<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Bahtera &#187; Setyadi Setyapranata</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/author/setyadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Apr 2010 12:33:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Back Translation</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 22:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717</guid>
		<description><![CDATA["Back translation" adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan "Terjemahan balik." Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Back translation</em>&#8221; adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang  mungkin tepat untuk dipadankan dengan &#8220;Terjemahan balik.&#8221; Istilah ini bermakna  menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa  B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat  berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk  memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh  penulisnya.</p>
<p><span id="more-717"></span>Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang  belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya,  tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan  semacam itu saya namakan &#8220;terjemahan instan.&#8221;</p>
<p>Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin  jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.</p>
<p>Contohnya, kalimat sederhana seperti</p>
<blockquote><p><strong>DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.</strong></p></blockquote>
<p>dengan serta-merta, secara &#8220;instan,&#8221; cenderung langsung saja diterjemahkan  menjadi</p>
<blockquote><p><strong>DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.</strong></p></blockquote>
<p>Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut  dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan  yang berbeda, misalnya:</p>
<blockquote><p><strong>David loves his wife, and me too.</strong></p></blockquote>
<p><strong> </strong></p>
<p>0. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<p>1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<p>2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.</p>
<p>3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<p>4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga  mencintai isteri Peter.</p>
<p>5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<p>6. dst … dst…</p>
<h3><strong>Proses Terjemahan Balik</strong></h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian  diterjemahkan <strong>balik</strong> oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris.  Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima  terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan  lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari  konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula. <ins datetime="2010-04-06T20:59" cite="mailto:Microsoft"></ins></p>
<p>0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and me too.</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>b. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and David (also) loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and David loves me too.</strong></p></blockquote>
<p>2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I (also) love mine.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, I love mine too.</strong></p></blockquote>
<p>3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves his wife, and I also love David’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves his wife, and I love David’s wife too.</strong></p>
<p><strong>c. David loves his wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, so do I.</strong></p></blockquote>
<p>5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.</p>
<blockquote><p><strong>a. David loves Peter’s wife, David also loves me.</strong></p>
<p><strong>b. David loves Peter’s wife, he loves me too. </strong></p></blockquote>
<p>6.A.. dst … dst…</p>
<h3><strong>Lessons Learnt</strong></h3>
<ol>
<li>Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita  tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus &#8220;curiga&#8221; kalau  menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks  materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita  terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa &#8220;populer&#8221; atau  bahasa &#8220;gaul.&#8221;</li>
<li>Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat,  mintalah tolong kepada rekan lain untuk <strong>menerjemahkan</strong> <strong>balik</strong> terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada  bertanya tentang &#8220;arti&#8221; atau maksud kalimat aslinya.</li>
<li>Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki  kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik)  kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita  yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini  kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga  merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan  (<em>readability</em>) tulisan kita.</li>
<li>Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang  mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya  (<em>translatability</em>). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah  menghasilkan karya yang berprinsip &#8220;terjemahan berdasar makna,&#8221;  (<em>meaning-based</em> <em>translation</em>) alih-alih &#8220;berdasar bentuk.&#8221;  (<em>form-based translation</em>).</li>
<li>Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur  <em>back translation </em>dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan  &#8220;gaya selingkung&#8221; produknya. <em> </em></li>
</ol>
<p><em>Malang, 7 April 2010. Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sexy</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 17:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>
		<category><![CDATA[sexy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy. Siapakah Bahterawati yang paling sexy?

Simak pembahasan dengan nada santai dan canda dari Pak Setyadi tentang istilah ini di Blog Bahtera. Mungkin cocok untuk sekadar iseng menemani akhir pekan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan <em>sexy</em>”. Kalimat ini bukan suatu  pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin  menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan <em>sexy</em>. Biasanya orang  sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “<em>sexy</em>” meski akan susah  menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun  demikian mereka, terutama <em>cewek</em>, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun  anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan <em>sexy</em>.</p>
<p><span id="more-663"></span>Orang yang tahu tata bahasa bisa saja mengandalkan kamus untuk mencari makna  istilah tersebut. Jawaban singkat memang gampang didapat dari kamus: <em>S</em><em>ex,</em> nomina, organ atau kategori yang membedakan makhluk lelaki dari perempuan,  titik. Namun, untuk adjektiva <em>sexy, </em>jawab kamus akan “ngaco” juga bila  diterjemahkan. Di sana ada <em>amorous</em>, <em>lustful</em>, <em>sensual</em>,  <em>erotic</em>, <em>passionate</em>, dan sebagainya yang semua boleh dikata  mengarah atau mengacu pada gairah, hasrat, minat bercinta, atau, gamblangnya,  nafsu berahi.</p>
<p>Benarkah para cewek kini ingin berpenampilan mengundang nafsu seperti itu?  Inilah persoalan bahasa yang menarik karena istilah itu berasal dari bahasa  asing. Maknanya bisa multitafsir.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> sebenarnya belum terlalu lama masuk khazanah budaya  Indonesia. Istilah yang lebih populer pada awal tahun 50-an adalah <em>sex  appeal</em>, atau daya tarik seks. Bintang film yang hebat daya tarik seksnya  disebut sebagai bom seks.  <em>Icon</em> bom seks yang paling terkenal pada masa  itu adalah Marilyn Monroe. Pada masa itu, istilah <em>sex appeal</em> ataupun bom  seks biasanya lebih mengacu kepada, maaf, ukuran payudara (saja). <em>Cewek</em> yang  ukuran miliknya besar dijuluki sebagai “marilin monru”. Percaya atau tidak, pada  masa itu orang akan merasa malu bila dijuluki (mungkin disindir) sebagai marilin  monru.</p>
<p>Istilah <em>sexy</em> baru muncul dan jadi populer menyusul beredarnya film  serial Amerika berjudul “<em>Sexy</em> <em>Susan”</em>. Kemudian dilatahi film  Indonesia “Inem Pelayan Seksi” di era 1960-an. Dari era itulah kiranya mulai  muncul citra yang tidak semata-mata terpusat pada wilayah dada. Dan orang tak  merasa malu lagi, bahkan bangga, disebut <em>sexy</em>. Benarkah pergeseran citra  kesyahwatan beriringan dengan “dinamika bahasa”?</p>
<p>Pada era tersebut mulai juga proses “pembelajaran” bagi kaum muda tentang  budaya berpacaran ala barat yang direpresentasikan oleh adegan dalam film  Amerika. Ambil contoh misalnya kata cium dengan derivasinya “berciuman”. Dalam  etimologi Indonesia jelas bahwa kegiatan itu dilakukan dengan indra hidung. Dan  memang itulah cara asli orang Indonesia dulu berciuman, hidung menempel pipi  (<em>Kamus Moderen Sutan Zain</em>). Sedangkan padanan bahasa Inggris <em>kiss</em> adalah sentuhan dengan bibir (<em>kamus Webster</em>), bukan hidung. Bahkan pada  masa itu pula mulai terdengar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Onomatope">onomatope</a> “cipok”, bunyi dua pasang bibir  yang berkecupan (KBBI). Bunyi itu tak mungkin dihasilkan oleh sentuhan hidung  pada pipi. Inikah contoh pameo “bahasa menunjukkan bangsa”?</p>
<p><em>Icon</em> klasik yang mewujud sifat <em>sexy</em> juga semakin tidak populer.  Orang sudah hampir lupa simbol-simbol ke-<em>sexy</em>-an tempo dulu yang lebih  santun, misalnya hidung (Cleopatra), senyum (Monalisa), dan betis (Ken Dedes).</p>
<p>Para selebritas layar kaca dan pengasuh <em>infotainment</em> juga pada sewot  mengurai istilah <em>sexy.</em> Julia Perez merasa <em>sexy </em>tapi tidak <em>sensual. </em>Dewi Persik emoh disebut seronok, namun menurut seorang <em>presenter</em>,  dia semakin liar, sangat <em>sexy</em> bahkan boleh dikata <em>vulgar. </em>Konon  ke-<em>sexy</em>-an Cinta Laura ada pada suaranya. Mulan Jameela merasa tidak <em>sexy </em>walau  dibilang bahwa yang mendongkrak namanya adalah ke-<em>sexy</em>-an.</p>
<p>Secara naluriah tentunya kaum lelakilah yang menjadi “sasaran” perempuan yang  ingin berpenampilan <em>sexy. </em>Namun demikian belum banyak kaum Adam bersuara  tentang masalah ini. Paling-paling mereka <em>ngerumpi</em> tentang asyiknya menikmati  bermacam goyang para pesohor layar kaca itu. Selama ini belum banyak terdengar  lelaki yang mendambakan pacar se-<em>sexy</em> Dewi Persik, Inul, atau Sarah Azhari.  Bahkan ada gejala meluas, idola fisik mereka telah bergeser ke citra Happy Salma  atau Diah Permatasari, yang tentu tidak mungkin dibanding dengan Monroe ataupun  Persik.</p>
<p>Siapakah Bahterawati yang paling <em>sexy</em>? Apakah Sang Evangelist bahasa  Indonesia tidak ingin meng-Indonesia-kan istilah ini? Tolonglah!</p>
<p><em>Penulis: Setyadi Setyapranata.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/sexy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Ciri Bahasa Indonesia Baku</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 04:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun mempunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semua ragam tersebut memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun mempunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semua ragam tersebut memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.</p>
<p><span id="more-631"></span>Di samping ragam yang berdasar wilayah penuturnya, ada beberapa ragam lain dengan dasar yang berbeda, dengan demikian kita mengenal bermacam ragam bahasa Indonesia (ragam formal, tulis, lisan, bidang, dan sebagainya); selain itu ada pula ragam bidang yang lazim disebut sebagai <em>laras bahasa.</em> Yang menjadi pusat perhatian kita dalam menulis di media masa adalah “bahasa Indonesia ragam baku”, atau disingkat “bahasa Indonesia baku”. Namun demikian, tidaklah sederhana memerikan apa yang disebut “ragam baku”</p>
<p>Bahasa Indonesia ragam baku dapat dikenali dari beberapa sifatnya. Seperti halnya dengan bahasa-bahasa lain di dunia, bahasa Indonesia menggunakan bahasa orang yang berpendidikan sebagai tolok ukurnya. Ragam ini digunakan sebagai tolok ukur karena kaidah-kaidahnya paling lengkap diperikan.  Pengembangan ragam bahasa baku memiliki tiga ciri atau arah, yaitu:</p>
<ol>
<li>Memiliki kemantapan dinamis yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Di sini, baku atau standar berarti tidak dapat berubah setiap saat.</li>
<li>Bersifat kecendikiaan. Sifat ini diwujudkan dalam paragraf, kalimat, dan satuan-satuan bahasa lain yang mengungkapkan penalaran dan pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal</li>
<li>Keseragaman. Di sini istilah “baku” dimaknai sebagai memiliki kaidah yang seragam. Proses penyeragam bertujuan menyeragamkan kaidah, bukan menyeragamkan ragam bahasa, laras bahasa, atau variasi bahasa.</li>
</ol>
<p>Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) menghimpun ciri-ciri kaidah bahasa Indonesia baku dalam buku  berjudul <em>Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia, </em>di samping <em>Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. </em>Dalam kedua naskah tersebut terdapat banyak kaidah yang merupakan pewujudan ciri bahasa Indonesia baku.</p>
<h3><strong>Mengapa Harus Baku?</strong></h3>
<p><strong> </strong>Banyak orang kurang menyetujui pemakaian bahasa “baku” karena mereka kurang  memahami makna istilah itu. Mereka mengira bahasa yang baku selalu bersifat kaku, tidak lazim digunakan sehari-hari, atau bahasa yang hanya terdapat di buku. Mereka berpendirian bahwa kita cukup menggunakan bahasa yang komunikatif, maksudnya mudah dipahami. Mereka beranggapan bahwa penggunaan ragam baku mengakibatkan bahasa yang kurang komunikatif dan sulit dipahami.  Pemahaman semacam ini harus diluruskan. Keterpautan bahasa baku dengan materi di media massa ialah bahwa ragam ini yang paling tepat digunakan supaya bahasa Indonesia berkembang dan dapat menjadi bahasa iptek, bahasa sosial, atau pun bahasa pergaulan yang moderen. Bahasa yang baku tidak akan menimbulkan ketaksaan pada pemahaman pembacanya. Ragam bahasa baku akan menuntun pembacanya ke arah cara berpikir yang bernalar, jernih, dan masuk akal. Bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lain di Eropa, bisa menjadi bahasa dunia dan bahasa komunikasi dalam ilmu pengetahuan karena tingginya sifat kebakuan bahasa-bahasa tersebut.</p>
<p>Di samping itu, bahasa baku dapat menuntun baik pembaca maupun penulisnya ke arah penggunaan bahasa yang efisien dan efektif. Bahasa yg efisien ialah bahasa yg mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku dengan mempertimbangkan  kehematan kata dan ungkapan.  Bahasa yang efektif ialah bahasa yang mencapai sasaran yang dimaksudkan  (Moeliono, 2002).</p>
<p>Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan kebakuan kalimat, antara lain:</p>
<ol>
<li>Pelesapan imbuhan, misalnya “Kita harus <em>hati-hati </em>dalam menentukan sample penelitian ini” (seharusnya “<em>berhati-hati”</em>).</li>
<li>Pemborosan kata yang menyebabkan kerancuan atau bahkan kesalahan struktur kalimat, misalnya “<em>Dalam</em> rapat pimpinan kemarin memutuskan susunan pengurus baru” (kata <em>dalam </em>dapat dibuang).</li>
<li>Penggunaan kata yang tidak baku, termasuk penggunaan kosakata bahasa daerah yang belum dibakukan. Contoh, “Percobaan yang dilakukan <em>cuma</em> menemukan sedikit temuan” (Cuma diganti <em>hanya</em>).</li>
<li>Penggunaan kata hubung yang tidak tepat, termasuk konjungsi ganda, misalnya ”<em>Meskipun</em> beberapa ruang sedang diperbaiki, <em>tetapi</em> kegiatan sekolah berjalan terus.” (konjungsi <em>tetapi </em>sebaiknya dihilangkan karena sudah ada konjungsi  <em>meskipun</em>).</li>
<li>Kesalahan ejaan, termasuk penggunaan tanda baca.</li>
<li>Pelesapan salah satu unsur kalimat, misalnya ”Setelah dibahas secara mendalam, <em>peserta rapat </em>menerima usul tersebut” (subjek anak kalimat ‘<em>usul</em> <em>tersebut</em>’ tidak boleh dilesapkan).</li>
</ol>
<p>Buku Sabarianto (2001) dalam daftar pustaka di bawah memuat beberapa contoh tentang penggunaan bahasa Indonesia baku.</p>
<h3><strong>Pustaka Pilihan</strong></h3>
<ol>
<li>Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. <em>Tata Bahasa Baku Bahasa  Indonesia. </em>Jakarta: Perum Balai Pustaka</li>
<li>Moeliono, Anton M. 2002. <em>“</em>Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek”,  makalah lepas.</li>
<li>Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1979. <em>Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. </em>Jakarta: Balai Pustaka</li>
<li>Sabarianto, Dirgo. 2001. <em>Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa  Indonesia. </em>Jakarta: Mitra Gama Widya</li>
<li>Sakri, Adjat. 2002. <em>Diktat Perlatihan. </em>Jakarta: Dikti Diknas, Proyek Peningkatan  Kualitas Sumber Daya Manusia.</li>
</ol>
<p><em>Dihimpun oleh: Setyadi Setyapranata, Universitas Negeri Malang (UM), Februari/Maret 2005.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah penggunaan kamus yang asal-asalan: Papaya banyak berserat</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/masalah-penggunaan-kamus-yang-asal-asalan-papaya-banyak-berserat/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/09/masalah-penggunaan-kamus-yang-asal-asalan-papaya-banyak-berserat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 04:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Itulah yang sering dikatakan oleh para ahli nutrisi. Tentu saja pernyataan itu dapat membingungkan orang kebanyakan, sebab yang mereka tahu, serat adalah bahan berbentuk mirip benang, seperti yang terdapat pada batang pohon pisang. Serat yang dimaksud oleh ahli nutrisi sebenanya adalah istilah serapan dari bahasa Inggris fiber yang salah satu padanannya di dalam kamus memang serat. Dari kamus yang bagus dapat ditemukan lebih dari lima makna fiber, yang salah satunya, seperti yang dimaksud ahli nutrisi tersebut, adalah sari zat tumbuhan yang berkhasiat melancarkan pencernaan. Tanpa peduli adanya multi makna itu, ahli nutrisi langsung saja mencomot makna nomor satu, serat, karena tak dapat menemukan atau “mencipta” istilah lain yang tepat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Itulah yang sering dikatakan oleh para ahli nutrisi. Tentu saja pernyataan  itu dapat membingungkan orang kebanyakan, sebab yang mereka tahu, serat adalah  bahan berbentuk mirip benang, seperti yang terdapat pada batang pohon pisang.  Serat yang dimaksud oleh ahli nutrisi sebenanya adalah istilah serapan dari  bahasa Inggris <em>fiber</em> yang salah satu padanannya di dalam kamus memang  <strong>serat.</strong> Dari kamus yang bagus dapat ditemukan lebih dari lima makna<em> fiber</em>, <em>yang</em> salah satunya, seperti yang dimaksud ahli nutrisi  tersebut, adalah sari zat tumbuhan yang berkhasiat melancarkan pencernaan. Tanpa  peduli adanya multi makna itu, ahli nutrisi langsung saja <em>mencomot</em> makna  nomor satu, serat, karena tak dapat menemukan atau “mencipta” istilah lain yang  tepat.</p>
<p><span id="more-472"></span>Kasus mirip juga ada pada istilah <em>trauma</em><em>. </em>Seorang reporter TV  melaporkan bahwa ribuan pengungsi tsunami menderita <em>trauma</em> berat, dan  dikabarkan <em>t</em><em>rauma center</em> di rumah sakit dipadati penderita  <em>trauma</em>. Reporter tersebut tidak tahu bahwa <em>trauma </em>yang kedua  berarti luka parah, misalnya pada korban kecelakaan. Jadi, <em>trauma</em> <em>center</em> jelas bukan tempat perawatan penderita trauma, melainkan tempat  merawat penderita luka parah.</p>
<p><strong>Asam urat</strong></p>
<p>Pernah terbaca iklan pengobatan alternatif menawarkan jasa penyembuhan  <em>urat</em> yang mengalami pengasaman. Ternyata istilah <em>asam urat</em> tidak  ada kaitannya dengan urat. Istilah itu adalah padanan <strong><em>uric</em></strong><em> </em>atau <strong><em>urate</em></strong><em> acid. </em>Karena di dalam kamus Indonesia tidak  ada padanan <em>pas</em> untuk <em>urate</em><em>, </em>apa boleh buat, diambil saja  kata urat, walau diketahui sudah ada kata <strong>u</strong><strong>rat </strong>yang bermakna  lain.</p>
<p><strong>Petinju kelas terbang</strong></p>
<p><strong> </strong><em>Flyweight</em>, peringkat petinju berdasarkan berat badan  diindonesiakan menjadi kelas “terbang”, disamping kelas bantam  (<em>bantamweight</em>), dan bulu (<em>featherweight</em>). Susah kita mencari  logika bahasa antara ketiga padanan tersebut dengan peringkat berat badan.  Selidik-punya-selidik, ternyata yang dimaksud dengan <em>fly</em> pada istilah  aslinya bukannya “terbang”, melainkan “lalat” yang bahasa Inggrisnya memang juga  <em>fly. </em>Lagi-lagi, hal ini juga sebagai dampak pemanfaatan kamus yang kurang  peduli dan kurang teliti.</p>
<p><strong>Papan kunci dan manager garis</strong></p>
<p>Semua pengguna komputer pasti mengenal <em>keyboard</em><em>. </em>Sedemikian  lazimnya nama tersebut, sehingga dengan serta merta orang mengindonesiakannya  dengan <strong>papan kunci, </strong>tanpa peduli bahwa pengindonesiaan demikian <em>tidak  nyambung</em> dengan makna sebenarnya. Dalam konsep bahasa Indonesia,  <strong>papan</strong> <strong>kunci</strong> adalah papan tempat  menggantungkan kunci, yang biasa  ditempel di tembok ruang penjaga kantor, bukan bagian komputer.</p>
<p>Pada kasus yang mirip, di dalam sebuah buku ajar manajemen terdapat istilah  <strong>manager garis</strong> yang dimaksudkan sebagai padanan <em>line manager</em>.  Pengindonesiaan model <strong>papan kunci</strong> dan <strong>manager garis</strong> ini,  lagi-lagi, juga dampak penggunaan kamus yang asal-asalan. Dikatakan asal-asalan  karena padanan itu terlalu katawi yang hanya berdasar terjemahan kata tanpa  mempedulikan makna yang terkandung di balik kata itu.</p>
<p><strong>Basis data</strong></p>
<p>“Basis data” dimaksudkan sebagai padanan istilah <em>data base</em>. Sepintas  lalu pemadanan ini bagus, cukup mudah dimengerti karena ejaan dan makna setiap  unsurnya mirip dengan aslinya. Namun demikian, orang yang cermat menyisir kamus  menemukan kata <em>pangkalan data</em> lebih tepat ketimbang <em>basis</em> data.  <strong>Pangkalan, </strong>menurut kamus, merupakan tempat menimbun barang, sedangkan  <strong>basis </strong>lebih cenderung bermakna tumpuan melakukan operasi militer. Namun  demikian, banyak orang menertawakan bentuk ini dan meledeknya dengan  menyejajarkan dengan pangkalan ojek.</p>
<p><strong>Polemik</strong></p>
<p><strong> </strong>Di dalam masyarakat, terutama masyarakat penerjemah, seolah ada dua  “kubu”. Keduanya merasa mengemban misi meningkatkan martabat dan mutu bahasa  nasional lewat pengindonesiaan istilah iptek, namun mereka menggunakan prinsip  yang justru berlawanan. Menurut kubu pertama, penyerapan bahasa asing dengan  sekadar penyesuaian akan memperkaya bahasa nasional dengan cara lebih efektif,  sedangkan kubu kedua berupaya memperkaya bahasa dengan menggali kosakata asli  negeri sendiri.</p>
<p><strong> </strong>Menurut kubu pertama, upaya pengindonesiaan itu mubazir karena  hasilnya justru sering lebih susah dipahami daripada istilah aslinya, dan juga  menggelikan. Biasanya dicontohkan produk Pusat Bahasa sejenis <em>sangkil</em> dan  <em>mangkus</em> yang “tidak laku” di masyarakat. Kenyataan sebenarnya, di  masyarakat telah banyak istilah ciptaan para pendahulu kita yang berterima dan  dianggap bagus. Seandainya istilah-istilah tersebut dicipta masa kini, mungkin  oleh penganut kubu pertama akan dianggap mubazir dan menggelikan, misalnya  <strong>sunting</strong> (<em>edit</em>), <strong>berat jenis</strong> (<em>specific</em><em> gravity</em>), <strong>kelola</strong> (<em>manage</em>), <strong>judul</strong> (<em>title</em>), dan  sebagainya. Dari contoh-contoh di atas, rupa-rupanya kubu apapun yang dianut,  masalah logika bahasa tidak boleh diabaikan.</p>
<p><em>Dimuat di Majalah Tempo, Edisi No. 3701, Maret 2008, halaman 62.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/09/masalah-penggunaan-kamus-yang-asal-asalan-papaya-banyak-berserat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih sing ayu apa sing setya? Pilih yang cantik atau yang setia?</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/</link>
		<comments>http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 17:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Setyadi Setyapranata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[Ing kalangan para penerjemah wis suwe ana pasemon mitos sing kira-kira ngene unine: “Jarwan (terjemahan) sing becik lan ideal iku jarwan sing setya lan endah nyengsemake”. Banjur ana sing ngumpamaake mitos iku karo sipate pacar: “Sipate jarwan iku kaya dene pacar, pacar sing ayu rupane biasane ora setya, lan sing setya biasane ora ayu”. Sing dikarepake jarwan sing setya yaiku sing wujud (bentuk linguistik), isi (makna), lan ancase (tujuan) ora mlenceng seka tulisan asline. Dene jarwan sing endah nyengsemake iku sing basane becik, surasane apik, lan paramasastra sarta pandungkapane luwes lan layak (idiomatis).

-----

Di kalangan para penerjemah sudah lama ada perumpamaan mitos yang kira-kira demikian bunyinya: “Terjemahan yang bagus dan ideal itu penerjemahan yang setia dan indah menarik hati.” Selanjutnya ada yang mengumpamakan mitos tersebut dengan sifat pacar: “Sifat terjemahan itu dapat diumpamakan pacar; pacar yang cantik wajahnya biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.” Yang dimaksud terjemahan yang setia adalah terjemahan yang wujud (bentuk linguistik), isi (makna) dan tujuannya tidak mlenceng dari tulisan aslinya. Sedangkan terjemahan yang indah menarik hati itu bahasanya indah, bunyinya bagus, dan nilai sastra serta pengungkapannya luwes dan idiomatis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Ing kalangan para penerjemah wis suwe ana pasemon mitos sing kira-kira ngene unine: “Jarwan (terjemahan) sing becik lan ideal iku jarwan sing setya lan endah nyengsemake”. Banjur ana sing ngumpamaake mitos iku karo sipate pacar: “Sipate jarwan iku kaya dene pacar, pacar sing ayu rupane biasane ora setya, lan sing setya biasane ora ayu”. Sing dikarepake jarwan sing setya yaiku sing wujud (bentuk linguistik), isi (makna), lan ancase (tujuan) ora mlenceng seka tulisan asline. Dene jarwan sing endah nyengsemake iku sing basane becik, surasane apik, lan paramasastra sarta pandungkapane luwes lan layak (idiomatis).</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Di kalangan para penerjemah sudah lama ada perumpamaan mitos yang kira-kira demikian bunyinya: “Terjemahan yang bagus dan ideal itu penerjemahan yang setia dan indah menarik hati.” Selanjutnya ada yang mengumpamakan mitos tersebut dengan sifat pacar: “Sifat terjemahan itu dapat diumpamakan pacar; pacar yang cantik wajahnya biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.” Yang dimaksud terjemahan yang setia adalah terjemahan yang wujud (bentuk linguistik), isi (makna) dan tujuannya tidak mlenceng dari tulisan aslinya. Sedangkan terjemahan yang indah menarik hati itu  bahasanya indah, bunyinya bagus, dan nilai sastra serta pengungkapannya luwes dan idiomatis.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span id="more-237"></span></p>
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Bokmenawa wae mitos mengkono iku nganti seprene isih akeh dipercaya lan dianut, utamane dening para penerjemah profesional buku lan artikel ilmiah utawa iptek. Beda karo para penerjemah iptek, para penerjemah pakaryan sastra (utamane geguritan/puisi) saiki akeh sing ora pati sarujuk karo mitos ngono iku, mula surasane rada ‘diplintir’ mangkene unine “Yen kepingin oleh pacar sing ayu, goleka sing ora setya”.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Bisa jadi mitos tersebut sampai sekarang masih banyak dipercaya dan dianut, terutama oleh para penerjemah profesional buku dan artikel ilmiah atau iptek. Berbeda dengan para penerjemah iptek, para penerjemah karya sastra (terutama puisi) banyak yang tidak setuju dengan mitos tersebut, karena itu ungkapannya agak ‘diplintir’ menjadi “Jika ingin punya pacar yang cantik, carilah yang tidak setia’.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono">Sapardi Djoko Damono</a> menehi conto, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a> sing kondhang karya jarwan geguritane apik-apik banget, nanging biasane ora setya, malah kapara nyidrani (mengkhianati/nylewengi) naskah asline. Contone geguritan asli basa Inggris, Huesca, karyane John Comford sing dijarwaake Chairil Anwar menyang basa Indonesia, oleh pangalembana dening sapa wae sing maca jarwan mau. Karya jarwane Chairil Anwar iku pancen rasa seni geguritane kenthel banget, nyengsemake, lan kepenak diwaca. Andek ngono para nupiksa ing babagan geguritan akeh sing padha ngarani yen janjane mono jarwan iku mau ora setya marang isi lan wujude geguritan asline. Malah ana sing mawas yen isine ora cocok karo apa sing dikarepake panggurit asline. Kanggone Sapardi, kasus ini bukti sing nyata yen sing ‘ayu’ iku ora kudu setya, mula dheweke ora wedi, ora wigih nyidrani (istilahe Sapardi ‘mengkhianati’) tulisan asline nalika dheweke njarwaake geguritan. Malah ngaku asring sengaja mengkhianati tulisan asline supaya oleh asil sing “ayu”.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sapardi_Djoko_Damono">Sapardi Djoko Damono</a> memberi contoh, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar">Chairil Anwar</a> yang terkenal itu karya-karya terjemahan puisinya sangat indah, tetapi biasanya tidak setia, bahkan boleh dibilang ‘mengkhianati’ naskah aslinya. Contohnya puisi asli berbahasa Inggris, <em>Huesca</em>, karya John Comford yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar ke dalam bahasa Indonesia, mendapat banyak pujian dari siapa pun yang membaca puisi terjemahan tersebut. Karya terjemahan Chairil Anwar tersebut memang rasa seni puisinya sangat kental, sangat indah, enak dibaca. Meskipun demikian, banyak kritikus puisi yang menilai bahwa sebetulnya terjemahan tersebut tidak setia terhadap isi dan bentuk puisi aslinya. Bahkan ada yang mengritik bahwa isinya tidak cocok dengan yang dimaksud oleh penulis puisi yang asli. Bagi Sapardi, kasus ini merupakan bukti nyata bahwa yang ‘cantik’ itu tidak harus setia, dengan demikian Sapardi tidak ragu-ragu mengkhianati tulisan aslinya, pada waktu dia menerjemahkan puisi. Bahkan mengaku sering sengaja mengkhianati tulisan aslinya, agar mendapat hasil yang ‘cantik’.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Kanggo nandhingake conto jarwan sing ‘ayu’ lan sing ‘setya’, ing ngisor iki ana jarwan basa Jawa loro seka sawijining geguritan asli basa Inggris. Sawise maos jarwan-jarwan iki, para pamaos bisa milih endi sing disenengi, sing ayu apa sing setya.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Untuk membandingkan contoh terjemahan yang ‘cantik’ dan yang ‘setia’, di bawah ini ada terjemahan berbahasa Jawa dari puisi asli berbahasa Inggris. Setelah membaca terjemahan ini, para pembaca dapat memilih mana yang disukai, yang cantik atau yang setia.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr style="width: 80%; text-align: center;" size="1" />
<p style="text-align: center;"><em><strong>How happy is the little stone</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>How happy is the little Stone<br />
That rambles in the Road alone,<br />
And doesn’t care about Careers<br />
And Exigencies never fears…<br />
Whose Coat of elemental Brown<br />
A passing Universe put on,<br />
And independent as the Sun<br />
Associates or glows alone,<br />
Fulfilling absolute Decree<br />
In casual simplicity<br />
(<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Emily_Dickinson">Emily Dickinson</a></em><em>, 1830-1886)</em></p>
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style: italic;" width="50%">
<p style="text-align: center;"><em><strong>Watu Klungsu</strong></em></p>
<p style="text-align: center;">Saiba senenge watu klungsu<br />
Dolan dhewekan neng tengah dalan<br />
Ora maelu sakehing gegayuhan<br />
Ora kesamaran nandhang cingkrang<br />
Nganggo jas warna soklat<br />
Paringane jagat kang mbeneri lewat<br />
Uripe merdika kaya surya<br />
Bisa bebrayan bisa suminar tanpa kanca<br />
Nyanggemi patembayan sawiji<br />
Kanthi prasaja, kanthi permati<br />
(A. Effendi Kadarisman)</td>
<td style="padding: 5px;"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: center;"><em><strong>Saiba senenge dadi kerikil</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kaya apa bungahe si watu cilik<br />
Kluyuran dhewe ing ratan gedhe<br />
Ora perduli tandang gawe<br />
Tanpa waswas bebaya teka<br />
Klambine deles soklat tuwa<br />
Sing nglambeni wong sakdonya<br />
Bisa merdika kaya srengenge<br />
Sing tanpa bala bisa murub dhewe<br />
Nglakoni dhawuhe Gusti ing jagad gedhe<br />
Kanthi sarana sing mung sepele<br />
(anonim)</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr style="width: 80%; text-align: center;" size="1" />
<table border="0" width="100%">
<tbody>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Sawise maca tulisan sing asli, bokmenawa para pamaos kepingin nandhing jarwan loro mau, endi sing:</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Ayu nanging ora setya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Setya nanging ora ayu</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Ayu tur setya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Ora ayu lan ora setya</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Sing ora wigatine uga nenandhing endi sing luwih “Jawa”.</span></li>
</ul>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Setelah membaca tulisan yang asli, mungkin para pembaca ingin membandingkan dua karya terjemahan tersebut, mana yang:</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Cantik tapi tidak setia</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Setia tapi tidak cantik</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Cantik dan setia</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Tidak cantik dan tidak setia</span></li>
<li><span style="background-color: #ffffff;">Yang tidak kalah penting, juga silakan membandingkan mana yang lebih ‘Jawa’.</span></li>
</ul>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Pancen ora gampang nlesih utawa milih geguritan sing luwih becik, jalaran mestine kita duwe ukuran dhewe-dhewe sing ora padha. Apa maneh rasa seni iku bisa dirasaake nanging ora gampang diwedharake. Gegayutan karo beda ukuran iku, ana bab sing luwih angel yaiku upaya napsir isine, upaya mangerteni utawa memahami pesan sing bener, kaya sing dikarepake dening panggurit asline.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Memang tidak mudah menilai mana puisi yang lebih bagus, karena kita masing-masing memiliki ukuran masing-masing yang berbeda. Apa lagi rasa seni itu bisa dirasakan, tetapi tidak mudah diungkapkan. Sehubungan dengan beda ukuran tersebut, ada hal yang lebih sulit, yaitu menafsirkan isinya, usaha memahami pesan yang benar, seperti yang dimaksud penyair aslinya.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Nanging kita ora pati perlu kuwatir utawa susah yen kita ora bisa ngerti utawa malah ‘salah tapsir’ ngenani isine pesan geguritan terjemahane, anggere kita bisa ngrasaake kaendahan rasa seni, utawa ‘ayune’ terjemahan geguritane, senajan isine ora padha karo asline iku tandhane penerjemahe kasil anggone ‘mengkhianati’ geguritan asline. Dadi, wis ora pati perlu maneh ngupaya mangerteni makna isine.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Tetapi kita tidak perlu khawatir atau susah jika kita tidak mengerti atau bahkan salah tafsir mengenai isi pesan puisi terjemahannya, asalkan kita dapat merasakan atau menikmati rasa seni atau ‘kecantikan’ terjemahan puisi tersebut. Jika kita dapat merasakan keindahan rasa seni, atau ‘kecantikan’ terjemahan puisinya, meskipun isinya tidak sama dengan aslinya, itu artinya penerjemahannya berhasil dalam ‘mengkhianati’ puisi aslinya. Jadi, tidak terlalu perlu lagi memahami makna aslinya.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Panemu mengkono iku rasane rada aneh, nanging ya pancen ngono iku akeh-akehe cara menikmati geguritan utawa karya sastra liyane. Akeh para panjarwa pakaryan sastra sing sarujuk yen njarwa (menerjemahkan) karya sastra iku mesthi nyidrani karya asline, jalaran njarwa ngono iku padha karo nyidra budaya liya kanggo kabutuhane budaya dhewe. Contone, crita pewayangan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata">Mahabarata</a> lan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana">Ramayana</a>, sing wis dianggep budaya Indonesia iku, saknyatane jarwa seka India sing wis dicidrani (dikhianati). Apa crita pakelirane ki dhalang iku “setya’ marang asline? Wis cetha banget adoh seka asline, nanging kaendahane ora ana sing maido. Ya ngono iku contone jarwan sing ora setya nanging ayu. Mesti wae yen kita bisa ngerti lan paham isi asline iku luwih becik lan mantep, mung wae akeh geguritan jarwan sing gampang dipahami nanging rasa kaendahan seni lan wiramane geguritan ora nyengsemake. Ana sing alok, ya ngono iku gara-garane yen penerjemahe nguber kasetyan lan ora pati mersudi kaendahan.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Pendapat seperti itu rasanya agak aneh, tetapi memang demikianlah umumnya cara menikmati puisi atau karya sastra lainnya. Banyak penerjemah karya sastra yang sepakat bahwa menerjemahkan karya sastra itu mesti mengkhianati karya aslinya, karena menerjemahkan itu sama saja dengan mengkhianati budaya lain (bahasa sumber), demi kebutuhan budaya sendiri (bahasa sasaran). Contohnya, cerita pewayangan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata">Mahabarata</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana">Ramayana</a>, yang sudah dianggap budaya Indonesia itu, pada kenyataannya merupakan terjemahan dari India yang sudah dikhianati. Apakah cerita pewayangan ki dhalang itu ‘setia’ terhadap aslinya? Sudah jelas sangat jauh dari aslinya, tetapi keindahannya tidak ada yang menyangkal. Demikianlah contoh terjemahan yang tidak setia namun cantik. Tentu saja jika kita dapat mengerti dan memahami isi aslinya itu lebih bagus dan mantap, akan tetapi banyak puisi terjemahan yang mudah dipahami namun rasa keindahan seni dan irama puisi tersebut tidak memukau. Ada yang berpendapat, begitulah adanya jika penerjemahnya mengejar kesetiaan dan tidak terlalu peduli pada keindahan.</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Ing babagan mitos ndhuwur iku, Sugeng Hariyanto duwe panemu sing wigati disemak. Kanggone Sugeng, tembung “setya” iku maknane setya marang kaendahan seni lan isi maknane, ora mung setya marang wujud linguistik. Yen ukuran setya iku mung tumuju marang wujud lan makna linguistik, mesthi wae menawa disemak seka wengkone mitos mau ya pancen bisa diarani ‘pengkhianatan’. Sugeng iku sawijine ahli jarwan sing mandhegani masyarakate para penerjemah ing Malang (MPM).</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Mengenai mitos tersebut di atas, Sugeng Hariyanto punya pendapat yang penting disimak. Bagi Sugeng, kata ‘setia’ tersebut maknanya setia pada keindahan seni dan isi maknanya, tidak hanya setia terhadap bentuk linguistik. Jika ukuran setia tersebut hanya tertuju pada bentuk dan makna linguistik, tentu saja jika dilihat dari sudut pandang mitos tersebut, maka memang dapat disebut ‘pengkhianatan’. Sugeng adalah penerjemah yang mengetuai masyarakat penerjemah di Malang (MPM).</p>
</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td style="font-style:italic;" width="50%">
<p style="text-align: left;">Ngracik bumbune kaendahan geguritan jarwan iku, miturut Effendi Kadarisman (pakar etnopuitika ing Universitas Negeri Malang), antarane nganggo sarana ‘ngengurip tembung’. Contone, Effendi njarwaake tembung ‘ramble’ dadi ‘dolan; ‘exigencies’ dadi ‘cingkrang’; ‘fears’ dadi ’kesamaran’. Teknik ngono iku sanepane diarani ‘ngengurip’ tembung, ‘menghidupkan kembali’ kata. Tembung ‘nguripake/menghidupkan kembali’ iku basa Inggrise to make it lively (orang mung alive), tegese nyulap tembung sing lumrah lan lugu dadi orang lumrah nanging malah suminar ngagetake (striking), sarta luwih ‘urip’. Contone tembung Inggris ‘ramble’, jarwan sing lumrah utawa lugu ‘kluyuran’, ‘nglembara’, ‘nglambrang’, ‘glandhangan’, nanging Effendi milih ‘dolan’. Tembung ‘dolan’ pancen mung ngglethek, ora lumrah katimbang jarwan utawa sinonim-sinonim liyane mau, nanging nyatane trep banget karo sipate ‘makhluk’ cilik, krikil. Bokmenawa yen milih tembung liya, ora bakal bisa luwih ‘urip’. Semono uga dheweke milih tembung ‘watu klungsu’ tinimbang ‘krikil’ utawa ‘watu cilik’. Bokmenawa wis arang banget wong Jawa sing ngerti utawa tau weruh watu klungsu, mula iku pilihan ngene iki uga klebu ‘ngenguripake’ utawa nguripake tembung sing wis ‘mati’. Bedane karo krikil biasa, watu klungsu iku dasare watu item sing atos banget, jaman biyen lumrahe watu klungsu satekem dienggo nggojagi botol supaya resik.</p>
</td>
<td style="padding:5px;" width="1%"></td>
<td width="50%">
<p style="text-align: left;">Untuk meracik bumbu keindahan puisi terjemahan tersebut, menurut Effendi Kadarisman (pakar etnopuitika di Universitas Negeri Malang), antara lain dengan sarana menghidupkan kata. Contohnya, Effendi menerjemahkan kara ‘<em>ramble</em>’ menjadi ‘<em>dolan</em>’, ‘<em>exigencies</em>’ menjadi ‘<em>cingkrang</em>’ (kekurangan), ‘<em>fears</em>’ menjadi ‘<em>kesamaran</em>’. Teknik semacam itu dapat diibaratkan ‘<em>menghidupkan kembali</em>’ kata.  Kata ‘<em>menghidupkan kembali</em>’ tersebut bahasa Inggrisnya <em>to make it lively</em> (tidak sekadar <em>alive</em>), artinya menyulap kata yang biasa saja dan sederhana menjadi tidak biasa, bahkan mengejutkan (<em>striking</em>), serta lebih ‘<em>hidup</em>’. Contohnya kata bahasa Inggris ‘<em>ramble</em>’, terjemahan yang lumrah atau lugu ‘<em>kluyuran</em>’, ‘<em>nglembara</em>’ (<em>mengembara</em>), ‘<em>nglambrang</em>’ (<em>wander around</em>), ‘<em>glandhangan</em>’ (<em>menggelandang</em>), namun Effendi memilih ‘<em>dolan</em>’. Kata ‘<em>dolan</em>’ (<em>bermain</em>) memang kata yang sangat sehari-hari dipakai, tidak istimewa dibandingkan dengan padanan/sinomim kata-kata yang lain tersebut, tetapi ternyata sangat pas dengan sifat ‘makhluk’ kecil, kerikil. Barangkali seandainya memilih kata yang lain tidak akan ‘sehidup’ itu. Begitu juga ketika Effendi memilih kata ‘<em>watu klungsu</em>’, dan bukan ‘<em>krikil</em>’ atau ‘<em>watu cilik</em>’ (<em>batu kecil</em>). Sangat mungkin sudah jarang orang Jawa yang tahu atau pernah melihat <em>watu klungsu</em>, karena itu pilihan tersebut juga termasuk ‘menghidupkan’ kata yang sudah ‘mati’. Bedanya dengan kerikil biasa, <em>watu klungsu</em> tersebut pada dasarnya adalah batu hitam yang sangat keras, zaman dahulu segenggam <em>watu klungsu</em> dipakai untuk membersihkan botol dengan cara memasukkannya bersama air ke dalam botol dan kemudian digoyang-goyang.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Tulisan <a href="http://bahtera.org/blog/author/setyadi/">Setyadi Setyapranata</a> ini pernah dimuat di Majalah Jaya Baya No. 43, Minggu IV, Juni 2009. Diterjemahkan secara bebas oleh <a href="http://bahtera.org/blog/author/istianiprajoko/">Istiani Prajoko</a></em><em> dengan seizin penulis, untuk dimuat di blog Bahtera.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.bahtera.org/2009/08/pilih-sing-ayu-apa-sing-setya-pilih-yang-cantik-atau-yang-setia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
