Terorisme Punya Tiga Istri

Mungkin Anda pikir penguasaan bahasa dan materi adalah hal yang paling penting dalam interpreting. Saya bilang TIDAK! Justru kesehatan kuping yang paling penting. Tidak setiap pembicara punya kebiasaan bicara yang “bersahabat” dengan kuping kita. Kadang, bicaranya terlalu halus atau terlalu cepat.

Belum lagi dialek dan aksen yang menambah ruwet. Pernah, dalam suatu seminar, ada seorang pembicara asal India. Meski ia bicara bahasa Inggris, kayaknya, saya tidak mengerti satu patah kata pun yang diucapkannya. Saya curiga jangan-jangan ia merapalkan mantra dalam bahasa Sanskrit, dan bukan bicara tentang teknologi informasi dalam bahasa Inggris.

Di lain kesempatan saya harus menerjemahkan untuk orang Australia dalam suatu sesi pelatihan. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan si pembicara, saya yakin saya bisa menguasai dialeknya yang rada asing itu. Singkat cerita interpreting berjalan lancar sampai dia berkata, “There are three wives in terrorism history.”

“WIVES?” saya spontan mengkonfirm si pembicara. Gimana bisa terorisme punya TIGA ISTRI?

Yeah WIVES like WIVES in the ocean!

Oalah waves! “Ada tiga gelombang sejarah terorisme …” saya menerjemahkan dengan senyum lebar.

Di lain kesempatan pembicara yang sama berkata, “If you fined someone because he’s spitting …

Saya langsung menerjemahkan, “Jika Anda menilang orang karena dia meludah …”

Eh tunggu, kok ada yang janggal ya. Masak ada orang ditilang karena meludah. Oke, itu lazim di Singapura, tapi konteksnya kan Indonesia. Pucat pasi saya buru-buru mengoreksi, “Eh maksud saya, bila Anda menilang orang karena dia NGEBUT!”

Pasti yang ia maksud adalah SPEEDING bukan SPITTING.

Lain waktu saya dan beberapa teman menerjemahkan dalam pelatihan PPGD (Penanganan Pertama Gawat Darurat). Berhubung ini adalah pelatihan yang sudah dilakukan berkali-kali, semua materi sudah dihapal luar kepala. Bedanya ini pelatihan aktif, pakai praktik. Semua orang waspada dan bergerak cepat. Suasana gawat benar-benar tercipta. Interpreternya juga harus aktif. “Check the pulse, check the pulse,” seorang instruktur berkata sambil memberi contoh.

“Cek pulsanya!” Gubrak! Si interpreter terbawa situasi dan buru-buru mengoreksi, “Maaf, maksud saya cek nadinya!”

Selain harus punya kuping yang baik, seorang interpreter juga harus bisa berlaku seperti cenayang. Bisa membaca pikiran orang lain.

Waktu awal-awal saya jadi interpreter, misalnya, saya mendampingi seorang expatriate dan ia berkata, “We’ll go to Polda bus.” MAKSUDnya? Saya bingung tapi nggak berani nanya. Soalnya kalimatnya jelas banget. Polda bus! Jadi somewhere pasti ada bus dari polda. Nggak tuh! Nggak ada satu bus pun. Saya terus berpikir sampai kemudian saya sadar! Poldabus sama dengan Poltabes! Poltabes! Hanya saja lidah Amerikanya mengucapkan /t/ dengan tebal seperti /d/ dan bukankah /bus/ memang kedengarannya seperti /bes/?

Saya lega ketika akhirnya kami sampai di Poltabes, sesuai dengan kemauan klien.

Kali berikutnya saya sudah lebih tenang ketika klien mengatakan, “We met with General Kecap.”

Jenderal Kecap? Ada gitu nama orang Indonesia Kecap? Saya mencoba berkepala dingin. Ini pasti cuma perkara salah pronounciation. Saya muter otak mencari kira-kira nama apa yang ia maksudkan. Kecuk? Kelik? Icuk? Nggak ada yang pas. Sampai akhirnya saya tahu! Cecep! Pasti! Selayaknya ejaan Inggris, dia mengucapkan ‘C’ di depan dengan bunyi /k/ dan “C” di belakang dengan bunyi  /ch/. Jadi deh dalam pronunciation Inggris, Cecep sama dengan “Kechap.” Cihuy, rasanya saya baru saja memecahkan kode rahasia.

Lain kali saya bekerja untuk ekspat yang hobi berlajar bahasa Indonesia. Saya selalu menghargai ekspat yang mau berusaha keras seperti ini. Tapi sayangnya yang saya dengar adalah kata-kata yang sama sekali nggak ada artinya, seperti “Say miauw kamera kuchel.”

Sorry?” saya minta dia mengulangi. Dia mengulangi lagi dan malah makin bundet. Saya yang pertama menyerah, “Can you say it in English, please?”

I WANT TO GO TO THE TOILET,” zreeeeet done! Oh, jadi dia tadi bilang, “Saya mau ke kamar kecil!”

Dimuat di buku “Tersesat Membawa Nikmat.”

Trackback

4 comments untill now

  1. ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..Jadi ingat bbrp tahun lalu wkt berkesempatan jadi interpreter, sempat mengalami pengalaman serupa.

  2. nila sukma ayu @ 2009-12-27 14:50

    nah itu dia kenapa saya jadi ciut nyali bila ditanya apakah saya mau menjadi interpreter.. kadang2 saya pentium 3 sih..hahaha

  3. Wakakakaka … mungkin perlu terbit di ‘Mati Ketawa Cara Bahtera’… 😀

  4. dari judulnya, saya mengira akan ada pembicaraan serius seputar terorisme. sementara yang saya dapati justru kejenakaan yang menyegarkan. thanks for amusing us. 😀

Add your comment now