<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; Etimologi</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/category/etimologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengenai RINCI dan PERINCI</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/10/mengenai-rinci-dan-perinci/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/10/mengenai-rinci-dan-perinci/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 08:25:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salomo Simanungkalit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etimologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[Pada mulanya adalah Slamet Djabarudi, wartawan Tempo yang bahasawan, yang penasaran dengan apa sebetulnya kata dasar "memerinci". Pada awal dasawarsa delapan puluhan saya kira. Jadi, belum ada KBBI. Pusat Bahasa masih mengandalkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Mas Poer. Slamet memang menemukan lema PERINCI di kamus itu. Turunannya: PERINCIAN yang setali tiga uang dengan PERINCISAN. Namun, di sana tersua petunjuk bahwa bentuk baku PERINCI adalah RINCI.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada mulanya adalah Slamet Djabarudi, wartawan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majalah_Tempo">Tempo</a> yang bahasawan, yang penasaran dengan apa sebetulnya kata dasar &#8220;<em>memerinci</em>&#8220;. Pada awal dasawarsa delapan puluhan saya kira. Jadi, belum ada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kamus_Besar_Bahasa_Indonesia">KBBI</a>. Pusat Bahasa masih mengandalkan <em>Kamus Umum Bahasa Indonesia</em> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wilfridus_Josephus_Sabarija_Poerwadarminta">Mas Poer</a>.</p>
<p>Slamet memang menemukan lema <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=perinci">PERINCI</a> di kamus itu. Turunannya: PERINCIAN yang setali tiga uang dengan <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=perincisan">PERINCISAN</a>. Namun, di sana tersua petunjuk bahwa bentuk baku PERINCI adalah <a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dict&amp;action=view&amp;phrase=rinci">RINCI</a>. Pada lema RINCI ada MERINCI: (1) &#8216;memecahkan (membagi-bagi, menguraikan) kecil-kecil&#8217;; (2) &#8216;menerangkan (merancang dsb.) yang menyebutkan bagian-bagiannya yang kecil-kecil&#8217;. Ada pula turunan PERINCIAN: (1) &#8216;pembagian yang kecil-kecil&#8217;; (2) &#8216;uraian (suatu) perancangan&#8217;.</p>
<p><span id="more-600"></span>Sejak itu Tempo pakai MERINCI. Selama Slamet redaktur Bahasa di Tempo sejak itu hanya ada MERINCI di Tempo. RINCI sebagai kata dasar tampaknya disambut baik oleh pembaca setia Tempo, termasuk saya. RINCI dan PERINCI bersaing di pasar.</p>
<p>Pusat Bahasa yang menerbitkan KUBI Mas Poer rupanya enggan menerima &#8220;temuan&#8221; Slamet. Di KBBI Edisi Pertama yang kali pertama terbit tahun 1988 dua lema, RINCI dan PERINCI, sama-sama dihidupkan tanpa ada petunjuk pada lema PERINCI bahwa yang baku adalah RINCI. Pendek kata, KBBI yang bersumber pada KUBI itu sepertinya tak percaya pada Mas Poer tentang lema RINCI dan PERINCI ini. Terlalu banyak kepala yang menyusun KBBI rupanya sehingga sukar bagi Pusat Bahasa menentukan sikap.</p>
<p>Saya termasuk yang pro-Slamet dalam urusan ini. Tak pernah saya buka KBBI untuk mencek RINCI atau PERINCI yang baku. Untuk lema ini saya cukup buku KUBI Mas Poer.</p>
<p>KUBI itu bikinan W.J.S. Poerwadarminta, cetakan pertamanya tahun 1953. Lalu, Pusat Bahasa tahun 1974 selesai mengolah ulang kamus ini dengan menambahkan 1.000 lema, jadilah KUBI Poerwadarminta olahan Pusat Bahasa. Itulah KUBI yang terus dicetak ulang hingga kini. Tahun 1988 Pusat Bahasa menciptakan KBBI sebagai edisi perdana. Ganti kepala, Pusat Bahasa tampaknya menerbitkan edisi demi edisi KBBI. Tahun 2008 Pusat Bahasa yang dipimpin Dendy S. menerbitkan edisi keempat KBBI. Namanya berubah sejak edisi keempat menjadi KBBI Pusat Bahasa. Penambahan &#8220;Pusat Bahasa&#8221; dalam nama kamus ini memang perlu sebab dalam beberapa tahun terakhir terbit juga KBBI susunan &#8220;saya lupa namanya&#8221;. KBBI versi lain ini dijual di toko-toko buku.</p>
<p><em>Catatan: Menurut Herman Ardiyanto, kata terdekat dalam kamus Melayu Lama (Crawfurd, 1856) adalah &#8220;rinchik&#8221; (a chip, a bit, a small piece).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/10/mengenai-rinci-dan-perinci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari manakah asal kata &#8220;Anda&#8221;?</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/10/dari-manakah-asal-kata-anda/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/10/dari-manakah-asal-kata-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 17:19:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Akhmad Bukhari Saleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etimologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Dari manakah asal kata "Anda"? Menurut Ajip Rosidi dalam tulisannya, Kegagalan "Anda", di rubrik Stilistika di Pikiran Rakyat, kata ini tercipta pada tahun 1958 ketika Rosihan Anwar, pimpinan koran Pedoman saat itu, mengundang para pembacanya untuk urun usul kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata "you" dalam bahasa Inggris. Dari banyak usul yang masuk, menurut Ajip, akhirnya dipilih kata "anda" yang diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang.

Dalam tulisannya, menurut Ajip, setelah lewat setengah abad, keinginan Rosihan Anwar untuk menemukan satu kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata "you" dalam bahasa Inggris ini tidak berhasil tercapai.

Benarkah? Sebagai orang yang mengenal Rosihan Anwar secara pribadi, Akhmad Bukhari Saleh (ABS) menjabarkan sedikit cerita di balik layar tentang peristiwa ini: alasan pencarian, alternatif kata, serta mengapa "Anda" ditulis dengan diawali huruf kapital. Sebelum menyimak tulisan ini, jangan lupa untuk membaca dulu tulisan Ajip Rosidi, Kegagalan "Anda".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dari manakah asal kata &#8220;Anda&#8221;? Menurut </em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ajip_Rosidi"><em>Ajip Rosidi</em></a><em> dalam tulisannya, </em><a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=87338"><em>Kegagalan &#8220;Anda&#8221;</em></a><em>, di rubrik Stilistika di Pikiran Rakyat, kata ini tercipta pada tahun 1958 ketika </em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rosihan_Anwar"><em>Rosihan Anwar</em></a><em>, pimpinan koran Pedoman saat itu, mengundang para pembacanya untuk urun usul kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata &#8220;you&#8221; dalam bahasa Inggris. Dari banyak usul yang masuk, menurut Ajip, akhirnya dipilih kata &#8220;anda&#8221; yang diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang.</em></p>
<p><em>Dalam tulisannya, menurut Ajip, setelah lewat setengah abad, keinginan Rosihan Anwar untuk menemukan satu kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata &#8220;you&#8221; dalam bahasa Inggris ini tidak berhasil tercapai.</em></p>
<p><em>Benarkah? Sebagai orang yang mengenal Rosihan Anwar secara pribadi, di <a href="http://groups.yahoo.com/group/bahtera">milis Bahtera</a></em><em>, Akhmad Bukhari Saleh (ABS) menjabarkan sedikit cerita di balik layar tentang peristiwa ini: alasan pencarian, alternatif kata, serta mengapa &#8220;Anda&#8221; ditulis dengan diawali huruf kapital. Sebelum menyimak tulisan ini, jangan lupa untuk membaca dulu tulisan <em>Ajip Rosidi</em><em>, </em><em><a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=87338">Kegagalan &#8220;Anda&#8221;</a>.</em></em></p>
<p><span id="more-585"></span></p>
<hr />
<p><span style="background-color: #ffffff; ">Saya kenal pribadi Rosihan Anwar dan saya mengikuti prosesnya ketika kata &#8220;<em>Anda</em>&#8221; muncul di koran Pedoman. Waktu itu yang dicari memang bukan sebarang kata ganti orang kedua, melainkan kata ganti orang kedua yang menghormati saja. Menghormati, namun bukan mayestatis. Seperti &#8220;<em>U</em>&#8221; dalam bahasa Belanda. Jadi bukan mencari satu kata yang sekaligus bisa mencakup &#8220;<em>U</em>&#8221; dan &#8220;<em>jij</em>&#8220;. Dalam bahasa Belanda pun kata ganti orang kedua tidak hanya satu.</span></p>
<p>Di jaman itu kata ganti orang kedua yang menghormati memang belum ada.</p>
<p>Kata &#8220;<em>Bung</em>&#8221; yang dipakai untuk menyapa pemimpin-pemimpin bangsa jaman itu, justru asal mulanya dipakai untuk menciptakan egaliterisme di antara para pejuang kemerdekaan. Karena itu tidak dipilih oleh Rosihan.</p>
<p>Kata &#8220;<em>Bapak</em>&#8221; dalam penggunaan seperti sekarang belum ada. Menyebut &#8220;<em>Bapak Menteri</em>&#8220;, apalagi &#8220;<em>Bapak Presiden</em>&#8220;, dengan huruf kecil maupun kapital, di jaman itu merupakan derogasi. Bisa-bisa Bung Karno &#8216;menyemprot&#8217;: &#8220;Memangnya saya kawin sama ibu kamu!?&#8221;, kalau seseorang menyapa beliau dengan &#8220;<em>Bapak Presiden</em>&#8221; di jaman itu. Dan memang, status menghormati pada kata &#8220;<em>Bapak</em>&#8221; (dan &#8220;<em>Ibu</em>&#8220;) yang ada sekarang ini adalah hasil &#8216;kerja&#8217; Soeharto yang di tahun 1966 menggusur&#8217; sapaan &#8220;<em>Jang Mulia (JM)</em>&#8221; dan &#8220;<em>Paduka Jang Mulia (PJM)</em>&#8221; dalam rangka politik desakralisasi terhadap Soekarno, Kabinet 100 Menteri dan DPR-GR.</p>
<p>Tadinya Rosihan mengira kata &#8220;<em>Tuan</em>&#8221; bisa dipakai. Dan dalam beberapa lirik lagu-lagu jaman itu kata &#8220;<em>Tuan</em>&#8221; sudah mulai kerap dipakai sebagai kata ganti orang kedua yang menghormati. Bahkan satu kata itu dipakai untuk kedua gender.</p>
<p>Di kalangan tentara, sapaan menghormat pada orang kedua menggunakan pangkatnya masing-masing. Namun dalam pendidikan ketentaraan, ketika semua siswa harus mencopot tanda pangkatnya, agar pelatih berpangkat rendah dapat leluasa menegur siswa berpangkat lebih tinggi, di jaman itu juga dipergunakan kata &#8220;<em>Tuan</em>&#8221; dari pelatih untuk menyapa siswa secara menghormati.</p>
<p>Tetapi ternyata penggunaan kata &#8220;<em>Tuan</em>&#8221; di kalangan tentara itulah yang justru memunculkan kontroversi karena kata &#8220;<em>Tuan</em>&#8221; di jaman itu menimbulkan kesan kebelanda-belandaan (istilah waktu itu &#8220;<em>blandis</em>&#8220;), yang tidak disukai, bahkan dibenci, karena permusuhan dengan Belanda belum lama berlalu.</p>
<p>Jadi memang karena ketiadaan kata ganti orang kedua yang menghormati itulah, maka Rosihan Anwar terdorong mencarinya.</p>
<p>Dan akhirnya menemukan kata &#8220;<em>Anda</em>&#8221; itu. Ditulis dengan kapital seperti halnya &#8220;<em>Sie</em>&#8221; dalam bahasa Jerman. Perlu diingat dalam bahasa Jerman ada juga &#8220;<em>sie</em>&#8221; yang tanpa kapital.</p>
<p>Soal kata &#8220;Anda&#8221; diusulkan seorang tentara, dan berasal dari nama penyanyi, itu pemanis cerita saja. Sebetulnya itu adalah hasil &#8216;coinage&#8217; Rosihan dan staf redaksi Pedoman sendiri dari kata &#8220;<em>andika</em>&#8220;, yang supaya &#8216;ngindonesiani&#8217; lalu di-&#8217;<em>mistik</em>&#8216; menjadi &#8220;<em>Anda</em>&#8220;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/10/dari-manakah-asal-kata-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
