Saya cukup sering menerima email yang menanyakan cara merintis karier sebagai penerjemah lepas (freelance translator), jadi saya pikir-pikir, mungkin ada manfaatnya kalau saran yang saya berikan kepada mereka ditayangkan juga di sini. Mohon dicatat, penjelasan di bawah ini hanya berlaku untuk penerjemah lepas bagi penerbit, alias penerjemah buku. Untuk penerjemah jenis lain, silakan lihat paragraf terakhir.

Nah, langkah pertama untuk menjadi penerjemah buku adalah mengirim lamaran ke berbagai penerbit, yang terdiri atas surat lamaran, CV, dan contoh terjemahan (disertai fotokopi naskah asli yang diterjemahkan). Lamaran bisa ditulis dalam Bahasa Indonesia saja, meskipun tidak dilarang juga kalau mau pakai bahasa sumber. Tidak masalah. Sebaiknya kita memilih penerbit yang menerbitkan buku-buku yang kita minati. Jangan melamar ke penerbit buku bisnis kalau kita tertarik menerjemahkan novel, misalnya.

Dalam surat lamaran, kita menyatakan keinginan untuk bekerja sama dengan penerbit sebagai penerjemah lepas. Sebagaimana surat lamaran lainnya, sebaiknya di sini kita menceritakan hal-hal yang menunjukkan bahwa kita memang mampu menerjemahkan (pengalaman menerjemahkan, pengalaman menulis, nilai TOEFL, kuliah sastra, kursus bahasa, pernah tinggal di luar negeri, pokoknya apa pun yang bisa menunjukkan kemampuan kita).

Sebagai tambahan, kita bisa juga menyebutkan minat dan kelebihan kita sebagai penerjemah. Kemampuan berbahasa asing lebih dari satu tentunya adalah nilai plus. Kita juga sebaiknya menyebutkan jenis buku apa yang kita minati dan bidang apa saja yang kita kuasai, bahkan hobi yang kita dalami. Dengan demikian, penerbit akan memilihkan buku yang sesuai dengan kemampuan kita.

Contoh terjemahan yang disertakan seyogyanya mencerminkan bidang yang kita minati. Pilih buku yang akan menonjolkan kemampuan terjemahan kita. Contoh terjemahan ini tidak perlu banyak-banyak, 5-10 halaman terjemahan juga cukup (A4, Times New Roman 12 pt, 2 spasi). Kalau kagok, ya boleh juga diteruskan sampai 1 bab. Tapi sebenarnya dari 5-10 halaman pun, kualitas seorang penerjemah sudah dapat dinilai.

Buatlah contoh terjemahan sebaik-baiknya sebab, meskipun surat lamaran dan CV bisa memberi gambaran umum tentang potensi kita, tetap saja bukti kemampuan itu terletak pada hasil terjemahan. Keterampilan kita inilah yang dibutuhkan penerbit, bukan gelar atau nilai TOEFL. Kalau sudah pernah ke luar negeri, tetapi hasil terjemahan belepotan, ya tetap saja kita tidak akan diterima sebagai penerjemah lepas. Sebaliknya, meskipun belajar bahasa secara otodidak, misalnya, asalkan hasil terjemahannya bagus, tentunya penerbit akan dengan senang hati memberikan order kepada kita.

Satu hal yang perlu diingat, biasanya penerbit sudah memiliki jaringan penerjemahnya masing-masing, terutama penerbit besar. Kalau mereka punya naskah baru, tentunya mereka akan mengorderkan naskah tersebut kepada jaringan mereka. Kalau mereka memiliki surplus naskah, barulah mereka mencoba para penerjemah baru. Jadi ya mungkin kita harus menunggu cukup lama juga untuk mendapatkan order terjemahan.

Untuk mengatasi hal ini, ada juga kiat lain. Kita bisa saja menawarkan buku kepada penerbit. Barangkali ada buku milik kita yang menurut kita bagus dan layak diterjemahkan, atau kita cari sendiri ke Internet. Nah, contoh terjemahan yang disertakan bisa diambil sekalian dari buku ini. Selain itu, kita juga harus menyertakan evaluasi kita terhadap buku tersebut, yang menguraikan mengapa buku ini layak diterjemahkan, apa saja keunggulannya, keunikannya, mengapa buku ini penting bagi pembaca di Indonesia. Nah, kalau si penerbit tertarik, dia yang akan menguruskan copyrightnya, dan kalau urusan itu beres, secara etika, dia akan mengorderkan terjemahannya kepada kita (tentu saja kalau kualitas terjemahan kita dianggap layak).

Kiat lain adalah, aktif di milis penerbit. Sekarang banyak penerbit yang memiliki milis sendiri untuk berinteraksi dengan pembaca. Gramedia, Qanita, Bentang, Serambi. Kalau kita kebetulan sering membaca buku mereka, tak ada salahnya kita aktif mendiskusikan buku itu di milis mereka, agar nama kita dikenal. Lebih top lagi kalau bisa akrab dengan para editor yang aktif di sana. Untuk penerbit besar yang menerima banyak sekali lamaran penerjemah, menerima lamaran dari nama yang sudah dikenal tentunya berbeda. Kita juga bisa aktif di milis perbukuan.

Berikutnya, memantau lowongan di milis Bahtera. Biasanya lowongan di milis ini lebih ke penerjemahan dokumen, tapi rasanya ada juga satu-dua kali penerbit yang mencari penerjemah di sana.

Selain itu, kalau belum berhasil menembus penerbit, bisa juga melihat peluang karier lain di bidang perbukuan. Bekerja di penerbit sebagai editor, menjadi wartawan di majalah atau surat kabar. Dengan networking seperti ini (atau di dunia maya lewat milis), kita lebih lebar membuka pintu peluang mendapat pekerjaan penerjemahan.

Catatan ringan Femmy Syahrani, disampaikan dalam Semiloka Nasional Penerjemahan Buku dan Novel serta Penyuntingannya, Malang 19 Juli 2009.

Trackback

12 comments untill now

  1. Wah, trimakasih atas infonya pak. Sangat bermanfaat sekali.

  2. Pucuk dicinta ulam tiba, apa yang dipaparkan diatas persis seperti apa yg saya inginkan. Malah saya sedang googling mencari-cari info seperti ini. Terimakasih.

  3. Terima kasih banyak atas ilmunya, sangat bermanfaat. Semoga mendapat balasan yang lebih baik :-)

  4. Terima kasih atas informasi yang diberikan. Bermanfaat sekali untuk pihak-pihak yang memiliki cita-cita menjadi penerjemah lepas, khususnya untuk buku.

  5. wah, thank you for the tips… :) a very useful information

  6. iya ya.. selama ini tidak pernah terpikir untuk melakukan itu, promosi diri…

  7. hersandika @ 2010-08-05 21:19

    thanx atas infonya.. tapi ,saya mau tanya, apakah untuk memulainya kita perlu surat ? seperti surat lamarannya? kalau iya, bisa bantu kirim contohnya gak? soalnya, saya sudah cari,dimana-mana gak ada tuh.. cuma teknik menulisnya aja.. thanx lagi.. :)

  8. Maaf, kalau saya sendiri tidak bisa membantu, soalnya belum pernah membuat surat lamaran resmi seperti itu. Karena saya pernah bekerja di dunia penerbitan dan banyak kenalan editor, biasanya lamarannya lewat email secara tidak resmi.

    Tapi nggak susah kok bikin surat seperti itu. Tinggal mengikuti petunjuknya aja. Selamat mencoba, ya.

  9. Riana Irawati @ 2010-08-20 10:16

    Saya baru sekitar dua tahun belajar jadi penerjemah, jadi masih dalam masa penjajagan menggali spesialisasi penerjemahan macam apa yang kelak akan saya tekuni hingga akhir hayat :P; apakah itu penerjemahan pragmatik, sastra, ataukah hukum. Biasanya naskah terjemahan yang saya terima hanya berupa dokumen-dokumen pendek, artikel, dan jurnal sosial budaya. Ini pengalaman pertama saya melamar menjadi penerjemah novel. Jadi, saya ingin mengulik info dari penerjemah yang lebih pro spt bapak. Kemarin saya diminta untuk mengirimkan CV dan contoh terjemahan (naskah asli terdiri dari 4 halaman dan dipilihkan oleh penerbit). Deadline yang diberikan oleh penerbit adalah tanggal 25 Agustus 2010 namun karena saya punya banyak waktu luang jadi pekerjaan tsb telah mampu saya selesaikan tiga hari yang lalu… Saya tunggu-tunggu respon dari penerbit tapi kok belum datang-datang juga ya (berharap.com) ­čśŤ Apa memang respon hanya akan diberikan setelah deadline ataukah terjemahan saya belum memenuhi kualifikasi ya sehingga respon itu tak jua saya dapatkan?… Terimakasih.

  10. Sebaiknya langsung ditanyakan ke penerbitnya saja, Pak. Ada saja kemungkinan bahwa penerbit itu menguji beberapa penerjemah sekaligus dan baru memberi tanggapan setelah mengevaluasi semua hasil tes, tapi itu hanya tebak-tebakan saja. Daripada tebak-tebakan, mending langsung tanya mereka saja.

  11. Riana Irawati @ 2010-08-20 10:21

    OK thx ya Mbak Femmy :))

Add your comment now