Seorang teman menceritakan keheranan putri remajanya ketika membaca kata menu sebagai judul daftar makanan di sebuah restoran.

“Pa, kok daftar makanan disebut menu sih? Ikut-ikutan istilah komputer ya?”

Mula-mula si Papa bingung karena ia berpendapat bahwa logika anaknya terbalik – sebab, bukankah kata menu dalam bidang komputerlah yang justru meniru kata menu yang berarti daftar makanan di restoran? Tapi, dia segera sadar bahwa putrinya itu, sebagaimana mungkin banyak remaja lainnya, memang lebih dahulu mengenal kata menu dari dunia komputer, bukan dari dunia restoran.

Dalam kamus Webster’s New Collegiate Dictionary yang terbit tahun 1981, kata menu masih hanya berarti daftar makanan di restoran. Mungkin pada awal tahun 1980-an itu kata menu dalam bidang komputer belum dikenal. Tetapi, dalam kamus yang terbit belakangan, misalnya Collins Cobuild yang terbit tahun 1987, kata menu sudah mencantumkan makna dalam bidang komputer, yakni “daftar pilihan untuk menangani suatu informasi dalam komputer”.

Kata menu (kata benda) sendiri berasal dari kata Prancis menu (kata sifat) yang berarti kecil, ramping, terperinci; arti yang terakhir inilah rupanya yang dipungut dunia restoran karena bukankah menu berisi daftar terperinci mengenai nama makanan yang bisa dipesan? Pencipta program komputer kemudian memungut kata menu itu untuk menamakan daftar pilihan penangananan informasi yang disediakan komputer.

Kalau ditelusuri lebih jauh, kata Prancis menu semula berasal dari kata Latin minutus, bentuk femina dari kata minuta yang secara khusus diartikan “seperenam puluh derajat”, yang di masa Medieval Latin dimaksudkan sebagai “seperenam puluh bagian dari satu jam”, alias menit dalam bahasa Indonesia atau minute dalam bahasa Inggris. Selanjutnya, ungkapan Inggris “minutes of the meeting” diambil langsung dari kata Latin minuta yang tampaknya singkatan minuta scripta yang berarti “catatan dengan tulisan ringkas” — mungkin untuk membedakan catatan (draft), yang berupa ringkasan hasil suatu rapat, dengan laporan lengkapnya.

Dictionary dan dico

Kamus, yang teman akrab para penerjemah dan penyunting, dalam bahasa Inggris disebut dictionary, yang sesungguhnya berarti rekaman dari apa yang “dikatakan” orang, yaitu yang menyangkut pelafalan, ejaan, dan makna yang disandang sebuah kata. Asalnya adalah kata Latin dictio dari dico yang berarti “berkata”. Dari kata dico ini kemudian muncul sejumlah kata Inggris, misalnya ditto, yang berarti “dikatakan lagi”. Para pecandu film Demi Moore tentu masih ingat bahwa dalam film Ghost yang sangat tenar beberapa tahun yang lalu, Demi merajuk karena pacarnya, yang diperankan aktor Patrick Swayze, tidak pernah mengatakan “I love you“, melainkan hanya men-ditto saja setiap kali Demi mengucapkan ungkapan cinta tersebut.

Kata lain yang kita kenal adalah kata kontradiksi, tentu yang kita serap dari kata Inggris contradiction yang berarti “berkata menentang” (contra berarti menentang). Lalu, kita juga mengenal diktator dari kata Inggris dictator, dulu julukan untuk Caesar, yang setelah memberikan perintah selalu berujar: “Sudah saya katakan”.

Pembaca yang berusia remaja pada tahun 1930-an tentu masih ingat bagaimana dunia diguncangkan oleh pengunduran diri atau abdikasi raja Inggris, Edward VIII. Ia memilih menikah dengan seorang janda berkebangsaan Amerika yang dicintainya, Wallis Warfield Simpson, daripada mempertahankan tahtanya. Kata abdikasi kita serap dari kata Inggris abdication – juga berakar dari kata dico – yang berarti “mengumumkan pengunduran diri dari tahta”.

Bagaimana pula dengan kata verdict, yang menjadi judul salah satu tayangan CNN pada bulan Oktober 1995 yang lalu, ketika OJ Simpson (bintang football Amerika) menerima keputusan juri atas tuduhan membunuh mantan istri (Nicole Brown) dan teman prianya (Ronald Goldman)? Kata verdict berasal dari kata vere yang berarti “dengan benar” dan dico, yang di atas sudah dikemukakan berarti “berkata”. Jadi, verdict lebih kurang berarti “perkataan yang benar”, dalam hal ini tentu saja keputusan yang dipandang benar oleh juri.

Salah satu kata yang amat dikenal mahasiswa tentulah diktat, yang kita serap dari kata Belanda dictaat, yang berarti catatan. Memang, diktat sebenarnya berarti catatan yang dibuat mahasiswa ketika mendengarkan kuliah dosennya, atau dengan kata lain, catatan kata-kata si dosen. Meskipun tidak ditemukan riwayatnya, dapat diperkirakan bahwa kata dictaat pun berakar dari kata Latin dico yang tengah kita orak ini. Dari sini pula kita kenal kata dikte, yang sekarang berkonotasi agak negatif dengan munculnya istilah “mendiktekan kehendak” yang kira-kira berarti “memaksa”. Padahal, pada awalnya mendikte berarti menyuruh menulis apa yang dibacakan atau diucapkan, biasanya oleh guru kepada muridnya di kelas.

Alphabet

Bagaimana kalau kita lanjutkan wisata kita kali ini dengan mengorak riwayat huruf? Kata alphabet, atau dalam bahasa Indonesia disebut abjad atau urutan huruf, adalah gabungan dua huruf pertama Yunani – alpha dan beta. Betapa banyaknya orang tua masa kini yang menamai dua anak pertama mereka dengan rekaan kedua kata tersebut. Nama Alpha dan Alva, misalnya, menunjukkan pemiliknya adalah anak sulung. Sementara nama Betharia dan Betha dapat ditebak sebagai nama anak kedua.

Sebenarnya setiap huruf dalam alfabet kita berawal dari gambar. Ambillah contohnya huruf A, huruf pertama kita. Di masa Phoenicia kuno, sekitar 3000 tahun yang lalu, huruf A disebut aleph yang berarti sapi jantan. Mereka yang akrab dengan Alquran tentu kenal pula huruf Arab pertama yang disebut alif, meskipun rupanya berbeda dengan huruf A. Dulu, huruf A menggambarkan tanduk sapi jantan dengan sebuah garis melintang di tengahnya. Orang Yunani kemudian menjungkirkan gambar itu sehingga tampak seperti huruf A yang kita kenal sekarang. Pada masa tersebut, sapi jantan berperanan besar dalam menunjang kehidupan: dagingnya dimakan, tenaganya digunakan untuk bekerja, dan kulitnya dijadikan sepatu dan pakaian. Begitu pentingnya kedudukan sapi jantan tersebut sehingga tidaklah heran bila dia atau aleph menduduki tempat terhormat sebagai huruf pertama.

Apa yang selanjutnya berperanan penting dalam kehidupan manusia? Tempat berteduh, bukan? Nah, muncullah huruf kedua, B, yang dalam bahasa Phoenicia disebut beth, berarti tenda atau rumah. Huruf B mereka pada mulanya tampak seperti gambar rumah berkamar dua: sebuah kamar untuk kaum wanita dan sebuah kamar lagi untuk kaum pria. Kata beth di zaman modern sekarang masih dipertahankan, antara lain pada kota Bethlehem, yang tidak lain berarti “rumah makanan”. Entah, apakah nama penyanyi kondang asal Bogor, Betharia Sonata, juga ada hubungannya dengan rumah.

Kisah yang menarik terdapat pula di balik riwayat huruf O, K, dan I. Huruf O menggambarkan mata manusia, yang memang berbentuk bundar seperti O. Bahkan, pada huruf O kuno, terdapat titik di tengahnya, melambangkan pupil mata! Sekarang, untuk membedakannya dari angka nol, mereka yang menekuni angka telah mencoret huruf O untuk melambangkan angka nol. Tentu saja, dalam tipografi (tata huruf) di percetakan, terdapat perbedaan yang jelas antara huruf O dan angka 0 sehingga coretan tidak diperlukan. Sementara itu, kaleph dalam bahasa kaum Phoenicia adalah nama untuk huruf K, yang berarti telapak tangan. Pada mulanya, huruf K memang benar-benar gambar sebuah tangan, sementara huruf I menggambarkan jari manusia.

Bagaimana dengan huruf Q? Huruf ini diibaratkan menggambarkan seekor monyet dengan ekornya yang menggantung. Huruf ini memang jarang terdapat dalam kosakata sehingga dalam permainan scrabble pun mendapat nilai angka tinggi, 10. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hanya terdapat enam – ya, hanya enam saja – entri yang menggunakan huruf Q, semuanya kata dari bahasa Arab. Bahkan dua entri di antaranya hanyalah penjelasan huruf Q (huruf ke-17 dalam abjad Indonesia) dan qi, yaitu nama huruf tersebut.

Kisah huruf M juga cukup menarik. Bangsa Phoenicia adalah para pelaut tangguh yang tak gentar mengarungi samudera, bahkan sampai ke pantai Spanyol. Padahal, wilayah Phoenicia sendiri berada jauh di sebelah baratnya, membentang dari Laut Mediterania sampai ke Pegunungan Lebanon. Mereka menyebut huruf M dengan mem, yang berarti “air”. Dan huruf kuno ini, yang rautnya mirip dengan huruf M yang kita kenal sekarang, memang menggambarkan ombak samudera. Sekarang, raut huruf ini semakin mendunia dengan merajalelanya sebuah restoran hamburger paling terkenal di dunia – McDonald’s.

Selanjutnya, huruf G, yang bagi anak balita sulit menuliskannya, dulu menggambarkan unta yang berpunuk. Huruf ini dinamakan gimel dalam alfabet Yahudi, yang merupakan sumber kata gamma, nama Yunani untuk huruf G. Dan, tentu tidak terlalu sulit menghubungkan kata Inggris camel (yang berarti unta) dengan kata gamma dan gamel bukan?

Penutup

Nah pembaca, kita akhiri dulu wisata kita kali ini. Setelah melacak riwayat kata menu dalam bidang komputer, yang berasal dari kata sehari-hari yang sudah kita kenal di restoran, mudah-mudahan para ahli komputer kita tidak lagi ragu menciptakan istilah baru dalam bahasa Indonesia. Para pencipta komputer di dunia Barat pun tidak ragu menggunakan kata mouse yang berarti tikus untuk salah satu perlengkapan komputer bukan? Benda tersebut memang mirip tikus karena mempunyai tali yang panjang seperti ekor tikus. Di Malaysia, mulai diperkenalkan istilah tetikus untuk benda tersebut, yang menyiratkan mirip tikus. Dalam kaidah bahasa Indonesia dikenal bentuk kata benda jamak ditambah akhiran -an untuk menyiratkan “menyerupai”, seperti kuda-kudaan, rumah-rumahan, dan mobil-mobilan. Bagaimana kalau mouse dalam bidang komputer kita namakan tikus-tikusan saja? Anda setuju? Atau justru sudah keenakan menyebutnya mouse saja?

Sumber: Word Origins, Webster’s Word Histories, dan sejumlah kamus. Dimuat di Berita Buku, Maret 1996.

Trackback

5 comments untill now

  1. Sekarang, untuk membedakannya dari angka nol, mereka yang menekuni angka telah mencoret huruf O untuk melambangkan angka nol.

    Yang aneh, plat mobil di Indonesia malah huruf O-nya yang dicoret. Coba lihat: Angka Nol dan Huruf O.

  2. @ Suryadi van Batavia.
    Gak aneh lah Bang Sur, kan manasuka, lagi pula huruf O ada duluan lalu bingung angka 0 mau digunakan juga jadi begitulah prosesnya.

    Begitulah dinamisnya bahasa.

    @ Nifi AKA Sofia Mansoor…menarik kali tulisan ini, senang saya membacanya. Semoga terus ada pengetahuan atau sekedar mengingat kembali hal-hal yang berkaitan dengan bahasa. Sungguh hal yang lucu tentang cerita kata menu itu. Ah…bahasa…dan celah umur.

  3. Tulisan yg sangat menarik, Bu Sofia … Mengasyikkan ya kalau kita mau menelusuri sejarah huruf dan kata. Bisa memetik banyak hal :)

  4. mouse = tikus-tikusan? Saya setuju. Semua kata asing yang bukan serapan seharusnya emiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

  5. Ikutan sharing ya bu Sofia.

    Bethlehem, dalam bahasa arab disebut Bait-alLahim, artinya kurang lebih rumah daging. Kenapa disebut begitu, karena di kota itu konon tempat orang menggembalakan ternak sebagai sumber daging masyarakat pada saat itu.

Add your comment now