<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Back Translation</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/</link>
	<description>asah asih asuh bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 03:39:05 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Menghadapi Reviewer dengan Elegan &#124; Ade Indarta</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-3756</link>
		<dc:creator>Menghadapi Reviewer dengan Elegan &#124; Ade Indarta</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 08:27:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-3756</guid>
		<description>[...] terjemahan menjadi tidak akurat, kita bisa membantahnya dengan memberikan terjemahan baliknya (back translation). Untuk saran yang justru menyebabkan salah eja, kita bisa menyertakan tautan ke KBBI, misalnya, [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] terjemahan menjadi tidak akurat, kita bisa membantahnya dengan memberikan terjemahan baliknya (back translation). Untuk saran yang justru menyebabkan salah eja, kita bisa menyertakan tautan ke KBBI, misalnya, [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: deni</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-3033</link>
		<dc:creator>deni</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 05:25:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-3033</guid>
		<description>terima kasih untuk artikelnya.
teknik back translation ini mungkin akan saya pakai untuk meningkatkan pengetahuan saya dalam menerjemahkan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih untuk artikelnya.<br />
teknik back translation ini mungkin akan saya pakai untuk meningkatkan pengetahuan saya dalam menerjemahkan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Blog Bahtera</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-2101</link>
		<dc:creator>Blog Bahtera</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 19:13:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-2101</guid>
		<description>[...] Menerjemahkan dengan tujuan khusus memastikan keakuratan suatu terjemahan yang sudah ada. Penerjemah dapat disebut melakukan back-translation apabila teks bahasa sumber yang diterjemahkan sebenarnya adalah terjemahan. Misalnya, jika seorang klien ingin mengetahui apakah teks terjemahan Inggris-Indonesia yang ia miliki sudah akurat, ia akan mengirimkan teks terjemahan itu ke penerjemah Indonesia-Inggris untuk diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Pada jenis terjemahan ini, keakuratan lebih diutamakan daripada gaya dan keterbacaan. Tulisan lebih panjang mengenai back-translation bisa dibaca dalam artikel berikut. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Menerjemahkan dengan tujuan khusus memastikan keakuratan suatu terjemahan yang sudah ada. Penerjemah dapat disebut melakukan back-translation apabila teks bahasa sumber yang diterjemahkan sebenarnya adalah terjemahan. Misalnya, jika seorang klien ingin mengetahui apakah teks terjemahan Inggris-Indonesia yang ia miliki sudah akurat, ia akan mengirimkan teks terjemahan itu ke penerjemah Indonesia-Inggris untuk diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Pada jenis terjemahan ini, keakuratan lebih diutamakan daripada gaya dan keterbacaan. Tulisan lebih panjang mengenai back-translation bisa dibaca dalam artikel berikut. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Neisya</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-1070</link>
		<dc:creator>Neisya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 01:20:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-1070</guid>
		<description>Bagus bgt artikel&#039;a ..!! Awal&#039;a saya mengira akan semudah itu dlm m&#039;trjemahkan David loves his wife,and me too ! Smoga para penerjemah Indonesia smkin membaik..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus bgt artikel&#8217;a ..!! Awal&#8217;a saya mengira akan semudah itu dlm m&#8217;trjemahkan David loves his wife,and me too ! Smoga para penerjemah Indonesia smkin membaik..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ahnan Alex</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-825</link>
		<dc:creator>Ahnan Alex</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:18:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-825</guid>
		<description>What an easy reading and inspiring article! Saya baru sadar kalau dari satu kalimat yang sangat sederhana dan umum bisa memiliki banyak arti bahkan kompleks. Dari satu contoh kalimat tersebut, ternyata kalau dipikir-pikir susah juga jadi seorang penerjemah. Harus berpikir secara divergent. Setahu saya sih kalau dilihat case by case itu adalah elliptical sentence case dengan, mungkin, susunan seperti David loves his wife. I love my wife. Kemudian digabung menjadi &quot;David loves his wife, and so do I/ I do too/ me too (informal). Itu mungkin sebuah pemahaman yang telah lama saya dapatkan semenjek SMA. Awalnya saya ragu apa betul kejadiannya seperti itu kalau kita melihatnya dari sisi Back TranslationTernyata, setelah dipikir-pikir, masuk akal juga kalau kalimat tersebut di atas memilki arti yang berbeda-beda tergantung konteks plus penerjemah/ pengartinya. Ahhhhh...Saya baru nyadar!!! he he he he. Masalahnya adalah, apakah atas semua pekerjaan translation kita harus selalu dilakukan Back Translation mengingat deadline yang mungkin juga  ketat?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>What an easy reading and inspiring article! Saya baru sadar kalau dari satu kalimat yang sangat sederhana dan umum bisa memiliki banyak arti bahkan kompleks. Dari satu contoh kalimat tersebut, ternyata kalau dipikir-pikir susah juga jadi seorang penerjemah. Harus berpikir secara divergent. Setahu saya sih kalau dilihat case by case itu adalah elliptical sentence case dengan, mungkin, susunan seperti David loves his wife. I love my wife. Kemudian digabung menjadi &#8220;David loves his wife, and so do I/ I do too/ me too (informal). Itu mungkin sebuah pemahaman yang telah lama saya dapatkan semenjek SMA. Awalnya saya ragu apa betul kejadiannya seperti itu kalau kita melihatnya dari sisi Back TranslationTernyata, setelah dipikir-pikir, masuk akal juga kalau kalimat tersebut di atas memilki arti yang berbeda-beda tergantung konteks plus penerjemah/ pengartinya. Ahhhhh&#8230;Saya baru nyadar!!! he he he he. Masalahnya adalah, apakah atas semua pekerjaan translation kita harus selalu dilakukan Back Translation mengingat deadline yang mungkin juga  ketat?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: genial</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-813</link>
		<dc:creator>genial</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 12:37:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-813</guid>
		<description>hanya sampai pada tahap manggut-manggut saiia nya mas :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hanya sampai pada tahap manggut-manggut saiia nya mas <img src='http://blog.bahtera.org/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: ade</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-800</link>
		<dc:creator>ade</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 23:03:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-800</guid>
		<description>Terima kasih Pak buat artikel yang mencerahkan ini. Saya masih sering menemui kesalahkaprahan, baik dari penerjemah maupun pihak agensi, yang menggunakan istilah &#039;back-translation&#039; sebagai padanan penerjemahan Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Ini menimbulkan kesan penerjemahan yang sebenarnya hanya penerjemahan dari B. Ing; sedang penerjemahan ke B. Ing kedudukannya lebih rendah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Pak buat artikel yang mencerahkan ini. Saya masih sering menemui kesalahkaprahan, baik dari penerjemah maupun pihak agensi, yang menggunakan istilah &#8216;back-translation&#8217; sebagai padanan penerjemahan Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Ini menimbulkan kesan penerjemahan yang sebenarnya hanya penerjemahan dari B. Ing; sedang penerjemahan ke B. Ing kedudukannya lebih rendah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Nursalam AR</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/04/back-translation/comment-page-1/#comment-798</link>
		<dc:creator>Nursalam AR</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 22:51:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=717#comment-798</guid>
		<description>Hmm..jadi bernostalgia nih:). Pertamakali saya tahu proses verifikasi penerjemahan dengan metode back-translation ketika dapat orderan dari sebuah biro penerjemahan lokal. Setelah terjemahan saya diterima kemudian diminta penerjemah lain melakukan back-translation. Awalnya, saya merasa tersinggung. Rasanya kok serasa kurang dipercaya. Tapi setelah banyak tahu dan dapat pencerahan,saya jadi malu sendiri. Yah, to err is human, tak ada gading yang tak retak.

Terima kasih, Pak Setya, untuk artikelnya. Saya teringat untuk lebih peduli pada &quot;gaya selingkung&quot; terjemahan nih (itung-itung penguatan &quot;brand&quot;).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm..jadi bernostalgia nih:). Pertamakali saya tahu proses verifikasi penerjemahan dengan metode back-translation ketika dapat orderan dari sebuah biro penerjemahan lokal. Setelah terjemahan saya diterima kemudian diminta penerjemah lain melakukan back-translation. Awalnya, saya merasa tersinggung. Rasanya kok serasa kurang dipercaya. Tapi setelah banyak tahu dan dapat pencerahan,saya jadi malu sendiri. Yah, to err is human, tak ada gading yang tak retak.</p>
<p>Terima kasih, Pak Setya, untuk artikelnya. Saya teringat untuk lebih peduli pada &#8220;gaya selingkung&#8221; terjemahan nih (itung-itung penguatan &#8220;brand&#8221;).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

