Dalam industri jasa penerjemahan, berbicara masalah harga sangatlah menarik. Persaingan usaha di dunia penyediaan jasa terjemahan tidak terlepas dari hukum persaingan usaha. Mengingat jasa terjemahan kini bukan lagi jasa yang terasa langka dalam hal kualitas, kuantitas, tempat dan waktu (dibaca: pihak yang dapat menyediakan jasa terjemahan dengan mutu yang baik, sesuai tenggat waktu, dengan harga yang terjangkau kini semakin mudah didapat dari waktu ke waktu), persaingan di industri ini cenderung memiliki struktur pasar sempurna, yang berlawanan dengan pasar monopoli.

Fakta bahwa semakin banyak pemain baru masuk ke dalam persaingan usaha di bidang usaha penerjemahan dan tidak adanya hambatan masuk yang diterapkan oleh komunitas pelaku usaha tersebut (organisasi profesi) dan pemerintah bagi para pemain di bidang usaha terjemahan (entry barrier) jelas membuat persaingan usaha di bidang ini menjadi ketat dari hari ke hari, dan bahkan ada yang menjurus ke level yang kurang sehat.

Banyaknya pemain yang menyediakan jasa terjemahan berkontribusi terhadap bervariasinya harga jasa penerjemahan, mulai dari yang super tinggi hingga super rendah atau bahkan ada yang menerapkan harga pemangsa/harga rugi (predatory pricing). Kondisi ini bisa ditafsiri ke berbagai arah.

Dalam dunia usaha terjemahan, klien cenderung melihat terjemahan sebagai sebagai produk dan klien akan melihat apakah harga tersebut pantas untuk dibayar [tentunya hal ini sangat bergantung pada bagaimana klien tersebut mempersepsikan pekerjaan penerjemahan. Di pihak lain, penerjemah cenderung melihat terjemahan sebagai proses/aktivitas yang tidak mudah dan memerlukan kecerdasan, pengetahuan dan pengalaman yang luas.

Tidak saja penerjemah yang mutu, pengalaman, wawasan dan harga bisa berbeda dari satu penerjemah ke penerjemah lain, demikian juga klien. Klien pun memiliki daya beli yang berbeda.

Secara umum dalam dunia persaingan usaha, penjual barang/jasa cenderung ingin memonopoli penjualan produk/jasa yang dijualnya kepada sebanyak klien mungkin dan sebaliknya konsumen cenderung untuk memperoleh harga serendah mungkin dengan mutu sebaik-baiknya dan jumlah sebanyak-banyaknya.

Namun, dengan banyaknya penyedia jasa terjemahan saat ini, kebebasan yang luas masuk para pemain baru dalam pasar persaingan usaha terjemahan (no entry barrier), akses informasi yang semakin mudah, yang semuanya menjurus pada persaingan sempurna telah membuat penetapan harga terbentuk lebih pada prinsip supply and demand, sehingga harga acuan/patokanpun sebenarnya tidak lagi relevan dalam struktur pasar seperti ini.

Menurut saya, pada akhirnya keseimbangan pasar alami akan terbentuk sendiri. Hanya masalah waktu saja, segmen-segmen pasar di industri penerjemahan ini akan terbentuk secara sendirinya. Pada akhirnya, akan tiba waktunya dimana kita harus memilih dan memutuskan segmen mana yang ingin kita masuki, bidang mana yang ingin kita fokuskan, klien mana yang ingin kita utamakan serta berapa tarif kita yang ingin dikenakan.

Taat Asas!

“Bu, sesudah nama pengarang harus pakai titik atau koma?

Nama pengarang harus pakai huruf kapital semua?

Judul harus dimiringkan semua?”

 

Pertanyaan bak bunyi letupan jagung berondong di microwave itu membuatku terperangah. Yang bertanya adalah Dedah, petugas yang menangani tata letak naskah pertama yang sedang kugarap, kumpulan abstrak skripsi mahasiswa ITB yang akan diterbitkan Penerbit ITB. Saat itu, akhir 1982, aku baru saja pindah kerja dari Perpustakaan Pusat ITB dan sama sekali buta perihal tata kerja di penerbit.

Taat asas! Itulah konsep pertama yang kupelajari saat menekuni dunia penerbitan. Titik dan koma, yang sebelumnya kububuhkan semauku, rupanya berfungsi penting dalam naskah. Mentorku, Pak Adjat Sakri (alm), Kepala Penerbit ITB sejak pendiriannya pada 1972, sengaja memilihkan naskah kumpulan abstrak skripsi itu sebagai naskah perdanaku. Aku sama sekali tidak perlu menyunting teksnya karena memang akan dimuat apa adanya. Mutu naskah ini adalah tanggung jawab dosen pembimbing mahasiswa penulisnya.

Dengan tekun kugarap ulang naskah itu. Kuperhatikan lagi tanda baca, jenis huruf untuk setiap unsur naskah – nama penulis, judul abstrak, nama jurusan. Kuperhatikan juga jarak antarbaris, takuh (indentation) paragraf, dan posisi teks – semua harus seragam rata kiri, sementara ujung kanan naskah dibiarkan bergerigis. Penerbit ITB juga menganut gaya selingkung untuk tidak memenggal kata di akhir baris. Menurut Pak Adjat, yang juga dosen Jurusan Seni Rupa ITB, naskah dengan tepi kanan bergerigis tampak lebih segar, tidak kaku seperti naskah papak kiri-kanan.

Masih banyak hal lain yang kupelajari tentang ketaatasasan ini. Misalnya, semua buku Penerbit ITB, khususnya buku ajar (istilah ciptaan Pak Adjat untuk textbook) diseragamkan menjadi ukuran A5. Hanya dalam keadaan khusus sajalah digunakan ukuran lain, misalnya B5 untuk buku arsitektur atau seni rupa. Pertimbangannya adalah agar penggunaan lembaran kertas lebih efisien, buku tampak rapi di rak perpustakaan, dan mudah masuk ke tas punggung mahasiswa.

Jenis dan ukuran huruf pun diseragamkan. Untuk buku ajar dipilih Times New Roman 10 pt. Font ini dipilih karena termasuk jenis huruf berkait (serif) yang, menurut Pak Adjat, lebih mudah dibaca dalam naskah panjang. Ukuran 10 pt dipilih karena kejelahannya memadai untuk pembaca seusia mahasiswa.

Mengenai ukuran huruf ini, aku jadi teringat pengalamanku pada 1994 ketika selama sebulan mengunjungi Negeri Paman Sam, sebagai tamu atas undangan Presiden Bill Clinton dalam International Visitor Program. Di San Francisco, aku masuk ke toko buku novel khusus ber-genre misteri, genre kesukaanku. Ada satu rak khusus buku berukuran agak besar dan… ukuran huruf di bukunya pun lebih besar, 14pt, padahal biasanya 10 pt. Rupanya, penerbit Amerika sangat memperhatikan kebutuhan pembaca senior sehingga sengaja menerbitkan edisi khusus ini. Wow!

Demikianlah, hari demi hari, semakin banyak pelajaran yang kupetik dari dunia penerbitan yang mengasyikkan ini. Aku belajar bukan saja dari mentorku yang luar biasa, tetapi juga dari para petugas di bagian percetakan. Perlu kuingatkan lagi, tahun itu 1982, dan komputer masih belum dikenal. Semua naskah diketik dengan mesin tik. Setelah teks naskah yang kuperiksa dan perbaiki itu direvisi oleh juru tik, perbaikannya masih harus kuperiksa lagi. Kalau masih ada salah tik, direvisi lagi. Begitu berulang-ulang sampai aku (atau penulis naskah) menyatakan tidak ada lagi salah tik!

Berbicara soal salah tik, pikiranku melayang ke negeri Duke of Cambridge, tempatku belajar mengenai dunia penerbitan pada 1982. Para pemeriksa teks ini – proofreader – mendapat kantor istimewa di penerbit. Lantai lorong di depan kantornya ditutupi karpet tebal sepanjang 3-4 meter. Tujuannya agar si proofreader tidak terganggu konsentrasinya oleh bunyi tapak sepatu orang yang melewati kantornya!

Ah… tak terasa panjang tulisan ini sudah melebihi 600 kata. Aku harus taat asas memenuhi niatku untuk menulis maksimum 600 kata atau 3000-an karakter. Pamit dulu… aku harus melakukan swasunting  … dan inilah hasil akhirnya!

 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/sofia-mansoor/taat-asas/10152175776521228

Berikut daftar penulis dan judul tulisannya buku milis Bahtera terbaru Pesona Penyingkap Makna:

Pengantar Ketua Dewan Kehormatan HPI

Prakata

 SEMAKIN BERNAS SEMAKIN BERDAYA

Indria Salim: Singa Mati

  1. Desak Nyoman Pusparini: Terima kasih Facebook!
  2. Dina Begum: Kuliah di HPI
  3. Hanny Wishnuardi: Kuliah Terjemahan di Paris
  4. R.A. Kanya Varistha Devi Puspokusumo: Penerjemah versus Rendah Hati
  5. Ratri Kumudawati: N.A.A.T.I. Kunci Penerjemahan di Australia
  6. Sofia Mansoor: Dari Bankdraft hingga Transfer Antarbank
  7. Tanto Hendy Samidjan: Cara Efektif Mengelola Volume Order
  8. Rosmeilan Siagian: Ikut AJLET, yuk!

 

BUKU DAN PENERJEMAH

Indria Salim: Seiring Sejalan

  1. Desak Nyoman Pusparini: Berkomunikasi dengan Pengarang
  2. Dina Begum: Menerjemahkan Buku yang Sudah Diterjemahkan Siapa Takut?
  3. Maria Perdana: My Odyssey
  4. Rini Nurul Badariyah: Menulis vs Menerjemahkan

 

MAJU KENA MUNDUR KENA

Indra Blanquita Hurip: I, the Interpreter

  1. Dvi Shifa: Dan Aku pun Enggan Menjadi Selebriti
  2. Hanny Wishnuardi: Elle N’a Pas Confiance à Moi? C’est Ca?!
  3. Indah Nuritasari: Maaf, Saya Bukan Tukang Sulap!
  4. Indria Salim: Juru Bahasa Acara Lamaran Pernikahan
  5. Samsu Umar: Tantangan Juru Bahasa: Belajar Bahasa Inggris “Asing”

 

KIAT DAN SIASAT

Dina Begum: Puisi, Syair, dan Sebangsanya

  1. Femmy Syahrani, Rini Nurul, Sofia Mansoor: Catatan Penerjemahan
  2. Daisy Subakti: Mencapai Tingkat Penerjemah Profesional yang Diakui Berbagai Agensi
  3. Indra Listyo: Terjemahan Akurat dan Terbaca Wajar
  4. Wiyanto Suroso: Kiat Menjadi Penerjemah yang Beruntung
  5. Ikram Mahyuddin: Google, Mesin Pencari, Sahabat Penerjemah
  6. Indra Listyo: Pertimbangan Awal Penting Sebelum Melaksanakan Penjurubahasaan
  7. Istiani Prajoko:  Saran untuk Penerjemah Pemula
  8. Ivan Lanin: Mencari Padanan Istilah

 

BUKAN SEKADAR BAHASA

Indria Salim: Kata

  1. Sofia Mansoor: Suka Duka Berbahasa Serumpun
  2. Katsujiro Ueno: Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Saya
  3. Nursalam AR: Indonglish
  4. Setyadi Setyapranata: Masalah Pengindonesiaan Istilah Teknis – “MD SMPG-Kasur Hidup”
  5. Niken Terate: Ignorance is A Bliss
  6. Sofia Mansoor: I am going today

 

SISI LAIN

Sugeng Hariyanto: Kerja

  1. Ade Indarta: Satu Hari dalam Kehidupan Penerjemah In-House
  2. Kurnia Amirullah: Sindrom Tourette dan Karya Terjemahanku
  3. Yulia Baso: Diversifikasi Karier

 

MANIS-MANIS PAHIT

Eva Y. Nukman: Deadline

  1. Betty Tiominar: Ternyata
  2. Nursalam AR: Kok Ngantor Lagi?
  3. Rahmad Ibrahim: Menerjemahkan – Antara Hobi dan Sesuatu yang Luar Biasa
  4. Slamet Hartadi: Malam-malam di Gunung Berbatu
  5. Sofia Barata: Translators are Failed Writers
  6. Sri Lestari: Meningkatkan Kualitas, Menaikkan Tarif
  7. Wiyanto Suroso: Menjalani Dua Profesi Sekaligus, atau Harus Memilih?
  8. Nursalam AR: Berawal dari Hinaan

 

TURUN GUNUNG

Sugeng Hariyanto: Jadilah Dirimu yang Terbaik

  1. Sofia Mansoor: TransCon Atma Jaya-dari Oxtail Soup sampai Pukuli Saya
  2. Suzan Piper: Pergaulan dengan Kawan dan Ide di Konferensi AUSIT 2012
  3. Dina Begum: Ketika Penerjemah, Editor, dan Penulis ‘Dikurung’ untuk Menerjemahkan Novel

 

HPI SELAYANG PANDANG

Indra Blanquita Hurip: Untukmu, HPI

  1. Anna Wiksmadhara: Sejarah HPI
  2. D. Rahadi Notowidigdo: Indonesian Directory of Translators and Interpreters
  3. Dina Begum: Temu HPI Komp@k Istimewa Memperingati Hari Jadi ke-39 HPI
  4. Maria E. Sundah: TSN Sebermula …
Pesona Penyingkap Makna

Pesona Penyingkap Makna

Penantian segenap anggota milis Bahtera akan segera berakhir. Setelah menerbitkan buku “Menatah Makna” pada tahun 2011, milis Bahtera akan segera menerbitkan buku ke-3. Dengan penerbitan kali ini, milis Bahtera berarti rutin menerbitkan satu buku setiap 2 tahun sekali dalam 4 tahun terakhir ini.

 

Buku Bahtera 3  akan diluncurkan pada tanggal 20 April 2013 dalam acara pembentukan HPI Komda Bali-Nusra yang disatukan dengan Seminar “Not Lost in Translation”. Buku ini akan dibandrol dengan harga Rp65.000 + ongkos kirim. Silakan kirimkan surel ke sofiamansoor at gmail.com untuk mulai memesan. Untuk sementara, silakan nikmati kutipan prakata dari kedua editor buku ini. Daftar isi bisa dilihat di sini.

Read the rest of this entry

Pada tanggal 25 Juli 2011 yang lalu saya berduka. Mbak Mia (Lauder) mengirim pesan melalui BB: Pak Anton Moeliono telah wafat pada pukul 23.27. Pereksa Bahasa yang sering dijuluki “Kamus Berjalan” ini tidak lagi bisa dijadikan narasumber untuk mencipta istilah-istilah bahasa Indonesia yang tepat makna dan sedap didengar. Padahal, selama ini beliau sangat berperan besar dalam pembentukan berbagai padanan istilah asing seperti tenggat (deadline), canggih (sophisticated), kudapan (snack), penyelia (supervisor), dan, yang terakhir, sumberluar (outsource). Meskipun mungkin tidak terlalu terlihat, selama satu minggu saya menghitamkan foto profil saya pada berbagai jejaring sosial sebagai wujud duka atas kepergian beliau.

Read the rest of this entry

,
Anton Moeliono

Sumber gambar: Pikiran Rakyat (Imam JP)

Tak pelak lagi, seluruh masyarakat pencinta Bahasa Indonesia hari ini berduka. Mereka yang tidak mengetahui perjalanan penyakitnya mungkin terperangah mendengar atau membaca berita kepulangan beliau, termasuk kita, anggota milis Bahtera — Bahasa dan Terjemahan Indonesia.

Pak Anton memang tidak pernah secara resmi menjadi anggota milis Bahtera, namun bagi para pendiri Bahtera, Pak Anton adalah salah satu narasumber yang sering menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bahterawan, khususnya di masa-masa awal berdirinya milis tercinta ini.

Read the rest of this entry

Oleh Harry Hermawan

Di milis Bahtera, Pak Alan Stevens, memaparkan kesulitannya menerjemahkan atau melokalkan satu kata: “penggalangan“.

Anda bisa menyaksikan proses serta solusi ini di milis tersebut.

Tapi yang ingin saya kritik bukan terhadap proses atau apapun yang terjadi di milis tersebut. Yang ingin saya kemukakan adalah waktu. Bagi penerjemah mendapatkan waktu yang agak longgar untuk riset sebuah istilah atau kata adalah kemewahan. Sementara bagi klien penerjemah hal ini mungkin bukan masuk wilayah tanggung jawabnya. Setidaknya dari pengalaman saya, ada klien yang sungguh tidak dapat memahami mengapa harus berlama-lama menerjemahkan toh hanya mengganti kata bahasa target.

Nah, di sinilah saya ingin membangun sebuah kritik positif bagi mereka yang menggunakan jasa kita. Berikan kita kehormatan untuk berlonggar waktu untuk memberikan hasil yang terbaik selain tentunya kompensasi yang memadai. Tapi masalah kompensasi bukan isu yang ingin diangkat di sini.

Waktu berharga bagi penerjemah, berilah kami waktu yang mencukupi.

Semoga kritik membangun atau masukan positif ini kepada target pembaca cukup diterima dengan pandangan yang…”O, begitu ya”.

Ya.

, , , , , , ,

Oleh Sofia Mansoor

Tidak terasa sudah tiga dasawarsa saya menekuni dunia penerjemahan, dan berbagai cara pembayaran honor terjemahan pernah saya alami. Pada awal karier pada tahun 1980-an, ketika bahan yang saya terjemahkan dan sunting kebanyakan berupa buku, pembayaran honor sangat sederhana. Setelah pekerjaan selesai, jumlah halaman hasil terjemahan dihitung, dikalikan tarif per halaman, dan honor pun langsung dikirim oleh penerbit ke rekening bank saya. Sampai sekarang cara ini tentu tetap dianut oleh klien domestik, termasuk para penerbit buku. Yang berbeda hanyalah cara penghitungan honor yang belakangan ini dihitung berdasarkan jumlah karakter hasil terjemahan, alih-alih jumlah halaman terjemahan.

Read the rest of this entry

mengayuh Bahtera ke mancanegara
empat belas tahun sudah berlayar di Bumi Pertiwi
dipandu para nakhoda kawakan
mengarungi pasang surut samudra bahasa
kini saatnya kita bersyukur untuk kebersamaan ini

Panitia HUT ke-14 Bahtera mengharapkan kehadiran para pengayuh Bahtera untuk turut memeriahkan acara “Syukuran Ulang Tahun ke-14 Bahtera”.

Read the rest of this entry

Oleh Anung Ariwibowo

Sebuah dokumen resmi atau karya ilmiah biasanya mencantumkan kutipan untuk mendukung ide dan argumentasi yang disusun oleh penulisnya. Pencantuman kutipan diikuti juga dengan sebuah daftar pustaka (reference) dan/atau bibliografi pada bagian akhir dokumen. Daftar pustaka adalah sebuah daftar yang mencantumkan semua dokumen yang dikutip di dalam karya ilmiah. Sedangkan bibliografi adalah daftar yang mencantumkan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Bibliografi mungkin lebih panjang daripada daftar pustaka, karena entri-entri di dalam bibliografi tidak harus dikutip di dalam tubuh tulisan karya ilmiah.

Pencantuman kutipan dan daftar pustaka dilakukan antara lain dengan tujuan memberikan apresiasi kepada penulis asli. Pemberian apresiasi ini menunjukkan bahwa gagasan ide tersebut dilakukan oleh penulis asli sehingga penulis dokumen terhindar dari plagiarisme karya ilmiah. Pencantuman kutipan dan daftar pustaka juga bertujuan untuk menyampaikan ide-ide yang terkait dan saling mendukung untuk membangun sebuah pemikiran baru. Dalam kaitan dengan penyampaian ide ini, proses penerjemahan memiliki peran.

Read the rest of this entry