Jika supir punya risiko pekerjaan mengalami kecelakaan, maka penerjemah yang menjalani harinya di depan komputer lebih dari 10 jam sehari berisiko mengalami Repetitive Strain Injury (RSI). Namanya risiko, jadi tidak pasti semua penerjemah mengalaminya. Namun saya termasuk yang tidak beruntung dan terkena RSI.

Pertama kali mendapat RSI mungkin sekitar 8 tahun lalu. Waktu itu ketika hamil tua, saya ber-’hoki’ bagus mendapat banyak pekerjaan. Akibatnya, cuti melahirkan dihabiskan di depan komputer. Enam bulan sesudah anak pertama saya lahir, RSI mulai menyerang perlahan-lahan. Waktu itu tidak terlalu berat, ibu jari tidak bisa ditekuk dan terasa kaku setiap saat, di samping juga saya kena kesemutan abadi. Namun dengan terapi tangan (hanya latihan menggerakkan jari-jari) dan menggunakan penyokong persendian (wrist splint) saya berangsur-angsur sembuh.

Pertengahan tahun ini RSI muncul lagi. Sekitar bulan Mei, anak-anak dan bapak mereka pergi berlibur seminggu dan saya tinggal di rumah sendirian. Satu pekan itu saya lewati kembali di depan komputer. Mengetik dari pagi hingga tengah malam. Minggu berikutnya, dari ujung jari tengah kanan sampai ke bahu kanan terasa sakit, linu dan jari tengah tidak bisa digerakkan. Setiap pagi saya terbangun oleh rasa kesemutan di seluruh lengan kanan. Begitu duduk di depan komputer, siku saya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum!

Nasihat dokter dan ahli fisioterapi yang saya temui: postur duduk harus diperbaiki dan harus banyak istirahat. Mengetik seharian harus menjadi pantangan.

Panik karena takut tidak bisa bekerja lagi, saya mengganti keyboard, kursi dan meja komputer dengan yang lebih ergonomik. Tetikus yang saya pakai memang sudah ergonomik, yaitu jenis rolling mouse yang bisa dipakai oleh dua tangan bukan hanya dengan tangan kanan. Tapi dengan keyboard baru, saya tidak bisa menggunakan tetikus lama. Akibatnya saya membeli tetikus baru yang juga menurut banyak kajian di majalah komputer sama ergonomiknya. Namun tetap rasa sakit tak kunjung hilang, padahal terapi fisio jalan terus, akupuntur juga dilakukan. Jalan terakhir adalah libur total dari mengetik. Karena waktu itu memang sudah dekat dengan libur musim panas, saat anak-anak libur sekolah panjang, saya memutuskan libur total 3 bulan.

Menurut kepala suku Bahtera, Sofia Mansoor, semua ini ada hikmahnya: saya mendapat liburan panjang. Pertama kali dalam sewindu ini saya liburan tanpa membawa laptop, tanpa menyentuh komputer. Enak juga. Liburan diisi dengan naik sepeda, main badminton, jalan-jalan, main layangan dan olahraga.

Setelah 3 bulan, tangan saya mulai membaik. Saya memutuskan memasang perangkat lunak RSI Break di komputer yang fungsinya menghentikan saya dari mengetik. Perangkat ini bisa kita setel sendiri. Saya memasang setelan paling ‘galak’ yang memaksa saya berhenti mengetik setiap 13 menit. Layar akan menjadi putih kosong, dan tetikus dimatikan oleh perangkat itu. Selain itu ada latihan, semacam olahraga perentangan yang ditampilkan di layar dan saya harus ikut melakukannya. Terasa juga manfaatnya karena setiap saat saya diingatkan untuk memperbaiki postur duduk dan juga harus beristirahat secara teratur. Anak-anak saya juga sering berperan sebagai polisi. Jika saat istirahat komputer saya tidak melakukan perenggangan, mereka akan teriak, “Mum, you’re cheating!

Tapi ada dampaknya pada pekerjaan. Laju kerja jadi melamban. Saya tidak berani sekarang ini mengambil dua proyek pada waktu yang sama karena takut tidak akan bisa menyelesaikannya. Saya juga menolak semua pekerjaan yang tenggat waktunya ketat. Pekerjaan kecil-kecil saya tolak. Saya pikir tadinya, ”Wah bisa miskin nih. Siapa sih yang mau memberi pekerjaan dengan mengikuti aturan main saya.” Tapi ternyata ada tuh yang mau, walau tentunya klien yang pindah ke penerjemah lain juga ada.

Dan saya lihat karena kini saya tidak terburu-buru dikejar tenggat waktu, hasil kerja malah lebih rapi, hampir tidak ada kesalah ejaan atau salah ketik. Saya punya lebih banyak waktu untuk berpikir, mengecek kamus, KBBI dan lain-lain. Juga karena saya tidak diperbudak pekerjaan lagi, kini saya bisa lari ke gym sebelum makan siang atau sekadar membersihkan rumah yang dulunya sering tak tertangani! (artinya menghemat tak usah menyewa pembersih!) Dasar orang Indonesia, semua ada hikmahnya!

,
Trackback

3 comments untill now

  1. Dear Lenah,

    Kakak saya juga mengalami hal yang hampir mirip, intinya adalah kaku di persendian jari-jari tangan, dan believe it or not, setelah berdoa mohon kesembuhan di lourdes, dalam waktu tidak lama, penyakit itu sembuh. Intinya adalah: selain menggunakan RSI Break, Lenah bisa mencoba berdoa (dalam agamanya sendiri tentunya)untuk mohon kesembuhan.

    Salam

    Franz

  2. Teh Lenah,

    Benar bahwa setiap penerjemah menghadapi risiko terkena RSI. Terasa ketika bekerja sangat keras dan kurang istirahat. Padahal seringkali tenggat waktu pekerjaan tidak dapat ditawar. Berarti, kita harus pintar mengatur waktu kapan memaksa diri beristirahat. Juga benar bahwa doa itu penyembuh bagi segala penyakit. Semoga kita semua pintar mengambil hikmah.

    Salam hangat,
    Wiyanto

  3. Alpha:Thanks so much for writing a commnet for my book. May I take this opportunity to express my immensed gratitude to you! And your website is so wonderful, I will download the programme you designed to support you. Add oil! My friend~Larry

Add your comment now