Sebagai penerjemah, bagaimana Anda menerjemahkan kalimat berikut ini? “Borneo Island is shared by three countries …” Apakah Anda akan tetap menuliskan “Borneo” atau menggantinya menjadi “Kalimantan”? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin berbeda jika Anda seorang Indonesia atau bukan, menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa lain. Namun, apakah kewarganegaraan seseorang dibenarkan mempengaruhi hasil terjemahan?

Pertanyaan demikian muncul dalam pertemuan para penerjemah dari seluruh dunia di Melbourne pada Februari 1996. Rosemary Glaser dari Leipzig University mengupas penerjemahan nama diri dan nama jenis ini. Pokok bahasannya yang tampak “sepele” dibandingkan dengan makalah lain yang mengupas mesin penerjemah, Internet, CD-ROM, maupun berbagai pangkalan data, ternyata berhasil mengundang banyak peminat. Acara tanya jawab berubah menjadi ajang diskusi yang menarik karena setiap peserta tampaknya pernah menghadapi masalah serupa.

Read the rest of this entry

Di atas kertas,

waktu 24 jam cukup untuk menjadi penerjemah dan penyunting buku yang baik,

menjadi ibu yang baik, menjadi istri yang baik:

menyunting di kala segar di pagi hari,

menerjemahkan novel yang menarik di siang hari saat kantuk mulai menyerang,

menerjemahkan materi sains yang membuat kening berkerut di malam saat hening.

Read the rest of this entry

Bahtera-Tersesat-Membawa-NikmatJika Anda bukan anggota milis Bahtera, perlu kami sampaikan bahwa semua tulisan di dalam buku Alih Bahasa: Tersesat Membawa Nikmat ini ditulis oleh para Bahterawan, sebutan “resmi” anggota milis Bahtera. Bahtera (BAHasa dan TERjemahan indonesiA) sendiri adalah milis untuk para penerjemah Indonesia yang didirikan pada 3 Juli 1997 oleh Bashir Basalamah, Wiwit Margawiati, dan Sofia Mansoor. Saat ini Bahtera beranggotakan sekitar 2000 orang yang berasal dari sejumlah kota besar dan kecil di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Selain itu, ada juga anggota yang berdomisili di Eropa (Prancis, Inggris, Jerman, Belanda, Italia), Asia (Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Cina), Afrika (Mesir), Amerika Serikat, dan Australia. Buku ini diterbitkan untuk menyambut ulang tahun ke-12 Bahtera pada tahun 2009.

Gagasan untuk menerbitkan buku ini muncul dari obrolan kami berdua ketika berbincang-bincang di bandara Adi Sucipto, saat akan pulang ke Jakarta setelah menghadiri acara Bahtera Goes to Yogyapada April 2009. Kami mengobrolkan salah satu utas diskusi di milis Bahtera, yang mencuatkan kesan bahwa profesi penerjemah dan jurubahasa belum sepopuler profesi lain seperti penulis, misalnya. Maka, kami pun meneguhkan niat untuk menerbitkan buku yang berkisah tentang dunia penerjemahan, merekam kebersamaan anggota milis Bahtera, menggambarkan berbagai sosok pelaku profesi penerjemah dan jurubahasa, serta sisi kehidupan mereka, baik sisi profesi maupun pribadi. Dan, siapa lagi orang-orang terdekat kami yang bisa menuliskan kisah itu kalau bukan anggota milis Bahtera sendiri?

Read the rest of this entry