Sexy

“Wanita mana yang tidak ingin berpenampilan sexy”. Kalimat ini bukan suatu pertanyaan, melainkan pernyataan ahli kecantikan di acara TV. Dia ingin menandaskan bahwa semua wanita tentu ingin berpenampilan sexy. Biasanya orang sudah merasa “tahu” apa yang dimaksud dengan “sexy” meski akan susah menjelaskannya. Bahkan bila ditanyakan artinya, jawabnya akan “ngaco”. Namun demikian mereka, terutama cewek, selalu setuju dengan pernyataan itu. Namun anehnya, mereka sering mengelak kalau dituding berpenampilan sexy.

Orang yang tahu tata bahasa bisa saja mengandalkan kamus untuk mencari makna istilah tersebut. Jawaban singkat memang gampang didapat dari kamus: Sex, nomina, organ atau kategori yang membedakan makhluk lelaki dari perempuan, titik. Namun, untuk adjektiva sexy, jawab kamus akan “ngaco” juga bila diterjemahkan. Di sana ada amorous, lustfulsensual, erotic, passionate, dan sebagainya yang semua boleh dikata mengarah atau mengacu pada gairah, hasrat, minat bercinta, atau, gamblangnya, nafsu berahi.

Benarkah para cewek kini ingin berpenampilan mengundang nafsu seperti itu? Inilah persoalan bahasa yang menarik karena istilah itu berasal dari bahasa asing. Maknanya bisa multitafsir.

Istilah sexy sebenarnya belum terlalu lama masuk khazanah budaya Indonesia. Istilah yang lebih populer pada awal tahun 50-an adalah sex appeal, atau daya tarik seks. Bintang film yang hebat daya tarik seksnya disebut sebagai bom seks.  Icon bom seks yang paling terkenal pada masa itu adalah Marilyn Monroe. Pada masa itu, istilah sex appeal ataupun bom seks biasanya lebih mengacu kepada, maaf, ukuran payudara (saja). Cewek yang ukuran miliknya besar dijuluki sebagai “marilin monru”. Percaya atau tidak, pada masa itu orang akan merasa malu bila dijuluki (mungkin disindir) sebagai marilin monru.

Istilah sexy baru muncul dan jadi populer menyusul beredarnya film serial Amerika berjudul “Sexy Susan”. Kemudian dilatahi film Indonesia “Inem Pelayan Seksi” di era 1960-an. Dari era itulah kiranya mulai muncul citra yang tidak semata-mata terpusat pada wilayah dada. Dan orang tak merasa malu lagi, bahkan bangga, disebut sexy. Benarkah pergeseran citra kesyahwatan beriringan dengan “dinamika bahasa”?

Pada era tersebut mulai juga proses “pembelajaran” bagi kaum muda tentang budaya berpacaran ala barat yang direpresentasikan oleh adegan dalam film Amerika. Ambil contoh misalnya kata cium dengan derivasinya “berciuman”. Dalam etimologi Indonesia jelas bahwa kegiatan itu dilakukan dengan indra hidung. Dan memang itulah cara asli orang Indonesia dulu berciuman, hidung menempel pipi (Kamus Moderen Sutan Zain). Sedangkan padanan bahasa Inggris kiss adalah sentuhan dengan bibir (kamus Webster), bukan hidung. Bahkan pada masa itu pula mulai terdengar onomatope “cipok”, bunyi dua pasang bibir yang berkecupan (KBBI). Bunyi itu tak mungkin dihasilkan oleh sentuhan hidung pada pipi. Inikah contoh pameo “bahasa menunjukkan bangsa”?

Icon klasik yang mewujud sifat sexy juga semakin tidak populer. Orang sudah hampir lupa simbol-simbol ke-sexy-an tempo dulu yang lebih santun, misalnya hidung (Cleopatra), senyum (Monalisa), dan betis (Ken Dedes).

Para selebritas layar kaca dan pengasuh infotainment juga pada sewot mengurai istilah sexy. Julia Perez merasa sexy tapi tidak sensual. Dewi Persik emoh disebut seronok, namun menurut seorang presenter, dia semakin liar, sangat sexy bahkan boleh dikata vulgar. Konon ke-sexy-an Cinta Laura ada pada suaranya. Mulan Jameela merasa tidak sexy walau dibilang bahwa yang mendongkrak namanya adalah ke-sexy-an.

Secara naluriah tentunya kaum lelakilah yang menjadi “sasaran” perempuan yang ingin berpenampilan sexy. Namun demikian belum banyak kaum Adam bersuara tentang masalah ini. Paling-paling mereka ngerumpi tentang asyiknya menikmati bermacam goyang para pesohor layar kaca itu. Selama ini belum banyak terdengar lelaki yang mendambakan pacar se-sexy Dewi Persik, Inul, atau Sarah Azhari. Bahkan ada gejala meluas, idola fisik mereka telah bergeser ke citra Happy Salma atau Diah Permatasari, yang tentu tidak mungkin dibanding dengan Monroe ataupun Persik.

Siapakah Bahterawati yang paling sexy? Apakah Sang Evangelist bahasa Indonesia tidak ingin meng-Indonesia-kan istilah ini? Tolonglah!

Penulis: Setyadi Setyapranata.

Trackback

8 comments untill now

  1. Ini tulisan yg menghibur….aku tak punya jawaban utk pertanyaan dalam paragraf terakhir….karena hampir semua wanita itu seksi, tergantung melihatnya dari sudut dan jarak gimana..hehehe

  2. wah, selama ini mengikuti yang ada di kamus saja.. “seksi”, tidak terpikir kata lain..

  3. zulkifli harahap @ 2010-02-12 22:56

    Sexy tampaknya lebih pas dipadankan dengan “menggemaskan” karena ketika kita melihat perempuan yang menggemaskan tanggapan pertama yang muncul (saya pribadi) ialah “suit-suit” kemudian baru ke bagian-bagian yang menggiurkan. Akan tetapi, kalau melihat perempuan yang menawan tanggapan pertama ialah mencari sendi-sendi jemari tangan untuk disentuhkan dengan ujung jempol, mengucap syukur mendapat rezeki berjumpa dengan ciptaan-Nya yang menawan tersebut, kemudian disusul dengan kontemplasi: apanya yang menawan (hidungnya, bibirnya, bentuk mukanya, proporsi bagian-bagian tubuhnya). Tidak ada syahwat melihat perempuan yang menawan karena otak kita selalu mengingat-Nya yang sangat berbeda jika melihat perempuan yang menggemaskan.

    Tidak selalu penampilan fisik yang membuat perempuan menawan buat saya. Contohnya, saya harus menyebut salah satu nama, Ida Harimurti si penyiar Prambors. Saya kalau sedang di rumah sangat betah ditemani oleh dia dari jauh. Tetapi, ini semua sirna ketika saya melihat penampilan fisiknya di TV; entah mengapa suaranya jadi hambar. Mungkin sewaktu saya belum melihat penampilannya, suaranya belum “diracuni” oleh penampilan yang kurang (buat saya lho!).

    Ada lagi perempuan yang menjijikkan: contohnya Julia Peres dengan lipstik yang tidak “glossy” akan menggemaskan tetapi sangat menjijikkan kalau sebaliknya apalagi kalau buah dadanya terlalu menyembul. Kesannya jadi perempuan nakal!

    Itu dari saya, mungkin ada yang lain.

    Zul

  4. kadang perempuan termasuk ciptaan tuhan yang aneh. mintanya ada-ada aja Sulit dimengerti. dan perempuan memang lebih banyak bicara. kata-kata yang dilontarkan selalu lebih banyak dibandingkan pria. Informasi survey di lapangannya memang begitu, dan wajib dipenuhi. agar tidak depresi… :d jadi tanggapilah dia…

  5. seksi, baik hati, dan tidak sombong serta rajin menabung, itulah wanita pilihanku hi hi hi

  6. ccd loh dax bisa d buka

  7. ccd loh nggak bisa d buka

  8. budi suryadi @ 2011-06-02 11:41

    Makna “SEXY” berdasarkan gender

    Mengapa makna kata SEXY bisa berbeda, tergantung pada gender ?
    Konon, kaum Pria cenderung bereaksi terhadap stimuli visual. Jadi, tidak usah heran kalau makna [perempuan] SEXY konotasinya adalah bentuk torso dan anggota badan, misalnya bibir, mata, betis, lingkar pinggang /pinggul/dada, dst. Proporsi tubuh menjadi kriteria penting, misalnya: ukuran 36-24-36 jika mengacu pada lingkar dada-pinggang-pinggul, dianggap sebagai SEXY. Inilah kriteria “Seksi” ditinjau dari kaca mata Pria.

    Sedangkan untuk kaum Wanita, kriteria rangsangan visual bukan urutan pertama. Yang menentukan seberapa SEXYnya seorang pria, seringkali adalah keberaniannya, kematangan pribadinya, wawasan dan rasa tanggung-jawab, dan cara bicara yang menarik hati, bukan begitu ? Suara yg dalam, dan cara mengekspresikan diri bisa dianggap lebih penting daripada sekadar penampilan fisik. Juga, “pribadi”nya (mobil pribadi, rumah pribadi, etc.) walau konteksnya adalah canda gurau, tapi mungkin ada benarnya juga.

    Kesimpulannya, ada banyak kriteria yang menentukan kadar ke”Seksi”an seseorang, baik kriteria fisik maupun non fisik.

Add your comment now