Sifi difiafa mafasifih afadafa difi safanafa?

Hush, jafangafan difilifihafat sefekafarafang!

Nafantifi difiafa tafahufu!

Anda mungkin kebingungan membaca kalimat di atas.

Tetapi, tanyakanlah kepada mereka yang berusia remaja pada tahun 1960-an, mereka pasti tahu arti kalimat aneh itu. Ya, hilangkan saja semua fa, fi, dan fe, maka kalimat itu berbunyi: “Dia masih ada di sana? Hush, jangan dilihat sekarang! Nanti dia tahu!”

Pada kurun waktu yang sama, kata seperti “asoi”, “ajojing”, dan “gengsot” sangat populer di kalangan remaja. Tetapi, ke mana sekarang kata-kata itu? Hampir tidak pernah terdengar lagi, bukan? Nah, kata yang populer di tahun 1990-an pun, seperti “ngelaba”, “nyokap”, dan “doski”, besar kemungkinan akan lenyap pula pada satu generasi yang akan datang.

Asal-usul kata

Kita mungkin tidak pernah memikirkan asal-usul kata; kita hanya tahu memakainya saja dan mengira bahwa kata akan ada selamanya. Padahal, kata mempunyai umur tertentu, ada yang umurnya panjang dan ada yang pendek seperti contoh di atas. Ada saat kata dilahirkan, hidup subur, dan kemudian mati.

Alasan kelahirannya bermacam-macam. Misalnya, ada kata-baru yang dilahirkan karena kata-lama yang bermakna sama dirasakan kurang santun. Misalnya, kata “miskin” dan “kelaparan” kini disaingi kata “prasejahtera” dan “kurang gizi”. Kata “bekas” dan “pecat” berangsur-angsur tersisih oleh kata “mantan” dan “di-PHK”. Tetapi, kata-baru bisa juga lahir akibat kemajuan teknologi, misalnya kata “robot” dan “komputer”. Sementara itu, kata “canggih” dan “pangsa” dihidupkan kembali dan diperluas maknanya karena kita memerlukan padanan kata Inggris sophisticated dan share.

Sumbernya kamus

Riwayat kata dapat kita jumpai, antara lain, di dalam kamus. Kamus Webster”s New Collegiate Dictionary, misalnya, banyak memuat riwayat kata. Ambillah sebagai contoh, kata teddy bear, yaitu nama mainan anak yang berbentuk boneka beruang. Menurut Webster’s, kata ini berasal dari nama Presiden Amerika Serikat ke-26, Theodore Roosevelt, yang nama kecilnya Teddy. Beliau digambarkan dalam bentuk kartun setelah menyelamatkan seekor anak beruang ketika sedang berburu. Boneka beruang bersematkan lencana Roosevelt digunakan dalam kampanye pemilihan presiden tahun 1904.

Contoh lain, tahukah Anda bahwa kata Melayu “kampung” adalah nenek-moyang kata Inggris compound? Salah satu artinya adalah “sebuah wilayah yang dipagari, dan di dalam wilayah tersebut biasanya terdapat sekelompok bangunan yang membentuk daerah perumahan”. Nah, bukankah kata “kampung” mengungkapkan dengan tepat konsep tersebut?

Bagaimana pula dengan kata go down? Salah satu artinya adalah “tempat penyimpanan barang di negeri Timur”. Ingatkah Anda akan kata Indonesia “gudang”? Ternyata arti kata go down berasal dari kata tersebut! Memang bunyinya mirip, bukan?

Word Origins

Di samping kamus umum macam Webster”s yang banyak bercerita tentang kata, ada kamus atau buku yang khusus menyajikan sejarah kata. Salah satu di antaranya adalah buku berjudul Word Origins: An Exploration and History of Words and Language, karangan Wilfred Funk, terbitan Wing Books. Di dalam buku ini berbagai kata dikisahkan riwayatnya, dan dikelompokkan menurut subjek yang kiranya menarik pembaca. Seluruhnya mencakup 22 bab, antara lain bab yang menguraikan kata yang berasal dari nama orang (OK, nicotine), yang berhubungan dengan bisnis (money, budget), politik (governor, senate), perang (grenade, colonel), olahraga (badminton, bowling), ilmu pengetahuan (academy, algebra), kebun (dahlia, tulip), aneka santapan (toast, sirloin), kaum wanita (lady, romance), musik dan teater (ode, slapstick), penerbitan (author, royalty), dan masih banyak lagi.

Untuk memudahkan pembaca mencari kata yang hendak dilacaknya, tersedia penjurus atau indeks di akhir buku. Ada sekitar 3000 kata dikisahkan riwayatnya dalam buku ini.

Italics

Sebagai ilustrasi, marilah kita simak asal-usul kata italics yang sudah sama-sama kita kenal dalam bidang penerbitan dan percetakan. Menurut Word Origins, kata italics berasal dari kata “Italians” (orang Itali). Dikisahkan bahwa Aldo Manuzio, pimpinan Aldine Press, sangat tertarik pada kebudayaan Yunani. Dialah pencipta huruf bergaya miring pada huruf Yunani, yang sampai sekarang masih digunakan.

Gaya huruf miring ini kemudian dianut Aldine Press pada tahun 1501 ketika menerbitkan sebuah buku yang dipersembahkan kepada Italia. Teks dalam buku itu semuanya menggunakan huruf miring, dan gaya ini kemudian dikenal sebagai italicus, yang berarti orang Italia atau bergaya Italia. Namun, penggunaaan huruf miring atau italics untuk menegaskan arti sebuah kata seperti yang sekarang sering kita gunakan dalam tulisan, baru dipergunakan pada pertengahan abad ke-16.

Nah, siapa bilang kamus hanya berguna kalau kita mencari makna kata yang sulit saja. Cobalah usut kisah di balik kata bless, pedagogue, sandwich, bahkan knowledge. Anda pasti terheran-heran dibuatnya!!

Trackback

14 comments untill now

  1. Setuju. Perlu sekali memang mengetahui etimologi (asal) suatu lema, terutama, IMHO, jika lema tersebut berasal dari bahasa asing. Bisa juga tuh kita usulkan untuk dimasukkan di KBBI Edisi V, Bu :)

  2. Selain ‘compound’ ada juga kata ‘amok’ yang berasal dari bahasa Melayu “amuk”. Selamat dan Sukses untuk Blog Bahtera! Maju terus!

  3. Fenty Yustini @ 2009-07-01 10:28

    Selamat atas terbentuknya blog Bahtera, bravo Ivan and Romi !Bravo bahtera! Semoga membawa manfaat buat semua. Amien.

  4. Sofia Mansoor @ 2009-07-01 10:54

    Iva, Ricky… buku Word Origins ini saya dapatkan sewaktu berkunjung ke Pameran Buku di Makuhari, Jepang, 1996… kebetulan sedang ada obral… dari situ, saya menulis beberapa artikel yang pernah dimuat di majalah Berita Buku (alm), dan juga dimuat di majalah Gamelan yang terbit di Sydney. Nanti, saya muat di sini deh yaaa… Mana Bahterawan lain? Mulai nulis donk!

  5. wah……setuju. asal usul kata sangat penting, jangan cuma bisa menggunakan tapi gak tahu asalnya dari mana. Artikelnya bagus! makasih ya….

  6. wah..artikelnya bagus, semakin membuka wawasan… sekedar berbagi informasi, barangkali ada yang berminat membuka:http://en.wikipedia.org/wiki/Lists_of_English_loanwords_by_country_or_language_of_origin

  7. Kalo kita, misalnya para bahterawan mau menciptakan suatu kata baru, kira-kira prosesnya bagaimana ya?

  8. Sofia Mansoor @ 2009-08-08 11:38

    halo Mas Eko,

    mungkin bisa dikaji dulu pengertian suatu konsep, lalu cari kata yang lazim dalam khazanah bahasa Indonesia. lalu, cari sinonim kata itu dalam tesaurus, nah comot kata yang ada dalam tesaurus itu.

    bisa juga menambahkan imbuhan (awalan/akhiran/sisipan) pada kata yang sudah ada, lalu tercipta kata “baru” yang belum banyak dikenal orang.

    misalnya, dalam lomba Bahtera yang terakhir, muncul beberapa kata baru berikut ini:

    menjarumi = memasang banyak jarumi
    menjarum = membentuk seperti jarum (pembentukan kristal)
    berjarum = mengandung jarum
    nirjarum = tanpa jarum
    nirkapas = tanpa kapas (kasur nirkapas)
    pengapas = pembuat kapas

    ayo, silakan berkreasi mengasah daya cipta :)

  9. Ibu, maaf OOT..gengsot itu artinya apa ya? Barangkali Ibu masih ingat. Itu ‘koleksi kata’ saya semasa SD:)

    Terima kasih, tulisannya sangat bermanfaat.

  10. Sofia Mansoor @ 2009-08-08 11:33

    dear Rini, gengsot itu artinya berdansa atau berjoget :)

  11. If cupid had a wish list of things to give out on Valentine’s Day, teddy bears would certainly be amongst the top five. There is so much to love about a bear and very little to hate. They

  12. Ada satu nama permainan yang cukup populer di kalangan anak-anak, “gobaksodor”. Ada yang tahu asal usul kata tersebut? Sewaktu saya masih kuliah dulu, dosen saya pernah mengulasnya namun sayangnya saya tidak bisa mengingatnya kembali.

  13. Sangat menarik membacanya, klien memang ibarat aset bagi bisnis kita dan mesti harus di servis sebaik mungkina

  14. Tulisan yang sangat bermanfaat. Sy semakin melek bahasa.

Add your comment now