Salam,

Sudah banyak puisi yang saya tulis, tapi “Di Atas Kertas” memberi saya pengalaman yang homework research sangat berbeda, apalagi ketika tulisan yang dapat dikatakan curcol* ini diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa.

Tidak terlalu mudah menjatuhkan 3 pilihan karena semuanya menarik, semuanya bagus, kendati ada juga satu-dua kesalahan. Sebagian menerjemahkan, mengalihbudayakan, dan bahkan mengadaptasi. Ada yang setia namun kurang indah, ada pula yang cantik dan cukup setia. Saya sendiri lebih menyukai terjemahan yang cantik dan setia kepada keindahan seni dan kandungan maknanya. (Yup, saya baca tulisan Pak Sty dulu untuk lebih yakin.)

Karena itu, salah satu karya terpaksa tidak saya perhitungkan dalam penilaian karena walau cantik, ia mengkhianati saya habis-habisan! Tahu kan, tulisan yang saya maksud? šŸ˜‰

Ada tiga karya lagi yang mau-tak-mau juga tidak saya lirik, karena saya tidak mengerti bahasanya, yaitu yang berbahasa Prancis, Belanda, dan Jepang. Yang terakhir ini, boro-boro memahaminya, membacanya saja saya tidak bisa. Maaf yaaa….

Menariknya (atau herannya), cukup banyak peserta yang menerjemahkan “penerjemah dan penyunting buku yang baik” menjadi “a good translator and book editor” (6 orang). Rupanya frasa saya itu cukup ambigu sehingga sebagian peserta memilih untuk memisahkannya. Seorang peserta malah memutuskan untuk bukunya sajalah yang bagus: “translator and editor of a good book“.

Hal lain yang saya perhatikan adalah pengalihbahasaan kata “pengajian” dan kaitannya dengan kekerapannya. “Quran recitation” saya rasa lebih tepat untuk mengaji/membaca Al-Quran. Begitu pula “gottesdienst” dan “praying” saya rasa kurang tepat untuk dipadankan dengan kegiatan keislaman yang dilakukan hanya satu atau dua kali sepekan. IMHO.

Lalu, yang tak kalah menariknya adalah peribahasa yang dipakai sebagai padanan “nafsu besar tenaga kurang“. Mungkin karena pada dasarnya saya memang mengingatkan diri sendiri yang rada maruk, jadi saya menikmati betul teguran-teguran indah ini. Favorit saya adalah “you canā€™t stretch yourself too thinly“. (Psstt… kiasan ini secara harfiah juga menyindir saya yang berharap kejar-mengejar singa mati adalah olah raga yang bisa bikin tubuh kurus. Tahu aja nih, penerjemahnya. Hahahaha….)

Bagaimanapun, terima kasih banyak untuk semuanya.

Tabeek,
va

*curcol = curhat colongan.

Trackback

3 comments untill now

  1. Ooh, jadi yang baik itu bukunya? Hehehe..

  2. Saya tidak mengikuti acara ini, namun saya kebetulan mambaca tulisan Eva Nukman. Saya sampai pada kalimat “Lalu, yang tak kalah menariknya adalah peribahasa yang dipakai sebagai padanan ā€œnafsu besar tenaga kurangā€œ.

    Saya kira ā€œnafsu besar tenaga kurangā€œ bukanlah merupakan satu peribahasa. Ungkapan ini mulai muncul bertubi-tubi setiap hari dalam advertensi surat-surat kabar dalam tahun 1950’an dari seorang Tukang Obat kalau tidak salah namanya Thabib Hakim Fachruddin [? entah apa sambungn namanya, saya lupa). Iklannya mempropagndakan Obat Jualannya, untuk Obat Sakit Jirian yang dikatakannya “sebagai bubuk makan kayu.”

    Salam,
    — Sjamsir Sjarif

  3. Eva Y. Nukman @ 2009-09-05 13:23

    Oh, gitu ya MakNgah.
    tarimo kasih atas koreksinya.