Beberapa waktu lalu saya menerima telepon dari seseorang yang memerlukan jasa terjemahan penerjemah bersumpah (sworn translator). Penelepon itu meminta agar hasil terjemahan yang akan saya kerjakan itu dicap stempel penerjemah bersumpah, meskipun dokumen tersebut hanya kumpulan resep makanan. Saya kemudian bertanya kepadanya mengapa dokumen itu harus diterjemahkan oleh penerjemah bersumpah. Dia menjawab bahwa hal itu diperlukan untuk memastikan hasil terjemahannya akurat.

Kejadian di atas hanyalah salah satu dari banyak kejadian seputar mispersepsi mengenai penerjemah bersumpah di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul mengenai penerjemah bersumpah di tengah masyarakat.

Read the rest of this entry

Dari tanggal 24 Agustus hingga 29 Agustus 2009, Bahtera menyelenggarakan Lomba Terjemahan Puisi “Di Atas Kertas” karya Eva Y. Nukman. Ada 23 karya terjemahan puisi yang masuk: 18 bahasa Inggris, 2 bahasa Jerman, 1 bahasa Perancis, 1 bahasa Belanda, dan 1 bahasa Jepang. Para Bahterawan dipersilakan untuk memilih puisi favoritnya di antara karya-karya yang telah masuk di bawah ini.

Read the rest of this entry

Jadi penerjemah itu gampang”, “Kalau bisa bicara dua bahasa, pasti bisa menerjemahkan”, “Tidak perlu ilmu untuk menerjemahkan”, “Penerjemahan itu cuma sampingan”… ucapan-ucapan ini pasti sudah sering sekali kita dengar. Tak perlu lagi saya jelaskan bahwa anggapan ini tidak benar, dan kita terus-menerus bergelut dengan anggapan seperti ini sepanjang profesi kita, karena berdasarkan anggapan yang salah dan kurangnya penghargaan atas pekerjaan kita, tarif penerjemahan pun ditekan serendah mungkin oleh penerima jasa atau klien. Akibatnya, para penerjemah yang memilih profesi ini sebagai pekerjaan utama mereka seringnya terpaksa menerima penerjemahan jenis apa saja, bekerja secara serabutan demi mendapat gaji yang layak setiap bulannya. Kondisi seperti ini tentunya mempengaruhi kualitas terjemahan itu sendiri.

Di negara-negara maju, Prancis khususnya, penerjemah adalah profesi yang terhormat dan dihargai masyarakat dan pemerintah, bahkan disetarakan dengan pengacara, dokter, notaris, maupun ahli bedah, dalam status “profession libérale”. Sampai saat ini, hak-hak dan kondisi kerja penerjemah secara permanen selalu diperjuangkan dan ditingkatkan oleh himpunan-himpunan atau asosiasi-asosiasi penerjemah seperti SFT (Société Française des Traducteurs), ATLF (Association des Traducteurs Litteraires de France), ATAA (Association des Traducteurs/Adaptateurs Audiovisuels), dan sebagainya. Kondisi ini secara otomatis memicu rasa kesadaran profesionalisme dan kualitas kerja para penerjemah.

Berikut ini pemaparan singkat tentang situasi penerjemah di Prancis. Tarif-tarif yang dikemukakan dalam makalah ini diperoleh dari berbagai seminar penerjemahan yang saya hadiri selama beberapa tahun terakhir ini.

Read the rest of this entry

,

Ing kalangan para penerjemah wis suwe ana pasemon mitos sing kira-kira ngene unine: “Jarwan (terjemahan) sing becik lan ideal iku jarwan sing setya lan endah nyengsemake”. Banjur ana sing ngumpamaake mitos iku karo sipate pacar: “Sipate jarwan iku kaya dene pacar, pacar sing ayu rupane biasane ora setya, lan sing setya biasane ora ayu”. Sing dikarepake jarwan sing setya yaiku sing wujud (bentuk linguistik), isi (makna), lan ancase (tujuan) ora mlenceng seka tulisan asline. Dene jarwan sing endah nyengsemake iku sing basane becik, surasane apik, lan paramasastra sarta pandungkapane luwes lan layak (idiomatis).

Di kalangan para penerjemah sudah lama ada perumpamaan mitos yang kira-kira demikian bunyinya: “Terjemahan yang bagus dan ideal itu penerjemahan yang setia dan indah menarik hati.” Selanjutnya ada yang mengumpamakan mitos tersebut dengan sifat pacar: “Sifat terjemahan itu dapat diumpamakan pacar; pacar yang cantik wajahnya biasanya tidak setia, dan yang setia biasanya tidak cantik.” Yang dimaksud terjemahan yang setia adalah terjemahan yang wujud (bentuk linguistik), isi (makna) dan tujuannya tidak mlenceng dari tulisan aslinya. Sedangkan terjemahan yang indah menarik hati itu bahasanya indah, bunyinya bagus, dan nilai sastra serta pengungkapannya luwes dan idiomatis.

Read the rest of this entry

Kita cenderung takut mencipta kata. Akibatnya, istilah asing terus membanjiri bahasa Indonesia, dan KBBI pun semakin tebal dengan kata serapan. Sebagian orang menerimanya dengan lapang dada dan mengatakan bahwa hal ini tak dapat dihindari dalam era globalisasi dan keterbukaan. Sebagian lagi memprihatinkannya karena ini menunjukkan kita mau mudahnya saja dan enggan menggali kekayaan kosakata kita sendiri. Padahal, orang bijak mengatakan: “Bahasa menunjukkan bangsa“.

Read the rest of this entry

, , , , , , , , , ,

Pusat Penerjemahan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) menyampaikan acuan tarif penerjemahan (untuk penerjemahan tertulis dan lisan) sebagai berikut:

Read the rest of this entry

…Dort, wo man Bücher Verbrennt, verbrennt man auch am Ende Menschen.
…manakala mereka sudah membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia
Heinrich Heine (1797-1856)

Bahasa tidak hanya menyangkut ejaan dan tata kalimat. Selain rambu-rambu kebahasaan, pengguna bahasa juga mesti peduli pada logika. Pernah dalam sebuah majalah saya menemukan kalimat: ”. . . , ujar Thierry Powis saat melenggang bersama kapalnya (kapal pesiar—EE) . . . .” Rupanya si Powis ini mirip Nabi Isa yang, berkat mukjizat, dapat berjalan di atas air memarani perahu murid-murid-Nya yang dipermainkan angin sakal. Belum habis heran saya, di halaman lain mata saya menumbuk kalimat: ”Dengan cuek ia terus bicara dengan telepon selulernya.” Sedang terganggukah ingatannya?

Read the rest of this entry

Saya cukup sering menerima email yang menanyakan cara merintis karier sebagai penerjemah lepas (freelance translator), jadi saya pikir-pikir, mungkin ada manfaatnya kalau saran yang saya berikan kepada mereka ditayangkan juga di sini. Mohon dicatat, penjelasan di bawah ini hanya berlaku untuk penerjemah lepas bagi penerbit, alias penerjemah buku. Untuk penerjemah jenis lain, silakan lihat paragraf terakhir.

Read the rest of this entry

UKP adalah ujian yang diselenggarakan oleh Pusat Penerjemahan FIB UI di kampus UI Depok dan terbagi atas dua bagian, yaitu: 1) UKP Teks Umum (untuk mendapatkan Sertifikat UI), serta 2) UKP Teks Hukum (untuk mendapatkan Sertifikat Penerjemah Bersumpah dan dilaksanakan atas kerja sama dengan Pemprov DKI). Saya ingin berbagi pengalaman mengikuti Ujian Kualifikasi Penerjemah dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman sekalian.

Read the rest of this entry

, ,

Dalam sebuah novel, kadang-kadang kita menemukan nursery rhymes, atau puisi-puisi yang disisipkan pengarang agar karangannya menjadi lebih hidup. Meskipun hanya tempelan, tentu saja lagu-lagu dan puisi tersebut tetap harus kita terjemahkan, karena merupakan bagian tak terpisahkan dari novel tersebut.

Read the rest of this entry