Pada mulanya adalah Slamet Djabarudi, wartawan Tempo yang bahasawan, yang penasaran dengan apa sebetulnya kata dasar “memerinci“. Pada awal dasawarsa delapan puluhan saya kira. Jadi, belum ada KBBI. Pusat Bahasa masih mengandalkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Mas Poer.
Slamet memang menemukan lema PERINCI di kamus itu. Turunannya: PERINCIAN yang setali tiga uang dengan PERINCISAN. Namun, di sana tersua petunjuk bahwa bentuk baku PERINCI adalah RINCI. Pada lema RINCI ada MERINCI: (1) ‘memecahkan (membagi-bagi, menguraikan) kecil-kecil’; (2) ‘menerangkan (merancang dsb.) yang menyebutkan bagian-bagiannya yang kecil-kecil’. Ada pula turunan PERINCIAN: (1) ‘pembagian yang kecil-kecil’; (2) ‘uraian (suatu) perancangan’.