<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Beberapa Ciri Bahasa Indonesia Baku</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/</link>
	<description>asah asih asuh, bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 06:43:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Ciri Bahasa Indonesia Baku &#171; Menyimak, Membaca, Berbicara, Menulis</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-1077</link>
		<dc:creator>Ciri Bahasa Indonesia Baku &#171; Menyimak, Membaca, Berbicara, Menulis</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 18:30:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-1077</guid>
		<description>[...] tautan, yang saya anggap bisa dipercaya seperti Wikipedia – Bahasa Indonesia, Laman Pusat Bahasa, Blog Bahtera – Beberapa ciri Bahasa Indonesia Baku, dan Wikipedia – Pedoman ejaan dan penulisan kata. Menurut buku Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] tautan, yang saya anggap bisa dipercaya seperti Wikipedia – Bahasa Indonesia, Laman Pusat Bahasa, Blog Bahtera – Beberapa ciri Bahasa Indonesia Baku, dan Wikipedia – Pedoman ejaan dan penulisan kata. Menurut buku Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: NdL</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-795</link>
		<dc:creator>NdL</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 12:54:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-795</guid>
		<description>Menurut saya, bahasa baku maupun tidak baku haruslah tetap mempertimbangkan (bukan &quot;memertimbangkan&quot;) dua aspek: (1) penggunaannya dalam tulisan, dan (2) penggunaannya secara lisan. Pembakuan kata dalam bahasa tidak boleh hanya sekadar menaruh berat pada aspek pertama tetapi mengabaikan aspek kedua. Oleh karena itu, prinsip &quot;keseragamaan kaedah&quot; dalam bahasa baku juga tidak boleh kaku sehingga membenci apa yang disebut sebagai &#039;pengecualian&#039;.

Kata &quot;mempunyai&quot; itu, misalnya, memang tidak seragam bentuknya dengan kata &quot;memukul&quot;. Tetapi mengapa yang kemudian dianggap sebagai &quot;kaedah&quot; adalah yang terjadi pada kata &quot;memukul&quot; dan bukannya pada kata &quot;mempunyai&quot;? Mengapa tidak dianggap bahwa kata berawal &quot;p+vokal&quot; itu bisa memiliki dua kasus apabila diberi awalan &quot;meN&quot;? Sehingga ada yang luluh dan ada yang tidak, tetapi yang tidak luluh memang hanya sedikit.

Ketika membakuan bahasa bersifat &quot;memaksa&quot; dan keluar dari realitas di masyarakat, maka ini menjadi tidak wajar dan jika langkah itu yang diambil maka kita seolah-olah bukan hanya memperlakukan (bukan &quot;memerlakukan&quot;) bahasa hidup sebagai &quot;matematika&quot; (karena matematika tetap bersumber dari konsepsi akan realitas dan bukannya membuat kaedah sebelum menerapkannya), tetapi selayaknya bahasa pemrograman komputer yang kaedahnya dibuat terlebih dahulu secara baku baru kemudian penggunaannya harus mengikuti kaedah ini.

Ada pandangan lain, yaitu bahwa kata-kata seperti &quot;mempunyai&quot; itu memang tidak luluh karena bersumber dari kata dasar yang &quot;ampuh&quot;. Kata dasar yang ampuh adalah yang tidak berubah apapun kondisinya. Kata &quot;punya&quot; termasuk demikian. Karenanya, turunan kata ini adalah &quot;mempunyai&quot; dan &quot;mempunyakan&quot;. Begitu juga dengan &quot;kaji&quot; yang turunannya &quot;mengkaji&quot; dan pengkajian&quot;, serta &quot;sifat&quot; yang seharusnya diturunkan menjadi &quot;pensifatan&quot; dan &quot;mensifati&quot; (bukan &quot;penyifatan&quot; dan &quot;menyifati&quot;).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya, bahasa baku maupun tidak baku haruslah tetap mempertimbangkan (bukan &#8220;memertimbangkan&#8221;) dua aspek: (1) penggunaannya dalam tulisan, dan (2) penggunaannya secara lisan. Pembakuan kata dalam bahasa tidak boleh hanya sekadar menaruh berat pada aspek pertama tetapi mengabaikan aspek kedua. Oleh karena itu, prinsip &#8220;keseragamaan kaedah&#8221; dalam bahasa baku juga tidak boleh kaku sehingga membenci apa yang disebut sebagai &#8216;pengecualian&#8217;.</p>
<p>Kata &#8220;mempunyai&#8221; itu, misalnya, memang tidak seragam bentuknya dengan kata &#8220;memukul&#8221;. Tetapi mengapa yang kemudian dianggap sebagai &#8220;kaedah&#8221; adalah yang terjadi pada kata &#8220;memukul&#8221; dan bukannya pada kata &#8220;mempunyai&#8221;? Mengapa tidak dianggap bahwa kata berawal &#8220;p+vokal&#8221; itu bisa memiliki dua kasus apabila diberi awalan &#8220;meN&#8221;? Sehingga ada yang luluh dan ada yang tidak, tetapi yang tidak luluh memang hanya sedikit.</p>
<p>Ketika membakuan bahasa bersifat &#8220;memaksa&#8221; dan keluar dari realitas di masyarakat, maka ini menjadi tidak wajar dan jika langkah itu yang diambil maka kita seolah-olah bukan hanya memperlakukan (bukan &#8220;memerlakukan&#8221;) bahasa hidup sebagai &#8220;matematika&#8221; (karena matematika tetap bersumber dari konsepsi akan realitas dan bukannya membuat kaedah sebelum menerapkannya), tetapi selayaknya bahasa pemrograman komputer yang kaedahnya dibuat terlebih dahulu secara baku baru kemudian penggunaannya harus mengikuti kaedah ini.</p>
<p>Ada pandangan lain, yaitu bahwa kata-kata seperti &#8220;mempunyai&#8221; itu memang tidak luluh karena bersumber dari kata dasar yang &#8220;ampuh&#8221;. Kata dasar yang ampuh adalah yang tidak berubah apapun kondisinya. Kata &#8220;punya&#8221; termasuk demikian. Karenanya, turunan kata ini adalah &#8220;mempunyai&#8221; dan &#8220;mempunyakan&#8221;. Begitu juga dengan &#8220;kaji&#8221; yang turunannya &#8220;mengkaji&#8221; dan pengkajian&#8221;, serta &#8220;sifat&#8221; yang seharusnya diturunkan menjadi &#8220;pensifatan&#8221; dan &#8220;mensifati&#8221; (bukan &#8220;penyifatan&#8221; dan &#8220;menyifati&#8221;).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pola &#171; nan tak (kalah) penting</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-752</link>
		<dc:creator>Pola &#171; nan tak (kalah) penting</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 17:38:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-752</guid>
		<description>[...] ilmu pasti dengan pola yang tetap. Mungkin itu sebabnya bahasa Indonesia baku disebut memiliki kemantapan dinamis.  -6.235545 [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] ilmu pasti dengan pola yang tetap. Mungkin itu sebabnya bahasa Indonesia baku disebut memiliki kemantapan dinamis.  -6.235545 [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: M.F. Mukthi</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-565</link>
		<dc:creator>M.F. Mukthi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:55:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-565</guid>
		<description>Sedikit menanggapi penggunaan kata &quot;cuma&quot; di atas. Mengapa mesti dipermasalahkan? Apakah lantaran belum dibakukan? Bagaimana dengan &quot;cuma-cuma&quot;, kata dasarnya kan &quot;cuma&quot;? Terima kasih. Bagaimanapun, tulisan di atas sangat berharga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit menanggapi penggunaan kata &#8220;cuma&#8221; di atas. Mengapa mesti dipermasalahkan? Apakah lantaran belum dibakukan? Bagaimana dengan &#8220;cuma-cuma&#8221;, kata dasarnya kan &#8220;cuma&#8221;? Terima kasih. Bagaimanapun, tulisan di atas sangat berharga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zulkifli harahap</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-555</link>
		<dc:creator>zulkifli harahap</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 09:13:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-555</guid>
		<description>Untuk informasi saja, Wojowasito,WJSP, dan Gaastra melalui kamus mereka, Kamus Umum Inggris-Indonesia (1959), jadi telah 50 tahun lalu, telah memperkenalkan &quot;audiensi&quot; untuk konteks &quot;bertemu muka resmi dengan orang penting: audiensi dengan Presiden SBY.&quot; Menurut saya (dan saya sudah mulai menggunakannya) &quot;khalayak&quot; pantas diperkenalkan sebagai padanan &quot;audience&quot; dalam konteks &quot;sidang pembaca, penonton&quot; karena di Google pun sudah muncul &quot;khalayak&quot; (143.000) dan &quot;khalayak sasaran&quot; (13.500). Oleh sebab itu, kita sebagai orang yang &quot;berkuasa&quot; untuk memadankan dengn kata Indonesia asli, mengapa kita tidak bergabung dengan teman-teman yang sudah lebih dulu menggunakannya?

&quot;Konten&quot; ada di kbbi iv ya . . . . Saya sudah bilang setiap kamus ada suka-tidak-sukanya. Apa pertimbangan kbbi untuk memasukkan &quot;konten&quot; sementara &quot;khalayak&quot; tidak? &quot;Konten lokal&quot; + &quot;konten, berupa&quot; cuma 120.000 sementara &quot;khalayak&quot; + &quot;khalayak sasaran&quot; + &quot;khalayak pembaca&quot; &gt; 170.000. Terlihat alangkah tidak sukanya mereka terhadap kata asli &quot;khalayak&quot; sehingga mereka lebih memilih memasukkan &quot;konten.&quot;

Saya berharap kita-kita yang di blog ini di samping cari uang dengan Bahasa seharusnya kita juga berupaya mengembakannya. Alasan tenggat menurut saya tidak dapat dijadikan untuk langsung menyambar kamus. Dengan adanya IT setiap orang memiliki korpus sendiri. Di saat pekerjaan lengang sebaiknya kita gunakan untuk mengembangkan &quot;kosakata&quot; kita sendiri.

&quot;Inga, inga&quot; saya dan &quot;audience&quot; Anda sangat berbeda menurut saya. Entah yang lain.

Bagaimanapun, berbincang dengan Anda menyenangkan dan memperkaya wawasan kebahasaan saya yang bukan berlatar belakang bahasa. Untuk itu, saya bersyukur bisa memasuki (saya sengaja tidak menggunakan &quot;mengakses&quot;) blog ini karena berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan sekalian yang banyak juga berkecimpung dalam penerjemahan yang juga saya kerjakan.

Sampai di pokok bahasan lain.

Salam,

Zul</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk informasi saja, Wojowasito,WJSP, dan Gaastra melalui kamus mereka, Kamus Umum Inggris-Indonesia (1959), jadi telah 50 tahun lalu, telah memperkenalkan &#8220;audiensi&#8221; untuk konteks &#8220;bertemu muka resmi dengan orang penting: audiensi dengan Presiden SBY.&#8221; Menurut saya (dan saya sudah mulai menggunakannya) &#8220;khalayak&#8221; pantas diperkenalkan sebagai padanan &#8220;audience&#8221; dalam konteks &#8220;sidang pembaca, penonton&#8221; karena di Google pun sudah muncul &#8220;khalayak&#8221; (143.000) dan &#8220;khalayak sasaran&#8221; (13.500). Oleh sebab itu, kita sebagai orang yang &#8220;berkuasa&#8221; untuk memadankan dengn kata Indonesia asli, mengapa kita tidak bergabung dengan teman-teman yang sudah lebih dulu menggunakannya?</p>
<p>&#8220;Konten&#8221; ada di kbbi iv ya . . . . Saya sudah bilang setiap kamus ada suka-tidak-sukanya. Apa pertimbangan kbbi untuk memasukkan &#8220;konten&#8221; sementara &#8220;khalayak&#8221; tidak? &#8220;Konten lokal&#8221; + &#8220;konten, berupa&#8221; cuma 120.000 sementara &#8220;khalayak&#8221; + &#8220;khalayak sasaran&#8221; + &#8220;khalayak pembaca&#8221; &gt; 170.000. Terlihat alangkah tidak sukanya mereka terhadap kata asli &#8220;khalayak&#8221; sehingga mereka lebih memilih memasukkan &#8220;konten.&#8221;</p>
<p>Saya berharap kita-kita yang di blog ini di samping cari uang dengan Bahasa seharusnya kita juga berupaya mengembakannya. Alasan tenggat menurut saya tidak dapat dijadikan untuk langsung menyambar kamus. Dengan adanya IT setiap orang memiliki korpus sendiri. Di saat pekerjaan lengang sebaiknya kita gunakan untuk mengembangkan &#8220;kosakata&#8221; kita sendiri.</p>
<p>&#8220;Inga, inga&#8221; saya dan &#8220;audience&#8221; Anda sangat berbeda menurut saya. Entah yang lain.</p>
<p>Bagaimanapun, berbincang dengan Anda menyenangkan dan memperkaya wawasan kebahasaan saya yang bukan berlatar belakang bahasa. Untuk itu, saya bersyukur bisa memasuki (saya sengaja tidak menggunakan &#8220;mengakses&#8221;) blog ini karena berkesempatan bertemu dengan rekan-rekan sekalian yang banyak juga berkecimpung dalam penerjemahan yang juga saya kerjakan.</p>
<p>Sampai di pokok bahasan lain.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Zul</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Setyadi</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-554</link>
		<dc:creator>Setyadi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 07:35:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-554</guid>
		<description>Pak Zul,
Dari amatan saya, mungkin adanya sikap skeptis thd laras bahasa baku disebabkan adanya pemahaman atau informasi yang kabur tentang makna “istilah” bahasa baku. Banyak orang mempertentangkan antara konsep “bahasa baku” dengan apa yang sering disebut-sebut sebagai “bahasa yang hidup berkembang di masyarakat”. Kedua laras bahasa (genre) tersebut memang berbeda sifat, fungsi, status, dan ranahnya. Jadi, mungkin tidak perlu dipertentangkan, dan seperti kata Pak Zul, orang tidak perlu setuju-tidak setuju atau suka tidak-suka.

Sty.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Zul,<br />
Dari amatan saya, mungkin adanya sikap skeptis thd laras bahasa baku disebabkan adanya pemahaman atau informasi yang kabur tentang makna “istilah” bahasa baku. Banyak orang mempertentangkan antara konsep “bahasa baku” dengan apa yang sering disebut-sebut sebagai “bahasa yang hidup berkembang di masyarakat”. Kedua laras bahasa (genre) tersebut memang berbeda sifat, fungsi, status, dan ranahnya. Jadi, mungkin tidak perlu dipertentangkan, dan seperti kata Pak Zul, orang tidak perlu setuju-tidak setuju atau suka tidak-suka.</p>
<p>Sty.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ivan Lanin</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-551</link>
		<dc:creator>Ivan Lanin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 02:32:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-551</guid>
		<description>&quot;Konten&quot; ada di KBBI IV, Pak. Tampaknya serapan dari &quot;content&quot; karena maknanya serupa. &quot;Audience&quot; itu sulit diterjemahkan langsung karena tergantung konteks: bisa pembaca, penonton, dll.

Saya pikir dalam ragam percakapan--komentar blog saya anggap sebagai suatu percakapan--kita bisa menggunakan ragam percakapan seperti halnya &quot;inga-inga&quot;.

Nginggris pernah dibahas di KOMPAS:
http://oase.kompas.com/read/2009/11/24/17574261/Bahasa.Indolish

Terima kasih atas masukan Pak Zul yang konstruktif.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Konten&#8221; ada di KBBI IV, Pak. Tampaknya serapan dari &#8220;content&#8221; karena maknanya serupa. &#8220;Audience&#8221; itu sulit diterjemahkan langsung karena tergantung konteks: bisa pembaca, penonton, dll.</p>
<p>Saya pikir dalam ragam percakapan&#8211;komentar blog saya anggap sebagai suatu percakapan&#8211;kita bisa menggunakan ragam percakapan seperti halnya &#8220;inga-inga&#8221;.</p>
<p>Nginggris pernah dibahas di KOMPAS:<br />
<a href="http://oase.kompas.com/read/2009/11/24/17574261/Bahasa.Indolish" rel="nofollow">http://oase.kompas.com/read/2009/11/24/17574261/Bahasa.Indolish</a></p>
<p>Terima kasih atas masukan Pak Zul yang konstruktif.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zulkifli harahap</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-550</link>
		<dc:creator>zulkifli harahap</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:49:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-550</guid>
		<description>Konten itu apa?
Audience itu apa?
Maaf, kok bisa-bisanya seorang penatar penerjemah bergado-gado ria dalam berbahasa Indonesia?

Tolong (kalau masih ada) dengar percakapan antara Uncle Jay(?) dengan mitranya di radio Trisakti yang pada saat berbahasa Inggris dia tidak memasukkan satu pun kata Indonesia; demikian sebaliknya. Dia nyerocos tanpa ada &quot;aaaa&quot; (ndeso atau &quot;eMMMMMM&quot; (ngingris). Fasih sekali! Kalau orang Batak sok berbahasa Indonesia tetapi sesekali masih keluar satu dua kata Bataknya, oleh kami: &quot;Sombong kali dia, Bahasa Indonesianya saza masih marpasir-pasir [berpasir-pasir] berbahasa Indonesia pula pula kau sama awak.&quot; Kalau sudah mendengar begitu, biasanya orang yang bersangkutan langsung loyo karena malu besar.

Tetapi tidak apa-apa. Mungkin kita perlu sepakat bahwa sekarang sudah ada ragam Bahasa Indonesia baru yang mungkin boleh kita sebut dengan ragam Nginggris.

Saya tidak tahu apa motif orang bisa Nginggris padahal kita bukan jajahan Inggris atau negara yang warganya bertutur dengar Bahasa Inggris. Saya maklum nenek dan kakek saya mau ber-ik-en yee karena mereka memang perlu menjilat Belanda. Orang Ngingris menjilat siapa? Apa karena Negara ini banyak berhutang pada Inggris dan Amerika?

Allah pasti yang tahu.


Salam,

Zul</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Konten itu apa?<br />
Audience itu apa?<br />
Maaf, kok bisa-bisanya seorang penatar penerjemah bergado-gado ria dalam berbahasa Indonesia?</p>
<p>Tolong (kalau masih ada) dengar percakapan antara Uncle Jay(?) dengan mitranya di radio Trisakti yang pada saat berbahasa Inggris dia tidak memasukkan satu pun kata Indonesia; demikian sebaliknya. Dia nyerocos tanpa ada &#8220;aaaa&#8221; (ndeso atau &#8220;eMMMMMM&#8221; (ngingris). Fasih sekali! Kalau orang Batak sok berbahasa Indonesia tetapi sesekali masih keluar satu dua kata Bataknya, oleh kami: &#8220;Sombong kali dia, Bahasa Indonesianya saza masih marpasir-pasir [berpasir-pasir] berbahasa Indonesia pula pula kau sama awak.&#8221; Kalau sudah mendengar begitu, biasanya orang yang bersangkutan langsung loyo karena malu besar.</p>
<p>Tetapi tidak apa-apa. Mungkin kita perlu sepakat bahwa sekarang sudah ada ragam Bahasa Indonesia baru yang mungkin boleh kita sebut dengan ragam Nginggris.</p>
<p>Saya tidak tahu apa motif orang bisa Nginggris padahal kita bukan jajahan Inggris atau negara yang warganya bertutur dengar Bahasa Inggris. Saya maklum nenek dan kakek saya mau ber-ik-en yee karena mereka memang perlu menjilat Belanda. Orang Ngingris menjilat siapa? Apa karena Negara ini banyak berhutang pada Inggris dan Amerika?</p>
<p>Allah pasti yang tahu.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Zul</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zulkifli harahap</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-549</link>
		<dc:creator>zulkifli harahap</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 17:49:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-549</guid>
		<description>Tunjuknya kamus pada kenyataan di lapangan bukan masalah setuju-tidak-setuju. Kamus MENCATAT dalam arti leksikal kata-kata yang diambil dari arti struktural yang ada di lapangan. Sebagai contoh, &quot;terkini&quot; di kbbi3 masih berisi arti lama sementara di lapangan saya sudah menggunakan arti struktural yang lain bertahun-tahun sebelum kbbi lahir. Dengan modal arti lama ini salah seorang pemerhati bahasa Indonesia pernah mengulasnya dalam satu harian nasional. Dia mengatakan awalan &quot;ter&quot; pada &quot;terkini&quot; tidak tepat karena menurutnya dalam kbbi &quot;kini&quot; itu berarti &quot;detik ini&quot; ini, yang diam seperti titik. Sementara di lapangan banyak orang yang mengartikan &quot;terkini&quot; itu sebagai &quot;yang terbaru dari yang baru,&quot; misalnya &quot;laporan terkini,&quot; &quot;berita terkini,&quot; dan lain sebagainya. Jadi, kamus sebagai pencatat arti struktural sebuah kata HARUS juga mencatat arti baru yang sudah digunakan oleh penutur; bukan penutur yang harus tunduk pada kamus. JANGAN DIBOLAK-BALIK! Lagi pula, jangankan kamus, tatabahasa Bahasa Indonesia (dulu: Melayu) didokumentasikan mungkin ratusan tahun setelah Bahasa ini digunakan di Nusantara. Oleh sebab itu, kalau ada orang mengatakan agar jangan menggunakan kata yang belum ada dalam kamus ketahuilah bahwa orang yang bersangkutan PASTI belum paham apa yang disebut kamus itu. 

Contoh terbaru: Para waria dan homoseks telah lama menggunakan argot &quot;kencana&quot; untuk &quot;kencing, &quot;kelewong&quot; untuk &quot;keluar,&quot; &quot;kenti&quot; untuk satu bagian tubuh yang sangat merek sukai, dsb. sementara Kamus Gaul baru terbit beberapa tahun lalu. Si penganggit memperoleh argot itu di lingkungannya yang dipenuhi oleh mereka si pengguna argot tersebut. Sekarang anak kecil pun rata-rata sudah menggunakan &quot;ember&quot; untuk &quot;emang&quot;; kelak kata ini akan masuk ke dalam kbbi tergantung sejauh mana kriteria Pusat Bahasa untuk memasukkan kata baru dari sekian ratus ribu kosakata yang ada dalam korpus mereka dan setiap kamus mempunyai kriteria masing-masing. Kriteria masing-masing inilah yang membuat satu kata ada tidaknya dalam kamus. Jadi ada &quot;suka-tidak-sukanya.&quot; Jadi pantaskah kita mengikuti &quot;suka-tidak-suka&quot; orang lain. 

Kalau saya, &quot;Tidaaaaaaak!&quot;

Zul</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tunjuknya kamus pada kenyataan di lapangan bukan masalah setuju-tidak-setuju. Kamus MENCATAT dalam arti leksikal kata-kata yang diambil dari arti struktural yang ada di lapangan. Sebagai contoh, &#8220;terkini&#8221; di kbbi3 masih berisi arti lama sementara di lapangan saya sudah menggunakan arti struktural yang lain bertahun-tahun sebelum kbbi lahir. Dengan modal arti lama ini salah seorang pemerhati bahasa Indonesia pernah mengulasnya dalam satu harian nasional. Dia mengatakan awalan &#8220;ter&#8221; pada &#8220;terkini&#8221; tidak tepat karena menurutnya dalam kbbi &#8220;kini&#8221; itu berarti &#8220;detik ini&#8221; ini, yang diam seperti titik. Sementara di lapangan banyak orang yang mengartikan &#8220;terkini&#8221; itu sebagai &#8220;yang terbaru dari yang baru,&#8221; misalnya &#8220;laporan terkini,&#8221; &#8220;berita terkini,&#8221; dan lain sebagainya. Jadi, kamus sebagai pencatat arti struktural sebuah kata HARUS juga mencatat arti baru yang sudah digunakan oleh penutur; bukan penutur yang harus tunduk pada kamus. JANGAN DIBOLAK-BALIK! Lagi pula, jangankan kamus, tatabahasa Bahasa Indonesia (dulu: Melayu) didokumentasikan mungkin ratusan tahun setelah Bahasa ini digunakan di Nusantara. Oleh sebab itu, kalau ada orang mengatakan agar jangan menggunakan kata yang belum ada dalam kamus ketahuilah bahwa orang yang bersangkutan PASTI belum paham apa yang disebut kamus itu. </p>
<p>Contoh terbaru: Para waria dan homoseks telah lama menggunakan argot &#8220;kencana&#8221; untuk &#8220;kencing, &#8220;kelewong&#8221; untuk &#8220;keluar,&#8221; &#8220;kenti&#8221; untuk satu bagian tubuh yang sangat merek sukai, dsb. sementara Kamus Gaul baru terbit beberapa tahun lalu. Si penganggit memperoleh argot itu di lingkungannya yang dipenuhi oleh mereka si pengguna argot tersebut. Sekarang anak kecil pun rata-rata sudah menggunakan &#8220;ember&#8221; untuk &#8220;emang&#8221;; kelak kata ini akan masuk ke dalam kbbi tergantung sejauh mana kriteria Pusat Bahasa untuk memasukkan kata baru dari sekian ratus ribu kosakata yang ada dalam korpus mereka dan setiap kamus mempunyai kriteria masing-masing. Kriteria masing-masing inilah yang membuat satu kata ada tidaknya dalam kamus. Jadi ada &#8220;suka-tidak-sukanya.&#8221; Jadi pantaskah kita mengikuti &#8220;suka-tidak-suka&#8221; orang lain. </p>
<p>Kalau saya, &#8220;Tidaaaaaaak!&#8221;</p>
<p>Zul</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zulkifli harahap</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2010/01/beberapa-ciri-bahasa-indonesia-baku/comment-page-1/#comment-513</link>
		<dc:creator>zulkifli harahap</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 11:35:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.bahtera.org/?p=631#comment-513</guid>
		<description>INGAT! Tidak semua kata kerja HARUS BERIMBUHAN. Kata kerja yang berbentuk kata dasar disebut dengan KATA KERJA AUS. &quot;Ingat&quot; termasuk di antaranya: &quot;Inga, inga . . . .&quot; Untuk itu, kalau Anda ragu, selalulah mengacu ke kamus. Dalam kamus kata kerja aus ini selalu diikuti oleh &quot;v&quot; dan penjelasannya; kata kerja yang bukan kata kerja aus selalu diikuti oleh kata bentukannya (penambahan imbuhan) baru diikuti penjelasannya. Misalnya, naik, v, 1 bergerak dari bawah ke atas.
INGA, INGA, KATA KERJA TIDAK SELALU BERIMBUHAN DAN KALIMAT DENGAN PREDIKAT TANPA IMBUHAN BUKAN KALIMAT BUKAN-BAKU.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>INGAT! Tidak semua kata kerja HARUS BERIMBUHAN. Kata kerja yang berbentuk kata dasar disebut dengan KATA KERJA AUS. &#8220;Ingat&#8221; termasuk di antaranya: &#8220;Inga, inga . . . .&#8221; Untuk itu, kalau Anda ragu, selalulah mengacu ke kamus. Dalam kamus kata kerja aus ini selalu diikuti oleh &#8220;v&#8221; dan penjelasannya; kata kerja yang bukan kata kerja aus selalu diikuti oleh kata bentukannya (penambahan imbuhan) baru diikuti penjelasannya. Misalnya, naik, v, 1 bergerak dari bawah ke atas.<br />
INGA, INGA, KATA KERJA TIDAK SELALU BERIMBUHAN DAN KALIMAT DENGAN PREDIKAT TANPA IMBUHAN BUKAN KALIMAT BUKAN-BAKU.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
