Oleh Sofia Mansoor

Tidak terasa sudah tiga dasawarsa saya menekuni dunia penerjemahan, dan berbagai cara pembayaran honor terjemahan pernah saya alami. Pada awal karier pada tahun 1980-an, ketika bahan yang saya terjemahkan dan sunting kebanyakan berupa buku, pembayaran honor sangat sederhana. Setelah pekerjaan selesai, jumlah halaman hasil terjemahan dihitung, dikalikan tarif per halaman, dan honor pun langsung dikirim oleh penerbit ke rekening bank saya. Sampai sekarang cara ini tentu tetap dianut oleh klien domestik, termasuk para penerbit buku. Yang berbeda hanyalah cara penghitungan honor yang belakangan ini dihitung berdasarkan jumlah karakter hasil terjemahan, alih-alih jumlah halaman terjemahan.

Pada awal 1990-an, setelah saya berkenalan dengan Bashir Basalamah, warga Singapura yang juga salah seorang pendiri milis Bahtera, kegiatan penerjemahan dan penyuntingan yang saya jalani mulai mengalami perubahan. Saat itu internet belum dikenal sehingga komunikasi Bandung–Singapura masih dilakukan melalui mesin faksimili.

Honor masih tetap dikirimkan ke rekening bank, tetapi kali ini dolar Singapura dikonversi menjadi mata uang rupiah.

Keadaan berubah lagi setelah saya mengenal internet pada pertengahan tahun 1990-an, tepatnya tahun 1994. Sebuah perusahaan penyedia layanan internet mulai membuka usahanya di Bandung, dan saya pun segera memasang koneksi internet di rumah. Secara bertahap saya belajar menulis surel dan mengirimkan hasil terjemahan ke Singapura berupa lampiran. Semakin lama pekerjaan ini terasa semakin menyenangkan… dan menyibukkan!

Pekerjaan dari Singapura kemudian bertambah dengan pekerjaan dari negeri Paman Sam ketika Bashir mulai mengalihkan kepada saya sejumlah proyek penerjemahan ke bahasa Indonesia, dan saya diminta langsung berhubungan dengan klien dari negeri Obama itu, padahal sebelumnya semua urusan ditangani Bashir dan saya tahu beres, bahkan tidak tahu berapa tarif saya!

Bankdraft

Setelah berjalan sendiri, saya terpaksa belajar dari nol, mulai dari belajar membaca PO (Purchase Order), bernegosiasi dengan klien soal tarif, menghitung honor, membuat invoice, sampai menerima honornya. Saya pun mulai merasa perlu membuka rekening dalam USD di salah satu bank nasional, sebut saja Bank X. Saya memilih bank tersebut dengan alasan sederhana–ada ATM USD-nya! Selama sekitar 5 tahun saya menjadi nasabah setianya sampai tiba saat ketika perbankan Indonesia gonjang-ganjing menjelang milenium ke-3. Saya tidak berani mengambil risiko; saya tutup rekening USD saya di Bank X, lalu membuka rekening USD di salah satu bank internasional, sebut saja Bank Y, yang menurut saya yang awam ini pastilah tahan banting…

Nah, pada pertengahan dasawarsa 1990-an itu, hampir setiap bulan saya menerima cek atau bankdraft dari luar negeri dan mencairkannya melalui Bank X dan kemudian Bank Y. Lama-kelamaan para teller mengenal saya sehingga ketika saya muncul di meja pelayanan, mereka sudah langsung menyediakan formulir yang harus diisi. Biaya pencairan sebesar Rp100.000 juga sudah tidak pernah lagi dimintakan persetujuannya kepada saya, melainkan langsung saja dipotong dari rekening IDR saya di bank tersebut.

Moneybookers (MB)

Tahun demi tahun kegiatan ini terus berlangsung sampai kemudian seorang klien meminta saya membuka rekening di Moneybookers.com (disingkat MB), yakni sistem pembayaran daring (online) yang bermarkas di Inggris. Ternyata pembayaran honor melalui MB jauh lebih praktis dan murah daripada mencairkan cek. Coba saja simak–cek dari AS membutuhkan waktu dua minggu untuk tiba di Bandung lewat pos, dan empat minggu lagi untuk dicairkan lewat bank. Bandingkan dengan MB yang hanya membutuhkan waktu 1–2 hari untuk memindahkan dana dari MB ke rekening USD. Biayanya juga kecil, hanya sekitar $2,50 per penarikan, sementara biaya pencairan cek lewat bank minimal Rp100.000.

Membuka rekening di MB juga mudah sekali. Tinggal buka situsnya, mendaftar, lalu ikuti semua petunjuknya. Pada saat pertama, kita diminta hanya menarik $10,00 dari rekening di MB ke rekening USD kita di bank. Pada saat dana itu sudah masuk ke rekening bank kita, tercantum kode verifikasi berupa rangkaian angka. Nah, kode ini harus SEGERA dilaporkan ke MB agar bank kita terverifikasi. Saya sendiri agak lalai waktu itu karena dana di MB jumlahnya hanya tersisa $30.00. Barulah ketika mendapat kiriman lagi, saya baru tahu ada kode verifikasi yang harus saya laporkan ke MB. Untunglah staf CS MB sangat ramah dan dengan cepat membantu verifikasi bank saya itu. Selanjutnya, segalanya menjadi lancar. Sayangnya MB lebih disukai oleh agensi asal Eropa, sementara klien saya kebanyakan dari negeri Paman Sam.

PayPal (PP)

Namun, tidak lama setelah saya membuka rekening MB, PayPal (disingkat PP) tersedia bagi penduduk Indonesia, dan saya pun segera membuka rekening di situ. PP adalah sistem pembayaran daring  lainnya yang jauh lebih populer daripada MB dan bermarkas di AS. Cara membuka rekening di PP juga sangat mudah. Ikuti saja petunjuk di situsnya dan siapkan kode bank yang terdiri atas 4 angka. Kalau tidak tahu kode ini, tanyakan ke CS bank atau tanyakan ke teman–cara termudah!

Nah, setelah saya membuka rekening PP, semakin banyak klien saya dari AS yang beralih ke sistem pembayaran ini. Sayangnya, potongan yang dilakukan PP amat “menyakitkan hati.” Dana hanya bisa ditarik ke rekening rupiah atau ke rekening kartu kredit, dan nilai tukarnya sangat rendah, berbeda sekitar Rp250 per dolar dengan nilai tukar di money changer. Apalagi sejak tahun 2009 PP memberlakukan pemotongan sekitar 4% atas jumlah dana yang ditarik.

Saya beruntung karena boleh dikatakan semua klien saya baik hati. Salah satu di antaranya, yang hanya bisa membayar lewat PP dan tidak lewat cara lain, mengizinkan saya menaikkan tarif sebesar 1 sen per kata untuk menutup potongan yang dilakukan PP. Klien lain menyiasatinya dengan mengirimkan dana lewat e-check karena dana yang diterima PP lewat cara ini hanya dikenai biaya $5 untuk setiap e-check.

Western Union (WU)

Selain dengan MB dan PP, ada lagi sistem pembayaran lain yang mirip dengan cek, yaitu Western Union (WU). Mekanismenya sebagai berikut: klien mengirimkan dana untuk kita melalui WU, lalu memberitahukan sandi pengiriman WU lewat surel. Dengan informasi itu kita datangi bank atau lembaga keuangan mana saja (kantor pos, kantor pegadaian) yang melayani pencairan WU. Dengan memberitahukan sandi pengiriman WU serta nama pengirimnya, dana bisa langsung dicairkan dengan nilai tukar yang berlaku saat itu. Sangat praktis!

Cara paling asyik

Tetapi, tentu tidak ada yang lebih menyenangkan daripada dibayar melalui transfer langsung ke rekening bank kita. Apalagi jika klien yang menanggung biaya pengirimannya! Klien seperti ini harus kita jaga baik-baik! Lain kali akan saya obrolkan kiat saya menjalin komunikasi akrab dengan klien, yang membuat surel kami sering diwarnai canda ceria… yang selanjutnya membuat mereka betah memberi saya pekerjaan dan tidak tergiur untuk pindah ke lain hati… eh ke lain penerjemah  :-)

Sumber gambar: Triwahyudi.com

Trackback

11 comments untill now

  1. izin copas gan

  2. Cerita pengalaman yang sangat menarik

  3. Sangat informatif buat saya. Hatur nuhun.

  4. Come Join : Prediksi Togel

  5. Agen bola terbesar terpercaya dan agen sbobet ibcbet yang menyediakan permainan taruhan bola & judi bola SBOBET IBCBET. Kami agen togel online menyediakan permainan togel online dan kami juga situs agen 338a di indonesia yang memiliki pecinta casino sbobet & casino online

  6. […] Soal berbagai alternatif pembayaran, coba baca artikel ini: Bankdraft, MB, PP, WU, atau Transfer Antarbank? […]

  7. Materinya mantap banget mas, terimakasih jadi tau banyak nih masalah perbankan, ya walau sedikit dari sekian banyak, tapi info ini sangat bermanfaat, mudah-mudahan buat teman-teman lain juga ada manfaatnya.. trims

  8. Terima kasih ‘sharing’ pengalamannya Ibu…. ☺

  9. Superb, what a blog it is! This webpage presents helpful facts to us, keep it up.

  10. This article providess clear idea designed for the new users of blogging, thjat in fact how to do blogging.

Add your comment now