Mengenai RINCI dan PERINCI

Pada mulanya adalah Slamet Djabarudi, wartawan Tempo yang bahasawan, yang penasaran dengan apa sebetulnya kata dasar “memerinci“. Pada awal dasawarsa delapan puluhan saya kira. Jadi, belum ada KBBI. Pusat Bahasa masih mengandalkan Kamus Umum Bahasa Indonesia Mas Poer.

Slamet memang menemukan lema PERINCI di kamus itu. Turunannya: PERINCIAN yang setali tiga uang dengan PERINCISAN. Namun, di sana tersua petunjuk bahwa bentuk baku PERINCI adalah RINCI. Pada lema RINCI ada MERINCI: (1) ‘memecahkan (membagi-bagi, menguraikan) kecil-kecil’; (2) ‘menerangkan (merancang dsb.) yang menyebutkan bagian-bagiannya yang kecil-kecil’. Ada pula turunan PERINCIAN: (1) ‘pembagian yang kecil-kecil’; (2) ‘uraian (suatu) perancangan’.

Sejak itu Tempo pakai MERINCI. Selama Slamet redaktur Bahasa di Tempo sejak itu hanya ada MERINCI di Tempo. RINCI sebagai kata dasar tampaknya disambut baik oleh pembaca setia Tempo, termasuk saya. RINCI dan PERINCI bersaing di pasar.

Pusat Bahasa yang menerbitkan KUBI Mas Poer rupanya enggan menerima “temuan” Slamet. Di KBBI Edisi Pertama yang kali pertama terbit tahun 1988 dua lema, RINCI dan PERINCI, sama-sama dihidupkan tanpa ada petunjuk pada lema PERINCI bahwa yang baku adalah RINCI. Pendek kata, KBBI yang bersumber pada KUBI itu sepertinya tak percaya pada Mas Poer tentang lema RINCI dan PERINCI ini. Terlalu banyak kepala yang menyusun KBBI rupanya sehingga sukar bagi Pusat Bahasa menentukan sikap.

Saya termasuk yang pro-Slamet dalam urusan ini. Tak pernah saya buka KBBI untuk mencek RINCI atau PERINCI yang baku. Untuk lema ini saya cukup buku KUBI Mas Poer.

KUBI itu bikinan W.J.S. Poerwadarminta, cetakan pertamanya tahun 1953. Lalu, Pusat Bahasa tahun 1974 selesai mengolah ulang kamus ini dengan menambahkan 1.000 lema, jadilah KUBI Poerwadarminta olahan Pusat Bahasa. Itulah KUBI yang terus dicetak ulang hingga kini. Tahun 1988 Pusat Bahasa menciptakan KBBI sebagai edisi perdana. Ganti kepala, Pusat Bahasa tampaknya menerbitkan edisi demi edisi KBBI. Tahun 2008 Pusat Bahasa yang dipimpin Dendy S. menerbitkan edisi keempat KBBI. Namanya berubah sejak edisi keempat menjadi KBBI Pusat Bahasa. Penambahan “Pusat Bahasa” dalam nama kamus ini memang perlu sebab dalam beberapa tahun terakhir terbit juga KBBI susunan “saya lupa namanya”. KBBI versi lain ini dijual di toko-toko buku.

Catatan: Menurut Herman Ardiyanto, kata terdekat dalam kamus Melayu Lama (Crawfurd, 1856) adalah “rinchik” (a chip, a bit, a small piece).

Trackback

5 comments untill now

  1. zulkifli harahap @ 2010-02-02 23:09

    Menambah yang kurang. Sebelum KBBI, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa) telah menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia yang terdiri atas dua jilid (jilid 1 berisi A – J, dan Jilid 2 berisi K – Z) pada tahun 1983. Di sudut kanan atas ada kotak: “Tidak diperdagangkan untuk umum.” Mungkin KBI ini disebarkan untuk kalangan terbatas sehingga agak banyak juga orang yang tidak mencakupkan ini dalam urutan evolusi kamus yang disusun oleh Pusat Bahasa.

  2. Di mana bisa diperoleh kamus ini, Pak?

  3. zulkifli harahap @ 2010-02-10 12:09

    Saya dulu diberikan oleh Pak Adi Sunaryo, gratis; mungkin dapat Anda tanyakan ke Pusat Bahasa. Tetapi menurut saya, apa yang ada di dalam KBI’83 ini sudah termasuk dalam KBBI karena waktu saya berkunjung ke sana setelah KBBI edisi pertama terbit mereka bilang yang gratisan sudah tidak ada lagi karena bukan lagi diterbitkan oleh PDK.

    Kalau mau memilikinya sebagai koleksi mungkin Anda dapat memburunya ke Pasar Senen, Jakarta atau Pasar Palasari, Bandung.

    Salam,

    Zul

  4. Hendra Satria @ 2011-02-10 22:09

    Luar biasa Pak..blog ini sungguh bermanfaat.. Terima kasih Pak, jaya selalu

  5. Kalau begitu saya lebih cenderung dengan pilihan “rinci” sebagai kata dasar. Jadi penasaran juga dengan Kamus Bahasa Indonesia yang 2 jilid dan tidak diperdagangkan secara umum itu. ­čśÇ

Add your comment now