Menerjemahkan novel

Untuk bisa menerjemahkan novel dengan baik, yang lebih dulu harus dikuasi adalah cara-cara menerjemahkan buku dengan baik, antara lain: 1) menguasai bahasa sumber, 2) menguasai bahasa sasaran, 3) menguasai materi yang diterjemahkan, 4) akrab dengan segala jenis kamus, 5) mudah dan terbiasa melihat “gambaran keseluruhan” buku, serta 6) membaca sebanyak-banyaknya buku lain yang setipe.

Setelah mampu menerjemahkan buku (umum) dengan baik, seorang penerjemah novel harus membekali diri dengan keterampilan menulis yang prima. Menerjemahkan novel bisa dikatakan “setengah mengarang.” Lebih dari penerjemah buku biasa, penerjemah novel harus pandai mengolah kata-kata agar pembaca bisa terhanyut menikmati novel yang dibacanya. Biasanya, bahasa yang digunakan pengarang novel itu khas, berbeda antara satu pengarang dan pengarang lainnya. Penerjemah novel harus bisa mengikuti gaya bahasa pengarang asli. Dengan begitu barulah pembaca bisa menangkap keunikan dari karya tersebut.

Contohnya:

  1. Cormac McCarthy. Pengarang buku No Country for Old Men yang telah difilmkan dan filmnya memborong piala Oscar 2008 ini tidak menggunakan bahasa Inggris “yang baik dan benar” ketika menulis. Dengan demikian penerjemah harus bisa mengadaptasinya dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku juga, agar tercipta atmosfir seperti yang tertuang dalam novel aslinya.
  2. Kochka dalam The Boy Who Ate Stars. Penutur dalam novel ini, Lucy, adalah seorang anak usia 12 tahun, bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seorang anak autis. Bahasa yang digunakannya sesuai dengan bahasa khas anak ABG.
  3. E.L. Doctorow, misalnya dalam The March. Pengarang ini suka menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan banyak koma dan titik-koma. Meskipun membaca kalimat-kalimat semacam itu melelahkan, penerjemah harus setia mengikuti gayanya, agar nuansa yang ingin ditampilkan pengarang tetap bisa ditangkap pembaca.

Dengan bekal kiat-kiat di atas, sebenarnya seorang penerjemah sudah bisa menghasilkan terjemahan novel yang baik.

Namun dalam praktiknya, sering timbul berbagai pertanyaan, misalnya:

  1. Menerjemahkan struktur kalimat yang panjang dan mbulet, bagaimana caranya? Dengan menangkap maksud kalimat tersebut, dan mengungkapkannya sesuai dengan ungkapan dalam bahasa Indonesia yang bisa menampilkan gaya mbulet dari sang pengarang. Contohnya: E.L. Doctorow dalam The March.
  2. Bagaimana memertahankan suspense, konflik batin, dll? Dengan resep yang sama. Pengarang pasti punya cara khas untuk menampilkan semua itu. Jadi, sebagai penerjemah kita mengikuti saja alur yang telah dibuat pengarang. Contoh: Mo Hayder dalam Tokyo (The Devil of Nanking).
  3. Bagaimana menerjemahkan deskripsi yang terkait budaya dan waktu? Perlukah memberi penjelasan? Ya, tetapi sebaiknya pada bagian yang lain, sehingga tidak mengganggu pembaca saat menikmati sebuah novel . Misalnya memberi keterangan tentang setting masa terjadinya cerita atau latar belakang sejarah suatu peristiwa. Misalnya, Little Women karya Louisa May Alcott atau The March karya E.L. Doctorow.
  4. Bagaimana memertahankan atau menerjemahkan cara tutur yang khas tempat dan waktu? Misalnya cara tutur orang hitam zaman dulu (The Color Purple). Harus dicari cara yang tepat untuk menunjukkan bahwa seorang tokoh berasal dari strata masyarakat tertentu. Ini tantangan yang berat bagi penerjemah. Contoh lainnya: No Country for Old Man karya Cormac McCarthy, yang menampilkan tokoh-tokoh dari suatu wilayah dengan cara bicara yang khas di daerah itu.
  5. Bagaimana menyikapi uraian atau adegan yang menurut Anda kurang sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia? Menerjemahkan apa adanya? Menghaluskan? Apa pertimbangannya? Tergantung. Kalau adegan yang ditampilkan terlalu menggangu perasaan pembaca, penerjemah boleh menghaluskannya. Contohnya, The Amber Room karya Steve Berry. Adegan perkosaan digambarkan pengarang dengan cara yang sangat merangsang, yang sesungguhnya tidak terlalu memberikan perbedaan pada keseluruhan cerita.

Berikut beberapa contoh penerjemahan novel.

No Country for Old Men

I sent one boy to the gas chamber at Huntsville. One and only one. My arrest and my testemony. I went up there and visited with him two or three times. Three times. The last time was the day of his execution. I didnt have to go but I did. I sure didnt want to. He’d killed a fourteen year old girl and I can tell you right now I never did have no great desire to visit with him let alone go to his execution but I done it. The papers said it was a crime of passion and he told me there wasnt no passion to it. He’d been dating this girl, young as she was. He was nineteen. And he told me that he had been planning to kill somebody about as long as he could rembember. Said that if they turned him out he’d do it again. Said he knew he was goin to hell. Told it to me out of his own mouth. I don’t know what to make of that. I surely dont. I thought I’ve never seen a person like that and it got me to wonderin if maybe he was some ne kind. I watched them strap him into the seat and shut the door. He might of looked a bit nervous about it but that was about all. I really believe that he knew he was goin to be in hell in fifteen minutes. I believe that. And I’ve thought about that a lot. He was not hard to talk to. Called me Sheriff. But I didnt know what to say to him. What do you say to a man that by his own admission has no soul? Why would you say anything? I’ve thought about it a good deal. But he wasn’t nothin compared to what was comin down the pike.

Aku mengirim satu anak ke kamar gas di Huntsville. Satu dan cuma satu itu. Aku yang menangkapnya dan jadi saksinya. Aku pergi ke sana dan menengoknya dua atau tiga kali. Tiga kali. Yang terakhir itu pada hari eksekusinya. Aku tidak mesti pergi untuk meliat dia tapi tetap pergi juga. Aku yakin tidak ingin pergi. Dia sudah membunuh anak perempuan berusia empat belas taun dan aku bisa bilang sekarang kalau aku tidak pernah punya keinginan untuk nengok dia apalagi pergi untuk meliat eksekusinya tapi aku pergi juga. Koran-koran mengatakan itu kejahatan nafsu dan dia bilang padaku kalau tidak ada nafsu dalam perbuatannya itu. Dia sudah mengencani gadis ini, walau masih sangat muda. Dia sendiri berusia sembilan belas taun. Dan dia bilang padaku kalau dia sudah merencanakan untuk membunuh orang selama yang dia ingat. Katanya jika mereka mengeluarkannya dia akan membunuh lagi. Katanya dia tau dia akan masuk neraka. Dia mengatakan itu dengan mulutnya sendiri. Aku tidak tau harus bilang apa. Aku benar-benar tidak tau. Kukira aku belum pernah menemui orang seperti dia dan aku jadi bertanya-tanya apa dia itu manusia jenis baru. Aku meliat mereka mengikatnya ke kursi dan menutup pintu. Dia mungkin keliatan agak gugup tapi hanya itu saja. Aku benar-benar percaya kalau dia tau dia akan berada di neraka lima belas menit lagi. Aku percaya itu. Dan aku sudah memikirkannya berkali-kali. Dia mudah diajak bicara. Memanggilku Sherrif. Tapi aku tidak tau harus bilang apa padanya. Apa yang akan kita katakan pada orang yang mengakui dirinya tidak punya jiwa? Mengapa kita mau mengatakan apapun? Aku lama memikirkannya. Tapi dia bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang mungkin akan kutemui nanti.

The Boy Who Ate Stars

Namaku Lucy dan aku tinggal di Paris. Kalau sudah besar nanti, aku ingin mengajar anak-anak austistik. Aku sudah kenal satu, namanya Matthew dan dia tetanggaku. Matthew berumur empat tahun ketika dia masuk ke dalam hidupku dan, jujur saja, awal hubungan kami sulit. Sekarang aku sering menemuinya, dan setiap kali aku selalu berpikir dia itu istimewa sekali karena aku tidak pernah ketemu orang seperti dia.

Semuanya dimulai waktu kami pindah ke Rue Merlin nomor 11. Flat kami terletak di lantai empat, di sisi sebelah kiri. Ketika itu bulan September, umurku dua belas tahun dan aku tidak kenal siapa-siapa. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri: aku harus mengenal semua tetanggaku. Aku bahkan sudah punya rencana aksi. Begitu sekolah dimulai lagi, aku akan mendatangi semua orang dari lantai dasar sampai lantai paling atas, dan memasang bendera di kamar tidurku untuk setiap negara asal dari masing-masing tetangga kami. Ada banyak nama yang kedengarannya asing di kotak-kotak surat mereka, jadi mudah-mudahan saja aku nanti bisa membuat prestasi besar. Temaku untuk tahun ini adalah pertemuan global. Sampai aku ketemu Matthew. Ketika dia muncul begitu saja dalam hidupku, dia membuat semua rencanaku berantakan.

The March

At five in the morning someone banging on the door and shouting, her husband, John, leaping out of bed, grabbing his rifle, and Roscoe at the same time roused from the backhouse, his bare feet pounding: Mattie hurriedly pulled on her robe, the mind prepared for the alarm of war, but the heart stricken that it would finally have come, and down the stairs she flew to see through the open door in the lamplight, at the steps of the portico, the two horses, steam rising from their flanks, their heads lifting, their eyes wild, the driver a young darkie with rounded shoulders, showing stolid patience even in this, and the woman standing in her carriage no one but her aunt Leticia Pettibone, of McDonough, her elderly face drawn in anguish, her hair a straggled mess, this woman of such fine grooming, this dowager who practically ruled the season in Atlanta standing up in the equipage like some bag of doom, which indeed she would prove to be. The carriage was piled with luggage and tied bundles, and as she stood some silver fell to the ground, knives and forks and a silver candelabra, catching in the clatter the few gleams of light from the torch that Roscoe held. Mattie, still tying her robe, ran down the steps thinking stupidly, as she latter reflected, only of the embarrassment to this woman, whom to tell the truh she had respected more than loved, and picking up and pressing back upon her the heavy silver, as if this was not something Roscoe should be doing, nor her husband, John Jameson, neither.

Pada pukul lima pagi hari seseorang menggedor pintu dan berteriak, suaminya, John, melompat dari tempat tidurnya, mengambil senapan, dan pada saat yang bersamaan Roscoe keluar dari rumah belakang, kakinya yang telanjang terdengar menghentak keras: Mattie buru-buru memakai jubah tidurnya, pikirannya bersiaga untuk menerima peringatan perang, tetapi hatinya kecut bahwa perang akhirnya datang juga, dia berlari menuruni tangga mengamati pintu yang terbuka diterangi lampu, di undak-undakan teras ada dua ekor kuda, uap menghembus dari panggul mereka, kepala terangkat, mata liar, penunggangnya seorang pemuda kulit hitam yang berbahu tegap, tetap tenang bahkan dalam keadaan seperti ini, dan seorang wanita yang ada di dalam kereta itu tak lain adalah Latitia Pettibone McDonough, wajah tuanya terlihat sedih, rambutnya terurai berantakan, wanita yang dulunya merawat dirinya dengan baik, seorang janda yang berhasil mengatasi kesulitan zaman di Atlanta dengan tegar, dan selama ini terbukti demikian. Kereta itu dipenuhi dengan banyak muatan dan bungkusan yang diikat, dan saat dia berdiri, beberapa perabot perak jatuh ke tanah, pisau dan garpu dan tempat lilin dari perak, seberkas cahaya terpancar dari perabot yang gemerincing itu oleh obor yang yang dipegang Roscoe. Mattie, masih sambil mengikatkan jubahnya, menuruni tangga sambil berpikir dengan bodohnya, seperti yang kemudian diingatnya, hanya karena rasa malu pada wanita ini, yang sejujurnya lebih dihormatinya daripada dicintainya, memungut dan mengambilkan barang-barang dari perak yang berat itu untuknya, seakan-akan hal ini tidak seharusnya dilakukan Roscoe, atau juga suaminya, John Jameson.

Disusun oleh Rahmani Astuti dan dibawakan pada acara Bahtera Goes to Malang, 19 Juli 2009

Trackback

9 comments untill now

  1. Sangat mengilhami :)

  2. Terima kasih sudah berbagi. Masalahnya terkadang adalah (bagi saya paling tidak), “menyelami dan menuruti” pola pikir si penulis, yang kadang tidak selaras/nyambung dengan kita. Tapi anggap saja itu bagian dari profesionalitas…

  3. Terima kasih, artikel yg bagus.

  4. Meski saya belum sempat mempelajari contoh-contoh terjemahan di atas, saya sangat mengapresiasi dan terima kasih. Saya ikut bangga dengan pekerjaan top setengah mengarang ini.

  5. Bagus skali…

    Btw, saya ada tugas kampus untuk menterjemahkan buku yg belum pernah di published…Apakah ada saran jenis buku atau novel apa yg sebaiknya saya pilih..Thx

  6. yth Rahmani Astuti , saya memerlukan penerjemah buku, apabila Anda bisa mengirimkan CV Anda ke email saya gracias007@yahoo.com dilengkapi dengan bbrp berkas yang pernah Anda terjemahkan dan dipublikasikan. Terima kasih

  7. Saya baru-baru ini mendapatkan penawaran untuk menerjemahkan novel remaja dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris populer. Saya kesulitan dalam menemukan istilah-istilah prokem remaja Amerika yang biasa digunakan, sementara penerbitnya meminta agar naskahnya diterjemahkan dengan gaya bahasa semi-prokem Amerika. Ada rujukan yang bisa saya baca? Terima kasih

  8. Kalau tidak ada terinstall IDM, ya tidak ada dyodloanernwa. Btw, Google Chrome nya bermasalah juga? Postingan saya ini untuk Google Chrome yang bermasalah tidak bisa membuka website twitter, yahoo dan yang lainnya.

  9. nurul ichtifa @ 2016-04-27 18:21

    terjemahkan novel silvia day yang reflected in you dong…

Add your comment now