Taat Asas!

“Bu, sesudah nama pengarang harus pakai titik atau koma?

Nama pengarang harus pakai huruf kapital semua?

Judul harus dimiringkan semua?”

 

Pertanyaan bak bunyi letupan jagung berondong di microwave itu membuatku terperangah. Yang bertanya adalah Dedah, petugas yang menangani tata letak naskah pertama yang sedang kugarap, kumpulan abstrak skripsi mahasiswa ITB yang akan diterbitkan Penerbit ITB. Saat itu, akhir 1982, aku baru saja pindah kerja dari Perpustakaan Pusat ITB dan sama sekali buta perihal tata kerja di penerbit.

Taat asas! Itulah konsep pertama yang kupelajari saat menekuni dunia penerbitan. Titik dan koma, yang sebelumnya kububuhkan semauku, rupanya berfungsi penting dalam naskah. Mentorku, Pak Adjat Sakri (alm), Kepala Penerbit ITB sejak pendiriannya pada 1972, sengaja memilihkan naskah kumpulan abstrak skripsi itu sebagai naskah perdanaku. Aku sama sekali tidak perlu menyunting teksnya karena memang akan dimuat apa adanya. Mutu naskah ini adalah tanggung jawab dosen pembimbing mahasiswa penulisnya.

Dengan tekun kugarap ulang naskah itu. Kuperhatikan lagi tanda baca, jenis huruf untuk setiap unsur naskah – nama penulis, judul abstrak, nama jurusan. Kuperhatikan juga jarak antarbaris, takuh (indentation) paragraf, dan posisi teks – semua harus seragam rata kiri, sementara ujung kanan naskah dibiarkan bergerigis. Penerbit ITB juga menganut gaya selingkung untuk tidak memenggal kata di akhir baris. Menurut Pak Adjat, yang juga dosen Jurusan Seni Rupa ITB, naskah dengan tepi kanan bergerigis tampak lebih segar, tidak kaku seperti naskah papak kiri-kanan.

Masih banyak hal lain yang kupelajari tentang ketaatasasan ini. Misalnya, semua buku Penerbit ITB, khususnya buku ajar (istilah ciptaan Pak Adjat untuk textbook) diseragamkan menjadi ukuran A5. Hanya dalam keadaan khusus sajalah digunakan ukuran lain, misalnya B5 untuk buku arsitektur atau seni rupa. Pertimbangannya adalah agar penggunaan lembaran kertas lebih efisien, buku tampak rapi di rak perpustakaan, dan mudah masuk ke tas punggung mahasiswa.

Jenis dan ukuran huruf pun diseragamkan. Untuk buku ajar dipilih Times New Roman 10 pt. Font ini dipilih karena termasuk jenis huruf berkait (serif) yang, menurut Pak Adjat, lebih mudah dibaca dalam naskah panjang. Ukuran 10 pt dipilih karena kejelahannya memadai untuk pembaca seusia mahasiswa.

Mengenai ukuran huruf ini, aku jadi teringat pengalamanku pada 1994 ketika selama sebulan mengunjungi Negeri Paman Sam, sebagai tamu atas undangan Presiden Bill Clinton dalam International Visitor Program. Di San Francisco, aku masuk ke toko buku novel khusus ber-genre misteri, genre kesukaanku. Ada satu rak khusus buku berukuran agak besar dan… ukuran huruf di bukunya pun lebih besar, 14pt, padahal biasanya 10 pt. Rupanya, penerbit Amerika sangat memperhatikan kebutuhan pembaca senior sehingga sengaja menerbitkan edisi khusus ini. Wow!

Demikianlah, hari demi hari, semakin banyak pelajaran yang kupetik dari dunia penerbitan yang mengasyikkan ini. Aku belajar bukan saja dari mentorku yang luar biasa, tetapi juga dari para petugas di bagian percetakan. Perlu kuingatkan lagi, tahun itu 1982, dan komputer masih belum dikenal. Semua naskah diketik dengan mesin tik. Setelah teks naskah yang kuperiksa dan perbaiki itu direvisi oleh juru tik, perbaikannya masih harus kuperiksa lagi. Kalau masih ada salah tik, direvisi lagi. Begitu berulang-ulang sampai aku (atau penulis naskah) menyatakan tidak ada lagi salah tik!

Berbicara soal salah tik, pikiranku melayang ke negeri Duke of Cambridge, tempatku belajar mengenai dunia penerbitan pada 1982. Para pemeriksa teks ini – proofreader – mendapat kantor istimewa di penerbit. Lantai lorong di depan kantornya ditutupi karpet tebal sepanjang 3-4 meter. Tujuannya agar si proofreader tidak terganggu konsentrasinya oleh bunyi tapak sepatu orang yang melewati kantornya!

Ah… tak terasa panjang tulisan ini sudah melebihi 600 kata. Aku harus taat asas memenuhi niatku untuk menulis maksimum 600 kata atau 3000-an karakter. Pamit dulu… aku harus melakukan swasunting  … dan inilah hasil akhirnya!

 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/sofia-mansoor/taat-asas/10152175776521228

Salah satu alasan mengapa bahasa Indonesia itu keren adalah karena pembentukan kata dalam bahasa Indonesia cukup mudah dan berpola. Imbuhan atau afiks adalah alat bantu penting dalam proses tersebut yang dapat mengubah fungsi, bentuk, serta makna suatu kata. Ada tiga jenis imbuhan dalam bahasa Indonesia, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), dan akhiran (sufiks). Di antara ketiga jenis imbuhan tersebut, awalan adalah yang paling kompleks aturannya.

Read the rest of this entry

,

Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun mempunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semua ragam tersebut memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.

Read the rest of this entry

Pemerhati bahasa dari kalangan kolot sering bersikukuh pada tata aturan yang kaku. Ia cenderung bergerak antara dua kutub betul-salah, seakan-akan bahasa adalah sebentuk soal pilihan ganda pada ujian anak sekolah yang tak dapat ditawar—maka ia jadi tertutup, normatif. Sepadan dengan wataknya, tata bahasa tradisional yang mereka anut itu kentara sekali mencerminkan cara berpikir deduktif, kurang memperlihatkan keinginan menerima bentuk-bentuk bahasa di luar aturan yang sudah ada. Padahal, seperti nanti akan kita lihat, tidak semua gejala kebahasaan dapat dirumuskan ke dalam kaidah yang disertai ukuran-ukuran betul-salah.

Read the rest of this entry

…Dort, wo man Bücher Verbrennt, verbrennt man auch am Ende Menschen.
…manakala mereka sudah membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia
Heinrich Heine (1797-1856)

Bahasa tidak hanya menyangkut ejaan dan tata kalimat. Selain rambu-rambu kebahasaan, pengguna bahasa juga mesti peduli pada logika. Pernah dalam sebuah majalah saya menemukan kalimat: ”. . . , ujar Thierry Powis saat melenggang bersama kapalnya (kapal pesiar—EE) . . . .” Rupanya si Powis ini mirip Nabi Isa yang, berkat mukjizat, dapat berjalan di atas air memarani perahu murid-murid-Nya yang dipermainkan angin sakal. Belum habis heran saya, di halaman lain mata saya menumbuk kalimat: ”Dengan cuek ia terus bicara dengan telepon selulernya.” Sedang terganggukah ingatannya?

Read the rest of this entry