Menatah Makna

Buku Alih Bahasa: Menatah Makna merupakan kelanjutan dari buku sebelumnya dari seri yang sama, Tersesat Membawa Nikmat, yang menghimpun tulisan karya penerjemah dan juru bahasa yang tergabung dalam milis Bahtera (BAHasa dan TERjemahan IndonesiA).

Memang tidak terasa, lebih dari setahun telah berlalu sejak diluncurkannya buku Bahtera pertama, Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat pada Juli 2009 di Malang, saat dilangsungkannya acara perayaan hari ulang tahun ke-12 Bahtera, milis para penerjemah Indonesia.

Kali ini kami datang kembali menyapa pembaca dengan membawa aneka kisah lain tentang kehidupan para penerjemah dan juru bahasa dalam menekuni keseharian mereka, diawali dengan dengan laporan pandangan mata dan kesan tentang penyelenggaraan konferensi Asian Translators Forum, ajang temu penerjemah dan juru bahasa internasional di Macau yang berlangsung tanggal 6–8 November 2010. Laporan ini ditulis dengan semangat beragih yang merupakan perwujudan moto milis Bahtera, ’asah, asih, asuh.’

Mengapa Menatah Makna?

Mengapa buku Bahtera ke-2 ini diberi judul Menatah Makna?

Tugas yang dipikul praktisi profesi penerjemah dan juru bahasa layaknya tugas para empu yang menatah batu menjadi prasasti atau menatah logam menjadi keris dan berbagai peralatan untuk kegiatan hidup manusia.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, penerjemah atau juru bahasa dapat dikiaskan menatah makna untuk menyampaikan pesan dan memberi solusi komunikasi.

Dalam Menatah Makna ini, kami persembahkan 58 kisah yang ditulis oleh 45 orang Bahterawan, anggota milis Bahtera. Dan, seperti juga pada buku Bahtera yang pertama, pada buku kedua ini pun kami mengelompokkan semua naskah tersebut ke dalam beberapa bagian yang memiliki benang merah yang sama. Memang pengelompokan ini tidak selalu mudah, tetapi kami merasa perlu melakukannya agar Anda, pembaca, dapat menikmati aneka kisah itu dengan lebih nyaman, tanpa perlu mengerutkan dahi dan kehilangan arah.

Dalam bagian pertama, Sebermula, kami tampilkan delapan kisah yang bercerita tentang pengalaman pertama dalam dunia penerjemahan atau alasan yang memutuskan para penulisnya menekuni dunia penerjemahan. Contohnya, dalam tulisan berjudul Profesi Impian, Bahterawan Desak Nyoman Pusparini dari Bali menceritakan pengalamannya mewujudkan cita-cita menjadi penerjemah dengan mengikuti kuliah di Jurusan Bahasa Inggris, Bidang Minat Penerjemahan, Universitas Terbuka.

Waduuh…!! yang menjadi judul bagian kedua diisi oleh tujuh naskah yang, sesuai dengan benang merahnya berkisah tentang pengalaman para penulisnya berkutat dengan berbagai kesulitan saat menangani penerjemahan. Naskah berjudul CAT Tools yang ditulis oleh Bahterawan D. Rahadi (Eddie) Notowidigdo dari Jakarta sebetulnya tidak terlalu waduuh…, namun kami masukkan ke bagian ini karena banyak pemula melontarkan ucapan itu saat pertama kali berkenalan dengan perangkat lunak yang dijuluki si meong ini.

Pada Seputar Profesi dikelompokkan tidak kurang dari 12 naskah yang bercerita tentang aneka jenis pekerjaan “lain” yang ditekuni para pelakunya, namun yang masih sangat erat kaitannya dengan kegiatan penerjemahan. Salah satu yang menarik adalah Remote Working vs. Koneksi Internet Siputlike yang dengan memikatnya ditulis oleh Vina Andriyani dari Bandung. Seperti apakah menjadi pegawai perusahaan di negeri Obama, menggunakan peralatan mereka, bekerja dalam zona waktu mereka, tetapi semuanya dilakukan di rumahnya di Bandung? Apa yang dimaksudkannya dengan koneksi siputlike? Para pendahulu kita mungkin tidak bisa membayangkan ada jenis pekerjaan seperti itu di abad ke-21 ini.

Ah, adakah yang belum mengenal singkatan UUD di zaman sekarang ini? Bukan, bukan Undang Undang Dasar, melainkan… Ujung Ujungnya Duit! Ini salah satu unsur yang teramat penting untuk mengukur kesuksesan seorang penerjemah. Kembali D. Rahadi Notowidigdo menceritakan pengalamannya menempa diri menjadi penerjemah sukses dengan memasarkan jasanya lewat internet dalam tulisannya Memanfaatkan Internet untuk Memasarkan Jasa Terjemahan. Pengalamannya pastilah sangat bermanfaat bagi para penerjemah pemula yang ingin merintis karier di dunia yang sangat kami cintai ini.

Seperti pada buku Bahtera 1, pastilah ada bagian yang menampung tulisan tentang pengalaman para penulisnya sebagai anggota milis Bahtera, yang kali ini kami namai Aku dan Bahtera, yang memuat lima tulisan. Dengan judul tanpa basa-basi, Manfaat Menjadi Anggota Bahtera, Tarie Soetarto dari Jakarta menceritakan pengalamannya menjadi anggota Bahtera setelah membaca artikel di The Jakarta Post pada Agustus 2007 yang memuat reportase tentang perayaan ulang tahun ke-10 Bahtera. Judul tulisannya sudah berbicara dengan sendirinya sehingga tidak lagi diperlukan komentar dalam Prakata ini.

Penerjemahan tidak dapat dipisahkan dari bahasa, bukan? Maka dalam bagian Cinta Bahasa kami tampilkan lima naskah dengan benang merah ini. Dengan judul 29 Tahun Bersama PPIT, Bahterawan Katsujiro Ueno dari Jepang berkisah tentang pengalamannya selama 29 tahun membina hubungan baik antara masyarakat Jepang dan Indonesia.

Bagian selajutnya, Tutur, menampilkan sembilan naskah yang dengan jenaka menceritakan pengalaman para penulisnya saat berkiprah sebagai juru bahasa atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan interpreter atau penerjemah lisan. Tulisan More Than Higher, More Than Smaller yang ditulis Indra Blanquita asal Jakarta, menjabarkan informasi serius dengan cara yang  jenaka tentang sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh seorang juru bahasa.

Bagian terakhir sengaja diberi judul Curhat karena di sini tujuh orang Bahterawan mencurahkan uneg-uneg mereka selama mengarungi pahit manisnya dunia penerjemahan. Pengalaman Ingrid Nimpoeno yang harus berakrobat menyelesaikan penerjemahan novel sambil sekaligus berperan sebagai ibu rumah tangga tentu amat menarik untuk disimak. Nah, Anda tentu penasaran untuk mengetahui apa yang dimaksudkannya dengan istilah norak dalam tulisannya yang berjudul Noraknya Menjadi Penerjemah Novel.

Membaca pengalaman seseorang sambil mengenalnya, setidaknya mengenal wajah dan sekelumit penggalan kehidupannya, pastilah lebih mengesankan. Karena itulah, di setiap awal halaman naskah, kami ajak Anda berkenalan dengan penulisnya, sekaligus kami cantumkan biodata singkatnya sebagai catatan kaki.

Demikian pula, di halaman 201-208 sengaja kami tampilkan sejumlah foto yang merekam kegiatan Bahtera dalam berbagai acara serius seperti seminar dan pelatihan di berbagai kota, serta acara santai seperti wisata bersama dan perayaan hari ulang tahunnya yang ke-12 di Malang dan yang ke-13 di Jakarta.

Selain itu, beberapa gambar juga ikut meramaikan tampilan buku ini yang melukiskan ungkapan khas seloroh penerjemah, seperti singa mati yang berasal dari dead line yang berarti tenggat (atau jika dibaca dengan cara tertentu mirip bunyinya dengan dead lion). Ada pula gambar yang mewakili masalah yang dihadapi penerjemah, seperti misalnya tenggat yang ketat dan tuntutan klien yang kadang melampaui batas kemampuan manusiawi.

Akhirul kata, dengan segala kerendahan hati, kami ucapkan selamat membaca! Semoga ke-58 naskah ini semakin membuka wawasan Anda tentang lika-liku profesi  penerjemah dan juru bahasa.

Jakarta, Desember 2010

Sofia F. Mansoor dan Maria E. Sundah

Untuk memesan buku ini, silakan kirimkan surel ke sofiamansoor at gmail.com.

Trackback

17 comments untill now

  1. Diah Respati @ 2011-02-10 09:37

    Sepertinya menarik mengintip pengalaman dan kisah tersebut. 😀

  2. Him him serem gambar tangannya jarinya tujuh, Mahluk apa ya. Apa memang penerjemah jariny tujuh?

  3. Moh.Mukhtar @ 2012-04-22 14:32

    kayaknya saya harus baca buku ini, juga buku sebelumnya-TMN.
    ada di toko buku kali ya?
    ‘salam sejahtera buat semua bahterawan’

  4. Halo Moh.Mukhtar,
    Buku Tersesat Membawa Nikmat dan Menatah Makna dapat dipesan melalui saya. Silakan layangkan surel ke alamat saya di: sofiamansoor@gmail.com

  5. […] Penantian segenap anggota milis Bahtera akan segera berakhir. Setelah menerbitkan buku “Menatah Makna” pada tahun 2011, milis Bahtera akan segera menerbitkan buku ke-3. Dengan penerbitan kali […]

  6. […] Menatah Makna Penulis: Bahterawan Penerbit: ITB, February 2011 Tebal: 208 halaman Ulasan isi buku: di Blog Bahtera […]

  7. […] ALIH BAHASA: MENATAH MAKNA Editor: Sofia Mansoor & Maria E. Sundah Penerbit: ITB Terbit: 2011 Tebal: 208 halaman ISBN: 9789791344968 Sumber: blog.bahtera.org […]

  8. […] duka para penerjemah dan sepak terjangnya. Silahkan dimiliki dan dibaca: Tersesat Membawa Nikmat, Menatah Makna, dan Pesona Penyingkap Makna. Untuk memiliki buku-buku tersebut, silahkan gabung dengan milis […]

  9. […] Membawa Nikmat (TMN) http://blog.bahtera.org/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/ Menatah Makna (MM) http://blog.bahtera.org/2011/02/menatah-makna/ Pesona Penyingkap Makna (PPM) […]

  10. Chrome-nya mungkin itu gan atau agan main pakai wifi. Biasanya ada wifi yang minta seitkfirat SSL gitu. Coba pakai browser yang lain bisa gak?Kalau bisa berarti Chromenya bermasalah, coba install ulang. Kalau tidak bisa berarti koneksi Internet-nya restrict. CMIIW.

  11. It’s great to find an expert who can explain things so well

  12. It’s a real pleasure to find someone who can think like that

  13. I appreciate you taking to time to contribute That’s very helpful.

  14. Ya learn something new everyday. It’s true I guess!

  15. […] ALIH BAHASA: MENATAH MAKNA Editor: Sofia Mansoor & Maria E. Sundah Penerbit: ITB Terbit: 2011 Tebal: 208 halaman ISBN: 9789791344968 Sumber: blog.bahtera.org […]

  16. […] ALIH BAHASA: MENATAH MAKNA Editor: Sofia Mansoor & Maria E. Sundah Penerbit: ITB Terbit: 2011 Tebal: 208 halaman ISBN: 9789791344968 Sumber: blog.bahtera.org […]

Add your comment now