<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; Penerjemahan</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/category/penerjemahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Sep 2011 13:11:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Waktu itu berharga demi profesionalisme penerjemahan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/07/waktu-itu-berharga-demi-profesionalisme-penerjemahan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/07/waktu-itu-berharga-demi-profesionalisme-penerjemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 03:16:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harry Hermawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahtera]]></category>
		<category><![CDATA[lan Stevens]]></category>
		<category><![CDATA[menerjemahkan perlu waktu cukup]]></category>
		<category><![CDATA[milis Bahtera]]></category>
		<category><![CDATA[pelokalan]]></category>
		<category><![CDATA[penggalangan]]></category>
		<category><![CDATA[waktu untuk riset bagi penerjemah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Harry Hermawan Di milis Bahtera, Pak Alan Stevens, memaparkan kesulitannya menerjemahkan atau melokalkan satu kata: &#8220;penggalangan&#8220;. Anda bisa menyaksikan proses serta solusi ini di milis tersebut. Tapi yang ingin saya kritik bukan terhadap proses atau apapun yang terjadi di milis tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah waktu. Bagi penerjemah mendapatkan waktu yang agak longgar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh <a href="http://www.linkedin.com/in/penerjemah">Harry Hermawan</a></p>
<p>Di milis <a href="http://groups.yahoo.com/group/Bahtera/" target="_blank">Bahtera</a>, Pak <a href="http://books.google.com/books?id=cF97F--suNAC&amp;printsec=frontcover&amp;dq=inauthor:%22Alan+M.+Stevens%22&amp;hl=en&amp;ei=XuAoTsOuA8r4rQeCk5i_Bg&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=1&amp;ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&amp;q&amp;f=false" target="_blank">Alan Stevens</a>, memaparkan kesulitannya menerjemahkan atau melokalkan satu kata: &#8220;<a href="http://groups.yahoo.com/group/Bahtera/message/116436" target="_blank">penggalangan</a>&#8220;.</p>
<p>Anda bisa menyaksikan proses serta <a href="http://serbasejarah.wordpress.com/2009/06/19/penggalangan-sebagai-fungsi-intelijen-tinjauan-ilmu/" target="_blank">solusi </a>ini di milis tersebut.</p>
<p>Tapi yang ingin saya kritik bukan terhadap proses atau apapun yang terjadi di milis tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah waktu. Bagi penerjemah mendapatkan waktu yang agak longgar untuk <a href="http://www.btb.gc.ca/btb.php?lang=eng&amp;cont=697" target="_blank">riset sebuah istilah</a> atau kata adalah kemewahan. Sementara bagi klien penerjemah hal ini mungkin bukan masuk wilayah tanggung jawabnya. Setidaknya dari pengalaman saya, ada klien yang sungguh tidak dapat memahami mengapa harus berlama-lama menerjemahkan toh hanya mengganti kata bahasa target.</p>
<p>Nah, di sinilah saya ingin membangun sebuah kritik positif bagi mereka yang menggunakan jasa kita. Berikan kita kehormatan untuk berlonggar waktu untuk memberikan hasil yang terbaik selain tentunya kompensasi yang memadai. Tapi masalah kompensasi bukan isu yang ingin diangkat di sini.</p>
<p>Waktu berharga bagi penerjemah, berilah kami waktu yang mencukupi.</p>
<p>Semoga kritik membangun atau masukan positif ini kepada target pembaca cukup diterima dengan pandangan yang&#8230;&#8221;O, begitu ya&#8221;.</p>
<p>Ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/07/waktu-itu-berharga-demi-profesionalisme-penerjemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penulisan Daftar Pustaka dan Kutipan</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/06/penulisan-daftar-pustaka-dan-kutipan/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/06/penulisan-daftar-pustaka-dan-kutipan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anung Ariwibowo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[Secara garis besar, pencantuman kutipan dan daftar pustaka pada sebuah karya ilmiah bertujuan antara lain untuk menyampaikan ide-ide dari berbagai sumber dan mengomunikasikan ide yang disusun oleh penulis karya ilmiah. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran. Proses penerjemahan kutipan dan daftar pustaka dapat dilakukan selama pesan yang dikomunikasikan dalam karya ilmiah dapat diterima dengan baik oleh pembaca.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <a href="http://bahasaku.blogspot.com">Anung Ariwibowo</a></em></p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-813" title="Bibliografi" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/06/Bibliografi.jpg" alt="" width="200" height="200" />Sebuah dokumen resmi atau karya ilmiah biasanya mencantumkan kutipan untuk mendukung ide dan argumentasi yang disusun oleh penulisnya. Pencantuman kutipan diikuti juga dengan sebuah <em>daftar pustaka</em> (<em>reference</em>) dan/atau <em>bibliografi</em> pada bagian akhir dokumen. Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang mencantumkan semua dokumen yang dikutip di dalam karya ilmiah. Sedangkan bibliografi adalah daftar yang mencantumkan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Bibliografi mungkin lebih panjang daripada daftar pustaka, karena entri-entri di dalam bibliografi tidak harus dikutip di dalam tubuh tulisan karya ilmiah.</p>
<p>Pencantuman kutipan dan daftar pustaka dilakukan antara lain dengan tujuan memberikan apresiasi kepada penulis asli. Pemberian apresiasi ini menunjukkan bahwa gagasan ide tersebut dilakukan oleh penulis asli sehingga penulis dokumen terhindar dari plagiarisme karya ilmiah. Pencantuman kutipan dan daftar pustaka juga bertujuan untuk menyampaikan ide-ide yang terkait dan saling mendukung untuk membangun sebuah pemikiran baru. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran.</p>
<p><span id="more-811"></span>Dokumen yang diacu dan dituliskan kutipannya dalam tubuh karya ilmiah serta dicantumkan sebagai rujukan dalam daftar pustaka mungkin ditulis dalam bahasa asing. Untuk menghindari kesalahpahaman yang muncul di benak pembaca, proses penerjemahan mungkin perlu dilakukan. Pencantuman kutipan di dalam karya ilmiah dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kepada posisi di mana kutipan itu dituliskan di dalam dokumen.</p>
<h3>Parafrasa</h3>
<p>Parafrasa adalah menuliskan ide asli yang ditulis oleh orang lain dalam dokumen sumber menggunakan susunan kata dan kalimat penulis dokumen. Penulisan kutipan melalui parafrasa tentunya dilakukan dengan menggunakan bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah, karena itu dilakukan penerjemahan.</p>
<h3>Kutipan</h3>
<p>Sebuah kutipan biasanya ditulis menggunakan indentasi dengan menggunakan ukuran huruf/fon yang lebih kecil. Kutipan bisa dituliskan dalam bahasa asli. Hal ini dilakukan misalnya dengan alasan jika dilakukan penerjemahan, ide asli dari penulis yang karyanya dikutip akan mengalami distorsi. Jika hal ini dilakukan, tentunya penulis karya ilmiah akan memberikan paparan yang lebih terperinci tentang ide yang dikutip, dalam bentuk kalimat-kalimatnya sendiri berupa parafrasa. Dengan demikian sebuah kutipan lazimnya diterjemahkan.</p>
<p>Dengan alasan menghindari distorsi ide, penulisan kutipan yang diterjemahkan sebaiknya juga disertai dengan keterangan, pada bagian akhir kutipan, dari bahasa apa kutipan tersebut diterjemahkan. Keterangan penerjemahan dituliskan di antara tanda kurung misalnya “(Terjemahan dari bahasa [apa].)”</p>
<h3>Daftar pustaka</h3>
<p>Untuk memudahkan pembaca menelusuri karya asli dari penulis yang dikutip di dalam karya ilmiah, entri daftar pustaka dituliskan dalam bahasa aslinya. Jika entri daftar pustaka diterjemahkan, dikhawatirkan akan menyulitkan pembaca menelusuri karya asli yang dimaksud.</p>
<h3>Daftar pustaka berupa hasil terjemahan</h3>
<p>Sebuah entri daftar pustaka dapat berupa sebuah karya hasil terjemahan dari dokumen lain. Ketika merujuk kepada hasil karya yang sudah diterjemahkan, bisa ditambahkan keterangan “Diterjemahkan dari bahasa [apa] oleh [siapa]. Kota: Penerbit.” Dalam penulisan dengan format ini, nama kota yang dicantumkan di bagian akhir adalah nama kota tempat penerbitan versi terjemahan.</p>
<p>Secara garis besar, pencantuman kutipan dan daftar pustaka pada sebuah karya ilmiah bertujuan antara lain untuk menyampaikan ide-ide dari berbagai sumber dan mengomunikasikan ide yang disusun oleh penulis karya ilmiah. Berdasarkan hal ini, proses penerjemahan kutipan dan daftar pustaka dapat dilakukan selama pesan yang dikomunikasikan dalam karya ilmiah dapat diterima dengan baik oleh pembaca.</p>
<p>Format penulisan rujukan di dalam karya ilmiah dan penulisan daftar pustaka tentu saja mengacu pada gaya kutipan yang digunakan, misalnya mengacu pada rujukan APA, MLA, Chicago Style, dan sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/06/penulisan-daftar-pustaka-dan-kutipan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lapanta TransCon Atma Jaya, 15 Juni 2011</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/06/lapanta-transcon-atma-jaya-15-juni-2011/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/06/lapanta-transcon-atma-jaya-15-juni-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 12:42:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan Unika Atma Jaya pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Saya merasa sangat menikmati acara tersebut, meskipun terdapat “cegukan” di sana-sini. Bertemu teman lama, menimba ilmu, belajar memetik pengalaman untuk diterapkan dalam acara serupa yang sudah ada dalam agenda HPI … ah, pokoknya kagak rugi deh mengeluarkan Rp200.000 untuk pengalaman ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Sofia Mansoor</em></p>
<p><a href="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/06/TransCon-2011.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-787" title="TransCon 2011" src="http://blog.bahtera.org/wp-content/uploads/2011/06/TransCon-2011-300x139.jpg" alt="" width="180" /></a>TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan <a href="http://ltbiatmajaya.blogspot.com/">Unika Atma Jaya</a> pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Konferensi penerjemahan internasional pertama yang saya hadiri berlangsung 20 tahun yang lalu di Kuala Lumpur pada tahun 1991. Sejak itu, saya menghadiri beberapa kali lagi konferensi penerjemahan mancanegara (istilah ini yang digunakan Malaysia) di negeri jiran itu, antara lain di Melaka, Pulau Langkawi, dan Pulau Pinang. Selain itu, saya juga pernah menghadiri konferensi sejenis di bidang penerbitan akademis di New Delhi (1986), konferensi EASE (Perhimpunan Penyunting Sains Eropa) di Helsinki (1997), kongres FIT di Melbourne (1996) dan Macau (2010), dan terpaksa batal menghadiri acara yang sama di Shanghai (2008) karena mengalami musibah kecelakaan hingga patah tangan hanya dua minggu menjelang keberangkatan. Selain TransCon kemarin itu, satu-satunya konferensi internasional yang saya hadiri di dalam negeri adalah Kongres ATF 2007 di Bogor yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).</p>
<p><span id="more-785"></span>Saya selalu menikmati setiap acara seperti ini–perjalanan pulang-perginya, wisata pasca-acaranya, kehebohan memilih-milih sidang yang menarik untuk dihadiri, interaksi antarpeserta dan dengan pembicara, kepusingan menangkap maksud pembicara bukan penutur asli bahasa Inggris dalam bahasa Inggris dengan berbagai aksen yang sulit dipahami, dan “keberuntungan” karena memilih sidang yang menarik sehingga bisa diceritakan kepada teman-teman lain, baik melalui tulisan di koran, di milis, maupun di FB sekarang ini.</p>
<p>Kami berlima–saya, Adhi Ramdhan, Vina (istri Adhi), Lanny Utojo, Betty Sihombing–memang tiba terlambat sekitar satu jam karena harus berjuang menempuh kemacetan Jakarta dengan pengalaman minim, dan berjuang keras pula menemukan rute ke tempat konferensi. Karena pembicara utama juga terlambat tiba di tempat dengan alasan yang sama dengan kami orang Bandung, acara beliau justru dimulai tepat setelah kami tiba karena ada pertukaran waktu penyajian. Namun, karena masih “mengumpulkan nyawa”, saya sendiri agak kurang berkonsentrasi mendengarkan paparan beliau, kecuali tersenyum simpul menyaksikan kegaptekan sang doktor dalam menangani tayangannya di layar lebar… Kita sama-sama gaptek, ya, Mbak Rochie!</p>
<p>Selain makalah utama yang disampaikan di awal dan makalah sejenis di akhir rangkaian acara, tidak kurang dari 33 makalah disajikan secara serempak di tiga ruangan dalam tiga slot waktu, dengan jadwal semuanya akan selesai pada pukul 15.00. Namun, kekurangtegasan moderator dalam memimpin sidang menyebabkan jadwal ini tidak bisa ditepati. Pada saat kami meninggalkan acara pada pukul 15.30, acara terakhir masih berlangsung.</p>
<p><strong>Pengalaman berbeda dalam sidang yang berbeda</strong></p>
<p>Ada seorang teman menyampaikan keluhan bahwa kebanyakan makalah yang disampaikan terlalu teoretis, terlalu mengawang-awang, dan pembicaranya tidak memenuhi harapannya. Keluhan ini diamini oleh beberapa teman yang lain karena memang ada sejumlah pembicara yang jelas masih harus dibenahi kemampuan bahasa Inggrisnya, bahasa yang dipilih panitia untuk menjadi bahasa pengantar dalam konferensi ini. Memang jangan main-main berbicara di ajang internasional yang hadirinnya para penerjemah kawakan dari milis Bahtera! Tidak kurang dari 20-an peserta berasal dari milis Bahtera, dan beberapa di antara kami mengenakan kaos kebanggaan, kaos Bahtera. Bahkan ada dua orang yang datang jauh-jauh dari Mataram, yakni Ahmad Rivai dan Hudi Ertanto, para penerjemah Newmont, yang langsung saja bergabung dengan penerjemah Newmont lainnya, Indra Listyo. Hadir pula mantan moderator Bahtera yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum HPI, Pak Eddie Notowidigdo.</p>
<p>Namun, saya sendiri lebih beruntung karena hampir semua sidang yang saya hadiri bersifat praktis. Hahaha, pengalaman menghadiri berbagai konferensi serupa rupanya berhasil menempa keterampilan saya memilih sidang. Beberapa di antara sidang pilihan saya malah amat sangat menarik, seperti “Indonesian menu translation: a study on the translation techniques and the cultural bound” yang disampaikan dengan sangat memikat oleh Dyah Ayu Nila Khrisna, penyaji cantik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam paparannya, Dyah Ayu bukan saja menyajikan beberapa contoh menu dalam bahasa Indonesia–lemper, sop buntut, ayam goreng renyah ala Sunda, tempe bacem, pepes ikan patikoli bakar, daging empal gepuk–namun juga mengajak hadirin untuk mengusulkan terjemahannya. Akibatnya, suasana sidang menjadi sangat meriah disertai derai tawa karena banyak usulan yang menggelikan. Di akhir paparannya, Dyah Ayu memberikan kesimpulan bahwa penerjemahan menu dapat dilakukan dengan mencari padanannya yang setara (sop buntut – <em>oxtail soup</em>), prosesnya (dibacem - <em>marinated</em>), racikannya, cara memasaknya (dibungkus – <em>wrapped</em>), rasanya (asam manis), dan yang terakhir, menggunakan nama aslinya yang dipinjam (lemper). Dua jempol untuk makalah ini!</p>
<p>Segera setelah Dyah Ayu, tampil Andrew Thren, penutur asli bahasa Inggris dari Unika Satya Wacana dengan makalah berjudul “Discourse in translating Indonesian news stories into the English language”. Bahannya sangat menarik, yakni mencari terjemahan yang pas untuk sejumlah kata dan frasa dalam bahasa Indonesia. Contoh yang dikemukakannya antara lain kata &#8220;berkah” yang dalam konteks yang disampaikannya akan menjadi sangat janggal jika dipadankan dengan “blessings”, tetapi lebih tepat jika digunakan “gift” atau “free food”. Contoh lain yang mirip adalah frasa “Berkat bersin …” yang lebih pas jika diterjemahkan menjadi “Thanks to sneezing”. Sebanyak 12 kiat disampaikannya tentang berbagai aspek yang perlu diperhatikan ketika menerjemahkan teks berita berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Saya merasa sangat beruntung menghadiri sidang ini–ibarat mendapat pelajaran “gratis” kilat dengan bekal yang sangat mantap. Terima kasih, Andrew! <em>Too bad, you talked so fast and didn’t always mention which text you were referring to. But all in all I really learned a lot from your session</em>.</p>
<p>Sesi lain yang menarik bagi saya adalah sesi Mas Sugeng Hariyanto dari Universitas Negeri Malang dengan makalah berjudul “Adaptation in website translation”. Meskipun sudah pernah mendengar paparannya, saya tidak pernah bosan mendengar Mas Sugeng menyampaikan makalahnya. Pembawaannya yang kocak dan berbagai contoh jenaka yang ditampilkannya selalu mengembuskan angin segar setiap kali Bahterawan senior ini berbicara. Sayang, karena tayangan sejumlah contohnya disajikan begitu cepat dan sebagian huruf teksnya kecil-kecil untuk mata seorang nini seperti saya, tidak ada contoh yang dapat saya ceritakan di sini.</p>
<p>Dua sesi lain yang saya hadiri kurang memikat hati saya. Yang pertama adalah sesi yang diisi oleh paparan tentang penerjemahan berdaya cipta buku panduan Kraton Surakarta dan yang kedua tentang penerjemahan selipat (<em>leaflet</em>) komersial. Sesi yang disebutkan terakhir ini sebetulnya cukup menarik, tetapi menyiratkan kekurangsempurnaan para pembicara makalah yang mungkin disebabkan oleh belum banyaknya jam terbang mereka berdua di dunia penerjemahan. Dengan sedikit pengetahuan tentang penerjemahan iklan yang sudah beberapa kali dibahas di Bahtera, dan tentang <em>transcreation</em> yang saya peroleh dua hari sebelumnya dari paparan Mas Sugeng di blog Ade Indarta, saya berani menyampaikan bahwa yang diperlukan dalam penerjemahan selipat komersial bukanlah sekadar “translation”, melainkan lebih menjurus kepada “transcreation”. Mudah-mudahan saja masukan saya tersebut tidak mengecilkan hati kedua pembicara, tetapi justru memperluas wawasan mereka.</p>
<p>Satu makalah terakhir yang menarik hati saya adalah paparan berjudul &#8220;‘Fixed’ expressions and their variation: a challenge in translation&#8221;. Pembicaranya, dugaan saya, dosen senior Unika Atma Jaya, Ibu Nany S. Kurnia. Saya membayangkan betapa senangnya jika saya menjadi mahasiswanya atau menjadi teman diskusinya dan menggali begitu banyak pengalaman beliau. Tutur katanya halus dan tertib, artikulasi bahasa Inggrisnya sedap didengar dan mudah dipahami, paparannya juga menarik, yakni ungkapan pendek-pendek dalam balon gambar komik. Terjemahan keliru yang menarik dalam tayangan contohnya juga mengundang tawa renyah hadirin. Frasa &#8220;Beats me!&#8221; yang menurut konteks berarti &#8220;Meneketehe!&#8221; atau &#8220;Mana kutahu!&#8221; diterjemahkan menjadi &#8220;Pukuli saya!&#8221; (kalau tidak salah).</p>
<p>Sayang sekali, karena datang terlambat dan jadwalnya ditukar, saya tidak sempat menghadiri sesi Prof. Yayuk Hidayat dari Universitas Indonesia yang ternyata menulis makalah bersama keponakan saya, Alvanov, dosen Seni Rupa ITB. Padahal, paparan Bu Yayuk dipastikan selalu menarik, sebagaimana yang pernah saya saksikan dalam <a href="http://www.hpi.or.id/lang/en/kompak-april-2011">acara Komp@k HPI</a> beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Nah, begitulah teman-teman, cerita yang dapat saya bagi dari acara TransCon Atma Jaya 2011 kemarin. Saya merasa sangat menikmati acara tersebut, meskipun terdapat “cegukan” di sana-sini. Bertemu teman lama, menimba ilmu, belajar memetik pengalaman untuk diterapkan dalam acara serupa yang sudah ada dalam agenda HPI … ah, pokoknya <em>kagak rugi deh</em> mengeluarkan Rp200.000 untuk pengalaman ini. Bravo Unika Atma Jaya!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/06/lapanta-transcon-atma-jaya-15-juni-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua kata setara</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2011/05/dua-kata-setara/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2011/05/dua-kata-setara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 12:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wiyanto Suroso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Secara ringkas, kaidah untuk menerjemahkan urutan dua kata yang dihubungkan dengan kata penghubung setara (dan, atau, dll.) bukan "manasuka", melainkan susunan tetap sebagaimana dalam bahasa Inggris. Ada "perkecualian" atau "terpaksa dibalik susunannya" apabila: (1) pengertiannya menjadi rancu/taksa, (2) telah ada padanan istilah baku/resmi/lazim dalam bahasa kita ataupun kelaziman cara penggunaan dalam bahasa kita, dan (3) dianggap perlu menurut rasa bahasa penerjemah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh <a href="http://wsuroso-translation.webs.com/">Wiyanto Suroso</a></em></p>
<p>Saya heran dengan adanya kecenderungan belakangan ini dari sebagian penerjemah yang &#8220;selalu membalik susunan&#8221; dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung &#8220;dan&#8221;. Sepengetahuan saya, &#8220;<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_D-M">hukum D-M</a>&#8221; berlaku untuk sebuah subjek/objek, yang menurut jenis katanya berupa kata benda yang harus selalu mendahului kata sifat/keterangan. Kita semua tahu bahwa ini kebalikan dari aturan dalam bahasa Inggris, yang menerapkan &#8220;hukum M-D&#8221; untuk hal yang sama. <span id="more-764"></span>Hukum D-M “bukan” untuk dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”, yang jenis katanya setara. Saya belum menemukan rujukan yang “mengharuskan” membalik susunan dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”. Sebagai contoh, “scientific and technical information” diterjemahkan sesuai dengan urutan, yaitu “informasi ilmiah dan teknis”. Demikian juga, “protection and production forests” yang dipadankan dengan “hutan lindung dan produksi”.</p>
<p>Adakalanya dua kata/frasa “terpaksa dibalik susunannya” apabila pengertiannya boleh jadi menjadikannya rancu/taksa. Misalnya, ”investment and personal finance” semestinya diterjemahkan dengan “investasi dan keuangan pribadi”. Namun, apabila terjemahan dikhawatirkan bermakna lain karena hanya “keuangan” yang bersifat “pribadi” sedangkan “investasi” bermakna “umum”, maka dapat (atau bahkan sebaiknya) dibalik susunannya menjadi “keuangan pribadi dan investasi”.</p>
<p>Demikian pula, apabila telah ada padanan istilah baku/resmi/lazim dalam bahasa kita ataupun kelaziman cara penggunaan dalam bahasa kita, semestinya digunakan istilah/cara kita tersebut walaupun susunannya terbalik. Sebagai contoh, “back and forth” telah memiliki padanan yang telah lazim, yaitu “maju mundur”; bukan “mundur dan maju”. “Roger and I” diterjemahkan dengan “saya dan Roger” karena kebiasaan kita mendahulukan kata ganti orang “saya/aku” sebelum menyebutkan orang lain.</p>
<p>Adakalanya pula, rasa bahasa penerjemah, misalnya agar runtut ataupun agar menjadi lebih sesuai dengan nalar, membuatnya “membalik susunan”dua kata/frasa yang mengapit kata penghubung “dan”. Misalnya, “the implemented and designed programs” boleh saja diterjemahkan dengan dibalik susunannya menjadi “program yang telah dirancang dan dilaksanakan” apabila penerjemah menganggap bahwa urutan logisnya ialah “dirancang” terlebih dahulu untuk kemudian “dilaksanakan”.</p>
<p>Secara ringkas, kaidah untuk menerjemahkan urutan dua kata yang dihubungkan dengan kata penghubung setara (dan, atau, dan semacamnya) bukan “manasuka”, melainkan susunan tetap sebagaimana dalam bahasa Inggris. Ada “perkecualian” atau “terpaksa dibalik susunannya” apabila: (1) pengertiannya menjadi rancu/taksa, (2) telah ada padanan istilah baku/resmi/lazim dalam bahasa kita ataupun kelaziman cara penggunaan dalam bahasa kita, dan (3) dianggap perlu menurut rasa bahasa penerjemah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2011/05/dua-kata-setara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tingkat kesetiaan terjemahan: Terjemahan &#8220;bebas&#8221;, &#8220;free translation&#8221;, dan &#8220;saduran&#8221;</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/10/tingkat-kesetiaan-terjemahan-terjemahan-bebas-free-translation-dan-saduran/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/10/tingkat-kesetiaan-terjemahan-terjemahan-bebas-free-translation-dan-saduran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 02:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[Ketika membicarakan masalah hasil terjemahan, biasanya kita mempertimbangkan antara “bentuk” (form), dan “makna” (meaning). Kemudian orang membincangkan antara hasil terjemahan dalam hal tingkat “kesetiaan pada bentuk” dan “kesetiaan pada makna”. Rekan-rekan penerjemah tentu sudah paham benar apa yang dimaksud dengan dua macam kesetiaan (faithfulness) itu. Kemudian ada golongan penerjemah yang berkecenderungan mempertahankan yang nomor 1 dan ada yang nomor 2, dan tentu saja banyak yang berupaya mempertahankan dua-duanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Setyadi Setyapranata</em></p>
<p>Ketika membicarakan masalah hasil terjemahan, biasanya kita mempertimbangkan antara “bentuk” (<em>form</em>), dan “makna” (<em>meaning</em>). Kemudian orang membincangkan antara hasil terjemahan dalam hal tingkat “kesetiaan pada bentuk” dan “kesetiaan pada makna”. Rekan-rekan penerjemah tentu sudah paham benar apa yang dimaksud dengan dua macam kesetiaan (<em>faithfulness</em>) itu. Kemudian ada golongan penerjemah yang berkecenderungan mempertahankan yang nomor 1 dan ada yang nomor 2, dan tentu saja banyak yang berupaya mempertahankan dua-duanya.</p>
<p>Secara teori ada tingkat kesetiaan paling rendah dan paling tinggi, atau paling setia dan paling tidak setia alias paling bebas. Di antara dua titik ekstrem itu ada rentang yang cukup lebar yang sering menimbulkan polemik, bahkan pertentangan, karena biasanya para penerjemah terpancang hanya pada dua istilah, yaitu terjemahan <em>letterljik</em> (<em>literal</em>)<em> </em>dan terjemahan bebas. Mereka tidak terlalu tertarik adanya bentangan rentang di antaranya.</p>
<p><span id="more-734"></span>Dalam pengalaman saya mendamping para penerjemah, tidak jarang saya menjumpai penerjemah yang mengklaim hasil terjemahannya sebagai “terjemahan bebas” ketika karyanya dikomentari oleh orang/rekan lain, “Ini terjemahan bebas saya. Saya tidak suka terjemahan yang leterlek (maksudnya <em>letterlijk</em>)”. Patut disayangkan, ada juga penerjemah yang karena tidak dapat memahami makna kalimat aslinya, kemudian dia terjemahkannya sesuai dengan tafsirannya sendiri dan mengklaim serta berdalih itu sebagai “terjemahan bebas”.</p>
<p>Dalam konteks lain, ada penerjemah senior yang menasihati juniornya, “Kalau menjumpai kalimat yang sulit dibuat terjemahannya, terjemahkan saja secara <em>letterlijk</em>!”. Ada juga penerjemah yang menyatakan, “Untuk produk hukum, saya selalu terjemahkan secara <em>letterlijk,</em>supaya maknanya tidak berubah”. Sebaliknya, tidak sedikit orang mengingatkan kita, “Jangan diterjemahkan secara <em>letterlijk dong, </em>dan jangan takut menerjemahkan secara bebas!”.</p>
<p>Nah, dengan melihat dua istilah, “letterlijk” dan “terjemahan bebas”, dalam paragraf di atas, kita melihat betapa pemaknaan dan persepsi orang bisa saling berbeda. Perbedaan semacam itu, besar atau kecil, bisa menimbulkan masalah. Oleh karena itu, “demi kesatuan bahasa” para penerjemah, kini ada upaya untuk membakukan istilah-istilah tersebut sebagai berikut</p>
<p>(1) Terjemahan “harfiah”, untuk <em>letterljik</em>, <em>literal</em>, <em>word-for-word</em></p>
<p>(2) Terjemahan “katawi”, untuk <em>phrasal translation</em></p>
<p>(3) Terjemahan “wajar”, untuk <em>idiomatic translation</em></p>
<p>(4) Terjemahan “bebas”, untuk <em>free translation</em></p>
<p>(5) (Terjemahan) “saduran”, untuk <em>adaptation</em></p>
<p>(6) (Terjemahan) “saduran bebas”, untuk <em>free adaptation</em></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keterangan:</span></p>
<p>Untuk memperjelas penerapan istilah-istilah tersebut, diberikan contoh kalimat sebagai model:</p>
<p><strong><em>The old lady came again last week</em></strong></p>
<p>(1) Itu tua wanita datang lagi lalu minggu =&gt; T. harfiah</p>
<p>(2) Wanita tua itu datang lagi minggu lalu =&gt; T. katawi</p>
<p>(3) Wanita tua itu datang lagi minggu yang lalu =&gt; T. wajar</p>
<p>(4a) Wanita tua yang baik hati tersebut datang lagi minggu yang lalu =&gt; T. bebas 1</p>
<p>(4b) Wanita tua bawel itu nongol lagi minggu yang lalu =&gt; T. bebas 2</p>
<p><strong>Catatan</strong>: Dalam terjemahan bebas, penerjemah berupaya menyesuaikan dengan lingkungan dan konteks tulisan aslinya; dalam upaya tersebut dia merasa perlu, oleh karena itu “bebas”, menambah periannya, bahkan juga persepsinya.</p>
<p>(4a) = Penerjemah menambahi “yang baik hati” supaya sesuai dengan nuansa aslinya. Dalam naskah aslinya memang terungkap bahwa dia baik hati.</p>
<p>(4b) = Kata “bawel” dan “nongol” supaya sesuai dengan konteks aslinya, atau sesuai dengan persepsinya sendiri. Tambahan “yang baik hati”, “bawel”, dan “nongol” digunakan oleh si penerjemah karena dalam tulisan bahasa aslinya tidak terdapat kata/istilah konkret yang dapat diterjemahkan langsung, melainkan hanya terdapat kata/ungkapan ber-konotasi saja yang konotasinya tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia (atau sebab lain semacam itu). Itulah sebabnya digunakan kata “bawel” dan “nongol”, yang diyakini gampang dipahami oleh pembaca Indonesia tanpa melalui kata berkonotasi (Tidak harus melakukan<em> “reading between the lines</em>”).</p>
<h3><strong>Tentang Saduran</strong></h3>
<p>Saduran ada dua macam: (1) saduran bukan penerjemahan, misalnya novel dipentaskan sebagai pertunjukan panggung, dan (2) saduran penerjemahan, misalnya naskah pentas asli “The Proposal” oleh Shakespeare, dipentaskan di Jogja dalam bahasa Jawa oleh teater lokal dengan judul “Lamaran”.</p>
<p>Di sini kita hanya membahas yang nomor dua (saduran penerjemahan). Syarat saduran yang utama ialah bahwa karya saduran harus mempertahankan (tidak merusak) garis besar materi naskah asli, atau garis besar alur cerita. Dalam pentas dengan bahasa Jawa tersebut bisa saja diadakan adaptasi latar belakang yang cukup radikal, namun demikian karya pentas ini tetap dapat dinamakan karya “saduran” selama garis besar alur cerita naskah asli dipertahankan. Misalnya para pelakonnya memakai nama-nama orang Jawa, pakai baju <em>surjan, </em>pakai blangkon, kambing sebagai binatang kesayangan yang dipelihara (bukan anjing seperti pada naskah aslinya).</p>
<p>Dalam saduran bebas, garis besar atau alur cerita dibuat “mirip”, bukan dipertahankan “sama” dengan naskah aslinya. Dikatakan “bebas” karena penerjemah sengaja memasukkan bukan saja penyesuaian (adaptasi), melainkan bisa juga opini, misi, sindiran, pelesetan, lawakan, pesan pribadi dan sebagainya.</p>
<h3><strong>Tentang istilah “bebas”</strong></h3>
<p>Ada kecenderungan sementara penerjemah menyukai penggunaan istilah “bebas” untuk karya terjemahannya. Dalih atau alasannya, misalnya supaya kalimat-kalimatnya tidak kaku, atau karena tidak ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia , atau karena terjemahan “wajar” tidak mungkin diwujudkan tanpa sedikit “kebebasan”. Oleh karena itu ada juga yang menamakan karya terjemahannya sebagai terjemahan “wajar bebas”, atau “free idiomatic translation”.</p>
<p>Pembakuan istilah memang tidak mengikat kepada siapapun, dan tidak merupakan keharusan untuk ditaati. Namun demikian, dengan adanya upaya pembakuan diharapkan para penerjemah dapat menggunakannya sebagai alat yang dapat membantu mengadakan evaluasi diri atas karyanya. Misalnya apakah karyanya terlalu bebas, atau terlalu harfiah, terlalu kaku, kurang idiomatis, dan sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/10/tingkat-kesetiaan-terjemahan-terjemahan-bebas-free-translation-dan-saduran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lokalisasi dan Penerjemah</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[lokalisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Lokalisasi (localization) akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya, tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Rosetta_Stone.JPG"><img class="   " title="Batu Rosetta" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/23/Rosetta_Stone.JPG/150px-Rosetta_Stone.JPG" alt="" width="150" /></a><p class="wp-caption-text">Batu Rosetta, lambang alat bantu penerjemah.</p></div>
<p>Lokalisasi (<em>localization) </em>akhir-akhir ini menjadi jargon yang cukup  sering dibicarakan dalam konteks penerjemahan. Sebagai subjek yang semakin  populer dalam ranah praktik penerjemahan, lokalisasi semakin sering ditemui  dalam kerja sehari-hari penerjemah. Meskipun pada dasarnya penerjemahan dalam  proses lokalisasi kurang lebih sama dengan penerjemahan pada umumnya, ada  kesalahkaprahan yang menyebutkan bahwa keduanya berbeda. Bahkan ada pendapat  yang mengatakan bahwa penerjemahan dalam proses lokalisasi dapat menghasilkan  terjemahan yang lebih baik daripada penerjemahan biasa. Untuk selanjutnya,  tulisan ini akan berusaha menjabarkan proses lokalisasi secara umum, menunjukkan  bahwa pendapat seperti di atas tidak tepat, dan memberikan gambaran sederhana  peran penerjemah dan penerjemahan dalam proses lokalisasi.</p>
<p><span id="more-720"></span>Dalam <em><a href="http://www.lisa.org/Primers.600.0.html">The Globalization  Industry Primer</a></em>, LISA, <em><a href="http://www.lisa.org/">Localization  Industry Standards Association</a></em>, mendefinisikan lokalisasi  (<em>localization</em>) sebagai proses mengubah produk atau layanan untuk dapat  memenuhi kebutuhan yang berbeda di pasar yang berbeda (Arle, 2007:11). Definisi  ini menunjukkan bahwa proses lokalisasi tidak melulu tentang penerjemahan; namun  juga tentang beberapa faktor lainnya yang juga sama pentingnya dengan  penerjemahan. Tidak seperti penerjemahan pada umumnya yang mengubah teks dalam  sebuah bahasa ke bahasa yang lain; proses lokalisasi mengubah sebuah produk atau  layanan keseluruhan yang ditujukan untuk sebuah pasar menjadi produk atau  layanan yang dapat terima untuk pasar yang lain. Dalam terbitan yang sama,  disebutkan bahwa lokalisasi selain mencakup masalah linguistik juga mencakup  masalah fisik, masalah bisnis dan budaya, dan masalah teknis.</p>
<p>Lokalisasi sebuah produk telepon seluler, misalnya, kurang lebih akan melalui  tahapan-tahapan sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Perusahaan produsen telepon seluler menghubungi perusahaan lokalisasi untuk  melokalkan produk telepon selulernya.</li>
<li>Perusahaan lokalisasi membentuk tim untuk menangani proyek tersebut. Tim ini  akan menyiapkan sumber daya dan mengkoordinir proyek lokalisasi secara  keseluruhan.</li>
<li>Tim menerima produk telepon seluler dari perusahaan produsen telepon seluler  beserta kemasan, pedoman penggunaan, atau dokumentasi lainnya, termasuk catatan  mengenai penyesuaian-penyesuaian fisik yang telah atau akan dilakukan pada  produk tersebut.</li>
<li>Sumber daya teknis tim tersebut mengekstrak semua teks yang akan  diterjemahkan, baik  dari perangkat telepon seluler tersebut maupun dari  dokumentasi lainnya.</li>
<li>Sumber daya penerjemahan melakukan proses penerjemahan, termasuk  penyuntingan, pada teks tersebut dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan  teknis tertentu, dan catatan khusus dari perusahaan klien terkait dengan aspek  bisnis dan budaya pasar yang dituju.</li>
<li>Teknisi menerima hasil terjemahan dan mengembalikan hasil terjemahan ke  dalam bentuk    asalnya, baik dalam perangkat telepon seluler maupun dalam  dokumentasi lainnya.</li>
<li>Penerjemah menerima produk telepon seluler dan dokumentasinya dalam bentuk  akhir untuk diujicoba dan diperiksa apakah ada kesalahan dalam penerjemahannya.</li>
<li>Teknisi melakukan uji coba dan pemeriksaan secara fungsional untuk  memastikan produk telah siap digunakan dalam bentuk akhirnya.</li>
<li>Perusahaan klien menerima hasil lokalisasi yang berupa produk telepon  seluler dalam bahasa yang diinginkan dan telah disesuaikan dengan pasar yang  dituju, bebas dari kesalahan fungsional.</li>
</ol>
<p>Contoh proses lokalisasi di atas dapat memberikan gambaran ringkas bahwa  proses lokalisasi tidak hanya melibatkan penerjemahan saja. Proses lokalisasi  melibatkan banyak orang dari bidang profesi yang berbeda. Sebaliknya,  penerjemahan merupakan bagian dari proses lokalisasi secara keseluruhan.  Penerjemahan dalam proses lokalisasi sendiri tidak banyak berbeda dengan  penerjemahan pada umumnya: &#8220;mengganti bahan teks dalam bahasa sumber dengan  bahan teks yang sepadan dalam bahasa sasaran&#8221; (Catford dalam Machali,  2009:25).</p>
<p>Terlepas dari kenyataan ini, banyak pendapat yang berusaha membedakan  penerjemahan dalam proses lokalisasi dari penerjemahan pada umumnya.  Penerjemahan pada proses lokalisasi bahkan sering dikatakan dapat menghasilkan  terjemahan yang lebih baik. Beberapa contoh pendapat yang sering dikemukakan  misalnya (1) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi bukan sekadar menerjemahkan  biasa, tapi lebih ke pelokalan, menyesuaikan isi ke sistem linguistik dan budaya  wilayah yang menjadi tujuan lokalisasi; (2) bahwa penerjemahan dalam lokalisasi  tidak menerjemahkan secara harfiah teks bahasa sumber tapi disesuaikan dengan  pasar sasaran atau pengguna sasaran; serta (3) bahwa penerjemahan dalam  lokalisasi tidak memindahkan mentah-mentah suatu konsep dalam budaya bahasa  sumber ke bahasa target; dan sebagainya.</p>
<p>Dari beberapa pendapat tersebut, menarik untuk dicatat bahwa semua yang  disebutkan sebagai pembeda penerjemahan dalam proses lokalisasi dari  penerjemahan pada umumnya sebenarnya juga sudah tercakup dalam pembahasan studi  penerjemahan sejak puluhan tahun yang lalu. Contoh yang pertama misalnya dalam  studi penerjemahan dikenal sebagai <em>strategi domestikasi</em>. Dalam strategi  ini, penerjemahan dilakukan dengan gaya yang transparan, lancar, &#8220;tembus  pandang&#8221; untuk meminimalisir kenampakan unsur-unsur asing dari teks sumber dalam  teks sasaran (Munday, 2001:146). Strategi ini sendiri sudah digunakan semenjak  zaman Romawi Kuno (Baker, 2001:241). Contoh yang kedua, yang berbicara tentang  menyesuaikan terjemahan dengan pasar atau pengguna sasaran, erat sekali  hubungannya dengan <em>teori Skopos</em> dalam studi penerjemahan. Teori ini  merupakan salah satu pendekatan dalam penerjemahan yang dikembangkan di Jerman  pada tahun 1970-an. Teori ini memandang bahwa proses penerjemahan, seperti  kegiatan manusia lainnya, memiliki tujuan tertentu.  Tujuan inilah yang  menentukan jalannya proses penerjemahan, bukan teks sumber (Baker, 2001:235).  Contoh pendapat yang ketiga pada paragraf di atas dalam konteks studi  penerjemahan akan mengacu pada konsep <em>ekuivalensi dinamis</em>. Penerjemahan  ekuivalensi dinamis bertujuan untuk mencapai kealamiahan ekspresi yang utuh dan  mencoba untuk mengaitkan pembaca dengan sesuatu yang relevan dengan konteks  budayanya sendiri (Hatim, 2005:167).</p>
<p>Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan penerjemahan dalam proses lokalisasi lebih baik daripada penerjemahan pada umumnya tidaklah tepat karena sejatinya keduanya adalah sama. Hingga saat ini, belum ada ciri khusus penerjemahan dalam proses lokalisasi yang dapat secara nyata menjadi pembeda, baik dalam hal kualitas hasil atau pun metode, dari penerjemahan pada umumnya. Pendapat tersebut kemungkinan muncul karena kurangnya pengetahuan teoritis penerjemah terkait dengan studi penerjemahan.</p>
<blockquote><p><em>Penerjemah harusnya lebih dapat memanfaatkan berbagai teori penerjemahan yang telah ada dalam bahasan studi penerjemahan saat terlibat dalam proses lokalisasi.</em></p></blockquote>
<p>Dengan berbekal hasil penelitian dalam studi penerjemahan yang telah berlangsung sangat lama, penerjemah juga dapat menawarkan perspektif atau pertimbangan-pertimbangan yang biasanya tidak ditemukan dalam proses lokalisasi (Pym, 2004:5).</p>
<blockquote><p><em>Namun demikian, sebaliknya, tidak dapat dimungkiri, dengan adanya  faktor-faktor lain yang terlibat dalam lokalisasi (faktor teknis, fisik, bisnis,  dan budaya), praktik penerjemahan dalam proses lokalisasi pasti juga terpengaruh  oleh proses lokalisasi secara keseluruhan.</em></p></blockquote>
<p>Keterbatasan ruang dalam penerjemahan  teks perangkat lunak, misalnya, akan memaksa penerjemah untuk membatasi panjang  terjemahannya dengan memilih kata-kata bahasa sasaran yang lebih pendek. Dalam  memilih istilah yang akan digunakan dalam terjemahannya, penerjemah juga akan  mempertimbangkan faktor bisnis. Penggunaan kata dalam bahasa sasaran yang kurang  populer mungkin terpaksa akan dihindari karena akan menurunkan tingkat  keterbacaan dan penerimaan pengguna terhadap produk yang dilokalkan tersebut.  Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, penerjemah tidak lagi hanya  mempertimbangkan aspek-aspek linguistik dan penerjemahan saja.</p>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p>Lokalisasi melibatkan banyak tahapan proses. Penerjemahan sendiri adalah  salah satu tahapan di dalamnya. Dalam kaitannya dengan peran penerjemah dalam  lokalisasi, kerja penerjemahan dalam lokalisasi tidak banyak berbeda dengan  penerjemahan secara umum. Penerjemah dapat, dan memang sudah seharusnya,  memanfaatkan teori-teori penerjemahan yang telah ada saat terlibat dalam proses  lokalisasi. Hanya saja, mengingat adanya faktor-faktor teknis non-penerjemahan  yang terlibat,  praktik penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah dalam proses  lokalisasi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Pada akhirnya nanti,  atau bahkan telah dan sedang terjadi, proses lokalisasi akan turut membentuk  teori-teori penerjemahan baru yang dapat mengembangkan studi penerjemahan secara  umum.</p>
<h3><strong>Da</strong><strong>f</strong><strong>tar Pustaka</strong></h3>
<ul>
<li>Baker, Mona. 2001. <em>Routledge Encyclopedia of Translation Studies</em>. New  York: Routledge.</li>
<li>Hatim, Basil., dan Munday, Jeremy. 2005. <em>Translation: An Advanced  Resource Book</em>. New York: Routledge.</li>
<li>Lommel, Arle. 2007. <em><a href="http://www.lisa.org/Primers.600.0.html">The  Globalization Industry Primer</a></em>.</li>
<li>Machali, Rochayah. 2009. <em>Pedoman bagi Penerjemah: Panduan Lengkap bagi  Anda yang Ingin Menjadi Penerjemah Profesional</em>. Bandung: Kaifa.</li>
<li>Munday, Jeremy. 2001. <em>Introducing Translation Studies: Theories and  Applications</em>. New York: Routledge.</li>
<li>Pym, Anthony. 2004<em>. <a href="http://www.elda.org/en/proj/scalla/SCALLA2004/Pymv2.pdf">Localization from  the Perspective of Translation Studies: Overlaps in the Digital Divide?</a></em> (Paper presented to the SCALLA conference, Kathmandu).</li>
</ul>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com/">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/lokalisasi-dan-penerjemah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Back Translation</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 22:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717</guid>
		<description><![CDATA["Back translation" adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan "Terjemahan balik." Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Back translation</em>&#8221; adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang  mungkin tepat untuk dipadankan dengan &#8220;Terjemahan balik.&#8221; Istilah ini bermakna  menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa  B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat  berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk  memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh  penulisnya.</p>
<p><span id="more-717"></span>Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang  belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya,  tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan  semacam itu saya namakan &#8220;terjemahan instan.&#8221;</p>
<p>Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin  jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.</p>
<p>Contohnya, kalimat sederhana seperti</p>
<blockquote><p><strong>DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.</strong></p></blockquote>
<p>dengan serta-merta, secara &#8220;instan,&#8221; cenderung langsung saja diterjemahkan  menjadi</p>
<blockquote><p><strong>DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.</strong></p></blockquote>
<p>Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut  dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan  yang berbeda, misalnya:</p>
<blockquote><p><strong>David loves his wife, and me too.</strong></p></blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p>0. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<p>1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<p>2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.</p>
<p>3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<p>4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga  mencintai isteri Peter.</p>
<p>5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<p>6. dst … dst…</p>
<h3><strong>Proses Terjemahan Balik</strong></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian  diterjemahkan <strong>balik</strong> oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris.  Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima  terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan  lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari  konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula. <ins datetime="2010-04-06T20:59" cite="mailto:Microsoft"></ins></p>
<p>0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and me too.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>b. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and David (also) loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and David loves me too.</strong></p></blockquote>
<p>2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I (also) love mine.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, I love mine too.</strong></p></blockquote>
<p>3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I also love David’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and I love David’s wife too.</strong></p>
<p><strong>c. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, David also loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, he loves me too. </strong></p></blockquote>
<p>6.A.. dst … dst…</p>
<h3><strong>Lessons Learnt</strong></h3>
<ol>
<li>Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita  tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus &#8220;curiga&#8221; kalau  menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks  materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita  terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa &#8220;populer&#8221; atau  bahasa &#8220;gaul.&#8221;</li>
<li>Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat,  mintalah tolong kepada rekan lain untuk <strong>menerjemahkan</strong> <strong>balik</strong> terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada  bertanya tentang &#8220;arti&#8221; atau maksud kalimat aslinya.</li>
<li>Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki  kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik)  kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita  yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini  kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga  merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan  (<em>readability</em>) tulisan kita.</li>
<li>Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang  mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya  (<em>translatability</em>). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah  menghasilkan karya yang berprinsip &#8220;terjemahan berdasar makna,&#8221;  (<em>meaning-based</em> <em>translation</em>) alih-alih &#8220;berdasar bentuk.&#8221;  (<em>form-based translation</em>).</li>
<li>Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur  <em>back translation </em>dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan  &#8220;gaya selingkung&#8221; produknya. <em> </em></li>
</ol>
<p><em>Malang, 7 April 2010. Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kualitas Terjemahan Melalui Evaluasi Mandiri</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 09:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ade Indarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien. Karenanya, penerjemah lepas perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.

Bagaimanakah langkah-langkah untuk melakukan evaluasi mandiri ini? Baca uraian lebih lanjut dari Ade Indarta di Blog Bahtera.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbeda dengan penerjemah yang bekerja di sebuah perusahaan, penerjemah lepas tidak banyak memiliki kesempatan untuk mengukur kualitas terjemahannya secara objektif. Penerjemah yang bekerja di perusahaan memiliki sistem untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas terjemahan pekerjanya. Sementara penerjemah lepas biasanya hanya bisa mengharapkan masukan seadanya dari klien.</p>
<p>Padahal sering kali klien sendiri tidak bisa langsung menilai hasil terjemahan saat menerimanya. Ini terutama jika klien Anda adalah perusahaan luar negeri yang tidak mengerti bahasa yang kita terjemahkan. Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Karena itu, ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan. Mereka akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Kalau Anda mempunyai klien yang tidak pernah mengeluhkan kualitas terjemahan Anda dan tiba-tiba saja berhenti mengirimkan pekerjaan ke Anda, bisa jadi ini pertanda ada masalah dengan kualitas terjemahan Anda.</p>
<p><span id="more-678"></span>Untuk menghindari masalah seperti itu, sebagai penerjemah lepas, kita perlu menciptakan sendiri suatu sistem untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk ini. Tulisan singkat ini akan berusaha menawarkan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan penerjemah lepas untuk meningkatkan kualitas terjemahan, yaitu melalui evaluasi mandiri.</p>
<p>Ada enam langkah yang dapat Anda lakukan untuk melaksanakan evaluasi mandiri, yaitu:</p>
<ol>
<li>menentukan kualitas terjemahan,</li>
<li>menentukan pengevaluasi,</li>
<li>memverifikasi hasil evaluasi,</li>
<li>mengenali kelemahan,</li>
<li>menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan, serta</li>
<li>melakukan evaluasi secara berkala,</li>
</ol>
<p>Berikut ini akan dijabarkan masing-masing langkah evaluasi tersebut.</p>
<h3>1. Menentukan Kualitas Terjemahan</h3>
<p><strong>A. Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Untuk bisa meningkatkan kualitas terjemahan kita, pertama-tama kita perlu menentukan terlebih dahulu apa yang kita anggap sebagai terjemahan berkualitas. Hanya dengan demikian kita akan dapat mengukur peningkatan kualitas terjemahan kita.</p>
<p>Kualitas terjemahan dapat kita jabarkan ke beberapa kategori yang bisa kita jadikan acuan. Kategori ini bisa Anda buat sendiri atau mengacu pada model yang sudah ada. Jika Anda mengacu pada model Penjaminan Mutu dari <a href="http://www.lisa.org/">LISA</a> misalnya, beberapa kategori yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas antara lain Keakuratan, Terminologi, Bahasa, Gaya, Aturan Negara, Konsistensi, dsb. Dengan kategori ini, kita dapat memilah-milah kesalahan terjemahan pada terjemahan kita agar lebih mudah mengevaluasinya. Berdasarkan kategori di atas, nantinya kita dapat membuat tabel sederhana seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Keakuratan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Konsistensi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Terminologi</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bahasa</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td>“Not many” diterjemahkan sebagai “Sedikit sekali”</td>
<td></td>
<td></td>
<td>Awalan di- dipisah pada kata “di cari”</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td></td>
<td></td>
<td></td>
<td>“Anda” ditulis dengan huruf kecil (“anda”)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 1. Kategori Kualitas Terjemahan</em></p>
<p><strong>B. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</strong></p>
<p>Perlu diingat bahwa jenis terjemahan yang berbeda biasanya juga akan mempengaruhi bobot kategori kualitas yang ada. Misalnya, untuk terjemahan karya fiksi, kesalahan dalam hal penggunaan bahasa target dan gaya bahasa mungkin akan jauh lebih mempengaruhi kualitas daripada kesalahan pada konsistensi dan keakuratan. Sebaliknya, pada terjemahan manual elektronik misalnya, kesalahan pada konsistensi dan terminologi akan berpengaruh lebih besar pada kualitas daripada kesalahan pada gaya dan aturan bahasa.</p>
<p>Untuk memfasilitasi adanya perbedaan seperti ini, kita perlu memberikan bobot untuk masing-masing kategori yang disesuaikan dengan kebutuhan kita akan terjemahan yang berkualitas. Jika Anda ingin mengukur kualitas terjemahan novel yang Anda kerjakan, berilah bobot 2 untuk gaya dan bahasa misalnya. Dengan demikian, setiap kali ada kesalahan yang ditemukan untuk kategori ini, jumlahnya akan dikalikan dua sementara kesalahan pada kategori yang lain nilainya hanya 1. Jika Anda sudah melengkapi tabel di atas, Anda bisa memasukkan jumlah kesalahan yang ada ke dalam tabel seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="25%"><strong>Kategori</strong></td>
<td width="25%"><strong>Kesalahan</strong></td>
<td width="25%"><strong>Bobot</strong></td>
<td width="25%"><strong>Total</strong></td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Bahasa</strong></td>
<td>1</td>
<td>2</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Terminologi</strong></td>
<td>0</td>
<td>1</td>
<td>0</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Keakuratan</strong></td>
<td>1</td>
<td>1</td>
<td>1</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Gaya</strong></td>
<td>4</td>
<td>2</td>
<td>8</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td><strong>Jumlah</strong></td>
<td>6</td>
<td>-</td>
<td>10</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 2. Bobot Kategori Kualitas terjemahan</em></p>
<p><strong>C. Standar Kualitas Terjemahan</strong></p>
<p>Ingat bahwa jumlah kesalahan wajarnya akan dipengaruhi oleh besarnya terjemahan yang Anda evaluasi. Semakin besar teks yang Anda evaluasi semakin besar kemungkinan ditemukannya lebih banyak kesalahan. Oleh karena itu, jumlah total dalam tabel di atas akan tidak dapat dibandingkan jika besar teks yang Anda evaluasi berbeda.</p>
<p>Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat menyamakan besar teks yang Anda evaluasi, misalnya 500 kata. Jadi setiap kali Anda akan melakukan evaluasi, teks harus Anda potong terlebih dahulu agar besarnya sesuai dengan standar yang Anda tentukan, 500 kata. Cara lain yang dapat dilakukan, dan yang lebih mudah, adalah dengan menghitung nilai untuk setiap sekian kata. Misal jika Anda ingin mengetahui nilai Anda dalam setiap 500 kata yang terjemahkan dari teks yang besarnya 1250 kata, dari tabel di atas Anda dapat menghitungnya seperti berikut:</p>
<p style="text-align: center;">Nilai per 500 kata = (Total Kesalahan x 500) / Jumlah kata</p>
<p style="text-align: center;">= (10 x 500) / 2500 = 4</p>
<p>Dengan menggunakan nilai yang sudah Anda hitung seperti di atas, Anda dapat menentukan berapa standar yang ingin Anda gunakan untuk menilai kualitas terjemahan Anda. Ingat, semakin besar nilai Anda, itu berarti semakin banyak kesalahan yang Anda lakukan. Semakin baik terjemahan, nilainya akan semakin mendekati nol.</p>
<h3>2. Menentukan pengevaluasi</h3>
<p>Untuk menjaga keobjektifan evaluasi, kita memerlukan bantuan pihak kedua untuk mengevaluasi terjemahan kita. Pengevaluasi ini bisa merupakan teman penerjemah Anda yang bersedia membantu, atau pun penerjemah lain yang bisa Anda bayar untuk melakukan evaluasi. Menentukan penerjemah yang akan mengevaluasi kita biasanya tidak mudah. Ke depannya, penilaian kualitas terjemahan kita akan bergantung pada pengevaluasi ini. Karena itu, kita perlu mencari penerjemah yang tepat untuk mengevaluasi hasil terjemahan kita.</p>
<p>Dengan menggunakan sistem evaluasi yang telah kita buat untuk diri kita, kita bisa melakukan evaluasi pada penerjemah yang akan mengevaluasi kita tersebut. Dengan standar yang telah kita tetapkan, jika penerjemah lolos evaluasi tersebut kita dapat menggunakannya untuk mengevaluasi terjemahan kita. Setelah itu, Anda bisa mengirimkan hasil terjemahan Anda ke penerjemah tersebut untuk dievaluasi &#8212; pastikan terjemahan yang Anda pilih untuk dievaluasi tersebut tidak terikat oleh perjanjian kerahasiaan dengan klien.</p>
<h3>3. Memverifikasi hasil evaluasi</h3>
<p>Setelah terjemahan Anda selesai dievaluasi dan Anda menerima hasil evaluasi, kita perlu melakukan verifikasi atas hasil tersebut. Verifikasi perlu dilakukan agar hasil evaluasi benar-benar valid sesuai dengan yang Anda harapkan dan pengevaluasi telah melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan sistem yang telah kita buat.</p>
<p>Verifikasi ini tidak dimaksudkan agar kita dapat membohongi diri sendiri dengan mencari pembenaran untuk kesalahan valid yang telah ditemukan pengevaluasi. Oleh karena itu, kita harus berusaha seobjektif mungkin dalam melakukan verifikasi. Dalam proses ini, yang harus Anda lakukan adalah menganalisis setiap kesalahan dan kategori yang telah ditemukan. Ada kalanya pengevaluasi akan keliru dalam menetapkan kategori pada kesalahan terjemahan Anda. Dengan cara ini, pengukuran kualitas terjemahan Anda akan lebih akurat.</p>
<p>Sering juga pengevaluasi akan bersikap subjektif dan mencatat perbedaan gaya sebagai kesalahan terjemahan. Misalnya saja, Anda lebih memilih menggunakan kata “bisa” sedang menurut penerjemah tersebut kata “dapat” dirasa lebih tepat. Dengan mempertimbangkan konteksnya, sering kali perbedaan gaya seperti ini tidak cukup kuat argumennya untuk dipertimbangkan sebagai kesalahan terjemahan. Oleh karena itu, Anda perlu menyingkirkan kesalahan-kesalahan seperti ini dalam hasil evaluasi.</p>
<h3>4. Mengenali kelemahan</h3>
<p>Setelah tabel <em>Kategori Kesalahan Terjemahan</em> Anda dilengkapi dengan kesalahan-kesalahan yang ditemukan oleh pengevaluasi dan telah Anda verifikasi, Anda dapat melanjutkan dengan melakukan penghitungan pada tabel Bobot Kategori Kualitas terjemahan. Setelah selesai, Anda akan mendapatkan total nilai Anda untuk evaluasi tersebut. Berdasarkan standar kualitas yang telah Anda tetapkan, Anda dapat mengetahui apakah terjemahan yang kirim untuk evaluasi tersebut memiliki kualitas yang Anda harapkan atau tidak.</p>
<p>Selanjutnya, Anda dapat menganalisis lebih jauh wilayah kekurangan atau kelebihan Anda dengan melihat kesalahan yang ada berdasarkan kategorinya. Anda mungkin baru menyadari bahwa Anda sering kali melakukan kesalahan pengetikan; Anda mungkin tidak pernah tahu bahwa selama ini Anda selalu tidak sengaja menambahkan arti baru ke sebuah kalimat dan sebagainya. Semakin Anda melakukan evaluasi ini, Anda mungkin akan semakin melihat banyak kesalahan yang secara logika mungkin tidak akan mungkin Anda lakukan. Semakin dalam Anda melakukan analisis, semakin banyak kelemahan yang dapat Anda simpulkan dari kualitas terjemahan Anda.</p>
<h3>5. Menentukan strategi untuk mengatasi kelemahan</h3>
<p>Meskipun tentu saja tidak ada strategi mutlak yang bisa untuk mengatasi suatu masalah, Anda paling tidak dapat merancang strategi yang sesuai dengan kelemahan yang telah Anda temukan dan peningkatan kualitas yang Anda harapkan. Misal, ternyata Anda baru menyadari bahwa Anda lemah di kategori bahasa. Anda dapat merancang proses terjemahan Anda agar lebih menekankan pada deteksi kesalahan pada kategori ini.</p>
<p>Umpamanya Anda sering melakukan kesalahan ketik. Mungkin Anda bisa menambahkan langkah pemeriksaan ejaan dengan perangkat lunak pemeriksa ejaan setelah Anda selesai menerjemahkan dan menyunting agar apabila ada kesalahan ketik yang terlewatkan pada tahap pemeriksaan Anda, Anda masih dapat menangkapnya sebelum diserahkan ke klien. Jika kelemahan Anda adalah gaya terjemahan Anda sangat kaku dan tingkat keterbacaannya rendah, Anda bisa mulai menambahkan waktu tunggu 1 hari ke dalam proses terjemahan Anda. Ini agar Anda mempunyai waktu tambahan untuk memisahkan diri dari terjemahan Anda dan dapat membacanya secara objektif untuk melakukan perbaikan jika perlu.</p>
<h3>6. Melakukan evaluasi secara berkala</h3>
<p>Untuk mengetahui peningkatan (atau penurunan) kualitas terjemahan kita, kita perlu melakukan evaluasi terjemahan secara berkala. Dengan cara ini, kita bisa terus mengetahui kualitas terjemahan kita. Anda bisa merancang waktunya sesuai dengan kebutuhan Anda dan pekerjaan Anda. Misalkan Anda hanya menerima pekerjaan terjemahan misalnya satu bulan sekali, tentunya secara finansial tidak akan sehat jika Anda harus melakukan evaluasi ini setiap bulan, 6-12 bulan sekali mungkin cukup. Sebaliknya jika Anda setiap hari menerjemahkan puluhan halaman, mungkin melakukan evaluasi setiap 3 bulan sekali pun tidak lah mencukupi. Anda bisa membuat sebuah tabel sederhana untuk memonitor hasil evaluasi Anda seperti di bawah ini:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td width="20%"><strong>Tanggal</strong></td>
<td width="20%"><strong>Pengevaluasi </strong></td>
<td width="20%"><strong>Nama berkas</strong></td>
<td width="20%"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="20%"><strong>Catatan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
<td>-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><em>Tabel 3. Hasil Evaluasi Berkala</em></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Untuk sampai ke tangan konsumen akhir, terjemahan harus menempuh proses yang memerlukan waktu tidak sedikit. Ketika klien menemukan kesalahan dalam terjemahan kita, biasanya sudah terlambat untuk memperbaiki. Klien tidak akan repot-repot menghabiskan waktu mengajukan keluhan dan akan langsung berhenti menggunakan jasa kita. Karena itu, tidak adanya keluhan dari klien seharusnya tidak dijadikan ukuran bahwa kualitas terjemahan kita sudah sempurna. Sebagai penerjemah lepas kita perlu mawas diri dan menciptakan sistem evaluasi kualitas sendiri untuk dapat terus memonitor dan meningkatkan kualitas terjemahan kita. Metode yang dipaparkan di atas hendaknya tidak dilihat sebagai panduan lengkap untuk melakukan evaluasi terjemahan mandiri; melainkan sebagai inspirasi dan awalan untuk menciptakan sistem evaluasi kualitas terjemahan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing penerjemah lepas.</p>
<p><em>Penulis: <a href="http://adeindarta.com">Ade Indarta</a></em><em>. Pekerja bahasa, sekarang menjadi penerjemah di SDL International, Singapura.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/02/meningkatkan-kualitas-terjemahan-melalui-evaluasi-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akan Terbit: Tersesat Membawa Nikmat Versi Braille</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 07:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mila Kartina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Januari 2010 ini, moderator milis Bahtera (diwakili oleh Sofia Mansoor serta Maria E. Sundah) dan Yayasan Mitra Netra (YMN) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama  penerbitan buku Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat (TMN) dalam versi Braille.  Kerja sama penerbitan TMN dalam format Braille ini adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh 45 orang penulis TMN, termasuk pendiri dan anggota tim moderator milis Bahtera, kepada Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang diselenggarakan oleh YMN.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, pada pertengahan bulan Januari 2010 ini, moderator milis Bahtera (diwakili oleh Sofia Mansoor serta Maria E. Sundah) dan Yayasan Mitra Netra (YMN) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama  penerbitan buku <a href="http://bahtera.org/blog/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/">Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat</a> (TMN) dalam versi Braille.  Kerja sama penerbitan TMN dalam format Braille ini adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh 45 orang penulis TMN, termasuk pendiri dan anggota tim moderator milis Bahtera, kepada Gerakan Seribu Buku untuk Tunanetra yang diselenggarakan oleh YMN.</p>
<p><span id="more-660"></span>Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat (TMN), buku perdana milis Bahtera yang mengupas seluk-beluk dunia penerjemahan dan kejurubahasaan di Indonesia ini diterbitkan untuk menyambut ulang tahun ke-12 Bahtera pada tahun 2009, di samping sebagai upaya untuk memperkenalkan profesi penerjemah dan dunia penerjemahan yang tampaknya belum begitu populer di Indonesia. Dalam buku ini, 45 orang Bahterawan &#8212; sebutan “resmi” anggota milis Bahtera &#8212; menceritakan aneka pengalaman pribadi dan profesional mereka yang begitu unik sebagai penerjemah dan jurubahasa dalam 61 tulisan dengan bahasa yang ringan dan lugas.</p>
<p>Gerakan Seribu Buku Tunanetra merupakan salah satu program yang dicanangkan YMN sejak tanggal 30 Januari 2006 dan terus berlangsung hingga kini dengan semakin banyak pengarang, penerbit, maupun relawan dari kalangan masyarakat yang berpartisipasi.</p>
<p>Dalam proses konversi buku biasa menjadi buku Braille, pengarang atau penerbit meminjamkan soft file dari buku yang mereka terbitkan kepada YMN. Sementara itu, masyarakat luas yang berminat menjadi relawan membantu proses ini dengan cara mengetik ulang isi buku pada file MS Word dan mengirimkan file MS Word tersebut ke YMN. Selanjutnya, semua file buku, baik dari penerbit, penulis, maupun relawan, diolah menjadi file berformat Braille oleh YMN dengan menggunakan perangkat lunak Mitranetra Braille Converter (MBC), untuk kemudian dicetak menjadi buku Braille dengan mesin Braille embosser. Agar buku tersebut dapat dinikmati oleh tunanetra di seluruh Indonesia, YMN kemudian mendistribusikannya melalui layanan perpustakaan Braille online yang dikelolanya, <a href="http://www.kebi.or.id/" target="_blank">www.kebi.or.id</a> (KEBI singkatan dari Komunitas E-Braille Indonesia), yang beranggotakan para produser buku Braille di Indonesia.</p>
<p>Penerbitan buku TMN versi Braille diharapkan dapat membawa angin segar bagi hubungan kerja sama jangka panjang yang saling mendukung antara milis Bahtera dan Yayasan Mitra Netra, antara lain mengingat profesi penerjemah dan juru bahasa adalah profesi yang memungkinkan untuk dijalani oleh tunanetra. Beberapa tunanetra yang berprofesi sebagai penerjemah dan juru bahasa antara lain adalah DR. Didi Tarsidi, Ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia), dan Ir. Nyantoso Sukirno seorang penerjemah bersumpah. Mudah-mudahan TMN versi Braille dapat membantu memberi masukan kepada generasi muda tunanetra yang ingin menjalani profesi sebagai penerjemah atau juru bahasa.</p>
<p>Jakarta, 23 Januari 2010<br />
Mila Kartina Kamil<br />
(salah seorang kontributor buku TMN, relawan pembaca buku bicara untuk tunanetra di YMN)</p>
<p><strong>Tentang Milis Bahtera</strong></p>
<p><a href="http://bahtera.org">Bahtera</a> (BAHasa dan TERjemahan indonesiA) adalah milis untuk para penerjemah Indonesia yang didirikan pada 3 Juli 1997 oleh Bashir Basalamah, Wiwit Margawiati, dan Sofia Mansoor. Saat ini Bahtera beranggotakan lebih dari 2.000 orang yang berasal dari sejumlah kota besar dan kecil di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Selain itu, ada juga anggota yang berdomisili di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.</p>
<p><strong>Tentang Yayasan Mitra Netra (YMN)</strong></p>
<p><a href="http://www.mitranetra.or.id/">Yayasan Mitra Netra</a> adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan tunanetra yang didirikan di Jakarta pada tanggal 14 Mei 1991. YMN sebagai sebuah organisasi nirlaba yang memusatkan kegiatannya pada peningkatan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja adalah satu dari sangat sedikit &#8220;penerbit&#8221; buku untuk tunanetra di negeri ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/akan-terbit-tersesat-membawa-nikmat-versi-braille/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seluk beluk dunia penerjemahan di Prancis</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/seluk-beluk-dunia-penerjemahan-di-prancis/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/seluk-beluk-dunia-penerjemahan-di-prancis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 17:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mimi Bonnetto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[perancis]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[“Jadi penerjemah itu gampang”, “Kalau bisa bicara dua bahasa, pasti bisa menerjemahkan”, “Tidak perlu ilmu untuk menerjemahkan”, “Penerjemahan itu cuma sampingan”... ucapan-ucapan ini pasti sudah sering sekali kita dengar. Tak perlu lagi saya jelaskan bahwa anggapan ini tidak benar, dan kita terus-menerus bergelut dengan anggapan seperti ini sepanjang profesi kita, karena berdasarkan anggapan yang salah dan kurangnya penghargaan atas pekerjaan kita, tarif penerjemahan pun ditekan serendah mungkin oleh penerima jasa atau klien. Akibatnya, para penerjemah yang memilih profesi ini sebagai pekerjaan utama mereka seringnya terpaksa menerima penerjemahan jenis apa saja, bekerja secara serabutan demi mendapat gaji yang layak setiap bulannya. Kondisi seperti ini tentunya mempengaruhi kualitas terjemahan itu sendiri.

Di negara-negara maju, Prancis khususnya, penerjemah adalah profesi yang terhormat dan dihargai masyarakat dan pemerintah, bahkan disetarakan dengan pengacara, dokter, notaris, maupun ahli bedah, dalam status “profession libérale”. Sampai saat ini, hak-hak dan kondisi kerja penerjemah secara permanen selalu diperjuangkan dan ditingkatkan oleh himpunan-himpunan atau asosiasi-asosiasi penerjemah seperti SFT (Société Française des Traducteurs), ATLF (Association des Traducteurs Litteraires de France), ATAA (Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels), dan sebagainya. Kondisi ini secara otomatis memicu rasa kesadaran profesionalisme dan kualitas kerja para penerjemah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="background-color: #ffffff;">“<em>Jadi penerjemah itu gampang</em>”, “<em>Kalau bisa bicara dua bahasa, pasti bisa menerjemahkan</em>”, “<em>Tidak perlu ilmu untuk menerjemahkan</em>”, “<em>Penerjemahan itu cuma sampingan</em>”&#8230; ucapan-ucapan ini pasti sudah sering sekali kita dengar. Tak perlu lagi saya jelaskan bahwa anggapan ini tidak benar, dan kita terus-menerus bergelut dengan anggapan seperti ini sepanjang profesi kita, karena berdasarkan anggapan yang salah dan kurangnya penghargaan atas pekerjaan kita, tarif penerjemahan pun ditekan serendah mungkin oleh penerima jasa atau klien. Akibatnya, para penerjemah yang memilih profesi ini sebagai pekerjaan utama mereka seringnya terpaksa menerima penerjemahan jenis apa saja, bekerja secara serabutan demi mendapat gaji yang layak setiap bulannya. Kondisi seperti ini tentunya mempengaruhi kualitas terjemahan itu sendiri.</span></p>
<p>Di negara-negara maju, Prancis khususnya, penerjemah adalah profesi yang terhormat dan dihargai masyarakat dan pemerintah, bahkan disetarakan dengan pengacara, dokter, notaris, maupun ahli bedah, dalam status “<em>profession libérale</em>”. Sampai saat ini, hak-hak dan kondisi kerja penerjemah secara permanen selalu diperjuangkan dan ditingkatkan oleh himpunan-himpunan atau asosiasi-asosiasi penerjemah seperti <a href="http://www.sft.fr/">SFT</a> (<em>Société Française des Traducteurs</em>), <a href="http://www.atlf.org/">ATLF</a> (<em>Association des Traducteurs Litteraires de France</em>), <a href="http://www.traducteurs-av.org/">ATAA</a> (<em>Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels</em>), dan sebagainya. Kondisi ini secara otomatis memicu rasa kesadaran profesionalisme dan kualitas kerja para penerjemah.</p>
<p>Berikut ini pemaparan singkat tentang situasi penerjemah di Prancis. Tarif-tarif yang dikemukakan dalam makalah ini diperoleh dari berbagai seminar penerjemahan yang saya hadiri selama beberapa tahun terakhir ini.</p>
<p><span id="more-199"></span></p>
<h3>Jenis dan Status Penerjemah di Prancis</h3>
<p>Ada beberapa jenis penerjemah di Prancis yang digolongkan secara terperinci, dan status profesinya ditentukan atas jenis-jenis tersebut.</p>
<h4>Jenis Penerjemah</h4>
<p><strong>1. Penerjemah Umum</strong></p>
<p>Jenis penerjemah ini pada dasarnya menangani penerjemahan dokumen-dokumen umum, surat-surat perusahaan, panduan wisata, dan sebagainya. Tarif yang berlaku di Prancis untuk bahasa Inggris-Prancis dan sebaliknya berkisar 0,15 euro per kata.</p>
<p><strong>2. Penerjemah Spesialisasi</strong></p>
<p>Penerjemah Spesialisasi menangani satu atau beberapa jenis bidang khusus, misalnya bidang hukum, kedokteran, metalurgi, automotif, keuangan, komputer, dan lain-lain. Tarif yang berlaku untuk penerjemah spesialisasi untuk bahasa Inggris-Prancis dan sebaliknya paling rendah adalah 0,20 euro per kata.</p>
<p><strong>3. Penerjemah Karya Sastra</strong></p>
<p>Penerjemah buku atau karya sastra mempunyai hitungan tarif tersendiri, yaitu per “feuillet”, atau halaman yang telah distandarisasi berupa 25 baris yang terdiri dari 60 “signe” per baris. <em>Signe</em> adalah seluruh huruf, tanda baca, karakter, atau spasi dalam sebuah teks. Jadi satu <em>feuillet</em> kira-kira berisikan 1800 <em>signe</em>. Tarif standar per <em>feuillet</em> adalah sekitar 15 euro.</p>
<p><strong>4. Penerjemah Audiovisual</strong></p>
<p>Dalam golongan ini, tugas penerjemah terbagi lagi menjadi penerjemah <em>sous-titres</em> (teks film), <em>doublage</em> (sulih suara), voice-over (narasi) dan teks film untuk tuna rungu. Tarif yang dipraktikkan bisa berdasarkan per teks film (antara 1-3 euro), per <em>feuillet</em> (sekitar 20 euro), atau per menit (paling rendah 5-6 euro).</p>
<p><strong>5. Penerjemah Lisan</strong></p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui, tugas penerjemah lisan terpilah menjadi penerjemah konsekutif, simultan, pendamping dan pembisik. Tarif mereka minimal 50 euro per jam dan 400 euro per hari. Perlu dicatat bahwa tarif ini adalah harga standar pemberi jasa. Tukang reparasi mesin cuci atau montir mobil yang kita minta datang ke rumah sama tarifnya.</p>
<h4>Status Penerjemah</h4>
<p>Sebelum menjelaskan bagian ini, perlu saya ungkapkan bahwa di negara ini, pekerjaan apa pun, kecil maupun besar, badan usaha yang terdiri dari beberapa orang maupun satu orang harus terdaftar dalam salah satu badan pemerintahan tertentu agar pajak usahanya bisa diperhitungkan. Pajak usaha tersebut (<em>charge patronale</em>) mencakup asuransi sosial, tunjangan keluarga dan dana pensiun. Dengan membayar pajak ini, kita tidak perlu membayar biaya pengobatan, dokter dan rumah sakit lagi. Anak-anak bersekolah gratis sampai universitas, dan setiap pensiunan, di mana pun dia bekerja sebelumnya, mendapat dana pensiun sesuai dengan masa kerja dan pendapatannya.</p>
<p>Bekerja secara gelap sangat berbahaya, karena petugas pajak bisa sewaktu-waktu memeriksa surat pajak dan rekening bank kita di rumah. Bila ketahuan, penjara hukumannya.</p>
<p>Tergantung dari jenis pekerjaannya, para penerjemah mempunyai status berbeda-beda:</p>
<p><strong>1. Penerjemah sebagai pegawai</strong></p>
<p>Penerjemah bekerja untuk sebuah perusahaan atau agen penerjemahan sebagai pegawai tetap. Kerjanya di kantor, 35 jam per minggu, menerima gaji bersih per bulan, seperti halnya pegawai kantor biasa. Status penerjemah ini yang paling “tenang”, tidak pusing dengan urusan tetekbengek perusahaan. Sebagai pegawai, pajak perusahaan ditanggung oleh perusahaan yang mempekerjakannya. Penerjemah hanya membayar pajak pendapatan sebanyak 10% per tahun seperti semua orang yang bekerja.</p>
<p><strong>2. Penerjemah Lepas (<em>Profession Libérale</em>)</strong></p>
<p>Status penerjemah ini mencakup penerjemah lisan, umum dan spesialisasi. Seperti namanya, penerjemah lepas bekerja untuk berbagai penerima jasa, baik klien akhir maupun perantara (agen penerjemahan). Mereka harus terdaftar di URSSAF (<em>Union de Recouvrement des Sécurité Sociales et d’Allocations Familiales</em>), sebuah instansi yang menangani setoran asuransi sosial dan tunjangan keluarga. Penerjemah lepas wajib memiliki bendera perusahaan sendiri, yang berbentuk “<em>micro-entreprise</em>” (perusahaan kecil tanpa Pajak Pertambahan Nilai (VAT)) atau “EURL” (perusahaan kecil dengan VAT). Apapun bentuknya, pajak perusahaan yang harus dibayar penerjemah lepas minimal berkisar antara 3000-4000 euro per tahun, tergantung atas pendapatan per tahunnya, plus pajak pendapatan 10% per tahun.</p>
<p><strong>3. Penerjemah Penulis (<em>Auteur</em>)</strong></p>
<p>Penerjemah buku dan karya sastra mempunyai status yang berbeda dengan penerjemah biasa. Berdasarkan hukum pasal L.131-4 dan L.132.6 dari <em>Code de la Propriété Intellectuelle</em> (Undang-undang Pemilikan Intelektual) bahwa setiap karya tertulis dan musik yang disebarluaskan dan diperjualbelikan secara umum dilindungi oleh hak cipta, para penerjemah buku dan karya sastra disetarakan dengan penulis buku asli dan mendapat hak cipta atas setiap penjualan buku tersebut. Jadi di samping honor penerjemahan, penerjemah buku juga mendapat honor hak cipta yang dibayar dalam tiga tahap; sepertiga pada saat penandatanganan kontrak, sepertiga pada saat terjemahan selesai dan sepertiga lagi saat penerimaan (acceptation) setelah terjemahan disunting, yang jangka waktu maksimalnya telah ditentukan dalam kontrak awal. Penerjemah buku harus terdaftar di SCAM (<em>Société Civile des Auteurs Multimedia</em>). Pajak yang harus dibayar adalah 10% dari honor penerjemahan, tapi ini hanya berupa pajak pendapatan dan asuransi sosial tingkat terendah. Jika ingin mendapat pensiun, asuransi sosial yang lebih baik, dll., mereka harus menyetor lagi ke AGESSA (<em>Association des Gestion de la Sécurité Sociale des Auteurs</em>), yang tidak diwajibkan.</p>
<p><strong>4. Penerjemah Audiovisual</strong></p>
<p>Penerjemah jenis ini memiliki status yang setara dengan penerjemah penulis, namun tergantung dari karya yang mereka terjemahkan, badan yang menangani hak cipta tidak sama. Untuk penerjemahan film dokumenter dan reportase, penerjemah harus mendaftar di SCAM, sementara penerjemah film fiksi dan bonus DVD harus mendaftar di SACEM (<em>Société des Auteurs Compositeurs et Editeurs de Musique</em>) institusi sama yang menangani hak cipta lagu dan komposisi musik.</p>
<h3>Perjuangan Asosiasi Penerjemah Prancis</h3>
<p>Walaupun tampaknya kondisi kerja para penerjemah Prancis cukup baik dan terjamin bagi mata Indonesia, berbagai himpunan dan asosiasi penerjemah di Prancis terus bergerak aktif memperjuangkan hak-hak penerjemah demi meningkatkan situasi kerja yang lebih menguntungkan. Saya hanya mengenal langsung tiga asosiasi penerjemah yang bisa saya ungkapkan di sini, walaupun ada beberapa lagi lainnya. Tapi secara keseluruhan, mereka memiliki misi serupa.</p>
<p>Didirikan sejak tahun 1947, misi SFT (<em>Société Française des Traducteurs</em>) atau himpunan penerjemah Prancis adalah memberi informasi praktis, menghimpun para penerjemah, dan membela serta meningkatkan hak-hak penerjemah. Demi menjalankan misi tersebut, mereka mengadakan berbagai seminar penerjemahan tentang beragam topik, juga penataran bagi penerjemah pemula dua kali setahun tentang seluk beluk dunia penerjemahan. Asosiasi ini juga secara konstan mengadakan perundingan dengan badan-badan pemerintahan tentang peningkatan hak dana pensiun dan asuransi kesehatan, baik dalam lingkup Prancis maupun Uni Eropa. Anggotanya kini lebih dari 1000 orang, dan memiliki beberapa cabang di pelosok Prancis.</p>
<p>ATAA (<em>Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels</em>) atau asosiasi penerjemah/pengadaptasi audiovisual didirikan oleh 20 orang penerjemah teks film yang geram atas penurunan tarif yang dipaksakan sebuah laboratorium teks film demi memuaskan pemilik saham. Mereka lalu memboikot perusahaan tersebut, yang mengakibatkan tutupnya cabang perusahaan bersangkutan di Prancis. Sejak saat itu, lewat wadah asosiasi ini, para penerjemah teks film terus berupaya untuk mempersatukan para penerjemah audiovisual, membela, memperbaiki dan memperjuangkan hak-hak mereka, dan meningkatkan kesadaran umum tentang pentingnya penerjemahan audiovisual dalam segi budaya. Di samping penataran di kampus-kampus bahasa tentang profesi mereka, ATAA juga mengadakan dialog dan perundingan dengan badan-badan pelindung hak cipta, serta berdiskusi dengan beberapa asosiasi penerjemah audiovisual di negara Eropa lainnya demi menyetarakan tarif dan hak-hak mereka.</p>
<p>ATLF (<em>Association des Traducteurs Littéraires de France</em>) atau asosiasi penerjemah karya sastra didirikan pada tahun 1973 demi membela hak-hak penerjemah karya sastra dan meningkatkan kualitas penerjemahan buku dan karya sastra yang diterbitkan di Prancis. Seperti halnya asosiasi penerjemah yang lain, ATLF giat mengadakan seminar dan pertemuan antar penerjemah karya sastra, penataran di berbagai universitas sastra, pendekatan dan dialog dengan perusahaan penerbitan, serta meningkatkan dan membela hak penerjemah. Para anggota ATLF, yang kini berjumlah lebih dari 700 anggota dan mencakup sekitar 45 bahasa, bahkan mempunyai beberapa fasilitas tempat sendiri untuk menulis karya mereka. Tempat-tempat itu biasanya jauh dari keramaian kota, tenang dan memiliki pemandangan indah. Para penerjemah boleh tinggal dan bekerja di sana selama 1-3 bulan tanpa diganggu oleh kegiatan rutin sehari-hari.</p>
<p>Gigihnya para penerjemah memperjuangkan hak dan kondisi kerja mereka, bukanlah berarti mereka lalu melupakan kewajiban kerja. Setiap asosiasi penerjemah memiliki pakta integritas yang wajib ditaati demi menjaga kualitas penerjemahan. Beberapa rincian yang umum ditemukan dalam berbagai pakta asosiasi adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Penerjemah harus memiliki pengetahuan bahasa dan budaya yang mendalam atas bahasa sumber, dan wajib menguasai bahasa sasaran sesempurna bahasa ibu mereka</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Menjamin keabsahan terjemahan sebagai hasil kerja mereka sesungguhnya, bukan buatan orang lain</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Menghindari penerjemahan teks yang sudah merupakan terjemahan, bukan bahasa sumber asli (<em>traduction-relais</em>)</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Sedapat mungkin menerapkan tarif penerjemahan setara dengan yang telah diterapkan oleh anggota asosiasi lainnya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff; ">Menaati tenggat waktu yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja, dalam hal ini, penerjemah harus menolak pekerjaan yang membutuhkan tenggat waktu terlalu singkat demi menjaga mutu penerjemahan</span></li>
</ol>
<h3>Penutup</h3>
<p>Masyarakat di Prancis amat menghargai dan mendukung profesionalisme penerjemahan, sehingga tugas penerjemah menjadi lebih terfokus, terperinci dan berkualitas. Namun pajak usaha yang dibebankan pemerintah Prancis cukup berat bagi penerjemah, karena bagaimanapun, pendapatan penerjemah tidak sama dengan pendapatan dokter, notaris, maupun pengacara, karena permintaan pasar yang tidak menentu. Mahalnya pajak usaha dan tingginya tingkat kehidupan di Prancis merupakan alasan utama tingginya tarif penerjemahan.</p>
<p>Rasa solidaritas dan persatuan penerjemah dalam wadah asosiasi demi meningkatkan situasi kerja yang lebih menguntungkan merupakan teladan yang patut ditiru dan digalakkan.</p>
<p>Penyaluran spesialisasi penerjemahan dan kesadaran penerjemah atas mutu penerjemahan, terutama dalam hal pengetahuan dan budaya bahasa sumber, serta penguasaan bahasa sasaran sesempurna bahasa ibu masih kurang tertanam dalam dunia penerjemahan di negara kita. Ini kembali lagi akibat kurangnya penghargaan masyarakat atas dunia penerjemahan. Seminar, kumpul-kumpul penerjemah, pelatihan dan penyampaian informasi terbuka bagi masyarakat awam tentang profesi penerjemah mungkin bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan kepekaan masyarakat Indonesia secara global.</p>
<p><em>Mimi Larasati Bonnetto adalah penerjemah lepas di Prancis, anggota HPI dan ATAA</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/seluk-beluk-dunia-penerjemahan-di-prancis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

