Salam,

Sudah banyak puisi yang saya tulis, tapi “Di Atas Kertas” memberi saya pengalaman yang sangat berbeda, apalagi ketika tulisan yang dapat dikatakan curcol* ini diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa.

Tidak terlalu mudah menjatuhkan 3 pilihan karena semuanya menarik, semuanya bagus, kendati ada juga satu-dua kesalahan. Sebagian menerjemahkan, mengalihbudayakan, dan bahkan mengadaptasi. Ada yang setia namun kurang indah, ada pula yang cantik dan cukup setia. Saya sendiri lebih menyukai terjemahan yang cantik dan setia kepada keindahan seni dan kandungan maknanya. (Yup, saya baca tulisan Pak Sty dulu untuk lebih yakin.)

Read the rest of this entry

Di atas kertas,

waktu 24 jam cukup untuk menjadi penerjemah dan penyunting buku yang baik,

menjadi ibu yang baik, menjadi istri yang baik:

menyunting di kala segar di pagi hari,

menerjemahkan novel yang menarik di siang hari saat kantuk mulai menyerang,

menerjemahkan materi sains yang membuat kening berkerut di malam saat hening.

Read the rest of this entry