Back Translation

Back translation” adalah istilah teknis dalam dunia penerjemahan, yang mungkin tepat untuk dipadankan dengan “Terjemahan balik.” Istilah ini bermakna menerjemahkan materi dari bahasa A ke bahasa B, kemudian hasil terjemahan bahasa B diterjemahkan balik ke bahasa A oleh orang (editor) lain. Prosedur ini sangat berguna bagi editor, terutama bagi yang belum banyak jam terbangnya, untuk memeriksa ketepatan atau kecermatan makna aslinya seperti yang dimaksud oleh penulisnya.

Untuk kalimat yang tampaknya mudah dan sederhana, biasanya penerjemah yang belum banyak berpengalaman cenderung untuk segera saja mulai menerjemahkannya, tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan konteks dan lain-lain. Terjemahan semacam itu saya namakan “terjemahan instan.”

Terjemahan instan cenderung rentan menghasilkan kalimat yang maknanya mungkin jauh berbeda dari maksud penulis aslinya.

Contohnya, kalimat sederhana seperti

DAVID LOVES HIS WIFE, AND ME TOO.

dengan serta-merta, secara “instan,” cenderung langsung saja diterjemahkan menjadi

DAVID MENCINTAI ISTERINYA, DAN SAYA JUGA.

Apabila penerjemah mempertimbangkan konteks, makna kalimat sederhana tersebut dapat dipikirkan atau dipilih dari paling sedikit lima kemungkinan terjemahan yang berbeda, misalnya:

David loves his wife, and me too.

0. David mencintai isterinya, dan saya juga.

1. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.

2. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri saya.

3. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.

4. David mencintai isteri orang lain (misalnya isteri Peter), saya juga mencintai isteri Peter.

5. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.

6. dst … dst…

Proses Terjemahan Balik

Lima kalimat Indonesia hasil terjemahan tersebut di atas kemudian diterjemahkan balik oleh lima orang (atau lebih) ke dalam bahasa Inggris. Contoh terjemahan balik di bawah ini menunjukkan kemungkinan bahwa lima terjemahan instan tersebut dapat ditafsirkan kembali ke dalam lima (bahkan lebih) kalimat berbeda yang sangat mungkin bermakna beda karena berasal dari konteks yang ditafsirkan berbeda-beda pula.

0-A. David mencintai isterinya, dan saya juga.

a. David loves his wife, and me too.

b. David loves his wife, so do I.

1-A. David mencintai isterinya, David juga mencintai saya.

a. David loves his wife, and David (also) loves me.

b. David loves his wife, and David loves me too.

2-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai isteri saya.

a. David loves his wife, and I (also) love mine.

b. David loves his wife, I love mine too.

3-A. David mencintai isterinya, saya juga mencintai istri David.

a. David loves his wife, and I also love David’s wife.

b. David loves his wife, and I love David’s wife too.

c. David loves his wife, so do I.

4-A. David mencintai isteri Peter, saya juga mencintai isteri Peter.

a. David loves Peter’s wife, and I also love Peter’s wife.

b. David loves Peter’s wife, so do I.

5-A. David mencintai isteri Peter, David juga mencintai saya.

a. David loves Peter’s wife, David also loves me.

b. David loves Peter’s wife, he loves me too.

6.A.. dst … dst…

Lessons Learnt

  1. Kalau ada kalimat yang tampaknya sederhana dan sangat mudah, sebaiknya kita tidak tergesa untuk langsung menerjemahkannya. Kita justru harus “curiga” kalau menemui suatu kalimat ganjil yang tampak sangat sederhana. Telusuri dulu konteks materi asal kalimat tersebut. Apalagi kalau konteks keseluruhan bacaan yang kita terjemahkan bernuansa ragam non-formal, misalnya ragam bahasa “populer” atau bahasa “gaul.”
  2. Kalau kita merasa ragu apakah terjemahan kita sudah tepat dan cermat, mintalah tolong kepada rekan lain untuk menerjemahkan balik terjemahan kita ke bahasa aslinya. Cara ini sering lebih efektif daripada bertanya tentang “arti” atau maksud kalimat aslinya.
  3. Prosedur semacam ini juga cukup efektif bagi kita sendiri untuk memperbaiki kalimat bahasa Indonesia kita. Kalau rekan kita kesulitan menerjemahkan (balik) kalimat kita, ada kemungkinan hal itu disebabkan oleh tatabahasa kalimat kita yang kurang benar, kurang idiomatik, ambigu, atau sukar dipahami. Dari fakta ini kita akan terdorong merevisi atau memperbaiki bahasa Indonesia kita. Ini juga merupakan kesempatan bagus untuk menaikkan tingkat keterbacaan (readability) tulisan kita.
  4. Bahasa yang tinggi tingkat keterbacaannya akan mudah dipahami. Kalimat yang mudah dipahami biasanya tinggi pula tingkat keterjemahannya (translatability). Kalimat seperti itu akan menuntun penerjemah menghasilkan karya yang berprinsip “terjemahan berdasar makna,” (meaning-based translation) alih-alih “berdasar bentuk.” (form-based translation).
  5. Bagi biro penerjemah yang mempekerjakan sejumlah penerjemah, prosedur back translation dapat digunakan sebagai latihan untuk mengembangkan “gaya selingkung” produknya.

Malang, 7 April 2010. Penulis: Setyadi Setyapranata.

Trackback

8 comments untill now

  1. Hmm..jadi bernostalgia nih:). Pertamakali saya tahu proses verifikasi penerjemahan dengan metode back-translation ketika dapat orderan dari sebuah biro penerjemahan lokal. Setelah terjemahan saya diterima kemudian diminta penerjemah lain melakukan back-translation. Awalnya, saya merasa tersinggung. Rasanya kok serasa kurang dipercaya. Tapi setelah banyak tahu dan dapat pencerahan,saya jadi malu sendiri. Yah, to err is human, tak ada gading yang tak retak.

    Terima kasih, Pak Setya, untuk artikelnya. Saya teringat untuk lebih peduli pada “gaya selingkung” terjemahan nih (itung-itung penguatan “brand”).

  2. Terima kasih Pak buat artikel yang mencerahkan ini. Saya masih sering menemui kesalahkaprahan, baik dari penerjemah maupun pihak agensi, yang menggunakan istilah ‘back-translation’ sebagai padanan penerjemahan Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Ini menimbulkan kesan penerjemahan yang sebenarnya hanya penerjemahan dari B. Ing; sedang penerjemahan ke B. Ing kedudukannya lebih rendah

  3. hanya sampai pada tahap manggut-manggut saiia nya mas :(

  4. What an easy reading and inspiring article! Saya baru sadar kalau dari satu kalimat yang sangat sederhana dan umum bisa memiliki banyak arti bahkan kompleks. Dari satu contoh kalimat tersebut, ternyata kalau dipikir-pikir susah juga jadi seorang penerjemah. Harus berpikir secara divergent. Setahu saya sih kalau dilihat case by case itu adalah elliptical sentence case dengan, mungkin, susunan seperti David loves his wife. I love my wife. Kemudian digabung menjadi “David loves his wife, and so do I/ I do too/ me too (informal). Itu mungkin sebuah pemahaman yang telah lama saya dapatkan semenjek SMA. Awalnya saya ragu apa betul kejadiannya seperti itu kalau kita melihatnya dari sisi Back TranslationTernyata, setelah dipikir-pikir, masuk akal juga kalau kalimat tersebut di atas memilki arti yang berbeda-beda tergantung konteks plus penerjemah/ pengartinya. Ahhhhh…Saya baru nyadar!!! he he he he. Masalahnya adalah, apakah atas semua pekerjaan translation kita harus selalu dilakukan Back Translation mengingat deadline yang mungkin juga ketat?

  5. Bagus bgt artikel’a ..!! Awal’a saya mengira akan semudah itu dlm m’trjemahkan David loves his wife,and me too ! Smoga para penerjemah Indonesia smkin membaik..

  6. […] Menerjemahkan dengan tujuan khusus memastikan keakuratan suatu terjemahan yang sudah ada. Penerjemah dapat disebut melakukan back-translation apabila teks bahasa sumber yang diterjemahkan sebenarnya adalah terjemahan. Misalnya, jika seorang klien ingin mengetahui apakah teks terjemahan Inggris-Indonesia yang ia miliki sudah akurat, ia akan mengirimkan teks terjemahan itu ke penerjemah Indonesia-Inggris untuk diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Pada jenis terjemahan ini, keakuratan lebih diutamakan daripada gaya dan keterbacaan. Tulisan lebih panjang mengenai back-translation bisa dibaca dalam artikel berikut. […]

  7. terima kasih untuk artikelnya.
    teknik back translation ini mungkin akan saya pakai untuk meningkatkan pengetahuan saya dalam menerjemahkan..

  8. […] terjemahan menjadi tidak akurat, kita bisa membantahnya dengan memberikan terjemahan baliknya (back translation). Untuk saran yang justru menyebabkan salah eja, kita bisa menyertakan tautan ke KBBI, misalnya, […]

Add your comment now