Dari manakah asal kata “Anda”?

Dari manakah asal kata “Anda”? Menurut Ajip Rosidi dalam tulisannya, Kegagalan “Anda”, di rubrik Stilistika di Pikiran Rakyat, kata ini tercipta pada tahun 1958 ketika Rosihan Anwar, pimpinan koran Pedoman saat itu, mengundang para pembacanya untuk urun usul kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata “you” dalam bahasa Inggris. Dari banyak usul yang masuk, menurut Ajip, akhirnya dipilih kata “anda” yang diusulkan oleh seorang mayor penerbang dari Palembang.

Dalam tulisannya, menurut Ajip, setelah lewat setengah abad, keinginan Rosihan Anwar untuk menemukan satu kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang seperti kata “you” dalam bahasa Inggris ini tidak berhasil tercapai.

Benarkah? Sebagai orang yang mengenal Rosihan Anwar secara pribadi, di milis Bahtera, Akhmad Bukhari Saleh (ABS) menjabarkan sedikit cerita di balik layar tentang peristiwa ini: alasan pencarian, alternatif kata, serta mengapa “Anda” ditulis dengan diawali huruf kapital. Sebelum menyimak tulisan ini, jangan lupa untuk membaca dulu tulisan Ajip Rosidi, Kegagalan “Anda”.


Saya kenal pribadi Rosihan Anwar dan saya mengikuti prosesnya ketika kata “Anda” muncul di koran Pedoman. Waktu itu yang dicari memang bukan sebarang kata ganti orang kedua, melainkan kata ganti orang kedua yang menghormati saja. Menghormati, namun bukan mayestatis. Seperti “U” dalam bahasa Belanda. Jadi bukan mencari satu kata yang sekaligus bisa mencakup “U” dan “jij“. Dalam bahasa Belanda pun kata ganti orang kedua tidak hanya satu.

Di jaman itu kata ganti orang kedua yang menghormati memang belum ada.

Kata “Bung” yang dipakai untuk menyapa pemimpin-pemimpin bangsa jaman itu, justru asal mulanya dipakai untuk menciptakan egaliterisme di antara para pejuang kemerdekaan. Karena itu tidak dipilih oleh Rosihan.

Kata “Bapak” dalam penggunaan seperti sekarang belum ada. Menyebut “Bapak Menteri“, apalagi “Bapak Presiden“, dengan huruf kecil maupun kapital, di jaman itu merupakan derogasi. Bisa-bisa Bung Karno ‘menyemprot’: “Memangnya saya kawin sama ibu kamu!?”, kalau seseorang menyapa beliau dengan “Bapak Presiden” di jaman itu. Dan memang, status menghormati pada kata “Bapak” (dan “Ibu“) yang ada sekarang ini adalah hasil ‘kerja’ Soeharto yang di tahun 1966 menggusur’ sapaan “Jang Mulia (JM)” dan “Paduka Jang Mulia (PJM)” dalam rangka politik desakralisasi terhadap Soekarno, Kabinet 100 Menteri dan DPR-GR.

Tadinya Rosihan mengira kata “Tuan” bisa dipakai. Dan dalam beberapa lirik lagu-lagu jaman itu kata “Tuan” sudah mulai kerap dipakai sebagai kata ganti orang kedua yang menghormati. Bahkan satu kata itu dipakai untuk kedua gender.

Di kalangan tentara, sapaan menghormat pada orang kedua menggunakan pangkatnya masing-masing. Namun dalam pendidikan ketentaraan, ketika semua siswa harus mencopot tanda pangkatnya, agar pelatih berpangkat rendah dapat leluasa menegur siswa berpangkat lebih tinggi, di jaman itu juga dipergunakan kata “Tuan” dari pelatih untuk menyapa siswa secara menghormati.

Tetapi ternyata penggunaan kata “Tuan” di kalangan tentara itulah yang justru memunculkan kontroversi karena kata “Tuan” di jaman itu menimbulkan kesan kebelanda-belandaan (istilah waktu itu “blandis“), yang tidak disukai, bahkan dibenci, karena permusuhan dengan Belanda belum lama berlalu.

Jadi memang karena ketiadaan kata ganti orang kedua yang menghormati itulah, maka Rosihan Anwar terdorong mencarinya.

Dan akhirnya menemukan kata “Anda” itu. Ditulis dengan kapital seperti halnya “Sie” dalam bahasa Jerman. Perlu diingat dalam bahasa Jerman ada juga “sie” yang tanpa kapital.

Soal kata “Anda” diusulkan seorang tentara, dan berasal dari nama penyanyi, itu pemanis cerita saja. Sebetulnya itu adalah hasil ‘coinage’ Rosihan dan staf redaksi Pedoman sendiri dari kata “andika“, yang supaya ‘ngindonesiani’ lalu di-‘mistik‘ menjadi “Anda“.

Trackback

14 comments untill now

  1. Jadi bukan dari akar bahasa daerah? Tercipta begitu saja? Menarik juga ya mengenal latar belakang kata yang kita pakai…

  2. Wow menarik, ternyata begitu toh asal kata “Anda”

  3. Wah menarik sekali sejarahnya. Saya merasa sangat berkepentingan karena sering menulis menggunakan kata “Anda” untuk menyapa para pembaca.

  4. tadinya saya pikir dari kata arab “anta” yg bunyinya mirip dan artinya sama . . .

  5. Wah menarik sekali infonya. Dulu pernah juga “diperjuangkan” Anda sebagai kata ganti yang demokratis. Sebagai “perlawanan” terhadap sapaan Bapak yang terkesan ABS. Kalau gak salah pengusulnya Mahbub Junaidi (alm).
    Salam.

  6. Sangat menarik dan mencerahkan. Thanks ya.

  7. zulkifli harahap @ 2010-02-02 23:16

    Nompang tanya, apakah benar “a” dalam “anda” itu ditulis dengan huruf besar tujuannya ialah untuk menghindari “jilat menjilat”? Artinya, agar seseorang tidak menulis “anda” untuk orang biasa dan “Anda” untuk orang besar. Mungkin ada kawan-kawan yang mengetahui alasan persisnya.

    Terima kasih dan salam,

    Zul

  8. Tapi tidak terjawab bagaimana akhirnya yang terpilih “Anda”, apa alasan atau dasarnya?

  9. Saya pernah ingat membaca sebuah artikel di Intisari (kalau saya tidak salah ingat) di sekitar tahun 1980-an bahwa si “pencipta” kata “anda” ini adalah orang Minang. Saya tidak ingat nama beliau, namun kalau tidak salah artikel yang saya baca saat itu memberitakan wafatnya si pencipta kata “anda”. CMIIW.

  10. apakah ada hubungannya perkembangan penggunaan kata ‘Anda’ sebagai kata ganti orang kedua dengan ‘Awda’ yang dipergunakan secara luas pada bahasa Melayu Brunei?

  11. […] pembentukan kata “Anda” yang dipopulerkan oleh Pak Rosihan Anwar ini telah diuraikan oleh Pak ABS di milis Bahtera pada akhir tahun 2009. Menurut Pak ABS–yang mengenal Pak Rosihan secara […]

  12. citra megasari @ 2013-02-12 17:26

    ijin salin tempel ya 😉

  13. Artikel pikiran rakyatnya sudah hilang nih.
    Bisa carikan atau kutipkan artikel aslinya nggak ya?

  14. Iya, nih… share tulisan Ajip Rosidi Kegagalan “anda” donk :) email ke humes221b@gmail.com bagi yg punya datanya

    Thanks

Add your comment now