<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Penerjemah penuh waktu versus penerjemah lepas</title>
	<atom:link href="http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/</link>
	<description>asah asih asuh bersama melayari samudra bahasa dan terjemahan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 03:39:05 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Retty</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-400</link>
		<dc:creator>Retty</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:19:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-400</guid>
		<description>Seru juga dapat menimba pengalaman banyak orang disini...Kalau saya sih belum pernah jadi penerjemah kantoran. Jadi penerjemah lepas tentunya lebih butuh disiplin diri yang tinggi, buat yang masih dibuntuti anak kemana-mana juga perlu kemampuan membuat jadwal kerja yang fleksibel tapi dijalankan (hehehe...), dan tentunya materi terjemahan bisa disesuaikan dengan minat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seru juga dapat menimba pengalaman banyak orang disini&#8230;Kalau saya sih belum pernah jadi penerjemah kantoran. Jadi penerjemah lepas tentunya lebih butuh disiplin diri yang tinggi, buat yang masih dibuntuti anak kemana-mana juga perlu kemampuan membuat jadwal kerja yang fleksibel tapi dijalankan (hehehe&#8230;), dan tentunya materi terjemahan bisa disesuaikan dengan minat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Harry</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-395</link>
		<dc:creator>Harry</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 06:07:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-395</guid>
		<description>Aduh...asiknya jadi dua-duanya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh&#8230;asiknya jadi dua-duanya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Valentina Utari</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-337</link>
		<dc:creator>Valentina Utari</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 04:33:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-337</guid>
		<description>Saya pernah menjadi penerjemah penuh waktu dan penerjemah lepas.
Saya merasa jauh lebih sehat dan produktif ketika memutuskan menjadi penerjemah dan jurubahasa lepas selama setahun terakhir. Selain itu, saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar dan mengenal lebih banyak orang. Yang sulit adalah meyakinkan keluarga bahwa saya baik-baik saja dengan pilihan ini. 
Karena kedua hal tersebut ada plus minusnya, saya tetap siap seandainya suatu saat harus ngantor lagi. Namun, mimpi untuk menjadi penerjemah lepas yang independen tampaknya harus tetap dipupuk:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah menjadi penerjemah penuh waktu dan penerjemah lepas.<br />
Saya merasa jauh lebih sehat dan produktif ketika memutuskan menjadi penerjemah dan jurubahasa lepas selama setahun terakhir. Selain itu, saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar dan mengenal lebih banyak orang. Yang sulit adalah meyakinkan keluarga bahwa saya baik-baik saja dengan pilihan ini.<br />
Karena kedua hal tersebut ada plus minusnya, saya tetap siap seandainya suatu saat harus ngantor lagi. Namun, mimpi untuk menjadi penerjemah lepas yang independen tampaknya harus tetap dipupuk:)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Nelce Manoppo</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-284</link>
		<dc:creator>Nelce Manoppo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 08:28:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-284</guid>
		<description>Sekedar menambahkan komentar teman-teman.
Setelah mengalami apa yang disebut pekerja kantoran penuh waktu dan pekerja lepas, ternyata memang lebih enak jadi pekerja lepas. Dari segi waktu sudah pasti flexi time berlaku, walaupun ini tidak berarti bahwa jumlah jam kerja lebih sedikit daripada pekerja kantoran, bahkan kadang-kadang saya bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam karena mengejar deadline. Cuma, karena kerjanya di rumah, kalau sudah capek bisa selonjoran dulu sebentar, atau bahkan tidur siang dulu setengah jam baru lanjut lagi. Ini yang tidak bisa dilakukan kalau kerja kantoran.

Dari segi penghasilan, menurut pengalaman saya jauh lebih baik menjadi pekerja lepas daripada pekerja kantoran asalkan kita rajin. MIsalnya klien kasih waktu 1 minggu, kalau kita bisa kerjakan 5 hari kan lebih baik supaya cepat dapat bayaran dan bisa ngerjain yang lain lagi.

Keuntungan lain menjadi pekerja lepas adalah punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga/kerabat. Sejak jadi pekerja lepas, saya baru bisa jalan-jalan ke luar kota, pulang kampung kapan saja, dan bisa ke salon kapan saja, Satu lagi yang nggak pernah bisa saya ikuti waktu kerja kantoran adalah ikut arisan ibu-ibu RT di sore hari. Sekarang saya paling rajin.

Cuma, saran saya, akan lebih baik kalau kita mulai dengan kerja kantoran dulu untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, baru beralih ke pekerja lepas. Pasti lebih mantap!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sekedar menambahkan komentar teman-teman.<br />
Setelah mengalami apa yang disebut pekerja kantoran penuh waktu dan pekerja lepas, ternyata memang lebih enak jadi pekerja lepas. Dari segi waktu sudah pasti flexi time berlaku, walaupun ini tidak berarti bahwa jumlah jam kerja lebih sedikit daripada pekerja kantoran, bahkan kadang-kadang saya bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam karena mengejar deadline. Cuma, karena kerjanya di rumah, kalau sudah capek bisa selonjoran dulu sebentar, atau bahkan tidur siang dulu setengah jam baru lanjut lagi. Ini yang tidak bisa dilakukan kalau kerja kantoran.</p>
<p>Dari segi penghasilan, menurut pengalaman saya jauh lebih baik menjadi pekerja lepas daripada pekerja kantoran asalkan kita rajin. MIsalnya klien kasih waktu 1 minggu, kalau kita bisa kerjakan 5 hari kan lebih baik supaya cepat dapat bayaran dan bisa ngerjain yang lain lagi.</p>
<p>Keuntungan lain menjadi pekerja lepas adalah punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga/kerabat. Sejak jadi pekerja lepas, saya baru bisa jalan-jalan ke luar kota, pulang kampung kapan saja, dan bisa ke salon kapan saja, Satu lagi yang nggak pernah bisa saya ikuti waktu kerja kantoran adalah ikut arisan ibu-ibu RT di sore hari. Sekarang saya paling rajin.</p>
<p>Cuma, saran saya, akan lebih baik kalau kita mulai dengan kerja kantoran dulu untuk menambah pengetahuan dan pengalaman, baru beralih ke pekerja lepas. Pasti lebih mantap!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Sofia Mansoor</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-275</link>
		<dc:creator>Sofia Mansoor</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 23:03:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-275</guid>
		<description>Saran saya gai para calon penerjemah lepas yang saat ini masih harus memenuhi permintaan boss di kantor: sebelum melepaskan punai di tangan, harus dipastikan dulu ada (banyak) murai yang bisa ditangkap! 

FYI, putra saya bekerja kantoran untuk mengepulkan asap dapurnya dan terutama memanfaatkan asuransi mengingat ada dua anak kecil. Tapi, di malam hari, karena gen penerjemah sudah merasuki aliran darahnya (oalah!), dia menerjemahkan buku, yang tenggatnya memang cukup longgar. Begitulah, punai masih dipelihara baik-baik, sementara murai juga dijaga agar tidak terbang...

Pada akhirnya, rejeki sudah ada yang mengatur. Tinggal kitalah yang harus cermat melihat peluang dan langsung menyambarnya sekiranya kita merasa mampu memanfaatkan peluang tersebut.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saran saya gai para calon penerjemah lepas yang saat ini masih harus memenuhi permintaan boss di kantor: sebelum melepaskan punai di tangan, harus dipastikan dulu ada (banyak) murai yang bisa ditangkap! </p>
<p>FYI, putra saya bekerja kantoran untuk mengepulkan asap dapurnya dan terutama memanfaatkan asuransi mengingat ada dua anak kecil. Tapi, di malam hari, karena gen penerjemah sudah merasuki aliran darahnya (oalah!), dia menerjemahkan buku, yang tenggatnya memang cukup longgar. Begitulah, punai masih dipelihara baik-baik, sementara murai juga dijaga agar tidak terbang&#8230;</p>
<p>Pada akhirnya, rejeki sudah ada yang mengatur. Tinggal kitalah yang harus cermat melihat peluang dan langsung menyambarnya sekiranya kita merasa mampu memanfaatkan peluang tersebut.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Devi R. Ayu</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-274</link>
		<dc:creator>Devi R. Ayu</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 20:16:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-274</guid>
		<description>karena sudah pernah mengalami dua-duanya, maka saya memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas...
- Tidak ada teriakan boss, karena saya adalah &quot;boss-nya&quot;
- Bisa mengerjakan pekerjaan kapanpun dan dimanapun saya suka (meskipun hal ini juga kadang-kadang membuat uang dapur datangnya juga &quot;suka-suka&quot;)
- Kesehatan bisa lebih terjaga karena tidak harus hilir mudik setiap hari dalam kemacetan dan polusi...

Nikmatnya dunia...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>karena sudah pernah mengalami dua-duanya, maka saya memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas&#8230;<br />
- Tidak ada teriakan boss, karena saya adalah &#8220;boss-nya&#8221;<br />
- Bisa mengerjakan pekerjaan kapanpun dan dimanapun saya suka (meskipun hal ini juga kadang-kadang membuat uang dapur datangnya juga &#8220;suka-suka&#8221;)<br />
- Kesehatan bisa lebih terjaga karena tidak harus hilir mudik setiap hari dalam kemacetan dan polusi&#8230;</p>
<p>Nikmatnya dunia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Mila Kartina</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-273</link>
		<dc:creator>Mila Kartina</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 17:14:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-273</guid>
		<description>Saya setuju sama Pak Eddie. Menjadi penerjemah lepas gak cuma cocok untuk yg sudah di usia senja lho, pak. Tapi juga yg masih muda spt saya. Hehehe....

Soal tekanan ekonomi, kalau sedang butuh banyak uang, bisa &quot;diakali&quot; dengan ambil lebih banyak order atau pilih klien yg mau bayar mahal. 

Soal bebas macet, saya juga setuju buangeeeettt! Itulah alasan utama saya memutuskan utk tidak ngantor lagi (di kantor orang). Jadi, bikin kantor sendiri aja, yang bs dikasih tempat tidur, dan membolehkan karyawannya (yaitu saya sendiri) pakai seragam t-shirt atau piyama yg nyaman. Hehehe....

Soal jalan2, saya juga setuju. Nikmat betul rasanya jalan2 sesudah lembur :-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju sama Pak Eddie. Menjadi penerjemah lepas gak cuma cocok untuk yg sudah di usia senja lho, pak. Tapi juga yg masih muda spt saya. Hehehe&#8230;.</p>
<p>Soal tekanan ekonomi, kalau sedang butuh banyak uang, bisa &#8220;diakali&#8221; dengan ambil lebih banyak order atau pilih klien yg mau bayar mahal. </p>
<p>Soal bebas macet, saya juga setuju buangeeeettt! Itulah alasan utama saya memutuskan utk tidak ngantor lagi (di kantor orang). Jadi, bikin kantor sendiri aja, yang bs dikasih tempat tidur, dan membolehkan karyawannya (yaitu saya sendiri) pakai seragam t-shirt atau piyama yg nyaman. Hehehe&#8230;.</p>
<p>Soal jalan2, saya juga setuju. Nikmat betul rasanya jalan2 sesudah lembur <img src='http://blog.bahtera.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Eddie R. Notowidigdo</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-266</link>
		<dc:creator>Eddie R. Notowidigdo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 08:41:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-266</guid>
		<description>Apa yg diungkapkan Ibu Maria betul sekali, semua ada pro dan contra sehingga menjadi penerjemah kantoran atau penerjemah lepas sungguh merupakan pilihan pribadi (personal choice). Namun pilihan ini pun sangat dipengaruhi oleh tuntutan dari dapur agar senantiasa bisa &quot;ngepul&quot;.

Bagi saya pribadi di umur yg senja ini tekanan ekonomi sudah sangat berkurang sehingga menjadi penerjemah lepas itu sudah menjadi evolusi yg alami. Dan setelah merasakan nikmatnya menjadi penerjemah lepas rasanya sudah tidak mau lagi kerja kantoran.

Yang saya rasakan sebagai sesuatu yg kurang kalau menjadi penerjemah lepas adalah interaksi dgn rekan-rekan atau bahkan secara umum dgn manusia lain. Oleh sebab itu saya sangat bahagia menjadi anggota BAHTERA dan menjadi bagian dari sebuah komuntas intelektual sarat dengan rasa kekeluargaan, persahabatan dan kehangatan yg saling bantu-membantu tanpa pamrih. Mungkin itu salah satu sebab juga bahwa setiap kali ada acara pertemuan, para anggota menyambutnya dengan sangat antusias.

Faedah utama yg saya rasakan sbg penerjemah lepas adalah &quot;kebebasan&quot;. Tidak perlu lagi 2 kali sehari selama 1-1,5 jam menempuh perjalanan di tengah kemacetan lalu lintas Jkt. Tidak perlu lagi didikte boss yg jam lima sore memberi pekerjaan setumpuk dan minta sudah selesai kemarin. Mau kerja atau tidak merupakan pilihan kita sendiri. I&#039;M MY OWN BOSS! Setelah kerja keras dan seminggu terkurung dalam rumah di depan komputer, kita bisa memilih hadiah untuk diri kita sendiri.  Biasanya saya memilih jalan-jalan ke PIM, melihat-lihat apakah ada buku baru yg menarik (kemarin baru beli terbitan terkini novel karya Dan Brown), kemudian makan siang yg ueenak, minum kopicino hangat di salah satu kafe kesukaanku sambil merokok dan membaca novel diiringi live music jazz.  Alangkah nikmatnyaaa..... Dan ini kenyataan, lho, bukan hanya &quot;Op Papier&quot; (Di atas kertas).

Sekadar berbagi pengalaman sbg penerjemah lepas.

Salam hangat,
Eddie</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yg diungkapkan Ibu Maria betul sekali, semua ada pro dan contra sehingga menjadi penerjemah kantoran atau penerjemah lepas sungguh merupakan pilihan pribadi (personal choice). Namun pilihan ini pun sangat dipengaruhi oleh tuntutan dari dapur agar senantiasa bisa &#8220;ngepul&#8221;.</p>
<p>Bagi saya pribadi di umur yg senja ini tekanan ekonomi sudah sangat berkurang sehingga menjadi penerjemah lepas itu sudah menjadi evolusi yg alami. Dan setelah merasakan nikmatnya menjadi penerjemah lepas rasanya sudah tidak mau lagi kerja kantoran.</p>
<p>Yang saya rasakan sebagai sesuatu yg kurang kalau menjadi penerjemah lepas adalah interaksi dgn rekan-rekan atau bahkan secara umum dgn manusia lain. Oleh sebab itu saya sangat bahagia menjadi anggota BAHTERA dan menjadi bagian dari sebuah komuntas intelektual sarat dengan rasa kekeluargaan, persahabatan dan kehangatan yg saling bantu-membantu tanpa pamrih. Mungkin itu salah satu sebab juga bahwa setiap kali ada acara pertemuan, para anggota menyambutnya dengan sangat antusias.</p>
<p>Faedah utama yg saya rasakan sbg penerjemah lepas adalah &#8220;kebebasan&#8221;. Tidak perlu lagi 2 kali sehari selama 1-1,5 jam menempuh perjalanan di tengah kemacetan lalu lintas Jkt. Tidak perlu lagi didikte boss yg jam lima sore memberi pekerjaan setumpuk dan minta sudah selesai kemarin. Mau kerja atau tidak merupakan pilihan kita sendiri. I&#8217;M MY OWN BOSS! Setelah kerja keras dan seminggu terkurung dalam rumah di depan komputer, kita bisa memilih hadiah untuk diri kita sendiri.  Biasanya saya memilih jalan-jalan ke PIM, melihat-lihat apakah ada buku baru yg menarik (kemarin baru beli terbitan terkini novel karya Dan Brown), kemudian makan siang yg ueenak, minum kopicino hangat di salah satu kafe kesukaanku sambil merokok dan membaca novel diiringi live music jazz.  Alangkah nikmatnyaaa&#8230;.. Dan ini kenyataan, lho, bukan hanya &#8220;Op Papier&#8221; (Di atas kertas).</p>
<p>Sekadar berbagi pengalaman sbg penerjemah lepas.</p>
<p>Salam hangat,<br />
Eddie</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Togel</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-264</link>
		<dc:creator>Togel</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 08:36:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-264</guid>
		<description>Satu komentar tambahan untuk penerjemah tetap:
(-) Penghasilan yang tetap *bisa* menjadi pisau bermata dua. Penghasilan yang tetap itu justru bisa merugikan karena sifat tetapnya itu. Seandainya dia harus bekerja lembur hampir setiap hari pun, penghasilannya tetaplah tetap. Lain dengan yang lepas, semakin banyak bekerja = semakin banyak uang. Tentu saja ini tidak berlaku jika gaji tetap itu nilainya sedemikian tinggi sehingga melebihi penghasilan tertinggi penerjemah lepas mana pun dalam satu bulan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Satu komentar tambahan untuk penerjemah tetap:<br />
(-) Penghasilan yang tetap *bisa* menjadi pisau bermata dua. Penghasilan yang tetap itu justru bisa merugikan karena sifat tetapnya itu. Seandainya dia harus bekerja lembur hampir setiap hari pun, penghasilannya tetaplah tetap. Lain dengan yang lepas, semakin banyak bekerja = semakin banyak uang. Tentu saja ini tidak berlaku jika gaji tetap itu nilainya sedemikian tinggi sehingga melebihi penghasilan tertinggi penerjemah lepas mana pun dalam satu bulan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nino9</title>
		<link>http://blog.bahtera.org/2009/09/penerjemah-penuh-waktu-versus-penerjemah-lepas/comment-page-1/#comment-263</link>
		<dc:creator>nino9</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 07:55:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bahtera.org/blog/?p=531#comment-263</guid>
		<description>(+) Menambahkan jaminan keuangan, adalah asuransi kesehatan yang cukup melegakan, apalagi bila memiliki balita, yang masih sering sakit karena tubuhnya masih membangun daya kekebalan.

(-) Selain tidak bisa memilih pekerjaan, juga tidak bisa memilih atasan. Bila mendapat atasan yang tidak memahami sifat pekerjaan kita, siap2 nangis darah.

*Seseorang yang pernah bertugas bersama penulis selama 5 tahun dan merasa sangat beruntung mendapatkan banyak masukan dari beliau.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(+) Menambahkan jaminan keuangan, adalah asuransi kesehatan yang cukup melegakan, apalagi bila memiliki balita, yang masih sering sakit karena tubuhnya masih membangun daya kekebalan.</p>
<p>(-) Selain tidak bisa memilih pekerjaan, juga tidak bisa memilih atasan. Bila mendapat atasan yang tidak memahami sifat pekerjaan kita, siap2 nangis darah.</p>
<p>*Seseorang yang pernah bertugas bersama penulis selama 5 tahun dan merasa sangat beruntung mendapatkan banyak masukan dari beliau.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

