Oleh Sofia Mansoor

TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan Unika Atma Jaya pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Konferensi penerjemahan internasional pertama yang saya hadiri berlangsung 20 tahun yang lalu di Kuala Lumpur pada tahun 1991. Sejak itu, saya menghadiri beberapa kali lagi konferensi penerjemahan mancanegara (istilah ini yang digunakan Malaysia) di negeri jiran itu, antara lain di Melaka, Pulau Langkawi, dan Pulau Pinang. Selain itu, saya juga pernah menghadiri konferensi sejenis di bidang penerbitan akademis di New Delhi (1986), konferensi EASE (Perhimpunan Penyunting Sains Eropa) di Helsinki (1997), kongres FIT di Melbourne (1996) dan Macau (2010), dan terpaksa batal menghadiri acara yang sama di Shanghai (2008) karena mengalami musibah kecelakaan hingga patah tangan hanya dua minggu menjelang keberangkatan. Selain TransCon kemarin itu, satu-satunya konferensi internasional yang saya hadiri di dalam negeri adalah Kongres ATF 2007 di Bogor yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).

Saya selalu menikmati setiap acara seperti ini–perjalanan pulang-perginya, wisata pasca-acaranya, kehebohan memilih-milih sidang yang menarik untuk dihadiri, interaksi antarpeserta dan dengan pembicara, kepusingan menangkap maksud pembicara bukan penutur asli bahasa Inggris dalam bahasa Inggris dengan berbagai aksen yang sulit dipahami, dan “keberuntungan” karena memilih sidang yang menarik sehingga bisa diceritakan kepada teman-teman lain, baik melalui tulisan di koran, di milis, maupun di FB sekarang ini.

Kami berlima–saya, Adhi Ramdhan, Vina (istri Adhi), Lanny Utojo, Betty Sihombing–memang tiba terlambat sekitar satu jam karena harus berjuang menempuh kemacetan Jakarta dengan pengalaman minim, dan berjuang keras pula menemukan rute ke tempat konferensi. Karena pembicara utama juga terlambat tiba di tempat dengan alasan yang sama dengan kami orang Bandung, acara beliau justru dimulai tepat setelah kami tiba karena ada pertukaran waktu penyajian. Namun, karena masih “mengumpulkan nyawa”, saya sendiri agak kurang berkonsentrasi mendengarkan paparan beliau, kecuali tersenyum simpul menyaksikan kegaptekan sang doktor dalam menangani tayangannya di layar lebar… Kita sama-sama gaptek, ya, Mbak Rochie!

Selain makalah utama yang disampaikan di awal dan makalah sejenis di akhir rangkaian acara, tidak kurang dari 33 makalah disajikan secara serempak di tiga ruangan dalam tiga slot waktu, dengan jadwal semuanya akan selesai pada pukul 15.00. Namun, kekurangtegasan moderator dalam memimpin sidang menyebabkan jadwal ini tidak bisa ditepati. Pada saat kami meninggalkan acara pada pukul 15.30, acara terakhir masih berlangsung.

Pengalaman berbeda dalam sidang yang berbeda

Ada seorang teman menyampaikan keluhan bahwa kebanyakan makalah yang disampaikan terlalu teoretis, terlalu mengawang-awang, dan pembicaranya tidak memenuhi harapannya. Keluhan ini diamini oleh beberapa teman yang lain karena memang ada sejumlah pembicara yang jelas masih harus dibenahi kemampuan bahasa Inggrisnya, bahasa yang dipilih panitia untuk menjadi bahasa pengantar dalam konferensi ini. Memang jangan main-main berbicara di ajang internasional yang hadirinnya para penerjemah kawakan dari milis Bahtera! Tidak kurang dari 20-an peserta berasal dari milis Bahtera, dan beberapa di antara kami mengenakan kaos kebanggaan, kaos Bahtera. Bahkan ada dua orang yang datang jauh-jauh dari Mataram, yakni Ahmad Rivai dan Hudi Ertanto, para penerjemah Newmont, yang langsung saja bergabung dengan penerjemah Newmont lainnya, Indra Listyo. Hadir pula mantan moderator Bahtera yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum HPI, Pak Eddie Notowidigdo.

Namun, saya sendiri lebih beruntung karena hampir semua sidang yang saya hadiri bersifat praktis. Hahaha, pengalaman menghadiri berbagai konferensi serupa rupanya berhasil menempa keterampilan saya memilih sidang. Beberapa di antara sidang pilihan saya malah amat sangat menarik, seperti “Indonesian menu translation: a study on the translation techniques and the cultural bound” yang disampaikan dengan sangat memikat oleh Dyah Ayu Nila Khrisna, penyaji cantik dari Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam paparannya, Dyah Ayu bukan saja menyajikan beberapa contoh menu dalam bahasa Indonesia–lemper, sop buntut, ayam goreng renyah ala Sunda, tempe bacem, pepes ikan patikoli bakar, daging empal gepuk–namun juga mengajak hadirin untuk mengusulkan terjemahannya. Akibatnya, suasana sidang menjadi sangat meriah disertai derai tawa karena banyak usulan yang menggelikan. Di akhir paparannya, Dyah Ayu memberikan kesimpulan bahwa penerjemahan menu dapat dilakukan dengan mencari padanannya yang setara (sop buntut – oxtail soup), prosesnya (dibacem – marinated), racikannya, cara memasaknya (dibungkus – wrapped), rasanya (asam manis), dan yang terakhir, menggunakan nama aslinya yang dipinjam (lemper). Dua jempol untuk makalah ini!

Segera setelah Dyah Ayu, tampil Andrew Thren, penutur asli bahasa Inggris dari Unika Satya Wacana dengan makalah berjudul “Discourse in translating Indonesian news stories into the English language”. Bahannya sangat menarik, yakni mencari terjemahan yang pas untuk sejumlah kata dan frasa dalam bahasa Indonesia. Contoh yang dikemukakannya antara lain kata “berkah” yang dalam konteks yang disampaikannya akan menjadi sangat janggal jika dipadankan dengan “blessings”, tetapi lebih tepat jika digunakan “gift” atau “free food”. Contoh lain yang mirip adalah frasa “Berkat bersin …” yang lebih pas jika diterjemahkan menjadi “Thanks to sneezing”. Sebanyak 12 kiat disampaikannya tentang berbagai aspek yang perlu diperhatikan ketika menerjemahkan teks berita berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Saya merasa sangat beruntung menghadiri sidang ini–ibarat mendapat pelajaran “gratis” kilat dengan bekal yang sangat mantap. Terima kasih, Andrew! Too bad, you talked so fast and didn’t always mention which text you were referring to. But all in all I really learned a lot from your session.

Sesi lain yang menarik bagi saya adalah sesi Mas Sugeng Hariyanto dari Universitas Negeri Malang dengan makalah berjudul “Adaptation in website translation”. Meskipun sudah pernah mendengar paparannya, saya tidak pernah bosan mendengar Mas Sugeng menyampaikan makalahnya. Pembawaannya yang kocak dan berbagai contoh jenaka yang ditampilkannya selalu mengembuskan angin segar setiap kali Bahterawan senior ini berbicara. Sayang, karena tayangan sejumlah contohnya disajikan begitu cepat dan sebagian huruf teksnya kecil-kecil untuk mata seorang nini seperti saya, tidak ada contoh yang dapat saya ceritakan di sini.

Dua sesi lain yang saya hadiri kurang memikat hati saya. Yang pertama adalah sesi yang diisi oleh paparan tentang penerjemahan berdaya cipta buku panduan Kraton Surakarta dan yang kedua tentang penerjemahan selipat (leaflet) komersial. Sesi yang disebutkan terakhir ini sebetulnya cukup menarik, tetapi menyiratkan kekurangsempurnaan para pembicara makalah yang mungkin disebabkan oleh belum banyaknya jam terbang mereka berdua di dunia penerjemahan. Dengan sedikit pengetahuan tentang penerjemahan iklan yang sudah beberapa kali dibahas di Bahtera, dan tentang transcreation yang saya peroleh dua hari sebelumnya dari paparan Mas Sugeng di blog Ade Indarta, saya berani menyampaikan bahwa yang diperlukan dalam penerjemahan selipat komersial bukanlah sekadar “translation”, melainkan lebih menjurus kepada “transcreation”. Mudah-mudahan saja masukan saya tersebut tidak mengecilkan hati kedua pembicara, tetapi justru memperluas wawasan mereka.

Satu makalah terakhir yang menarik hati saya adalah paparan berjudul “‘Fixed’ expressions and their variation: a challenge in translation”. Pembicaranya, dugaan saya, dosen senior Unika Atma Jaya, Ibu Nany S. Kurnia. Saya membayangkan betapa senangnya jika saya menjadi mahasiswanya atau menjadi teman diskusinya dan menggali begitu banyak pengalaman beliau. Tutur katanya halus dan tertib, artikulasi bahasa Inggrisnya sedap didengar dan mudah dipahami, paparannya juga menarik, yakni ungkapan pendek-pendek dalam balon gambar komik. Terjemahan keliru yang menarik dalam tayangan contohnya juga mengundang tawa renyah hadirin. Frasa “Beats me!” yang menurut konteks berarti “Meneketehe!” atau “Mana kutahu!” diterjemahkan menjadi “Pukuli saya!” (kalau tidak salah).

Sayang sekali, karena datang terlambat dan jadwalnya ditukar, saya tidak sempat menghadiri sesi Prof. Yayuk Hidayat dari Universitas Indonesia yang ternyata menulis makalah bersama keponakan saya, Alvanov, dosen Seni Rupa ITB. Padahal, paparan Bu Yayuk dipastikan selalu menarik, sebagaimana yang pernah saya saksikan dalam acara Komp@k HPI beberapa bulan yang lalu.

Nah, begitulah teman-teman, cerita yang dapat saya bagi dari acara TransCon Atma Jaya 2011 kemarin. Saya merasa sangat menikmati acara tersebut, meskipun terdapat “cegukan” di sana-sini. Bertemu teman lama, menimba ilmu, belajar memetik pengalaman untuk diterapkan dalam acara serupa yang sudah ada dalam agenda HPI … ah, pokoknya kagak rugi deh mengeluarkan Rp200.000 untuk pengalaman ini. Bravo Unika Atma Jaya!

Trackback

no comment untill now

Add your comment now