Salah satu tolok ukur kemajuan suatu bahasa adalah kekayaan kosakatanya dan kemampuan kosakata tersebut untuk memerikan berbagai konsep baru seiring dengan perkembangan pengetahuan. Pembentukan istilah bahasa Indonesia selama ini menjadi tugas Pusat Bahasa (Pusba) dengan bantuan para ahli bidang yang bersangkutan. Meskipun tak dapat dimungkiri bahwa upaya Pusba untuk memodernkan terminologi ini cukup berhasil memperkaya kosakata bahasa Indonesia, sering kali neologisme yang dibentuk kurang berterima di masyarakat karena kurangnya pelibatan publik dalam pembentukannya serta terbatasnya sosialisasi penggunaan terminologi tersebut. Internet sebagai medium yang dapat diakses publik tanpa batasan lokasi adalah sarana yang tepat untuk mengatasi masalah kolaborasi dan sosialisasi dalam bidang peristilahan ini. Kateglo dirancang sebagai sistem yang memanfaatkan internet untuk pengayaan istilah bahasa Indonesia dengan memberdayakan kebijakan khalayak.

Latar belakang

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong bermunculannya banyak istilah baru yang digunakan untuk memerikan aneka konsep yang diciptakan atau ditemukan manusia. Bahasa Inggris yang merupakan lingua franca dunia diperkirakan menerima tambahan 90.000 lema baru sepanjang abad ke-20. Jumlah yang kurang lebih setara dengan jumlah lema pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat yang diterbitkan Pusat Bahasa.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang relatif baru juga tidak luput dari tuntutan modernisasi kosakata. Sebagai bahasa yang cukup terencana, kegiatan pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah dilakukan dengan cukup terkoordinasi di bawah Pusat Bahasa. Pertambahan jumlah lema di Kamus Besar Bahasa Indonesia dari sekitar 68 ribu pada edisi pertama (1988) hingga mencapai 90 ribu pada edisi keempat (2008) menggambarkan perkembangan kosakata bahasa Indonesia tersebut. Ini pun masih ditambah dengan sekitar 120 ribu padanan yang diterbitkan dalam bentuk glosarium Pusba dalam beberapa bidang ilmu.

Dalam pembentukan istilah, Pusba menggabungkan kepakaran ahli bahasa dan ahli bidang ilmu tertentu yang diundangnya. Proses ini bukan proses yang mudah dan cepat untuk dilakukan karena selain melibatkan pemahaman yang mendalam mengenai konsep suatu istilah, pembentukan istilah juga melibatkan rasa bahasa. Setelah tercipta pun, masih ada pekerjaan besar yang menunggu, yaitu sosialisasi istilah tersebut ke masyarakat, terutama kepada para pemangku kepentingan terkait.

Pemangku kepentingan dalam peristilahan dapat dibagi menjadi beberapa kelompok.

  1. Ahli bahasa. Terlibat dalam memastikan bahwa istilah yang terbentuk sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan memiliki makna yang tepat.
  2. Ahli atau praktisi bidang ilmu. Terlibat dalam mendefinisikan konsep yang akan diperikan oleh istilah yang dibentuk.
  3. Media massa. Terlibat dalam upaya sosialisasi istilah dan menjaring istilah baru dari masyarakat.
  4. Penulis. Sama seperti media massa, terlibat dalam sosialisasi dan penjaringan istilah.
  5. Penerjemah. Terlibat dalam upaya menangkap istilah baru yang belum ada padanannya dalam bahan terjemahan.
  6. Masyarakat umum. Terlibat dalam memberikan umpan balik secara umum mengenai keberterimaan suatu istilah.

Sementara itu, proses pembentukan istilah telah dijabarkan dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) terbitan Pusba seperti dalam gambar berikut ini.

Pertanyaan yang harus dijawab adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana menyatukan para pemangku kepentingan di bidang peristilahan untuk dapat bekerja sama dalam upaya pengayaan istilah bahasa Indonesia?
  2. Bagaimana melakukan sosialisasi istilah yang dibentuk, termasuk memberikan pemahaman etimologi dan maknanya?

Salah satu hambatan terbesar dalam kerja sama dan sosialisasi ini adalah komunikasi. Semakin meluasnya penggunaan media internet di Indonesia tampaknya dapat menjadi jawaban atas kedua masalah ini. Internet dapat digunakan sebagai tempat berembuk pemangku kepentingan, sekaligus sarana sosialisasi dan rujukan yang dapat diakses oleh banyak orang.

Kateglo

Kateglo, akronim dari kamus, tesaurus, dan glosarium, adalah situs yang lahir dari keperluan dua kelompok pemangku kepentingan yang sudah dikemukakan di atas: penulis dan penerjemah. Kateglo menyediakan hal-hal yang diperlukan sebagai pendukung kerja mereka, yaitu: (1) memeriksa ejaan dan makna baku suatu lema, (2) memperoleh sinonim suatu lema untuk meningkatkan ragam pilihan kata dalam suatu wacana, serta (3) mencari padanan istilah asing dalam bidang tertentu, sekaligus memeriksa apakah istilah tersebut telah dibakukan di kamus, memiliki ejaan dan makna yang tepat, dan sesuai dengan pedoman pembentukan istilah.

Kateglo mulai dioperasikan untuk publik pada 12 Mei 2009 dengan mengambil data awal dari KBBI Daring, Glosarium Pusba, serta glosarium pribadi milik beberapa anggota milis Bahtera, yakni milis yang beranggotakan lebih dari 2000 orang penerjemah berbahasa Indonesia. Lisensi yang diterapkan adalah lisensi terbuka yang membebaskan semua orang untuk menggunakan, menyalin, menyebarkan, dan mengadaptasi isi Kateglo, asalkan menyebutkan sumbernya dan bukan untuk tujuan komersial.

Dari laman beranda Kateglo, pengunjung dapat (1) melakukan pencarian di kamus, glosarium, maupun peribahasa, (2) membaca beberapa lema acak untuk meningkatkan kosakata, serta (3) memperoleh pengetahuan tentang beberapa kesalahan eja yang sering ditemukan.

Laman detail suatu lema menyajikan antara lain definisi, kelas kata, sumber, sinonim, kata turunan, peribahasa, serta entri glosarium yang terkait dengan kata tersebut.

Glosarium Kateglo menyediakan daftar padanan istilah bidang ilmu tertentu, sekaligus tautan ke Wikipedia jika artikel terkaitnya telah ada di sana. Dari glosarium dibuat juga tautan ke masing-masing lema pembentuknya untuk menguji kesesuaian makna.

Pengembangan

Kateglo saat ini telah dimanfaatkan sebagai salah satu sumber rujukan utama bagi komunitas penerjemah Bahtera dengan jumlah kunjungan halaman rata-rata 20 ribu per hari. Pengembangan lanjutan Kateglo dirancang dengan sejumlah fitur yang diharapkan dapat menjawab dua pertanyaan yang diajukan di awal tadi seperti dijabarkan berikut ini.

  1. Pengusulan dan pemilihan padanan istilah. Di masa lalu, proses ini dijalankan sendiri-sendiri oleh setiap pemangku kepentingan. Kateglo diharapkan dapat menjadi sarana tempat semua pihak dapat mengajukan padanan istilah, dilengkapi dengan dasar pembentukannya, serta bermufakat untuk memilih yang terbaik dari semua usulan yang diajukan.
  2. Penjaringan istilah baru. Kateglo diharapkan dapat digunakan untuk menangkap berbagai istilah baru yang terus tumbuh dan berkembang di masyarakat, baik melalui pemasukan secara manual maupun dengan robot yang merayapi situs web media massa, blog, dan lain-lain untuk mendapatkan istilah baru yang sering digunakan.
  3. Pemeriksaan pola dan ejaan. Bahasa adalah sistem yang berpola. Pembentukan istilah juga memiliki pola. Berdasarkan pengamatan, banyak istilah yang dibuat di Glosarium Pusba yang tidak taat pada pola seperti yang digariskan pada PUPI atau mengandung kesalahan ejaan. Kateglo diharapkan dapat mengoreksi hal ini.
  4. Basis data etimologi. Sedikit sekali ditemukan rujukan tentang etimologi suatu kata, bahkan juga di dalam KBBI. Padahal, pengetahuan tentang asal-usul suatu kata sangat bermanfaat untuk memahami secara mendalam makna kata tersebut serta mengapa dieja seperti itu. Kateglo diharapkan dapat sedikit demi sedikit mengumpulkan informasi ini.
  5. Kamus kiasan, singkatan, dan akronim.
  6. Dokumentasi bahasa daerah.

Satu fitur lagi yang masih menjadi mimpi dan belum berani dimasukkan ke dalam daftar pengembangan yang ingin dilakukan adalah pengusulan padanan istilah otomatis. Jika basis data Kateglo sudah cukup besar, hal ini tidak mustahil dilakukan.

Penutup

Komputer, seperti halnya semua teknologi lain, hanyalah alat untuk mencapai keinginan orang yang mengoperasikannya. Kateglo sangat bergantung pada para enggunanya, yang diharapkan ikut berperan membangunnya. Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa urusan peristilahan sering tak dapat dilepaskan dari masalah politis dan ego. Tapi, jika banyak orang dapat mengesampingkan semua hal tersebut dan bersama-sama mengumpulkan kebijakan khalayak, upaya untuk mempercepat pengayaan bahasa Indonesia akan dapat terbantu dengan adanya Kateglo. Bahasa Indonesia pun dapat masuk ke dalam jajaran elite bahasa-bahasa di dunia.

Rujukan

  • Chamber-Loir, Henri, ed. (2009). Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Jones, Russell, ed. (2007). Loan-Words in Indonesian and Malay. Jakarta: KITLV Press.
  • Pusat Bahasa (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
  • Pusat Bahasa (2007). Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Edisi Ketiga. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
  • Samuel, Jerome (2008). Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Penulis: Ivan Lanin. Makalah pada Seminar Hari Bahasa Ibu Internasional 2010. Bandung, 19–20 Februari 2010. Salindia presentasi dapat dilihat di SlideShare.

Trackback

5 comments untill now

  1. “Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa upaya Pusba untuk memodernkan terminologi ini …”
    >> “dipungkiri” atau “dimungkiri”? kalau tak salah sih asal katanya “mungkir” kan?

    meski begitu, ini tulisan yang inspiratif. mengajak khalayak sebagai pemangku bahasa ikut terlibat.

  2. Siap Ndoro. Terima kasih koreksinya. Sudah diperbaiki.

  3. Jujur, sebagai penerjemah dokumen, saya banyak terbantu dengan keberadaan Kateglo. Sejak ada Kateglo, justru jadi makin berkurang frekuensi bertanya ke milis Bahtera,hehe..Btw, kata guru ngaji saya, Insya Allah, yang dilakukan Uda Ivan Lanin adalah bentuk sedekah jariyah, yang terus mengalir sekalipun sang pemrakarsa sudah tiada. *dengan sesungguh hati mode: ON*

    Terima kasih ya!

  4. Saya masih ingat kata pertama yang saya cari definisinya lewat kateglo adalah ‘kondensat’ qe3 setelah itu tak terhitung lagi… trims Pak Ivan, tabik dari Kebayoran-Jakarta, salam dari Jogja

  5. Akhirnya saya menemukan tulisan berbahasa Indonesia yang sesungguhnya. Setelah lama mencari, menemukan tulisan yang tidak patut dicontoh, menemukan narablog yang tidak peduli tata bahasa, kini saya menemukan bahtera ini dan Anda, Pak Ivan Lanin. Saya sungguh kagum!

Add your comment now