa proses penerjemahan, seperti  kegiatan manusia lainnya, memiliki tujuan tertentu.  Tujuan inilah yang  menentukan jalannya proses penerjemahan, bukan teks sumber (Baker, 2001:235).  Contoh pendapat yang ketiga pada paragraf di atas dalam konteks studi  penerjemahan akan mengacu pada konsep <em>ekuivalensi dinamis</em>. Penerjemahan  ekuivalensi dinamis bertujuan untuk mencapai kealamiahan ekspresi yang utuh dan  mencoba untuk mengaitkan pembaca dengan sesuatu yang relevan dengan konteks  budayanya sendiri (Hatim, 2005:167).</p>
<p>Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan penerjemahan dalam proses lokalisasi lebih baik daripada penerjemahan pada umumnya tidaklah tepat karena sejatinya keduanya adalah sama. Hingga saat ini, belum ada ciri khusus penerjemahan dalam proses lokalisasi yang dapat secara nyata menjadi pembeda, baik dalam hal kualitas hasil atau pun metode, dari penerjemahan pada umumnya. Pendapat tersebut kemungkinan muncul karena kurangnya pengetahuan teoritis penerjemah terkait dengan studi penerjemahan.</p>
<blockquote><p><em>Penerjemah harusnya lebih dapat memanfaatkan berbagai teori penerjemahan yang telah ada dalam bahasan studi penerjemahan saat terlibat dalam proses lokalisasi.</em></p></blockquote>
<p>Dengan berbekal hasil penelitian dalam studi penerjemahan yang telah berlangsung sangat lama, penerjemah juga dapat menawarkan perspektif atau pertimbangan-pertimbangan yang biasanya tidak ditemukan dalam proses lokalisasi (Pym, 2004:5).</p>
<blockquote><p><em>Namun demikian, sebaliknya, tidak dapat dimungkiri, dengan adanya  faktor-faktor lain yang terlibat dalam lokalisasi (faktor teknis, fisik, bisnis,  dan budaya), praktik penerjemahan dalam proses lokalisasi pasti juga terpengaruh  oleh proses lokalisasi secara keseluruhan.</em></p></blockquote>
<p>Keterbatasan ruang dalam penerjemahan  teks perangkat lunak, misalnya, akan memaksa penerjemah untuk membatasi panjang  terjemahannya dengan memilih kata-kata bahasa sasaran yang lebih pendek. Dalam  memilih istilah yang akan digunakan dalam terjemahannya, penerjemah juga akan  mempertimbangkan faktor bisnis. Penggunaan kata dalam bahasa sasaran yang kurang  populer mungkin terpaksa akan dihindari karena akan menurunkan tingkat  keterbacaan dan penerimaan pengguna terhadap produk yang dilokalkan tersebut.  Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, penerjemah tidak lagi hanya  mempertimbangkan aspek-aspek linguistik dan penerjemahan saja.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Lokalisasi melibatkan banyak tahapan proses. Penerjemahan sendiri adalah  salah satu tahapan di dalamnya. Dalam kaitannya dengan peran penerjemah dalam  lokalisasi, kerja penerjemahan dalam lokalisasi tidak banyak berbeda dengan  penerjemahan secara umum. Penerjemah dapat, dan memang sudah seharusnya,  memanfaatkan teori-teori penerjemahan yang telah ada saat terlibat dalam proses  lokalisasi. Hanya saja, mengingat adanya faktor-faktor teknis non-penerjemahan  yang terlibat,  praktik penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah dalam proses  lokalisasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Pada akhirnya nanti,  atau bahkan telah dan sedang terjadi, proses lokalisasi akan turut membentuk  teori-teori penerjemahan baru yang dapat mengembangkan studi penerjemahan secara  umum.</p>
<h3><strong>Da</strong><strong>f</strong><strong>tar Pustaka</strong></h3>
<ul>
<li>Baker, Mona. 2001. <em>Routledge Encyclopedia of Translation Studies</em>. New  York: Routledge.</li>
<li>Hatim, Basil., dan Munday, Jeremy. 2005. <em>Translation: An Advanced  Resource Book</em>. New York: Routledge.</li>
<li>Lommel, Arle. 2007. <em><a href="http://www.lisa.org/Primers.600.0.html">The  Globalization Industry Primer</a></em>.</li>
<li>Machali, Rochayah. 2009. <em>Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi  Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional</em>. Bandung: Kaifa.</li>
<li>Munday, Jeremy. 2001. <em>Introducing Translation Studies: Theories and  Applications</em>. New York: Routledge.</li>
<li>Pym, Anthony. 2004<em>. <a href="http://www.elda.org/en/proj/scalla/SCALLA2004/Pymv2.pdf">Localization from  the Perspective of Translation Studies: Overlaps in the Digital Divide?</a></em> (Paper presented to the SCALLA conference, Kathmandu).</li>
</ul>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com/">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Back Translation</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 22:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717</guid>
		<description><![CDATA["Back translation" adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan "Terjemahan balik." Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Back translation</em>&#8221; adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang  mungkin tepat untuk dipadankan dengan &#8220;Terjemahan balik.&#8221; Istilah ini bermakna  menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa  B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat  berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk  memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh  penulisnya.</p>
<p><span id="more-717"></span>Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang  belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya,  tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan  semacam itu saya namakan &#8220;terjemahan instan.&#8221;</p>
<p>Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin  jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.</p>
<p>Contohnya, kalimat sederhana seperti</p>
<blockquote><p><strong>DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.</strong></p></blockquote>
<p>dengan serta-merta, secara &#8220;instan,&#8221; cenderung langsung saja diterjemahkan  menjadi</p>
<blockquote><p><strong>DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.</strong></p></blockquote>
<p>Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut  dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan  yang berbeda, misalnya:</p>
<blockquote><p><strong>David loves his wife, and me too.</strong></p></blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p>0. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<p>1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<p>2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.</p>
<p>3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<p>4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga  mencintai isteri Peter.</p>
<p>5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<p>6. dst … dst…</p>
<h3><strong>Proses Terjemahan Balik</strong></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian  diterjemahkan <strong>balik</strong> oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris.  Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima  terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan  lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari  konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula. <ins datetime="2010-04-06T20:59" cite="mailto:Microsoft"></ins></p>
<p>0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and me too.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>b. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and David (also) loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and David loves me too.</strong></p></blockquote>
<p>2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I (also) love mine.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, I love mine too.</strong></p></blockquote>
<p>3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I also love David’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and I love David’s wife too.</strong></p>
<p><strong>c. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, David also loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, he loves me too. </strong></p></blockquote>
<p>6.A.. dst … dst…</p>
<h3><strong>Lessons Learnt</strong></h3>
<ol>
<li>Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita  tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus &#8220;curiga&#8221; kalau  menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks  materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita  terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa &#8220;populer&#8221; atau  bahasa &#8220;gaul.&#8221;</li>
<li>Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat,  mintalah tolong kepada rekan lain untuk <strong>menerjemahkan</strong> <strong>balik</strong> terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada  bertanya tentang &#8220;arti&#8221; atau maksud kalimat aslinya.</li>
<li>Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki  kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik)  kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita  yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini  kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga  merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan  (<em>readability</em>) tulisan kita.</li>
<li>Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang  mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya  (<em>translatability</em>). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah  menghasilkan karya yang berprinsip &#8220;terjemahan berdasar makna,&#8221;  (<em>meaning-based</em> <em>translation</em>) alih-alih &#8220;berdasar bentuk.&#8221;  (<em>form-based translation</em>).</li>
<li>Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur  <em>back translation </em>dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan  &#8220;gaya selingkung&#8221; produknya. <em> </em></li>
</ol>
<p><em>Malang, 7 April 2010. Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kualitas Terjemahan Melalui Evaluasi Mandiri</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 09:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien. Karenanya, penerjemah lepas perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.

Bagaimanakah langkah-langkah untuk melakukan evaluasi mandiri ini? Baca uraian lebih lanjut dari Ade Indarta di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien.</p>
<p>Padahal sering kali klien sendiri tidak bisa langsung menilai hasil terjemahan saat menerimanya. Ini terutama jika klien Anda adalah perusahaan luar negeri yang tidak mengerti bahasa yang kita terjemahkan. Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Karena itu, ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan. Mereka akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Kalau Anda mempunyai klien yang tidak pernah mengeluhkan kualitas terjemahan Anda dan tiba-tiba saja berhenti mengirimkan pekerjaan ke Anda, bisa jadi ini pertanda ada masalah dengan kualitas terjemahan Anda.</p>
<p><span id="more-678"></span>Untuk menghindari masalah seperti itu, sebagai penerjemah lepas, kita perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.</p>
<p>Ada enam langkah yang dapat Anda lakukan untuk melaksanakan evaluasi mandiri, yaitu:</p>
<ol>
<li>menentukan kualitas terjemahan,</li>
<li>menentukan pengevaluasi,</li>
<li>memverifikasi hasil evaluasi,</li>
<li>mengenali kelemahan,</li>
<li>menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan, serta</li>
<li>melakukan evaluasi secara berkala,</li>
</ol>
<p>Berikut ini akan dijabarkan masing-masing langkah evaluasi tersebut.</p>
<h3>1. Menentukan Kualitas Terjemahan</h3>
<p><strong>A. Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Untuk bisa meningkatkan kualitas terjemahan kita, pertama-tama kita perlu menentukan terlebih dahulu apa yang kita anggap sebagai terjemahan berkualitas. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengukur peningkatan kualitas terjemahan kita.</p>
<p>Kualitas terjemahan dapat kita jabarkan ke beberapa kategori yang bisa kita jadikan acuan. Kategori ini bisa Anda buat sendiri atau mengacu pada model yang sudah ada. Jika Anda mengacu pada model Penjaminan Mutu dari <a href="http://www.lisa.org/">LISA</a> misalnya, beberapa kategori yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas antara lain Keakuratan, Terminologi, Bahasa, Gaya, Aturan Negara, Konsistensi, dsb. Dengan kategori ini, kita dapat memilah-milah kesalahan terjemahan pada terjemahan kita agar lebih mudah mengevaluasinya. Berdasarkan kategori di atas, nantinya kita dapat membuat tabel sederhana seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Keakuratan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Konsistensi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Terminologi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bahasa</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>“Not many” diterjemahkan sebagai “Sedikit sekali”</td>
<td></td>
<td></td>
<td>Awalan di- dipisah pada kata “di cari”</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>“Anda” ditulis dengan huruf kecil (“anda”)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 1. Kategori Kualitas Terjemahan</em></p>
<p><strong>B. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Perlu diingat bahwa jenis terjemahan yang berbeda biasanya juga akan mempengaruhi bobot kategori kualitas yang ada. Misalnya, untuk terjemahan karya fiksi, kesalahan dalam hal penggunaan bahasa target dan gaya bahasa mungkin akan jauh lebih mempengaruhi kualitas daripada kesalahan pada konsistensi dan keakuratan. Sebaliknya, pada terjemahan manual elektronik misalnya, kesalahan pada konsistensi dan terminologi akan berpengaruh lebih besar pada kualitas daripada kesalahan pada gaya dan aturan bahasa.</p>
<p>Untuk memfasilitasi adanya perbedaan seperti ini, kita perlu memberikan bobot untuk masing-masing kategori yang disesuaikan dengan kebutuhan kita akan terjemahan yang berkualitas. Jika Anda ingin mengukur kualitas terjemahan novel yang Anda kerjakan, berilah bobot 2 untuk gaya dan bahasa misalnya. Dengan demikian, setiap kali ada kesalahan yang ditemukan untuk kategori ini, jumlahnya akan dikalikan dua sementara kesalahan pada kategori yang lain nilainya hanya 1. Jika Anda sudah melengkapi tabel di atas, Anda bisa memasukkan jumlah kesalahan yang ada ke dalam tabel seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Kategori</strong></td>
<td width="25%"><strong>Kesalahan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bobot</strong></td>
<td width="25%"><strong>Total</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Bahasa</strong></td>
<td>1</td>
<td>2</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Terminologi</strong></td>
<td>0</td>
<td>1</td>
<td>0</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Keakuratan</strong></td>
<td>1</td>
<td>1</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Gaya</strong></td>
<td>4</td>
<td>2</td>
<td>8</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Jumlah</strong></td>
<td>6</td>
<td>-</td>
<td>10</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 2. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</em></p>
<p><strong>C. Standar Kualitas Terjemahan</strong></p>
<p>Ingat bahwa jumlah kesalahan wajarnya akan dipengaruhi oleh besarnya terjemahan yang Anda evaluasi. Semakin besar teks yang Anda evaluasi semakin besar kemungkinan ditemukannya lebih banyak kesalahan. Oleh karena itu, jumlah total dalam tabel di atas akan tidak dapat dibandingkan jika besar teks yang Anda evaluasi berbeda.</p>
<p>Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat menyamakan besar teks yang Anda evaluasi, misalnya 500 kata. Jadi setiap kali Anda akan melakukan evaluasi, teks harus Anda potong terlebih dahulu agar besarnya sesuai dengan standar yang Anda tentukan, 500 kata. Cara lain yang dapat dilakukan, dan yang lebih mudah, adalah dengan menghitung nilai untuk setiap sekian kata. Misal jika Anda ingin mengetahui nilai Anda dalam setiap 500 kata yang terjemahkan dari teks yang besarnya 1250 kata, dari tabel di atas Anda dapat menghitungnya seperti berikut:</p>
<p style="text-align: center;">Nilai per 500 kata = (Total Kesalahan x 500) / Jumlah kata</p>
<p style="text-align: center;">= (10 x 500) / 2500 = 4</p>
<p>Dengan menggunakan nilai yang sudah Anda hitung seperti di atas, Anda dapat menentukan berapa standar yang ingin Anda gunakan untuk menilai kualitas terjemahan Anda. Ingat, semakin besar nilai Anda, itu berarti semakin banyak kesalahan yang Anda lakukan. Semakin baik terjemahan, nilainya akan semakin mendekati nol.</p>
<h3>2. Menentukan pengevaluasi</h3>
<p>Untuk menjaga keobjektifan evaluasi, kita memerlukan bantuan pihak kedua untuk mengevaluasi terjemahan kita. Pengevaluasi ini bisa merupakan teman penerjemah Anda yang bersedia membantu, atau pun penerjemah lain yang bisa Anda bayar untuk melakukan evaluasi. Menentukan penerjemah yang akan mengevaluasi kita biasanya tidak mudah. Ke depannya, penilaian kualitas terjemahan kita akan bergantung pada pengevaluasi ini. Karena itu, kita perlu mencari penerjemah yang tepat untuk mengevaluasi hasil terjemahan kita.</p>
<p>Dengan menggunakan sistem evaluasi yang telah kita buat untuk diri kita, kita bisa melakukan evaluasi pada penerjemah yang akan mengevaluasi kita tersebut. Dengan standar yang telah kita tetapkan, jika penerjemah lolos evaluasi tersebut kita dapat menggunakannya untuk mengevaluasi terjemahan kita. Setelah itu, Anda bisa mengirimkan hasil terjemahan Anda ke penerjemah tersebut untuk dievaluasi &#8212; pastikan terjemahan yang Anda pilih untuk dievaluasi tersebut tidak terikat oleh perjanjian kerahasiaan dengan klien.</p>
<h3>3. Memverifikasi hasil evaluasi</h3>
<p>Setelah terjemahan Anda selesai dievaluasi dan Anda menerima hasil evaluasi, kita perlu melakukan verifikasi atas hasil tersebut. Verifikasi perlu dilakukan agar hasil evaluasi benar-benar valid sesuai dengan yang Anda harapkan dan pengevaluasi telah melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan sistem yang telah kita buat.</p>
<p>Verifikasi ini tidak dimaksudkan agar kita dapat membohongi diri sendiri dengan mencari pembenaran untuk kesalahan valid yang telah ditemukan pengevaluasi. Oleh karena itu, kita harus berusaha seobjektif mungkin dalam melakukan verifikasi. Dalam proses ini, yang harus Anda lakukan adalah menganalisis setiap kesalahan dan kategori yang telah ditemukan. Ada kalanya pengevaluasi akan keliru dalam menetapkan kategori pada kesalahan terjemahan Anda. Dengan cara ini, pengukuran kualitas terjemahan Anda akan lebih akurat.</p>
<p>Sering juga pengevaluasi akan bersikap subjektif dan mencatat perbedaan gaya sebagai kesalahan terjemahan. Misalnya saja, Anda lebih memilih menggunakan kata “bisa” sedang menurut penerjemah tersebut kata “dapat” dirasa lebih tepat. Dengan mempertimbangkan konteksnya, sering kali perbedaan gaya seperti ini tidak cukup kuat argumennya untuk dipertimbangkan sebagai kesalahan terjemahan. Oleh karena itu, Anda perlu menyingkirkan kesalahan-kesalahan seperti ini dalam hasil evaluasi.</p>
<h3>4. Mengenali kelemahan</h3>
<p>Setelah tabel <em>Kategori Kesalahan Terjemahan</em> Anda dilengkapi dengan kesalahan-kesalahan yang ditemukan oleh pengevaluasi dan telah Anda verifikasi, Anda dapat melanjutkan dengan melakukan penghitungan pada tabel Bobot Kategori Kualitas terjemahan. Setelah selesai, Anda akan mendapatkan total nilai Anda untuk evaluasi tersebut. Berdasarkan standar kualitas yang telah Anda tetapkan, Anda dapat mengetahui apakah terjemahan yang kirim untuk evaluasi tersebut memiliki kualitas yang Anda harapkan atau tidak.</p>
<p>Selanjutnya, Anda dapat menganalisis lebih jauh wilayah kekurangan atau kelebihan Anda dengan melihat kesalahan yang ada berdasarkan kategorinya. Anda mungkin baru menyadari bahwa Anda sering kali melakukan kesalahan pengetikan; Anda mungkin tidak pernah tahu bahwa selama ini Anda selalu tidak sengaja menambahkan arti baru ke sebuah kalimat dan sebagainya. Semakin Anda melakukan evaluasi ini, Anda mungkin akan semakin melihat banyak kesalahan yang secara logika mungkin tidak akan mungkin Anda lakukan. Semakin dalam Anda melakukan analisis, semakin banyak kelemahan yang dapat Anda simpulkan dari kualitas terjemahan Anda.</p>
<h3>5. Menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan</h3>
<p>Meskipun tentu saja tidak ada strategi mutlak yang bisa untuk mengatasi suatu masalah, Anda paling tidak dapat merancang strategi yang sesuai dengan kelemahan yang telah Anda temukan dan peningkatan kualitas yang Anda harapkan. Misal, ternyata Anda baru menyadari bahwa Anda lemah di kategori bahasa. Anda dapat merancang proses terjemahan Anda agar lebih menekankan pada deteksi kesalahan pada kategori ini.</p>
<p>Umpamanya Anda sering melakukan kesalahan ketik. Mungkin Anda bisa menambahkan langkah pemeriksaan ejaan dengan perangkat lunak pemeriksa ejaan setelah Anda selesai menerjemahkan dan menyunting agar apabila ada kesalahan ketik yang terlewatkan pada tahap pemeriksaan Anda, Anda masih dapat menangkapnya sebelum diserahkan ke klien. Jika kelemahan Anda adalah gaya terjemahan Anda sangat kaku dan tingkat keterbacaannya rendah, Anda bisa mulai menambahkan waktu tunggu 1 hari ke dalam proses terjemahan Anda. Ini agar Anda mempunyai waktu tambahan untuk memisahkan diri dari terjemahan Anda dan dapat membacanya secara objektif untuk melakukan perbaikan jika perlu.</p>
<h3>6. Melakukan evaluasi secara berkala</h3>
<p>Untuk mengetahui peningkatan (atau penurunan) kualitas terjemahan kita, kita perlu melakukan evaluasi terjemahan secara berkala. Dengan cara ini, kita bisa terus mengetahui kualitas terjemahan kita. Anda bisa merancang waktunya sesuai dengan kebutuhan Anda dan pekerjaan Anda. Misalkan Anda hanya menerima pekerjaan terjemahan misalnya satu bulan sekali, tentunya secara finansial tidak akan sehat jika Anda harus melakukan evaluasi ini setiap bulan, 6-12 bulan sekali mungkin cukup. Sebaliknya jika Anda setiap hari menerjemahkan puluhan halaman, mungkin melakukan evaluasi setiap 3 bulan sekali pun tidak lah mencukupi. Anda bisa membuat sebuah tabel sederhana untuk memonitor hasil evaluasi Anda seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="20%"><strong>Tanggal</strong></td>
<td width="20%"><strong>Pengevaluasi </strong></td>
<td width="20%"><strong>Nama berkas</strong></td>
<td width="20%"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="20%"><strong>Catatan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 3. Hasil Evaluasi Berkala</em></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, biasanya sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan dan akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Karena itu, tidak adanya keluhan dari klien seharusnya tidak dijadikan ukuran bahwa kualitas terjemahan kita sudah sempurna. Sebagai penerjemah lepas kita perlu mawas diri dan menciptakan sistem evaluasi kualitas sendiri untuk dapat terus memonitor dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Metode yang dipaparkan di atas hendaknya tidak dilihat sebagai panduan lengkap untuk melakukan evaluasi terjemahan mandiri; melainkan sebagai inspirasi dan awalan untuk menciptakan sistem evaluasi kualitas terjemahan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing penerjemah lepas.</p>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akan Terbit: Tersesat Membawa Nikmat Versi Braille</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 07:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mila Kartina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Januari 2010 ini, moderator milis Bahtera (diwakili oleh Sofia Mansoor serta Maria E. Sundah) dan Yayasan Mitra Netra (YMN) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama  penerbitan buku Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat (TMN) dalam versi Braille.  Kerja sama penerbitan TMN dalam format Braille ini adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh 45 orang penulis TMN, termasuk pendiri dan anggota tim moderator milis Bahtera, kepada Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang diselenggarakan oleh YMN.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Januari 2010 ini, moderator milis Bahtera (diwakili oleh Sofia Mansoor serta Maria E. Sundah) dan Yayasan Mitra Netra (YMN) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama  penerbitan buku <a href="http://bahtera.org/blog/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/">Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat</a> (TMN) dalam versi Braille.  Kerja sama penerbitan TMN dalam format Braille ini adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh 45 orang penulis TMN, termasuk pendiri dan anggota tim moderator milis Bahtera, kepada Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang diselenggarakan oleh YMN.</p>
<p><span id="more-660"></span>Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat (TMN), buku perdana milis Bahtera yang mengupas seluk-beluk dunia penerjemahan dan kejurubahasaan di Indonesia ini diterbitkan untuk menyambut ulang tahun ke-12 Bahtera pada tahun 2009, di samping sebagai upaya untuk memperkenalkan profesi penerjemah dan dunia penerjemahan yang tampaknya belum begitu populer di Indonesia. Dalam buku ini, 45 orang Bahterawan &#8212; sebutan “resmi” anggota milis Bahtera &#8212; menceritakan aneka pengalaman pribadi dan profesional mereka yang begitu unik sebagai penerjemah dan jurubahasa dalam 61 tulisan dengan bahasa yang ringan dan lugas.</p>
<p>Gerakan Seribu Buku Tunanetra merupakan salah satu program yang dicanangkan YMN sejak tanggal 30 Januari 2006 dan terus berlangsung hingga kini dengan semakin banyak pengarang, penerbit, maupun relawan dari kalangan masyarakat yang berpartisipasi.</p>
<p>Dalam proses konversi buku biasa menjadi buku Braille, pengarang atau penerbit meminjamkan soft file dari buku yang mereka terbitkan kepada YMN. Sementara itu, masyarakat luas yang berminat menjadi relawan membantu proses ini dengan cara mengetik ulang isi buku pada file MS Word dan mengirimkan file MS Word tersebut ke YMN. Selanjutnya, semua file buku, baik dari penerbit, penulis, maupun relawan, diolah menjadi file berformat Braille oleh YMN dengan menggunakan perangkat lunak Mitranetra Braille Converter (MBC), untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. Agar buku tersebut dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia, YMN kemudian mendistribusikannya melalui layanan perpustakaan Braille online yang dikelolanya, <a href="http://www.kebi.or.id/" target="_blank">www.kebi.or.id</a> (KEBI singkatan dari Komunitas E-Braille Indonesia), yang beranggotakan para produser buku Braille di Indonesia.</p>
<p>Penerbitan buku TMN versi Braille diharapkan dapat membawa angin segar bagi hubungan kerja sama jangka panjang yang saling mendukung antara milis Bahtera dan Yayasan Mitra Netra, antara lain mengingat profesi penerjemah dan juru bahasa adalah profesi yang memungkinkan untuk dijalani oleh tunanetra. Beberapa tunanetra yang berprofesi sebagai penerjemah dan juru bahasa antara lain adalah DR. Didi Tarsidi, Ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia), dan Ir. Nyantoso Sukirno seorang penerjemah bersumpah. Mudah-mudahan TMN versi Braille dapat membantu memberi masukan kepada generasi muda tunanetra yang ingin menjalani profesi sebagai penerjemah atau juru bahasa.</p>
<p>Jakarta, 23 Januari 2010<br />
Mila Kartina Kamil<br />
(salah seorang kontributor buku TMN, relawan pembaca buku bicara untuk tunanetra di YMN)</p>
<p><strong>Tentang Milis Bahtera</strong></p>
<p><a href="http://bahtera.org">Bahtera</a> (BAHasa dan TERjemahan indonesiA) adalah milis untuk para penerjemah Indonesia yang didirikan pada 3 Juli 1997 oleh Bashir Basalamah, Wiwit Margawiati, dan Sofia Mansoor. Saat ini Bahtera beranggotakan lebih dari 2.000 orang yang berasal dari sejumlah kota besar dan kecil di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Selain itu, ada juga anggota yang berdomisili di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.</p>
<p><strong>Tentang Yayasan Mitra Netra (YMN)</strong></p>
<p><a href="http://www.mitranetra.or.id/">Yayasan Mitra Netra</a> adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan tunanetra yang didirikan di Jakarta pada tanggal 14 Mei 1991. YMN sebagai sebuah organisasi nirlaba yang memusatkan kegiatannya pada peningkatan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja adalah satu dari sangat sedikit &#8220;penerbit&#8221; buku untuk tunanetra di negeri ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seluk beluk dunia penerjemahan di Prancis</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/seluk-beluk-dunia-penerjemahan-di-prancis/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/seluk-beluk-dunia-penerjemahan-di-prancis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 17:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mimi Bonnetto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[perancis]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[“Jadi penerjemah itu gampang”, “Kalau bisa bicara dua bahasa, pasti bisa menerjemahkan”, “Tidak perlu ilmu untuk menerjemahkan”, “Penerjemahan itu cuma sampingan”... ucapan-ucapan ini pasti sudah sering sekali kita dengar. Tak perlu lagi saya jelaskan bahwa anggapan ini tidak benar, dan kita terus-menerus bergelut dengan anggapan seperti ini sepanjang profesi kita, karena berdasarkan anggapan yang salah dan kurangnya penghargaan atas pekerjaan kita, tarif penerjemahan pun ditekan serendah mungkin oleh penerima jasa atau klien. Akibatnya, para penerjemah yang memilih profesi ini sebagai pekerjaan utama mereka seringnya terpaksa menerima penerjemahan jenis apa saja, bekerja secara serabutan demi mendapat gaji yang layak setiap bulannya. Kondisi seperti ini tentunya mempengaruhi kualitas terjemahan itu sendiri.

Di negara-negara maju, Prancis khususnya, penerjemah adalah profesi yang terhormat dan dihargai masyarakat dan pemerintah, bahkan disetarakan dengan pengacara, dokter, notaris, maupun ahli bedah, dalam status “profession libérale”. Sampai saat ini, hak-hak dan kondisi kerja penerjemah secara permanen selalu diperjuangkan dan ditingkatkan oleh himpunan-himpunan atau asosiasi-asosiasi penerjemah seperti SFT (Société Française des Traducteurs), ATLF (Association des Traducteurs Litteraires de France), ATAA (Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels), dan sebagainya. Kondisi ini secara otomatis memicu rasa kesadaran profesionalisme dan kualitas kerja para penerjemah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="background-color: #ffffff;">“<em>Jadi penerjemah itu gampang</em>”, “<em>Kalau bisa bicara dua bahasa, pasti bisa menerjemahkan</em>”, “<em>Tidak perlu ilmu untuk menerjemahkan</em>”, “<em>Penerjemahan itu cuma sampingan</em>”&#8230; ucapan-ucapan ini pasti sudah sering sekali kita dengar. Tak perlu lagi saya jelaskan bahwa anggapan ini tidak benar, dan kita terus-menerus bergelut dengan anggapan seperti ini sepanjang profesi kita, karena berdasarkan anggapan yang salah dan kurangnya penghargaan atas pekerjaan kita, tarif penerjemahan pun ditekan serendah mungkin oleh penerima jasa atau klien. Akibatnya, para penerjemah yang memilih profesi ini sebagai pekerjaan utama mereka seringnya terpaksa menerima penerjemahan jenis apa saja, bekerja secara serabutan demi mendapat gaji yang layak setiap bulannya. Kondisi seperti ini tentunya mempengaruhi kualitas terjemahan itu sendiri.</span></p>
<p>Di negara-negara maju, Prancis khususnya, penerjemah adalah profesi yang terhormat dan dihargai masyarakat dan pemerintah, bahkan disetarakan dengan pengacara, dokter, notaris, maupun ahli bedah, dalam status “<em>profession libérale</em>”. Sampai saat ini, hak-hak dan kondisi kerja penerjemah secara permanen selalu diperjuangkan dan ditingkatkan oleh himpunan-himpunan atau asosiasi-asosiasi penerjemah seperti <a href="http://www.sft.fr/">SFT</a> (<em>Société Française des Traducteurs</em>), <a href="http://www.atlf.org/">ATLF</a> (<em>Association des Traducteurs Litteraires de France</em>), <a href="http://www.traducteurs-av.org/">ATAA</a> (<em>Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels</em>), dan sebagainya. Kondisi ini secara otomatis memicu rasa kesadaran profesionalisme dan kualitas kerja para penerjemah.</p>
<p>Berikut ini pemaparan singkat tentang situasi penerjemah di Prancis. Tarif-tarif yang dikemukakan dalam makalah ini diperoleh dari berbagai seminar penerjemahan yang saya hadiri selama beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p><span id="more-199"></span></p>
<h3>Jenis dan Status Penerjemah di Prancis</h3>
<p>Ada beberapa jenis penerjemah di Prancis yang digolongkan secara terperinci, dan status profesinya ditentukan atas jenis-jenis tersebut.</p>
<h4>Jenis Penerjemah</h4>
<p><strong>1. Penerjemah Umum</strong></p>
<p>Jenis penerjemah ini pada dasarnya menangani penerjemahan dokumen-dokumen umum, surat-surat perusahaan, panduan wisata, dan sebagainya. Tarif yang berlaku di Prancis untuk bahasa Inggris-Prancis dan sebaliknya berkisar 0,15 euro per kata.</p>
<p><strong>2. Penerjemah Spesialisasi</strong></p>
<p>Penerjemah Spesialisasi menangani satu atau beberapa jenis bidang khusus, misalnya bidang hukum, kedokteran, metalurgi, automotif, keuangan, komputer, dan lain-lain. Tarif yang berlaku untuk penerjemah spesialisasi untuk bahasa Inggris-Prancis dan sebaliknya paling rendah adalah 0,20 euro per kata.</p>
<p><strong>3. Penerjemah Karya Sastra</strong></p>
<p>Penerjemah buku atau karya sastra mempunyai hitungan tarif tersendiri, yaitu per “feuillet”, atau halaman yang telah distandarisasi berupa 25 baris yang terdiri dari 60 “signe” per baris. <em>Signe</em> adalah seluruh huruf, tanda baca, karakter, atau spasi dalam sebuah teks. Jadi satu <em>feuillet</em> kira-kira berisikan 1800 <em>signe</em>. Tarif standar per <em>feuillet</em> adalah sekitar 15 euro.</p>
<p><strong>4. Penerjemah Audiovisual</strong></p>
<p>Dalam golongan ini, tugas penerjemah terbagi lagi menjadi penerjemah <em>sous-titres</em> (teks film), <em>doublage</em> (sulih suara), voice-over (narasi) dan teks film untuk tuna rungu. Tarif yang dipraktikkan bisa berdasarkan per teks film (antara 1-3 euro), per <em>feuillet</em> (sekitar 20 euro), atau per menit (paling rendah 5-6 euro).</p>
<p><strong>5. Penerjemah Lisan</strong></p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui, tugas penerjemah lisan terpilah menjadi penerjemah konsekutif, simultan, pendamping dan pembisik. Tarif mereka minimal 50 euro per jam dan 400 euro per hari. Perlu dicatat bahwa tarif ini adalah harga standar pemberi jasa. Tukang reparasi mesin cuci atau montir mobil yang kita minta datang ke rumah sama tarifnya.</p>
<h4>Status Penerjemah</h4>
<p>Sebelum menjelaskan bagian ini, perlu saya ungkapkan bahwa di negara ini, pekerjaan apa pun, kecil maupun besar, badan usaha yang terdiri dari beberapa orang maupun satu orang harus terdaftar dalam salah satu badan pemerintahan tertentu agar pajak usahanya bisa diperhitungkan. Pajak usaha tersebut (<em>charge patronale</em>) mencakup asuransi sosial, tunjangan keluarga dan dana pensiun. Dengan membayar pajak ini, kita tidak perlu membayar biaya pengobatan, dokter dan rumah sakit lagi. Anak-anak bersekolah gratis sampai universitas, dan setiap pensiunan, di mana pun dia bekerja sebelumnya, mendapat dana pensiun sesuai dengan masa kerja dan pendapatannya.</p>
<p>Bekerja secara gelap sangat berbahaya, karena petugas pajak bisa sewaktu-waktu memeriksa surat pajak dan rekening bank kita di rumah. Bila ketahuan, penjara hukumannya.</p>
<p>Tergantung dari jenis pekerjaannya, para penerjemah mempunyai status berbeda-beda:</p>
<p><strong>1. Penerjemah sebagai pegawai</strong></p>
<p>Penerjemah bekerja untuk sebuah perusahaan atau agen penerjemahan sebagai pegawai tetap. Kerjanya di kantor, 35 jam per minggu, menerima gaji bersih per bulan, seperti halnya pegawai kantor biasa. Status penerjemah ini yang paling “tenang”, tidak pusing dengan urusan tetekbengek perusahaan. Sebagai pegawai, pajak perusahaan ditanggung oleh perusahaan yang mempekerjakannya. Penerjemah hanya membayar pajak pendapatan sebanyak 10% per tahun seperti semua orang yang bekerja.</p>
<p><strong>2. Penerjemah Lepas (<em>Profession Libérale</em>)</strong></p>
<p>Status penerjemah ini mencakup penerjemah lisan, umum dan spesialisasi. Seperti namanya, penerjemah lepas bekerja untuk berbagai penerima jasa, baik klien akhir maupun perantara (agen penerjemahan). Mereka harus terdaftar di URSSAF (<em>Union de Recouvrement des Sécurité Sociales et d’Allocations Familiales</em>), sebuah instansi yang menangani setoran asuransi sosial dan tunjangan keluarga. Penerjemah lepas wajib memiliki bendera perusahaan sendiri, yang berbentuk “<em>micro-entreprise</em>” (perusahaan kecil tanpa Pajak Pertambahan Nilai (VAT)) atau “EURL” (perusahaan kecil dengan VAT). Apapun bentuknya, pajak perusahaan yang harus dibayar penerjemah lepas minimal berkisar antara 3000-4000 euro per tahun, tergantung atas pendapatan per tahunnya, plus pajak pendapatan 10% per tahun.</p>
<p><strong>3. Penerjemah Penulis (<em>Auteur</em>)</strong></p>
<p>Penerjemah buku dan karya sastra mempunyai status yang berbeda dengan penerjemah biasa. Berdasarkan hukum pasal L.131-4 dan L.132.6 dari <em>Code de la Propriété Intellectuelle</em> (Undang-undang Pemilikan Intelektual) bahwa setiap karya tertulis dan musik yang disebarluaskan dan diperjualbelikan secara umum dilindungi oleh hak cipta, para penerjemah buku dan karya sastra disetarakan dengan penulis buku asli dan mendapat hak cipta atas setiap penjualan buku tersebut. Jadi di samping honor penerjemahan, penerjemah buku juga mendapat honor hak cipta yang dibayar dalam tiga tahap; sepertiga pada saat penandatanganan kontrak, sepertiga pada saat terjemahan selesai dan sepertiga lagi saat penerimaan (acceptation) setelah terjemahan disunting, yang jangka waktu maksimalnya telah ditentukan dalam kontrak awal. Penerjemah buku harus terdaftar di SCAM (<em>Société Civile des Auteurs Multimedia</em>). Pajak yang harus dibayar adalah 10% dari honor penerjemahan, tapi ini hanya berupa pajak pendapatan dan asuransi sosial tingkat terendah. Jika ingin mendapat pensiun, asuransi sosial yang lebih baik, dll., mereka harus menyetor lagi ke AGESSA (<em>Association des Gestion de la Sécurité Sociale des Auteurs</em>), yang tidak diwajibkan.</p>
<p><strong>4. Penerjemah Audiovisual</strong></p>
<p>Penerjemah jenis ini memiliki status yang setara dengan penerjemah penulis, namun tergantung dari karya yang mereka terjemahkan, badan yang menangani hak cipta tidak sama. Untuk penerjemahan film dokumenter dan reportase, penerjemah harus mendaftar di SCAM, sementara penerjemah film fiksi dan bonus DVD harus mendaftar di SACEM (<em>Société des Auteurs Compositeurs et Editeurs de Musique</em>) institusi sama yang menangani hak cipta lagu dan komposisi musik.</p>
<h3>Perjuangan Asosiasi Penerjemah Prancis</h3>
<p>Walaupun tampaknya kondisi kerja para penerjemah Prancis cukup baik dan terjamin bagi mata Indonesia, berbagai himpunan dan asosiasi penerjemah di Prancis terus bergerak aktif memperjuangkan hak-hak penerjemah demi meningkatkan situasi kerja yang lebih menguntungkan. Saya hanya mengenal langsung tiga asosiasi penerjemah yang bisa saya ungkapkan di sini, walaupun ada beberapa lagi lainnya. Tapi secara keseluruhan, mereka memiliki misi serupa.</p>
<p>Didirikan sejak tahun 1947, misi SFT (<em>Société Française des Traducteurs</em>) atau himpunan penerjemah Prancis adalah memberi informasi praktis, menghimpun para penerjemah, dan membela serta meningkatkan hak-hak penerjemah. Demi menjalankan misi tersebut, mereka mengadakan berbagai seminar penerjemahan tentang beragam topik, juga penataran bagi penerjemah pemula dua kali setahun tentang seluk beluk dunia penerjemahan. Asosiasi ini juga secara konstan mengadakan perundingan dengan badan-badan pemerintahan tentang peningkatan hak dana pensiun dan asuransi kesehatan, baik dalam lingkup Prancis maupun Uni Eropa. Anggotanya kini lebih dari 1000 orang, dan memiliki beberapa cabang di pelosok Prancis.</p>
<p>ATAA (<em>Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels</em>) atau asosiasi penerjemah/pengadaptasi audiovisual didirikan oleh 20 orang penerjemah teks film yang geram atas penurunan tarif yang dipaksakan sebuah laboratorium teks film demi memuaskan pemilik saham. Mereka lalu memboikot perusahaan tersebut, yang mengakibatkan tutupnya cabang perusahaan bersangkutan di Prancis. Sejak saat itu, lewat wadah asosiasi ini, para penerjemah teks film terus berupaya untuk mempersatukan para penerjemah audiovisual, membela, memperbaiki dan memperjuangkan hak-hak mereka, dan meningkatkan kesadaran umum tentang pentingnya penerjemahan audiovisual dalam segi budaya. Di samping penataran di kampus-kampus bahasa tentang profesi mereka, ATAA juga mengadakan dialog dan perundingan dengan badan-badan pelindung hak cipta, serta berdiskusi dengan beberapa asosiasi penerjemah audiovisual di negara Eropa lainnya demi menyetarakan tarif dan hak-hak mereka.</p>
<p>ATLF (<em>Association des Traducteurs Littéraires de France</em>) atau asosiasi penerjemah karya sastra didirikan pada tahun 1973 demi membela hak-hak penerjemah karya sastra dan meningkatkan kualitas penerjemahan buku dan karya sastra yang diterbitkan di Prancis. Seperti halnya asosiasi penerjemah yang lain, ATLF giat mengadakan seminar dan pertemuan antar penerjemah karya sastra, penataran di berbagai universitas sastra, pendekatan dan dialog dengan perusahaan penerbitan, serta meningkatkan dan membela hak penerjemah. Para anggota ATLF, yang kini berjumlah lebih dari 700 anggota dan mencakup sekitar 45 bahasa, bahkan mempunyai beberapa fasilitas tempat sendiri untuk menulis karya mereka. Tempat-tempat itu biasanya jauh dari keramaian kota, tenang dan memiliki pemandangan indah. Para penerjemah boleh tinggal dan bekerja di sana selama 1-3 bulan tanpa diganggu oleh kegiatan rutin sehari-hari.</p>
<p>Gigihnya para penerjemah memperjuangkan hak dan kondisi kerja mereka, bukanlah berarti mereka lalu melupakan kewajiban kerja. Setiap asosiasi penerjemah memiliki pakta integritas yang wajib ditaati demi menjaga kualitas penerjemahan. Beberapa rincian yang umum ditemukan dalam berbagai pakta asosiasi adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Penerjemah harus memiliki pengetahuan bahasa dan budaya yang mendalam atas bahasa sumber, dan wajib menguasai bahasa sasaran sesempurna bahasa ibu mereka</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Menjamin keabsahan terjemahan sebagai hasil kerja mereka sesungguhnya, bukan buatan orang lain</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Menghindari penerjemahan teks yang sudah merupakan terjemahan, bukan bahasa sumber asli (<em>traduction-relais</em>)</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Sedapat mungkin menerapkan tarif penerjemahan setara dengan yang telah diterapkan oleh anggota asosiasi lainnya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Menaati tenggat waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja, dalam hal ini, penerjemah harus menolak pekerjaan yang membutuhkan tenggat waktu terlalu singkat demi menjaga mutu penerjemahan</span></li>
</ol>
<h3>Penutup</h3>
<p>Masyarakat di Prancis amat menghargai dan mendukung profesionalisme penerjemahan, sehingga tugas penerjemah menjadi lebih terfokus, terperinci dan berkualitas. Namun pajak usaha yang dibebankan pemerintah Prancis cukup berat bagi penerjemah, karena bagaimanapun, pendapatan penerjemah tidak sama dengan pendapatan dokter, notaris, maupun pengacara, karena permintaan pasar yang tidak menentu. Mahalnya pajak usaha dan tingginya tingkat kehidupan di Prancis merupakan alasan utama tingginya tarif penerjemahan.</p>
<p>Rasa solidaritas dan persatuan penerjemah dalam wadah asosiasi demi meningkatkan situasi kerja yang lebih menguntungkan merupakan teladan yang patut ditiru dan digalakkan.</p>
<p>Penyaluran spesialisasi penerjemahan dan kesadaran penerjemah atas mutu penerjemahan, terutama dalam hal pengetahuan dan budaya bahasa sumber, serta penguasaan bahasa sasaran sesempurna bahasa ibu masih kurang tertanam dalam dunia penerjemahan di negara kita. Ini kembali lagi akibat kurangnya penghargaan masyarakat atas dunia penerjemahan. Seminar, kumpul-kumpul penerjemah, pelatihan dan penyampaian informasi terbuka bagi masyarakat awam tentang profesi penerjemah mungkin bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kepekaan masyarakat Indonesia secara global.</p>
<p><em>Mimi Larasati Bonnetto adalah penerjemah lepas di Prancis, anggota HPI dan ATAA</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/seluk-beluk-dunia-penerjemahan-di-prancis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih sing ayu apa sing setya? Pilih yang cantik atau yang setia?</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 17:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Ing kalangan para penerjemah wis suwe ana pasemon mitos sing kira-kira ngene unine: “Jarwan (terjemahan) sing becik lan ideal iku jarwan sing setya lan endah nyengsemake”. Banjur ana sing ngumpamaake mitos iku karo sipate pacar: “Sipate jarwan iku kaya dene pacar, pacar sing ayu rupane biasane ora setya, lan sing setya biasane ora ayu”. Sing dikarepake jarwan sing setya yaiku sing wujud (bentuk linguistik), isi (makna), lan ancase (tujuan) ora mlenceng seka tulisan asline. Dene jarwan sing endah nyengsemake iku sing basane becik, surasane apik, lan paramasastra sarta pandungkapane luwes lan layak (idiomatis).

-----

Di kalangan para penerjemah sudah lama ada perumpamaan mitos yang kira-kira demikian bunyinya: “Terjemahan yang bagus dan ideal itu penerjemahan yang setia dan indah menarik hati.” Selanjutnya ada yang mengumpamakan mitos tersebut dengan sifat pacar: “Sifat terjemahan itu dapat diumpamakan pacar; pacar yang cantik wajahnya biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.” Yang dimaksud terjemahan yang setia adalah terjemahan yang wujud (bentuk linguistik), isi (makna) dan tujuannya tidak mlenceng dari tulisan aslinya. Sedangkan terjemahan yang indah menarik hati itu bahasanya indah, bunyinya bagus, dan nilai sastra serta pengungkapannya luwes dan idiomatis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Ing kalangan para penerjemah wis suwe ana pasemon mitos sing kira-kira ngene unine: “Jarwan (terjemahan) sing becik lan ideal iku jarwan sing setya lan endah nyengsemake”. Banjur ana sing ngumpamaake mitos iku karo sipate pacar: “Sipate jarwan iku kaya dene pacar, pacar sing ayu rupane biasane ora setya, lan sing setya biasane ora ayu”. Sing dikarepake jarwan sing setya yaiku sing wujud (bentuk linguistik), isi (makna), lan ancase (tujuan) ora mlenceng seka tulisan asline. Dene jarwan sing endah nyengsemake iku sing basane becik, surasane apik, lan paramasastra sarta pandungkapane luwes lan layak (idiomatis).</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Di kalangan para penerjemah sudah lama ada perumpamaan mitos yang kira-kira demikian bunyinya: “Terjemahan yang bagus dan ideal itu penerjemahan yang setia dan indah menarik hati.” Selanjutnya ada yang mengumpamakan mitos tersebut dengan sifat pacar: “Sifat terjemahan itu dapat diumpamakan pacar; pacar yang cantik wajahnya biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.” Yang dimaksud terjemahan yang setia adalah terjemahan yang wujud (bentuk linguistik), isi (makna) dan tujuannya tidak mlenceng dari tulisan aslinya. Sedangkan terjemahan yang indah menarik hati itu  bahasanya indah, bunyinya bagus, dan nilai sastra serta pengungkapannya luwes dan idiomatis.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span id="more-237"></span></p>
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Bokmenawa wae mitos mengkono iku nganti seprene isih akeh dipercaya lan dianut, utamane dening para penerjemah profesional buku lan artikel ilmiah utawa iptek. Beda karo para penerjemah iptek, para penerjemah pakaryan sastra (utamane geguritan/puisi) saiki akeh sing ora pati sarujuk karo mitos ngono iku, mula surasane rada ‘diplintir’ mangkene unine “Yen kepingin oleh pacar sing ayu, goleka sing ora setya”.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Bisa jadi mitos tersebut sampai sekarang masih banyak dipercaya dan dianut, terutama oleh para penerjemah profesional buku dan artikel ilmiah atau iptek. Berbeda dengan para penerjemah iptek, para penerjemah karya sastra (terutama puisi) banyak yang tidak setuju dengan mitos tersebut, karena itu ungkapannya agak ‘diplintir’ menjadi “Jika ingin punya pacar yang cantik, carilah yang tidak setia’.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono">Sapardi Djoko Damono</a> menehi conto, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a> sing kondhang karya jarwan geguritane apik-apik banget, nanging biasane ora setya, malah kapara nyidrani (mengkhianati/nylewengi) naskah asline. Contone geguritan asli basa Inggris, Huesca, karyane John Comford sing dijarwaake Chairil Anwar menyang basa Indonesia, oleh pangalembana dening sapa wae sing maca jarwan mau. Karya jarwane Chairil Anwar iku pancen rasa seni geguritane kenthel banget, nyengsemake, lan kepenak diwaca. Andek ngono para nupiksa ing babagan geguritan akeh sing padha ngarani yen janjane mono jarwan iku mau ora setya marang isi lan wujude geguritan asline. Malah ana sing mawas yen isine ora cocok karo apa sing dikarepake panggurit asline. Kanggone Sapardi, kasus ini bukti sing nyata yen sing ‘ayu’ iku ora kudu setya, mula dheweke ora wedi, ora wigih nyidrani (istilahe Sapardi ‘mengkhianati’) tulisan asline nalika dheweke njarwaake geguritan. Malah ngaku asring sengaja mengkhianati tulisan asline supaya oleh asil sing “ayu”.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono">Sapardi Djoko Damono</a> memberi contoh, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a> yang terkenal itu karya-karya terjemahan puisinya sangat indah, tetapi biasanya tidak setia, bahkan boleh dibilang ‘mengkhianati’ naskah aslinya. Contohnya puisi asli berbahasa Inggris, <em>Huesca</em>, karya John Comford yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar ke dalam bahasa Indonesia, mendapat banyak pujian dari siapa pun yang membaca puisi terjemahan tersebut. Karya terjemahan Chairil Anwar tersebut memang rasa seni puisinya sangat kental, sangat indah, enak dibaca. Meskipun demikian, banyak kritikus puisi yang menilai bahwa sebetulnya terjemahan tersebut tidak setia terhadap isi dan bentuk puisi aslinya. Bahkan ada yang mengritik bahwa isinya tidak cocok dengan yang dimaksud oleh penulis puisi yang asli. Bagi Sapardi, kasus ini merupakan bukti nyata bahwa yang ‘cantik’ itu tidak harus setia, dengan demikian Sapardi tidak ragu-ragu mengkhianati tulisan aslinya, pada waktu dia menerjemahkan puisi. Bahkan mengaku sering sengaja mengkhianati tulisan aslinya, agar mendapat hasil yang ‘cantik’.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Kanggo nandhingake conto jarwan sing ‘ayu’ lan sing ‘setya’, ing ngisor iki ana jarwan basa Jawa loro seka sawijining geguritan asli basa Inggris. Sawise maos jarwan-jarwan iki, para pamaos bisa milih endi sing disenengi, sing ayu apa sing setya.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Untuk membandingkan contoh terjemahan yang ‘cantik’ dan yang ‘setia’, di bawah ini ada terjemahan berbahasa Jawa dari puisi asli berbahasa Inggris. Setelah membaca terjemahan ini, para pembaca dapat memilih mana yang disukai, yang cantik atau yang setia.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr style="width: 80%; text-align: center;" size="1" />
<p style="text-align: center;"><em><strong>How happy is the little stone</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>How happy is the little Stone<br />
That rambles in the Road alone,<br />
And doesn’t care about Careers<br />
And Exigencies never fears…<br />
Whose Coat of elemental Brown<br />
A passing Universe put on,<br />
And independent as the Sun<br />
Associates or glows alone,<br />
Fulfilling absolute Decree<br />
In casual simplicity<br />
(<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Emily_Dickinson">Emily Dickinson</a></em><em>, 1830-1886)</em></p>
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style: italic;" width="50%">
<p style="text-align: center;"><em><strong>Watu Klungsu</strong></em></p>
<p style="text-align: center;">Saiba senenge watu klungsu<br />
Dolan dhewekan neng tengah dalan<br />
Ora maelu sakehing gegayuhan<br />
Ora kesamaran nandhang cingkrang<br />
Nganggo jas warna soklat<br />
Paringane jagat kang mbeneri lewat<br />
Uripe merdika kaya surya<br />
Bisa bebrayan bisa suminar tanpa kanca<br />
Nyanggemi patembayan sawiji<br />
Kanthi prasaja, kanthi permati<br />
(A. Effendi Kadarisman)</td>
<td style="padding: 5px;"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: center;"><em><strong>Saiba senenge dadi kerikil</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kaya apa bungahe si watu cilik<br />
Kluyuran dhewe ing ratan gedhe<br />
Ora perduli tandang gawe<br />
Tanpa waswas bebaya teka<br />
Klambine deles soklat tuwa<br />
Sing nglambeni wong sakdonya<br />
Bisa merdika kaya srengenge<br />
Sing tanpa bala bisa murub dhewe<br />
Nglakoni dhawuhe Gusti ing jagad gedhe<br />
Kanthi sarana sing mung sepele<br />
(anonim)</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr style="width: 80%; text-align: center;" size="1" />
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Sawise maca tulisan sing asli, bokmenawa para pamaos kepingin nandhing jarwan loro mau, endi sing:</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Ayu nanging ora setya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Setya nanging ora ayu</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Ayu tur setya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Ora ayu lan ora setya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Sing ora wigatine uga nenandhing endi sing luwih “Jawa”.</span></li>
</ul>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Setelah membaca tulisan yang asli, mungkin para pembaca ingin membandingkan dua karya terjemahan tersebut, mana yang:</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Cantik tapi tidak setia</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Setia tapi tidak cantik</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Cantik dan setia</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Tidak cantik dan tidak setia</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Yang tidak kalah penting, juga silakan membandingkan mana yang lebih ‘Jawa’.</span></li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Pancen ora gampang nlesih utawa milih geguritan sing luwih becik, jalaran mestine kita duwe ukuran dhewe-dhewe sing ora padha. Apa maneh rasa seni iku bisa dirasaake nanging ora gampang diwedharake. Gegayutan karo beda ukuran iku, ana bab sing luwih angel yaiku upaya napsir isine, upaya mangerteni utawa memahami pesan sing bener, kaya sing dikarepake dening panggurit asline.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Memang tidak mudah menilai mana puisi yang lebih bagus, karena kita masing-masing memiliki ukuran masing-masing yang berbeda. Apa lagi rasa seni itu bisa dirasakan, tetapi tidak mudah diungkapkan. Sehubungan dengan beda ukuran tersebut, ada hal yang lebih sulit, yaitu menafsirkan isinya, usaha memahami pesan yang benar, seperti yang dimaksud penyair aslinya.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Nanging kita ora pati perlu kuwatir utawa susah yen kita ora bisa ngerti utawa malah ‘salah tapsir’ ngenani isine pesan geguritan terjemahane, anggere kita bisa ngrasaake kaendahan rasa seni, utawa ‘ayune’ terjemahan geguritane, senajan isine ora padha karo asline iku tandhane penerjemahe kasil anggone ‘mengkhianati’ geguritan asline. Dadi, wis ora pati perlu maneh ngupaya mangerteni makna isine.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Tetapi kita tidak perlu khawatir atau susah jika kita tidak mengerti atau bahkan salah tafsir mengenai isi pesan puisi terjemahannya, asalkan kita dapat merasakan atau menikmati rasa seni atau ‘kecantikan’ terjemahan puisi tersebut. Jika kita dapat merasakan keindahan rasa seni, atau ‘kecantikan’ terjemahan puisinya, meskipun isinya tidak sama dengan aslinya, itu artinya penerjemahannya berhasil dalam ‘mengkhianati’ puisi aslinya. Jadi, tidak terlalu perlu lagi memahami makna aslinya.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Panemu mengkono iku rasane rada aneh, nanging ya pancen ngono iku akeh-akehe cara menikmati geguritan utawa karya sastra liyane. Akeh para panjarwa pakaryan sastra sing sarujuk yen njarwa (menerjemahkan) karya sastra iku mesthi nyidrani karya asline, jalaran njarwa ngono iku padha karo nyidra budaya liya kanggo kabutuhane budaya dhewe. Contone, crita pewayangan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata">Mahabarata</a> lan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana">Ramayana</a>, sing wis dianggep budaya Indonesia iku, saknyatane jarwa seka India sing wis dicidrani (dikhianati). Apa crita pakelirane ki dhalang iku “setya’ marang asline? Wis cetha banget adoh seka asline, nanging kaendahane ora ana sing maido. Ya ngono iku contone jarwan sing ora setya nanging ayu. Mesti wae yen kita bisa ngerti lan paham isi asline iku luwih becik lan mantep, mung wae akeh geguritan jarwan sing gampang dipahami nanging rasa kaendahan seni lan wiramane geguritan ora nyengsemake. Ana sing alok, ya ngono iku gara-garane yen penerjemahe nguber kasetyan lan ora pati mersudi kaendahan.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Pendapat seperti itu rasanya agak aneh, tetapi memang demikianlah umumnya cara menikmati puisi atau karya sastra lainnya. Banyak penerjemah karya sastra yang sepakat bahwa menerjemahkan karya sastra itu mesti mengkhianati karya aslinya, karena menerjemahkan itu sama saja dengan mengkhianati budaya lain (bahasa sumber), demi kebutuhan budaya sendiri (bahasa sasaran). Contohnya, cerita pewayangan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata">Mahabarata</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana">Ramayana</a>, yang sudah dianggap budaya Indonesia itu, pada kenyataannya merupakan terjemahan dari India yang sudah dikhianati. Apakah cerita pewayangan ki dhalang itu ‘setia’ terhadap aslinya? Sudah jelas sangat jauh dari aslinya, tetapi keindahannya tidak ada yang menyangkal. Demikianlah contoh terjemahan yang tidak setia namun cantik. Tentu saja jika kita dapat mengerti dan memahami isi aslinya itu lebih bagus dan mantap, akan tetapi banyak puisi terjemahan yang mudah dipahami namun rasa keindahan seni dan irama puisi tersebut tidak memukau. Ada yang berpendapat, begitulah adanya jika penerjemahnya mengejar kesetiaan dan tidak terlalu peduli pada keindahan.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Ing babagan mitos ndhuwur iku, Sugeng Hariyanto duwe panemu sing wigati disemak. Kanggone Sugeng, tembung “setya” iku maknane setya marang kaendahan seni lan isi maknane, ora mung setya marang wujud linguistik. Yen ukuran setya iku mung tumuju marang wujud lan makna linguistik, mesthi wae menawa disemak seka wengkone mitos mau ya pancen bisa diarani ‘pengkhianatan’. Sugeng iku sawijine ahli jarwan sing mandhegani masyarakate para penerjemah ing Malang (MPM).</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Mengenai mitos tersebut di atas, Sugeng Hariyanto punya pendapat yang penting disimak. Bagi Sugeng, kata ‘setia’ tersebut maknanya setia pada keindahan seni dan isi maknanya, tidak hanya setia terhadap bentuk linguistik. Jika ukuran setia tersebut hanya tertuju pada bentuk dan makna linguistik, tentu saja jika dilihat dari sudut pandang mitos tersebut, maka memang dapat disebut ‘pengkhianatan’. Sugeng adalah penerjemah yang mengetuai masyarakat penerjemah di Malang (MPM).</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Ngracik bumbune kaendahan geguritan jarwan iku, miturut Effendi Kadarisman (pakar etnopuitika ing Universitas Negeri Malang), antarane nganggo sarana ‘ngengurip tembung’. Contone, Effendi njarwaake tembung ‘ramble’ dadi ‘dolan; ‘exigencies’ dadi ‘cingkrang’; ‘fears’ dadi ’kesamaran’. Teknik ngono iku sanepane diarani ‘ngengurip’ tembung, ‘menghidupkan kembali’ kata. Tembung ‘nguripake/menghidupkan kembali’ iku basa Inggrise to make it lively (orang mung alive), tegese nyulap tembung sing lumrah lan lugu dadi orang lumrah nanging malah suminar ngagetake (striking), sarta luwih ‘urip’. Contone tembung Inggris ‘ramble’, jarwan sing lumrah utawa lugu ‘kluyuran’, ‘nglembara’, ‘nglambrang’, ‘glandhangan’, nanging Effendi milih ‘dolan’. Tembung ‘dolan’ pancen mung ngglethek, ora lumrah katimbang jarwan utawa sinonim-sinonim liyane mau, nanging nyatane trep banget karo sipate ‘makhluk’ cilik, krikil. Bokmenawa yen milih tembung liya, ora bakal bisa luwih ‘urip’. Semono uga dheweke milih tembung ‘watu klungsu’ tinimbang ‘krikil’ utawa ‘watu cilik’. Bokmenawa wis arang banget wong Jawa sing ngerti utawa tau weruh watu klungsu, mula iku pilihan ngene iki uga klebu ‘ngenguripake’ utawa nguripake tembung sing wis ‘mati’. Bedane karo krikil biasa, watu klungsu iku dasare watu item sing atos banget, jaman biyen lumrahe watu klungsu satekem dienggo nggojagi botol supaya resik.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Untuk meracik bumbu keindahan puisi terjemahan tersebut, menurut Effendi Kadarisman (pakar etnopuitika di Universitas Negeri Malang), antara lain dengan sarana menghidupkan kata. Contohnya, Effendi menerjemahkan kara ‘<em>ramble</em>’ menjadi ‘<em>dolan</em>’, ‘<em>exigencies</em>’ menjadi ‘<em>cingkrang</em>’ (kekurangan), ‘<em>fears</em>’ menjadi ‘<em>kesamaran</em>’. Teknik semacam itu dapat diibaratkan ‘<em>menghidupkan kembali</em>’ kata.  Kata ‘<em>menghidupkan kembali</em>’ tersebut bahasa Inggrisnya <em>to make it lively</em> (tidak sekadar <em>alive</em>), artinya menyulap kata yang biasa saja dan sederhana menjadi tidak biasa, bahkan mengejutkan (<em>striking</em>), serta lebih ‘<em>hidup</em>’. Contohnya kata bahasa Inggris ‘<em>ramble</em>’, terjemahan yang lumrah atau lugu ‘<em>kluyuran</em>’, ‘<em>nglembara</em>’ (<em>mengembara</em>), ‘<em>nglambrang</em>’ (<em>wander around</em>), ‘<em>glandhangan</em>’ (<em>menggelandang</em>), namun Effendi memilih ‘<em>dolan</em>’. Kata ‘<em>dolan</em>’ (<em>bermain</em>) memang kata yang sangat sehari-hari dipakai, tidak istimewa dibandingkan dengan padanan/sinomim kata-kata yang lain tersebut, tetapi ternyata sangat pas dengan sifat ‘makhluk’ kecil, kerikil. Barangkali seandainya memilih kata yang lain tidak akan ‘sehidup’ itu. Begitu juga ketika Effendi memilih kata ‘<em>watu klungsu</em>’, dan bukan ‘<em>krikil</em>’ atau ‘<em>watu cilik</em>’ (<em>batu kecil</em>). Sangat mungkin sudah jarang orang Jawa yang tahu atau pernah melihat <em>watu klungsu</em>, karena itu pilihan tersebut juga termasuk ‘menghidupkan’ kata yang sudah ‘mati’. Bedanya dengan kerikil biasa, <em>watu klungsu</em> tersebut pada dasarnya adalah batu hitam yang sangat keras, zaman dahulu segenggam <em>watu klungsu</em> dipakai untuk membersihkan botol dengan cara memasukkannya bersama air ke dalam botol dan kemudian digoyang-goyang.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tulisan <a href="http://bahtera.org/blog/author/setyadi/">Setyadi Setyapranata</a> ini pernah dimuat di Majalah Jaya Baya No. 43, Minggu IV, Juni 2009. Diterjemahkan secara bebas oleh <a href="http://bahtera.org/blog/author/istianiprajoko/">Istiani Prajoko</a></em><em> dengan seizin penulis, untuk dimuat di blog Bahtera.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penerjemahan nursery rhymes dan puisi dalam novel</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/penerjemahan-nursery-rhymes-dan-puisi-dalam-novel/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/penerjemahan-nursery-rhymes-dan-puisi-dalam-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 14:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Istiani Prajoko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah novel, kadang-kadang kita menemukan nursery rhymes, atau puisi-puisi yang disisipkan pengarang agar karangannya menjadi lebih hidup. Meskipun hanya tempelan, tentu saja lagu-lagu dan puisi tersebut tetap harus kita terjemahkan, karena merupakan bagian tak terpisahkan dari novel tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah novel, kadang-kadang kita menemukan <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nursery_rhyme">nursery rhymes</a></em>, atau puisi-puisi yang disisipkan pengarang agar karangannya menjadi lebih hidup. Meskipun hanya tempelan, tentu saja lagu-lagu dan puisi tersebut tetap harus kita terjemahkan, karena merupakan bagian tak terpisahkan dari novel tersebut.</p>
<p><span id="more-101"></span><strong>Penerjemahan <em>nursery rhyme</em></strong></p>
<p>Definisi menurut Babylon:</p>
<blockquote><p><em>A nursery rhyme is a traditional song or poem taught to young children, originally in the nursery. Learning such verse assists in the development of vocabulary, and several examples deal with rudimentary counting skills. It also encourages children to enjoy music.</em></p></blockquote>
<p>Jadi yang penting dalam dalam <em>nursery rhyme</em> ini meliputi lagu, puisi dan musik. <em>Nursery rhyme</em> disebarluaskan secara lisan dari generasi ke generasi, untuk mengajarkan bermacam-macam pengetahuan kepada anak-anak, misalnya mengenai berhitung, mengenal warna, anggota badan, hewan, makanan, kebiasaan, negara dsb. Selain itu juga untuk bermain tebak-tebakan, dan bersenang-senang.</p>
<p>Contoh pengenalan anggota badan sekaligus gerakan:</p>
<table border="0" cellpadding="10" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="background:#EEE;" width="50%"><em><strong>Head and shoulders</strong></em></p>
<p><em>Head and shoulders, knees and toes,<br />
Knees and toes.</em></p>
<p><em>Head and shoulders knees and toes,<br />
Knees and toes.</em></p>
<p><em>Eyes and ears and mouth and nose,</em></p>
<p><em>Head and shoulders, knees and toes,<br />
Knees and toes.</em></td>
<td width="50%"><em><strong>Kepala, pundak</strong></em></p>
<p><em><strong> </strong></em><em>Kepala, pundak, lutut, kaki,<br />
Lutut kaki.</em></p>
<p><em>Kepala, pundak, lutut, kaki.<br />
Lutut kaki.</em></p>
<p><em>Daun telinga, mata, hidung dan pipi.</em></p>
<p><em>Kepala, pundak, lutut, kaki,<br />
Lutut, kaki.</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Karena tujuannya untuk mengajarkan sesuatu kepada anak-anak dalam suasana bermain, maka lirik dalam <em>nursery rhyme </em>selalu diulang-ulang, memakai kata-kata yang sederhana, iramanya pun sederhana. Dalam menerjemahkan <em>nursery rhyme</em>, ketiga hal tersebut harus selalu diingat.</p>
<p>Kiat-kiat menerjemahkan <em>nursery rhyme</em>:</p>
<p><strong>Kiat #1</strong>: Cari inti yang hendak diajarkan, kemudian ungkapkan padanannya sedekat mungkin ke dalam bahasa sasaran. Misalnya dalam pelajaran berhitung, dari satu sampai sepuluh. Jumlah suku kata mau pun bunyi angka dalam bahasa Inggris tentu berbeda dengan bahasa Indonesia. Karena itu harus dicari akal agar ‘rhyme’ kena, tetapi angkanya tetap muncul, bila perlu dengan mengubah susunan kalimat.</p>
<p><strong>Kiat #2</strong>:Untuk mengungkapkan inti, kadang-kadang sulit jika harus setia pada lirik aslinya. Untuk itu tidak jarang kita terpaksa memodifikasi lirik, bahkan mungkin menciptakan/mengajarkan sesuatu yang baru. Menurut pendapat saya, ini sah-sah saja mengingat dalam bahasa aslinya pun, sebuah lagu anak-anak tak jarang diubah liriknya karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi suatu era.</p>
<table border="0" cellpadding="10" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="background:#EEE;" width="50%"><strong><em>This Old Man</em></strong></p>
<p><em>This old man, he played one,<br />
He played knick, knack on my drum,</em></p>
<p><em>* With a knick, knack, paddy whack,<br />
Give the dog a bone;<br />
This old man came rolling home.</em></p>
<p><em>This old man he played two,<br />
He played knick, knack on my shoe…*</em></p>
<p><em>This old man he played three,<br />
He played knick, knack on my knee…*</em></p>
<p><em>This old man he played four<br />
He played knick, knack on my door…*</em></p>
<p><em>This old man he played five,<br />
He played knick, knack on my hive…*</em></p>
<p><em>This old man he played six,<br />
He played knick, knack on my sticks…*</em></p>
<p><em>This old man he played seven,<br />
He played knick, knack up in heaven…*</em></p>
<p><em>This old man he played eight,<br />
He played knick, knack on my gate…*</em></p>
<p><em>This old man he played nine,<br />
He played knick, knack on my spine…*</em></p>
<p><em>This old man he played ten,<br />
He played knick, knack once again…*</em></td>
<td><strong><em>Pak Tua</em></strong></p>
<p><em>Pak tua, main satu,<br />
Main mainan di sikuku.</em></p>
<p><em>* Ketrak ketrik ketruk truk.<br />
Bri anjing tulang,<br />
Pak tua lari pulang.</em></p>
<p><em>Pak tua, main dua,<br />
Main mainan di telinga…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main tiga,<br />
Main mainan di kepala…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main empat,<br />
Main mainan dagu berlipat…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main lima<br />
Main mainan di jarinya…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main enam,<br />
Main mainan dengan lengan…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main tujuh,<br />
Main mainan di rambut…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main delapan,<br />
Main mainan di pinggang…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main sembilan,<br />
Main mainan di kepalan…*</em></p>
<p><em>Pak tua, main sepuluh,<br />
Main mainan di telunjuk…*</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika my drum, my shoe, my knee, my door, my hive, my sticks, in heaven, my gate, my spine diterjemahkan dengan drumku, sepatuku, lututku, pintuku, sarang lebahku, tongkatku, surga, gerbangku, tulang punggungku, sekali lagi, sudah pasti rima dan iramanya tidak akan ‘bunyi’ jika disandingkan dengan satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Karena itu pada waktu menerjemahkannya, saya mengubah konsep asli yang hanya mengajari berhitung, menjadi menghitung dan mengenal anggota badan.</p>
<p><strong>Kiat #3</strong>: Cari tahu bagaimana iramanya/lagunya, bisa dengan membeli kaset, DVD lagu anak-anak yang sesuai, atau dengan browsing di internet dsb. Banyak situs yang sangat membantu, misalnya <a href="http://www.nurseryrhymes4u.com" target="_blank">Nursery Rhymes – Lyric &amp; Origins</a>. Jika kita mengenal lagunya, tentu lebih mudah menyesuaikan liriknya dalam bahasa Indonesia. Dalam memilih kata-kata untuk nursery songs, usahakan agar jumlah suku katanya pas dengan irama sehingga dapat dinyanyikan.</p>
<p><strong>Kiat #4</strong>:Cari tahu latar belakang sejarah, diskusi, pembahasan dsb mengenai nursery rhyme yang sedang kita terjemahkan. Meskipun hanya berupa spekulasi, tidak jarang sebuah lagu/puisi anak-anak dipakai untuk menyindir atau mengritik penguasa, propaganda. Agaknya pada masa itu belum ada keterbukaan, sehingga harus meminjam lagu/puisi anak-anak untuk mengungkapkan kritik. Acuan ini tentu berguna untuk lebih memahami lagu/puisi anak-anak yang sedang kita garap tersebut, paling tidak dapat memperluas wawasan.</p>
<p>Contoh: puisi <em>Little Boy Blue</em></p>
<table border="0" cellpadding="10" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="background:#EEE;" width="50%"><em><strong>Little Boy Blue</strong></em></p>
<p><em>Little Boy Blue come blow your horn,<br />
The sheep’s in the meadow, the cow’s in the corn.<br />
But where’s the boy who looks after the sheeps?<br />
He’s under a haystack fast asleep.<br />
Will you wake him? No, not I – for if I do, he’s sure to cry.</em></td>
<td width="50%"><em><strong>Puisi Anak Gembala</strong></em></p>
<p><em>Gembala, tiup peluitmu,<br />
Kambing main di padang, sapi makan jagung di ladang itu.<br />
Mana gembala yang jaga ternak?<br />
Di bawah jerami, tertidur nyenyak.<br />
Bangunkan dia? Jangan saya.<br />
Kalau bangunkan dia, gembala ‘kan nangis duka.</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Menurut spekulasi, yang dimaksud Anak Gembala dalam puisi ini adalah Kardinal <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Wolsey">Thomas Wolsey</a> (1475-1530) yang disebut sebagai “Boy Bachelor’ setelah meraih gelar kesarjanaan dari Oxford dalam usia lima belas tahun. Pada era <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Henry_VIII_dari_Inggris">King Henry VIII</a> tersebut, dikabarkan kardinal itu kaya raya serta banyak musuhnya, mengingat ia sangat tidak sangat angkuh dan tidak populer di kalangan rakyat Inggris. Tak ada yang berani mengritiknya secara terbuka, karena sudah pasti akan dihukum.</p>
<p><strong>Kiat #5</strong>: <em>Nursery rhyme</em> ini merupakan konsumsi anak-anak, yang dunianya masih serba indah dan sarat bermain,. Karena itu unsur fun tidak boleh dilupakan. Kalimat-kalimat yang panjang-panjang dan sulit tentu akan susah dicerna anak-anak, dengan demikian pemakaian kata-kata yang sederhana sangat dianjurkan.</p>
<p>Contoh puisi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_de_La_Fontaine">La Fontaine</a>, berjudul <em>Les Deux Pigeons</em> (Sepasang Merpati), dalam memoir <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Histoire_de_ma_vie">The History of My Life</a></em> (Pengakuan Cassanova), tulisan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Giacomo_Casanova">Giacomo Cassanova</a>.</p>
<table border="0" cellpadding="10" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="background:#EEE;" width="50%"><em>Soyez-vous l’un a l’autre un monde toujours beau,</em><em>Toujours divers, toujours nouveau</em><em>Tenez-vous lieu de tout ; comptez pour rien le reste.</em></td>
<td width="50%"><em>A world of beauty ever new;</em><em>In each the other ought to see</em><em>The whole of what is good and true.</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Penggalan puisi tersebut saya temukan dalam Pengakuan Cassanova (sudah diterbitkan Serambi). Karena saya tidak menguasai bahasa Perancis, saya cari acuannya yang berbahasa Inggris di internet. Terjemahan bebasnya: <em>Dunia indah yang selalu baru/dalam diri masing-masing saling mengasihi/secara utuh mengenai yang baik dan sejati</em>.</p>
<p>Seperti kita ketahui La Fontaine adalah penyair Perancis yang menulis dongeng banyak sekali, dan hampir semuanya terkenal. Semua dongengnya diceritakan dalam bentuk puisi. Dalam memoirnya, Cassanova mengutip beberapa baris fabel tersebut, dan sewaktu menerjemahkan memoir itu mau tak mau saya harus mengalihbahasakannya juga.</p>
<p><strong>Penerjemahan puisi</strong></p>
<p>Puisi yang dimaksud di sini tentu bukan puisi-puisi kelas berat karya pujangga-pujangga atau filsuf ternama, melainkan karangan penulis novel yang kebetulan bukan penyair. Jika itu yang terjadi, pekerjaan penerjemah akan lebih ringan meskipun tidak berarti boleh asal-asalan.</p>
<p>Contoh puisi dalam novel “<em>Dewey, the Small-Town Library Cat Who Touch the World</em>”, terbitan Serambi:</p>
<table border="0" cellpadding="10" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="background:#EEE;" width="50%"><strong><em>MEMORIES OF DAD</em></strong></p>
<p><em>I had broken my engagement<br />
John and I would never marry.<br />
It was the hardest thing I’ve every done,<br />
Emotional and scary.</em></p>
<p><em>Mom was very upset,<br />
What would the neighbors say?<br />
I shut myself up in my room<br />
To cry the pain away.</em></p>
<p><em>Dad would hear my sobs;<br />
This was the solace he gave:<br />
Leaning on my doorknob, he said,<br />
“Honey, do you want to come and watch me shave?”</em></td>
<td width="50%"><strong><em>KENANGAN PADA AYAH</em></strong></p>
<p><em>Aku sudah memutuskan pertunangan<br />
John dan aku tidak akan memasuki perkawinan<br />
Ini keputusan yang paling berat bagiku,<br />
Emosional dan menyedihkan hatiku</em></p>
<p><em>Ibu sangat kecewa,<br />
Apa nanti kata tetangga?<br />
Aku menutup diri di kamarku<br />
Untuk menangis tersedu.</em></p>
<p><em>Ayah dapat mendengar isak tangisku;<br />
Beginilah penghiburan yang diberikannya:<br />
Bersandar di pintuku, dia berkata,<br />
“Sayang, kau mau melihatku mencukur jenggotku?”</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dalam puisi tersebut, terasa betapa sederhananya kalimat-kalimat yang dipakai pengarang. Penulis novel tersebut, Vicki Myron, pustakawan dan orangtua tunggal seorang remaja, menulis puisi tersebut sebagai hadiah ulang tahun ayahnya.</p>
<p>Tetapi bagaimana jika kita terpaksa bertemu dengan puisi kelas berat? Sebagian ahli berpendapat, puisi tidak dapat diterjemahkan, karena roh puisi tersebut belum tentu dapat tertangkap oleh penerjemah. Belum lagi kesulitan-kesulitan yang lain, misalnya dalam pemilihan kata yang kadang-kadang tidak umum untuk menuangkan estetika seperti yang dikehendaki pengarangnya. Yang jelas, menerjemahkan puisi jenis ini bisa terasa sangat sulit bagi sebagian besar penerjemah.</p>
<p>Contoh puisi dalam novel “<em>Call Me by Your Name</em>” (Cinta Terlarang) karangan Andre Aciman, terbitan Serambi:</p>
<p>Inferno, canto ke 15, dari Divine Comedy karangan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dante_Alighieri">Dante Alighieri</a>, yang menggambarkan perjumpaan Dante dengan mantan gurunya Brunetto Latini.</p>
<table border="0" cellpadding="10" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="background:#EEE;" width="33%"><em>E io, quando ‘l suo braccio a me distesse,<br />
ficcai’li occhi per lo cotto aspetto,<br />
si che ‘l viso abbrusciato non difese<br />
la conoscenza süa al mio ‘ntelleto;<br />
e chinando la mano a la sua faccia,<br />
rispuosi: “Siete voi qui, ser Brunetto?”</em></td>
<td width="33%"><em>Soon as he touch me, I could no more avert<br />
Mine eyes, but on his visage scorched and sered<br />
Fixed them, until beneath the mask of hurt<br />
Did the remembered lineaments appear.<br />
And to his face my hand inclining down,<br />
I answered, “Ser Brunetto, are you here?”</em></td>
<td style="background:#EEE;" width="33%"><em>Segera setelah dia menyentuhku, aku tak bisa lagi memalingkan<br />
Mataku, terus menjelajah dan membelai roman mukanya<br />
Terpaku padanya, hingga di bawah topeng derita,<br />
Ingatan berpacu ke permukaan.<br />
Dan ke wajahnya tanganku meraba<br />
Aku menjawab, “Ser Brunetto, di sinikah Anda?</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dalam Divine Comedy ini Dante berkisah mengenai perjalanannya ke alam baka setelah ia mencoba bunuh diri. Di suatu tempat yang dipakai untuk menghukum para pendosa yang merusak alam, ia bertemu dengan mantan gurunya Brunetto Latini, seperti yang diungkapkan dalam Inferno, canto ke 15 tersebut.</p>
<p>Kiat-kiat dalam persiapan menerjemahkan puisi:</p>
<ol>
<li>Membaca puisi tersebut berkali-kali hingga menangkap feel puisi tersebut, gaya bahasa, metafora, meter, dsb.</li>
<li>Melakukan riset dengan mencari acuan, pembahasan, kritik, analisa sebanyak mungkin di internet atau sumber-sumber lain.</li>
<li>Bertanya kepada sumber-sumber yang dapat diandalkan, termasuk (jika mungkin) menulis surat kepada pengarangnya.</li>
</ol>
<p>Puisi merupakan karya seni, sehingga sedapat mungkin keindahannya tetap terjaga, dan pesan serta jiwa puisi tersebut dapat dinikmati pembaca. Sebagian ahli berpendapat bahwa menerjemahkan puisi itu ibarat membuat reproduksi lukisan. Tidak persis sama, tapi sangat mirip, sedapat mungkin tetap indah.</p>
<p>Contoh puisi karangan penyair terkenal dalam novel “<em>For the Roses</em>” karangan Julie Garwood, terbitan Dastanbooks:</p>
<blockquote><p><em> No man is an island, entire of it self; every man is a piece of the continent, a part of the main; if a clod be washed away by the sea, Europe is the less, as well as if a promontory were, as well as if a manor of thy friends or of thine own were; any man’s death diminishes me, because I am involved in mankind; and therefore never send to know for whom the bell tolls; it tolls for thee.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>John Donne. Devotions upon Emergent Occasions. Meditation XVII</em></p>
</blockquote>
<p>Atau,</p>
<blockquote><p><em> Of all flowers, Methinks a rose is best.<br />
It is the very emblem of a maid;<br />
For when the west wind courts her gently,<br />
How modestly she blows, and paints the sun<br />
With her chaste blushes! When the north comes near her,<br />
Rude and Impatient, then, like chastity,<br />
She locks her beauties in her bud again,<br />
And leaves him to base briers,<br />
She is wondrous fair.<br />
…Methinks a rose is best.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>From The Two Noble Kinsmen By William Shakespeare and John Fletcher</em></p>
</blockquote>
<p><em>Oleh Istiani Prajoko. Disampaikan dalam Semiloka Nasional Penerjemahan Buku dan Novel serta Penyuntingannya, Malang 19 Juli 2009.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/penerjemahan-nursery-rhymes-dan-puisi-dalam-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menerjemahkan novel</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/menerjemahkan-novel/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/menerjemahkan-novel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 20:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmani Astuti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Untuk bisa menerjemahkan novel dengan baik, yang lebih dulu harus dikuasi adalah cara-cara menerjemahkan buku dengan baik, antara lain: 1) menguasai bahasa sumber, 2) menguasai bahasa sasaran, 3) menguasai materi yang diterjemahkan, 4) akrab dengan segala jenis kamus, 5) mudah dan terbiasa melihat “gambaran keseluruhan” buku, serta 6) membaca sebanyak-banyaknya buku lain yang setipe.
Setelah mampu menerjemahkan buku (umum) dengan baik, seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk bisa menerjemahkan novel dengan baik, yang lebih dulu harus dikuasi adalah cara-cara menerjemahkan buku dengan baik, antara lain: 1) menguasai bahasa sumber, 2) menguasai bahasa sasaran, 3) menguasai materi yang diterjemahkan, 4) akrab dengan segala jenis kamus, 5) mudah dan terbiasa melihat “gambaran keseluruhan” buku, serta 6) membaca sebanyak-banyaknya buku lain yang setipe.</p>
<p>Setelah mampu menerjemahkan buku (umum) dengan baik, seorang penerjemah novel  harus membekali diri dengan keterampilan menulis yang prima. Menerjemahkan novel bisa dikatakan “setengah mengarang.” Lebih dari penerjemah buku biasa, penerjemah novel harus pandai mengolah kata-kata agar pembaca bisa terhanyut menikmati novel yang dibacanya. Biasanya, bahasa yang digunakan pengarang novel  itu khas, berbeda antara satu pengarang dan pengarang lainnya. Penerjemah novel harus bisa mengikuti gaya bahasa pengarang asli. Dengan begitu barulah pembaca bisa menangkap keunikan dari karya tersebut.</p>
<p><span id="more-73"></span>Contohnya:</p>
<ol>
<li>Cormac McCarthy. Pengarang buku <em>No Country for Old Men</em> yang telah difilmkan dan filmnya memborong piala Oscar 2008 ini tidak menggunakan bahasa Inggris “yang baik dan benar” ketika menulis. Dengan demikian penerjemah harus bisa mengadaptasinya dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku juga, agar tercipta atmosfir seperti yang tertuang dalam novel aslinya.</li>
<li>Kochka dalam<em> The Boy Who Ate Stars</em>. Penutur dalam novel ini, Lucy, adalah seorang anak usia 12 tahun, bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seorang anak autis. Bahasa yang digunakannya sesuai dengan bahasa khas anak ABG.</li>
<li>E.L. Doctorow, misalnya dalam <em>The March</em>. Pengarang ini suka menggunakan kalimat-kalimat panjang  dengan banyak koma dan titik-koma. Meskipun membaca kalimat-kalimat semacam itu melelahkan, penerjemah harus setia mengikuti gayanya, agar nuansa yang ingin ditampilkan pengarang tetap bisa ditangkap pembaca.</li>
</ol>
<p>Dengan bekal kiat-kiat di atas, sebenarnya seorang penerjemah sudah bisa menghasilkan terjemahan novel yang baik.</p>
<p>Namun dalam praktiknya, sering timbul berbagai pertanyaan, misalnya:</p>
<ol>
<li>Menerjemahkan struktur kalimat yang panjang dan <em>mbulet</em>, bagaimana caranya? Dengan menangkap maksud kalimat tersebut, dan mengungkapkannya sesuai dengan ungkapan dalam bahasa Indonesia yang bisa menampilkan gaya mbulet dari sang pengarang. Contohnya:  E.L. Doctorow dalam <em>The March</em>.</li>
<li>Bagaimana memertahankan suspense, konflik batin, dll? Dengan resep yang sama. Pengarang pasti punya cara khas untuk menampilkan semua itu. Jadi, sebagai penerjemah kita mengikuti saja alur yang telah dibuat pengarang. Contoh: Mo Hayder dalam  <em>Tokyo (The Devil of Nanking)</em>.</li>
<li>Bagaimana menerjemahkan deskripsi yang terkait budaya dan waktu?  Perlukah memberi penjelasan? Ya, tetapi sebaiknya pada bagian yang lain, sehingga tidak mengganggu pembaca saat menikmati sebuah novel . Misalnya memberi keterangan tentang setting masa terjadinya cerita atau latar belakang sejarah suatu peristiwa. Misalnya, <em>Little Women</em> karya Louisa May Alcott atau <em>The March</em> karya E.L. Doctorow.</li>
<li>Bagaimana memertahankan atau menerjemahkan cara tutur yang khas tempat dan waktu? Misalnya cara tutur orang hitam zaman dulu (<em>The Color Purple</em>). Harus dicari cara yang tepat untuk menunjukkan bahwa seorang tokoh berasal dari strata masyarakat tertentu. Ini tantangan yang berat bagi penerjemah. Contoh lainnya: <em>No Country for Old Man</em> karya Cormac McCarthy, yang menampilkan tokoh-tokoh dari suatu wilayah dengan cara bicara yang khas di daerah itu.</li>
<li>Bagaimana menyikapi uraian atau adegan yang menurut Anda kurang sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia?  Menerjemahkan apa adanya?  Menghaluskan?  Apa pertimbangannya? Tergantung. Kalau adegan yang ditampilkan terlalu menggangu perasaan pembaca, penerjemah boleh menghaluskannya. Contohnya, <em>The Amber Room</em> karya Steve Berry. Adegan perkosaan digambarkan pengarang dengan cara yang sangat merangsang, yang sesungguhnya tidak terlalu memberikan perbedaan pada keseluruhan cerita.</li>
</ol>
<p>Berikut beberapa contoh penerjemahan novel.</p>
<p><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/No_Country_for_Old_Men"><img class="alignright" style="margin-left:5px;" title="No Country for Old Men" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/5/53/Cormac_McCarthy_NoCountryForOldMen.jpg/200px-Cormac_McCarthy_NoCountryForOldMen.jpg" alt="" width="120" height="180" /></a>No Country for Old Men</strong></p>
<blockquote><p><em>I sent one boy to the gas chamber at Huntsville. One and only one. My arrest and my testemony. I went up there and visited with him two or three times. Three times. The last time was the day of his execution. I didnt have to go but I did. I sure didnt want to. He’d killed a fourteen year old girl and I can tell you right now I never did have no great desire to visit with him let alone go to his execution but I done it. The papers said it was a crime of passion and he told me there wasnt no passion to it. He’d been dating this girl, young as she was. He was nineteen. And he told me that he had been planning to kill somebody about as long as he could rembember. Said that if they turned him out he’d do it again. Said he knew he was goin to hell. Told it to me out of his own mouth. I don’t know what to make of that. I surely dont. I thought I’ve never seen a person like that and it got me to wonderin if maybe he was some ne kind. I watched them strap him into the seat and shut the door. He might of looked a bit nervous about it but that was about all. I really believe that he knew he was goin to be in hell in fifteen minutes. I believe that. And I’ve thought about that a lot. He was not hard to talk to. Called me Sheriff. But I didnt know what to say to him. What do you say to a man that by his own admission has no soul? Why would you say anything? I’ve thought about it a good deal. But he wasn’t nothin compared to what was comin down the pike.</em></p></blockquote>
<p>Aku mengirim satu anak ke kamar gas di Huntsville. Satu dan cuma satu itu. Aku yang menangkapnya dan jadi saksinya. Aku pergi ke sana dan menengoknya dua atau tiga kali. Tiga kali. Yang terakhir itu pada hari eksekusinya. Aku tidak mesti pergi untuk meliat dia tapi tetap pergi juga. Aku yakin tidak ingin pergi. Dia sudah membunuh anak perempuan berusia empat belas taun dan aku bisa bilang sekarang kalau aku tidak pernah punya keinginan untuk nengok dia apalagi pergi untuk meliat eksekusinya tapi aku pergi juga. Koran-koran mengatakan itu kejahatan nafsu dan dia bilang padaku kalau tidak ada nafsu dalam perbuatannya itu. Dia sudah mengencani gadis ini, walau masih sangat muda. Dia sendiri berusia sembilan belas taun. Dan dia bilang padaku kalau dia sudah merencanakan untuk membunuh orang selama yang dia ingat. Katanya jika mereka mengeluarkannya dia akan membunuh lagi. Katanya dia tau dia akan masuk neraka. Dia mengatakan itu dengan mulutnya sendiri. Aku tidak tau harus bilang apa. Aku benar-benar tidak tau. Kukira aku belum pernah menemui orang seperti dia dan aku jadi bertanya-tanya apa dia itu manusia jenis baru. Aku meliat mereka mengikatnya ke kursi dan menutup pintu. Dia mungkin keliatan agak gugup tapi hanya itu saja. Aku benar-benar percaya kalau dia tau dia akan berada di neraka lima belas menit lagi. Aku percaya itu. Dan aku sudah memikirkannya berkali-kali. Dia mudah diajak bicara. Memanggilku Sherrif. Tapi aku tidak tau harus bilang apa padanya. Apa yang akan kita katakan pada orang yang mengakui dirinya tidak punya jiwa? Mengapa kita mau mengatakan apapun? Aku lama memikirkannya. Tapi dia bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang mungkin akan kutemui nanti.</p>
<p><strong>The Boy Who Ate Stars</strong></p>
<p>Namaku Lucy dan aku tinggal di Paris. Kalau sudah besar nanti, aku ingin mengajar anak-anak austistik. Aku sudah kenal satu, namanya Matthew dan dia tetanggaku. Matthew berumur empat tahun ketika dia masuk ke dalam hidupku dan, jujur saja, awal hubungan kami sulit. Sekarang aku sering menemuinya, dan setiap kali aku selalu berpikir dia itu istimewa sekali karena aku tidak pernah ketemu orang seperti dia.</p>
<p>Semuanya dimulai waktu kami pindah ke Rue Merlin nomor 11. Flat kami terletak di lantai empat, di sisi sebelah kiri. Ketika itu bulan September, umurku dua belas tahun dan aku tidak kenal siapa-siapa. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri: aku harus mengenal semua tetanggaku. Aku bahkan sudah punya rencana aksi. Begitu sekolah dimulai lagi, aku akan mendatangi semua orang dari lantai dasar sampai lantai paling atas, dan memasang bendera di kamar tidurku untuk setiap negara asal dari masing-masing tetangga kami. Ada banyak nama yang kedengarannya asing di kotak-kotak surat mereka, jadi mudah-mudahan saja aku nanti bisa membuat prestasi besar. Temaku untuk tahun ini adalah pertemuan global. Sampai aku ketemu Matthew. Ketika dia muncul begitu saja dalam hidupku, dia membuat semua rencanaku berantakan.</p>
<p><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_March_(novel)"><img class="alignright" style="margin-left:5px" title="The March" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/1/1e/TheMarchBookCover.jpg/200px-TheMarchBookCover.jpg" alt="" width="120" height="180" /></a>The March</strong></p>
<blockquote><p><em>At five in the morning someone banging on the door and shouting, her husband, John, leaping out of bed, grabbing his rifle, and Roscoe at the same time roused from the backhouse, his bare feet pounding: Mattie hurriedly pulled on her robe, the mind prepared for the alarm of war, but the heart stricken that it would finally have come, and down the stairs she flew to see through the open door in the lamplight, at the steps of the portico, the two horses, steam rising from their flanks, their heads lifting, their eyes wild, the driver a young darkie with rounded shoulders, showing stolid patience even in this, and the woman standing in her carriage no one but her aunt Leticia Pettibone, of McDonough, her elderly face drawn in anguish, her hair a straggled mess, this woman of such fine grooming, this dowager who practically ruled the season in Atlanta standing up in the equipage like some bag of doom, which indeed she would prove to be. The carriage was piled with luggage and tied bundles, and as she stood some silver fell to the ground, knives and forks and a silver candelabra, catching in the clatter the few gleams of light from the torch that Roscoe held. Mattie, still tying her robe, ran down the steps thinking stupidly, as she latter reflected, only of the embarrassment to this woman, whom to tell the truh she had respected more than loved, and picking up and pressing back upon her the heavy silver, as if this was not something Roscoe should be doing, nor her husband, John Jameson, neither.</em></p></blockquote>
<p>Pada pukul lima pagi hari seseorang menggedor pintu dan berteriak, suaminya, John, melompat dari tempat tidurnya, mengambil senapan, dan pada saat yang bersamaan Roscoe keluar dari rumah belakang, kakinya yang telanjang terdengar menghentak keras: Mattie buru-buru memakai jubah tidurnya, pikirannya bersiaga untuk menerima peringatan perang, tetapi hatinya kecut bahwa perang akhirnya datang juga, dia berlari menuruni tangga mengamati pintu yang terbuka diterangi lampu, di undak-undakan teras ada dua ekor kuda, uap menghembus dari panggul mereka, kepala terangkat, mata liar, penunggangnya seorang pemuda kulit hitam yang berbahu tegap, tetap tenang bahkan dalam keadaan seperti ini, dan seorang wanita yang ada di dalam kereta itu tak lain adalah Latitia Pettibone McDonough, wajah tuanya terlihat sedih, rambutnya terurai berantakan, wanita yang dulunya merawat dirinya dengan baik, seorang janda yang berhasil mengatasi kesulitan zaman di Atlanta dengan tegar, dan selama ini terbukti demikian. Kereta itu dipenuhi dengan banyak muatan dan bungkusan yang diikat, dan saat dia berdiri, beberapa perabot perak jatuh ke tanah, pisau dan garpu dan tempat lilin dari perak, seberkas cahaya terpancar dari perabot yang gemerincing itu oleh obor yang yang dipegang Roscoe. Mattie, masih sambil mengikatkan jubahnya, menuruni tangga sambil berpikir dengan bodohnya, seperti yang kemudian diingatnya, hanya karena rasa malu pada wanita ini, yang sejujurnya lebih dihormatinya daripada dicintainya, memungut dan mengambilkan barang-barang dari perak yang berat itu untuknya, seakan-akan hal ini tidak seharusnya dilakukan Roscoe, atau juga suaminya, John Jameson.</p>
<p><em>Disusun oleh Rahmani Astuti dan dibawakan pada acara Bahtera Goes to Malang, 19 Juli 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/menerjemahkan-novel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
