Sebagai penerjemah, bagaimana Anda menerjemahkan kalimat berikut ini? “Borneo Island is shared by three countries …” Apakah Anda akan tetap menuliskan “Borneo” atau menggantinya menjadi “Kalimantan”? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin berbeda jika Anda seorang Indonesia atau bukan, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain. Namun, apakah kewarganegaraan seseorang dibenarkan mempengaruhi hasil terjemahan?

Pertanyaan demikian muncul dalam pertemuan para penerjemah dari seluruh dunia di Melbourne pada Februari 1996. Rosemary Glaser dari Leipzig University mengupas penerjemahan nama diri dan nama jenis ini. Pokok bahasannya yang tampak “sepele” dibandingkan dengan makalah lain yang mengupas mesin penerjemah, Internet, CD-ROM, maupun berbagai pangkalan data, ternyata berhasil mengundang banyak peminat. Acara tanya jawab berubah menjadi ajang diskusi yang menarik karena setiap peserta tampaknya pernah menghadapi masalah serupa.

The Shy Di

Pada tahun 1981, sebuah nama tiba-tiba mencuat di Inggris, dan terus menjadi berita di seluruh dunia sampai sekarang, juga setelah tuntasnya proses perceraian sang empunya nama. Lady Di memang wanita yang paling sering ditulis media massa, melebihi artis Hollywood macam Sharon Stone ataupun politikus hebat macam Margaret Thatcher. Di Indonesia, terjemahan namanya yang paling sering digunakan adalah “Putri Diana”. Sementara itu, julukan “The Shy Di” yang terasa manis berirama, sulit diterjemahkan — bagaimana kalau “Diana si Pemalu”? Kepuitisan sajak ai-ai sama sekali tidak tercermin dalam terjemahan itu.

Selain “The Shy Di”, nama para tokoh dunia pun ternyata sering diterjemahkan, dan terjemahannya berlain-lainan menurut kebiasaan setempat. Nama “Pope John Paul” tidak dikenal masyarakat Indonesia karena “diterjemahkan” menjadi “Paus Johanes Paulus”. Nama raja Inggris seperti “Henry”, “Charles”, “James”, dan “George” di-indonesia-Kan tanpa berubah, padahal orang Jerman menyebut mereka “Heinrich”, “Karl”, “Jakob”, dan “Georg”. Mengapa nama paus kita ubah, sementara nama raja tidak?

Menteri vs Sekretaris

Nama jabatan merupakan salah satu yang sulit diterjemahkan. Tidak selalu mudah mencarikan padanan yang tepat untuk “executive officer”, “general manager”, “managing director”, “superintendent”, dan juga “commissioning editor”. Penerjemah yang belum banyak makan asam-garam mungkin menerjemahkan “Secretary of State” sebagai “Sekretaris Negara”, apalagi karena jabatan yang terakhir ini ada di Indonesia; padahal di Amerika Serikat, ini adalah jabatan yang di negara kita disebut “Menteri Luar Negeri”. Saya sendiri pernah salah menerjemahkan “Speaker of the House” menjadi “Juru Bicara Parlemen”, padahal lebih tepat” Ketua Parlemen”, karena “speaker” di situ berarti pejabat yang mengepalai suatu lembaga.

Nama gelar di perguruan tinggi juga menimbulkan debat – diterjemahkan atau tidak. Bagaimana menerjemahkan “Associate Professor”, “Assistant Professor”, “Adjunct Professor”, “Professional Fellow”, “Senior Principal Scientific Officer”, dan aneka nama gelar lainnya? Nama jabatan ini sering muncul mengiringi nama pengarang buku ajar dan cukup memusingkan para penerjemah.

Kalimantan atau Borneo?

Jika penerjemahnya orang Indonesia, besar kemungkinan “Borneo” diterjemahkan menjadi “Kalimantan”, apalagi jika terjemahan itu diperuntukkan bagi pembaca Indonesia. Tetapi, apakah ini tidak mengubah pesan si penulis naskah aslinya? Pertanyaan sejenis muncul dari seorang Argentina yang mempermasalahkan nama “Malvinas” yang di Inggris disebut “Falkland”. Orang Inggris mempertahankan pendapatnya bahwa “Falkland”-lah yang harus digunakan karena nama itu “lebih mendunia”. Namun, sekiranya dia berada di lingkungan negara-negara nonblok, pendapatnya itu besar kemungkinan ditertawakan. Tampaknya, hal ini paling baik diselesaikan melalui kompromi dengan pengarang aslinya, karena bagaimana pun, seorang penerjemah “hanya” bertugas mengalihkan pesan yang ditulis si pengarang asli; pandangan politiknya seharusnya tidak ikut ambil bagian.

Penerjemahan nama kota dan negara tidak kalah rumitnya. Bagaimana menuliskan nama negara Corry Aquino? “Filipina”, “Philippina”, atau “Pilipina”? Kalau kita mengacu kepada bahasa Inggris, pilihannya “Philippina”, atau “Filipina” jika menganut EYD; tetapi, bila kita mengutamakan negara yang punya nama, pilihannya “Pilipina” karena begitulah nama negara itu dituliskan dalam bahasa Tagalog. Bagaimana pula kita menuliskan nama ibukota negara “Meksiko “– ” “dibiarkan Inggrisnya,” Mexico City”, atau diterjemahkan menjadi “Kota Meksiko”? (Perhatikan penyesuaian huruf “x” dan “c” menjadi “ks” dan “k”). Jika “Kota Meksiko” yang dipilih, bagaimana nasib “New Delhi” dan “New York”?

Ketika menerjemahkan sebuah tulisan mengenai “Departemen Pertanian Inggris”, pemberi kerja mempertanyakan mengapa nama negaranya, “United Kingdom”, diterjemahkan menjadi “Inggris”. Dia bertanya, bukankah “Inggris” adalah terjemahan “England”? Terpaksalah dijelaskan bahwa negaranya itu disebut “Inggris” di Indonesia, sementara nama negara bagian (?) “England” jarang dijumpai; dan sekiranya pun dijumpai, mungkin tetap dibiarkan “England”. Atau “Englandia”? Bukankah “Scotland” kita padankan dengan “Skotlandia” dan “Ireland” menjadi “Irlandia”? Saya jelaskan bahwa sangatlah tidak lazim memadankan nama negaranya itu dengan “Inggris Raya” (terjemahan “Great Britain”) atau “Kerajaan Inggris” (terjemahan “United Kingdom”). Apalagi dalam bahan yang diterjemahkan itu ada “UK ducks”; apakah harus diterjemahkan menjadi “bebek Kerajaan Inggris?” Jangan-jangan dikira bebek peliharaan Ratu Elizabeth di Istana Buckingham! Akhirnya, si pemberi kerja setuju UK diterjemahkan menjadi “Inggris” karena memang terjemahan itu ditujukan untuk orang Indonesia.

PBB atau UN?

Nama lembaga juga sering menjadi masalah, terutama nama lembaga terkenal di dunia. Kita sudah terbiasa menuliskan singkatan “PBB” untuk “Perserikatan Bangsa-Bangsa”, tetapi tetap menggunakan “WHO, FAO, ILO, Unesco”, dsb. untuk nama beberapa lembaga di bawah naungannya. Mengapa? Selanjutnya, ada yang menerjemahkan “Club of Rome” menjadi “Klub Roma”. Jadi, apakah “l’Academie Francaise” akan diterjemahkan menjadi “Akademi Prancis”, padahal kata “akademi” menyandang makna tertentu dalam khazanah bahasa Indonesia, yang tidak sesuai dengan makna yang dikandung “l’Academie Francaise”?

Selain nama jabatan yang telah dikemukakan di atas, nama universitas pun menjadi persoalan dalam penerjemahan buku perguruan tinggi karena sering muncul sebagai identitas tambahan si pengarang. Bagaimana nama lembaga harus ditangani? Yang paling aman adalah membiarkan nama itu seperti aslinya; kita tidak perlu bingung memilih antara “Sekolah Tinggi Kedokteran” atau “Fakultas Kedokteran” untuk menerjemahkan “School of Medicine”. Apalagi kalau nama negara bagian menjadi bagian dari nama universitas, misalnya “North Carolina State University”, yang berbeda dengan “University of North Carolina”. Selanjutnya, bagaimana pula menerjemahkan “Trinity College” di Cambridge, Inggris? Apakah menjadi “Kolese Trinitas”? Terdengar sangat janggal bukan? Sama janggalnya jika singkatan “ITB” yang sudah begitu terkenal di Indonesia diubah menjadi “BIT” (“Bandung Institute of Technology”), atau “MIT” (” Massachusetts” “Institute of Technology”) menjadi “Institut Teknologi Massachusetts” dan disingkat “ITM”. Jangan-jangan malah keliru dengan ITM di Malaysia, milik “Institut Teknologi Mara”.

Pancasila

Penerjemahan nama dokumen juga bisa dipermasalahkan. Setahu saya, nama “Pancasila” tidak pernah diterjemahkan menjadi “Five Principles” saja, tetapi biasanya ditulis cukup panjang menjadi “the five principles of Pancasila”. Tetapi, mengapa” Piagam Jakarta” diterjemahkan menjadi “Jakarta Charter”? Belakangan ini kita cenderung semakin jarang mengindonesiakan nama dokumen; kita semakin terbiasa menggunakan singkatan seperti “GATT “dan” NAFTA”, kependekan dari “General Agreement on Tariffs and Trade” dan “North American Free Trade Agreement”. Tampaknya era globalisasi sudah merasuk begitu dalam sehingga tidak lagi dipandang praktis meng-Indonesia-kan semua dokumen, apalagi yang bersifat internasional.

Balsam Peruvian

Ketika masih mahasiswa di Jurusan Farmasi ITB, saya belajar tentang “balsam Peruvian”. Sebagai mahasiswa yang belum banyak tahu, saya mengira memang begitulah nama bahan farmasi tersebut. Setelah pengetahuan saya meluas, barulah saya tahu bahwa yang dimaksud adalah “balsam Peru”. Kaidah bahasa Inggris memang menyebabkan nama “Peru” berubah menjadi “Peruvian” jika nama itu berfungsi sebagai kata sifat. Sama seperti “Indonesian language” sebagai padanan “bahasa Indonesia”. Bahkan para penerbit mancanegara sering mengira nama bahasa kita adalah “Bahasa”! Saya sering menerima surat izin penerjemahan ke dalam Bahasa, padahal maksudnya tentulah ke dalam bahasa Indonesia!

Bagaimana pula dengan nama ilmuwan yang dikaitkan dengan kaidah, hukum, atau aturan? Ada penerjemah yang menuliskan “Hukum Newtonian”, padahal nama ilmuwan penemu hukum tersebut adalah “Newton”. Dalam buku matematika berbahasa Indonesia ditemukan “koordinat Cartesius, koordinat Cartesian”, dan “koordinat Cartesis”, padahal ketiganya sama. Ada yang mengusulkan agar koordinat itu dinamakan “koordinat Descartes” saja, sesuai dengan nama penemunya yang orang Prancis. Tetapi, usul tersebut tidak pernah bersambut. Ini semua menunjukkan bahwa penerjemahan nama diri memang harus ditangani dengan lebih baik sehingga kesimpangsiuran bisa dicegah, atau sekurang-kurangnya dibatasi.

Penutup

Penerjemahan nama diri ternyata tidak sesederhana seperti yang diduga orang. Setiap negara sepatutnya menentukan aturan yang dapat dijadikan pegangan oleh para penerjemah. Akankah kita “mengekor” saja nama Inggris seperti WHO, ILO, dan Unesco, ataukah semua itu akan kita ganti, seperti singkatan PBB yang kita gunakan sebagai padanan UN? Nama negara dan nama kota pun perlu dicarikan aturannya sehingga tidak timbul pertanyaan mengapa ada “Selandia Baru” di samping “New York” dan “New Delhi”; mengapa ada “Universitas Wina” di samping “Trinity College”; mengapa ada “Laut Merah” dan “Laut Mati” di samping “Pegunungan Rocky”, dan seterusnya ….

Tulisan ini diilhami makalah Rosemary Glaser, Leipzig University, yang disampaikan pada Kongres ke-14 FIT, Melbourne, 12-16 Februari 1996

Trackback

4 comments untill now

  1. terjemahan memang lebih mengarah ke seni daripada ke ilmu yang eksak, ya…

  2. Sederhana memang kompleks. Trims NiFi.

  3. Persis dengan yang tengah saya hadapi, Bu. Saya baru tahu bahwa Ecosse itu Skotlandia..oh la la..

  4. […] gratis, tidak semua penggiat Internet telah menggunakan Gravatar. Ini terlihat antara lain di Blog Bahtera seperti contoh […]

Add your comment now