Dalam sebuah novel, kadang-kadang kita menemukan nursery rhymes, atau puisi-puisi yang disisipkan pengarang agar karangannya menjadi lebih hidup. Meskipun hanya tempelan, tentu saja lagu-lagu dan puisi tersebut tetap harus kita terjemahkan, karena merupakan bagian tak terpisahkan dari novel tersebut.
Penerjemahan nursery rhyme
Definisi menurut Babylon:
A nursery rhyme is a traditional song or poem taught to young children, originally in the nursery. Learning such verse assists in the development of vocabulary, and several examples deal with rudimentary counting skills. It also encourages children to enjoy music.
Jadi yang penting dalam dalam nursery rhyme ini meliputi lagu, puisi dan musik. Nursery rhyme disebarluaskan secara lisan dari generasi ke generasi, untuk mengajarkan bermacam-macam pengetahuan kepada anak-anak, misalnya mengenai berhitung, mengenal warna, anggota badan, hewan, makanan, kebiasaan, negara dsb. Selain itu juga untuk bermain tebak-tebakan, dan bersenang-senang.
Contoh pengenalan anggota badan sekaligus gerakan:
| Head and shoulders
Head and shoulders, knees and toes, Head and shoulders knees and toes, Eyes and ears and mouth and nose, Head and shoulders, knees and toes, |
Kepala, pundak
Kepala, pundak, lutut, kaki, Kepala, pundak, lutut, kaki. Daun telinga, mata, hidung dan pipi. Kepala, pundak, lutut, kaki, |
Karena tujuannya untuk mengajarkan sesuatu kepada anak-anak dalam suasana bermain, maka lirik dalam nursery rhyme selalu diulang-ulang, memakai kata-kata yang sederhana, iramanya pun sederhana. Dalam menerjemahkan nursery rhyme, ketiga hal tersebut harus selalu diingat.
Kiat-kiat menerjemahkan nursery rhyme:
Kiat #1: Cari inti yang hendak diajarkan, kemudian ungkapkan padanannya sedekat mungkin ke dalam bahasa sasaran. Misalnya dalam pelajaran berhitung, dari satu sampai sepuluh. Jumlah suku kata mau pun bunyi angka dalam bahasa Inggris tentu berbeda dengan bahasa Indonesia. Karena itu harus dicari akal agar ‘rhyme’ kena, tetapi angkanya tetap muncul, bila perlu dengan mengubah susunan kalimat.
Kiat #2:Untuk mengungkapkan inti, kadang-kadang sulit jika harus setia pada lirik aslinya. Untuk itu tidak jarang kita terpaksa memodifikasi lirik, bahkan mungkin menciptakan/mengajarkan sesuatu yang baru. Menurut pendapat saya, ini sah-sah saja mengingat dalam bahasa aslinya pun, sebuah lagu anak-anak tak jarang diubah liriknya karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi suatu era.
| This Old Man
This old man, he played one, * With a knick, knack, paddy whack, This old man he played two, This old man he played three, This old man he played four This old man he played five, This old man he played six, This old man he played seven, This old man he played eight, This old man he played nine, This old man he played ten, |
Pak Tua
Pak tua, main satu, * Ketrak ketrik ketruk truk. Pak tua, main dua, Pak tua, main tiga, Pak tua, main empat, Pak tua, main lima Pak tua, main enam, Pak tua, main tujuh, Pak tua, main delapan, Pak tua, main sembilan, Pak tua, main sepuluh, |
Jika my drum, my shoe, my knee, my door, my hive, my sticks, in heaven, my gate, my spine diterjemahkan dengan drumku, sepatuku, lututku, pintuku, sarang lebahku, tongkatku, surga, gerbangku, tulang punggungku, sekali lagi, sudah pasti rima dan iramanya tidak akan ‘bunyi’ jika disandingkan dengan satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Karena itu pada waktu menerjemahkannya, saya mengubah konsep asli yang hanya mengajari berhitung, menjadi menghitung dan mengenal anggota badan.
Kiat #3: Cari tahu bagaimana iramanya/lagunya, bisa dengan membeli kaset, DVD lagu anak-anak yang sesuai, atau dengan browsing di internet dsb. Banyak situs yang sangat membantu, misalnya Nursery Rhymes – Lyric & Origins. Jika kita mengenal lagunya, tentu lebih mudah menyesuaikan liriknya dalam bahasa Indonesia. Dalam memilih kata-kata untuk nursery songs, usahakan agar jumlah suku katanya pas dengan irama sehingga dapat dinyanyikan.
Kiat #4:Cari tahu latar belakang sejarah, diskusi, pembahasan dsb mengenai nursery rhyme yang sedang kita terjemahkan. Meskipun hanya berupa spekulasi, tidak jarang sebuah lagu/puisi anak-anak dipakai untuk menyindir atau mengritik penguasa, propaganda. Agaknya pada masa itu belum ada keterbukaan, sehingga harus meminjam lagu/puisi anak-anak untuk mengungkapkan kritik. Acuan ini tentu berguna untuk lebih memahami lagu/puisi anak-anak yang sedang kita garap tersebut, paling tidak dapat memperluas wawasan.
Contoh: puisi Little Boy Blue
| Little Boy Blue
Little Boy Blue come blow your horn, |
Puisi Anak Gembala
Gembala, tiup peluitmu, |
Menurut spekulasi, yang dimaksud Anak Gembala dalam puisi ini adalah Kardinal Thomas Wolsey (1475-1530) yang disebut sebagai “Boy Bachelor’ setelah meraih gelar kesarjanaan dari Oxford dalam usia lima belas tahun. Pada era King Henry VIII tersebut, dikabarkan kardinal itu kaya raya serta banyak musuhnya, mengingat ia sangat tidak sangat angkuh dan tidak populer di kalangan rakyat Inggris. Tak ada yang berani mengritiknya secara terbuka, karena sudah pasti akan dihukum.
Kiat #5: Nursery rhyme ini merupakan konsumsi anak-anak, yang dunianya masih serba indah dan sarat bermain,. Karena itu unsur fun tidak boleh dilupakan. Kalimat-kalimat yang panjang-panjang dan sulit tentu akan susah dicerna anak-anak, dengan demikian pemakaian kata-kata yang sederhana sangat dianjurkan.
Contoh puisi La Fontaine, berjudul Les Deux Pigeons (Sepasang Merpati), dalam memoir The History of My Life (Pengakuan Cassanova), tulisan Giacomo Cassanova.
| Soyez-vous l’un a l’autre un monde toujours beau,Toujours divers, toujours nouveauTenez-vous lieu de tout ; comptez pour rien le reste. | A world of beauty ever new;In each the other ought to seeThe whole of what is good and true. |
Penggalan puisi tersebut saya temukan dalam Pengakuan Cassanova (sudah diterbitkan Serambi). Karena saya tidak menguasai bahasa Perancis, saya cari acuannya yang berbahasa Inggris di internet. Terjemahan bebasnya: Dunia indah yang selalu baru/dalam diri masing-masing saling mengasihi/secara utuh mengenai yang baik dan sejati.
Seperti kita ketahui La Fontaine adalah penyair Perancis yang menulis dongeng banyak sekali, dan hampir semuanya terkenal. Semua dongengnya diceritakan dalam bentuk puisi. Dalam memoirnya, Cassanova mengutip beberapa baris fabel tersebut, dan sewaktu menerjemahkan memoir itu mau tak mau saya harus mengalihbahasakannya juga.
Penerjemahan puisi
Puisi yang dimaksud di sini tentu bukan puisi-puisi kelas berat karya pujangga-pujangga atau filsuf ternama, melainkan karangan penulis novel yang kebetulan bukan penyair. Jika itu yang terjadi, pekerjaan penerjemah akan lebih ringan meskipun tidak berarti boleh asal-asalan.
Contoh puisi dalam novel “Dewey, the Small-Town Library Cat Who Touch the World”, terbitan Serambi:
| MEMORIES OF DAD
I had broken my engagement Mom was very upset, Dad would hear my sobs; |
KENANGAN PADA AYAH
Aku sudah memutuskan pertunangan Ibu sangat kecewa, Ayah dapat mendengar isak tangisku; |
Dalam puisi tersebut, terasa betapa sederhananya kalimat-kalimat yang dipakai pengarang. Penulis novel tersebut, Vicki Myron, pustakawan dan orangtua tunggal seorang remaja, menulis puisi tersebut sebagai hadiah ulang tahun ayahnya.
Tetapi bagaimana jika kita terpaksa bertemu dengan puisi kelas berat? Sebagian ahli berpendapat, puisi tidak dapat diterjemahkan, karena roh puisi tersebut belum tentu dapat tertangkap oleh penerjemah. Belum lagi kesulitan-kesulitan yang lain, misalnya dalam pemilihan kata yang kadang-kadang tidak umum untuk menuangkan estetika seperti yang dikehendaki pengarangnya. Yang jelas, menerjemahkan puisi jenis ini bisa terasa sangat sulit bagi sebagian besar penerjemah.
Contoh puisi dalam novel “Call Me by Your Name” (Cinta Terlarang) karangan Andre Aciman, terbitan Serambi:
Inferno, canto ke 15, dari Divine Comedy karangan Dante Alighieri, yang menggambarkan perjumpaan Dante dengan mantan gurunya Brunetto Latini.
| E io, quando ‘l suo braccio a me distesse, ficcai’li occhi per lo cotto aspetto, si che ‘l viso abbrusciato non difese la conoscenza süa al mio ‘ntelleto; e chinando la mano a la sua faccia, rispuosi: “Siete voi qui, ser Brunetto?” |
Soon as he touch me, I could no more avert Mine eyes, but on his visage scorched and sered Fixed them, until beneath the mask of hurt Did the remembered lineaments appear. And to his face my hand inclining down, I answered, “Ser Brunetto, are you here?” |
Segera setelah dia menyentuhku, aku tak bisa lagi memalingkan Mataku, terus menjelajah dan membelai roman mukanya Terpaku padanya, hingga di bawah topeng derita, Ingatan berpacu ke permukaan. Dan ke wajahnya tanganku meraba Aku menjawab, “Ser Brunetto, di sinikah Anda? |
Dalam Divine Comedy ini Dante berkisah mengenai perjalanannya ke alam baka setelah ia mencoba bunuh diri. Di suatu tempat yang dipakai untuk menghukum para pendosa yang merusak alam, ia bertemu dengan mantan gurunya Brunetto Latini, seperti yang diungkapkan dalam Inferno, canto ke 15 tersebut.
Kiat-kiat dalam persiapan menerjemahkan puisi:
- Membaca puisi tersebut berkali-kali hingga menangkap feel puisi tersebut, gaya bahasa, metafora, meter, dsb.
- Melakukan riset dengan mencari acuan, pembahasan, kritik, analisa sebanyak mungkin di internet atau sumber-sumber lain.
- Bertanya kepada sumber-sumber yang dapat diandalkan, termasuk (jika mungkin) menulis surat kepada pengarangnya.
Puisi merupakan karya seni, sehingga sedapat mungkin keindahannya tetap terjaga, dan pesan serta jiwa puisi tersebut dapat dinikmati pembaca. Sebagian ahli berpendapat bahwa menerjemahkan puisi itu ibarat membuat reproduksi lukisan. Tidak persis sama, tapi sangat mirip, sedapat mungkin tetap indah.
Contoh puisi karangan penyair terkenal dalam novel “For the Roses” karangan Julie Garwood, terbitan Dastanbooks:
No man is an island, entire of it self; every man is a piece of the continent, a part of the main; if a clod be washed away by the sea, Europe is the less, as well as if a promontory were, as well as if a manor of thy friends or of thine own were; any man’s death diminishes me, because I am involved in mankind; and therefore never send to know for whom the bell tolls; it tolls for thee.
John Donne. Devotions upon Emergent Occasions. Meditation XVII
Atau,
Of all flowers, Methinks a rose is best.
It is the very emblem of a maid;
For when the west wind courts her gently,
How modestly she blows, and paints the sun
With her chaste blushes! When the north comes near her,
Rude and Impatient, then, like chastity,
She locks her beauties in her bud again,
And leaves him to base briers,
She is wondrous fair.
…Methinks a rose is best.From The Two Noble Kinsmen By William Shakespeare and John Fletcher
Oleh Istiani Prajoko. Disampaikan dalam Semiloka Nasional Penerjemahan Buku dan Novel serta Penyuntingannya, Malang 19 Juli 2009.
kayaknya untuk menjadi seorang penterjemah kita jangan cuma belajar bahasa inggris saja, kita juga harus belajar sastra indonesia, harus paham ekonomi, harus paham sejarah, budaya, psikologi, agama dan berbagai pengetahuan umum lainnya, agar yang diterjemahkan bisa punya ruh.
Bu Istiani,
Thanks buat sharing ilmunya. Sangat menarik dan membuka wawasan. Ditunggu karya berikutnya!
Yours,
Timothy
saya copy dan simpan sebagai arsip di PC pribadi boleh ya… penting banget nih buat referensi
Makasih bu Istiani
Sama2. Saya senang jika sumbangan dua sen saya ternyata bermanfaaf. Have a nice day:)
Wow, lagi-lagi tepat sesuai kebutuhan. Terima kasih banyak:)
Memang menerjemahkan puisi dan lagu dan sejenisnya juga termasuk seni tersendiri yang tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan bahasa.