Mungkin Anda pikir penguasaan bahasa dan materi adalah hal yang paling penting dalam interpreting. Saya bilang TIDAK! Justru kesehatan kuping yang paling penting. Tidak setiap pembicara punya kebiasaan bicara yang “bersahabat” dengan kuping kita. Kadang, bicaranya terlalu halus atau terlalu cepat.

Belum lagi dialek dan aksen yang menambah ruwet. Pernah, dalam suatu seminar, ada seorang pembicara asal India. Meski ia bicara bahasa Inggris, kayaknya, saya tidak mengerti satu patah kata pun yang diucapkannya. Saya curiga jangan-jangan ia merapalkan mantra dalam bahasa Sanskrit, dan bukan bicara tentang teknologi informasi dalam bahasa Inggris.

Read the rest of this entry

Dalam menjalankan pekerjaannya, penerjemah penuh waktu di kantor swasta kadang menghadapi kesulitan, antara lain dalam menghadapi permintaan atau tuntutan pihak pemesan jasanya, terutama jika mereka tidak memahami sepenuhnya mengenai hakikat penerjemahan. Berbeda dari penerjemah lepas yang dapat menolak pekerjaan yang tidak disukainya, penerjemah ‘kantoran’ wajib menerima semua jenis pekerjaan penerjemahan yang ditugaskan kepadanya.

Menurut pengakuan beberapa rekan yang sama-sama bekerja sebagai penerjemah tetap di kantor swasta, ada kalanya atasan atau pihak pemesan jasanya mengharapkan diterjemahkannya dokumen dengan jumlah halaman yang cukup banyak, dan dalam batas waktu yang mustahil.

Read the rest of this entry

Penerjemah selalu bekerja paruh waktu atau sebagai tenaga lepas

Ucapan ini sempat terlontar di sebuah ajang temu penerjemah se-Indonesia. Memang tidak banyak diketahui tentang penerjemah yang bekerja tetap di kantor (‘penerjemah kantoran’) dan ditugaskan semata-mata untuk mengerjakan penerjemahan sepanjang hari dan setiap hari. Hal ini cukup dapat dimengerti, karena dilihat dari jumlahnya memang lebih banyak kita dapati penerjemah yang bekerja secara paruh waktu (part-time) atau bahkan sebagai tenaga lepas (freelancer). Di antara penerjemah yang bergabung dalam Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), jumlah penerjemah kantoran ini hanya meliputi sekitar seperlimanya saja.

Read the rest of this entry

Mana yang lebih enak? Mana yang lebih menyenangkan? Sosok penerjemah penuh waktu yang kita bicarakan di sini, sama halnya dengan karyawan tetap lain di kantor-kantor swasta, bekerja mulai sekitar jam 8 pagi hingga jam 5 sore, dengan 1 jam istirahat di tengah hari. Setiap hari ia duduk di hadapan layar komputer. Lebih baikkah kehidupannya dibandingkan dengan rekan-rekannya, penerjemah lepas yang dapat bekerja di rumah atau di kafe, atau di mana saja dan kapan saja mereka mau?

Read the rest of this entry

Pemerhati bahasa dari kalangan kolot sering bersikukuh pada tata aturan yang kaku. Ia cenderung bergerak antara dua kutub betul-salah, seakan-akan bahasa adalah sebentuk soal pilihan ganda pada ujian anak sekolah yang tak dapat ditawar—maka ia jadi tertutup, normatif. Sepadan dengan wataknya, tata bahasa tradisional yang mereka anut itu kentara sekali mencerminkan cara berpikir deduktif, kurang memperlihatkan keinginan menerima bentuk-bentuk bahasa di luar aturan yang sudah ada. Padahal, seperti nanti akan kita lihat, tidak semua gejala kebahasaan dapat dirumuskan ke dalam kaidah yang disertai ukuran-ukuran betul-salah.

Read the rest of this entry

Seorang teman menceritakan keheranan putri remajanya ketika membaca kata menu sebagai judul daftar makanan di sebuah restoran.

“Pa, kok daftar makanan disebut menu sih? Ikut-ikutan istilah komputer ya?”

Mula-mula si Papa bingung karena ia berpendapat bahwa logika anaknya terbalik – sebab, bukankah kata menu dalam bidang komputerlah yang justru meniru kata menu yang berarti daftar makanan di restoran? Tapi, dia segera sadar bahwa putrinya itu, sebagaimana mungkin banyak remaja lainnya, memang lebih dahulu mengenal kata menu dari dunia komputer, bukan dari dunia restoran.

Read the rest of this entry

Itulah yang sering dikatakan oleh para ahli nutrisi. Tentu saja pernyataan itu dapat membingungkan orang kebanyakan, sebab yang mereka tahu, serat adalah bahan berbentuk mirip benang, seperti yang terdapat pada batang pohon pisang. Serat yang dimaksud oleh ahli nutrisi sebenanya adalah istilah serapan dari bahasa Inggris fiber yang salah satu padanannya di dalam kamus memang serat. Dari kamus yang bagus dapat ditemukan lebih dari lima makna fiber, yang salah satunya, seperti yang dimaksud ahli nutrisi tersebut, adalah sari zat tumbuhan yang berkhasiat melancarkan pencernaan. Tanpa peduli adanya multi makna itu, ahli nutrisi langsung saja mencomot makna nomor satu, serat, karena tak dapat menemukan atau “mencipta” istilah lain yang tepat.

Read the rest of this entry

Salam,

Sudah banyak puisi yang saya tulis, tapi “Di Atas Kertas” memberi saya pengalaman yang homework research sangat berbeda, apalagi ketika tulisan yang dapat dikatakan curcol* ini diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa.

Tidak terlalu mudah menjatuhkan 3 pilihan karena semuanya menarik, semuanya bagus, kendati ada juga satu-dua kesalahan. Sebagian menerjemahkan, mengalihbudayakan, dan bahkan mengadaptasi. Ada yang setia namun kurang indah, ada pula yang cantik dan cukup setia. Saya sendiri lebih menyukai terjemahan yang cantik dan setia kepada keindahan seni dan kandungan maknanya. (Yup, saya baca tulisan Pak Sty dulu untuk lebih yakin.)

Read the rest of this entry