Berikut daftar penulis dan judul tulisannya buku milis Bahtera terbaru Pesona Penyingkap Makna:
Pengantar Ketua Dewan Kehormatan HPI
Prakata
SEMAKIN BERNAS SEMAKIN BERDAYA
Indria Salim: Singa Mati
- Desak Nyoman Pusparini: Terima kasih Facebook!
- Dina Begum: Kuliah di HPI
- Hanny Wishnuardi: Kuliah Terjemahan di Paris
- R.A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo: Penerjemah versus Rendah Hati
- Ratri Kumudawati: N.A.A.T.I. Kunci Penerjemahan di Australia
- Sofia Mansoor: Dari Bankdraft hingga Transfer Antarbank
- Tanto Hendy Samidjan: Cara Efektif Mengelola Volume Order
- Rosmeilan Siagian: Ikut AJLET, yuk!
BUKU DAN PENERJEMAH
Indria Salim: Seiring Sejalan
- Desak Nyoman Pusparini: Berkomunikasi dengan Pengarang
- Dina Begum: Menerjemahkan Buku yang Sudah Diterjemahkan Siapa Takut?
- Maria Perdana: My Odyssey
- Rini Nurul Badariyah: Menulis vs Menerjemahkan
MAJU KENA MUNDUR KENA
Indra Blanquita Hurip: I, the Interpreter
- Dvi Shifa: Dan Aku pun Enggan Menjadi Selebriti
- Hanny Wishnuardi: Elle N’a Pas Confiance à Moi? C’est Ca?!
- Indah Nuritasari: Maaf, Saya Bukan Tukang Sulap!
- Indria Salim: Juru Bahasa Acara Lamaran Pernikahan
- Samsu Umar: Tantangan Juru Bahasa: Belajar Bahasa Inggris “Asing”
KIAT DAN SIASAT
Dina Begum: Puisi, Syair, dan Sebangsanya
- Femmy Syahrani, Rini Nurul, Sofia Mansoor: Catatan Penerjemahan
- Daisy Subakti: Mencapai Tingkat Penerjemah Profesional yang Diakui Berbagai Agensi
- Indra Listyo: Terjemahan Akurat dan Terbaca Wajar
- Wiyanto Suroso: Kiat Menjadi Penerjemah yang Beruntung
- Ikram Mahyuddin: Google, Mesin Pencari, Sahabat Penerjemah
- Indra Listyo: Pertimbangan Awal Penting Sebelum Melaksanakan Penjurubahasaan
- Istiani Prajoko: Saran untuk Penerjemah Pemula
- Ivan Lanin: Mencari Padanan Istilah
BUKAN SEKADAR BAHASA
Indria Salim: Kata
- Sofia Mansoor: Suka Duka Berbahasa Serumpun
- Katsujiro Ueno: Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Saya
- Nursalam AR: Indonglish
- Setyadi Setyapranata: Masalah Pengindonesiaan Istilah Teknis – “MD SMPG-Kasur Hidup”
- Niken Terate: Ignorance is A Bliss
- Sofia Mansoor: I am going today
SISI LAIN
Sugeng Hariyanto: Kerja
- Ade Indarta: Satu Hari dalam Kehidupan Penerjemah In-House
- Kurnia Amirullah: Sindrom Tourette dan Karya Terjemahanku
- Yulia Baso: Diversifikasi Karier
MANIS-MANIS PAHIT
Eva Y. Nukman: Deadline
- Betty Tiominar: Ternyata
- Nursalam AR: Kok Ngantor Lagi?
- Rahmad Ibrahim: Menerjemahkan – Antara Hobi dan Sesuatu yang Luar Biasa
- Slamet Hartadi: Malam-malam di Gunung Berbatu
- Sofia Barata: Translators are Failed Writers
- Sri Lestari: Meningkatkan Kualitas, Menaikkan Tarif
- Wiyanto Suroso: Menjalani Dua Profesi Sekaligus, atau Harus Memilih?
- Nursalam AR: Berawal dari Hinaan
TURUN GUNUNG
Sugeng Hariyanto: Jadilah Dirimu yang Terbaik
- Sofia Mansoor: TransCon Atma Jaya-dari Oxtail Soup sampai Pukuli Saya
- Suzan Piper: Pergaulan dengan Kawan dan Ide di Konferensi AUSIT 2012
- Dina Begum: Ketika Penerjemah, Editor, dan Penulis ‘Dikurung’ untuk Menerjemahkan Novel
HPI SELAYANG PANDANG
Indra Blanquita Hurip: Untukmu, HPI
- Anna Wiksmadhara: Sejarah HPI
- D. Rahadi Notowidigdo: Indonesian Directory of Translators and Interpreters
- Dina Begum: Temu HPI Komp@k Istimewa Memperingati Hari Jadi ke-39 HPI
- Maria E. Sundah: TSN Sebermula …

Pesona Penyingkap Makna
Penantian segenap anggota milis Bahtera akan segera berakhir. Setelah menerbitkan buku “Menatah Makna” pada tahun 2011, milis Bahtera akan segera menerbitkan buku ke-3. Dengan penerbitan kali ini, milis Bahtera berarti rutin menerbitkan satu buku setiap 2 tahun sekali dalam 4 tahun terakhir ini.
Buku Bahtera 3 akan diluncurkan pada tanggal 20 April 2013 dalam
acara pembentukan HPI Komda Bali-Nusra yang disatukan dengan Seminar “Not Lost in Translation”. Buku ini akan dibandrol dengan harga Rp65.000 + ongkos kirim. Silakan kirimkan surel ke sofiamansoor at gmail.com untuk mulai memesan. Untuk sementara, silakan nikmati kutipan prakata dari kedua editor buku ini. Daftar isi bisa dilihat
di sini.
Read the rest of this entry
Pada tanggal 25 Juli 2011 yang lalu saya berduka. Mbak Mia (Lauder) mengirim pesan melalui BB: Pak Anton Moeliono telah wafat pada pukul 23.27. Pereksa Bahasa yang sering dijuluki “Kamus Berjalan” ini tidak lagi bisa dijadikan narasumber untuk mencipta istilah-istilah bahasa Indonesia yang tepat makna dan sedap didengar. Padahal, selama ini beliau sangat berperan besar dalam pembentukan berbagai padanan istilah asing seperti tenggat (deadline), canggih (sophisticated), kudapan (snack), penyelia (supervisor), dan, yang terakhir, sumberluar (outsource). Meskipun mungkin tidak terlalu terlihat, selama satu minggu saya menghitamkan foto profil saya pada berbagai jejaring sosial sebagai wujud duka atas kepergian beliau.
Read the rest of this entry
anton moeliono, juru istilah

Sumber gambar: Pikiran Rakyat (Imam JP)
Tak pelak lagi, seluruh masyarakat pencinta Bahasa Indonesia hari ini berduka. Mereka yang tidak mengetahui perjalanan penyakitnya mungkin terperangah mendengar atau membaca berita kepulangan beliau, termasuk kita, anggota milis Bahtera — Bahasa dan Terjemahan Indonesia.
Pak Anton memang tidak pernah secara resmi menjadi anggota milis Bahtera, namun bagi para pendiri Bahtera, Pak Anton adalah salah satu narasumber yang sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bahterawan, khususnya di masa-masa awal berdirinya milis tercinta ini.
Read the rest of this entry
Oleh Harry Hermawan
Di milis Bahtera, Pak Alan Stevens, memaparkan kesulitannya menerjemahkan atau melokalkan satu kata: “penggalangan“.
Anda bisa menyaksikan proses serta solusi ini di milis tersebut.
Tapi yang ingin saya kritik bukan terhadap proses atau apapun yang terjadi di milis tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah waktu. Bagi penerjemah mendapatkan waktu yang agak longgar untuk riset sebuah istilah atau kata adalah kemewahan. Sementara bagi klien penerjemah hal ini mungkin bukan masuk wilayah tanggung jawabnya. Setidaknya dari pengalaman saya, ada klien yang sungguh tidak dapat memahami mengapa harus berlama-lama menerjemahkan toh hanya mengganti kata bahasa target.
Nah, di sinilah saya ingin membangun sebuah kritik positif bagi mereka yang menggunakan jasa kita. Berikan kita kehormatan untuk berlonggar waktu untuk memberikan hasil yang terbaik selain tentunya kompensasi yang memadai. Tapi masalah kompensasi bukan isu yang ingin diangkat di sini.
Waktu berharga bagi penerjemah, berilah kami waktu yang mencukupi.
Semoga kritik membangun atau masukan positif ini kepada target pembaca cukup diterima dengan pandangan yang…”O, begitu ya”.
Ya.
Bahtera, lan Stevens, menerjemahkan perlu waktu cukup, milis Bahtera, pelokalan, Penerjemahan, penggalangan, waktu untuk riset bagi penerjemah
Oleh Sofia Mansoor
Tidak terasa sudah tiga dasawarsa saya menekuni dunia penerjemahan, dan berbagai cara pembayaran honor terjemahan pernah saya alami. Pada awal karier pada tahun 1980-an, ketika bahan yang saya terjemahkan dan sunting kebanyakan berupa buku, pembayaran honor sangat sederhana. Setelah pekerjaan selesai, jumlah halaman hasil terjemahan dihitung, dikalikan tarif per halaman, dan honor pun langsung dikirim oleh penerbit ke rekening bank saya. Sampai sekarang cara ini tentu tetap dianut oleh klien domestik, termasuk para penerbit buku. Yang berbeda hanyalah cara penghitungan honor yang belakangan ini dihitung berdasarkan jumlah karakter hasil terjemahan, alih-alih jumlah halaman terjemahan.
Read the rest of this entry
keuangan
mengayuh Bahtera ke mancanegara
empat belas tahun sudah berlayar di Bumi Pertiwi
dipandu para nakhoda kawakan
mengarungi pasang surut samudra bahasa
kini saatnya kita bersyukur untuk kebersamaan ini
Panitia HUT ke-14 Bahtera mengharapkan kehadiran para pengayuh Bahtera untuk turut memeriahkan acara “Syukuran Ulang Tahun ke-14 Bahtera”.
Read the rest of this entry
Oleh Anung Ariwibowo
Sebuah dokumen resmi atau karya ilmiah biasanya mencantumkan kutipan untuk mendukung ide dan argumentasi yang disusun oleh penulisnya. Pencantuman kutipan diikuti juga dengan sebuah daftar pustaka (reference) dan/atau bibliografi pada bagian akhir dokumen. Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang mencantumkan semua dokumen yang dikutip di dalam karya ilmiah. Sedangkan bibliografi adalah daftar yang mencantumkan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Bibliografi mungkin lebih panjang daripada daftar pustaka, karena entri-entri di dalam bibliografi tidak harus dikutip di dalam tubuh tulisan karya ilmiah.
Pencantuman kutipan dan daftar pustaka dilakukan antara lain dengan tujuan memberikan apresiasi kepada penulis asli. Pemberian apresiasi ini menunjukkan bahwa gagasan ide tersebut dilakukan oleh penulis asli sehingga penulis dokumen terhindar dari plagiarisme karya ilmiah. Pencantuman kutipan dan daftar pustaka juga bertujuan untuk menyampaikan ide-ide yang terkait dan saling mendukung untuk membangun sebuah pemikiran baru. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran.
Read the rest of this entry
Oleh Imam Mustaqim
Kadang (atau seringkali?), klien datang ke kita dengan langsung menyodorkan pertanyaan: “Ada job nich review 3000 kata, tenggat 1 hari, biaya USD20 per jam, mau?”
Kesalahan penerjemah umumnya: tanpa men-download dan membaca file-nya dulu, penerjemah langsung “ho-oh” saja. Penerjemah mungkin berpikir paling cuma perlu 1-2 jam buat membaca 3000 kata. Masalah baru kelihatan jika ternyata penerjemah juga diminta mengisi formulir untuk mencatat berbagai kesalahan yang ditemui dalam review tersebut. Belum lagi kalau ternyata klien minta kesalahan tersebut dimasukkan ke laporan online dengan koneksi yang lelet. Puncaknya bila terjemahan tersebut ternyata kualitasnya amburadul. Jadilah alih-alih sekadar membaca hasil terjemahan selama 1-2 jam, penerjemah harus menerjemahkan ulang sampai 50% , memberi keterangan, mengisi sampai lima kolom dalam formulir review, dst.
Read the rest of this entry
Oleh Sofia Mansoor
TransCon Atma Jaya, konferensi penerjemahan “internasional” yang diselenggarakan Unika Atma Jaya pada 15 Juni adalah konferensi penerjemahan kesekian yang pernah saya hadiri. Konferensi penerjemahan internasional pertama yang saya hadiri berlangsung 20 tahun yang lalu di Kuala Lumpur pada tahun 1991. Sejak itu, saya menghadiri beberapa kali lagi konferensi penerjemahan mancanegara (istilah ini yang digunakan Malaysia) di negeri jiran itu, antara lain di Melaka, Pulau Langkawi, dan Pulau Pinang. Selain itu, saya juga pernah menghadiri konferensi sejenis di bidang penerbitan akademis di New Delhi (1986), konferensi EASE (Perhimpunan Penyunting Sains Eropa) di Helsinki (1997), kongres FIT di Melbourne (1996) dan Macau (2010), dan terpaksa batal menghadiri acara yang sama di Shanghai (2008) karena mengalami musibah kecelakaan hingga patah tangan hanya dua minggu menjelang keberangkatan. Selain TransCon kemarin itu, satu-satunya konferensi internasional yang saya hadiri di dalam negeri adalah Kongres ATF 2007 di Bogor yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia).
Read the rest of this entry