Mens Sana In Corpore Sano

Apakah Anda termasuk orang yang berkeberatan menggolongkan permainan catur sebagai olahraga? Mengapa? Apakah karena Anda berpendapat bahwa catur lebih tepat disebut olahotak, bukan olahraga, karena otaklah yang lebih berperan dalam permainan tersebut?

Anda tentu kenal moto di atas, moto yang banyak dianut para olahragawan di seluruh dunia. Secara bebas, kita biasa menerjemahkannya menjadi: “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Jagoan catur kita, Utut Adianto, pastilah tahu benar bahwa untuk dapat bermain catur dengan prima, baik jiwa maupun raga harus dalam keadaan sehat. Jadi, sesuai benar dengan moto itu.

Kata olahraga sendiri adalah padanan kata Inggris sport, yang merupakan singkatan kata disport, yang pada abad ke-14 berarti “menyenangkan diri sendiri”. Nah, jika kita berpegang pada asal-usul kata sport ini, ternyata bukan hanya pecatur, tetapi semua orang yang melakukan kegiatan menyenangkan diri sendiri boleh dikatakan tengah berolahraga. Barangkali, kata Malaysia sukan lebih tepat berpadanan dengan kata sport, daripada kata Indonesia olahraga, karena bukankah sukan atau bersukaan mencerminkan arti yang disandang kata tersebut?

Tenis dan badminton

Marilah kita telusuri sekarang sejumlah kata yang berkaitan dengan olahraga, misalnya tenis. Kalau dirunut, kata tenis berasal dari kata Prancis tenez, bentuk imperatif dari kata kerja tenir yang berarti “mempertahankan”. Tampaknya ini ada hubungannya dengan keharusan seorang petenis mempertahankan servisnya agar tidak dipatahkan lawan. Kata tenir sendiri berasal dari kata Latin tenere, yang antara lain menurunkan sejumlah kata Inggris seperti tenure, tennancy, dan tenant, yang semuanya berhubungan dengan nuansa arti “bertahan” atau “mempertahankan”. Permainan tenis yang kita kenal sekarang konon baru mulai dimainkan di luar ruangan pada tahun 1874.

Kata selanjutnya yang berhubungan dengan olahraga ini – yang membuat penonton dengan lucunya menoleh bolak-balik secara serempak ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan bola – adalah kata raket. Buku Word Origins karangan Wilfred Funk mengatakan bahwa kata ini berasal dari kata Arab rahat. Dictionary of Word Origins karya John Ayto menelusurinya mulai dari kata Prancis raquette, yang berawal dari kata Itali racchetta, yang berinduk lagi ke kata Arab rahat tadi. Arti semua kata itu sama, yaitu “telapak tangan”. Sungguh tepat, sebab telapak tangan memang merupakan raket pertama seorang petenis. Sesungguhnyalah, meskipun tenis adalah permainan yang sudah sangat tua, baru pada abad keduabelaslah orang menggunakan raket yang kita kenal sekarang.

Demikian pula dengan penggunaan net, benda di tengah lapangan yang memisahkan daerah seorang petenis dari daerah lawannya. Kata net sendiri, kalau ditelusuri, bisa melintasi sekitar enam bahasa, sebelum akhirnya disimpulkan berkerabat dengan kata Latin nassa, yang berarti “anyaman jala ikan”. Net yang digunakan dalam permainan tenis memang mirip jala ikan, bukan?

Sayang, prestasi para petenis Indonesia belum patut dibanggakan, kecuali prestasi Yayuk Basuki yang sudah mundur pada tahun 1997 karena dilanda cedera. Bagaimana kalau kita beralih saja pada olahraga nomor satu Indonesia, penyumbang medali emas kita di Olimpiade? Apa lagi kalau bukan badminton? Dikisahkan Duke of Beaufort memiliki tanah luas dengan keliling 15 kilometer di Glouchestershire, Inggris. Tanah miliknya ini, yang bernama Badminton, merupakan ajang berbagai “inovasi” Inggris di penghujung abad ke-19. Yang tercatat, sejenis minuman anggur dan minuman bersoda dinamakan badminton karena berasal dari daerah tersebut. Permainan badminton sendiri, yang sering dikira berasal dari Inggris, sebenarnya berasal dari India, dan untuk pertama kalinya dimainkan di Inggris pada tahun 1873 – di mana lagi kalau bukan di Badminton House, rumah peristirahatan Duke of Beaufort.

Arena dan bowling

Di masa Yunani dan Romawi kuno, berbagai jenis olahraga dan pertandingan dilangsungkan di sebuah arena, dan olahraga yang mereka pertunjukkan sering berakhir sangat mengenaskan dengan jatuhnya korban. Adat bangsa Romawi adalah menaburkan harena atau pasir untuk menyerap darah para korban. Kata harena memang tepat untuk menamakan amfiteater tempat berlangsungnya kegiatan olahraga karena biasanya tempat itu memang berpasir. Pada abad ke-17, kata harena masuk ke khazanah bahasa Inggris dengan huruf h-nya melesap, menjadi arena. Bahasa Indonesia menyerap langsung kata tersebut dari bahasa Inggris. Bahkan, mengingat bunyinya yang akrab di telinga kita, banyak yang mengira bahwa kata itu kata “asli” Indonesia.

Jenis olahraga yang banyak digemari orang kota besar (karena di kota kecil tidak tersedia sarananya) adalah bowling yang diindonesiakan menjadi boling atau bola gelinding. Permainan ini mempunyai riwayat yang memikat, meskipun sejarah kata bowling sendiri cukup sederhana. Nenek moyangnya adalah kata Latin bulla yang berarti “gelembung”. Bulla akhirnya menjadi bowl yang semula berarti bolanya itu sendiri atau penggelindingan bola tersebut.

Para peboling mungkin tidak mengira bahwa perangkat lengkap permainan kegemaran mereka ditemukan oleh Sir Flinders Petrie, seorang ahli antropologi Inggris, di … hiiii … sebuah makam Mesir yang dibangun pada tahun 5200 SM, lebih dari 25 abad yang lalu! Para peboling juga mungkin akan menggeleng-gelengkan kepala keheranan kalau tahu bahwa boling pernah dilarang dimainkan di Inggris oleh Raja Edward III (memerintah tahun 1327–77), Richard II (1377–99), dan beberapa raja lainnya karena dianggap permainan yang “kurang jantan” karena tidak melatih keterampilan berperang, berbeda dengan olahraga panahan. Raja Henry VIII (1509–47), yang kawin sampai enam kali, juga melarang boling, tetapi curangnya, dia mempunyai lintasan boling pribadi di Whitehall (salah satu gedung pemerintahan di Inggris) untuk menghibur diri di antara kegiatan kerjanya (mungkin juga di antara pelaksanaan hukuman mati!). Entah apakah lintasan boling tersebut masih ada sekarang.

Olahraga telanjang

Beberapa waktu yang lalu, sebuah TV swasta kita dikecam pemirsanya karena dianggap menayangkan olahraga setengah telanjang – para peraganya memang berpakaian sangat minim. Olahraga tersebut, yaitu senam, ternyata memiliki riwayat yang menarik. Kata senam adalah padanan kata Inggris gymnastics yang berasal dari kata Yunani gymnazo yang berarti “berlatih sambil telanjang” yang berasal dari kata gymnos yang berarti “telanjang”. Memang, di masa Yunani kuno, kegiatan olahraga sering dilangsungkan sambil telanjang karena udara yang amat panas membuat orang cenderung ingin berpakaian seminim mungkin. Bahkan, konon lintasan atletik di lapangan Olimpiade yang terkenal itu digunakan oleh para atlet yang telanjang. Bangsa Yunani di zaman itu percaya bahwa telanjang sangat baik bagi kesehatan, sama seperti pendapat mereka yang gemar mandi matahari atau berjemur diri di zaman sekarang. Hippocrates, dokter Yunani yang terkenal itu, mengatakan bahwa sinar matahari sangat menyehatkan.

Maraton

Boleh dikatakan semua orang tahu riwayat di balik kata lari jarak jauh ini. Sekitar dua setengah milenium (2500 tahun) yang lalu, pada tahun 490 SM, secara menakjubkan pasukan mini bangsa Yunani yang berkekuatan hanya 10.000 orang berhasil mengalahkan 100.000 orang Persia dalam perang di dataran Marathon. Seorang pelari yang gagah berani, Pheidippides, ditugasi membawa berita kemenangan istimewa itu dengan berlari sekencang-kencangnya ke kota Athena yang jaraknya sekitar 26 mil atau 42 kilometer dari ajang perang. Setibanya di dinding Acropolis, dia berseru: “Hore! Kita menang!”, lalu langsung tersungkur dan tewas. Pemandangan seperti ini sering kita saksikan ketika para pelari berhasil mencapai finis lomba maraton, baik menang maupun kalah. Mereka tersungkur kelelahan atau terpaksa dipapah karena kekuatan raganya terkuras habis.

Dalam pesta Olimpiade pertama yang dilangsungkan pada tahun 1896, lari maraton diperlombakan dengan maksud memperingati peristiwa Pheidippides 2400 tahun sebelumnya. Dan, hasilnya sungguh amat pantas … seorang pelari Yunani, Spiros Louis, memenangkan lomba tersebut. Jarak lari maraton sepanjang 26 mil 385 yard, atau 41,736 km, yang menjadi standar sejak tahun 1924, bermula dari sebuah keputusan yang dibuat pada Olimpiade 1908 di London. Sebelum itu, jarak lomba adalah tepat 26 mil. Tetapi, agar lomba berakhir tepat di muka podium kehormatan, jarak 385 yard ditambahkan!

Sekarang, selain untuk lomba lari jarak jauh, kata maraton juga digunakan untuk kegiatan lain yang menguras tenaga, misalnya kerja maraton yang berarti kerja keras dalam waktu lama. Para penerjemah yang kebanjiran order tentu amat akrab dengan istilah ini! Dalam kamus Badudu-Zain terdapat frase sidang maraton yang berarti sidang terus-menerus, sambung-bersambung, karena banyak hal yang harus dibahas sehingga perlu mengejar waktu bagi pencapaian hasilnya.

Skak!

Marilah kita tutup wisata kita dengan kembali ke masalah di awal tulisan ini, catur. Bila seorang pecatur menyerukan “Skak!”, dia bermaksud memperingatkan lawan bahwa raja si lawan akan segera mati, atau si lawan akan kalah. Kata skak kita pungut dari kata Belanda schaken, yang berarti permainan catur. Penutur Inggris menyebut permainan itu chess, dan mengucapkan check untuk mengakhiri permainan. Kedua kata tersebut, chess dan check, berasal dari daerah Timur Jauh, dari kata Persia shah yang berarti “raja”. Istilah shah mengembara melalui bahasa Arab ke masa Old French menjadi eschequier, kata turunan dari kata eschec, ke Middle English menjadi chek, dan akhirnya menjadi check. Selain ucapan check, pecatur berbahasa Inggris juga menggunakan istilah check-mate untuk memperingatkan lawan. Ini berasal dari kata shah-mat dalam bahasa Persia, yaitu “raja sudah tak berdaya.”

Meskipun demikian, saya tidak akan mengucapkan skak atau check-mate atau shah-mat untuk mengakhiri wisata kita kali ini. Alih-alih, saya ingin mengucapkan wa’alaikum salaam, ucapan bahasa Arab yang berarti “selamat dan sejahtera bagi Anda yang mendengarkan”, dalam hal ini tentu saja bagi Anda yang membaca tulisan ini. Sampai jumpa!

Penulis: Sofia Mansoor. Sumber: Word Origins, Webster’s Word Histories, Dictionary of Word Origins, dan berbagai kamus. Dimuat di Berita Buku, Mei 1996.

Trackback

7 comments untill now

  1. Bagus sekali artikelnya, dan berguna bagi saya^^~

  2. Tulisan yang amat runtut, menyenangkan, sekaligus mencerahkan! Good job, Bu Sofia.

  3. kak Ken, saya suka buku anda yang berjudul ‘Journal Jo’

  4. Ini bukti bahwa yang menulis artikel juga suka olahraga sehingga artikelnya bagus dan menarik karena ditulis dengan logika yang runut & enak dibaca.
    Salam kenal Bu Sonia.

  5. Halo Chris, Niken, Anto,

    Syukurlah kalau tulisan lama ini dianggap menarik. Saya juga terhibur sekali ketika menuliskannya belasan tahun yang lalu! Dan, ya, saya penggemar olahraga, kecuali olahraga “jantan” seperti tinju yang mengerikan itu! 😉 Tapi, ya sebatas sebagai penggemar saja. Olahraga saya hanya satu: jalan kaki setiap hari, minimal 3000 langkah!

    Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

    salam,
    sofia

  6. Mantaaap! Saya gandrung akan etimologi. Apalagi bila disajikan dengan cara-tulis seperti ini: dikisahkan. Trims, Bu Sofia.

    Tabik!

  7. Wahyu,
    Terima kasih untuk komentarnya. Jika gandrung akan etimologi, di Blog Bahtera ini lumayan banyak artikel saya tentang asal-usul kata. Silakan saja ditelusuri di antara seabreg artikel lain yang pasti bermanfaat juga.

Add your comment now