Penerjemah selalu bekerja paruh waktu atau sebagai tenaga lepas

Ucapan ini sempat terlontar di sebuah ajang temu penerjemah se-Indonesia. Memang tidak banyak diketahui tentang penerjemah yang bekerja tetap di kantor (‘penerjemah kantoran’) dan ditugaskan semata-mata untuk mengerjakan penerjemahan sepanjang hari dan setiap hari. Hal ini cukup dapat dimengerti, karena dilihat dari jumlahnya memang lebih banyak kita dapati penerjemah yang bekerja secara paruh waktu (part-time) atau bahkan sebagai tenaga lepas (freelancer). Di antara penerjemah yang bergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), jumlah penerjemah kantoran ini hanya meliputi sekitar seperlimanya saja.

Di banyak tempat kerja, pekerjaan menerjemahkan sering dilakukan secara terselubung atau sambilan, misalnya dikerjakan oleh sekretaris, staf di bagian humas atau siapa saja yang dianggap mampu mengerjakannya. Bertolak dari anggapan di atas, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi cerita dan sekelumit pengalaman tentang berbagai aspek profesi penerjemah sebagai karyawan tetap di kantor swasta. Hal ini akan dibahas dari sisi tinjauan yang praktis, semata-mata dari pengamatan sehari-hari.

Meski jumlahnya tidak sebanyak penerjemah terselubung, para penerjemah yang menyandang status karyawan tetap ini semata-mata mengerjakan penerjemahan sebagai lingkup tugas utama mereka (tugas lain meliputi penyusunan media komunikasi intern (misalnya majalah elektronik) dan berperan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan kebahasaan). Di kantor apa saja mereka dapat kita temui?

Mengapa Karyawan Tetap?

Sejumlah perusahaan asing yang berbentuk PMA (penanaman modal asing) dan bergerak di bidang pertambangan (baik di sektor minyak dan/atau gas maupun mineral) mempunyai tenaga penerjemah sebagai karyawan tetap. Demikian pula halnya dengan beberapa kantor akuntan publik (KAP) yang menggandeng mitra asing, terutama yang beroperasi dengan tingkat skala dunia. Beberapa kantor penasihat hukum (law firm) dengan lingkup kerja internasional juga memiliki penerjemah sebagai karyawan penuh waktu.

Di kantor-kantor ini biasanya terdapat jumlah pekerjaan penerjemahan yang cukup banyak dan kadang menuntut komunikasi langsung dengan pihak pemesan jasa penerjemahan. Namun, yang lebih penting lagi, di sini terdapat kebutuhan untuk melindungi kerahasiaan dokumen yang diterjemahkan. Ini pula yang menjadi salah satu sebab mengapa kantor-kantor di atas memilih mempekerjakan tenaga penerjemah sebagai karyawan tetap mereka. Dengan demikian pekerjaan penerjemahan dapat ditangani setiap saat, dan hanya dilakukan untuk keperluan kantor yang bersangkutan.

Ragam Dokumen

Dokumen apa saja yang kerap diterjemahkan di kantor swasta?

  1. Surat-menyurat antara kantor atau perusahaan dengan lembaga pemerintah (termasuk berbagai dokumen yang bersifat rahasia)
  2. Surat-menyurat antara kantor dengan klien
  3. Peraturan pemerintah yang terkait dengan bidang usaha kantornya (berbagai macam keputusan: KepPres, KepMen, Keputusan Dirjen), UU, RUU, dsb. yang terkait dengan keperluan kantor atau perusahaan tersebut
  4. Laporan hasil pemeriksaan, atau nasihat profesional (pada KAP)
  5. Dokumen tentang perkara hukum yang menyangkut kantor atau klien kantor tersebut
  6. Artikel di surat kabar atau majalah mengenai persoalan yang terkait dengan kegiatan usaha kantor tersebut
  7. Siaran pers dari kantor untuk disebarluaskan ke media
  8. Dokumen intern yang bersifat rahasia (misalnya surat-surat kepersonaliaan, dsb.)

Tuntutan profesi

Pengetahuan dan Kemampuan Berbahasa

Penerjemah yang bekerja penuh waktu di sebuah kantor swasta diandaikan memiliki kemampuan dan pengetahuan bahasa yang cukup tinggi, baik dalam bahasa ibunya maupun bahasa asing yang digunakannya sebagai bahasa kerjanya. Kemampuan ini perlu senantiasa diasah dan dikembangkan sehingga menjadi keterampilan yang menunjang profesi dan hasil kerjanya. Untuk itu, di samping menguasai paling sedikit dua bahasa, sebaiknya ia memang pada dasarnya menyukai bahasa. Sesuatu yang dilakukan karena suka tentunya akan lebih mudah dikembangkan.

Para penerjemah kantoran ini tidak semua memiliki latar belakang pendidikan bahasa. Namun mereka harus memiliki keterampilan bahasa dan rata-rata sangat menyukai bahasa. Meskipun demikian, pendidikan perguruan tinggi di bidang kebahasaan akan sangat menguntungkan bagi pelaku profesi ini karena memudahkan pengungkapan diri serta pengetahuan bahasa yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini.

Di samping itu dibutuhkan juga pengetahuan yang memadai mengenai bidang kegiatan usaha kantor. Dalam hal ini, selain memahami istilah teknis khusus bidang tertentu, ia perlu pula memahami sedikit banyak tentang proses kerja atau hal-hal khusus yang dikerjakan oleh kantor di mana dia bekerja.  Beberapa contoh di bawah ini diambil dari bahan terjemahan di bidang audit.

Misalnya:

  • Dalam konteks audit, istilah ‘translation’ yang biasa diartikan sebagai ‘terjemahan’ atau ‘penerjemahan’, digunakan pula sebagai padanan bahasa Inggris untuk ‘penjabaran mata uang asing’.
  • Begitu pula halnya dengan istilah ‘dispose of’ dalam konteks ‘when the foreign operation is disposed of’, tidak dapat diterjemahkan sebagai ‘dibuang’ yang mengingatkan kita akan barang sekali pakai (disposable). Dalam konteks audit, istilah bahasa Indonesia yang digunakan adalah ‘dilepas’ (‘ketika kegiatan usaha luar negeri dilepas’).

Pengetahuan mengenai istilah-istilah ini diperoleh dengan mudah oleh penerjemah yang berstatus karyawan tetap, melalui seringnya ia menjumpai kata, istilah, atau ungkapan dalam dokumen yang ditanganinya sehari-hari. Ia dengan mulus menjadi terbiasa dan akrab dengan gaya bahasa yang lazim digunakan dalam bidang yang ditanganinya.

Contoh lain adalah istilah ‘Kontrak Kerja’  (KK) yang tidak lazim diterjemahkan sebagai ‘Work Contract’, melainkan “Contract of Work’ (CoW).

Bersenjatakan keterampilan berbahasa, penerjemah yang berstatus karyawan tetap di kantor swasta diharapkan mampu pula berperan sebagai komunikator ulung secara tertulis melalui hasil terjemahannya.

Tenggat waktu

Layaknya sebuah biro penerjemah, pekerjaan tidak dapat diperkirakan kapan akan masuk dan kapan diharapkan selesai, serta berapa banyak jumlahnya. Di lain pihak, jumlah tenaga yang mengerjakan biasanya tidak banyak. Sebagian besar kantor swasta yang mempekerjakan penerjemah sebagai karyawan tetap, hanya memiliki 1 hingga 3 orang tenaga penerjemah (kecuali sebuah perusahaan pertambangan asing yang memiliki lebih dari 10 orang dalam tim penerjemahnya).

Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan kemampuan penerjemah untuk mengelola waktu dan penyelesaian pekerjaan tanpa mengurangi mutu hasil terjemahan. Aspek tata kelola sangat perlu disiasati, karena mungkin saja datang permintaan untuk penerjemahan pada saat satu pekerjaan tengah dikerjakan. Katakanlah, kedua-duanya sama penting, apa yang harus dilakukan oleh penerjemah?  Ada kelakar antara penerjemah ‘kantoran’ yang mengandaikan pekerjaan yang masuk ke baki surat di mejanya sebagai ‘pasien’ di Unit Gawat Darurat. Penerjemah layaknya dokter UGD, harus memilih untuk menangani beberapa pasien sekaligus, yang mengharuskannya mengambil keputusan berdasarkan skala prioritas pasien mana yang berada dalam keadaan yang terparah dan harus lebih segera ditangani.

Tatalaksana

Untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan mencegah timbulnya kekecewaan klien (pemesan jasa), sebaiknya setiap permintaan jasa penerjemahan dibuatkan catatan yang mencantumkan nama pemesan, tujuan penerjemahan (untuk dapat dipahami pihak asing di dalam kantor, atau untuk dikirim ke pihak di luar kantor), serta tenggat waktunya. Data ini dapat dicatatkan pada lembar formulir pemesanan penerjemahan.

Penerjemah perlu juga mengkomunikasikan kepada pemesan jasanya tentang perkiraan waktu pengerjaan (kecepatan kerja rata-rata). Dengan pencatatan dan komunikasi yang baik, dapat disusun urutan pengerjaan, meskipun mungkin saja terjadi perubahan atau pergeseran waktu yang perlu dikomunikasikan kembali kepada pemesan jasa. Kambali lagi dapat kita gunakan kiasan pemesan jasa (atau pekerjaan penerjemahan) yang serupa pasien dokter, seolah mendapat nomor urut untuk ditangani oleh penerjemah.

Kemampuan Mempertahankan Fokus

Ruang tempat penerjemah bekerja belum tentu tertutup dan memisahkannya dari rekan-rekan yang lain. Oleh sebab itu, penerjemah ‘kantoran’ seperti ini membutuhkan kemampuan yang cukup canggih untuk memusatkan pikiran dan perhatiannya di tengah lingkungan yang belum tentu ‘kondusif’ (ramai, banyak orang lalu-lalang, dsb.). Sehubungan dengan sifat pekerjaannya, ia harus pula mampu bertahan melakukan pekerjaan yang sama dan menekuni dokumen yang sama, selama rentang waktu yang cukup panjang. Daya tahannya ini banyak berperan dalam menentukan keberhasilan serta kemajuannya dalam karier ini.

Bersambung ke bagian dua: Beberapa permasalahan dan kesimpulan.

Dibawakan pada Seminar Profesi Penerjemah dan Juru Bahasa: Aspek Kualitas dan Kewirausahaan. Hotel Acacia, Jakarta, 3 Juni 2006.

Trackback

no comment untill now

Add your comment now