Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan kosakata kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: “Bahasa menunjukkan bangsa“.

Asut dan googol

Peristiwa diciptakannya istilah asut dan googol mungkin bisa membuka mata kita bahwa tidak ada salahnya mencipta kata baru. Kata asut diciptakan oleh Prof. TM Soelaeman, guru besar elektroteknik dari ITB, yang diartikan sebagai “menghidupkan mesin”. Kabarnya kata itu diciptakan tatkala beliau tengah memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan kepada mahasiswanya tentang proses menghidupkan mesin. Kata gado-gado Indonesia-Inggrisnya memang sudah sering digunakan, yaitu menstarter. Tetapi, Prof. Soelaeman ingin menggunakan kata Indonesia. Yang terpikirkan adalah kata hasut yang berarti “mempengaruhi orang agar mulai mengerjakan sesuatu”. Beliau memungut kata tersebut, membuang huruf h-nya, sehingga terciptalah kata asut tadi. Sekarang, meskipun belum masuk KBBI, di dunia keteknikan, kata tersebut semakin populer. Memang, mengasut mobil seakan-akan menyuruh mesin mobil untuk mulai bekerja.

Kata googol mempunyai riwayat yang lebih unik lagi. Sudah lama para matematikawan merasakan betapa praktisnya menggunakan kata atau istilah tertentu untuk menamai bilangan besar. Bayangkan seandainya kita tidak mengenal kata triliun, alih-alih menuliskan 1,3 triliun (kredit macet Eddy Tansil di Bank Bapindo), kita terpaksa menuliskan 1.300.000.000.000.

Dikisahkan bahwa pada tahun 1930-an, Profesor Edward Kasner (1878–1955), seorang matematikawan Amerika, sedang menangani sebuah bilangan 10 pangkat 100. Dia merasa perlu menamai bilangan tersebut. Secara iseng, dia bertanya kepada keponakannya yang berusia sembilan tahun, Milton Sirrota, nama apa yang cocok untuk bilangan besar itu. Sang profesor berjanji akan menggunakan nama itu, betapapun anehnya. Milton pun asal menjawab: “Googol!” Untuk memenuhi janjinya, nama yang aneh itu pun digunakan Prof. Kasner, dan sekarang googol sering digunakan di dunia matematika.

Tikalas dan tikatas

Anda tentu kenal istilah superskrip dan subskrip, yaitu huruf atau angka yang dituliskan agak di atas dan agak di bawah. Contoh superskrip adalah angka 2 pada 102, dan contoh subskrip adalah angka 2 pada H2O. Tidak jarang kita lupa mana yang superskrip dan mana yang subskrip, yang di atas atau yang di bawah. Memang kedua kata itu kata serapan dari superscript dan subscript, kata yang bukan milik kita. Tetapi, jika dikatakan “atas” dan “bawah”, pasti kita tidak akan keliru lagi. Jadi, mengapa tidak kita pakai saja dua kata ciptaan Adjat Sakri, peminat bahasa dari Penerbit ITB, yaitu tikatas untuk superskrip dan tikalas untuk subskrip?

Penggalan kata “tik” pada kedua kata itu diambil dari kata Kawi tika yang berarti “huruf”. Penciptanya ingin memperluas makna tersebut menjadi padanan kata Inggris character, yaitu tidak hanya mencakup huruf, tetapi juga lambang cetak lainnya. Jadi, tikatas adalah karakter yang ditulis di atas, dan tikalas yang ditulis di alas atau di bawah. Mudah diingat, bukan? Sayang, uraian kedua kata ini dalam KBBI kurang tepat karena hanya tertulis “tika atas”. Sementara itu, kata tika yang bermakna “huruf” sebagai sumber terciptanya kata baru tersebut tidak tercantum.

Manuscript, typescript, discript …

Penerbit dan pengarang tentu mengenal kata manuskrip, kata lain untuk naskah. Kata manuskrip sendiri adalah serapan dari kata Inggris manuscript, tentu saja berarti “tulisan tangan” dari kata Latin manus yang berarti “tangan” dan scriptus yang berarti “tertulis”. Selanjutnya, setelah mesin tik ditemukan, pengarang beralih dari penulisan dengan tangan ke mesin tik. Maka, penutur bahasa Inggris menamai naskah yang diketik itu dengan typescript – kata kerja to type berarti “mengetik”. Kita di Indonesia tetap saja menyebutnya naskah, baik ditulis tangan maupun diketik.

Sekarang, dengan ditemukannya komputer, dan naskah diserahkan dalam bentuk disket oleh pengarang kepada penerbit, apa nama naskah semacam itu? Secara analogi tampaknya bisa disebut diskscript. Tetapi, saya belum menemukan istilah ini dalam berbagai kamus yang biasa saya gunakan. Yang ada hanya hard copy untuk menyatakan naskah yang diserahkan berupa hasil cetakan komputer. Adjat Sakri mempopulerkan istilah nasket untuk naskah yang diserahkan dalam bentuk disket. Bagaimana menurut Anda?

Sinambung, kinerja, linarut, tinambah

Kaidah awalan, akhiran, dan sisipan dalam bahasa Indonesia sebetulnya merupakan kekayaan yang masih belum banyak dimanfaatkan untuk membentuk kata atau istilah baru. Padahal, dengan memanfaatkan kekayaan yang unik ini, kita dapat sangat hemat dalam berbahasa. Misalnya, alih-alih “melakukan pengejaran terhadap penjahat”, wartawan bisa memendekkan frase itu menjadi “mengejar penjahat”. Terjemahan dialog sinetron di TV seperti “… kecantikannya tidak dapat diuraikan dengan kata-kata” bisa dipersingkat dan dibaca lebih cepat bila dituliskan “… kecantikannya tak terkatakan“.

Nah, bagaimana dengan keempat kata yang menjadi judul pasal ini? Kata sinambung tentu sudah Anda kenal, bahkan mungkin sering Anda gunakan. Mudah diduga bahwa kata asalnya adalah “sambung”, diberi sisipan -in-. Kata kinerja mungkin baru Anda kenal lewat media massa atau buku terjemahan. Diperkirakan kata ini semakin berterima di masyarakat dengan semakin seringnya muncul di media massa. Asal katanya tentu saja “kerja”, diberi sisipan -in-. Setahu saya, kata ini diciptakan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup ITB (PPLH-ITB) sebagai padanan kata performance. Saingan istilah baru ini adalah unjuk kerja dan perikerja. Mana yang akan terus hidup tentu saja sangat bergantung pada pemasyarakatannya, baik melalui media massa maupun tulisan ilmiah.

Bagaimana dengan kata linarut dan tinambah? Mungkin hanya kalangan ilmuwanlah yang sudah mengenalnya. Kedua istilah ini diciptakan Prof. Kosasih Padmawinata, penerjemah produktif dari Jurusan Farmasi ITB. Linarut digunakannya sebagai padanan istilah Inggris solute yang sebelumnya sering diterjemahkan menjadi zat terlarut. Prof. Kosasih menganggap istilah yang terdiri atas dua patah kata itu terlalu panjang. Maka, diciptakannyalah kata linarut yang berasal dari kata “larut” dengan sisipan -in-. Istilah tinambah juga diciptakan dari kebutuhan sang profesor ketika menerjemahkan istilah Inggris additives, yaitu zat yang ditambahkan ke dalam sesuatu, misalnya food additives. Alih-alih menggunakan “zat tambahan”, Prof. Kosasih memperkenalkan istilah tinambah yang tampaknya juga semakin berterima di dunia yang ditekuninya, dunia kimia farmasi.

Manfaatkan bubuhan

Secara keseluruhan, awalanakhiran, dan sisipan dinamakan “imbuhan“. Bagi orang awam, dan saya termasuk di dalamnya, istilah awalan dan akhiran memang lebih cepat dipahami daripada kata serapannya, afiks dan sufiks, yang digunakan para ahli linguistik. Contoh awalan adalah me-, ber-, pe-, dan di-; contoh akhiran adalah -an, -kan, -lah, dan -kah; dan contoh sisipan adalah -in-, -el-, dan -em-.

Bagaimana dengan awalan semacam maha-, tuna-, mala-, pasca-, pra-, nir-, dan lir-? Ada yang menamakannya “bubuhan”, untuk membedakannya dari “imbuhan”. Bubuhan semakin disukai untuk menciptakan istilah baru yang keperluannya terasa semakin mendesak. Dalam bidang ekonomi, misalnya, semakin populer istilah nirlaba, padanan istilah Inggris nonprofit. Ada pula istilah baja nirkarat, padanan stainless steel. Bubuhan nir- memang menyatakan negatif atau tidak ada. Maka, sungguh tepatlah bila penerjemah dari IPB menggunakan istilah semangka nirbiji, meskipun pedagang semangka di tepi jalan lebih kenal istilah semangka nonbiji. Mahasiswa Program D-3 Editing, Unpad menciptakan istilah kain nirjahit sebagai padanan kain ihrom – istilah yang sungguh tepat, dipandang dari wujud fisik kain tersebut.

Masih banyak istilah ciptaan baru lainnya: Dr. Soegito Wonodirekso dari FKUI menciptakan istilah laiksantap untuk padanan edible, dan Dr. Diah Lukman dari IPB menggunakan istilah liragar untuk padanan jellylike. Para pelukis menciptakan istilah mahakarya dan adikarya untuk padanan masterpiece, sedangkan perancang busana menciptakan istilah adibusana untuk haute couture atau high fashion. Anda dapat terus memperpanjang daftar ini dengan istilah ciptaan Anda, tentu saja dengan memperhatikan Pedoman Pembentukan Istilah dari Pusat Bahasa. Ya, mengapa tidak?

Penutup

Diam-diam ternyata peristilahan bahasa Indonesia di kalangan ilmuwan dan kalangan terbatas lainnya terus berkembang. Aneka istilah baru terus bermunculan – ada yang megap-megap bertahan hidup karena kurang disukai (mangkus, sangkil), tetapi banyak pula yang terus memasyarakat (nirlaba, kinerja), atau mulai merangkak tumbuh (linarut, liragar).

Sebagai pengguna bahasa dan pencinta buku, kita perlu menyimak perkembangan ini agar kosakata kita juga terus bertambah. Tetapi, biasanya, kita enggan kaya kosakata, tidak seperti kaya harta. Kita bukannya membuka kamus bila menemukan kata Indonesia “baru”, melainkan menggerutu. Sungguh berbeda dengan sikap kita saat menjumpai kata asing yang tidak kita kenal – dengan senang hati kita mencarinya dalam kamus. Mudah-mudahan sikap menganaktirikan bahasa sendiri seperti ini tidak dianut pembaca Berita Buku, yang dapat dipastikan pencinta buku, sekaligus pencinta bahasa nasional. Mudah-mudahan pula Anda berpendapat Wisata Kata kali ini laikbaca, tidak membingungkan. Dirgahayu Republik Indonesia tercinta!

Tulisan Sofia Mansoor. Dimuat di Majalah Berita Buku, Agustus 1996 dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

, , , , , , , , , ,
Trackback

11 comments untill now

  1. Tulisan lama yang sangat bermanfaat. Trims..

  2. Amazing what we can do with words! Languages are truly arbitrary!

  3. Jadi terharu (hiks) atas pencerahannya. Terima kasih.

  4. Tulisan yang ditulis Ibu Sofia 13 tahun yang lalu ini ternyata masih sangat aktual.

    Saya merasa senang dan bersyukur membacanya, namun sekaligus juga merasa prihatin, karena komentar di akhir tulisan ini benar adanya:
    “Kita bukannya membuka kamus bila menemukan kata Indonesia “baru”, melainkan menggerutu. Sungguh berbeda dengan sikap kita saat menjumpai kata asing yang tidak kita kenal – dengan senang hati kita mencarinya dalam kamus.”

    Namun, apa daya kalau kata baru itu pun belum/tidak bisa kita temukan artinya di kamus (misalnya karena kata itu belum dibakukan) atau di tempat lain (internet).

    Semoga dengan adanya “kateglo” ini semakin banyak kata-kata baru hasil galian, hasil otak-atik, dari kosakata bahasa Indonesia maupun dari bahasa-bahasa daerah yang memperkaya bahasa kita, bahasa Indonesia. Untuk itu mungkin di sini -di samping kamus, tesaurus, dan glosari- bisa ditambahkan daftar kata-kata temuan baru (atau lama namun belum tercakup di dalam KBBI) itu, seperti misalnya kata “ditengarai”, “khasanah”, dll.

    Salam,
    Evie

  5. Sofia Mansoor @ 2009-08-20 06:10

    halo Mbak Evie,

    Kalau masih suka pada tulisan seperti ini, tunggu saja pemuatan artikel saya berikutnya, yang masih saya gali dari arsip lama.

    Saat mencari kata di kamus atau buku rujukan lainnya, kita harus agak cerdik, mengingat ada kalanya kata yang kita cari terselip. Misalnya, mungkin kamus mengatakan tidak ada kata “ditengarai,” tetapi coba kita cari di kata dasarnya, tengara. dan, voila, ini dia!

    Silakan buka yang berikut ini untuk kata tengara:
    http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&action=view&phrase=tengara

    yang berikut untuk kata khasanah:
    http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&action=view&phrase=khasanah

    dan yang berikut untuk kata khazanah:
    http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&action=view&phrase=khazanah

    Kita harus maklum bahwa Pusba masih banyak kekurangannya, yang di sini tampak dari sikap tidak taat asas (konsisten) menentukan mana yang baku, antara khasanah (ada di glosarium Pusba) dan khazanah (ada di KBBI daring)

    salam,
    sofia

  6. Halo Bu Sofia,

    Pada saat ‘anak didik’ menanyakan kata-kata yang tidak/belum dikenalinya, sebagaimana biasa saya minta ybs. mencari sendiri dulu di kamus. Apabila kata tersebut tidak bisa diketemukannya di sana, muncul kekhawatiran jangan-jangan saya dianggap mengada-ada … :(

    Itulah, saya sangat mensyukuri lahirnya kateglo dan berusaha ikut mempopulerkannya. Tulisan Ibu di atas pun sempat saya sebarkan, beberapa teman menanggapinya dengan positif. Oleh karena itu saya hargai kesediaan Bu Sofia mengorek arsip lama dan berbagi dengan kita semua di blog ini. Kami tunggu!

    Salam hangat,
    Evie

  7. Sofia Mansoor @ 2009-08-25 06:25

    Dear Mbak Evie,

    Guru saya yang hebat, mantan Kepala Penerbit ITB (1972-1998), Dr HC Adjat Sakri (alm) memberi saya begitu banyak pelajaran mengenai penerbitan, penulisan, dan penerjemahan, termasuk di antaranya pengetahuan mengenai perkamusan.

    Sebagaimana Mbak Evie ketahui, banyak sekali jenis kamus yang beredar, termasuk kamus dwibahasa Inggris-Indonesia, maupun kamus ekabahasa seperti Indonesia-Indonesia atau Inggris-Inggris. Banyak pertimbangan penerbit ketika akan menerbitkan kamus, antara lain berapa banyak kata atau entri yang akan dimuat, kata apa yang tidak perlu dimuat, dll. Kamus pelajar pemula tentu berbeda isinya dengan kamus pelajar tingkat lanjut; kamus teknik tentu berbeda isinya dengan kamus umum, dsb.

    Nah, sekiranya anak didik Mbak tidak menemukan suatu kata dalam kamus A, mungkin saja ada dalam kamus B yang lebih tepat untuk memuat kata tersebut.

    Di era internet sekarang ini, mencari definisi atau makna kata menjadi jauh lebih mudah karena sumber informasi yang tersedia jauh lebih banyak dan luas, tidak terbatas pada kamus cetak saja.

    Tempo hari, saya dikirimi sebuah artikel yang penulisnya mengatakan bahwa kata profesionalitas sebetulnya tidak ada karena dalam bahasa Inggris pun tidak ada kata profesionality. Saya tertegun sejenak karena teringat pada masa belasan tahun yang lalu di saat saya juga berpendapat demikian, tetapi guru saya menyuruh saya membuka kamus yang amat tebal di Perpustakaan ITB.

    Nah, kali ini saya google kata “professionality” dan menemukan >260.000 tohokan. Di antaranya adalah dalam judul makalah yang disiapkan oleh “pemilik bahasa Inggris” alias orang Inggris!

    OK, barangkali sampai di sini dulu komentar saya. Insya Allah tulisan saya yang lain akan muncul setelah beberapa tulisan bagus lainnya, yang sudah antre saat ini, dimuat semuanya oleh Ivan.

    salam hangat

  8. saya pernah mencoba menterjemahkan buku, tentang agama, jihad, ada banyak kata yang memang tidak ada bahasa indonesianya, jadi tidak bisa dipadankan langsung, karena artinya akan sangat melenceng jauh. jadi harus mencari bahasa yang berasal dari bahasa arab. misalnya kaya kata extraction tidak bisa diterjemahkan dengan extraksi atau pengeluaran, tapi harus diterjemahkan ke bahasa arab yaitu takhrij. Qur’anic Comentators, tidak bisa diterjemahkan pengomentar Qur’an, tapi mufassir. prove menjadi dalil. jadi maksud saya memang bahasa indonesia agak susah, maksudnya kata-kata indonesia tidak bisa menjelaskan banyak hal.
    maaf kalau salah tolong dikoreksi

  9. […] Sentilan Bu Sofia ini sangat berkesan untuk saya: Kita bukannya membuka kamus bila menemukan kata Indonesia “baru”, melainkan menggerutu. Sungguh berbeda dengan sikap kita saat menjumpai kata asing yang tidak kita kenal – dengan senang hati kita mencarinya dalam kamus. […]

  10. PUSAT BAHASA UPN “VETERAN” YOGYAKARTA

    Menyelenggarakan:

    SEMINAR BAHASA INDONESIA

    MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA YANG EFEKTIF
    UNTUK GENERASI MUDA YANG BERKUALITAS

    dalam rangka
    Memperingati hari Sumpah Pemuda &
    Pembukaan Departemen Bahasa Indonesia LAPSA

    Waktu
    Jumat, 5 November 2010

    Tempat
    Gedung Nyi Ageng Serang Lt. 3
    Fakultas Pertanian, Kampus Condongcatur
    UPN “Veteran” Yogyakarta

    Pembicara
    Prof. Ariel Heryanto (Ketua Kajian Asia Tengara, ANU, Australia)
    Drs. Tirto Suwondo, M.Hum (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta)
    Ir. Yusuf Iskandar (Konsultan, Wirausahawan, Blogger)

    Kontribusi Peserta
    Umum : Rp. 50.000
    Dosen/Guru : Rp. 40.000
    Mahasiswa non UPN : Rp. 30.000
    Mhs UPN/Siswa SMU : Rp. 20.000

    Sekretariat Panitia:

    LAPSA – Gd. A.Yani Lt. 2 Kampus II UPN “Veteran” Yogyakarta, Jl. Babarsari 2, Yk.

    Call/SMS : 0274 9127260 e-mail: lapsa@upnyk.ac.id website: pusbasa@upnyk.ac.id

  11. makasih buat bahasannya, sangat membantu bagi pekerja penerbitan

    Rina

Add your comment now